Anda di halaman 1dari 10

PENANAMAN MODAL ASING (PMA)

1. 2. 3. 4. 5.

DI SUSUN OLEH : Nela Permata Sari Lubis (7123341075) S.Ganna Mersada Banurea (7123341100) Sarah Humaira Bintang (7123341103) Selvi Alpionika Surbakti (7123341105) Setiawan S.P.L (7123341106) Kelas B Eks Kelompok : 4 (Empat)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

I). Pengertian Penanaman Modal Asing


Pengertian modal asing dalam undang-undang No. 1 Tahun 1967 menurut pasal 2 ialah : a). alat pembayaran luar negeri yang tidak merupakan bagian dari kekayaan devisa

Indonesia, yang dengan persetujuan Pemerintah digunakan untuk pembiayaan perusahaan di Indonesia. b). alat-alat untuk perusahaan termasuk penemuan-penemuan baru milik orang asing dan bahan-bahan, yang dimasukkan dari luar kedalam wilayah Indonesia selama alat-alat tersebut tidak dibiayai dari kekayaan devisa Indonesia. c). bagian dari hasil perusahaan yang berdasarkan Undang-undang ini diperkenankan

ditransfer, tetapi dipergunakan untuk membiayai perusahaan di Indonesia. Penanamam modal asing dapat dilakukan perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, dan atau pemerintah asing yang melakukan penanaman modal di wilayah Negara Republik Indonesia.

II). Metode Dalam Penanaman Modal Asing


Penanaman modal asing dapat dilakukan melalui metode-metode sebagai berikut : 1. Penanaman modal asing secara langsung Merupakan model penanaman asing yang dilakukan dimana pihak asing atau perusahaan asing membeli langsung (tanpa lewat pasar modal) saham perusahaaan nasional atau mendirikan perusahaan baru, baik lewat Badan Koordinasi penanaman modal asing (BKPM) atau lewat departemen lain. 2. Penanaman modal asing secara tidak langsung PMA model ini dilakukan dengan jalan membeli saham-saham perusahaan nasional oleh pihak asing lewat pasar modal (Capital Market) yakni melalui bursa-bursa saham. 3. Penanaman modal asing lewat pemberian pinjaman

PMA model ini dilakukan dengan jalan memberi pinjaman oleh pihak asing kepada perusahaan domestik dalam bentuk offshore loan, bonds, notes, commercialpaper, dan lain-lain 4. Penanaman modal asing kontraktual Dalam hal ini PMA dilakukan dengan hanya mengandalkan ikatan kontraktual, yakni dengan mengadakan kontrak oleh pihak asing dengan perusahaan domestik. Misalnya, kontrak tentang bantuan teknis/manajemen, lisensi, agency, dan lain-lain.

III). Penanaman Modal Asing Ditinjau Dari Segi Hukum


Sebenarnya perkembangan penanaman modal asing di Indonesia telah dimulai sejak Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya. Rancangan Undang-undang penanaman modal asing pertama kali diajukan pada tahun 1952 pada masa kabinet Alisastroamidjojo, tetapi belum sempat diajukan ke parlemen karena jatuhnya kabinet ini. Kemudian pada tahun 1953 rancangan tersebut diajukan kembali tetapi ditolak oleh pemerintah. Secara resmi undang-undang yang mengatur mengenai penanaman modal asing untuk pertama kalinya adalah UU Nomor 78 Tahun 1958, akan tetapi karena pelaksanaan Undangundang ini banyak mengalami hambatan, UU Nomor 78 Tahun 1958 tersebut pada tahun 1960 diperbaharui dengan UU Nomor 15 Tahun 1960 . Pada perkembangan selanjutnya, karena adanya anggapan bahwa penanaman modal asing merupakan penghisapan kepada rakyat serta menghambat jalannya revolusi Indonesia, maka UU Nomor 15 Tahun1960 ini dicabut dengan UU Nomor 16 Tahun 1965 . Sehingga mulai tahun 1965 sampai dengan tahun 1967 terdapat kekosongan hukum (rechts vacuum) dalam bidang penanaman modal asing. Baru pada tahun 1967, pemerintah Indonesia mempunyai undang-undang penanaman modal asing dengan diundangkannya UU Nomor 1 Tahun 1967, yang disahkan oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 10 Januari 1967 dan kemudian mengalami perubahan dan penambahan yang diatur dalam UU Nomor 11 Tahun 1970 .Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1986, Pemerintah mengeluarkan PP Nomor 24 Tahun 1986 yang diikuti dengan

dikeluarkannya SK Ketua BKPM Nomor 12 Tahun 1986 disusul dengan dikeluarkan Keppres Nomor 17 Tahun 1986 . Kemudian pada tahun 1987, Pemerintah merubah Keppres Nomor 17 Tahun 1986 tersebut, diubah dengan Keppres Nomor 50 Tahun 1987 demikian pula Ketua BKPM mencabut SK Ketua BKPM Nomor 12 Tahun 1986 dicabut dan diganti dengan SK Ketua BKPM Nomor 5 Tahun 1987, yang pada prinsipnya sama dengan Keppres Nomor 50 Tahun 1987 yaitu memberikan kelonggaran-kelonggaran terhadap syarat-syarat yang telah ditentukan dalam keputusan sebelumnya. Selanjutnya, Ketua BKPM sebagai pelaksana teknis penanaman modal asing di Indonesia, mengeluarkan Keputusan sebagaiman ternyata dalam Surat Keputusan Ketua BKPM Nomor 09/SK/1989 Perkembangan selanjutnya dapat dilihat dengan dikeluarkannya PP Nomor 17 Tahun 1992 yang antara lain mengatur mengenai penanaman modal asing di kawasan Indonesia Bagian Timur. Perkembangan terakhir dalam bidang penanaman modal ini adalah dengan dikeluarkannya PP Nomor 24 Tahun 1994 . PP Nomor 20 Tahun 1994 ini memberikan kemungkinan bagi investor asing untuk memiliki 100% saham dari perusahaan asing serta membuka peluang untuk berusaha pada bidang-bidang yang sebelumnya tertutup sebagaimana diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1967. Perkembangan penanaman modal asing yang lain adalah mengenai Daftar Negatif Investasi (untuk selanjutnya disebut DNI), dahulu disebut Daftar skala Prioritas (DSP) pemerintah telah melakukan perubahan dan menyederhanakan dengan mengatur bidang-bidang usaha yang tertutup bagi penanaman modal dalam rangka penanaman modal asing. DNI berlaku selama 3 (tiga) tahun dan setiap tahun dilakukan peninjauan untuk disesuaikan dengan perkembangan. Pada tahun 1998, DNI ini diatur dalam Keppres Nomor 96 Tahun 1998 dan Keppres Nomor 99 Tahun 1998 . Kedua peraturan tersebut diubah dengan Keppres Nomor 96 Tahun 2000 . Keppres Nomor 96 Tahun 2000 ini terakhir diubah dengan Keppres Nomor 118 Tahun 2000 .

Upaya pemerintah untuk menarik investor, agar menanamkan modalnya di Indonesia, bahkan melipatgandakan tingkat penanaman modal dari tahun ke tahun salah satu langkah yang ditempuh adalah dengan memberi kelonggaran dan kemudahan bagi para investor Peraturan perundang-undangan di bidang penanaman modal asing selama kurun waktu terakhir ini belum mampu mencerminkan aspek kepastian hukum. Hal ini disebabkan munculnya peraturan yang cenderung memberatkan para investor. Ketidakpastian hukum dan politik dalam negeri merupakan bagian dari masalah-masalah yang menyebabkan ikilm penanaman modal tidak kondusif. Iklim yang kondusif tentu akan sangat mempengaruhi tingkat penanaman modal di Indonesia. Selain itu juga ketentuan hukum dan peraturan mengenai penanaman modal asing yang harus tetap disesuaikan dengan perkembangan di era globalisasi dan tidak adanya perlakuan diskriminasi dari negara penerima terhadap modal asing (equal treatment). Sehingga partisipasi masyarakat dan aparatur hukum sangat diperlukan dalam menarik investor yaitu dengan cara menciptakan iklim yang kondusif untuk menanamkan modalnya.

IV). Proses Pendirian Perseroan Terbatas PMA


Secara umum syarat-syarat yang diperlukan adalah hampir sama dengan pendirian perseroan terbatas bukan PMA (PT umum). Bedanya hanya terletak pada status kewarga negaraan salah satu pemegang saham perseroan. Namun sebelum dibuatkan akta pendiriannya terlebih dahulu harus mengajukan permohonan ijin pendirian kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengenai maksud dan tujuan dari didirikannya perseroan terbatas tersebut. Permohonan ini diajukan oleh para calon pemegang saham disertai dengan data-data lengkap, besarnya modal (dalam US Dollar) serta lingkup usaha yang akan dijalankan. Dalam mendirikan suatu Perseroan Terbatas (PT)disyaratkan bahwa seluruh pemegang sahamnya adalah Warga negara Indonesia . Dalam hal terdapat unsur asing baik sebagian ataupun seluruhnya, maka PT tersebut harus berbentu PT. PMA (Penanaman Modal Asing). Suatu PT biasa yang dalam perkembangannya memasukkan pemodal baru yang berstatus

asing (baik itu perorangan maupun badan hukum) maka PT tersebut harus merubah statusnya menjadi PT. PMA. Adanya surat edaran menteri Kehakiman RI nomor J.A. 5/3/2 tanggal 26 April 1967 tentang penegasan dari Pasal 3 UU Nomor 1 Tahun 1967, bahwa yang dimaksud dalam pasal tersebut yakni perusahaan penanaman modal asing harus berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Terhadap pendirian perusahaan penanaman modal asing yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT) antara lain: 1. Pengesahan Perseroan Terbatas (PT) dapat dimohonkan dengan mempergunakan Prosedur PT biasa yakni menurut peraturan yang berlaku mengenai pendirian PT yang tercantum dalam Pasal 36-56 KUH Dagang Indonesia. 2. Untuk mempermudah prosedur pengesahan, maka sebaiknya dibuat dahulu rancangan akta pendirian untuk disampaikan kepada departemen kehakiman dengan permohonan meninjau rancangan yang diajukan itu. 3. Selain rancangan itu Departemen Kehakiman memerlukan sebagai bahan pertimbangan lainnya: a). Izin penanaman modal asing sesuai dengan Pasal 18 UUPMA b). Surat persetujuan untuk mendirikan Perseroan Terbatas (PT) dari Departemen yang membidangi usaha tersebut serta Biro Lalu Lintas Devisa (BLLD) 4. Rancangan setelah diteliti segera akan dikembaliakan kepada yang bersangkutan dengan saran perbaikan serta pemberitahuan untuk membuat akta pendirian di muka notaris sesuai dengan petunjuk dan notaries dapat mengajukan permohonan pengesahannya kepada Departemen Kehakiman sebagaimana yang biasannya dilakukan oleh notaris. 5. Adapun mengenai isi akta pendirian perlu ditekankan sebagai berikut: a). Nama Perseroan Terbatas (PT) supaya menghubungi terlebih dahulu Departemen Kehakiman apakah ada keberatan mengenai pemakaiannya dan agar akta PT tercakup dalam namanya. b). Pernyataan modal PT dalam suatu nilai mata uang agar disesuaikan dengan tata kerja Biro Lalu Lintas Devisa (BLLD) c). Teks akta pendirian PT supaya ditulis dalam bahasa Indonesia.

Ditetapkan surat edaran dari Menteri Kehakiman yang ditujukan kepada semua notaris di Indonesia agar dalam pelaksanaan pembuatan akta pendirian PT khususnya

perusahaan Penanaman Modal Asing dapat memperhatikan arahan tersebut begitu pula halnya dengan calon penanaman modal asing.Perseroan terbatas barulah dapat didirikan setelah melalui prosedur permohonan izin penanaman modal asing dengan persetujuan pelaksanaan penanaman modalnya di Indonesia lewat keputusan Presiden. Modal asing dalam pendirian PT ada dua kemungkinan sumbernya, yaitu: a). Penanaman modal asing secara penguasaan penuh atas semua modal yang ditanamkan. b). Penanaman modal asing atas dasar kerja sama patungan Joint Venture dengan modal yang terbagi. Dengan demikian dapat dilihat bahwa pendirian perusahaan yang menggunakan badan hukum Indonesia dan berbentu PT serta berkedudukan dlam wilyah Indonesia merupakan syarat yang harus dipenuhi oleh penanaman modal khususnya penanaman modal asing bilamana ingin menanamkan modalnya di Indonesia.

V).

Teori Yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing

Adapun teori yang dikemukakan oleh para ahli untuk menganalisis factor factor yang memepengaruhi penanaman modal asing : 1. Alan. M. Rugman (1981) Menyatakan bahwa penanaman modal asing dipengaruhi oleh variable lingkungan dan variable internalisasi. Variable lingkungan sering kali disebut keunggulan spesifik negara atau factor spesifik. Sedangkan variable internalisasi atau keunggulan spesifik perusahaan merupakan keunggulan internal yang dimiliki perusahaan multinasional. 2. Vernon (1966) Menjelaskan penanaman modal asing dengan model yang disebut model siklus produk. Dalam model ini introduksi dan pengembangan produk baru di pasar melalui tiga tahap.

3. John Dunning (1977) Menjelaskan factor-faktor yang mempengaruhi penanaman modal asing melalui teori ancang ekletis.teori eksletis menetapkan suatu set yang terdiri dari tiga persyaratan yang dibutuhkan bila suatu perusahaan akan berkecimpung dalam penanaman modal asing, yaitu keunggulan spesifik perusahaan, keunggulan internalisasi, keunggulan spesifik negara.

VI). Perusahaan Dapat Dikatakan Perusahaan PMA


Mengacu pada ketentuan yang terdapat dalam UU Penanaman Modal No. 25 Tahun 2007, maka yang disebut sebagai Penanaman Modal Asing, harus memenuhi beberapa unsur berikut : a). Merupakan kegiatan menanam modal b). Untuk melakukan usaha di wilayah negara Republik Indonesia c). Dilakukan oleh penanam modal asing, d). Menggunakan modal asing sepenuhnya maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri. Adapun bentuk penanaman modal ini dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya : a). Mengambil bagian saham pada saat pendirian Perseroan Terbatas; b). Membeli saham; dan c). Melakukan cara lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Berdasarkan pengertian ini, maka dapat disimpulkan bahwa setiap Perusahaan yang didalamnya terdapat Modal Asing, tanpa melihat batasan jumlah modal tersebut dapat dikategorikan sebagai PMA Bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara penguasaan penuh ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup rakyat banyak menurut pasal 6 UPMA adalah sebagai berikut : a). pelabuhan-pelabuhan b). produksi,transmisi dan distribusi tenaga listrik untuk umum c). telekomunikasi

d). pelayaran e). penerbangan f). air minum g). kereta api umum h). pembangkit tenaga atom i). mass media.

VII).

Dampak Penanaman Modal Asing

Dampak Positif : a). Masuknya modal baru untuk pembangunan b). Menambah devisa negara c). Berdirinya perusahaan-perusahaan baru sehingga adanya pemasukan bagi negara berupa pajak penghasilan d). Penyerapan tenaga kerja e). Berpengalaman di bidang teknologi f). Manajemen yang baik g). Berpengalaman dalam perdagangan internasional (ekspor-impor) h). Menciptakan permintaan produk dalam negeri sebagai bahan baku i). Permintaan terhadap Fluktuasi bunga bank dan valas j). Memberikan perlindungan politik dan keamanan wilayah Dampak Negatif a). Perusahaan asing yang dikelola oleh pihak asing, maka kebijakan manajemennya sesuai dengan operasional perusahaan asing b). Manajemen keuangan perusahaan asing bersifat tertutup, sehingga perusahaan tidak dapat diketahui sehat atau tidak c). SDA yang dikelola asing dengan hak dan kewajiban sebagaimana diatur undang-undang, sering menimbulkan dampak lingkungan dan sosial dimana perusahaan baru tersebut akan didirikan

d). Bagi hasil (Product Sharing) tidak sebanding dengan kerusakan yang timbul dan harus ditanggung oleh pemerintah atau masyarakat itu sendiri. e). Perusahaan asing mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dan keuntungannya dibawa ke negaranya f). Diskriminasi pendapatan antara pegawai asing dan pegawai lokal g). Manajemen produksi sulit untuk diawasi terutama dalam perkembangannya h). Perusahaan asing akan menguasai pasar lokal, sehingga dikhawatirkan produk dalam negeri tidak mampu bersaing dengan produk asing dan kehilangan pasar lokal i). Banyaknya perusahaan asing melakukan merger, akuisisi terhadap perusahaan lokal bahkan isunya saham BUMN telah dijual ke perusahaan asing sehingga dapat menimbulkan monopoli harga