Anda di halaman 1dari 2

Menghitung Kebutuhan Obat dan Bahan Habis Pakai Puskesmas

Logistik obat dan bahan habis pakai di puskesmas. Sebenarnya kunci manajemen logistik obat dan bahan habis pakai di puskesmas dan klinik-klinik pelayanan pengobatan kesehatan adalah Sistem informasi dari arus obat dan alat, kondisi stok serta hasil kegiatannya. Merupakan dasar untuk mengadakan, mendistribusikan obat dan alat dalam mengitung hitung kebutuhan obat Puskesmas. Di Polewali Mandar Propinsi Sulawesi Barat. Obat yang digunakan di Puskesmas atau penyediaan obat di puskesmas ataupun diklinik-klinik pelayanan kesehatan pemerintah selalu diditribusikan dari Gudang Obat Kabupaten, namun sebelum petugas gudang obat mendistribusikannya, petugas obat puskesmas membuat laporan penggunaan obat dan rencana permintaan obat bulanan atau triwulan. Masih sering ditemukan puskesmas yang selalu kehabisan obat ditengah bulan, sehingga pasien yang datang berobat diakhir bulan kadang hanya menerima resep dan membelinya di apotik, tentunya harganya akan sangat mahal dibandingkan di puskesmas yang hanya membayar biaya retribusi dua ribuan rupiah bahkan dibeberapa kabupaten penggunaan obat di puskesmas digratiskan alias ditanggung pemerintah daerah justru semakin memberatkan masyarakat. Agar permasalahan arus obat dan alat, kondisi stok serta hasil kegiatannya tidak terjadi seperti yang digambarkan diatas berikut cara praktis menghitung kebutuhan obat puskesmas sebagai berikut: Langkah Pertama : VALIDASI Tahapannya adalah Cek setiap jenis obat yang ada di Puskesmas (ingat! Semua jenis obat yang ada) Berapa banyak yang digunakan selama waktu tertentu bisa dalam Bulanan atau Triwulan sesuai dengan stok obat yang dihabiskan di Puskesmas Cek jumlah pasien yang diobati dan jumlah dosis yang diberikan. -Kunci manajemen logistik di puskesmas diantaranya penggunaan obat di puskesmas adalah perencanaan ke depan (forecasting) terhadap pelayanan pengobatan untuk memprediksi kebutuhan akan obat dan alat habis pakai. Untuk mendukung keberhasilan kegiatan ini, perlu dilakukan validasi terhadap data obat dan penggunaannya- (A.Mappatoba, 2008)

Ini penting karena jika ada perbedaan berarti ada yang terbuang atau ada yang menggunakan obat tetapi lupa tercatat, ingat yang terbuang atau tidak tercatat tetap dinyatakan sebagai obat yang dikeluarkan. Dan juga penting untuk melakukan evaluasi ketersediaan obat. Langkah Kedua : HITUNG KEBUTUHAN Setelah data tersebut lengkap, selanjutnya dapat dihitung kebutuhan obat puskesmas untuk bulan-bulan berikutnya, sebagai contoh perhitungan salah satu jenis obat seperti yang dapat dijelaskan sebagai berikut : Pemakaian Parasetamol pada Bulan Oktober 2008 sebanyak 1000 tablet, Sisa stok per 30 Oktober 2008 = 200 tablet Tercatat hari kerja puskesmas selama 25 hari kerja Maka pemakaian rata-rata adaalah obat yang digunakan pada bulan oktober dibagi dengan jumlah hari kerja yaitu = 1000 / 25 hr = 40 tablet Perlu diperhatikan juga stok pengamanan obat yang selalu harus tersedia bila terjadi peningkatan pasien, biasanya stok pengaman berkisar 10 20 %. diambil saja 10 % jadi stok pengaman adalah 10/100 x 1000 tablet = 100 tablet Sering petugas kalau mau mengampra obat (mengambil obat kegudang obat) biasanya waktu tunggu yang digunakan adalah 2 3 hari, jadi kalau diambil 3 hari tunggu maka 3 x 40 tablet = 120 tablet (Ingat ! bahwa penggunaan obat diatas rata-rata 40 tablet perhari seperti perhitungan diatas) Dan selanjutnya kebutuhan obat parasetamol untuk bulan Nopember 2008 = (1000 + 100 + 120 ) sisa stok (200) = 1020 tablet Contoh perhitungan obat ini berlaku juga untuk kebutuhan jenis obat lainnya yang ada di Puskesmas atau berlaku juga pada klinik-klinik pelayanan kesehatan swasta yang melakukan pengadaan obat dan bahan/alat habis pakai setiap bulannya. Silakan mencoba Menghitung Kebutuhan Obat Puskesmas.