Anda di halaman 1dari 12

MIX DESIGN DENGAN CARA DOE

======================================

PARAMETER MUTU BETON :


1. KUALITAS BAHAN
2. CAMPURAN BAHAN
3. PENGERJAAN BETON DI LAPANGAN
4. PEMELIHARAAN BETON

1). KUALITAS BAHAN :


BAHAN-BAHAN KONSTRUKSI BETON (CONCRETE) DAN SYARATSYARATNYA :
a. S e m e n ;
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
Tipe semen; tipe I, II, III, IV, dan V
Kehalusan semen
BJ semen : 3,0 3,2 ton/m3

Kekekalan semen
Waktu ikat awal dan konsistensi normal : 60 120 menit
Catatan : semen di pasaran pada umumnya sudah memenuhi spesifikasi.
b. Aggregate Kasar;
Jenis batu : alam (koral) & buatan (batu pecah)
Ukuran batu
Kekerasan batu diperiksa dengan Los Angeles
Gradasi : analisa saringan
Kandungan Lumpur : maximum 1 %
Kandungan organis

c. Aggregate Halus : Sand (pasir) ;


Jenis pasir : alam dan buatan
Ukuran butiran pasir
Gradasi : analisa saringan
Kandungan Lumpur, maximum 5 %
Kadungan organis
d. A i r (Water) ;
Syarat air minum
PH normal
FAS (Faktor Air Semen)

FAS =

Berat air
Berat semen

2). CAMPURAN BAHAN :


Mix Design
Merencanakan campuran beton untuk mencapai kualitas
tertentu
Cara cara Mix Design :
Cara coba-coba di laboraturium (Trial and Error)
Metode Modulus Kehalusan (Fineness Modulus Method)
Cara DOE (Development of Environment)
Cara ACI (American Concrete Institute)
Cara High Strength Concrete (Shacklock)

3). PENGERJAAN BETON DI LAPANGAN :


(Pedoman pengerjaan beton : SKSNI T-15 1991-03, Gideon)
Setelah selesai Mix Design, maka perlu diketahui nilai Slump-nya, yaitu
melalui cara Slump Test.

Gambar : Corong-Kerucut Abrams


(untuk mengetahui tingkat Workability)

Penuangan Beton :
Pada pekerjaan kolom dan dinding, perlu diperhatikan tinggi jatuh bebas dari
beton, yaitu maksimal 1,5 m; atau untuk tinggi jatuh yang sangat besar dengan
Talang Cor atau Klep Cor
Jika tidak akan terjadi Segregasi Beton (keropos), dimana bahan yang terberat
dan terbesar akan jatuh terlebih dahulu. Lebih jelasnya dapat dilihat pada
illustrasi gambar berikut :

Gambar : Pencampuran akibat jarak tinggi-jatuh yang besar

Pemadatan :
Bertujuan untuk mengurangi volume udara terjebak dalam beton :
Cara-cara pemadatan :
Menusuk dengan sepotong kayu atau batang lain pada beton
Menumbuk, dengan cara mengetuk bekisting.
Penggetar;
Macamnya :
Jarum penggetar, penggetar permukaan, penggetar bekisting
Meja penggetar, dan balok penggetar.

Gambar : Menusuk-nusuk pada beton

Gambar : Proses pemadatan dengan jarum penggetar

Catatan :
Pada saat melakukan pemadatan dengan penggetar, penggetar tidak boleh
menyentuh tulangan, dapat menyebabkan beton dengan tulangan tidak lekat.

CONTOH :

PERHITUNGAN MIX DESIGN DENGAN CARA DOE

Langkah langkah :
1. Menggabungkan Aggregate
2. Mencari nilai bm

bm

bk + 1,64 Sr

3. Menghitung FAS (Faktor Air Semen)


4. Menghitung kadar semen
5. Mencari Aggregate
6. Menghitung perbandingan 1m3 beton kondisi lapangan.

Contoh perhitungan :
Rencanakan Mix Design Beton dengan cara DOE, dengan ketentuan sebagai
berikut :

Mutu beton K-300 dan konstruksi digunakan di lokasi yang terjamah air
tanah yang mengandung Sulfat (SO4).

Berdasarkan pengalaman kontraktor yang melaksanakan proyek ini, diambil


besarnya Deviasi Standard (Sr) = 70 Kg/cm2.

Faktor Air Semen max = 0,52 dan kadar semen minimum = 375 Kg/m3.

Berat Jenis Semen = 3,1 ton/m3.

Slump beton antara 25 100 mm.

Berat Jenis kondisi SSD untuk pasir alam

= 2,65 ton/m3.

Berat Jenis kondisi SSD untuk batu pecah

= 2,60 ton/m3.

Penyerapan Air SSD (Pasir)

= 2,1 %

Penyerapan Air SSD (Batu pecah)

= 2,2 %

Kadar Air di Lapangan (Pasir alam)

= 3,2 %

Kadar Air di Lapangan (Batu pecah)

= 1,5 %

Susunan Butir Gabungan :


~ Tembus pada ayakan # 9,60 = 36 %
~ Tembus pada ayakan # 0,60 = 7 %

Data analisa ayakan :


Diameter
Saringan
38,1
19,2
9,6
4,8
2,4
1,2
0,6
0,3
0,15

% Tertahan Ayakan
Pasir
Bt. Pecah
0
0
0
65,8
0
18,4
0
15,8
25
0
25
0
28,6
0
16,7
0
4,7
0

% Lolos Komulatif
Pasir
Bt. Pecah
100
100
100
34,2
100
15,8
100
0
75
0
50
0
21,4
0
4,7
0
0
0

PENYELESAIAN :
1) Menggabungkan Aggregat :
Syarat : Saringan diameter 9,6 lolos komulatif campuran 36 %
Saringan diameter 0,6 lolos komulatif campuran 7 %
Ayakan 9,6 mm lolos 36 %
36 =100 X x + (100 x) X 15,8

100

36 X 100
3600 - 1580
2020

100

= 100x + 1580 15,8 x


= 100 X -15,8 x
= 84,2 x
x = 2020= 24 %

84,2

Ket.

36 %

7%

Ayakan 0,6 mm lolos 7 %


7=

21,4 X x
100

(100 x) X 0
100

700 = 21,4 x
700
x = 21,4 = 32,7 %
x rata rata =

24% + 32,7%
2

= 28,35 % ~ 28 %

Maka diperoleh:
Prosentase Pasir

= 28 %

Prosentase Split

= 72 %

2) Mencari Sr (Standard Deviasi) :


Sr

= 70

bm

kg

/cm

bk + 1,64 Sr

= 300 + (1,64 X 70)


= 415

Kg

/cm

3) Menghitung Fas (Faktor air semen) :


Grafik hubungan antara kuat tekan dan Fas menggunakan bantuan grafik 1 dan tabel 2
a. Grafik 1 Kuat tekan 415 Kg/cm2

Fas = 0,53

Tabel 2 450 dan Fas 0,5


b. Tabel 5 Fungsi lokasi Fas mendapat pengaruh sulfat alkali dari tanah atau air
tanah ; jumlah semen minimum 1m3 beton = 375 Kg, nilai Fas
maksimum = 0,52
Maka dipakai Fas terkecil = 0,52

Grafik 1

Tabel 2. perkiraan kuat tekan beton normal


dengan semen tipe I dan II dengan f.a.s = 0,50

Aggregate

Kuat Tekan Beton, Kg/cm2


pada umur, hari
3
7
28
91

Alami

200

280

400

460

Batu Pecah

230

320

450

630

Alami atau
Batu Pecah

130

190

310

420

Bentuk

Tipe Semen

Tipe I Biasa
Tipe II
Setengah
Tahan Sulfat

Tabel 5, Jumlah semen minimum dan f.a.s maksimum


untuk berbagai jenis pekerjaan beton, menurut PBI 1971 4.3.4
Jenis Pekerjaan Beton

Jumlah
semen
minimum

Nilai f.a.s
maks

BETON DALAM RUANG BANGUNAN (TERLINDUNG)


a. Keadaan keliling non korosip
b. Keadaan keliling korosip disebabkan oleh pengembunan atau uap korosip

27
325

0,60
0,52

BETON DILUAR RUANG BANGUNAN (TERBUKA)


a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari secara langsung.
b. Terlindung dari hujan dan terik matahari secara langsung

325
375

0,60
0,60

BETON YANG MASUK KE DALAM TANAH


a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat, alkali dari tanah atau air tanah

325
375

0,65
0,52

BETON YANG TERUS MENERUS BERHUBUNGAN AIR


a. Air tawar
b. Air laut, air bergaram.

275
375

0,57
0,52

4) Menghitung Kadar Semen :


a. Menggunakan tabel 3, air yang digunakan untuk 1 m3 beton.
~ Besar aggregate kasar maksimum = 20 mm
~ Bentuk aggregate = alami dan batu pecah

~ Nilai Slump = 60 180


~ Jumlah air pengaduk = 195 225

Maka jumlah air pengaduk terkoreksi =


1

/3 X air agg. kasar + 2/3 X air agg. halus

= 1/3 X 225 + 2/3 X 195


= 205 Kg/1m beton
Semen = Air pengaduk
Fas
3

=205 = 394 Kg/m beton


0,52
3

Tabel 3. Perkiraan jumlah air bebas (aggregate dalam keadaan SSD)


untuk mengaduk 1m3 beton, untuk berbagai drajat klacakan, dalam liter
Kelacakan dengan :
Slump dalam mm
Ve-Be dalam detik
Besar butir
Bentuk
aggregat kasar
Aggregat
maksimum, mm

0 10
Lebih 12

10 30
6 12

30 60
36

60 180
03

10

Alami
Batu pecah

150
180

180
205

205
230

225
250

20

Alami
Batu pecah

135
170

160
190

160
210

195
225

40

Alami
Batu pecah

115
155

140
175

160
190

175
205

Catatan: Bila aggregat kasar dan aggregate halus berbeda bentuknya, jumlah
air pengaduk diperkirakan sebagai berikut :
2
/3 jumlah air aggregat halus menurut bentuknya, + 1/3 jumlah air
aggregate kasar menurut bentuknya

b. Tabel 5 = 375 Kg/m

Maka dipakai kadar semen terbesar = 394 Kg/m

Tabel 5, Jumlah semen minimum dan f.a.s maksimum


untuk berbagai jenis pekerjaan beton, menurut PBI 1971 4.3.4
Jenis Pekerjaan Beton

Jumlah
semen
minimum

Nilai f.a.s
maks

BETON DALAM RUANG BANGUNAN (TERLINDUNG)


a. Keadaan keliling non korosip
b. Keadaan keliling korosip disebabkan oleh pengembunan atau uap korosip

27
325

0,60
0,52

BETON DILUAR RUANG BANGUNAN (TERBUKA)


a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari secara langsung.
b. Terlindung dari hujan dan terik matahari secara langsung

325
375

0,60
0,60

BETON YANG MASUK KE DALAM TANAH


a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti-ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat, alkali dari tanah atau air tanah

325
375

0,65
0,52

BETON YANG TERUS MENERUS BERHUBUNGAN AIR


a. Air tawar
b. Air laut, air bergaram.

275
375

0,57
0,52

5) Mencari Aggregat :
Agg. Gabungan

= (28 % X 2,65) + (72 % X 2,60)


= 2,614 t/m

BJ 606 (Grafik 2)

= 2,61 t/m

= 2,61 t/m

Air pengaduk (Grafik 2) = 205 Kg/m beton


3

Beton segar (Grafik 2)

= 2350 Kg/m

Berat agg. Gahungan

= 2350 394 205

= 1751 Kg
Berat Pasir

= 28 % X 1751 = 490 Kg

Berat Split

= 72 % X 1751 = 1261 Kg

(1m3 beton dalam keadaan SSD)


Grafik 2

BJ Gabungan : 2,61

6) Menghitung perbandingan 1m3 beton kondisi lapangan :


Pasir :
Penyerapan air

= 2,1 %

Kadar air lapangan= 3,2 %


= 3,2% - 2,1% = 1,1% (lebih basah)

Split :
Penyerapan air

= 2,2 %

Kadar air lapangan= 1,5 %


= 1,5 % - 2,2 % = -0,7 % (lebih kering)
Pasir terkoreksi

1,1
= 490 + ( 100 X 490 )
= 495 Kg

Split terkoreki

0,7
= 1261 ( 100 X 1261 )
= 1261 9 Kg = 1252 Kg

Air pengaduk terkoreksi :

1,1
= 205 (
100

X 490 ) + (

0,7
X 1261 )
100

= 205 5 + 9 Kg = 209 Kg
Semen : pasir : split = 394 : 495 : 1252
= 1 : 1,26 : 3,18
Perbandingan volume :
Semen

394

: 1,31 = 300,76 Kg

Pasir

495

: 1,59 = 311,32 Kg

Split

= 1252

: 1,37 = 913,87 Kg

Pasir

300,76
= 300,76 = 1
311,32
= 300,76 = 1,04

Split

913,87
= 300,76 = 3,04

Semen

Perbandingan = 1 : 1,04 : 3,04


7) Kesimpulan dan Saran :

Daftar Pustaka :
Gideon, dkk, Pedoman Pengerjaan Beton. Penerbit Erlangga, Jakarta : 1993
Purwanto, Materi Kuliah Lab. Konstruksi.

Daftar Notasi :
No.

Notasi

1.

Sr

2.

bm

3.

bk

Keterangan

Satuan