Anda di halaman 1dari 2

TUGAS ILMU PERUNDANG-UNDANGAN

Pengertian Atribusi dan Delegasi

Kewenangan atribusi dalam pembentukan peraturan perundang-undangan

(attributie van wetgevingsbevoegdheid), adalah bentuk kewenangan yang didasarkan

atau diberikan oleh Undang-Undang Dasar atau Undang-Undang kepada suatu lembaga

negara/pemerintahan. Atribusi merupakan wewenang untuk membuat keputusan (besluit)

yang langsung bersumber kepada undang-undang dalam arti materiel. Atribusi ini dikatakan

juga sebagai suatu cara normal untuk memperoleh wewenang pemerintahan. Kewenangan

tersebut terus menerus dan dapat dilaksanakan atas prakarsa sendiri setiap waktu

diperlukan, sesuai dengan batas-batas yang diberikan. Ada 3 karakteristik dari atribusi,

yaitu :

1. Adanya penciptaan kewenangan (baru) untuk membuat peraturan perundang-

undangan.

2. Kewenangan tersebut dapat diberikan oleh konstitusi, undang-undang atau

Peraturan Daerah kepada suatu organ.

3. Organ negara yang menerima kewenangan itu bertanggung jawab atas

pelaksanaan kewenangan bersangkutan.

Contoh :

Kewenangan yang dimiliki oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan

penyelenggaraan pelayanan kepada masyarakat.

Kewenangan delegasi adalah bentuk kewenangan yang dilimpahkan untuk

membuat peraturan oleh peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi kepada


peraturan perundang-undangan yang lebih rendah, baik dinyatakan secara tegas maupun

tidak. Bentuk kewenangan ini tidak “diberikan” sebagaimana pada atribusi, melainkan

“diwakilkan”. Delegasi adalah penyerahan wewenang untuk membuat besluit oleh pejabat

pemerintahan kepada pihak lain. Kata penyerahan berarti ada perpindahan tanggung jawab dari

yang memberi delegasi (delegans) kepada yang menerima delegasi (delegataris). Terdapat 3 ciri

mendasar dalam delegasi :

1. Adanya penyerahan kewenangan membuat peraturan perundang-undangan, dimana

delegataris (penerima) bertanggung jawab penuh atas kewenangannya itu.

2. Penyerahan kewenangan dilakukan oleh pemegang atribusi (delegans) kepada

delegataris.

3. Hubungan antara delegans dengan delegataris tidak dalam hubungan atasan dan

bawahan.

Contoh :

Pemberian kewenangan dari Kepala Daerah kepada Kepala Dinas atau Camat dalam

melaksanakan pelayanan kepada masyarakat.