Anda di halaman 1dari 20

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN 2009

Stroke
Presentasi Kasus Neurologi

Pembimbing: dr. Albert Teddy, SpS. Disusun Oleh: Alvin Hartanto / 07120090020

DEPARTEMEN NEUROLOGI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. I RADEN SAID SUKANTO FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN JAKARTA

Laporan Kasus Neurologi


I. Identitas Pasien
Nama Jenis kelamin Usia Agama Suku bangsa Pendidikan Pekerjaan Alamat Status pernikahan Status ekonomi Cekat tangan Tanggal masuk Rumah Sakit Tanggal pemeriksaan : Tn. Su : Pria : 54 tahun : Islam : Jawa : SMP : Penjaga Warung : Cip. Asem RT 003/012 Kebon Pala Kec. Makasar : Belum Kawin : Menengah bawah : Kanan : 30 Maret 2013 : 30 Maret 5 April 2013

II.

Anamnesis
Autoanamnesa dan Alloanamnesa (tetangga yang membawa dan sepupu) a. Keluhan Utama Lemah setengah badan bagian kanan secara mendadak sejak 12 jam yang lalu (sebelum masuk ke rumah sakit). b. Keluhan Tambahan Sakit kepala sejak sebelum terjadi kelemahan, pusing, dan muntah. c. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan kelemahan setengah badan bagian kanan secara mendadak sejak 12 jam yang lalu (pagi hari) sebelum masuk rumah sakit. Kelemahan terjadi saat pasien sedang menjaga warungnya dan didahului rasa sakit kepala seperti ditusuk, berdenyut, dengan skala 7. Pasien juga mengeluhkan adanya pusing sebelum terjadi kelemahan. Menurut pengakuan tetangga yang membawa pasien ke rumah sakit, pasien ditemukan dalam keadaan terduduk di lantai dengan muntahan di bajunya. d. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien mengaku punya riwayat hipertensi yang dipertegas pula dari pengakuan saudaranya. Riwayat diabetes disangkal, riwayat hiperlipidemia disangkal. Pasien mengaku pernah ke puskesmas dan diberi obat darah tinggi tetapi jarang di minum. e. Riwayat Keluarga Pasien mengaku ayah dan ibunya mempunyai riwayat hipertensi.

f.

Riwayat Sosial Pasien mengaku tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Pasien mengaku tidak pernah berolahraga dan pola makan seadanya dan tidak teratur.

III.

Pemeriksaan Fisik
a. Status Antropometri Umum i. Berat Badan : 58 kg ii. Tinggi Badan : 165 cm b. Status Generalis i. Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang ii. Kesadaran : Compos Mentis iii. Tekanan Darah : 180/100 mmHg iv. Laju Nadi : 88x/min v. Laju Napas : 20x/min vi. Suhu : 36,5oC (per axilla) c. Kepala : Normosefal, persebaran rambut merata, tanda trauma (-) d. Mata : Skelra ikterik -/- , konjungtiva pucat -/- , pupil 3mm/3mm isokor Reflek cahaya langsung dan tak langsung ++/++ e. Telinga : Bentuk normal, tidak ada luka, perdarahan ataupun cairan. f. Hidung : Bentuk normal, septum nasi di tengah, tidak ada luka dan perdarahan g. Mulut : Deviasi bibir ke kanan, mukosa rongga mulut merah tanpa massa, leukoplakia atau lesi lain. Hygiene cukup, lidah putih deviasi kanan. h. Leher : Pembesaran KGB (-) i. Thorax : i. Inspeksi : simetris kiri-kanan pada statis dan dinamis ii. Palpasi : massa (-), taktil fremitus batas normal iii. Perkusi : kedua lapang paru sonor iv. Auskultasi : 1. Cor : S1, S2 Normal, murmur (-), gallop (-) 2. Pulmo : Vesikuler, Wheezing -/-, Rhonki -/j. Abdomen : i. Inspeksi : rata, massa (-), scar (-) ii. Palpasi : nyeri tekan 9 regio (-), hepar-lien tidak teraba iii. Perkusi : timpani di 9 regio iv. Auskultasi : bising usus batas normal, bruit (-) k. Punggung : scar (-), deformitas (-) l. Ekstremitas : capillary refill < 2 detik

m. Status Neurologis i. GCS 15 (E:4 M:6 V:5) ii. Rangsang Meningeal 1. Kaku kuduk 2. Laseque 3. Kernig 4. Brudzinski I 5. Brudzinski II

:::::-

iii. Saraf Kranial 1. Nervus I : ND/NS normal, masih bisa cium bau makanan 2. Nervus II : a. Visus : 1/60 b. Lapang Pandang : Normal 3. Nervus III, IV, VI : a. Celah palpebra normal, ptosis (-) b. Sikap kedua bola mata baik c. Pupil 3mm/3mm bulat isokor d. Reflex Cahaya Langsung : ++ e. Reflex Cahaya tak langsung : ++ f. Gerak bola mata normal 4. Nervus V a. Motorik i. Gerak buka mulut normal ii. Gerakan rahang normal b. Sensorik i. V1,V2,V3 batas normal c. Reflex Kornea batas normal 5. Nervus VII a. Sikap mulut istirahat : deviasi kanan b. Angkat alis, kerut dahi : kanan tertinggal sedikit c. Menyeringai : kanan tertinggal d. Kembung pipi : kanan tertinggal e. Rasa kecap 2/3 anterior : normal 6. Nervus VIII a. Gesek jari : AD/AS terdengar baik b. Detik arloji : AD/AS terdengar baik 7. Nervus IX a. Sensorik : pengecapan 1/3 posterior baik b. Motorik : Reflex telan baik 8. Nervus X a. Disfonia (-), disfagia (-)

b. Reflex muntah baik c. Arkus faring tidak terlihat tertutup lidah d. Letak uvula tidak terlihat tertutup lidah 9. Nervus XI a. Angkat bahu : baik b. Memalingkan kepala : baik 10. Nervus XII a. Deviasi lidah : kanan (saat menjulurkan) b. Atrofi (-), fasikulasi (-), tremor (+) c. Artikulasi terganggu iv. Motorik 1. Massa otot a. Ekstremitas atas : eutrofi / eutrofi b. Ekstremitas bawah : eutrofi/ eutrofi 2. Tonus a. Ekstremitas atas : normotonus/ normotonus b. Ekstremitas bawah : normotonus/ normotonus 3. Kekuatan a. Ekstremitas atas : 3+ 3+ 3+ 3+ / 5 5 5 5 b. Ekstremitas bawah : 3+ 3+ 3+ 3+ / 5 5 5 5 4. Reflex Fisiologis a. Bisep : ++/++ b. Trisep : ++/++ c. Patela : ++/++ d. Achilles : ++/++ 5. Reflex Patologis a. Babinski :b. Gordon :c. Chaddock :d. Oppenheim :e. Schaeffer :f. Hoffman :g. Trommer :6. Klonus a. Patela :b. Achilles :v. Sensorik 1. Ekstremitas atas : a. Raba : hipoestesi / normoestesi b. Nyeri : hipoalgesia/ normoalgesia c. Getar : tidak dilakukan d. Suhu : tidak dilakukan

vi.

vii. viii. ix.

e. Proprioseptif : normal f. Diskriminasi 2 titik : normal 2. Ekstremitas bawah : a. Raba : hipoestesi / normoestesi b. Nyeri : hipoalgesia/ normoalgesia c. Getar : tidak dilakukan d. Suhu : tidak dilakukan e. Proprioseptif : normal f. Diskriminasi 2 titik : normal Autonom 1. BAB : normal 2. BAK : normal 3. Berkeringat : normal Fungsi Luhur : tidak dilakukan Koordinasi : tidak dilakukan Tambahan : terdapat afasia post stroke

IV.

Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium Darah (terlampir) Parameter HEMATOLOGI RUTIN Hemoglobin Leukosit Laju Endap Darah Hematokrit Trombosit Eritrosit HITUNG JENIS LEUKOSIT Basofil Eosinofil Batang Segmen Limfosit Monosit KIMIA KLINIK SGOT/AST (37oC) SGPT/ALT (37oC) Kolesterol Total Trigliserida Protein Total Hasil 13 8.000 13 38 215.000 4,40 1 76 21 2 18,9 10,3 172 72 7,0 Nilai Rujukan 13 16 5.000 10.000 < 15 40-48
150.000-400.000

Satuan g/dL U/L mm/jam % /ul juta/ul % % % % % % U/L U/L mg/dL mg/dL g/dl

4,5 5,5 01 13 26 50 70 20 40 28 < 37 < 40 < 200 < 200 6,0 8,7

Albumin Globulin TES FUNGSI RENAL Ureum Kreatinin Asam Urat Gula Darah Sewaktu

4,2 2,8 18 0,8 4,5 69

3,5 5,2 2,5 3,1 10 50 0,5 1,3 2,4 5,7 < 200

g/dl g/dl mg/dL mg/dL mg/dL mg/dL

b. EKG : normal c. Hasil CT Scan (terlampir) i. Tampak gambaran perdarahan pada thalamus kiri invasi sebagian ke sistem ventrikel ii. Tampak lesi hipodens batas tegas pada basal ganglia kanan kiri iii. Tampak deviasi midline ringan ke kanan iv. Sulci dan gyri masih dalam batas normal v. Sistem ventrikel melebar vi. Fossa posterior normal vii. Orbita, aircell mastoid kanan-kiri normal viii. SPN, Nasopharyng normal ix. Tulang-tulang normal x. Kesan : Intracerebral hemorrhage invasi ke ventrikel lateralis (IVH) dengan hidrosefalus. Kronik Infark basal ganglia kanan kiri.

V.

Diagnosis
a. Neurologis : i. Klinis : Hemiparese dextra, parese nervus VII sentral dextra, parese nervus XII dextra ii. Topis : Cerebral Hemisphere sinistra iii. Etiologi : CVD hemorhagik b. Umum : Hipertensi kronik grade II c. Alasan diagnosis : i. Terdapat defisit neurologis mendadak saat beraktivitas ii. Didahului sakit kepala dan terdapat muntah proyektil iii. Terdapat riwayat hipertensi tidak terkontrol iv. Algoritma Gajah Mada cenderung ke arah perdarahan intraserebral v. Siriraj Score < -1 cenderung ke arah stroke perdarahan

VI. VII.

Diagnosis Banding Penatalaksanaan

: CVD iskemik

a. Medikamentosa : i. Citicholine 3x250mg : neuroprotektor ii. Captopril 2x25mg : anti hipertensi iii. Amlodipine 1x10mg : anti hipertensi iv. Neurobion 1x1 tab : vitamin saraf v. Ranitidin : proteksi mukosa lambung b. Non-medikamentosa : i. Fisioterapi 1. Fase akut : gerakan pasif 2. Fase lanjut : gerakan aktif ii. Pengendalian faktor resiko rekurensi, yakni hipertensi

VIII. Prognosis
a. Quo ad vitam b. Quo ad functionam c. Quo ad sanactionam : bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

Follow Up Terakhir
S O : Kelemahan setengah badan kanan (cenderung membaik) : ku/ ks : tampak sakit sedang, kompos mentis E4V5M6 TD 150/90 mmHg HR: 80x/min RR: 20 x/min Suhu: 36.5 oC Rangsang meningeal : Tidak ada kelainan Nervus cranialis : parese N. VII sentral dextra, N. XII UMN dextra Refleks fisiologis : Bisep : ++/++ Trisep : ++/++ Patella : ++/++ Achilles : ++/++ Refleks patologis : Babinski :-/ Chaddock :-/ Gordon :-/ Oppenheim :-/ Schaeffer :-/ Hoff-Trommer : - / Kekuatan motorik : 4444 5555 4444 5555 Sensoris : Ekstremitas atas : o Raba : hipoestesi / normoestesi o Nyeri : hipoalgesia/ normoalgesia Ekstremitas bawah : o Raba : hipoestesi / normoestesi o Nyeri : hipoalgesia/ normoalgesia Tonus Klonus A : Klinis Topis Etiologi : Captopril Citicholine Amlodipine : Normotonus/ Normotonus :-/: Hemiparese dextra, parese N.VII sentral dextra, parese N.XII UMN dextra : Cerebral hemisphere sinistra : CVD hemoragik 2x25mg 3x250mg 1x10mg Ranitidin Neurobion 1x1 tab 1x1 tab

Tinjauan Pustaka
1. VASKULARISASI OTAK

Gambar 1. Gambaran umum sistem arteri otak Otak memperoleh darah melalui dua sistem yakni sistem karotis (arteri karotis interna kanan dan kiri) dan sistem vertebral. Arteri koritis interna, setelah memisahkan diri dari arteri karotis komunis, naik dan masuk ke rongga tengkorak melalui kanalis karotikus, berjalan dalam sinus kavernosum, mempercabangkan arteri oftalmika untuk nervus optikus dan retina, akhirnya bercabang menjadi dua yaitu arteri serebri anterior dan arteri serebri media. Untuk otak, sistem ini memberi darah bagi lobus frontalis, parietalis dan beberapa bagian lobus temporalis.

Gambar 2. Sirkulus Wilisi

Sistem vertebral dibentuk oleh arteri vertebralis kanan dan kiri yang berpangkal di arteri subklavia, menuju dasar tengkorak melalui kanalis tranversalis di kolumna vertebralis servikal, masuk rongga kranium melalui foramen magnum, lalu mempercabangkan masing-masing sepasang arteri serebeli inferior. Pada batas medula oblongata dan pons, keduanya bersatu arteri basilaris, dan setelah mengeluarkan 3 kelompok cabang arteri, pada tingkat mesensefalon, arteri basilaris berakhir sebagai sepasang cabang arteri serebri posterior, yang melayani darah bagi lobus oksipitalis, dan bagian medial lobus temporalis.

Gambar 3. Area Vaskularisasi Otak

2. STROKE Saat ini stroke dikategorikan sebagai penyebab kematian ketiga setelah penyakit jantung dan keganasan, serta penyebab kecacatan jangka panjang nomor satu di dunia. Definisi Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, selama lebih dari 24 jam atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab lain selain gangguan vaskuler. Epidemiologi Stroke merupakan satu masalah kesehatan yang besar dalam kehidupan modern saat ini. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat. Pada 1999, 50 juta orang telah mengalami kecacatan akibat stroke. Jumlah ini merupakan 3,5 % dari seluruh penderita cacat. Proyeksi hingga 2020 nanti menunjukan bahwa setiap tahun sekitar 61 juta orang akan mengalami kecacatan akibat stroke. Faktor Resiko a. Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi: usia, jenis kelamin, ras/etnis, genetik. b. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi: inaktivitas fisik, diet yang buruk, obesitas, hipertensi, diabetes mellitus, dyslipidemia, sindorma metabolik, hiperhomocysteinemia, infeksi, penyalahgunaan alkohol, dll. Klasifikasi a. Berdasarkan kelainan patologis Stroke hemoragik: perdarahan intra serebral, pendarahan subarakhnoid . Stroke non-hemoragik: thrombosis serebri, emboli, hipoperfusi sistemik b. Berdasarkan waktu terjadinya Transient Ischemic Attack (TIA) : < 24 jam Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND) : 24 jam 1 minggu Stroke In Evolution (SIE) : gejala makin memburuk dibandingkan awal Completed stroke : gejala menetap, permanen lesi otak. c. Berdasarkan lokasi lesi vaskuler Sistem karotis (anterior) - Motorik : hemiparese kontralateral, disartria - Sensorik : hemihipestesi kontralateral, parestesia - Gangguan visual : hemianopsia homonim, amaurosis fugaks - Gangguan fungsi luhur : afasia, agnosia Sistem vertebrobasiler (posterior) - Motorik : hemiparese alternans, disartria - Sensorik : hemihipestesi alternans, parestesia

- Gangguan lain : gangguan keseimbangan, vertigo, diplopia

Etiologi Pada stroke hemorrhagik, penyebab utamanya adalah pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan parenkim otak, ruang cairan serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi keduanya. Pendarahan intraserebral ditemukan 10% dari seluruh kasus stroke. Selain itu, pendarahan terjadi di ruang subaraknoid. Pada stroke non-hemmorhagic palinf sering disebabkan oleh emboli atau thrombus. Selain itu, stroke non hemoragik juga dapat diakibatkan oleh penurunan aliran serebral. Pada tingkatan seluler, setiap proses yang mengganggu aliran darah menuju otak menyebabkan timbulnya kaskade iskemik yang berujung pada terjadinya kematian neuron dan infark serebri. Gambaran Klinis Gejala klinis yang terjadi bergantung pada neuroanatomi dan vaskularisasinya. Defisit neurologis yang ditemukan berguna untuk menilai lokasi iskemi. Gejala Klinis Defisit fokal Onset Nyeri kepala Muntah pada awalnya Hipertensi Penurunan kesadaran Hemiparesis Gangguan bicara Liquor Parese / gang N.III PIS Berat Menit/jam Hebat Sering Hampir selalu Ada Sering dari awal Sering ada Berdarah Tidak ada PSA Ringan 1-2 menit Sangat hebat Sering Biasanya tidak Ada Non Hemoragik Berat ringan Pelan (jam/hari) Ringan Tidak, kecuali lesi di batang otak Sering kali Tidak ada

Permulaan tidak Sering dari awal ada Jarang Sering Berdarah Jernih Bisa ada Tidak ada

Diagnosis Diagnosis ditegakkan melalu anamnesis, pemeriksaan fisik, maupun pemeriksaan penunjang yang sesuai dengan manifestasi klinis yang telah disebutkan di atas. Selain itu ada yang disebut Siriraj Stroke Score dan alogaritma Gajah Mada yang sering digunakan untuk membantu membedakan stroke berdasarkan etiologinya.

No. 1

Siriraj Stroke Score Gejala/Tanda Kesadaran

Penilaian (0) Kompos Mentis (1) Mengantuk (2) Semi koma/koma (0) Tidak (1) Ya (0) Tidak (1) Ya Diastolik (0) Tidak (1) Ya

Indek x 2,5

Skor +

2 3 4 5

Muntah Nyeri Kepala Tekanan Darah Ateroma: DM Angina Pektoris Klaudikasio Intermiten Konstanta

x2 x2 x 10%

+ + +

x (-3)

-12

-12

Hasil SSS Bila SSS > 1 : Stroke Hemoragik SSS < -1 : Stroke Non Hemoragik. Skor antara 1 dan -1 menunjukkan hasil yang ekuivokal dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk menegakkan diagnosis. Algoritma Stroke Gajah Mada

2.1. Penatalaksanaan Non Farmakologis - Mengendalikan faktor risiko - Rehabilitasi medik dilakukan sedini mungkin pada stroke ischemic dan dilakukan setelah melewati fase akut pada stroke hemorrhagic (1-2minggu), dengan tujuan untuk memperbaiki fungsi motoric, mencegah kontraktur sendi, agar penderita dapat mandiri, rehabilitasi sosial. - Terapi umum 5B : o Breating - stabilisasi jalan nafas dan pernafasan; o Blood - TD tidak boleh segera diturunkan kecuali sistolik > 220 mmHg, diastolik > 120 mmHg. Batas penurunan TD maksimal 2025%. Stabilisasi hemodinamik dengan pemberian cairan kristaloid atau koloid; o Brain - Bila didapatkan kenaikan TIK maka diberikan manitol, posisi kepala 20-30 derajat. Aktivitas metabolisme otak harus diturunkan (mengatasi hipertermia, agitasi, kejang, nyeri, bila ada); o Bladder - mengosongkan kandung kemih yang penuh, sebaiknya dengan kateterisasi intermiten; o Bowel - Perhatikan kebutuhan cairan dan kalori, hindari obstipasi, jika terdapat kesulitan menelan pasang NGT. Nutrisi oral hanya boleh diberikan bila fungsi menelan baik. Farmakologis stroke iskemik - reperfusi : trombolisis penghilang sumbatan akibat stroke rt-PA 0,9 mg/kgBB maksimal 90 mg (10% diberikan bolus & sisanya infus kontinyu dalam 60 menit); pemberian harus kurang dari 3 jam onset. - Hemorheologi memperbaiki aliran darah, mengurangi viskositas pentoxifilin 15 mg/kgBB/hari, Naftidroufuril 600 mg/hari IV selama 10 hari dilanjutkan oral 300 mg/hari. - Antikoagulan: untuk pasien stroke yang beresiko emboli otak Heparin 1000 u/jam, cek aPTT 6 jam kemudian, hari ketiga oral LMWH 2 x 0,4cc subkutan, cek trombosit hari ke-1 dan ke-3 Warfarin 8 mg hari ke-1, 6 mg hari ke-2, cek INR - Anti agregasi trombosit: Aspirin 80 120 mg/hari, Clopidogrel 1x75 mg, Cilostazol 2x50 mg, Ticlopidin 2x250 mg - Neuroproteksi: Citicoline: 500-2000 mg.hari selama 14 hari meningkatkan oksigen ke otak, memperbaiki membrane sel, dan menghasilkan asetilkolin untuk fungsi kognitif.

Piracetam: bolus 12 gr/hari, minggu kelima oral 2x2,4 gr mencegah hipoksia dan memperbaiki integritas sel. Cerebrosilin: 30-50 cc selama 21 hari protein otak penghambat caspase yang berfungsi dalam apoptosis, inflamasi, dan nekrosis. stroke hemoragik - Konservatif PIS: anti pendarahan: epsilon aminocaproat 30-36 gr/hari, asam traneksamat 6x1 gr untuk mencegah lisis bekuan darah. Diberikan pula agen neuroproteksi dan antikoagulan. PSA: bed rest total 3 minggu, morphine 15 mg IM pada pasien sadar untuk menghilangkan nyeri, nimodipine 60-90 md oral tiap 4 jam selama 21 hari atau 15-30 mg/kg/jam selama 7 hari, baru dilanjutkan oral 360 mg/hari selama 14 hari untuk mencegah terjadinya vasospasme global. - Operatif Indikasi: pendarahan > 30 cc / diameter > 3cm pada fossa posterior. GCS >7 pendarahan cerebellum pendarahan ventricular / terjadi hydrocephalus letak lobar/kortikal dengan peningkatan TIK atau ancaman herniasi

Daftar pustaka
1. 2. Duus, Peter. 2006. Diagnosis Topik Neurologi Anatomi, Fisiologi, Tanda, Gejala. Jakarta: EGC. Aliah A, Kuswara F F, Limoa A, Wuysang G. Gambaran umum tentang gangguan peredaran darah otak dalam Kapita selekta neurology cetakan keenam editor Harsono. Gadjah Mada university press, Yogyakarta. 2007. Hal: 81-115. 3. Chung, Chin-Sang. Neurovascular Disorder in Textbook of Clinical Neurology editor Christopher G. Goetz. W.B Saunders Company: 1999. Hal: 10-3 4. D. Adams. Victors. Cerebrovasculer diseases in Principles of Neurology 8th Edition. McGraw-Hill Proffesional. 2005. Hal: 660-67 5. Ginsberg L. Stroke. Dalam Neurologi. Edisi 8. Erlangga. Jakarta. 2007

6. Goetz Christopher G. 2007. Cerebrovascular Diseases. In : Goetz: Textbook of Clinical Neurology, 3rd ed. Philadelphia : Saunders. 7. Harsono. 2008. Buku Ajar Neurologi Klinis. Jakarta: PERDOSSI. 8. LY, Hung, Wang PY, Wang Y, Chia LG. Clinical distinction between acute hemorrhagic and acute ischemic stroke by Siriraj stroke score [online]. Tersedia pada:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7780882. 9. Ropper AH, Brown RH. Cerebrovascular Diseases. In : Adam and Victors Priciples of Neurology. Eight edition. New York : Mc Graw-Hill. 2005. 10. Rumantir CU. 2007. Gangguan peredaran darah otak. Pekanbaru : SMF Saraf RSUD Arifin Achmad/FK UNRI. Pekanbaru. 11. Snell, Richard S. 2006. Neuroanatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran . Jakarta : EGC. 12. Wibowo, Samekto. Gofir, Abdul. Farmakoterapi stroke prevensi primer dan prevensi sekunder dalam Farmakoterapi dalam Neurologi. Penerbit Salemba Medika. Hal: 53-73.

Lampiran
Hasil Penghitungan Siriraj Score:
No. 1 Gejala/Tanda Kesadaran Penilaian (0) Kompos Mentis (1) Mengantuk (2) Semi koma/koma (0) Tidak (1) Ya (0) Tidak (1) Ya Diastolik (0) Tidak (1) Ya Indek x 2,5 x2 x2 x 10% x (-3) -12 Hasil SSS Skor +0 +2 +2 +10 -0 -12 -2

2 3 4 5

Muntah Nyeri Kepala Tekanan Darah Ateroma: DM Angina Pektoris Klaudikasio Intermiten Konstanta

SSS < -1 : Stroke Non Hemoragik

Hasil CT Scan

Hasil Laboratorium