Anda di halaman 1dari 4

PENCEGAHAN

Terminologi pencegahan preeklampsi dibagi menjadi 3, yaitu pencegahan primer, sekunder maupun tersier. Pencegahan Primer Pencegahan primer artinya pencegahan yang dilakukan sebelum terjadinya penyakit. Seperti diketahui, perjalanan pre-eklampsi sejak awalnya tidak memberikan tanda dan gejala, juga hingga saat ini, etiologi dari pre-eklampsi masih tidak diketahui secara pasti sehingga sangat sulit untuk memberikan batasan terhadap apa yang harus dilakukan dalam mencegah terjadinya preeklampsi ini. Oleh karena hal itu, hingga saat ini belum tersedia biomarker yang sensitive dan spesifik untuk pre-eklampsi, petugas kesehatan hanya diharapkan untuk mengetahui factor resiko yang dapat meningkatkan kejadian pre-eklampsi. Faktor resiko tersebut antara lain; usia >40 th, nullipara, multipara dengan riwayat pre-eklampsi sebelumnya, multipara dengan kehamilan oleh, pasangan baru, multipara dengan rentang kehailan > 10 tahun, riwayat preeklampsi pada ibu/saudara perempuan, kehamilan multiple, diabetes mellitus, hipertensi kronik, penyakit ginjal, sindrom antifosfolipid, kehamilan dengan inseminasi donor sperma, oosit dan embrio, obesitas sebelum kehamilan, indeks massa tubuh (dipstick 35, tekanan darah diastolic 80 mmHg, proteinuria 1 pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak 6 jam atau secara

kuantitatif 300mg dalam 24 jam) Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder terhadap kejadian pre-eklampsi antara lain: o Istirahat o Restriksi garam o Aspirin dosis rendah o Suplementasi kalsium o Supplementasi antioksidan (tidak direkomendasikan

PENATALAKSANAAN
A. Manajemen Ekspektatif atau Aktif Tujuan dari manajemen ekspektatif adalah untuk memperbaiki luaran perinatal dengan mengurangi morbiditas neonatal serta memperpanjang usia kehamilan tanpa membahayakan ibu. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Odendaal et al, diketahui bahwa pada pasien dengan pre-eklampsi berat yang mendapatkan terapi ekspektatif, tidak didapatkan adanya peningkatan komplikasi pada ibu, sebaliknya malah dapat memlerpanjang usia kehamilan, mengurangi kebutuhan ventilator pada neonates dan mengurangi komplikasi total pada neonatal. Berat lahir bayi pada ibu yang mendapatkan terapi ekspektatif juga ditemukan lebih besar namun terdapat peningkatan untuk terjadinya insidensi pertumbuhan janin terhambat. Pemberian kortikosteroid pada usia kehamilan 26-34 minggu dengan pre-eklampsi mengurangi kejadian gawat nafas, perdarahan intraventrikular, infeksi serta kematian neonatal. B. Pemberian Magnesium Sulfat sebagai Anti Konvulsan Sejak tahun 1920, pemberian magnesium sulfat sebagai anti kejang sudah umum dilakukan di eropa maupun amerika. Tujuan utama pemberian magnesium sulfat adalah untuk mencegah dan mengurangi angka kejadian eklampsi, serta mengurangi morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Cara kerja magnesium sulfat belum dapat dimengerti sepenuhnya, salah satu mekanismenya adalah menyebabkan terjadinya vasodilatasi melalui relaksasi otot polos, termasuk juga pembuluh darah perifer dan uterus, sehingga selain sebagai antikonvulsan juga bertindak sebagai antihipertensi dan tokolitik. Magnesium sulfat juga berperan dalam menghambat reseptor N-metil-D-aspartat (NMDA) di otak yang apabila teraktivasi oleh asfiksia dapat menyebabkan masuknya kalsium ke dalam neuron sehingga menyebabkan terjadinya kejang. Magnesium sulfat juga menjadi pilihan utama pada pasien dengan pre-eklampsia berat dibandingkan dengan diazepam atau fenitoin untuk mencegah terjadinya kejang atau kejang berulang.

C. Antihipertensi European Society of Cardiology (ESC) merekomendasikan pemberian antihipertensi jika tekanan darah sistolik 140mmHg dan diastolic 90 mmHg pada kehamilan dengan hipertensi (dengan atau tanpa proteinuria), hipertensi kronik superimposed, hipertensi dengan gejala atau kerusakan organ subklinis pada usia kehamilan berapa pun. Pada kehamilan lain, pemberian antihipertensi baru direkomendasikan apabila tekanan darah 150/95 mmHg. Menurut penelitiaan metaanalisis RCT yang dilakukan oleh Magee et al, ditemukan bahwa pemberian antihipertensi pada hipertensi ringan menunjukkan penurunan pada kejadiaan hipertensi berat dan menurunkan angka kebutuhan terhadap pemberian antihipertensi lain. Dari penelitian yang ada, tidak terbukti bahwa pengobatan antihipertensi dapat mengurangi insidensi pertumbuhan janin terhambat, solution placenta, superimposed pre-eklampsia, atau memperbaiki luaran perinatal, tetapi, pemberian antihipertensi berbanding lurus dengan kemungkinan terjadinya pertumbuhan janin terhambat sehubungan dengan penurunan tekanan arteri rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian antihipertensi dapat menurunkan perfusi uteroplacenta. Oleh karena itu, indikasi pemberian antihipertensi pada kehamilan adalah untuk keselamatan ibu dan mencegah penyakit serebrovaskular. Jenis antihipertensi yang digunakan pada kehamilan antara lain: Calcium Channel Blocker Calcium channel blocker bekerja pada otot polos arteriolar dan menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dengan menghambat masuknya kalsium ke dalam sel. Berkurangnya resistensi perifer dapat mengurangi afterload, sehingga berefek minimal pada vena. Regimen CCB yang sering digunakan adalah Nifedipine yang selain berfungsi sebagai antihipertensi juga dapat berfungsi sebagai anti tokolitik. Metildopa Metildopa merupakan agonis reseptor alfa yang bekerja di system saraf pusat, merupakan antihipertensi yang sering digunakan pada wanita hamil dengan hipertensi kronis. Metildopa mempunya safety margin yang sangat luas. Metildopa selain bekerja pada system saraf pusat, juga memberikan sedikit efek pada perifer, dengan menurunkan tonus simpatis dan tekanan darah arteri.

Metildopa biasanya digunakan dengan dosis 250-300 mg/oral 2-3 kali sehari, dengan dosis 3 gr/hari. D. Kortikosteroid Pemberian kortikosteroid antenatal berhubungan erat dengan penurunan mortalitas janin dan neonatal, RDS, kebutuhan ventilasi mekanik/CPAP, kebutuhan surfaktan dan perdarahan serebrovaskular, necrotizing enterocolitis serta gangguan perkembangan neurologis. Penurunan bermakna pada kejadia RDS didapatkan pada pemberian kortikosteroid pada usia kehamilan 28-36 minggu dan diberikan 48 jam-7 hari sebelum persalinan.