Anda di halaman 1dari 15

Tujuan Pembelajaran:

Mendefinisikan faktor-faktor yang dipertimbangkan perusahaan asuransi dalam memilih jalur pemasaran; Mengidentifikasi jalur pemasaran tradisional dan inovatif;.

30.1. Pengantar Jalur Pemasaran


Tujuan utama pemasaran adalah memfokuskan pada kebutuhan nasabah dan mendapatkan keuntungan jangka panjang melalui kepuasan nasabah. Pada layar selanjutnya Anda akan mempelajari beberapa jalur yang digunakan perusahaan asuransi dalam memasarkan produknya. Bagaimana perusahaan asuransi memilih jalur pemasarannya? 1. 2. 3. 4. 5. Rencana penjualan dievaluasi; Manajemen mengkalkulasi pertumbuhan dan target penjualannya; Kemampuan kantor pusat dan tenaga penjualan dievaluasi; Prioritas ditentukan dan target disusun; Satu atau lebih jalur distribusi dipilih serta digunakan untuk memasarkan produk.

Jalur pemasaran secara umum dibagi ke dalam tiga kategori: 1. Perantara; 2. Lembaga Keuangan; 3. Penjualan Langsung.

30.2. Perantara
Perantara merupakan agen yang menjual produk-produk asuransi. Pihak ini menawarkan produk asuransi dengan menjual secara langsung pada nasabah dan mendapatkan komisi untuk setiap produk yang dijual. Perantara penjualan dapat digolongkan ke dalam dua kategori umum: Distribusi melalui agen asuransi; Distribusi melalui bukan agen asuransi.

30.2.1. Perantara: Agen Asuransi


Dengan distribusi melalui agen asuransi, perusahaan asuransi merekrut, melatih, membiayai, mengakomodasi serta mengawasi agen-agen mereka. Perusahaan asuransi dalam hal ini menyediakan pelatihan dasar yang penting untuk mencapai pemasaran yang sukses melalui perantara.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

126

30.2.2. Perantara: Bukan Agen Asuransi


Dengan distribusi melalui bukan agen asuransi, perusahaan asuransi tidak mengembangkan tenaga pemasaran mereka sendiri. Mereka mengandalkan agen-agen yang telah berpengalaman dalam memasarkan produk asuransi. Perusahaan asuransi merekrut tenaga pemasaran berpengalaman untuk menekan biaya pelatihan atau pembiayaan yang berkaitan dengan itu.

30.3. Lembaga Keuangan


Yang termasuk ke dalam Lembaga Keuangan adalah: 1. Lembaga pembiayaan; 2. Bank; 3. Lembaga keuangan lain.

30.3.1. Lembaga Keuangan: Lembaga Pembiayaan


Lembaga pembiayaan memperkuat pemasaran produk asuransi yang berhubungan dengan asuransi jiwa berjangka, asuransi jiwa bernilai tunai, asuransi perawatan jangka panjang, dan asuransi atas ketidakmampuan memperoleh penghasilan serta tunjangan hari tua.

30.3.2. Lembaga Keuangan: Bank


Bank merupakan jalur distribusi yang penting bagi produk kesehatan, asuransi jiwa dan kombinasi antara produk bank dengan produk asuransi jiwa (bundling product). Jalur pemasaran ini dikenal sebagai bancassurance.

30.3.3. Lembaga Keuangan: Lembaga Keuangan Lain


Lembaga keuangan lain juga menawarkan produk asuransi dengan polis-polis yang menarik calon nasabah. Lembaga keuangan ini mampu merebut pasar seiring pertumbuhan sejumlah lembaga yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi jiwa dan strategi ini memperkuat sistem distribusi mereka.

30.4. Penjualan Langsung


Dengan sistem ini, produk perusahaan asuransi dipasarkan tanpa melalui jasa agen asuransi. Pemegang polis dapat membayar premi mereka langsung kepada perusahaan asuransi. Surat-menyurat merupakan metode paling lazim digunakan di sistem ini. Selain melalui surat, metode lain adalah melalui telepon, media cetak dan elektronik, telemarketing serta media penyiaran.

30.5. Bisnis Bancassurance


Anda telah mengetahui bahwa banyak jalan yang dapat ditempuh untuk mencapai suatu tujuan, dalam hal ini adalah memasarkan produk asuransi. Banyak jalan menuju Roma, seperti kata orang. Perusahaan asuransi menggunakan jalur pemasaran yang terdiri dari perantara, lembaga keuangan, dan juga penjualan langsung. Pasar asuransi jiwa secara signifikan telah berubah melalui pertumbuhan bisnis bancassurance.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

127

Latihan 30.1 Di bawah ini terdapat tenaga pemasaran asuransi dengan jalur pemasarannya. Dapatkah Anda menentukan jalur pemasaran dari metode pemasarannya! Metode Pemasaran Asuransi Distribusi melalui agen Bank Telepon Jalur Pemasaran...

30.6. Intisari
Dalam bab ini, Anda telah mempelajari hal-hal berikut: Tujuan pemasaran adalah memfokuskan pada kebtuhan nasabah dan mendapatkan keuntungan jangka panjang melalui kepuasan nasabah. Terdapat tiga jalur pemasaran tradisional mau pun inovatif, yaitu: o Perantara o Lembaga keuangan, dan o Jalur penjualan langsung Faktor-faktor yang dipertimbangkan perusahaan asuransi jiwa daam memilih jalur pemasarannya: o Rencana penjualan dievaluasi; o Manajemen mengkalkulasi pertumbuhan dan target penjualannya; o Kemampuan Kantor Pusat dan tenaga penjualan dievaluasi. o Prioritas ditentukan dan target disusun. o Satu atau lebih dari jalur distribusi dipilih serta digunakan untuk memasarkan produk.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

128

Tujuan Pembelajaran:
Mengidentifikasi aturan main dan kode etik dalam bisnis asuransi jiwa; Merinci langkah-langkah yang harus diambil dalam mengikuti aturan tersebut.

32.1. Tujuan Kode Etik Asuransi Jiwa


Dapatkah Anda membayangkan apa yang terjadi jika setiap tenaga penjual/pemasaran termasuk agen yang ditugaskan untuk menjual asuransi jiwa tidak mengikuti kode etik standar mereka? Apa pula yang terjadi jika mereka tidak menghargai kepercayaan pemegang polis? Agar petugas penjualan memiliki aturan main yang jelas dan pemegang polis terlindungi maka industri asuransi jiwa membuat kode etik. Dengan demikian penjual/pemasaran: 1. Memiliki standar kode etik yang seragam; 2. Kepercayaan dan kesejahteraan pemegang polis tetap terjaga. Sekarang mari kita perhatikan aturan-aturan yang berlaku di industri ini. Sebagai agen, Anda perlu selalu mengikuti perkembangan standar kode etik dan menerapkannya di lapangan.

32.2. Aturan Dasar Kode Etik


Berikut adalah aturan dasar dalam kode etik asuransi jiwa:

32.2.1. Berbagi Risiko


Asuransi jiwa merupakan bisnis penghimpunan dana masyarakat dan berbagi risiko. Karena itulah, bisnis ini harus dijalankan dengan integritas yang tinggi dan kode etik yang ketat serta dijalankan secara profesional, di mana kepentingan nasabah harus ditempatkan di atas kepentingan penjual/pemasar (menghindari adanya konflik kepentingan pribadi).

32.2.2. Kepercayaan
Kepercayaan adalah landasan dasar dari bisnis ini. Karena itulah bisnis ini harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan sikap profesional. Kepercayaan dari pemegang polis harus terus menerus dijaga dan dipelihara dengan baik dan senantiasa ditingkatkan.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

129

32.2.3. Keamanan
Agen asuransi jiwa harus senantiasa berusaha memberikan rasa aman kepada setiap pemegang polisnya dan juga menjaga kredibilitas perusahaan di mata masyarakat.

32.2.4. Tepat Waktu


Agen asuransi jiwa harus memberikan layanan yang efisien dan tepat waktu bagi pemegang polis, tanpa melupakan kelengkapan dan ketepatan data yang dibutuhkan.

32.2.5. Surat Pernyataan


Seluruh karyawan dan agen asuransi jiwa (baik yang telah ada mau pun yang baru) wajib menandatangani surat pernyataan untuk menjalankan aturan-aturan yang ditetapkan perusahaan. Dalam hal kode etik maka tenaga penjual/pemasar wajib menandatangani pernyataan telah membaca, memahami dan akan mematuhi kode etik keagenan yang diterbitkan oleh AAJI.

32.2.6. Kepatuhan dan Pelanggaran


Pimpinan departemen bertanggungjawab dalam menjamin dijalankannya aturan main perusahaan dan kode etik oleh setiap karyawan dan agen setiap saat. Setiap pelanggaran yang terjadi harus dilaporkan pada Dewan/Departemen Kode Etik Penjualan. Dewan/Departemen ini wajib menyerahkan laporan bulanan kepada Penanggungjawab Dewan Kode Etik pada perusahaan asuransi jiwa berkaitan dengan pelanggaran yang terjadi dan tindakan yang diambil dengan tembusan ke AAJI. Seluruh kasus perilaku kriminal wajib dilaporkan secepatnya kepada pihak yang berwajib dan AAJI. Sebagai akibatnya Lisensi Keagenan petugas pemasaran tersebut akan dibatalkan, dan yang bersangkutan tidak diperbolehkan lagi melakukan aktivitas penjualan produk asuransi jiwa apa pun.

32.3. Intisari
Dalam bab ini Anda telah belajar tentang: Industri asuransi jiwa memiliki kode etik yang berguna untuk mengembangkan standar etika bisnis dalam industri asuransi jiwa dan meningkatkan kesejahteraan pemegang polis; Tujuan dasar kode etik adalah menjaga kepercayaan pemegang polis, layanan yang efisien dan tepat waktu, komitmen dari semua karyawan dan agen untuk menjalankan peraturan, tanggung jawab dari setiap pimpinan departemen untuk menjamin pelaksanaan kode etik setiap saat, kepatuhan, pelaporan pelanggaran kepada Dewan Kode Etik dan AAJI, dan pelaporan perilaku kriminal pada pihak yang berwajib dan AAJI.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

130

Tujuan Pembelajaran:
Merinci prinsip-prinsip kode etik asuransi jiwa; Menjelaskan tanggungjawab agen asuransi jiwa; Mengidentifikasi sanksi yang dapat dikenakan kepada pelanggar kode etik asuransi.

33.1. Prinsip Kode Etik Asuransi Jiwa


Semua agen asuransi jiwa harus menunjukkan komitmen untuk mengutamakan kepentingan pemegang polis di atas kepentingan pribadi. Prinsip ini antara lain termuat dalam kode etik keagenan asuransi jiwa yang merupakan pedoman wajib kepada seluruh perusahaan dan agen asuransi jiwa untuk mematuhinya. Sebagai agen, apakah yang Anda pikirkan ketika sedang melakukan prospecting? Apakah tindakan saya adil? Apakah tindakan saya legal/tidak bertentangan dengan hukum? Apakah perusahaan saya dipermalukan jika situasi ini diketahui masyarakat umum? Apakah saya akan menyetujui tindakan ini seandainya saya adalah rekan kerja, pemegang polis atau pemegang saham?

Agar dapat menjawab YA pada setiap pertanyaan ini, pelajarilah prinsip dan praktek kode etik asuransi jiwa yang diterbitkan oleh Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Untuk mengingat prinsip dan praktek kode etik asuransi jiwa, ingatlah kata PT. JAMIN karena masing-masing huruf memiliki makna. Berikut adalah makna tiap huruf dalam kata PT. JAMIN.

33.1.1. P: Pribadi
Menghindari adanya konflik kepentingan pribadi.

33.1.2. T: Transaksi Bersifat Rahasia


Memastikan kerahasiaan transaksi tetap terjaga antara perusahaan asuransi jiwa dengan pemegang polis dan nasabahnya.

33.1.3. J: Jabatan
Menghindari penyalahgunaan jabatan.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

131

33.1.4. A: Adil
Memastikan adanya perlakuan yang adil bagi seluruh pemegang polis, dengan pihak lain yang menggantungkan atau memiliki hubungan bisnis dengan perusahaan asuransi jiwa.

33.1.5. M: Melengkapi Data


Melengkapi dan memastikan ketepatan data yang diperlukan.

33.1.6. I: Informasi
Menjaga penyalahgunaan informasi.

33.1.7. N: Niat Baik


Menjalankan bisnis dengan niat baik dan integritas yang tinggi.

33.2. Definisi Fidusia


Dengan menjalani semua prinsip kode etik asuransi jiwa, agen asuransi PT JAMIN dapat menjawab semua pertanyaan tadi dengan YA. Ia pantas menyandang predikat sebagai FIDUSIA. Fidusia (pihak yang dapat dipercaya) adalah seseorang yang posisi dan tanggungjawabnya melibatkan kepercayaan dan keyakinan yang tinggi. Agen asuransi sebagai pihak yang dipercaya (fidusia) bertindak sesuai dengan standar etika, bukan hanya karena itu merupakan hal yang benar untuk dilakukan, tapi karena memang hal itu yang harus dilakukannya. Agen asuransi harus bersikap adil, memiliki niat baik dan bertindak demi kepentingan perusahaan. Menjalankan fungsi fidusia menuntut suatu standar yang lebih tinggi dari yang diperlukan dibandingkan dengan tindakan yang biasa/umum. Sayangnya, belum tentu semua agen asuransi jiwa dapat dikatakan fidusia (dipercaya). Sebab itu, harus ada kontrol atas penerapan Kode Etik Asuransi Jiwa. Hal ini dilakukan oleh Perusahaan Asuransi Jiwa di mana agen asuransi bekerja, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan masyarakat, khususnya masyarakat pemegang polis.

33.3. Tanggung Jawab Agen Asuransi Jiwa


Pada dasarnya setiap agen asuransi harus bertanggung jawab.

33.3.1. Tanggung Jawab Terhadap Diri Sendiri (Profesi)


Agen asuransi harus profesional dengan memiliki: Tingkat pengetahuan yang memadai; Kecakapan dalam aspek-aspek teknis; Penerapan standar etik yang baik.

33.3.2. Tanggung Jawab Terhadap Perusahaan


Agen asuransi adalah wakil perusahaan, sehingga ia harus:

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

132

Menunjukkan kejujuran, niat baik dan kesetiaan dalam bisnis; Membuka semua fakta penting yang berkaitan dengan kesehatan nasabah sesuai dengan ketentuan underwriting; Menjual produk yang sesuai dengan situasi tertentu; Menjual produk dengan cara yang profesional, pantas, berlandaskan standar etika tertinggi.

33.3.3. Tanggung Jawab Terhadap Nasabah dan Calon Nasabah


Agen asuransi harus menerapkan standar profesional yang ditetapkan oleh perusahaan dan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI). Penerapannya berupa: Tanggungjawab etis tentang kerahasiaan informasi; Menyerahan aplikasi secara tepat waktu; Memberi saran yang tepat; Penyerahan polis secara cepat (bila memang hal itu menjadi bagian dari tugas); Penjualan berdasarkan kebutuhan; Terus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melakukan analisa dan membuat rekomendasi yang sesuai; Memahami jenis produk khusus yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan khusus; Menyesuaikan produk dengan kebutuhan nasabah akan membangun hubungan saling percaya.

33.3.4. Tanggung Jawab Terhadap Masyarakat (Pemerintah)


Biro Perasuransian BAPPEPAM & LK Departemen Keuangan Republik Indonesia menerapkan peraturan dan standar hukum minimal untuk petugas pemasaran/agen asuransi. Peraturan ini dibuat untuk melindungi kepentingan calon nasabah mau pun nasabah yang sudah ada, perusahaan mau pun para agen. Agen harus selalu berpegang pada hukum/peraturan/ketentuan untuk melindungi kepentingan dirinya dan perusahaannya namun yang terpenting adalah dapat melindungi kepentingan nasabahnya.

33.4. Pelanggaran Kode Etik Asuransi


Guna membangun kepercayaan nasabah atau calon nasabah dengan perusahaan asuransi, para agen harus menghormati privasi dan kerahasiaan. Informasi apa saja yang harus dijaga? Semua fakta yang berkaitan dengan nasabah, termasuk (tetapi tidak terbatas pada): o Nama; o Alamat; o Nomor telpon; o Riwayat kesehatan; o Pendapatan; o Aset dan hutang;

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

133

o Tujuan investasi; o Rencana keuangan. Analisa atau pendapat yang berdasarkan pada fakta tersebut di atas.

Jika kode etik dilanggar, kepercayaan nasabah atau calon nasabah akan hilang dan itu tidak hanya merusak citra agen tetapi seluruh industri yang berkaitan dengan perasuransian pada umumnya. Sebab itu sanksi atas pelanggaran harus sesuai dengan perbuatannya. Kalau tidak, masyarakat akan kehilangan kepercayaan pada asuransi. Pelanggaran Kode Etik oleh petugas pemasaran/agen asuransi jiwa dapat dibedakan berdasarkan: Perilaku kriminal Perilaku menyesatkan

Perilaku yang bersifat kriminal, seperti:

33.4.1. Penipuan
Penipuan yang disengaja atau mis-representasi (penjelasan yang salah) yang sudah diketahui oleh seseorang sebagai hal yang salah atau tidak diyakini sebagai hal yang benar.

33.4.2. Penyalahgunaan Dana Nasabah


Mengambil uang atau harta benda lain yang diterima dari nasabah untuk tujuan khusus dan secara salah dialokasikan untuk tujuan/keperluan yang lain.

33.4.3. Pemalsuan
Dengan sengaja/secara sadar membuat dokumen palsu dengan maksud bahwa: Dokumen tersebut harus digunakan atau seolah-olah digunakan sebagai dokumen yang asli; Beberapa orang dibujuk dengan keyakinan bahwa hal/dokumen tersebut adalah asli/orisinal.

33.4.4. Sanksi Terhadap Perilaku Kriminal


Pemberian sanksi terhadap pelanggaran kode etik yang bersifat Perilaku Kriminal diatur berdasarkan kontrak keagenan yang berlaku di perusahaan masing-masing. Sanksi tersebut berupa pemutusan kontrak kerja sama keagenan sesuai dengan UU Republik Indonesia No. 2 Tahun 1992 Tentang Usaha Perasuransian, pasal 21 ayat 1 dan 5. Pasal 21 ayat 2: Barang siapa menggelapkan premi asuransi diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua milyar lima ratus juta rupiah). Pasal 21 ayat 5: Barang siapa secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan pemalsuan atas dokumen Perusahaan Asuransi Kerugian atau Perusahaan Asuransi Jiwa

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

134

atau Perusahaan Reasuransi, diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah). Perusahaan tempat petugas pemasaran/agen asuransi jiwa bekerja harus segera melaporkan pada Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) berkaitan dengan black list terhadap agen asuransi dan disirkulasikan kepada semua angota AAJI. Bila sudah masuk black list, agen yang bersangkutan tidak dapat lagi bekerja di industri asuransi jiwa.

33.5. Perilaku Menyesatkan


Perilaku yang bersifat menyesatkanseperti: Menahan informasi (sengaja menyesatkan nasabah dengan informasi yang salah); Menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan nasabah (agen asuransi jiwa harus terbuka terhadap calon nasabah yang berkaitan dengan transaksi atau rekomendasi); Rebating (memberi potongan harga premi); Systematic Replacement (mengganti produk internal/eksternal secara sistematis yang membahayakan nasabah); Twisting (membujuk pemegang polis untuk menebus polisnya dari perusahaan A lalu membeli polis baru darinya di perusahaan B); Churning (pencampuradukan kontrol atas banyaknya dan seringnya penjualan); Mispresentasi (pernyataan atau ilustrasi yang menyesatkan atau perbandingan yang tidak lengkap); Pemaksaan (agen asuransi jiwa menggunakan kekuasaan, pengaruh, posisi atau moral terhadap calon nasabah untuk pembelian produk); Pembujukan (Agen menawarkan untuk membayarkan premi yang kemudian akan ditebus calon nasabah (menalangi premi); atau memberi hadiah jika membuka polis di mana agen bekerja); Pernyataan kasar terhadap pesaing; Penandatanganan formulir kosong (Agen tidak boleh meminta nasabah menandatangani formulir kosong).

Pemberian sanksi terhadap pelanggaran kode etik yang bersifat Perilaku Menyesat Perilaku Menyesatkan diatur berdasarkan kontrak keagenan yang berlaku di perusahaan masingmasing. Pemberian sanksi ditetapkan berdasarkan bobot kesalahan yang telah ditentukan oleh Departemen Kepatuhan (Compliance Department) dari perusahaan asuransi jiwa yang terkait. Tindakan sanksi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Surat Peringatan (SP) SP 1 Sebagai Tenaga Pemasaran/ Agen Asuransi (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992; Tidak diberikan kesempatan masuk ke jalur management selama 2 (dua) tahun. Sebagai Manajer Pemasaran (Agency Leader) (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992; Diturunkan levelnya 1 (satu) tingkat.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

135

SP 2

(cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992; Tidak diberikan kesempatan masuk ke jalur management selama 4 (empat) tahun. (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992; Dikeluarkan dari perusahaan; Dilaporkan ke AAJI (black list) dan disirkulasikan kepada semua anggota asosiasi.

(cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992; Tidak diberikan kesempatan masuk ke jalur management selama 4 (empat) tahun; Diturunkan menjadi tenaga pemasaran. (cc ke AAJI), diancam dengan UU RI No. 2 Tahun 1992; Dikeluarkan dari perusahaan; Dilaporkan ke AAJI (black list) dan disirkulasikan kepada semua anggota asosiasi.

SP 3

33.6. Ikrar Bersama


Dalam rangka menciptakan hubungan bisnis yang harmonis dan serasi antara seluruh perusahaan asuransi jiwa, maka para pimpinan puncak seluruh perusahaan asuransi jiwa anggota AAJI sepakat dengan niat yang tulus melakukan Ikrar Bersama. ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA (INDONESIA LIFE INSURANCE ASSOCIATION) IKRAR BERSAMA ANTAR PERUSAHAAN ASURANSI JIWA ANGGOTA ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA (AAJI) PADA HARI INI, SELASA TANGGAL 11 MEI 2004, KAMI ATAS NAMA DIREKSI PERUSAHAAN ASURANSI JIWA ANGGOTA ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA (AAJI), DALAM RANGKA MENCIPTAKAN HUBUNGAN YANG HARMONIS, SERASI DAN PROPORSIONAL ANTARA SESAMA ANGGOTA, DENGAN INI MENYATAKAN DENGAN TULUS DAN IKLAS AKAN MENTAATI, BUTIR-BUTIR DI BAWAH INI. A. MEMBINA PERSATUAN DAN KESATUAN PENDAPAT SERTA TINDAKAN DI ANTARA PERUSAHAAN ASURANSI JIWA SESAMA ANGGOTA DALAM UPAYA MENINGKATKAN PROFESI MAU PUN STANDAR USAHA TANPA MELAKUKAN TINDAKAN-TINDAKAN YANG TIDAK SESUAI DENGAN NORMA MORAL USAHA ASURANSI JIWA. B. BERUSAHA BAIK MELALUI ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA MAU PUN SECARA SENDIRI-SENDIRI MELAKUKAN KEGIATAN YANG DAPAT MENUMBUHKAN DAN MENINGKATKAN MINAT DAN KESADARAN BERASURANSI

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

136

C.

D.

E.

F.

G.

H.

I.

J.

K.

JIWA DALAM MELAKUKAN PENUTUPAN ASURANSI JIWA DI KALANGAN MASYARAKAT. DENGAN PENUH TANGGUNGJAWAB DAN KONSEKUEN AKAN MENJAGA NAMA BAIK USAHA ASURANSI JIWA DAN MEMENUHI TANGGUNGJAWAB KEPADA MASYARAKAT, KARENA DISADARI BAHWA TERCEMARNYA SUATU PERUSAHAAN ASURANSI JIWA AKAN MEMBAWA DAMPAK YANG NEGATIF TERHADAP NAMA BAIK ATAU KEGIATAN USAHA INDUSTRI ASURANSI JIWA SECARA KESELURUHAN. MEMBINA SETIAP APARAT BAIK YANG BERADA DI TINGKAT PUSAT MAU PUN DAERAH, AGAR TIDAK AKAN MELAKUKAN TINDAKAN PROPAGANDA KEPADA SIAPA PUN DAN LEMBAGA MANA PUN, YANG DAPAT MENDISKREDITKAN DAN MERUSAK NAMA BAIK PERUSAHAAN ASURANSI JIWA. DENGAN SADAR DAN PENUH TANGGUNGJAWAB SEJALAN DENGAN PERUNDANGUNDANGAN DI BIDANG USAHA ASURANSI JIWA YANG MELARANGNYA, TIDAK AKAN MENERIMA ATAU MEMPEKERJAKAN AGEN YANG MASIH MEMILIKI HUBUNGAN PERJANJIAN KEAGENAN DAN/ATAU TELAH BERAKHIR PERJANJIAN KEAGENANNYA BELUM LEWAT 6 (ENAM) BULAN SEJAK TANGGAL BERAKHIR PERJANJIAN KEAGENANNYA DENGAN PERUSAHAAN ASURANSI JIWA LAIN YANG DIAGENINYA. PENGINGKARAN TERHADAP IKRAR HURUF (E) DI ATAS MERUPAKAN SUATU PELANGGARAN TERHADAP PERUNDANG-UNDANGAN BIDANG USAHA ASURANSI JIWA, DENGAN PENUH KESADARAN DAN TANGGUNGJAWAB AKAN MENERIMA SANKSI YANG DIBERIKAN OLEH PENGURUS ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA SESUAI WEWENANG DAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU DI BIDANG USAHA ASURANSI JIWA. MENDIDIK, MENGAJAR DAN MEMBINA AGEN DENGAN AMTERI PERUNDANGUNDANGAN BIDANG USAHA ASURANSI JIWA DAN PENUNJANG USAHA ASURANSI JIWA UNTUK MENJADIKAN AGEN SEBAGAI AGEN PROFESIONAL SEHINGGA MEREKA DAPAT MENGHAYATI KODE ETIK SEBAGAI SEORANG AGEN YANG MEMILIKI IZIN USAHA/LISENSI. DENGAN SADAR DAN PENUH TANGGUNGJAWAB BAIK LANGSUNG MELALUI APARAT MAU PUN MELALUI PIHAK LAIN TIDAK AKAN MELAKUKAN PEMBELIAN (TWISTING) PEMEGANG POLIS PERUSAHAAN ASURANSI JIWA LAIN. MENERIMA DAN MENYETUJUI ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA MELAKUKAN PENGAWASAN, MEMBERIKAN SANKSI KEPADA ANGGOTA PELAKU PENYIMPANGAN SESUAI WEWENANG DAN KETENTUAN PERUNDANG-UNDANGAN YANG BERLAKU. BERAT RINGANNYA SANKSI YANG AKAN DIJATUHKAN OLEH ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA TERGANTUNG DARI BOBOT PELANGGARAN YANG DILAKUKAN OLEH ANGGOTA PERUSAHAAN ASURANSI JIWA. BENTUK SANKSI DARI ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA BERUPA: PERINGATAN SECARA TERTULIS YANG TEMBUSANNYA DISAMPAIKAN KEPADA SELURUH PERUSAHAAN ASURANSI JIWA ANGGOTA ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA. PERINGATAN KERAS SECARA TERTULIS YANG TEMBUSANNYA DISAMPAIKAN KEPADA SELURUH PERUSAHAAN ASURANSI JIWA ANGGOTA ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA DAN DIREKTORAT ASURANSI, DIREKTORAT JENDERAL LEMBAGA KEUANGAN, DEPARTEMEN KEUANGAN R.I.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

137

PEMBERHENTIAN DARI KEANGGOTAAN ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA DENGAN SEGALA KONSEKUENSINYA. L. IKRAR BERSAMA INI MERUPAKAN PERWUJUDAN SEMANGAT PERSATUAN DAN KESATUAN PERUSAHAAN ASURANSI JIWA ANGGOTA ASOSIASI ASURANSI JIWA INDONESIA DENGAN SADAR DAN PENUH TANGGUNGJAWAB AKAN MENTAATINYA --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------Latihan 33.1 Jawablah pertanyaan berikut! 1. Bapak Andre adalah seorang agen yang berusaha membuat closing dengan seorang calon nasabah. Ikuti percakapannya seorang calon nasabah. Ikuti percakapannya di bawah... Bapak Andre: Skema ini paling cocok dengan kebutuhan Anda. Bapak kalau terburu-buru tidak perlu dibaca. Nasabah menandatangani kontrak. Bapak Andre: Terima kasih Pak. Polis ini Bapak pegang, tidak boleh dikembalikan. Nanti kalau ada pertanyaan silakan ke customer service. Menurut Anda, Apakah Pak Andre telah telah melakukan pelanggaran kode etik berdasarkan perilaku? a. Ya. b. Tidak 2. Jika Anda menganggap itu adalah pelanggaran, pelanggaran apakah yang telah dilakukan oleh Pak Andre? a. Twisting informasi. b. Penandatanganan formulir kosong. c. Misinterpretasi. d. Pembujukan dengan hadiah.

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

138

33.7. Intisari
Pada bab ini, Anda telah mempelajari hal-hal berikut: Prinsip Kode Etik dapat dihafal dengan mengingat PT. JAMIN, yaitu: o Pribadi (menghindari kepentingan pribadi); o Transaksi harus dijaga kerahasiaannya; o Jabatan tidak boleh disalahgunakan; o Adil dalam perlakuan kepada seluruh pemegang polis; o Melengkapi data yang tepat; o Informasi jangan disalahgunakan; o Niat baik harus selalu diupayakan. Petugas Pemasaran Asuransi/Agen asuransi mempunyai tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, perusahaan, nasabah atau calon nasabah dan masyarakat atau pemerintah; Sanksi tindak kriminal asuransi akan diancam dengan UU RI Nomor 2 Tahun 1992 dan di-blacklist. Sedangkan bobot sangsi bagi pelanggar tindakan menyesatkan tergantung bobot pelanggaran dan bisa sampai dikenakan blacklist

Bagian 13. Etika Bisnis Asuransi Jiwa |

139