Anda di halaman 1dari 3

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Gangguan penglihatan dan kebutaan masih menjadi masalah kesehatan di

Indonesia. Berdasarkan hasil survei World Health Organization (WHO), penyebab utama kebutaan tahun 2002 adalah katarak (47,8%), glaukoma (12,8%), penyakit yang berhubungan dengan degeneratif (8,7%), kekeruhan kornea (5,1%), diabetes retinopati (4,8%), trakhoma (3,6%) dan lain-lain (17,6%) (Resnikoff & Pascolini, 2004). Prevalensi nasional glaukoma adalah 0,5% (berdasarkan keluhan responden). Sebanyak 9 provinsi mempunyai prevalensi glaukoma di atas prevalensi nasional, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, DKI Jakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (Riset Kesehatan Dasar, 2007). Berdasarkan Survei Departemen Kesehatan Indonesia tahun 1996, dari 0,2% kebutaan akibat glaukoma, terdapat 0,16% kebutaan pada kedua mata dan 0,04% kebutaan pada satu mata (Ilyas, 2011). Di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, prevalensi kebutaan akibat glaukoma mencapai 0,094% (Asnita, 2004 dalam Herman, 2009). Glaukoma adalah penyakit saraf optik jangka panjang yang ditandai oleh adanya kerusakan struktur diskus optikus atau serabut saraf retina, kelainan lapangan pandang dan biasanya disertai peningkatan tekanan intraokular (Salmon, 2008). Hampir 60 juta orang terkena glaukoma. Diperkirakan 3 juta penduduk Indonesia terkena glaukoma dan menjadikan penyakit ini sebagai penyebab utama kebutaan yang dapat dicegah. Glaukoma tidak hanya dapat disebabkan tanpa disertai dengan penyakit lainnya tetapi juga dapat disebabkan oleh penyakit lokal pada mata dan penyakit sistemik. Secara khusus, beberapa studi epidemiologi menunjukkan bahwa tekanan darah sistemik yang tinggi dikaitkan dengan adanya sedikit peninggian TIO (Costa, Arcieri & Harris, 2009). Hipertensi adalah keadaan dimana peningkatan tekanan darah yang memberi gejala yang akan berlanjut untuk suatu organ target seperti stroke pada otak, penyakit jantung koroner pada pembuluh darah jantung dan ventrikel kiri

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara

hipertensi pada otot jantung (Guyton & Hall, 2007). Tiap tahunnya, 7 juta orang meninggal akibat hipertensi. Problem kesehatan global terkait hipertensi dirasakan mencemaskan dan menyebabkan biaya kesehatan tinggi. Tahun 2000 saja hampir 1 miliar penduduk dunia menderita hipertensi dan jumlah ini diperkirakan akan melonjak menjadi 1,5 miliar pada 2025. Prevalensi hipertensi di Indonesia sekitar 31,7% artinya hampir 1 dari 3 penduduk usia 18 tahun ke atas menderita hipertensi (Riset Kesehatan Dasar, 2007). Prevalensi hipertensi di Sumatera Utara menurut Riskesdas tahun 2007 adalah 5,8% dari seluruh penduduk dan menduduki urutan keempat dari sepuluh penyakit tidak menular di Provinsi Sumatera Utara (Riset Kesehatan Dasar, 2007). Oleh karena tingginya angka prevalensi kebutaan akibat glaukoma dan prevalensi hipertensi, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan mengenai hubungan hipertensi yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraokuli pada pasien glaukoma di Poliklinik Mata Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik (RSUP H. Adam Malik), Medan. Sebagaimana juga diketahui bahwa RSUP H. Adam Malik, Medan merupakan rumah sakit rujukan utama di provinsi Sumatera Utara.

1.2.

Rumusan Masalah Dari uraian latar belakang di atas dapat disimpulkan satu pertanyaan pada

penelitian ini, yaitu: Apakah ada hubungan antara hipertensi dengan peningkatan tekanan intraokuli pada pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP H. Adam Malik, Medan periode Juli-Agustus 2012?

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara

1.3.

Tujuan Penelitian

1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara hipertensi dengan tekanan intraokuli pada pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP H. Adam Malik, Medan periode Juli-Agustus 2012.

1.3.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui frekuensi kejadian glaukoma di Poliklinik Mata RSUP H. Adam Malik, Medan periode Juli-Agustus 2012. 2. Untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita glaukoma di Poliklinik Mata RSUP H. Adam Malik, Medan periode Juli-Agustus 2012. 3. Untuk mengetahui frekuensi penderita glaukoma yang disebabkan oleh hipertensi di Poliklinik Mata RSUP H. Adam Malik, Medan periode JuliAgustus 2012.

1.4.

Manfaat Penelitian 1. Bagi Rumah Sakit a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber data prevalensi penyakit glaukoma dan diharapkan rumah sakit bisa meningkatkan pelayanan kesehatan pada penderita glaukoma untuk menurunkan angka prevalensi.

2. Bagi Subjek Peneliti a. Mengetahui prevalensi pasien glaukoma b. Memperbaiki tingkat pengetahuan pasien tentang glaukoma c. Memperbaiki tingkat pengetahuan pasien tentang hipertensi 3. Bagi Peneliti a. Mengoptimalkan tindakan pencegahan terjadinya glaukoma pada pasien dengan riwayat hipertensi dalam upaya pencegahan kebutaan b. Sebagai data dasar untuk penelitian selanjutnya

Universitas Sumatera Utara


Universitas Sumatera Utara