Anda di halaman 1dari 18

ANALISA DAMPAK EKSPLORASI MINYAK BUMI TERHADAP LINGKUNGAN

1. 2. 3. 4. 5.

DI SUSUN OLEH : Nela Permata Sari Lubis (7123341075) S.Ganna Mersada Banurea (7123341100) Sarah Humaira Bintang (7123341103) Tamara Berliana Simanjuntak (7123341114) Yolanda Sinaga (7123341127) Kelas B Eks Kelompok : 3 (Tiga)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas kelompok kami yang berjudul Analisa Dampak Eksplorasi Minyak Bumi Terhadap Lingkungan Dengan selesainya laporan kerja praktek ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah memberikan masukan-masukan kepada penulis. Untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih terutama kepada Bapak Dr. Indra Maipita, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Ekonomi SDA yang telah banyak memberikan bimbingan dan arahan kepada penulis kemudian terima kasih kepada teman - teman Pend.Eko kelas B Eks yang telah memberikan bantuan serta motivasi kepada penulis Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan kerja kelompok ini, baik dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.

Medan,

Oktober 2013

Penulis

PENDAHULUAN

Secara umum, kegiatan eksploitasi dan pemakaian sumber energi dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia akan selalu menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan (misalnya udara dan iklim, air dan tanah) . Sumberdaya Alam merupakan komponen utama dalam menyokong kehidupan di Bumi .Hampir seluruh peradaban manusia membutuhkan sumberdaya Alam yang sifatnya terbatas.Sejarah membuktikan semakin majunya peradaban manusia, maka kebutuhan akan Sumberdaya Alam akan semakin besar. Malthus menggambarkan perkembangan sumberdaya Alam khususnya bahan pangan berbanding terbalik dengan jumlah populasi manusia. Pertumbuhan Manusia akan mengikuti deret hitung sedangkan perkembangan bahan pangan akan mengikuti deret ukur.Kenyataan ini ternyata juga sebanding dengan kebutuhan manusia lainnya.Eksploitasi Sumberdaya Mineral Indonesia adalah contohnya.Berbagai tambang mineral, batubara, dan minyak bumi saat ini menjadi incaran berbagai perusahaan asing. Keberadaan minyak bumi di alam merupakan hasil pelapukan fosil-fosil tumbuhan dan hewan pada zaman purba jutaan tahun silam. Organisme-organisme tersebut kemudian dibusukkan oleh mikroorganisme dan kemudian terkubur dan terpendam dalam lapisan kulit bumi. Dengan tekanan dan suhu yang tinggi, maka setelah jutaan tahun lamanya, material tersebut berubah menjadi minyak yang terkumpul dalam pori-pori batu kapur atau batu pasir. Oleh karena pori-pori batu kapur bersifat kapiler, maka dengan prinsip kapilaritas, minyak bumi yang terbentuk tersebut perlahan-lahan bergerak ke atas. Ketika gerakan tersebut terhalang oleh batuan yang tidak berpori, maka terjadilah penumpukan minyak dalam batuan tersebut. Sebagai salah satu sumber daya alam yang sangat banyak digunakan manusia, minyak bumi semakin di eksploitasi untuk memenuhi permintaan yang semakin meningkat. Semakin banyaknya penyulingan-penyulingan minyak bumi yang dilakukan perusahaan-perusahaan minyak. Namun, eksploitasi yang dilakukan tidak berlandaskan peduli lingkungan. Eksploitasi minyak bumi menghasilkan berbagai limbah minyak yang berdampak pada pencemaran tanah, pencemaran air, dan pencemaran udara. Berdasarkan P.P. No.19/1999, pencemaran laut diartikan sebagai

masuknya/dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam

lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu atau fungsinya (Pramudianto, 1999). Sedangkan Konvensi hokum laut III (United Nations Convention on the Law of the Sea = UNCLOS III) mengartikan bahwa pencemaran laut adalah perubahan dalam lingkungan laut termasuk muara sungai (estuaries) yang menimbulkan akibat yang buruk sehingga dapat merusak sumber daya hayati laut (marine living resources), bahaya terhadap kesehatan manusia, gangguan terhadap kegiatan di laut termasuk perikanan dan penggunaan laut secara wajar, menurunkan kualitas air laut dan mutu kegunaan serta manfaatnya (Siahaan, 1989 dalam Misran, 2002).

HASIL ANALISIS

I). Eksplorasi minyak bumi Produk minyak bumi (petroleum) membantu kita melakukan banyak hal. Kita menggunakannya untuk bahan bakar pesawat terbang, mobil, dan truk, untuk memasak di rumah, dan untuk membuat produk seperti obat-obatan dan plastik. Eksplorasi atau pencarian minyak bumi merupakan suatu kajian panjang yang melibatkan beberapa bidang kajian kebumian dan ilmu eksak. Untuk kajian dasar, riset dilakukan oleh para geologis, yaitu orang-orang yang menguasai ilmu kebumian. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab atas pencarian hidrokarbon tersebut. Perlu diketahui bahwa minyak di dalam bumi bukan berupa wadah yang menyerupai danau, namum berada di dalam pori-pori batuan bercampur bersama air

II). Metode Eksplorasi Minyak Bumi Ada berbagai macam cara menemukan minyak bumi, yaitu : Survei gravitasi: metode ini mengukur variasi medan gravitasi bumi yang disebabkan perbedaan densitas material di struktur geologi kulit bumi. Survei magnetik: metode ini mengukur variasi medan magnetik bumi yang disebabka n perbedaan propertimagnetik dari bebatuan di bawah permukaan. Survei magnetik da n gravitasi biasanya dilakukan diwilayah yang luas seperti misalnya suatu cekungan ( basin). Survei seismik: menggunakan gelombang kejut (shockwave) buatan yang diarahkan u ntuk melaluibebatuan menuju targetreservoir dan daerah sekitarnya. Oleh berbagai lap isan materialdi bawahtanah, gelombang kejut ini akan dipantulkan ke permukaan dan ditangkap oleh alat receiverssebagai pulsa tekanan (oleh hydrophonedi daerah peraira n) atau sebagai percepatan (oleh geophonedi darat). Sinyal pantulan ini lalu diproses s ecara digital menjadi sebuah peta akustik bawahpermukaan untuk kemudian dapat dii nterpretasikan.

Membor sumur uji: teknik yangpaling umum dinamakan loggingyang dapat dilakukan pada saat sumur masih dibor ataupun sumurnya sudah jadi.

III).

Jenis Sumur Pemboran Minyak Bumi

Di dunia perminyakan umumnya dikenal tiga macam jenis sumur: 1). Sumur eksplorasi (sering disebut juga wildcat) yaitu sumur yang dibor untuk mentukan apa kah terdapat minyak atau gas di suatu tempat yang sama sekali baru.

2). Jika sumur eksplorasi menemukan minyak atau gas, maka beberapa sumur konfirmasi(confi rmationwell) akan dibor di beberapa tempat yang berbeda di sekitarnya untukmemastikan a pakah kandungan hidrokarbonnya cukup untuk dikembangkan.

3). Sumur pengembangan (developmentwell) adalah sumur yang dibor di suatu lapangan minya kyang telah eksis. Tujuannya untuk mengambil hidrokarbon semaksimal mungkin darilapan gan tersebut.

IV).

Dampak negative eksplorasi minyak bumi terhadap lingkungan

Limbah minyak adalah buangan yang berasal dari hasil eksplorasi produksi minyak, pemeliharaan fasilitas produksi, fasilitas penyimpanan, pemrosesan, dan tangki penyimpanan minyak pada kapal laut. Limbah minyak bersifat mudah meledak, mudah terbakar, bersifat reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, dan bersifat korosif. Limbah minyak merupakan bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifatnya, konsentrasi maupun jumlahnya dapat mencemarkan dan membahayakan lingkungan hidup, serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya. 1). Pengeboran di laut

Pada umumnya, pengeboran minyak bumi di laut menyebabkan terjadinya peledakan (blow aut) di sumur minyak. Ledakan ini mengakibatkan semburan minyak ke lokasi sekitar laut, sehingga menimbulkan pencemaran. Contohnya, ledakan anjungan minyak yang terjadi di teluk meksiko sekitar 80 kilometer dari Pantai Louisiana pada 22 April 2010. Pencemaran laut yang diakibatkan oleh pengeboran minyak di lepas pantai itu dikelola perusahaan minyak British Petroleum (BP). Ledakan itu memompa minyak mentah 8.000 barel atau 336.000 galon minyak ke perairan di sekitarnya

Eksploitasi minyak bumi, khususnya cara penampungan dan pengangkutan minyak bumi yang tidak layak, misalnya: bocornya tangker minyak atau kecelakaan lain akan mengakibatkan tumpahnya minyak (ke laut, sungai atau air tanah) dapat menyebabkan pencemaran perairan. Pada dasarnya pencemaran tersebut disebabkan oleh kesalahan manusia. Pencemaran air oleh minyak bumi umumnya disebabkan oleh pembuangan minyak pelumas secara sembarangan. Di laut sering terjadi pencemaran oleh minyak dari tangki yang bocor. Adanya minyak pada permukaan air menghalangi kontak antara air dengan udara sehingga kadar oksigen berkurang. Sumber pencemaran minyak di laut Menurut Pertamina (2002), pencemaran minyak di laut berasal dari: a). Ladang minyak bawah laut b). Operasi kapal tanker c). Docking ( perbaikan/perawatan kapal) d). Terminal bongkar muat tengah laut e). Tangki ballast dan tangki bahan bakar f). Scrapping kapal (pemotongan badan kapal untuk menjadi besi tua ) g). Kecelakaan tanker (kebocoran lambung, kandas,ledakan,kebakaran, dan tabrakan ) h). Sumber di darat (minyak pelumas bekasatau cairan yang mengandung hidrokarbon (perkantoran dan industri )).

i). Tempat pembersihan (dari limbah pembuangan refinery )

Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya pencemaran minyak bumi di laut adalah: Rusaknya estetika pantai akibat bau dari material minyak. Residu berwarna gelap yang terdampar di pantai akan menutupi batuan, pasir, tumbuhan dan hewan. Gumpalan tar yang terbentuk dalam proses pelapukan minyak akan hanyut dan terdampar di pantai. Kerusakan biologis, bisa merupakan efek letal dan efek subletal. Efek letal yaitu reaksi yang terjadi saat zat-zat fisika dan kimia mengganggu proses sel ataupun subsel pada makhluk hidup hingga kemungkinan terjadinya kematian. Efek subletal yaitu mepengaruhi kerusakan fisiologis dan perilaku namun tidak mengakibatkan kematian secara langsung. Terumbu karang akan mengalami efek letal dan subletal dimana pemulihannya memakan waktu lama dikarenakan kompleksitas dari komunitasnya. Pertumbuhan fitoplankton laut akan terhambat akibat keberadaan senyawa beracun dalam komponen minyak bumi, juga senyawa beracun yang terbentuk dari proses biodegradasi. Jika jumlah pitoplankton menurun, maka populasi ikan, udang, dan kerang juga akan menurun. Padahal hewan-hewan tersebut dibutuhkan manusia karena memiliki nilai ekonomi dan kandungan protein yang tinggi. Penurunan populasi alga dan protozoa akibat kontak dengan racun slick (lapisan minyak di permukaan air). Selain itu, terjadi kematian burung-burung laut. Hal ini dikarenakan slick membuat permukaan laut lebih tenang dan menarik burung untuk hinggap di atasnya ataupun menyelam mencari makanan. Saat kontak dengan minyak, terjadi peresapan minyak ke dalam bulu dan merusak sistem kekedapan air dan isolasi, sehingga burung akan kedinginan yang pada akhirnya mati.

Penanganan akibat pencemaran minyak bumi di laut a). Pemantauan Tindakan pertama yang dilakukan dalam mengatasi tumpahan minyak yaitu dengan melakukan pemantauan banyaknya minyak yang mencemari laut dan kondisi tumpahan. Ada 2 jenis pemantauan yang dilakukan yaitu dengan pengamatan secara visual dan penginderaan jauh (remote sensing).

i. Pengamatan secara visual Pengamatan secara visual merupakan pengamatan yang menggunakan pesawat. Teknik ini melibatkan banyak pengamat, sehingga laporan yang diberikan sangat bervariasi. Pada umumnya, pemantauan dengan teknik ini kurang dapat dipercaya. Sebagai contoh, pada tumpahan jenis minyak yang ringan akan mengalami penyebaran (spreading), sehingga menjadi lapisan sangat tipis di laut. Pada kondisi pencahayaan ideal akan terlihat warna terang. Namun, penampakan lapisan ini sangat bervariasi tergantung jumlah cahaya matahari, sudut pengamatan dan permukaan laut, sehingga laporannya tidak dapat dipercaya. ii. Pengamatan penginderaan jauh Metode penginderaan jarak jauh dilakukan dengan berbagai macam teknik, seperti Side-looking Airborne Radar (SLAR). SLAR dapat dioperasikan setiap waktu dan cuaca, sehingga menjangkau wilayah yang lebih luas dengan hasil penginderaan lebih detail. Namun,teknik ini hanya bisa mendeteksi lapisan minyak yang tebal. Teknik ini tidak bisa mendeteksi minyak yang berada dibawah air dalam kondisi laut yang tenang. Selain SLAR digunakan juga teknik Micowave Radiometer, Infrared-ultraviolet Line Scanner, dan Landsat Satellite System. Berbagai teknik ini digunakan untuk menghasilkan informasi yang cepat dan akurat.

b). Penanggulangan Beberapa teknik penanggulangan tumpahan minyak diantaranya in-situ burning, penyisihan secara mekanis, bioremediasi, penggunaan sorbent, penggunaan bahan kimia dispersan, dan washing oil. In-situ burning adalah pembakaran minyak pada permukaan laut, sehingga mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut, penyimpanan dan pewadahan minyak serta air laut yang terasosiasi. Teknik ini membutuhkan booms (pembatas untuk mencegah penyebaran minyak) atau barrier yang tahan api. Namun, pada peristiwa tumpahan minyak dalam jumlah besar sulit untuk mengumpulkan minyak yang dibakar. Selain itu, penyebaran api sering tidak terkontrol. Penyisihan minyak secara mekanis melalui 2 tahap, yaitu melokalisir tumpahan dengan menggunakan booms dan melakukan pemindahan minyak ke dalam wadah dengan menggunakan peralatan mekanis yang disebut skimmer.

Bioremediasi yaitu proses pendaurulangan seluruh material organik. Bakteri pengurai spesifik dapat diisolasi dengan menebarkannya pada daerah yang terkontaminasi.Selain itu, teknik bioremediasi dapat menambahkan nutrisi dan oksigen, sehingga mempercepat penurunan polutan. Penggunaan sorbent dilakukan dengan menyisihkan minyak melalui mekanisme adsorpsi (penempelan minyak pad permukaan sorbent) dan absorpsi (penyerapan minyak ke dalam sorbent). Sorbent ini berfungsi mengubah fase minyak dari cair menjadi padat, sehingga mudah dikumpulkan dan disisihkan. Sorbent harus memiliki karakteristik hidrofobik, oleofobik, mudah disebarkan di permukaan minyak, dapat diambil kembali dan digunakan ulang. Ada 3 jenis sorbent yaitu organik alami (kapas, jerami, rumput kering, serbuk gergaji), anorganik alami

(lempung, vermiculite, pasir) dan sintetis (busa poliuretan, polietilen, polipropilen dan serat nilon). Dispersan kimiawi merupakan teknik memecah lapisan minyak menjadi tetesan kecil (droplet), sehingga mengurangi kemungkinan terperangkapnya hewan ke dalam tumpahan minyak. Dispersan kimiawi adalah bahan kimia dengan zat aktif yang disebut surfaktan. Washing oil yaitu kegiatan membersihkan minyak dari pantai.

c). Peralatan Alat-alat yang digunakan untuk membersihkan tumpahan minyak: Booms merupakan alat untuk menghambat perluasan hambatan minyak. Skimmers yaitu kapal yang mengangkat minyak dari permukaan air. Sorbent merupakan spons besar yang digunakan untuk menyerap minyak. Vacuums yang khusus untuk mengangkat minyak berlumpur dari pantai atau permukaan laut. Sekop yang khusus digunakan untuk memindahkan pasir dan kerikil dari minyak di pantai.

2). Pengeboran Di Darat Pencemaran tanah oleh kegiatan pengeboran minyak bumi di darat telah menimbulkan pencemaran lingkungan. Tanah yang terkontaminasi minyak bumi dapat merusak lingkungan serta menurunkan estetika.

Berbagai kasus pencemaran limbah berbahaya dan beracun (B3) dari kegiatan penambangan minyak bumi yang terjadi di Indonesia memerlukan perhatian yang lebih serius. Kasus pencemaran seperti yang terjadi di Tarakan (Kalimantan Timur), Riau, Sorong (Papua), Indramayu serta terakhir kasus pencemaran di Bojonegoro (Jawa Timur) seharusnya menjadi catatan penting bagi para pengelola penambangan minyak akan pentingnya pengelolaan pencemaran minyak di Indonesia.Eksplorasi dan eksploitasi produksi minyak bumi melibatkan juga aspek kegiatan yang beresiko menumpahkan minyak antara lain : Distribusi/pengangkutan minyak bumi dengan menggunakan moda transportasi air, transportasi darat, marine terminal/pelabuhan khusus minyak bumi, perpipaan dan eksplorasi dan eksploitasi migas lepas pantai (floating production storage offloading, floading storage offloading) (Pertamina, 2005). Setiap tahun kebutuhan minyak bumi terus mengalami peningkatan seiring dengan tingginya kebutuhan energi sebagai akibat kemajuan teknologi dan kebutuhan hidup manusia, sehingga potensi pencemaran oleh minyak bumi juga meningkat. Tumpahan minyak dan kebocoran pipa dalam jumlah tertentu dengan luas dan kondisi tertentu, apabila tidak dikendalikan atau ditanggulangi dengan cepat dan tepat dapat mengakibatkan terjadinya suatu malapetaka pencemaran lingkungan oleh minyak yaitu kualitas lingkungan tersebut turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Pencemaran lingkungan oleh minyak telah menimbulkan masalah serius. Penelitian di Jerman menunjukkan bahwa 0,5 0,75 ton minyak hilang untuk setiap 1000 ton minyak yang dihasilkan. Kehilangan tersebut terjadi selama proses produksi dan pengilangan sebesar 0,1 ton, selama pengangkutan sebanyak 0,1 ton dan kehilangan terbesar 0,4 ton terjadi selama penyimpanan. Kehilangan minyak ini menyebabkan terjadi pencemaran di lingkungan sekitarnya. Tanah yang terkontaminasi minyak tersebut dapat merusak lingkungan serta menurunkan estetika. Lebih dari itu tanah yang terkontaminasi limbah minyak dikategorikan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) sesuai dengan Kep. MenLH 128 Tahun 2003. Oleh karena itu perlu dilakukan pengelolaan dan pengolahan terhadap tanah yang terkontaminasi minyak. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran dan penyerapan minyak kedalam tanah.

a). Penanganan di darat Pemulihan lahan tercemar oleh minyak bumi dapat dilakukan secara biologi dengan menggunakan kapasitas kemampuan mikroorganisme. Fungsi dari

mikroorganisme ini dapat mendegradasi struktur hidrokarbon yang ada dalam tanah, sehingga minyak bumi menjadi mineral-mineral yang lebih sederhana dan tidak membahayakan lingkungan. Teknik seperti ini disebut bioremediasi. Teknik bioremediasi dapat dilaksanakan secara in-situ maupun cara ex-situ. Pada umumnya, teknik bioremediasi in-situ diaplikasikan pada lokasi tercemar ringan, lokasi yang tidak dapat dipindahkan, atau karakteristik kontaminan yang volatil. Bioremediasi ex-situ merupakan teknik bioremediasi di mana lahan atau air yang terkontaminasi diangkat, kemudian diolah dan diproses pada lahan khusus yang disiapkan untuk proses bioremediasi. Penanganan lahan yang tercemar minyak bumi dilakukan dengan cara memanfatkan mikroorganisme untuk menurunkan konsentrasi atau daya racun bahan pencemar. Penanganan semacam ini lebih aman terhadap lingkungan karena agen pendegradasi yang dipergunakan adalah mikroorganisme yang dapat terurai secara alami. Ruang lingkup pelaksanaan proses bioremediasi tanah yang terkontaminasi minyak bumi meliputi beberapa tahap yaitu: Treatibility study merupakan studi pendahuluan terhadap kemampuan jenis mikroorganisme pendegradasi dalam menguraikan minyak bumi yang terdapat di lokasi tanah terkontaminasi. Site characteristic merupakan studi untuk mengetahui kondisi lingkungan awal di lokasi tanah yang terkontaminasi minyak bumi. Kondisi ini meliputi kualitas fisik, kimia, dan biologi. Persiapan proses bioremediasi yang meliputi persiapan alat, bahan, administrasi serta tenaga manusia. Proses bioremediasi yang meliputi serangkaian proses penggalian tanah tercemar, pencampuran dengan tanah segar, penambahan bulking agent, penambahan inert material, penambahan bakteri, nutrisi, dan proses pencampuran semua bahan.

Sampling dan monitoring meliputi pengambilan gambar tanah dan air selama proses bioremediasi. Kemudian, gambar itu dibawa ke laboratorium independen untuk dianalisa konsentrasi TPH dan TCLP.

Revegetasi yaitu pemerataan, penutupan kembali drainase dan perapihan lahan sehingga lahan kembali seperti semula.

PENUTUP

1). Kesimpulan Keberadaan minyak bumi di alam merupakan hasil pelapukan fosil-fosil tumbuhan dan hewan pada zaman purba jutaan tahun silam Pencemaran laut diartikan sebagai masuknya/dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan laut oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan laut tidak sesuai lagi dengan baku mutu atau fungsinya Pencemaran akibat eksplorasi minyak bumi dapat mengakibatkan : 1. Pencemaran minyak bumi di Laut 2. Pencemaran minyak bumi di Darat

2). Saran Sebagai salah satu kebutuhan pokok, minyak bumi semakin banyak diproduksi karena permintaan yang semakin meningkat khusunya di bidang industry, transportasi dll. Eksplorasi minyak bumi secara sembarangan tanpa memperhatikan dan memperdulikan lingkungan dapat membahayakan kesehatan manusia dan mengganggu ekosistem lingkungan baik di darat, laut, maupun udara dan ini merupakan eksternalitas negative bagi kita. Pemerintah harus membuat kebijakan kebijakan untuk menangani pencemaran yang diakibatkan dari eksploitasi barang tambang ini. Pengawasan yang ketat diperlukan agar pihak perusahaan yang mengeksploitasi barang tambang ini menjadi berhati-hati. Adapun menurut penulis yang dapat dilakukan untuk menangani eksternalitas negative dari eksplorasi minyak bumi ini yaitu : pajak yang dibebankan kepada pihak yang menimbulkan polusi, pemberian subsidi, pemberian hak polusi melalui lelang, peraturan untuk mengatasi eksternalitas. Manusia yang bertanggung jawab dan memegang teguh konsep keseimbangan alam, maka sudah sepantasnya kita menjaga dan merawat lingkungan, mulai dari lingkungan tempat tinggal kita sehingga nantinya akan tercipta lingkungan yang sehat.

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Limbah_minyak http://www.indoenergi.com/2012/07/minyak-dan-dampaknya-pada-lingkungan.html http://geologiminyak.blogspot.com/2013/02/eksplorasi-minyak-bumi.html http://amriyogi.blogspot.com/2013/01/proses-terjadinya-minyak-bumi.html http://newerbl.blogspot.com/2013/05/dampak-penggunaan-minyak-bumi.html https://www.google.com/#q=eksternalitas+negatif+dan+lingkungan http://godamaiku.blogspot.com/2013/02/metode-eksplorasi-dan-jenis-sumur.html http://www.hangtuah.ac.id/pdkk/images/stories/2_jurnal%201-pdp.pdf

LAMPIRAN

DAFTAR NAMA KELOMPOK

Kelompok

: III ( Tiga )

Nama Kelompok :
1). Nela Permata Sari Lubis (NIM : 7123341075) 2). S.Ganna Mersada Banurea (NIM : 7123341100) 3). Sarah Humaira Bintang (NIM : 7123341103) 4). Tamara Berliana Simanjuntak (NIM : 7123341114) 5). Yolanda Sinaga (NIM : 7123341127)