Anda di halaman 1dari 0

TINJAUAN HUKUM ATAS TANGGUNG JAWAB

YAYASAN PENGELOLA TANAH PEMAKAMAN


DALAM PEMBAYARAN PAJAK DI KABUPATEN
DELI SERDANG BERDASARKAN PERDA
NOMOR 26 TAHUN 2000



TESIS




Oleh

TIMBUL KUSNADI
067011130/MKn















FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Timbul Kusnadi : Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pemakaman Dalam
Pembayaran Pajak Di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun 2000
2
TINJAUAN HUKUM ATAS TANGGUNG JAWAB
YAYASAN PENGELOLA TANAH PEMAKAMAN
DALAM PEMBAYARAN PAJAK DI KABUPATEN
DELI SERDANG BERDASARKAN PERDA
NOMOR 26 TAHUN 2000



TESIS



Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar
Magister Kenotariatan dalam Program Studi Kenotariatan
pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara



Oleh

TIMBUL KUSNADI
067011130/MKn








SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009

3
Judul Tesis : TINJAUAN HUKUM ATAS TANGGUNG JAWAB
YAYASAN PENGELOLA TANAH PEMAKAMAN
DALAM PEMBAYARAN PAJAK DI KABUPATEN
DELI SERDANG BERDASARKAN PERDA NOMOR 26
TAHUN 2000
Nama Mahasiswa : Timbul Kusnadi
Nomor Pokok : 067011130
Program Studi : Kenotariatan


Menyetujui
Komisi Pembimbing




(Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum)
Ketua





(Dr. Pendastaren Tarigan, S.H., M.S)
Anggota
(Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., C.N., M.Hum)
Anggota





Ketua Program Studi





Dekan,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H.,M.S.,C.N) (Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus: 15 Oktober 2009

4
Telah diuji pada

Tanggal: 15 Oktober 2009




























PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Dr. Budiman Ginting, S.H., M.Hum.
Anggota : 1. Dr. Pendastaren Tarigan, S.H., M.S.
2. Dr. T. Keizerina Devi Azwar, S.H., C.N., M.Hum.
3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N.
4. Notaris/PPAT Syafnil Gani, S.H., M.Hum.

5
ABSTRAK
Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan dikeluarkan pemerintah Deli Serdang, berlaku
mulai 2003. Sejak itu pajak kuburan berlaku bagi semua kawasan kuburan di Deli
Serdang, termasuk kuburan Tionghoa yang dikelola 12 yayasan pada tahun 2007.
Sementara itu, pada Undang-Undang Nomor 34 tahun 2000 tentang Perubahan atas
Undang-Undang No 18 tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah dan
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang tentang Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan tidak diatur tentang pajak
kuburan mewah.
Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, yaitu penelitian yang bertujuan untuk
memperoleh gambaran yang menyeluruh, lengkap dan sistematis mengenai Tanggung
J awab Yayasan pengelola tanah pemakaman dalam melakukan pembayaran pajak
tanah pemakaman berdasarkan Peraturan Daerah di Kabupaten Deli Serdang. Bersifat
analisis karena gejala dan fakta yang dinyatakan oleh responden kemudian akan
dianalisa terhadap berbagai aspek hukum baik dan segi hukum pertanahan nasional
maupun hukum politik dan hukum administrasi Negara serta hukum pajak.
Pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan yuridis empiris yaitu suatu penelitian
yang meneliti peraturan-peraturan hukum yang kemudian dihubungkan dengan data
dan perilaku masyarakat dan pejabat pemerintah di daerah Kabupaten Deli Serdang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembayaran pajak luas dan kemewahan
penghiasan kuburan berdasarkan Perda Nomor 26 tahun 2000 tidak dapat
dilaksanakan oleh 12 yayasan pengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang,
namun 12 yayasan pengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang merasa
mempunyai rasa tanggung jawab dalam upaya pembayaran pajak sebagai sumber
pendapatan asli daerah Kabupaten Deli Serdang. Oleh karena itu, 12 yayasan
pengelola tanah pekuburan dan pemerintah Kabupaten Deli Serdang melakukan
kesepakatan dengan pembayaran pajak luas dan kemewahan serta pengiasan kuburan
di Kabupaten Deli Serdang ditetapkan sebesar Rp. 150.300.000,- (seratus lima puluh
juta tiga ratus ribu rupiah) setiap tahun yang menjadi tanggung jawab 12 yayasan
pengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan yang menjadi
kendala di dalam pembayaran pajak luas dan kemewahan serta penghiasan pekuburan
di Kabupaten Deli Serdang adalah sulitnya bagi yayasan untuk menghubungi ahli
waris di dalam pengutipan pajak.
Kata Kunci : Yayasan; Pajak Kuburan.

6
ABSTRACT
The Local Regulations No.26 of 2000 regarding the luxurious funeral taxes as
issued by Deli Serdang Authority commenced since 2003, since that year the grave
tax shall be effective to all funeral plot throughout Deli Serdang area, including
Chinese grave as controlled by at least 12 foundations in 2007. The Regulations
No.34 of 2000 regarding amendment upon the Regulations No.18 of 1997 regarding
Local Taxes and Local Revenue and the Regulations No. 16 of 2000 regarding a
secondly amendment upon the Regulations regarding a general rules of the
imposition for taxes is not ruled about a tax on luxurious funeral.
This study adopted an analytical descriptive method which research aims to
obtain a comprehensive and detail description and systematic about the responsibility
of the management to the funeral in their willingness to pay the tax of the funeral
itself according to local regulations, still with analytical sense for the indication and
the reality as expressed by those respondents as later to be analyzed upon variously
legal aspect either its law side of national land or political law and state
administration law and tax law, in completing this study was with a empirical
juridical approaching namely a study to research the regulations rule as later once to
connect it with the data and people behavior and public official on Deli Serdang
District.
The result of research shown that payment the tax on its width and luxurious
with decoration to the funeral based on the regulations No.26 of 200 is unallowable
by those 12 foundations as the management of the funeral plot, but to the 12
foundations perhaps feel has own responsibility in effort to pay the taxes as the
source revenue for the local district. Therefore, all the 12 foundations as the
management and local authority should make agreement with the board for the
foundation in paying the taxes upon the funeral and decoration over the funeral is
already made with a Rp.150,300,000 charged annually, to be paid by the 12
foundation management of the funeral. It is noted that found barriers mainly in pay
the tax upon the width and the luxurious on the decoration on Deli Serdang District
such as difficulties for the foundations to contact all the heir while collecting the tax.

Keywords: Foundation, Funeral Tax

7
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang
Kuasa, karena berkat dan hidayah-Nya, maka tesis ini telah dapat diselesaikan dengan
judul; Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pemakaman
Dalam Pembayaran Pajak Di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Perda Nomor 26
tahun 2000.
Penulisan tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam
menyelesaikan Program Studi Magister Kenotariatan pada Program Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan tesis ini telah banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak. Terima kasih yang mendalam dan tulus saya ucapkan secara khusus kepada
yang terhormat dan amat terpelajar Bapak Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum
selaku Ketua Komisi Pembimbing serta Bapak Dr. Pendastaren Tanigan, SH, MS.
dan Ibu Dr. T. Keizerina Devi Azwar, SH, CN, M.Hum selaku anggota Komisi
Pembimbing, dan juga kepada Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, S.H., M.S., C.N
dan Notaris/PPAT Syafnil Gani, S.H., M.Hum selaku Dosen Penguji, yang masing-
masing telah memberikan pengarahan, nasehat serta bimbingan kepada saya, dalam
penulisan tesis ini.
Selanjutnya ucapan terima kasih yang tidak terhingga disampaikan kepada:
1. Bapak Prof. Chairudin P. Lubis, DTM&H., Sp.A (K), selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan Program Magister Kenotariatan pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

8
2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MHum Selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH., MS., CN., dan Ibu Dr. T. Keizerina
Devi Azwar, SH., CN., M.Hum., selaku Ketua dan Sekretaris Program Studi
Magister Kenotariatan (M.Kn.) Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak-bapak dan Ibu-ibu Guru Besar dan Staf Pengajar diantaranya Bapak
Prof. Dr. M. Solly Lubis, SH., Prof. Dr. Tan Kamello, Prof. Dr. Syafruddin Kalo,
SH., M.Hum., Ibu Hj. Chairani Bustami, SH., M.Kn dan lain-lain yang telah
banyak membimbing penulis mulai saat studi sampai dengan penyelesaian
tesis ini
5. Para pada Program Studi Magister Kenotariatan, Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara diantaranya Ibu Fatimah, SH., Mbak Sari, Mbak Lisa, Mbak
Afni, Mas Adi, Mas Rizal dan lain-lain yang telah banyask membantu dalam
penulisan ini dari awal hingga selesai.
6. Rekan-rekan serta teman-temanku tercinta pada Program Magister Kenotariatan
di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang selalu memberikan
semangat, memberikan dorongan, bantuan pikiran serta mengingatkan di kala
lupa kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan tesis ini dalam rangka untuk
menyelesaikan studi.
Secara khusus, penulis menghaturkan sembah dan sujud dan ucapan terima
kasih yang tak terhingga kepada yang tercinta Ayahanda almarhum Suyanto dan
Ibunda almarhumah Aw Siu Lien yang telah bersusah payah melahirkan,
membesarkan dengan penuh pengorbanan, kesabaran, ketulusan dan kasih sayang,

9
serta memberikan doa restu, dan juga adik-adikku yang telah memotivasi sehingga
penulis dapat melanjutkan dan menyelesaikan pendidikan di Program Studi Magister
Kenotariatan, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Penulis berharap semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberikan
kepada penulis, mendapa rahmat dari Tuhan Yang Maha Kuasa, agar selalu
dilimpahkan kebaikan, keseahatan, kesejahteraan dan rejeki yang melimpah kepada
kita semua.
Akhirnya penulis berharap semoga tesis ini dapat memberikan manfaat
kepada semua pihak, terutama kepada penulis dan kalangan yang mengembangkan
ilmu hukum, khususnya dalam bidang ilmu kenotariatan.

Medan, Oktober 2009
Penulis,


Timbul Kusnadi

10
RIWAYAT HIDUP


I. Identitas Pribadi
Nama : Timbul Kusnadi
Tempat/ Tgl. Lahir : Lubuk Pakam, 10 J uli 1978
J enis Kelamin : Laki-laki

II. Orang Tua
Nama Ayah : Suyanto (Alm).
Ibu : Aw Siu Lien (Almh).

III. Pekerjaan
Anggota DPRD Kabupaten Serdang Bedagai
IV. Pendidikan
1. SD Methodist Lubuk Pakam
2. SMP Methodist Lubuk Pakam
3. SMA Methodist Lubuk Pakam
4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Dharmawangsa Medan
5. S-2 Magister Kenotariatan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera
Utara

Medan, Oktober 2009



Timbul Kusnadi

11
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK.................................................................................................... i
ABSTRACT................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................. iii
RIWAYAT HIDUP...................................................................................... vi
DAFTAR ISI................................................................................................. vii
DAFTAR TABEL ........................................................................................ ix
BAB I. PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang....................................................................... 1
B. Perumusan Masalah .............................................................. 11
C. Tujuan Penelitian ................................................................... 11
D. Manfaat Penelitian ................................................................. 12
E. Keaslian Penelitian ................................................................ 13
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi .............................................. 14
1. Kerangka Teori ............................................................... 14
2. Konsepsi .......................................................................... 19
G. Metode Penelitian .................................................................. 25
BAB II. TANGGUNG JAWAB YAYASAN PENGELOLA TANAH
PEKUBURAN DALAM PEMBAYARAN PAJAK
BERDASARKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 26
TAHUN 2000 TENTANG PAJAK LUAS DAN
KEMEWAHAN / PENGHIASAN KUBURAN DI
KABUPATEN DELI SERDANG............................................. 29

12
A. Pengaturan Hukum Yayasan di Indonesia ............................ 29
B. Eksistensi Yayasan Sebagai Badan Hukum Sosial ............... 38
C. Pengaturan Pembayaran Kewajiban Pajak di Indonesia ....... 44
D. Problemtica Pelaksanaan dan Tanggung J awab Yayasan
Pengelola Tanah Pekuburan Dalam Pembayaran Pajak
Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun 2000 di Kabupaten
Deli Serdang .......................................................................... 63
BAB III. KENDALA YAYASAN PENGELOLA TANAH
PEKUBURAN DALAM PEMBAYARAN PAJAK DI
KABUPATEN DELI SERDANG ............................................ 69
A. Problemtica Yayasan Antara Badan Sosial dan Komersil .. 69
B. Yayasan Sebagai Subjek Pajak.............................................. 72
C. Kendala Yayasan Pengelola Tanah Pekuburan Dalam
Pembayaran Pajak di Kabupaten Deli Serdang ..................... 74
BAB IV. UPAYA YANG DILAKUKAN YAYASAN PENGELOLA
TANAH PEKUBURAN DALAM MEMBAYAR PAJAK
BERDASARKAN PERDA NOMOR 26 TAHUN 2000 DI
KABUPATEN DELI SERDANG ............................................ 81
A. Sekilas Tentang Kabupaten Deli Serdang ............................ 81
B. Pengenaan dan Penetapan Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan di Indonesia......................................... 85
C. Kesepakatan Pembayaran Pajak Kuburan Antara Yayasan
Pengelola Tanah Kuburan Dengan Pemerintah Kabupaten
Deli Serdang ......................................................................... 90
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................. 99
A. Kesimpulan ........................................................................... 99
B. Saran ..................................................................................... 100
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 101

13
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
1. Tentang Kesepakatan Yayasan Untuk Pembayaran Pajak Luas
dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan Tahun Anggaran 2003..... 96
2. Tentang Hasil Keputusan Rapat Tanggal 29 J uli 2005 Tempat
Aula Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang ............ 97

14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dewasa ini tanah pekuburan di kota-kota besar di Indonesia, seperti di
J akarta, Medan dan kota-kota besar lainnya, serta persoalan areal pekuburan ini sudah
merembes ke kota-kota lainnya di Indonesia, sehingga tanah merupakan sesuatu yang
sangat mahal sehingga sulit didapatkan secara layak oleh masyarakat miskin,
1

misalnya yang dialami masyarakat Tionghoa di Daerah Kabupaten Deli Serdang.
Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang mempunyai Peraturan Daerah
Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan,
yang mulai berlaku sejak tahun 2003 bagi semua kawasan kuburan di Deli Serdang,
termasuk kuburan Tionghoa yang dikelola 12 yayasan di daerah tersebut.
Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang itu mengatur pajak atas
kemewahan kuburan senilai Rp. 100.000,- (seratus ribu) sampai dengan
Rp. 4.000.000,- (empat juta) tergantung luas kuburan. Pajak itu harus dibayarkan tiap
tahun, bahkan kini dengan harapan dapat menambah pemasukan, Pemerintah
Kabupaten Deli Serdang berencana merevisi peraturan itu dan menaikkan pungutan
pajak pekuburan tersebut.
Rencana revisi peraturan daerah ini menuai protes, khususnya bagi
masyarakat Tionghoa, sebagaimana yang dikemukakan Yogi Lingga:

1
Yani Kurniawi, Mahalnya Mati di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 66.

15
Bagi mereka (masyarakat Tionghoa), membuat kuburan bagus bagi keluarga
yang meninggal adalah bentuk bakti mereka kepada leluhur. Sehingga jika
Peraturan Daerah soal pajak kuburan ini direvisi, mereka akan mengeluarkan
biaya yang lebih banyak lagi. Apalagi juga bukan rahasia bahwa selain biaya
yang tertulis, ada banyak biaya siluman yang harus mereka bayar, agar
kuburan keluarga tetap terawat. Karenanya masyarakat keturunan Tionghoa di
Deli Serdang sejak awal Pebruari kemudian berusaha melobi atau melakukan
pendekatan kepada DPRD Kabupaten Deli Serdang sampai Depatemen Dalam
Negeri agar Peraturan Daerah itu tidak hanya gagal direvisi tapi juga dicabut.
Selain jumlahnya yang besar, aturan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang juga
memaksa dan bahkan dengan ancaman sanksi. Bagi mereka yang menolak
membayar, Pemerintah Daerah bisa melakukan penyitaan atau bahkan pidana
dengan sanksi maksimun dua tahun kurungan kepada ahli waris. Yang lebih
menyebalkan, pembayaran uang pajak pekuburan itu tidak termasuk biaya
perawatan pekuburan.
2

Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 tahun
2000, Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang sudah mengutip pajak kuburan
Rp. 2,8 juta per tahun untuk kuburan berukuran 4 meter x 16 meter. Padahal, kuburan
itu berdiri di atas tanah milik sendiri yang setiap tahun dibayar Pajak Bumi Dan
Bangunan (PBB). Di mana tanah itu dibeli dari yayasan, dan yayasan pula yang
membayar Pajak Bumi Bangunan dan pajak kemewahan kuburan itu,
3

Perubahan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000
menurut Abdul Latif Khan selaku Wakil Sekretaris Panitia Khusus Peraturan Daerah
Kuburan Mewah DPRD Deli Serdang:
Bahwa dalam Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) perubahan itu, nilai
pajak untuk kuburan mewah memang akan disesuaikan. Namun berapa
penyesuaiannya, masih dalam pembahasan. Sekarang kami sedang membahas
kedudukan Ranperda itu. Peraturan Daerah kuburan mewah tidak berbicara

2
Yogi Lingga, Perda Pajak Di Deli Serdang Menuai Protes, Harian Analisa, Edisi Hari
Rabu, Tanggal 23 September 2005, hal. 3.
3
Karya Elly, Pejabat Sementara Ketua Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa, Harian
Analisa, Hari Rabu, tanggal 30 September 2005, hal. 3.

16
apa pun dari sisi teks terhadap etnis tertentu, siapa saja mestinya bisa menjadi
objek Peraturan Daerah ini. Sebelum disahkan, mestinya perlu dikonsultasikan
ke Departemen Dalam Negeri.
4

Perwakilan Warga Tionghoa berencana melakukan uji publik, bahkan
mengajukan peninjauan kembali jika Rancangan Perda itu disahkan DPRD dan
Bupati Deli Serdang. Peraturan Daerah ini dari sisi hukum sangat lemah. Sebab,
dalam aturan yang lebih tinggi tidak aturannya memungut pajak dari tempat
pemakaman mewah.
Tim Pencari Keadilan Perda Kuburan menuntut agar Pemerintah Kabupaten
Deli Serdang tidak lagi memberlakukan Peraturan Daerah itu, apalagi merevisinya
dengan tarif pajak baru, karena dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah dan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 tentang Perubahan
Kedua atas Undang-Undang tentang Ketentuan Umum Tata Cara Perpajakan tidak
diatur tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan.
Pembahasan Rencana revisi Peraturan Daerah pajak untuk kuburan mewah itu
belum bersifat final, masih dimungkinkan membuat Peraturan Daerah sejauh tidak
melanggar Undang-Undang. Tanah lokasi pekuburan atau kuburan di Deli Serdang,
Sumatera Utara, dikenai pajak tahunan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan, Pemerintah Kabupaten Deli Serdang sudah mengutip pajak kuburan Rp. 2,8
juta per tahun untuk kuburan berukuran 4 meter x 16 meter.

4
Abdul Latif Khan, Wakil Sekretaris Panitia Khusus Peraturan Daerah Kuburan Mewan
DPRD Deli Serdang, Harian Analisa, Hari Rabu Tanggal 30 September 2005, hal. 3.

17
Yayasan Pengelola Pekuburan Tionghoa menolak pemberlakuan pajak atas
kuburan mewah di Kabupaten Deli Serdang yang diatur dalam Peraturan Daerah
Nomor 26 Tahun 2000 yang sedang dalam pembahasan revisi oleh Eksekutif dan
DPRD Kabupaten Deli Serdang. Sehingga apapun hasil pembahasan rencana
perubahan peraturan daerah itu, akan tetap ditolak. Alasan penolakan itu sudah jelas,
bahwa itu tidak mempunyai dasar hukum yang kuat. Tidak ada aturannya pajak
diberlakukan pada tempat makam mewah.
5

Selama ini Yayasan Angsa Pura mengordinasikan 12 yayasan pengelola
kuburan Tionghoa untuk mengurus pungutan pajak ke Pemerintah Kabupaten Deli
Serdang. Dalam pelaksanaannya, Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor
26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu hanya
diperuntukkan bagi warga Tionghoa. Sementara tempat makam etnis lain yang juga
menempati tanah luas, bangunannya tinggi dan mewah, tidak dikenai pajak.
6
Oleh
karena itu itu, yayasan menolak membayar sehingga beban pajak ditanggung oleh
ahli waris. Padahal ahli waris keluarga Tionghoa yang mempunyai makam berasal
dari strata sosial yang berbeda kesanggupannya untuk membayar pajak sesuai
ketentuan Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2003 tersebut.
Walaupun adanya berbagai protes atau keberatan masyarakat Tionghoa atas
pajak pekuburan menurut Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2000 yang kini sedang
dalam pembahasan revisi di DPRD tetap akan dilanjutkan, sebagaimana yang

5
Tarman Hartono, Sekretaris Umum Yayasan Sosial Angsa Pura, pada Siaran Pers Yayasan
Sosial Angsa Pura dalam hal Peraturan Daerah Kuburan di Deli Serdang, Minggu 25 Februari 2005,
hal. 1.
6
Ibid., hal. 1.

18
dikemukakan Abdul Latif selaku Wakil Sekretaris Pansus DPRD Kabupaten Deli
Serdang, bahwa pihak eksekutif tetap menginginkan Peraturan Daerah ini berlaku
meskipun nantinya ada perubahan dalam pasal-pasalnya, bisa jadi setelah
mendapatkan masukan dari masyarakat, nama dan sejumlah pasal di dalamnya akan
berubah secara revolusioner.
7

Pembahasan revisi atas Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26
Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu,
mengakibatkan warga Tionghoa membentuk Tim Pencari Keadilan Perda Kuburan
yang sudah menyiapkan langkah hukum jika Peraturan Daerah itu tidak dibatalkan,
bahkan langkah hukum sampai ke Mahkamah Agung. J ika memang latar belakang
diterbitkannya pajak kuburan tersebut adalah untuk Pendapatan Asli Daerah, maka
seharusnya Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dapat mencari sumber dari banyak
sektor, termasuk industri. Mengapa harus mencari dari kuburan yang tidak ada
aturannya.
8

Langkah yang hendak dilakukan Tim Pencari Keadilan Kuburan Tionghoa
adalah menyurati Mahkamah Agung agar melakukan Judicial Review atas Peraturan
Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan tersebut, dan juga menyurati Menteri Dalam
Negeri agar membatalkan peraturan itu. Selain itu Tim Pencari Keadilan Kuburan
Tionghoa juga melaporkan ke Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Upaya hukum
ini terpaksa ditempuh karena warga Tionghoa menganggap peraturan tentang

7
Abdul Latif Khan, Op. Cit., hal. 3.
8
Karya Elly, Op. Cit., hal. 3

19
kuburan merupakan perlakuan diskriminasi kepada warga Tionghoa, karena warga
diluar suku Tionghoa tidak dipungut pajak kuburan.
9

Demikian juga, Yayasan Marga Ong keberatan terhadap pemungutan pajak
itu. Di mana pada saat ini terdapat puluhan kuburan di Yayasan Marga Ong. Ukuran
pekuburan itu bervariasi yaitu lebar 4 meter x 5 meter, atau lebar 6 meter x 6 meter
dan lebar 8 meter x 12 meter. Di areal yang luas sedikitnya dua hektare itu terdapat
juga tempat penyimpanan abu kremasi. Semua kuburan dan Pajak Bumi dan
Bangunan dikenakan pajak. Dengan adanya Peraturan Daerah Daerah Kabupaten
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan, pihak keluarga yang anggota keluarganya dikuburkan di sini wajib
membayar pajak.
Pasal 1 huruf f Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan menyebutkan pajak
yang dimaksud Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan adalah pungutan
daerah setiap kuburan yang melebihi panjang 2 meter x lebar 1,75 meter. Selanjutnya
dalam Pasal 1 huruf g disebutkan Pajak atas bangunan diatas kuburan yang melebihi
ukuran panjang 2 meter, lebar 1,75 meter dan tinggi 0,50 meter.
Peraturan Daerah itu dimaksudkan untuk membatasi pemakaian lahan yang
tidak produktif. Kuburan yang dikenakan pajak yaitu kuburan yang melebihi ukuran
yang diatur dalam Peraturan Daerah yaitu panjang 2 meter, lebar 1,75 meter dan
tinggi 0,50 meter. Kalau lebih dari itu dikenakan pajak karena dianggap kemewahan.

9
Ibid., hal. 3.

20
Ini membatasi agar areal yang produktif jangan dijadikan kuburan sehingga tidak
produktif lagi.
10

Berbagai pro dan kontra diberlakukan peraturan daerah atas pungutan pajak
kuburan di Deli Serdang, yang di satu sisi sebagaimana dikemukakan di atas adalah
demi membatasi agar areal yang produktif jangan dijadikan kuburan sehingga tidak
produktif lagi. Namun di sini lain juga harus diperhatikan nilai religi dari suatu
pekuburan itu bagi etnis tertentu, sebagaimana pandangan Agustrisno, Staf Pengajar
Departemen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara yang
menyatakan:
Untuk membuat standarisasi istilah luas dan kemewahan pada sebuah kuburan
dan sekaligus menghindari konflik diperlukan suatu resolusi seperti dialog.
Pandangan masyarakat Tionghoa memelihara kuburan orang mati dengan
harapan yang dimakamkan itu tidak mengalami kesengsaraan di dalam
kuburan. Kuburan penuh dengan gaya arsitektur sesuai dengan feng sui dan
hong sui. Pada hari Cheng Beng, warga Tionghoa berkumpul di kuburan
orang tuaya untuk membersihakn, memelihara dan menghormati arwah orang
tua mereka. Ada juga yang berpendapat bahwa pemeliharaan kuburan
merupakan ungkapan terima kasih yang berkaitan dengan hau atau bakti
kepada orang tua. Oleh Karena itu istilah luas atau mewah sebuah kuburan
sebagaimana yang dimaksud pihak yang berwenang pada Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu belum tentu benar bagi masyarakat
Tionghoa. Bagi mereka atau masyarakat Tionghoa bentuk sebuah kuburan
adalah ungkapan atau Ekspresi Metafisis-Religius untuk menunjukkan
kemewahan atau gengsi sosial, tetapi lebih mengarah pada sikap hau atau
bakti kepada keluarga yang sudah mati.
11

Selanjutnya menurut Nur A Fadhil Lubis, Guru Besar Institute Agama Islam
Negeri Sumatera Utara mengatakan:

10
Poltak Tobing, Kepala Bagian atau Kabag Hukum Pemerintah Kabupaten Deli Serdang
Poltak Tobing, Harian Warta Kita, edisi Hari J umat, 16 Maret 2008, hal. 8.
11
AGustrisno, Staf Pengajar Departemen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas
Sumatera Utara, Harian Waspada, Hari Rabu, tanggal 17 Maret 2005, hal. 5.

21
Tanah kuburan umum, dan sebagian kuburan keluarga, berstatus benda wakaf.
Sebagai benda wakaf maka pengaturan tentang pekuburan jenis ini sesuai
dengan wakaf, umumnya. Ini termasuk ketentuan bahwa benda wakaf tidak
dikenakan pajak. Hal inilah sebabnya juga pajak terhadap kuburan tidak
dikenal dalam pemikiran maupun pengamalan hukum Islam. Sedangkan
retribusi terhadap pelayanan tertentu bagi kepentingan kuburan merupakan
bagian dari yang ditentukan melalui jalur musyawarah. Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 tahun 2001 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli Serdang sebaiknya
ditinjau ulang dengan lebih seksama dan dengan mengikutsertakan seluruh
elemen masyarakat serta didasarkan atas asas keadilan, kemaslahatan dan
pemusyawaratan.
12


Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu bertentangan dengan azas
hukum yang berlaku. Pasal 1 huruf f Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang
Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu
bertentangan dengan Pasal 3 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi
Dan Bangunan yang menentukan bahwa objek yang tidak dikenakan Pajak Bumi
Bangunan adalah objek pajak yang digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala
atau yang sejenis dengan itu. Selain itu, Peraturan Daerah tersebut juga bertentangan
dengan Pasal 2 Ayat (4) huruf b Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang
menyebutkan objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten atau
Kota yang bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya
melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten atau Kota yang bersangkutan.
Apakah meninggal dunia dan dikuburkan pada pemakaman umum yang terdapat pada

12
Nur A Fadhil Lubis, Guru Besar Institute Agama Islam Negeri Sumatera Utara, Harian
Waspada, dalam Ibid., hal. 8.

22
daerah Kabupaten atau Kota memang benar hanya penduduk Kabupaten Deli
Serdang. Praktiknya banyaknya orang yang meninggal dunia dikebumikan di luar
domisili tempat ia semula bertempat tinggal.
13

Berbagai protes atas peraturan daerah ataupun revisi peraturan daerah yang
terkait dengan pajak pekuburan di Deli Serdang tersebut akhirnya mendapat
tanggapan dari Komisi A DPRD Kabupaten Deli, yang akan segera mencabut
Peraturan Daerah tersebut, dan akan membahas revisi Peratuan Daerah Kabupaten
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan yang nantinya mengatur kuburan yang sesuai ukuran yang tidak dikenakan
pajak.
14

Sikap desakan mencabut Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor
26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu juga
disampaikan J anwar J uandi, selaku Wakil Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Deli
Serdang, dengan menyatakan:
Peraturan Daerah ini tidak mengacu kepada prinsip-prinsip keadilan. Yang
menyediakan kuburan itu yayasan bukan pemerintah, tapi Pemerintah
Kabupaten Deli Serdang mengutip pajak. Padahal Pemerintah Kabupaten
sendiri sudah mengutip PBB dari pihak yayasan, tapi juga mengutip pajak dari
keluarga orang mati yang ada di kuburan. Ini namanya mengenakan pajak
pada orang mati. Padahal Undang-Undang kita tak mengenal pajak untuk
orang mati.
15


13
Faisal Akbar, Wakil Ketua Laboratorium Konstitusi Program Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara, Harian Medan Pos, Hari Seni, tanggal 21 Maret 2005, hal. 6.
14
Siswo Adi Suwito, Komisi A DPRD Kabupaten Deli Sedang dari Fraksi Golkar, Harian
Waspada, Hari Senin, tanggal 24 Maret 2005, hal. 3.
15
J anwar Juandi, Wakil Ketua Partai Amanat Nasional (PAN) Deli Serdang, Harian
Waspada, Hari Senin, tanggal 24 Maret 2005, hal. 3.

23
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan turut mengkritisi Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan. LBH menilai, Peraturan Daerah ini telah
menempatkan sosialita kehidupan masyarakat dari kacamata perpajakan, sehingga
jelas bertentangan dengan kemanusiaan. Pemberlakuan Peraturan Daerah Kabupaten
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan sudah cenderung bertentangan dengan norma hukum yang berlaku.
Bukankah membangun kuburan seindah mungkin bagi agama atau beberapa suku di
Indonesia merupakan suatu tanda kehormatan terhadap keluarga atau leluhur yang
meninggal, ini harus dihormati. Bukannya malah dilakukan pemungutan pajak.
16

Namun, demikian dari seluruh pembahasan, Panitia Khusus di DPRD
bersepakat muatan Peraturan Daerah itu tidak perlu dirubah, keputusan yang diambil
semata-mata karena muatan Peraturan Daerah masih dianggap layak dan sesuai
diterapkan hingga kini. Untuk itu, secara hukum hingga saat ini Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan masih berlaku. J adi penolakan tersebut dapat
dikategorikan pelanggaran hukum. Untuk itu Dinas Pendapatan Daerah harus tegas,
menyikapi nihilnya pencapaian pajak kuburan mewah.
17

Berkaitan dengan latar belakang di atas maka dilakukan penelitian tentang
Pajak Pekuburan dengan judul penelitian Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab
Yayasan Pengelola Tanah Pekuburan Dalam Pembayaran Pajak di Kabupaten Deli

16
Ikwaluddin Simatupang, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Medan, dalam Ibid., hal. 3.
17
Syarifuddin Rosa, dalam Ibid., hal. 3.

24
Serdang Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian dan gambaran latar belakang tersebut di atas, maka dapat
dirumuskan beberapa masalah yang dibahas dalam penulisan tesis ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimanakah tanggung jawab yayasan pengelola tanah pekuburan dalam
pembayaran pajak tanah pekuburan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan?
2. Apakah yang menjadi kendala yayasan pengelola tanah pekuburan dalam
membayar Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli
Serdang?
3. Apakah upaya yang dilakukan yayasan pengelola tanah pekuburan sehubungan
dengan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan?
C. Tujuan Penelitian
Sejalan dengan perumusan masalah di atas, maka yang menjadi tujuan
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tanggung jawab yayasan pengelola tanah pekuburan dalam
pembayaran pajak tanah pekuburan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten

25
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan?
2. Untuk mengetahui kendala yayasan pengelola tanah pekuburan dalam membayar
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli Serdang ?
3. Untuk mengetahui upaya yang dilakukan yayasan pengelola tanah pekuburan
sehubungan dengan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan?
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan memberi manfaat antara lain :
1. Secara Teoritis
a. Sebagai bahan informasi bagi akademisi maupun sebagai bahan perbandingan
bagi para peneliti yang hendak melaksanakan penelitian lanjutan tentang
pajak tanah pekuburan bagi yayasan dan badan hukum pengelola tanah
pekuburan di Indonesia.
b. Sebagai bahan bagi Pemerintah Republik Indonesia dalam penyempurnaan
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Pajak dan Retribusi di
Indonesia, khususnya tentang tanah dan lokasi pekuburan yang pengaturan
lebih tegas dan terarah dalam menentukan tanggung jawab badan hukum dan
yayasan selaku pengelola areal dan tanah pekuburan tentang pajak luas dan
kemewahan/penhiasan kuburan.
c. Memberikan sumbangan pemikiran bagi perkembangan ilmu pengetahuan
hukum, terutama hukum pertanahan dan badan hukum serta yayasan selaku
pengelola tanah pekuburan di Indonesia.

26
2. Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan kepada Pemerintah
Republik Indonesia khususnya Pemerintah Kabupaten Deli Serdang terutama
dalam membuat produk Peraturan Daerah dapat memperhatikan nilai/norma-
norma yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat serta
mengkaji permasalahan dari berbagai aspek, sehingga produk Peraturan
Daerah yang dihasilkan dapat mengakomodir kepentingan masyarakat dan
akseptabel.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian ini difokuskan untuk meneliti tentang tanggung jawab badan
hukum atau yayasan selaku pengelola tanah pekuburan dalam melakukan
pembayaran pajak kepada Pemerintah Daerah yang mana hal tersebut telah ditetapkan
dan diatur dengan Peraturan Daerah.
Berdasarkan penulusuran kepustakaan dari hasil-hasil penelitian yang pernah
dilakukan, khususnya di Universitas Sumatera Utara, penelitian mengenai Tinjauan
Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pekuburan Dalam
Pembayaran Pajak di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan, belum pernah dilakukan. Oleh karena itu
penelitian ini adalah asli, serta dapat dipertanggung jawabkan keasliannya secara
ilmiah.

27
F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka Teori
Hukum yang baik adalah hukum yang sesuai dengan hukum yang hidup di
dalam masyarakat
18
, artinya bahwa hukum itu harus mencerminkan nilai-nilai yang
hidup di dalam masyarakat, hal ini sesuai dengan pendapat Roscoe Pound, Eugen
Ehrlich, Benyamin Cardozo, Kantorowics, Gurvitch dan lain-lain, dimana aliran
pemikiran ini berkembang di Amerika.
Pemikiran ini dibedakan dengan apa yang dikenal dengan sosiologi hukum
yang tumbuh dan berkembang di Eropa Continental dan hukum sebagai gejala sosial.
perbedaan antara sosiologi hukum dan hukum sebagai gejala sosial diantara keduanya
ialah kalau Sociological Jurisprudence itu merupakan suatu mazhab dalam filsafat
hukum yang mempelajari pengaruh timbal balik antara hukum dan masyarakat dan
sebaliknya. Sedangkan sosiologi hukum adalah cabang sosiologi yang mempelajari
pengaruh masyarakat kepada hukum dan sejauh mana gejala-gejala yang ada dalam
masyarakat itu dapat mempengaruhi hukum tersebut di samping juga diselidiki,
sebaliknya pengaruh hukum terhadap masyarakat.
19
Dengan demikian yang
terpenting adalah bahwa Sociological Jurisprudence merupakan cara pendekatan
yang bermula dari hukum ke masyarakat, sedangkan sosiologi hukum sebaliknya dari
masyarakat ke hukum.
20


18
Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung,
2004, hal. 66.
19
Ibid., hal. 66.
20
Soerjono Soekanto, Pokok-Pokok Sosiologi, LP3S, J akarta, edisi tiga, 1986, hal. 1,25.

28
Mazhab dari Sociological Jurisprudence ini mengetengahkan tentang
pentingnya living law hukum yang hidup di dalam masyarakat, dimana kelahirannya
menurut beberapa anggapan merupakan suatu sinthese dari thesenya, yaitu
positivisme hukum dan antithesenya mazhab sejarah. Dengan demikian Sociological
Jurisprudence berpegang kepada pendapat pentingnya baik akal maupun pengalaman
dimana pandangan ini berasal dari Roscoe Pound yang intisarinya adalah konsepsi
masing-masing aliran yaitu positivisme hukum dan mazhab sejarah.
21

Agar dalam pelaksanaan perundang-undangan yang bertujuan untuk
pembaharuan itu dapat berjalan sebagaimana mestinya, hendaknya perundang-
undangan yang dibentuk itu sesuai dengan apa yang menjadi inti pemikiran aliran
Sociological Jurisprudence yaitu hukum yang baik hendaknya disesuaikan dengan
hukum yang hidup di dalam masyarakat yang mencerminkan nilai-nilai yang hidup di
masyarakat.
22
Sebab jika ternyata tidak. Akibatnya ketentuan hukum tersebut tidak
akan dapat dilaksanakan dan bekerja dan mendapat tantangan dari masyarakat itu
sendiri.
Menurut Soerjono Soekanto dalam teori ilmu hukum,
Berlakunya hukum dibedakan kedalam tiga macam, yaitu: secara yuridis,
secara sosiologis dan secara filosofis. Berlakunya hukum secara yuridis
berdasarkan pada kaidah yang lebih tinggi, terbentuk menurut cara yang telah
ditetapkan, menunjukkan hubungan keharusan antara suatu kondisi dan
akibatnya. Dengan demikian, hukum dikatakan berlaku secara yuridis, apabila
pembentukannya mengikuti urutan dan tata cara yang ditetapkan.
23


21
Roscou Pond, dalam Lili Rasjidi, Op. Cit., hal. 66.
22
Ibid., hal. 67.
23
Soerjono Soekanto, Penegakan Hukum, Bina Cipta, J akarta, 1983, hal. 53.

29
Berlakunya hukum secara sosiologis, berintikan pada efektivitas hukum.
Dalam hal ini ada dua teori:
1. Teori Kekuasaan, pada teori ini hukum yang berlaku secara sosiologis apabila
dipaksakan berlakunya oleh penguasa dan hal itu terlepas dari masalah apakah
masyarakat menerima atau menolaknya.
2. Teori Pengakuan, dalam teori ini hukum berlaku secara sosiologis didasarkan
pada penerimaan atau pengakuan oleh mereka kepada siapa hukum tadi tertuju.
Sedangkan berlakunya hukum secara filosofis, artinya hukum tersebut ssuai dengan
cita-cita hukum, sebagai nilai positif yang tertinggi misalnya Pancasila, masyarakat
yang adil dan makmur dan seterusnya.
24

Suatu kaidah hukum yang berfungsi dengan baik harus memenuhi ketiga
macam cara berlakunya hukum tersebut di atas :
a. Bila suatu kaidah hukum hanya berlaku secara yuridis, maka
kemungkinan besar kaidah tersebut merupakan kaidah mati.
b. Kalau hanya berlaku secara sosiologis maka kaidah tersebut menjadi
aturan pemaksa (Teori Pemaksa).
c. Apabila hanya berlaku secara fisiologis, maka mungkin hukum tersebut
hanya merupakan hukum yang di cita-citakan.
25

Agar suatu kaidah hukum atau peraturan yang tertulis, benar-benar berfungsi,
senantiasa pula diperlukan keserasian dalam hubungan antara empat faktor:
a. Kaidah hukum atau peraturan itu sendiri. Kemungkinannya adalah bahwa
terjadi ketidak cocokan dalam peraturan perundang-undangan, mengenai
kehidupan tertentu. Kemungkinan lain adalah, ketidak cocokan antara
perundang-undangan dengan hukum tidak tertulis atau hukum kebiasaan,
misalnya antara Undang-undang dengan sistem pemerintahan dan

24
Ibid., hal. 54.
25
Ibid., hal. 55.

30
kebiasaan yang sederhana di daerah. Kadangkala ada ketidak serasian
antara hukum tertulis dengan hukum kebiasaan dan seterusnya.
b. Mentalitas petugas yang menegakkan hukum atau menerapkan hukum.
Penegak hukum antara lain mencakup hakim, polisi, jaksa, pengacara,
petugas pemasyarakatan dan seterusnya. Apabila peraturannya sudah baik
akan tetapi mental para penegak hukumnya kurang baik, maka kan terjadi
gangguan pada system penegakan hukum.
c. Fasilitas yang diharapkan akan dapat mendukung pelaksanaan kaidah
hukum. Apanila peraturannya sudah baik mental penegak hukumnya juga
baik, akan tetapi fasilitas kurang memadai (dalam ukuran tertentu),
penegakan hukum tidak akan berjalan dengan semestinya.
d. Warga masyarakat yang terkena ruang lingkup peraturan tersebut. Kalau
kesadaran hukum dan kepatuhan hukum dan perilaku masyarakatnya
kurang mendukung, maka hukum itu juga akan sulit ditegakkan.
26

Dengan demikian efektif tidaknya suatu peraturan akan dipengaruhi oleh
keempat faktor tersebut di atas. Agar peraturan berjalan efektif, maka keempat faktor
tersebut harus berjalan secara seiring dan serasi saling mendukung.
J auh sebelum zaman Romawi dan Yunani kuno serta zaman Firaun di Mesir,
telah ada suatu wadah yang menguasai dan memerintah penduduk. Le Contract
Social atau perjanjian masyarakat yang dikemukakan oleh Rousseau adalah teori
yang menjawab pertanyaan mengapa penduduk atau rakyat harus patuh pada
pemerintah negaranya. Bahwa sebagian dari hak mereka diserahkan kepada suatu
wadah yang mengurus kepentingan bersama. Wadah mana kemudian dikenal sebagai
Letat, Staat, State, Negara. Eksistensi pajak sebagai species dari genus pungutan
telah ada sejak zaman romawi. Pada awal Republik Roma (509-27 SM) dikenal
beberapa jenis pungutan seperti Censor, Questor dan beberapa jenis pungutan lain.
Pelaksanaan pemungutannya diserahkan kepada warga tertentu yang disebut

26
Ibid., hal. 58.

31
publican. Tributum sebagai pajak langsung dipungut pada zaman perang terhadap
penduduk Roma sampai tahun 167 SM. Sesudah abad ke 2 penguasa Roma
mengandalkan pada pajak tidak langsung disebut vegtigalia seperti portoria yanki
pungutan atas penggunaan pelabuhan.
27

Di zaman J ulius Caesar dikenal Centesima Rerum Venalium yakni sejenis
pajak penjualan dengan tariff 1% dari omzet penjualan. Di daerah lain di italia
dikenal Decumae, yakni pungutan sebesar 10 % dari para petani atau penguasa tanah.
Setiap penduduk italia, termasuk penduduk roma sendiri dikenakan tributum yang
tetap yang sering kali disebut Stipendium. Demikian pula di Mesir, pembuatan
piramida yang tadinya merupakan pengabdian dan bersifat sukarela dari rakyat Mesir,
pada akhirnya menjadi paksaan, bukan saja dalam bentuk uang, harta kekayaan, tetapi
juga dalam bentuk kerja paksa. Pada abad XIV di Spanyol dikenal Alcabala, salah
satu bentuk pajak penjualan. Di Indonesia, berbagai pungutan baik dalam bentuk
natura atau Payment In Kind, kerja paksa maupun dengan uang dan upeti telah lama
dikenal. Pungutan dan beban rakyat Indonesia semakin terasa besarnya terutama
sesudah berdirinya VOC tahun 1602, dan dilanjutkan dengan Pemerintahan Kolonial
Belanda.
28

Ada berbagai macam fungsi pemerintah suatu negara yaitu melaksanakan
penertiban atau law and order; mengusahakan kesejahteraan dan kemakmuran
rakyatnya; pertahanan dan menegakkan keadilan yang hal ini dilaksanakan melalui

27
Bambang Sudibyo, Sejarah Pajak Sebagai Pemasukan Negara, Bina Insani, J akarta, 2005,
hal. 32.
28
Ibid., hal. 32.

32
badan-badan pengadilan. Terdapat berbagai sumber penghasilan suatu Negara atau
public revenues, antara lain kekayaan alam; laba perusahaan negara; Royalty;
Retribusi; Kontribusi; Bea Cukai; Denda dan Pajak.
29

2. Konsepsi
Konsepsi merupakan unsur pokok dalam usaha penelitian atau untuk
membuat karya ilmiah. Menurut Hilman Hadikusuma:
Sebenarnya yang dimaksud dengan konsepsi adalah suatu pengertian
mengenai sesuatu fakta atau dapat berbentuk batasan atau defenisi tentang
sesuatu yang akan dikerjakan. J adi jika teori kita berhadapan dengan sesuatu
hasil kerja yang telah selesai, sedangkan konsepsi masih merupakan
permulaan dari sesuatu karya yang setelah diadakan pengolahan akan dapat
menjadikan suatu teori.
30

Selanjutnya, dinyatakan Hilman Hadikusuma:
Kegunaan dari adanya konsepsi agar supaya ada pegangan dalam melakukan
penelitian atau penguraian, sehingga dengan demikian memudahkan bagi
orang lain untuk memahami batasan-batasan atau pengertian-pengertian yang
dikemukakan. Dalam hal ini seolah-olah ia tidak berbeda dari suatu teori,
tetapi perbedaannya terletak pada latar belakangnya. Suatu teori pada
umumnya merupakan gambaran dari apa yang sudah pernah dilakukan
penelitian atau diuraikan, sedangkan suatu konsepsi lebih bersifat subjektif
dari konseptornya untuk sesuatu penelitian atau penguraian yang akan
dirampungkan.
31

Konsep merupakan alat yang dipakai oleh hukum di samping yang lain-lain,
seperti asas dan standar. Oleh karena itu kebutuhan untuk membentuk konsep
merupakan salah satu dari hal-hal yang dirasakan pentingnya dalam hukum. Konsep
adalah suatu kontruksi mental, yaitu sesuatu yang dihasilkan oleh sutu proses yang

29
Ibid., hal. 32.
30
Hilman Hadikusuma, Hukum Waris Adat, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005, hal. 5.
31
Ibid., hal. 5.

33
berjalan dalam penelitian untuk keperluan analistis.
32
Kerangka konseptional
mengungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai
dasar penelitian hukum.
33

Suatu konsep atau suatu kerangka konsepsionil pada hakikatnya merupakan
suatu pengarah, atau pedoman yang lebih konkrit daripada kerangka konsepsionil
belaka, kadang-kadang dirasakan masih juga abstrak, sehingga diperlukan defenisi-
defenisi operasional yang akan dapat pegangan konkrit di dalam proses penelitian.
34

Koentjoroningrat mengemukakan:
Konsep atau pengertian merupakan unsur pokok dari suatu penelitian, kalau
masalahnya dan kerangka konsep teoritisnya sudah jelas, biasanya sudah
diketahui pula fakta mengenai gejala-gejala yang menjadi pokok perhatian,
dan suatu konsep sebenarnya adalah defenisi secara singkat dari sekelompok
fakta atau gejala itu. Maka konsep merupakan defenisi dari apa yang perlu
diamati, konsep menentukan antara variable-variabel yang ingin menentukan
adanya hubungan empiris.
35

Oleh karena itu, untuk dapat menjawab permasalahan dalam penelitian tesis
ini perlu didefinisikan beberapa konsep dasar dalam rangka menyamakan persepsi
untuk dapat menjawab permasalahan penelitian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ada dua pengertian yayasan yaitu
sebagai Foundation dan sebagai perkumpulan. Seharusnya Undang-Undang yayasan
memperjelas pasal-pasalnya supaya terdapat kepastian maupun keadilan hukum,

32
Satjipto Rshardjo, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hal. 397.
33
Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,
PT. Raja Grafindo Persada, J akarta, 1995, hal. 7.
34
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Perss, J akarta, 1986, hal. 133.
35
Koentjoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Edisi ketiga, PT. Gramedia
Pustaka Utama, J akarta, 1997, hal. 21.

34
bukannya memukul rata pengertian tentang yayasan.
36
Misalnya banyak sekali
yayasan pendidikan didirikan justru menggunakan dana pribadi. Di Pontianak,
yayasan Tionghoa jelas ada pemiliknya yaitu marga yang berdasarkan lineage atau
garis keturunan. Mestinya dalam pembentukan undang-undang, para pembuat
Undang-Undang mengundang dan meminta pertimbangan pengurus-pengurus
yayasan, ahli-ahli bahasa yang membuat Kamus Bahasa Indonesia.
Dalam Undang-Undang Yayasan, dikatakan dalam yayasan tak boleh
memiliki anggota. J ika demikian, apakah yayasan Tionghoa termasuk yang tidak
diatur oleh Undang-Undang yayasan. satu lagi cara bagi pemilik atau pengurus
yayasan untuk menyikapi persoalan ini adalah dengan melakukan penyesuaian.
Artinya dengan cara merubah AD atau ART dan menghapuskan keanggotaan. Ini
juga menjadi masalah, karena seperti yang dikatakan sebelumnya, umur yayasan
sudah puluhan tahun. Sementara Undang-Undang tentang Yayasan baru ditetapkan
pada Tahun 2001 dan direvisi pada Tahun 2004.
Pekuburan adalah sebidang tanah yang disediakan untuk kuburan. Pekuburan
bisa bersifat umum atau semua orang boleh dikuburkan di sana maupun khusus,
misalnya pekuburan menurut agama, pekuburan pribadi milik keluarga, taman
makam pahlawan, dan sebagainya.
Pajak adalah iuran wajib yang dipungut oleh pemerintah dari masyarakat atau
wajib pajak untuk menutupi pengeluaran rutin Negara dan biaya pembangunan tanpa
balas jasa yang dapat ditunjuk secara langsung atau dapat juga berarti pajak adalah

36
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, J akarta, 1976,
hal. 20.

35
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-Undang sehingga dapat
dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak dipungut
penguasa berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya produksi barang-
barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.
Pajak dalam istilah asing disebu tax atau Import Contribution, Taxe, Droit
atau Prancis; Steuer, Abgabe, Gebuhr atau J erman; Impuesto Contribution, Tribute,
Gravamen, Tasa atau Spanyol dan Belasting atau Belanda. Dalam literature Amerika
selain istilah Tax dikenal pula istilah tarif. .
P.J .A.Andriani merumuskan:
Pajak adalah iuran masyarakat kepada Negara atau yang dapat dipaksakan
yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan
umum atau undang-undang dengan tidak mendapat prestasi kembali yang
langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas Negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan.
37

Kemudian, menurut Rochmat Soemitro, Pajak adalah peralihan kekayaan
dari pihak rakyat kepada kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan
surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk
membiayai public investment.
38

Di dalam Literatur Ilmu Keuangan Negara terdapat dua pendekatan yang
merupakan dasar bagi fiskus untuk memungut pajak yakni Benefit Principle dan
Ability To Pay Principle. Secara sederhana kedua prinsip tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut. Benefit Principle pada intinya menjelaskan, bahwa fiskus berwenang

37
P.J .A. Adriani, dalam Bohari, Pengantar Perpajakan, Ghalia Indonesia, J akarta, 1985,
hal. 31.
38
Rochmat Soemitro, Pajak dan Pembangunan, Eresco, Bandung-J akarta, 1974, hal. 8.

36
memungut pajak karena penduduk menerima mamfaat dari adanya Negara.
Terutangnya suatu pajak sekurang-kurangnya harus memenuhi unsur-unsur rumus
pajak, yakni adanya tax base atau dasar pengenaan pajak, tax rate atau tarif pajak dan
adanya tax payer atau wajib pajak. tarif dikalikan dasar pengenaan pajak akan
menghasilkan utang pajak atau tax liability.
39

Retribusi adalah pungutan yang dilakukan pemerintah kepada sejumlah
penduduk yang menggunakan fasilitas yang disediakan pemerintah. Dalam
menyediakan fasilitas tersebut pemerintah telah mengeluarkan sejumlah biaya.
Retribusi yang dipungut adalah mengganti biaya yang telah dikeluarkan oleh
pemerintah. Pemerintah berwenang untuk memungut bea pada waktu ada barang-
barang masuk atau keluar daerah pabean.
Pemerintah juga berwenang untuk memungut cukai pada waktu pembuatan
rokok, gula, alkohol dan hasil sulingan lainnya. Pemerintah berwenang untuk
mengenakan denda kepada penduduk yang melanggar ketentuan yang ditetapkan
pemerintah, misalnya denda karena melanggar rambu-rambu lalu lintas. Pemerintah
pusat atau daerah maupun lembaga pemerintah lainnya berwenang untuk
mengadakan pungutan-pungutan tertentu seperti uang tambang, leges, uang nikah,
talak, rujuk (NTR) dan sebagainya.
Lembaga Pemerintah yang mengelola perpajakan Negara Indonesia adalah
Direktorat J enderal Pajak (DJ P) yang merupakan salah satu Direktorat J enderal yang
ada dibawah naungan Departemen Keuangan Republik Indonesia.

39
Ibid., hal. 58.

37
Retribusi Daerah yang selanjutnya disebut retribusi adalah pungutan daerah
sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
dan atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau
badan.
J asa adalah kegiatan Pemerintah Daerah berupa usaha dan pelayanan yang
menyebabkan barang, fasilitas atau kemamfaatan lainnya yang dapat dinikmati oleh
orang pribadi atau badan.
J asa umum adalah jasa yang disediakan atau diberikan oleh Pemerintah
Daerah untuk tujuan kepentingan dan kemamfaatan umum serta dapat dinikmati oleh
orang pribadi atau badan.
J asa usaha adalah jasa yang disediakan oleh Pemerintah Daerah dengan
menganut prinsip-prinsip komersil karena pada dasarnya dapat pula disediakan oleh
sektor swasta.
Perizinan tertentu adalah kegiatan tertentu Pemerintah Daerah dalam rangka
pemberian izin kepada orang pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pembinaan,
pengaturan, pengendalian dan pengawasan atau kegiatan, pemamfaatan ruang,
penggunaan sumber daya alam, barang, prasarana, sarana atau fasilitas tertentu guna
melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan. Penerimaan
lain-lain adalah penerimaan yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku diluar pajak daerah dan retribusi daerah.
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan adalah pungutan daerah
setiap kuburan yang melebihi ukuran: Panjang 2 m, dan Lebar 1,75 m, dan juga
pungutan daerah setiap bangunan diatas kuburan yang melebihi ukuran: Panjang 2 m,
Lebar 1,75 m dan Tinggi 0,50 m.

38
G. Metode Penelitian
1. Spesifikasi Penelitian
Penelitian ini bersifat Deskriptif Analisis, yaitu penelitian yang bertujuan
untuk memperoleh gambaran yang menyeluruh, lengkap dan sistematis mengenai
tanggung jawab yayasan pengelola tanah pekuburan dalam melakukan pembayaran
pajak tanah pekuburan berdasarkan peraturan daerah di Kabupaten Deli Serdang.
Bersifat analisis karena gejala dan fakta yang dinyatakan oleh responden
kemudian akan dianalisa terhadap berbagai aspek hukum baik dari segi hukum
pertanahan nasional maupun hukum politik dan hukum administrasi Negara serta
hukum pajak. pendekatan yang dilakukan adalah pendekatan yuridis empiris yaitu
suatu penelitian yang meneliti peraturan-peraturan hukum yang kemudian
dihubungkan dengan data dan perilaku pejabat pemerintah daerah Kabupaten Deli
Serdang.
Data primer atau materi pokok dalam penelitian ini diperoleh langsung dari
para responden melalui penelitian lapangan (field research) yaitu Pemerintah
Kabupaten Deli Serdang serta Masyarakat di Kabupaten Deli Serdang.
Data sekunder diperoleh melalui badan hukum primer dan badan hukum
sekunder serta badan hukum tertier yaitu melalui penelitian kepustakaan (Library
Research) berupa peraturan perundang-undangan buku-buku, laporan hasil penelitian
terdahulu, dokumen resmi dan bahan-bahan kepustakaan lainnya berbentuk tertulis
yang ada kaitannya dengan masalah yang dibahas dalam penelitian ini.

39
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Kabupaten Deli Serdang, dengan melakukan
penelitian di daerah yang terdapat lokasi dan areal tanah pekuburan yang dikelola
oleh badan hukum dan yayasan.
3. Wawacara dan Nara Sumber
Dalam melakukan penelitian ini, maka penulis melakukan teknik wawancara
dengan beberapa sumber, yaitu tokoh masyarakat untuk mengetahui bagaimana
selama ini pengaturan tanah pekuburan dan pengelolaan badan hukum dan yayasan
yang mengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang, khususnya yang
berkaitan dengan pembiayaan, retribusi dan pembayaran pajak.
Untuk menunjang kelengkapan data maka diambil sebagai nara sumber atau
informan tambahan sebanyak 5 (lima) orang dengan perincian sebagai berikut :
1. 1 (satu) orang Staf Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang.
2. 1 (satu) orang pengurus yayasan pengelola tanah pekuburan di Deli Serdang.
3. 1 (satu) orang tokoh masyarakat Kabupaten Deli Serdang.
4. 1 (satu) orang anggota DPRD Kabupaten Deli Serdang.
5. 1 (satu) orang Camat Lubuk Pakam yang wilayahnya terdapat tanah pekuburan di
Kabupaten Deli Serdang.
40


40
Wawancara ini bertujuan untuk mendapatkan informasi masalah aset tersebut dari sisi
sejarah dan lokasi dalam upaya mengidentifikasi masalah.

40
4. Alat Pengumpul Data
Data dalam penelitian ini diperoleh dengan menggunakan alat :
a. Studi Dokumentasi
Untuk memperoleh data sekunder perlu dilakukan studi dokumentasi yaitu
dengan cara mempelajari peraturan-peraturan, teori dan dokumen-dokumen lain
yang berhubungan dengan permasalahan yang akan diteliti.
b. Wawancara
Untuk memperoleh data primer, dilakukan wawancara dengan 10 (sepuluh) orang
yang terdiri dari pejabat Pemerintah Kabupaten Deli Serdang, pengurus badan
hukum dan yayasan pengelola tanah pekuburan, tokoh masyarakat, anggota
DPRD Deli Serdang dan masyarakat dengan menggunakan pedoman wawancara
dan daftar pertanyaan.
5. Analisis Data
Semua data yang diperoleh dari bahan pustaka serta data yang diperoleh
dilapangan dianalisa secara kualitatif. Metode analisa yang dipakai adalah metode
deduktif. Melalui metode deduktif, data sekunder yang telah diuraikan dalam tinjauan
pustaka secara komparatif aan dijadikan pedoman dan dilihat pelaksanaannya dalam
melihat tinjauan hukum atas tanggung jawab yayasan pengelola tanah pekuburan
dalam pembayaran pajak di Kabupaten Deli Serdang berdasarkan Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan.

41

Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini dianalisa dengan cara kualitatif,
selanjutnya dilakukan proses pengolahan data. Setelah selesai pengolahan data baru
ditarik kesimpulan dengan metode deduktif.
41

Kegiatan analisis dimulai dengan dilakukan pemeriksaan terhadap data yang
terkumpul baik melalui wawancara yang dilakukan, inventarisasi karya ilmiah,
peraturan perundang-undangan, yang berkaitan dengan judul penelitian baik media
cetak dan laporan-laporan hasil penelitian lainnya untuk mendukung studi
kepustakaan. Kemudian baik data primer maupun data sekunder dilakukan analisis
penelitian secara kuantitatif dan untuk membahas lebih mendalam dilakukan secara
kualitatif. Sehingga dengan demikian diharapkan dapat menjawab segala
permasalahan hukum yang ada dalam tesis ini.


41
Sutandyo Wigjosoebroto, Apakah Sesungguhnya Penelitian Itu, Kertas Kerja, Universitas
Erlangga, Surabaya, hal. 2. Prosedur Deduktif yaitu bertolak dari suatu proposisi umum yang
kebenarannya telah diketahui dan diyakini dan berakhir pada suatu kesimpulan yang bersifat lebih
khusus. Pada prosedur ini kebenaran pangkal merupakan ideal yang bersifat aksiomatik (self efident)
yang esensi kebenarannya sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi.
BAB II
TANGGUNG JAWAB YAYASAN PENGELOLA TANAH PEKUBURAN
DALAM PEMBAYARAN PAJAK BERDASARKAN PERATURAN DAERAH
NOMOR 26 TAHUN 2000 TENTANG PAJAK LUAS DAN KEMEWAHAN/
PENGHIASAN KUBURAN DI KABUPATEN DELI SERDANG
A. Pengaturan Hukum Yayasan di Indonesia
Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan
diperuntukan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan dan
kemanusiaan dan tidak mempunyai anggota.
42

Yayasan dapat melakukan kegiatan usaha untuk mencapai maksud tujuannya
dengan cara mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam suatu badan usaha
dengan syarat bahwa usaha kegiatan badan usaha tersebut harus sesuai dengan
maksud dan tujuan yayasan. Kegiatan yayasan tidak bertentangan dengan ketertiban
umum, kesusilaan dan/atau perundang-undangan yang berlaku, dapat mencakup
bidang-bidang hak asasi manusia, kesenian, olahraga, perlindungan konsumen,
pendidikan, lingkungan hidup, kesehatan dan ilmu pengetahuan.
Hal ini sesuai dengan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 16 tahun 2001 tentang
Yayasan, jumlah penyertaan maksimum 25% dari seluruh nilai kekayaan yayasan,
anggota Pembina, Pengurus dan Pengawas Yayasan dilarang merangkap sebagai
anggota Direksi dan anggota Komisaris atau Pengawas dari badan usaha tersebut.
Yayasan mempunyai organ yang terdiri dari Pembina, Pengurus dan
Pengawas. Kepada mereka tidak dapat diberikan gaji, upah atau honorarium atau

42
J usuf Patrick, Pengaturan Yayasan di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2001, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun
2008, Wawasan, Jakarta, 2007, hal. 5.
Timbul Kusnadi : Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pemakaman Dalam
Pembayaran Pajak Di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun 2000
43
bentuk lain yang dapat dinilai dengan uang, hal ini sesuai dengan Pasal 5 Undang-
Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2001 tentang Yayasan.
Khusus mengenai pengurus dapat diadakan pengaturan pengecualiaannya
dalam anggaran dasar yayasan, yaitu pengurus dapat diberi gaji, upah atau
honorarium dengan syarat bahwa anggota pengurus tersebut, bukan pendiri yayasan
dan tidak terafiliasi dengan Pendiri, Pembina atau Pengawas, melaksanakan
kepengurusan yayasan secara langsung dan penuh.
Disamping larangan untuk memberikan upah, gaji atau honorarium, yayasan
juga dilarang untuk membagikan hasil kegiatan usahanya kepada Pembina, Pengurus
dan Pengawas sesuai dengan Pasal 3 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001
tentang Yayasan. Pelanggaran terhadap larangan ini diancam dengan pidana sesuai
dengan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Namun
segala biaya dan ongkos yang dikeluarkan oleh organ yayasan dalam rangka
menjalankan tugas yayasan wajib dibayar oleh yayasan.
J adi kalau gaji, upah atau honorarium tidak boleh, tapi kalau biaya perjalanan,
biaya seminar, ongkos penginapan, ongkos pemeliharaan atau service kenderaan dan
lain-lain yang dikeluarkan lebih dahulu oleh organ yayasan dapat diminta ganti rugi
kepada yayasan. Pastilah akan banyak pos-pos pengeluaran di bidang ini kalau mau
mengamati laporan keuangan yayasan.
Menurut Pasal 9 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 jo Undang-Undang
Nomor 28 tahun 2004 tentang Yayasan. Yayasan dapat didirikan oleh satu orang atau

44
lebih dengan memisahkan sebahagian harta kekayaannya sebagai kekayaan awal
yayasan, dilakukan dengan akta notaris dan dibuat dalam bahasa Indonesia.
Disamping oleh orang yang masih hidup, maka yayasan dapat pula didirikan dengan
suatu wasiat. Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang
Yayasan, disebutkan bahwa penerima wasiat mewakili pemberi wasiat, permasalahan
yang utama adalah dapatkah orang yang telah meninggal dunia menjadi subjek
hukum.
Kalau penerima warisan itu sudah pasti jelas, namun penerima wasiat adalah
hal pendirian yayasan sangat kabur. Seharusnya dipakai kata-kata pelaksana wasiat
dengan bantuan ahli waris pemberi wasiat wajib melaksanakan ketentuan dalam
wasiat, disini yang menjadi subjek hukum adalah boedel harta peninggalan pewaris
bukan pewaris.
Kekeliruan ini rupanya disadari oleh pemerintah sehingga dikoreksi dalam
Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008. Menurut Peraturan Pemerintah
Nomor 63 Tahun 2008 Pasal 8 memuat materi bahwa wasiat tersebut harus dengan
wasiat terbuka yaitu wasiat yang dibuat dihadapan notaris sesuai dengan ketentuan
dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata.
43

Kata terbuka ini menutup kemungkinan bagi pendirian yayasan yang
dilakukan dengan menggunakan surat wasiat olograpis, wasiat rahasia atau tertutup,
jadi maksud pemerintah tegas bahwa pendirian yayasan hanya dimungkinkan dengan
surat wasiat dalam bentuk akta umum.

43
Ibid., hal. 5.

45
Pendirian yayasan oleh orang asing, pengertian orang disini adalah orang
perorangan dan/atau badan hokum baik nasional maupun asing sesuai dengan Pasal 9
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan. Pendirian yayasan oleh
orang asing diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 dalam Pasal
10 sampai dengan Pasal 14 dan Peraturan Keimigrasiaan serta Peraturan
Ketenagakerjaan atau Penjelasan Pasal 10 Peraturan Pemerintah. Syarat-syarat yang
harus dipenuhi oleh yayasan yang didirikan oleh orang asing, yayasan yang
mengandung unsur asing. Orang asing/pendiri memisahkan minimal senilai
Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) untuk modal awal yayasan. Dimana modal
awal itu dinyatakan harta kekayaan tersebut berasal dari harta yang sah. Menyatakan
bahwa kegiatan yayasan tidak merugikan masyarakat, Bangsa dan Negara Indonesia.
Salah seorang pengurus yayasan wajib dijabat oleh orang Indonesia. Anggota
pengurus wajib bertempat tinggal di Indonesia.
44

Anggota pengurus asing wajib sebagai pemegang izin melakukan kegiatan
atau usaha di wilayah Republik Indonesia atau izin kerja, izin melakukan penelitian,
izin belajar, izin melakukan kegiatan keagamaan, izin usaha sesuai Undang-Undang
Penanaman Modal sesuai dengan Penjelasan Pasal 12 Peraturan Pemerintah dan juga
pemegang kartu izin tinggal sementara.
Anggota Pembina atau Pengawas asing jika bertempat tinggal di Indonesia
wajib sebagai pemegang izin melakukan kegiatan atau usaha di wilayah Republik

44
Agus Suyanto, Prosedur Pendirian Yayasan Bagi Orang Asing, CV. Setia, J akarta, 2007,
hal. 8.

46
Indonesia dan juga pemegang kartu izin tinggal sementara khusus bagi pejabat korps
diplomatic atau suami, istri dan anak-anaknya tidak wajib sebagai pemegang izin
melakukan kegiatan atau usaha di wilayah Republik Indonesia dan juga pemegang
kartu izin tinggal sementara.
Bandingkan dengan ketentuan yang mengatur tentang cara beroperasinya
yayasan asing dimana hal ini sangat berbeda dengan yayasan yang mengandung
unsur asing dalam Pasal 26 Peraturan Pemerintah. Peraturan ini sangat bias, karena
mengatur yayasan asing atau yayasan yang didirikan menurut hukum asing tidak
diperbolehkan melakukan kegiatan dibidang pengembangan dan penelitian sesuai
dengan Pasal 26 Peraturan Pemerintah, sebaliknya yayasan yang mengandung unsur
asing dimana yayasan yang didirikan menurut hukum Indonesia yang
memprioritaskan anggota Korps Diplomatic sebagai pendiri, Pembina, Pengurus atau
Pengawas dari yayasan yang mengandung unsur asing dan diperbolehkan melakukan
semua kegiatan sesuai maksud dan tujuan yayasan termasuk di bidang pengembangan
dan penelitian.
45

Dalam Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 ditentukan bahwa
minimal kekayaan awal dari yayasan yang harus disediakan oleh pendiri yayasan
adalah sebagai berikut, jika yayasan didirikan oleh orang Indonesia dimana
perorangan atau badan hukum maka harus dipisahkan dari harta kekayaan pribadi
pendiri sebesar Rp. 10.000.000,-, jika yayasan didirikan oleh orang asing atau orang

45
Ibid., hal. 9.

47
asing bersama dengan orang Indonesia, maka harus dipisahkan dari harta kekayaan
pribadi pendiri sebesar Rp. 100.000.000,-
Menurut Agus Suyanto:
Permasalahan hukum yang timbul disini adalah penyebutan status yayasan,
ada yayasan nasional, ada yayasan yang mengandung unsur asing dan yayasan
asing. Perlu ditelaah lebih lanjut perbedaan antara yayasan yang mengandung
unsur asing yang didirikan menurut hukum Indonesia dengan yayasan asing
yang didirikan menurut hukum asing. Yayasan asing dalam melaksanakan
kegiatan operasionalnya wajib bermitra dengan yayasan yang didirikan oleh
orang Indonesia sesuai dengan yayasan nasional dan Pasal 26 Peraturan
Pemerintah, sedangkan yayasan yang mengandung unsur asing tidak perlu
bermitra dengan yayasan nasional dan berhak melakukan kegiatan penelitian
dan pengembangan.
46

Status badan hukum yayasan diperoleh sejak tanggal pengesahan oleh Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia sesuai dengan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2001 J o Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan sedangkan
prosedurnya diuraikan dalam Pasal 15 Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008
yaitu dalam jangka waktu maksimal 10 hari sejak tanggal akta pendirian, pendiri atau
kuasanya melalui notaris yang membuat akta pendirian yayasan mengajukan
permohonan tertulis dilampiri dengan salinan akta pendirian yayasan, foto copi
NPWP yayasan yang dilegalisir notaries, surat pernyataan kedudukan disertai alamat
lengkap yayasan ditanda tangani pengurus diketahui oleh Lurah atau Kepala Desa,
bukti penyetoran atau keterangan bank atas nama yayasan atau pernyataan tertulis
dari pendiri yang memuat keterangan nilai kekayaan yayasan yang dipisahkan
sebagai kekayaan awal untuk mendirikan yayasan, surat pernyataan pendiri mengenai

46
Ibid., hal. 9.

48
keabsahan kekayaan awal tersbut, bukti penyetoran biaya pengesahan dan
pengumunan yayasan.
Prosedur mana lebih lengkap daripada yang disyaratkan dalam surat edaran
Dirjen Administrasi Hukum Umum Nomor C-HT.01.10-21 tanggal 4 Nopember 2002
J o Surat Nomor C-HT.01.10-07 Tanggal 5 Mei 2003 perihal Pengesahan dan
Persetujuan Perubahan Anggaran Dasar Yayasan. J adi secara praktis sebaiknya
dilengkapi semuanya termasuk biaya Penghasilan Negara bukan Pajak atau PNBP
dan Biaya Pengumuman Berita Negara Republik Indonesia..
Mengenai Anggaran Dasar Yayasan yang perlu diperhatikan adalah baik
pendirian yayasan maupun perubahan anggaran dasar yayasan harus menggunakan
akta otentik dan dibuat dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan Pasal 9 J o Pasal 18
ayat 3 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan.
Perubahan substansi anggaran dasar dapat dikategorikan menjadi 3 kategori,
hal yang tidak boleh dirubah, hal yang boleh dirubah dengan mendapat persetujuan
Menteri dan hal yang boleh dirubah cukup diberitahukan kepada Menteri. Sedangkan
perubahan data yayasan cukup diberitahukan kepada Menteri sesuai dengan Pasal 19
Peraturan Pemerintah.
Hal yang tidak boleh dirubah dari substansi anggaran dasar yayasan adalah
perubahan maksud dan tujuan yayasan. Hal yang boleh dirubah dengan persetujuan
menteri adalah perubahan nama dan kegiatan yayasan. Hal yang boleh dirubah cukup
diberitahukan kepada Menteri adalah substansi anggaran dasar selain yang disebutkan
diatas termasuk perubahan tempat kedudukan yayasan. Sesuai dengan dengan Pasal
18 ayat 1 dan 3.

49
Perubahan susunan Pengurus, Pembina, Pengawas dan perubahan alamat
lengkap yayasan adalah termasuk perbuatan hukum yang tidak merubah Anggaran
Dasar Yayasan namun dikategorikan sebagai perubahan data sesuai dengan Pasal 19
Peraturan Pemerintah dan Penjelasannya.
Hati-hati disini karena perubahan tempat kedudukan dan perubahan alamat
lengkap yayasan adalah perbuatan hukum yang berbeda. Yang menjadi permasalahan
hukum adalah penentuan waktu efektif berlakunya perubahan-perubahan tersebut.
Perubahan anggaran dasar yang membutuhkan persetujuan menteri secara
tegas ditetapkan berlaku sejak tanggal persetujuan Menteri tidak ditetapkan efektif
berlakunya, sebaliknya dalam Pasal 19 ditetapkan perubahan data yayasan efektif
berlaku sejak tanggal perubahan tersebut dicatat dalam data yayasan.
Lebih lanjut Agus Suyanto menyatakan:
Pembuat Peraturan Pemerintah telah melakukan kekeliruan yang fatal, jika
penetapan waktu efektifitas berlakunya perubahan anggaran dasar ditetapkan
sejak pencatatan dalam data yayasan maka tidak ada masalah, namun
ketentuan tentang efektifitas berlakunya perubahan data yayasan ditetapkan
berdasarkan tanggal pencatatan adalah bertentangan dengan Pasal 33 J o Pasal
45 atau Point 9 dan Point 14 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2008 yang
menentukan bahwa perubahan data tersebut wajib disampaikan oleh pengurus
yang menggantikan pengurus lama, padahal Pasal 19 Peraturan Pemerintah
efektifitas penggantian tersebut atau data perubahan terhitung sejak dicatatkan
dalam data yayasan, jadi bukan berlaku sejak ditutupnya rapat Pembina yang
merubah susunan pengurus dan/atau pengawas sejak ditutupnya rapat
pengurus yang menetapkan perubahan alamat yayasan atau dalam satu
kelurahan. Ironis memang dimana Peraturan Pemerintah diadakan dengan
maksud untuk lebih menjamin kepastian hukum namun substansinya justru
menimbulkan ketidak pastian hukum. Langkah hukum yudicial review
sebaiknya perlu segera ditempuh oleh para praktisi hukum untuk meniadakan
ketidak pastian tersebut.
47


47
Ibid., hal. 10.

50
Permasalahan hukum yang paling penting adalah keberadaan Pasal 39
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008 sebagai aturan yang memaksa apabila
yayasan yang diakui sebagai badan hukum nemun tidak menyesuaikan anggaran
dasarnya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2001 J o Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan sampai dengan selambat-lambatnya tanggal
6 Oktober 2008, maka yayasan tersebut yang mempunyai kesamaan kegiatan dengan
yayasan yang dibubarkan. Padahal dalam Pasal 71 ayat 4 Undang-Undang Nomor 16
Tahun 2001 J o Pasal 20 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentan Yayasan
hanya menegaskan bahwa terhadap yayasan tersebut tidak dapat menggunakan kata
Yayasan di depan namanya dan dapat dibubarkan dengan putusan pengadilan atas
permohonan Kejaksaan atau pihak yang berkepentingan. J elas Peraturan Pemerintah
telah melampaui pengaturan yang diatur dalam Undang-Undang. Dengan adanya
norma harus melikuidasi kekayaannya ini berarti semua yayasan yang sudah
berbadan hukum yang belum menyesuaikan diri dengan Undang-Undang tentang
yayasan wajib membubarkan diri.
J ika analisa di atas, diterima maka terjadilah permasalahan hukum, yaitu
apabila dibandingkan ketentuan tersebut dengan ketentuan dalam Pasal 36 Peraturan
Pemerintah mengenai yayasan yang tidak diakui sebagai badan hukum; terhadap
yayasan ini tidak perlu dibubarkan cukup dimintakan permohonan pengesahan ke
Menteri dan terhadap seluruh tindakan yayasan tetap diakui sebagai perbuatan hukum
yang sah dimana hal ini hanya saja menjadi tanggung jawab pribadi secara tanggung
jawab renteng dari anggota organ yayasan, Pasal 36 ayat 3 Peraturan Pemerintah.
48


48
Ibid., hal. 10.

51
Sebaiknya redaksi Pasal 36 ayat 2 diubah menjadi: Didalam premise akta
perubahan anggaran dasar disebutkan asal usul pendirian yayasan dst.
Argumentasinya : tidak mungkin di dalam akta pendirian ditambahkan premise
seperti yang disyaratkan kecuali dengan mengadakan perubahan terhadap akta
tersebut.
49

Dalam premise akta ditegaskan pula bahwa perbuatan hukum yang dilakukan
oleh organ yayasan sebelum di sahkannya yayasan sebagai badan hukum, terhitung
sejak disahkannya yayasan sebagai badan hukum, segala hak dan kewajiban yang
timbul diambil alih dan oleh karena itu menjadi hak dan kewajiban yayasan, hal ini
mengadopsi ketentuan dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007
tentang Perseroan Terbatas. Karena dalam Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah
tidak disebutkan peralihan hak dan kewajiban atas suatu perbuatan hukum yang
dilakukan oleh organ yayasan sebelum yayasan disahkan sebagai badan hukum, maka
itu hal paling tepat disebutkan dalam akta perubahan anggaran dasar yayasan.
B. Eksistensi Yayasan Sebagai Badan Hukum Sosial
Setelah 56 tahun Indonesia Merdeka, tepatnya 6 Agustus 2001, barulah dapat
dibuat Undang-Undang yang mengatur mengenai yayasan yaitu Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan dimuat dalam Lembaran Negara Nomor 112
Tahun 2001 dan Tambahan Lembaran Negara 4132. Itu pun baru diberlakukan
tanggal 6 Agustus 2002 J uncto Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang
Yayasan. Sebelumnya, tidak ada satu pun peraturan perundang-undangan yang

49
Ibid., hal. 10.

52
mengatur secara khusus tentang yayasan di Indonesia. Namun demikian, tidaklah
berarti bahwa di Indonesia sama sekali tidak ada ketentuan yang mengatur tentang
yayasan. Secara sporadik dalam beberapa peraturan perundang-undangan seperti
KUH Perdata, Rv, Undang-undang kepailitan atau faillissements verordening,
undang-undang perpajakan, perundang-undangan agraria, telah tersebar beberapa
ketentuan yang menyinggung tentang yayasan.
50

Ketentuan perundang-undangan yang ada pada waktu itu, tidak satu pun yang
memberikan rumusan mengenai defenisi yayasan, serta cara mendirikan yayasan.
Berbeda halnya dengan di Belanda, yang secara tegas di dalam undang-undangnya
menyebutkan bahwa yayasan adalah badan hukum.
Walaupun tidak disebutkan secara tegas, yayasan di Indonesia telah diakui
pula sebagai badan hukum. Pengakuan sebagai badan hukum didasarkan pada
kebiasaan dan yurisprudensi. Untuk diakui sebagai badan hukum, yayasan hanya
perlu memenuhi syarat tertentu, yaitu:
1. Syarat materil yang terdiri dari harus ada suatu pemisahan harta kekayaan, adanya
suatu tujuan dan mempunyai organisasi.
2. Syarat formil yaitu harus dengan akta otentik.
Di dalam praktik hukum yang berlaku di Indonesia, pada umumnya yayasan
didirikan dengan akta notaris. Akta notaris ini ada yang didaftarkan di Pengadilan
Negeri dan diumumkan dalam Berita Negara dan ada pula yang tidak didaftarkan di
Pengadilan Negeri, dan tidak pula diumumkan dalam Berita Negara. Hal ini

50
Anwar Borahima, Eksistensi Yayasan di Indonesia, Swara Bangsa, J akarta, 2007, hal. 1-2.

53
dikarenakan tidak ada ketentuan yang mengaturnya sehingga masih bebas bentuk.
Dengan demikian, yayasan dapat pula didirikan dengan akta dibawah tangan.
51

Setelah keluarnya undang-undang yayasan, secara otomatis penentuan status
badan hukum yayasan harus mengikuti ketentuan yang ada didalam Undang-Undang
Yayasan tersebut. Dalam Undang-Undang Yayasan disebutkan bahwa yayasan
memperoleh status badan hukum setelah akta pendirian memperoleh Pengesahan dari
Menteri.
Dari ketentuan Undang-Undang yayasan dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa syarat pendirian yaitu;
1. Didirikan oleh 1 (satu) orang atau lebih.
2. Ada kekayaan yang dipisahkan dari kekayaan pendirinya.
3. Harus dilakukan dengan akta notaris dan dibuat dalam Bahasa Indonesia.
4. Harus memperoleh Pengesahan Menteri.
5. Diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia.
6. Tidak boleh memakai nama yang telah dipakai secara sah oleh yayasan
lain, atau bertentangan dengan ketertiban umum dan/atau kesusilaan.
7. Nama yayasan harus didahului dengan kata yayasan.
52

Dari ketentuan Pasal 71 Undang-Undang Yayasan dapat disimpulkan bahwa
yayasan yang telah ada sebelum berlakunya undang-undang yayasan tetap diakui
sebagai badan hukum, asal saja memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam
Undang-Undang Yayasan. Persyaratan yang dimaksud, antara lain yayasan tersebut
telah didaftarkan di Pengadilan Negeri dan diumumkan dalam Tambahan Berita
Negara Republik Indonesia atau didaftarkan di Pengadilan Negeri dan mempunyai
izin operasi dari instansi terkait.

51
Ibid., hal. 3.
52
Ibid., hal. 3.

54
Ketentuan ini belum menuntaskan permasalahan, sebab di satu sisi yayasan
yang ada selama ini sebagian besar tidak terdaftar di Pengadilan Negeri. Di sisi lain,
pengaturan lebih lanjut mengenai penyelesaian yayasan yang tidak terdaftar, tidak
ditemukan di dalam pasal serta penjelasan undang-undang yayasan tersebut sehingga
masih dipersoalkan tentang eksistensi yayasan yang tidak terdaftar tersebut.
J ika hanya dilihat dari bunyi ketentuan Undang-Undang Yayasan, dapat
disimpulkan bahwa yayasan yang tidak terdaftar di Pengadilan Negeri, tidak tercakup
dalam ketentuan tersebut sehingga sulit untuk mencarikan jalan keluarnya. Dengan
kata lain, yayasan tersebut tidak diakui sebagai badan hukum, dan juga tidak
disediakan sarana penyelesaiannya. Untuk mencapai tujuan hukum perlu dicari jalan
keluar agar kepastian, keadilan dan kemanfaatannya dapat tercapai.
J alan keluar yang dapat ditempuh di antaranya, sebagaimana yang
dikemukakan Sugiono berikut ini:
Sebenarnya ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan
persoalan ini, antara lain dengan mengambil perbandingan dengan Negara
lain. Seperti halnya di Belanda, ketika Undang-Undang yayasan atau stichting
wet diberlakukan, maka yayasan-yayasan yang telah ada sebelum mulai
berlakunya stichting wet tetap diakui. Hanya saja persyaratannya harus
mengadakan penyesuaian dengan Undang-Undang tersebut, antara lain untuk
menyusun kembali anggaran dasarnya dalam suatu akta otentik atau akta
notaries, dengan tetap mempertahankan sebagai badan hukum.
53

Selain cara yang dilakukan di Belanda, sebenarnya dapat juga dilakukan
dengan mengambil model di Amerika dan Inggris. Di kedua Negara tersebut, bagi
organisasi nonprofit yang tidak memenuhi syarat sebagaimana yang dientukan di

53
Sugiono, Proses Pendirian Yayasan di Indonesia, Bina Insani, Yakarta, 2008, hal. 2.

55
dalam undang-undang organisasi nonprofit, organisasi tersebut dapat tidak berbentuk
badan hukum, tetapi keistimewaan-keistimewaan yang diberikan kepada organisasi
nonprofit yang berbadan hukum diperlakukan juga terhadap organisasi nonprofit
yang tidak berbadan hukum, seperti pengganguran pajak dan sebagainya.
Sayangnya di Indonesia, pengecualian dan pengurangan pajak tidak lagi
sepenuhnya dapat dinikmati oleh yayasan. Oleh karena itu, cara terbaik yang dapat
dilakukan adalah bagi yayasan yang telah ada sebelum berlakunya Undang-Undang
Yayasan tanpa melihat daftar atau tidak sekalipun fungsi pendaftaran itu penting
hendaknya tetap diakui sebagai Badan hukum. Kemudian yayasan tersebut diberi
kesempatan untuk menyesuaikan dengan Undang-Undang yayasan seperti halnya
yang pernah terjadi di Belanda.
54

Bagi yayasan yang belum terdaftar, harus melakukan pendaftaran lebih
dahulu, kemudian menyesuaikan anggaran dasarnya, sedangkan bagi yang sudah
terdaftar hanya menyesuaikan anggaran dasarnya. Dengan demikian, bagi yayasan
yang tidak menyesuaikan anggaran dasarnya akan dibubarkan. Cara pembubaran
serta penyelesaiannya dapat berpedoman/dilakukan berdasarkan cara yang telah
ditetapkan oleh Undang-Undang yayasan.
Persyaratan pendaftaran merupakan suatu hal yang kontradiktif, karena justru
di dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan tidak ada
kewajiban bagi yayasan yang baru untuk didaftarkan setelah mendapatkan

54
Ibid., hal. 3.

56
pengesahan dari Menteri. Kewajiban yang dibebankan kepada yayasan setelah
disahkan hanyalah kewajiban untuk memgumumkan dalam Berita Negara.
Seharusnya penekanan aturan peralihan bukan pada pendaftaran, melainkan
pada syarat jumlah minimal kekayaan yang dimilkinya serta prospek kegiatan
yayasan itu sendiri. Bagi yayasan yang tidak memenuhi syarat jumlah minimal
kekayaan yang harus dimiliki oleh yayasan dan atau prospek kegiatan yayasan tidak
mungkin untuk dikembangkan, yayasan tersebut dapat dibubarkan. Dengan demikian
kerugian yang mungkin timbul baik bagi organ yayasan maupun dengan pihak ketiga
dapat diminimalisir.
55

Cara lain yang ditempuh adalah mengubah bentuk yayasan menjadi
perkumpulan. Pengubahan bentuk ini tidak menimbulkan persoalan yang lebih besar,
sebab selain perkumpulan merupakan badan hukum, juga karakter perkumpulan tidak
jauh berbeda dengan yayasan di masa sebelum Undang-Undang Yayasan. Pada
perkumpulan tidak ada larangan bagi pengurus untuk memgambil manfaat dari
keuntungan yang diperoleh perkumpulan tersebut. Dengan demikian, bagi pengurus
yang memiliki motif mendirikan badan hukum tidak semata-mata untuk tujuan sosial,
dapat mewujudkan keinginannya dengan mengambil memfaat tanpa merasa was-was
atau takut akan sanksi hukum.
56


55
Ibid., hal. 5.
56
Anwar Borahima, Problematika Pendirian Yayasan di Indonesia, Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin, Makassar, 2005, hal. 5.

57
C. Pengaturan Pembayaran Kewajiban Pajak di Indonesia
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan Undang-Undang
sehingga dapat dipaksakan dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung. Pajak
dipungut penguasa berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya produksi
barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.
57

Lembaga Pemerintah yang mengelola perpajakan Negara di Indonesia adalah
Direktorat J enderal Pajak (DJ P) yang merupakan salah satu Direktorat J enderal yang
ada di bawah naungan Departemen Keuangan Republik Indonesia.
Terdapat bermacam-macam batasan atau defenisi tentang pajak yang
dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah menurut P.J .A. Andriani:
Pajak adalah iuran masyarakat kepada Negara atau yang dapat dipaksakan
yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan
umum atau undang-undang dengan tidak mendapat prestasi kembali yang
langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas Negara untuk
menyelenggarakan pemerintahan.
58

Kemudian, menurut Rochmat Soemitro, Pajak adalah peralihan kekayaan
dari pihak rakyat kepada kas Negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan
surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk
membiayai public investment.
59

Sedangkan menurut Sommerfeld Ray M. Anderson Herschel M dan Brock
Horace R:

57
I.G. Rai Widjaja, Penetapan Pajak di Indonesia, Dajambatan, J akarta, 2005, hal. 148.
58
P.J .A. Adriani, dalam Bohari, Op. Cit., hal. 31.
59
Rochmat Soemitro, Op. Cit., hal. 8.

58
Pajak adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor
pemerintah, bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan
berdasarkan ketentuan yang ditetapkan lebih dahulu, tanpa mendapat imbalan
yang langsung dan proposional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-
tugasnya untuk menjalankan pemerintahan.
60

Pajak dari perspektif ekonomi dipahami sebagai beralihnya sumber daya dari
sektor privat kepada sektor publik. Pemahaman ini memberikan gambaran bahwa
adanya pajak menyebabkan dua situasi menjadi berubah. Pertama, berkurangnya
kemampuan individu dalam menguasai sumber daya untuk kepentingan penguasaan
barang dan jasa. Kedua, bertambahnya kemampuan keuangan Negara dalam
penyediaan barang dan jasa publik yang merupakan kebutuhan masyarakat.
Sementara pemahaman pajak dari perspektif hukum menurut Soemitro di atas,
merupakan suatu perikatan yang timbul karena adanya undang-undang yang
menyebabkan timbulnya kewajiban warga Negara untuk menyetorkan sejumlah
penghasilan tertentu kepada Negara, Negara mempunyai kekuatan untuk memaksa
dan uang pajak tersebut harus dipergunakan untuk penyelenggaraan pemerintahan.
Dari pendekatan hukum ini memperlihatkan bahwa pajak yang dipungut harus
berdasarkan undang-undang sehingga menjamin adanya kepastian hukum, baik bagi
fiskus sebagai pengumpul pajak maupun wajib pajak sebagai pembayar pajak.
Menurut Pasal 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang
terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan undang-

60
Sommerfeld Ray M, Anderson Herzhel M dan Brock Horace R, dalam I.G. Rai Widjaja,
hal. 149.

59
undang, dengan tidak mendapat timbal balik secara langsung dan digunakan untuk
keperluan Negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Dari berbagai defenisi yang diberikan terhadap pajak, baik pengertian secara
ekonomis yaitu pajak sebagai pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor
pemerintah atau pengertian secara yuridis dimana pajak adalah iuran yang dapat
dipaksakan, dapat ditarik kesimpulan tentang ciri-ciri yang terdapat pada pengertian
pajak antara lain sebagai berikut:
1. Pajak dipungut berdasarkan Undang-Undang. Asas ini sesuai dengan perubahan
ketiga Undang-Undang Dasar Tahun 1945 Pasal 23 A yang menyatakan pajak
dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk keperluan Negara diatur dalam
undang-undang.
2. Tidak mendapatkan jasa timbal balik atau kontraprestasi perseorangan yang dapat
ditunjukkan secara langsung. Misalnya orang yang taat membayar pajak
kenderaan bermotor akan melalui jalan yang sama kualitasnya dengan orang yang
tidak membayar pajak kenderaan bermotor.
3. Pemungutan pajak diperuntukan bagi keperluan pembiayaan umum Pemerintah
dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin maupun
pembangunan.
4. Pemungutan pajak dapat dipaksakan. Pajak dapat dipaksakan apabila wajib pajak
tidak memenuhi kewajiban perpajakan dan dapat dikenakan sanksi sesuai
peraturan perundang-undangan.

60
Oleh karena itu, menurut Sugondo Marasugindo:
Selain fungsi budgeter atau anggaran yaitu fungsi mengisi kas Negara/
anggaran Negara yang diperlukan untuk menutup pembiayaan
penyelenggaraan pemerintahan, pajak juga berfungsi sebagai alat untuk
mengatur atau melaksanakan kebijakan Negara dalam lapangan ekonomi dan
sosial yaitu fungsi mengatur atau regulatif.
61

Lebih lanjut dinyatakan Sugondo Marasugindo:
Pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara,
khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan
sumber pendapatan Negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk
pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai
beberapa fungsi, yaitu fungsi anggaran atau budgeter, sebagai sumber
pendapatan Negara, pajak berfungsi untuk membiayai pengeluaran-
pengeluaran Negara.
62

Menjalankan tugas tugas-tugas rutin Negara dan melaksanakan pembangunan,
Negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pajak. dewasa
ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti pembelanjaan pegawai, belanja
barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk pembiayaan pembangunan, uang
dikeluarkan dari tabungan Pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi
pengeluaran rutin. Tabungan Pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan
sesuai dengan kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini
terutama diharapkan dari sektor pajak.
Fungsi mengatur atau regulerend, pemerintah bisa mengatur pertumbuhan
ekonomi melalui kebijakan pajak. dengan fungsi mengatur, pajak bisa digunakan
sebagai alat untuk mencapai tujuan. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman

61
Sugondo Marsugindo, Asas Pemungutan Pajak di Indonesia, FE undip, Semarang, 2005,
hal. 35.
62
Ibid., hal. 36.

61
modal. Baik dalam negeri maupun luar negeri. Diberikan berbagai macam fasilitas
keringanan pajak. dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah
menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.
Fungsi stabilitas. Dengan adanya pajak, pemerintah memiliki dana untuk
menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga sehingga inflasi
dapat dikendalikan. Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan mengatur
peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak yang efektif dan
efesien.
Fungsi redistribusi pendapatan, pajak yang sudah dipungut oleh Negara akan
digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum, termasuk juga untuk
membiayai pembangunan sehingga dapat membuka kesempatan kerja yang pada
akhirnya akan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Namun demikian
menurut Tarman Susilo:
Syarat pemungutan pajak. tidaklah mudah untuk membebankan pajak pada
masyarakat. Bila terlalu tinggi, masyarakat akan enggan membayar pajak.
namun bila terlalu rendah, maka pembangunan tidak akan berjalan karena
dana yang kurang. Agar tidak menimbulkan berbagai masalah, maka
pemungutan pajak harus memenuhi syarat yaitu pemungutan pajak harus adil.
Seperti halnya produk hukum pajak pun mempunyai tujuan untuk
menciptakan keadilan dalam hal pemungutan pajak. adil dalam perundang-
undangan maupun adil dalam pelaksanaannya. Dengan mengatur hak dan
kewajiban para wajib pajak,pajak diberlakukan bagi setiap warga Negara yang
memenuhi syarat sebagai wajib pajak. sanksi atas pelanggaran pajak
diberlakukan secara umum sesuai dengan berat ringannya.
63

Sesuai dengan Pasal 23 Undang-Undang Dasar Tahun 1945 yang berbunyi :
pajak dan pungutan yang bersifat untuk keperluan Negara diatur dengan undang-

63
TArman Susillo, Pentingnya Pajak Untuk Pembangunan, Bina Media, J akarta, 2005,
hal. 32.

62
undang, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan undang-undang
tentang pajak yaitu pemungutan pajak yang dilakukan oleh Negara yang berdasarkan
undang-undang tersebut harus dijamin kelancarannya. J aminan hukum bagi para
wajib pajak untuk tidak diperlakukan secara umum.
64

J aminan hukum akan terjaganya kerahasian bagi para wajib pajak. pungutan
pajak tidak menggangu perekonomian. Pemungutan pajak harus diusahakan
sedemikian rupa agar tidak menggangu kondisi peekonomian, baik kegiatan produksi,
perdagangan maupun jasa.
Pemungutan pajak jangan sampai merugikan kepentingan masyarakat dan
menghambat usaha masyarakat pemasok pajak, terutama masyarakat kecil dan
menengah.
Pemungutan pajak harus efisien. Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam rangka
pemungutan pajak harus diperhitungkan. J angan sampai pajak yang diterima lebih
rendah daripada biaya pengurusan pajak tersebut. Oleh karena itu, system
pemungutan pajak harus disederhanakan dan mudah untuk dilaksanakan. Dengan
demikian, wajib pajak tidak akan mengalami kesulitan dalam pembayaran pajak baik
dari segi penghitungan maupun dari segi waktu.
Sistem pemungutan pajak harus sederhana. Bagaimana pajak dipungut akan
sangat menentukan keberhasilan dalam pungutan pajak. sistem yang sederhana akan
memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak yang harus dibiayai
sehingga akan memberikan dampak positif bagi para wajib pajak untuk meningkatkan

64
Ibid., hal. 33.

63
kesadaran dalam pembayaran pajak. sebaliknya, jika system pemungutan pajak rumit,
orang akan semakin enggan membayar pajak.
Bea materai disederhanakan dari 167 macam tarif menjadi 2 macam tarif.
Tarif PPN yang beragam disederhanakan menjadi 1 tarif yaitu 10 % pajak
perseorangan untuk badan dan pajak pendapatan untuk perseorangan disederhanakan
menjadi pajak penghasilan (PPh) yang berlaku bagi badan maupun perseorangan atau
pribadi.
Selanjutnya, terdapat beberapa asas pemungutan pajak yang dikemukakan
para ahli, antara lain menurut Adam Smith dalam bukunya wealth of nation dengan
ajaran yang terkenal the four maxims, asas pemungutan pajak adalah sebagai berikut:
1. Asas equality atau asas keseimbangan dengan kemampuan atau asas
keadilan; pemungutan pajak yang dilakukan oleh Negara harus sesuai
dengan kemampuan dan penghasilan wajib pajak. Negara tidak boleh
bertindak diskriminatif terhadap wajib pajak.
2. Asas certainty atau asas kepastian houum; semua pungutan harus
berdasarkan undang-undang, sehingga bagi yang melanggar akan dapat
dikenai sanksi hukum.
3. Asas convenience of payment atau asas pemungutan pajak yang tepat
waktu atau asas kesenangan; pajak harus dipungut pada saat yang tepat
bagi wajib pajak atau saat yang paling baik, misalnya disaat wajib pajak
baru menerima penghasilannya atau disaat wajib pajak menerima hadiah.
4. Asas efficiency atau asas efisien atau asas ekonomis; biaya pemungutan
pajak diusahakan sehemat mungkin, jangan sampai terjadi biaya
pemungutan pajak lebih besar dari hasil pemungutan pajak.
65

Menurut W.J . Langen, asas pemungutan pajak adalah sebagai berikut:
1. Asas daya pikul; besar kecilnya pajak yang dipungut harus berdasarkan
besar kecilnya penghasilan wajib pajak. semakin tinggi penghasilan maka
semakin tinggi pajak yang dibebankan.

65
Adam Smith dalam Suprianoto, Penetapan Pajak, Djambatan, Jakarta, 2002, hal. 5.

64
2. Asas manfaat; pajak yang dipungut oleh Negara harus digunakan untuk
kegiatan-kegiatan yang bermamfaat untuk kepentingan umum.
3. Asas kesejahteraan; pajak yang dipungut oleh Negara digunakan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat.
4. Asas kesamaan; dalam kondisi yang sama antara wajib pajak yang satu
dengan yang lain harus dikenakan pajak dalam jumlah yang sama atau
diperlakukan sama.
5. Asas beban yang sekecil-kecilnya; pemungutan pajak diusahakan sekecil-
kecilnya atau serendah-rendahnya jika dibandingkan dengan nilai objek
pajak. sehingga tidak memberatkan para wajib pajak.
66

Menurut Adolf Wagner, asas pemungutan pajak adalah sebagai berikut:
1. Asas politik financial; pajak yang dipungut Negara jumlahnya memadai
sehingga dapat membiayai atau mendorong semua kegiatan Negara.
2. Asas ekonomi; penentuan objek pajak harus tepat waktu misalnya pajak
pendapatan, pajak untuk barang-barang mewah. Asas keadilan yaitu
pungutan pajak berlaku secara umum tanpa diskriminasi, untuk kondisi
yang sama diperlakukan sama pula.
3. Asas administrasi; menyangkut masalah kepastian perpajakan atau kapan,
dimana harus membayar pajak, keluwesan penagihan dan bagaimana cara
membayarnya dan besarnya biaya pajak. asas yuridis segala pungutan
pajak harus berdasarkan undang-undang.
67

Agar Negara dapat mengenakan pajak kepada warganya atau kepada pribadi
atau badan lain yang bukan warganya, tetapi mempunyai keterkaitan dengan Negara
tersebut, tentu saja harus ada ketentuan-ketentuan yang mengaturnya. Sebagai contoh
di Indonesia, secara tegas dinyatakan dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Dasar
1945 bahwa segala pajak untuk keuangan Negara ditetapkan berdasarkan undang-
undang. Untuk dapat menyusun suatu undang-undang perpajakan, diperlukan asas-
asas atau dasar-dasar yang akan dijadikan landasan oleh Negara untuk mengenakan
pajak.

66
W.J . Langen, dalam Suprianoto, Op. Cit., hal. 6.
67
Adolf Wagner, dalam Suprionoto, Op. Cit., hal. 7.

65
Terdapat beberapa asas yang dapat dipakai oleh Negara sebagai asas dalam
menentukan wewenangnya untuk mengenakan pajak, khususnya untuk pengenaan
pajak penghasilan.
Asas utama yang paling sering digunakan oleh Negara sebagai landasan untuk
mengenakan pajak adalah asas domisili, asas sumber, dan asas kebangsaan atau
nasionalitas.
Asas domisili atau disebut juga asas kependudukan atau domicile/residence
principle, berdasarkan asas ini Negara akan mengenakan pajak atas suatu penghasilan
yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan, apabila untuk kepentingan
perpajakan orang pribadi tersebut merupakan penduduk atau berdomisili di Negara
itu atau apabila badan yang bersangkutan berkedudukan di Negara itu.
68

Dalam kaitan ini, tidak dipersoalkan dari mana penghasilan yang akan
dikarenakan pajak itu berasal. Itulah sebabnya bagi Negara yang menganut asas ini,
dalam system pengenaan pajak terhadap penduduknya akan menggabungkan asas
domisili (kependudukan) dengan konsep pengenaan pajak atas penghasilan baik yang
diperoleh di Negara itu maupun penghasilan yang diperoleh di luar negeri.
Asas sumber, Negara yang menganut asas sumber akan mengenakan pajak
atas suatu penghasilan yang diterima atau diperoleh orang pribadi atau badan hanya
apabila penghasilan yang akan dikenakan pajak itu diperoleh atau diterima oleh orang
pribadi atau badan yang bersangkutan dari suber-sumber yang berada di Negara itu.
69


68
Mardiasmo, Perpajakan, Edisi Revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006, hal. 7
69
Indra Ismawan, Memahami Reformasi Perpajakan 2000, Media Komputindo, J akarta,
2001, hal.5

66
Dalam asas ini, tidak menjadi persoalan mengenai siapa dan apa status dari
orang atau badan yang memperoleh penghasilan tersebut sebab yang menjadi
landasan pengenaan pajak adalah objek pajak yang timbul atau berasal dari Negara
itu. Tenaga kerja asing bekerja di Indonesia maka dari penghasilan yang didapat di
Indonesia akan dikenakan pajak oleh Pemerintah Indonesia.
Asas kebangsaan atau asas nasionalitas atau disebut juga asas
kewarganegaraan. Dalam asas ini, yang menjadi landasan pengenaan pajak adalah
status kewarganegaraan dari orang atau badan yang memperoleh penghasilan.
Berdasarkan asas ini, tidaklah menjadi persoalan dari mana penghasilan yang akan
dikenakan pajak berasal.
Seperti halnya dalam asas domisili, sistem pengenaan pajak berdasarkan asas
nasionalitas ini dilakukan dengan cara menggabungkan asas nasionalitas dengan
konsep pengenaan pajak.
Terdapat beberapa perbedaan prinsipil antara asas domisili atau
kependudukan dan asas nasionalitas atau kewarganegaraan di satu pihak, dengan asas
sumber di pihak lainnya, sebagai berikut:
Pertama, pada kedua asas yang disebut pertama, kriteria yang dijadikan
landasan kewenangan Negara untuk mengenakan pajak adalah status subjek yang
akan dikenakan pajak, yaitu apakah yang bersangkutan berstatus sebagai penduduk
atau berdomisili atau berstatus sebagai warga Negara atau dalam asas nasionalitas. Di
sini, asal muasal penghasilan yang menjadi objek pajak tidaklah begitu penting.
Sementara itu, pada asas sumber, yang menjadi landasannya adalah status objeknya,
yaitu apakah objek yang akan dikenakan pajak bersumber dari Negara itu atau tidak.

67
Status dari orang atau badan yang memperoleh atau menerima penghasilan tidak
begitu penting.
Kedua, pada kedua asas yang disebut pertama, pajak akan dikenakan terhadap
penghasilan yang diperoleh di mana saja, sedangkan pada asas sumber, penghasilan
yang dapat dikenakan pajak hanya terbatas pada penghasilan-penghasilan yang
diperoleh dari sumber-sumber yang ada di Negara yang bersangkutan. Kebanyakan
Negara, tidak hanya mengadopsi salah satu asas saja, tetapi mengadopsi lebih dari
satu asas, bisa gabungan asas domisili dengan asas sumber, gabungan asas
nasionalitas dengan asas sumber, bahkan bisa gabungan ketiganya sekaligus.
Dari ketentuan-ketentuan yang dimuat dalam Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1994, khususnya yang mengatur mengenai subjek pajak dan objek pajak, dapat
disimpulkan bahwa Indonesia menganut asas domisili dan asas sumber sekaligus
dalam system perpajakannya. Indonesia juga menganut asas kewarganegaraan yang
parsial, yaitu khusus dalam ketentuan yang mengatur mengenai pengecualian subjek
pajak untuk orang pribadi.
J epang, misalnya untuk individu yang merupakan penduduk menggunakan
asas domisli, di mana berdasarkan asas ini seorang penduduk jepang berkewajiban
membayar pajak penghasilan atas keseluruhan panghasilan yang diperolehnya, baik
yang diperoleh di jepang maupun di luar jepang. Sementara itu, untuk yang bukan
penduduk jepang, dan badan-badan usaha luar negeri berkewajiban untuk membayar
pajak penghasilan atas setiap penghasilan yang diperoleh dari sumber-sumber di
jepang.

68
Australia, untuk semua Badan Usaha Milik Negara maupun swasta yang
berkedudukan di Australia, dikenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperoleh
dari sumber penghasilan. Sementara itu, untuk badan usaha luar negeri, hanya
dikenakan pajak atas penghasilan dari sumber yang ada di Australia.
Ada beberapa teori yang mendasar adanya pemungutan pajak yaitu teori
asuransi, menurut teori ini, Negara mempunyai tugas untuk melindungi warganya
dari segala kepentingannya baik keselamatan jiwanya maupun keselamatan harta
bendanya.
70

Untuk perlindungan tersebut diperlukan biaya seperti layaknya dalam
perjanjian asuransi diperlukan adanya pembayaran premi. Pembayaran pajak ini
dianggap sebagai pembayaran premi kepada Negara. Teori ini banyak ditentang
karena Negara tidak boleh disamakan dengan perusahaan asuransi.
Selanjutnya teori kepentingan, di mana menurut teori ini, dasar pemungutan
pajak adalah adanya kepentingan dari masing-masing warga Negara. Termasuk
kepentingan dalam perlindungan jiwa dan harta. Semakin tinggi tingkat kepentingan
perlindungan, maka semakin tinggi pula pajak yang harus dibayarkan.
Teori ini banyak ditentang, karena pada kenyataannya bahwa tingkat
kepentingan perlindungan orang miskin lebih tinggi daripada orang kaya. Ada
perlindungan jaminan sosial, kesehatan, dan lain-lain. Bahkan orang yang miskin
justru dibebaskan dari beban pajak.

70
R. Santoso Brotodiharjo, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, Djambatan, J akarta, 2002, hal. 52.

69
Target penerimaan pajak Negara Indonesia di sektor pajak tahun 2006 secara
nasional sebesar Rp. 362 triliyun atau mengalami peningkatan 20% dari tahun 2005.
Angka tersebut terdiri Rp. 325 triliyun dari pajak dan Rp. 37 triliyun dari pajak
penghasilan (PPh) Migas.
Target penerimaan Negara dari perpajakan dalam APBN 2006 mencapai
Rp. 402,1 triliyun. Target penerimaan itu antara lain berasal dari Pajak Penghasilan
(PPh) Rp. 198,22 triliyun, Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang
Mewah (PPN dan PPnBM) Rp. 126,76 triliyun, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)
Rp. 15,67 triliyun, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Rp. 5,06
triliyun, penerimaan pajak lainnya Rp. 2,76 triliyun. Pendapatan pajak itu sudah
termasuk pendapatan cukai Rp. 36,1 triliyun, bea masuk Rp. 17,04 triliyun dan
pendapatan pungutan ekspor Rp. 398,1 miliar. Total penerimaan pajak dalam 5 tahun
terakhir (2001-2005) sudah mencapai Rp. 1,040 triliyun.
71

J enis-jenis pajak untuk daerah Propinsi maupun Kabupaten/Kota,
sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah (UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah), adalah sebagai berikut:
72

(1) J enis Pajak Propinsi terdiri dari:
a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air
Permukaan.

71
Target Penerimaan Pajak di Indonesia, Dipublikasikan oleh Media Indonesia pada tanggal
28 April 2001.
72
Pasal 2 ayat (1), dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

70
(2) J enis pajak Kabupaten/Kota terdiri dari :
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan J alan;
f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C;
g. Pajak Parkir.
Ketentuan tentang objek, subjek, dan dasar pengenaan pajak sebagaimana dimaksud
di atas diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Selanjutnya dalam undang-undang pajak dan retribusi daerah tersebut
ditentukan bahwa dengan Peraturan Daerah dapat ditetapkan jenis pajak Kabupaten/
Kota selain yang ditetapkan di atas yang memenuhi kriteria sebagai berikut:
73

a. bersifat pajak dan bukan retribusi;
b. objek pajak terletak atau terdapat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang
bersangkutan dan mempunyai mobilitas yang cukup rendah serta hanya
melayani masyarakat di wilayah Daerah Kabupaten/Kota yang
bersangkutan;
c. objek dan dasar pengenaan pajak tidak bertentangan dengan kepentingan
umum;
d. objek pajak bukan merupakan objek pajak Propinsi dan/atau objek pajak
Pusat;
e. potensinya memadai;
f. tidak memberikan dampak ekonomi yang negatif;
g. memperhatikan aspek keadilan dan kemampuan masyarakat; dan
h. menjaga kelestarian lingkungan.
Dengan demikian dari ketentuan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah di atas, maka daerah dapat menetapkan jenis pajak selain dari yang
sudah ditentukan dalam undang-undang dengan suatu Peraturan Daerah.

73
Pasal 2 ayat (3) dan ayat (4) Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

71
Ketentuan daerah untuk membuat suatu Peraturan Daerah sebagai kebijakan
pajak dan retribusi daerah demi peningkatan pendapatan daerah sudah diatur dalam
Undang-Undang Otonomi Daerah Nomor 22 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, kemudian diubah lagi dengan
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah (UU Otonomi
Daerah), sebagai berikut:
74

Penyelenggara pemerintahan daerah dalam melaksanakan tugas, wewenang,
kewajiban, dan tanggungjawabnya serta atas kuasa peraturan perundang-
undangan yang lebih tinggi dapat menetapkan kebijakan daerah yang
dirumuskan antara lain dalam peraturan daerah, peraturan kepala daerah, dan
ketentuan daerah lainnya. Kebijakan daerah dimaksud tidak boleh
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan
kepentingan umum serta peraturan Daerah lain.
Peraturan daerah dibuat oleh DPRD bersama-sama Pemerintah Daerah,
artinya prakarsa dapat berasal dari DPRD maupun dari Pemerintah Daerah.
Khusus peraturan daerah tentang APBD rancangannya disiapkan oleh
Pemerintah Daerah yang telah mencakup keuangan DPRD, untuk dibahas
bersama DPRD. Peraturan daerah dan ketentuan daerah lainnya yang bersifat
mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah.
Peraturan daerah tertentu yang mengatur pajak daerah, retribusi daerah,
APBD, perubahan APBD, dan tataruang, berlakunya setelah melalui tahapan
evaluasi oleh Pemerintah. Hal itu ditempuh dengan pertimbangan antara lain
untuk melindungi kepentingan umum, menyelaraskan dan menyesuaikan
dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan
Daerah lainnya, terutama peraturan daerah mengenai pajak daerah dan
retribusi daerah.

Selanjutnya dalam Pasal 2A UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah,
ditentukan hasil penerimaan pajak Kabupaten diperuntukkan paling sedikit 10%
(sepuluh persen) bagi Desa di wilayah Daerah Kabupaten yang bersangkutan yang

74
Penjelasan Umum angka 7 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah.

72
ditetapkan dengan Peraturan Daerah Propinsi dengan memperhatikan aspek
pemerataan dan potensi antar Daerah Kabupaten/Kota. Sedangkan untuk Bagian Desa
ditetapkan dengan Peraturan Daerah Kabupaten dengan memperhatikan aspek
pemerataan dan potensi antar Desa. Penggunaan bagian Daerah Kabupaten/Kota ini
ditetapkan sepenuhnya oleh Daerah Kabupaten/Kota.
Demikian juga halnya dengan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang atas dasar
ketentuan Undang-Undang Otonomi Daerah, dan Undang-Undang Pajak dan
Retribusi Daerah tersebut telah menerbitkan suatu Peraturan Daerah Kabupaten Deli
Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan di Kabupaten Deli Serdang.
Lahirnya Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000
tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli Serdang
dapat dilihat dari konsideransnya, bahwa lahirnya Peraturan Daerah tersebut
merupakan dari dampak lahirnya Undang-Undang Pemerintahan Daerah, yang
memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mengali sumber-sumber
Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk menunjang keuangan daerah dalam rangka
pelaksanaan pembangunan, sehingga timbul ide bagi Pemerintah daerah Kabupaten
Deli Serdang untuk menggali potensi daerah dalam rangka meningkatkan Pendapatan
Asli Daerah (PAD) dalam menunjang perekonomian di Kabupaten Deli Serdang,
salah satunya adalah dengan membuat Produk Peraturan Daerah Nomor 26 tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan.

73
Peraturan Daerah tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan
dimaksudkan untuk membatasi pemakaian lahan yang tidak produktif. Kuburan yang
dikenakan pajak yaitu kuburan yang melebihi ukuran yang diatur dalam Peraturan
Daerah tersebut.
75
Kalau lebih dari ukuran itu dikenakan pajak karena dianggap
kemewahan. Ketentuan ini membatasi agar areal yang produktif jangan dijadikan
kuburan sehingga tidak produktif lagi. Namun demikian, kondisi Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli Serdang hingga saat ini realisasi
pajaknya masih nihil, yaitu dari Rp. 150.000.000,- yang ditargetkan, belum seorang
pun wajib pajak (WP) membayar pajaknya, padahal di kawasan Kabupaten Deli
Kemewahan/Penghiasan Kuburan semakin menjamur.
Berdasarkan Pasal 3 Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26
Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan disebutkan
bahwa yang menjadi subjek pajak adalah orang ataupun badan yang bertanggung
jawab atas pembuatan kuburan dan kemewahan/Penghiasan Kuburan atau walinya/
ahli warisnya.
Subjek pajak yang dimaksud dalam Peraturan daerah tersebut adalah ahli
waris dari yang meninggal ataupun suatu badan yang bertanggung jawab ataupun
yang menyuruh melakukan pembuatan kuburan, dengan demikian tanggung jawab
Yayasan hanya sebagai pemungut pajak dan bukan sebagai pembayar pajak

75
Pasal 1 huruf f Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan disebutkan, Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan adalah pungutan daerah setiap kuburan yang melebihi panjang 2 meter x lebar 1,75 meter.
Kemudian dalam Pasal 1 huruf g disebutkan dikenakan pajak atas bangunan diatas kuburan yang
melebihi ukuran panjang 2 meter, lebar 1,75 meter dan tinggi 0,50 meter.

74
dikarenakan yayasan-yayasan yang ada di Kabupaten Deli Serdang hanya sebagai
penyedia lahan pekuburan dan bukan sebagai pembuat kuburan yang dimaksudkan
dalam Peraturan daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan tersebut.
Keberadaan Yayasan Pengelola Pekuburan Tionghoa ini sebagai pemungut
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan ini didasari adanya kesepakatan
antara Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dengan Pihak Yayasan, karena
Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang didalam melaksanakan Perda Kabupaten
Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 mengalami kesulitan melakukan pengutipan
pajak kepada ahli waris yang meninggal tersebut, yang akhirnya pajak ini
membebankan Yayasan dalam melakukan pembayaran pajak tersebut.
J adi, kedudukan Yayasan Pengelola Pekuburan Tionghoa dalam Perda tersebut
bukanlah sebagai subjek Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan yang
dimaksud, tetapi hanya mewakili ahli waris dalam melakukan pembayaran pajak
kepada Pemerintah Daerah Deli Serdang dengan memungut pajak tersebut dari
ahli waris.
Undang-undang menentukan, dalam pembayaran pajak, Wajib Pajak dapat
diwakili atau dikuasakan dengan persyaratan sebagaimana ditentukan dalam Pasal 32
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan,
ditentukan:

75
(1) Dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili, dalam
hal:
a. badan oleh pengurus;
b. badan dalam pembubaran atau pailit oleh orang atau badan yang di
bebani untuk melakukan pemberesan;
c. suatu warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya,
pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta peninggalannya;
d. anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam
pengampuan oleh wali atau pengampunnya.
(2) Wakil sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) bertanggungjawab secara
pribadi dan atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang,
kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Direktur J enderal
Pajak, bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin
untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang tersebut.
(3) Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat
kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
(3a) Kuasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) harus memenuhi
persyaratan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
(4) Termasuk dalam pengertian pengurus sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) huruf a adalah orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang
ikut menentukan kebijaksanaan dan atau mengambil keputusan dalam
menjalankan perusahaan.
Kemudian dalam Pasal 33 UU Pajak Daerah dan Retribusi Daerah tersebut
ditentukan: Pembeli Barang Kena Pajak atau penerima J asa Kena Pajak sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Tahun 1984 dan
perubahannya bertanggungjawab secara renteng atas pembayaran pajak, sepanjang
tidak dapat menunjukkan bukti bahwa pajak telah dibayar.
Ketentuan pasal di atas memberikan tanggung jawab secara renteng atas
pembayaran pajak pertambahan nilai bagi pembeli atau penerima jasa kena pajak. Hal
ini tentunya berbeda dengan kedudukan Yayasan dalam kaitan pembayaran Pajak
Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan yang diatur dalam Perda Kabupaten Deli

76
Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tersebut, karena Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan itu bukan sebagaimana pajak pertambahan nilai yang
dimaksud.
D. Probelamtika Pelaksanaan dan Tanggung Jawab Yayasan Pengelola Tanah
Pekuburan Dalam Pembayaran Pajak Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun
2000 di Kabupaten Deli Serdang
Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, lahirnya Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli Serdang sebagai upaya pemerintah daerah
Kabupaten Deli Serdang menggali sumber-sumber PAD untuk menunjang keuangan
daerah dalam rangka pelaksanaan pembangunan, yang pada akhirnya menuai protes
dari masyarakat etnis Tionghoa yang ada di Kabupaten Deli Serdang.
Penolakan pembayaran pajak kuburan ini diakibatkan karena pelaksanaan
Perda yang dianggap hanya untuk pekuburan Tionghoa juga sangat terkait dengan
hubungan hukum antara ahli waris yang meninggal dengan yayasan pengelola tanah
kuburan tersebut, serta tanggung jawab yayasan pengelola tanah kuburan dalam
membayar kewajiban pajak berdasarkan Peraturan Daerah tersebut.
Sebanyak 12 yayasan pengelola tanah pekuburan Tionghoa menolak
pemberlakuan pajak atas kuburan mewah di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera
Utara, alasan penolakan karena mereka menilai peraturan daerah itu tidak mempunyai
dasar hukum yang kuat, tidak ada aturannya pajak diberlakukan pada tempat kuburan
mewah.

77
Selama ini Yayasan Angsa Pura mengordinasikan 12 yayasan pengelola
kuburan Tionghoa untuk mengurus pungutan pajak ke Pemerintah Kabupaten Deli
Serdang. Dalam pelaksanaannya, Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang 26
Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu hanya
diperuntukan bagi warga Tionghoa. Sementara tempat kuburan etnis lain yang juga
menempati tanah luas, bangunannya tinggi dan mewah, tidak dikenai pajak. Oleh
karena itu, pada saat ini yayasan menolak membayar pajak sehingga beban pajak
ditanggung oleh ahli waris. Padahal ahli waris keluarga Tionghoa yang mempunyai
kuburan berasal dari strata sosial yang berbeda.
76

Menurut Prayetno, selaku pelaksana Kepala Dinas Pendapatan Daerah
(Dispenda), realisasi yang kurang menggembarakan tersebut disebabkan adanya
penolakan sejumlah ahli waris maupun yayasan pengelola tanah pekuburan atas
penerapan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan. Nihilnya pemasukan Pajak
kuburan mewah pihak yang berkompeten atas kuburan-kuburan itu menolak untuk
melakukan pembayaran. Padahal, hingga kini Pemerintah Kabupaten Deli Serdang
masih tetap memberlakukan Peraturan Daerah tersebut. Polemik yang
berkepanjangan soal Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan antara warga dan
Pemerintah Kabupaten Deli Serdang sekarang sudah disikapi setahun belakangan.

76
Tarman Hartono, Peaturan Daerah Kuburan di Deli Serdang Diskriminatif, Harian
Analisa, tanggal 3 J uli 2008, hal. 8.

78
Bahkan, DPRD Kabupaten Deli Serdang melalui Panitia Khusus (Pansus) berencana
mengubah muatannya, terutama mengenai besarnya tarif. Namun hingga kini upaya
Panitia Khusus (Pansus) DPRD Kabupaten Deli Serdang tersebut mengalami
stagnasi.
77

Pada saat ini sedang dilakukan pembahasan revisi atas Peraturan Daerah
Nomor 26 Tahun 2000 yang tentunya adanya perubahan dalam pasal-pasalnya setelah
mendapat masukan dari masyarakat. Akan tetapi menurut Ketua Paguyuban Sosial
Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) apapun nama dan perubahan yang dilakukan
dalam pembahasan revisi Peraturan Daerah itu, selama ada pungutan atas kuburan
warga Tionghoa akan tetap menolak, bahkan warga Tionghoa akan membentuk Tim
Pencari Keadilan Perda Kuburan (TPKPK) untuk menyiapkan langkah hukum jika
peraturan daerah itu tidak dibatalkan.
78

Negara yang berhak memungut pajak itu, menurut penganut teori ini,
melindungi segenap rakyatnya. Namun teori ini mempunyai kelemahan-kelemahan
antara lain dengan eksistensi imbalan yang akan diberikan negara jika tertanggung
dalam hal ini wajib pajak menderita resiko. Sebab sebagaimana kenyataannya, negara
tidak pernah memberi uang santunan kepada wajib pajak yang tertimpa musibah.
Lagipula kalau ada imbalan dalam pajak, maka hal itu sebenarnya bertentangan
dengan unsur dalam defenisi pajak itu sendiri. Para penganut teori ini mengatakan,
bahwa negara berhak memungut pajak dari penduduknya, karena penduduk negara

77
Prayetno, Kadis Pendapatan Daerah Deli Serdang, Harian Medan Bisnis, Hari Selasa,
tanggal 22 J anuari 2006, hal. 3.
78
Karya Elly, Pejabat Sementara Ketua Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa, Harian
Analisa, Hari Rabu, tanggal 30 September 2005, hal. 3.

79
tersebut mempunyai kepentingan kepada negara. Makin besar kepentingan penduduk
kepada negara, maka makin besar pula perlindungan negara kepadanya.
Adapun teori bakti dapat dikatakan sama dengan teori kedaulatan negara pada
mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum. Penduduk harus tunduk atau patuh kepada
negara, karena negara sebagai suatu lembaga atau organisasi sudah eksis, sudah ada
dalam kenyataan. Teori bakti mengajarkan, bahwa penduduk adalah bagian dari suatu
negara; penduduk terikat pada keberadaan negara, karenanya penduduk wajib
membayar pajak, wajib berbakti kepada negara. Penganut teori bakti menganjurkan
untuk membayar pajak kepada negara dengan tidak bertanya-tanya lagi apa yang
menjadi dasar begi negara untuk memungut pajak. karena organisasi atau lembaga
yakni negara telah ada sebagai suatu kenyataan, maka penduduknya wajib secara
mutlak membayar pajak, wajib berbakti kepada negara.
Selain itu ada yang disebut teori daya pikul yang juga sebenarnya tidak
memberikan jawaban atas justifikasi pemungutan pajak. Teori ini hanya mengusulkan
supaya dalam memungut pajak pemerintah harus memperhatikan daya pikul dari
wajib pajak. jadi wajib pajak membayar pajak sesuai dengan daya pikulnya. Ajaran
teori ini ternyata masih dapat bertahan sampai sekarang. Yakni seorang wajib pajak
tidak akan dikenakan pajak penghasilan atas seluruh penghasilan kotornya. Suatu
jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan hidupnya haruslah dikeluarkan
terlebih dahulu sebelum dikenakan tarif pajak. jumlah yang dikeluarkan tersebut
disebut penghasilan tidak kena pajak, minimun kehidupan atau pendapatan bebas
pajak mininum of subsistence.

80
Oleh karena itu, berdasarkan teori tersebut, maka hubungan hukum antara ahli
waris yang meninggal dengan yayasan pengelola tanah pekuburan adalah tidak
terpisahkan, mengingat ahli waris orang yang meninggal ini yang melakukan
hubungan hukum ataupun kesepakatan untuk penguburan anggota keluarganya
dengan yayasan tersebut. Hubungan hukum antara yayasan dengan ahli waris dari
orang meninggal tersebut timbul dikarenakan adanya rasa kemanusiaan dan tanggung
jawab dalam bentuk moral dari suatu komunitas masyarakat dalam kehidupan
bermasyarakat sesuai dengan tradisi dan agama dari suatu komunitas masyarakat,
sehingga dengan adanya rasa dan kemanusiaan dan tanggung jawab tersebut
mengakibatkan lahirnya hubungan hukum antara suatu komunitas masyarakat yang
membentuk yayasan dengan masyarakat, yang tentunya sangat terkait dalam hal
kewajiban pembayaran pajak kuburan tersebut.
Pembayaran Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan dalam Perda
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 ini sangat terkait dengan hubungan
antara yayasan dengan ahli waris keluarga yang dikubur, karena dengan adanya
penolakan Yayasan untuk membayar pajak kuburan tersebut menyebabkan pajak
tersebut menjadi tanggung jawab ahli waris yang keluarganya ada di kuburan
Yayasan tersebut.
Sejauh ini upaya yang dapat dilakukan oleh Yayasan dalam hal tanggung
jawab pembayaran Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan tersebut adalah
melakukan kesepakatan dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang, bahwa
pembayaran pajak tersebut disesuaikan dengan kondisi ekonomi dari masing-masing

81
keluarga ahli waris yang keluarganya dikubur pada pekuburan yayasan tersebut.
Artinya yayasan tetap melakukan pengutipan pajak dari ahli waris untuk dibayarkan
kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Deli sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor
26 Tahun 2000 tersebut.


BAB III
KENDALA YAYASAN PENGELOLA TANAH PEKUBURAN DALAM
PEMBAYARAN PAJAK DI KABUPATEN DELI SERDANG
A. Problematika Yayasan Antara Badan Sosial dan Komersil
Indonesia adalah Negara yang kompleks. Bukan cuma berkenaan dengan
masalah sosial, politik dan kebudayaan, tapi persoalan hukum juga tak kalah
peliknya. Meski diberi label rakyat, bahkan ketuhanan, tetapi faktanya yang
melahirkan undang-undang di Indonesia adalah mesin politik. Karena itu di Negara
yang berpenduduknya kini lebih dari 200 juta ini sering terjadi perdebatan bahkan
demonstrasi menentang aturan pemerintah yang justru tidak memihak pada rasa
keadilan rakyatnya.
Pengertian materiil undang-undang adalah peraturan tertulis yang dibuat
penguasa baik pusat maupun daerah. Sedangkan dalam arti formil adalah peraturan
tertulis yang dibentuk pemerintah bersama DPR.
79
Ironisnya, jak jarang peraturan
dilahirkan bukan karena masyarakat memang memerlukan, melainkan untuk
komoditas politik atau kelompok tertentu saja. Demikian juga dalam pembentukan
yayasan.
Ada dua pemahaman tentang yayasan, pertama adalah yayasan dalam
pengertian foundation, seperti yayasan supersemar milik mantan Presiden Suharto,
ada juga yayasan sosial seperti yayasan pendidikan, yayasan marga atau kematian,
pemadam kebakaran dan lain-lain di Kalimantan Barat.

79
K. WAntjik, Perkembangan Perundang-Undangan (1966-1973), Pustaka Bangsa, J akarta,
1975, hal. 23.
Timbul Kusnadi : Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pemakaman Dalam
Pembayaran Pajak Di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun 2000
83
J ika Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan diberlakukan
terhadap jenis yayasan tersebut, maka akan sangat berlebihan dan memberi peluang
pada pemerintah untuk mengintervensi yayasan.
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan justru menambah
ruang konflik antara Perguruan Tinggi Swasta dengan yayasan, karena
mengeneralisasi semua jenis yayasan dari sudut pandang komersial. Bahkan
pengacara dan konsultasi hukum, RGS dan Mitra, J akarta dalam sebuah catatan
kakinya pernah mencatat kalau hasil survey yang dilakukan oleh LK2HE dan
pengadilan suka bumi disimpulkan kalau ketentuan undang-undang yayasan banyak
yang tidak membumi dan sulit untuk diterapkan.
80

Pemikiran di atas membawa kepada suatu pemahaman bahwa undang-undang
yayasan tidak sesuai dengan rasa keadilan masyarakat. Pemberlakuannya terkesan
dipaksakan. Kalau demikian para pengurus yayasan di Indonesia dihadapkan kepada
dua pilihan. Mengubah yayasan atau merubah undang-undang. J ika mengubah
undang-undang tentu saja dengan mengajukannya ke Mahkamah Konstitusi atau yang
disebut yudicial review. Sedangkan, jika merubah yayasan, misalnya menjadi sebuah
perkumpulan dapat saja dilakukan, tetapi saja memiliki resiko. Sebab undang-undang
tentang perkumpulan juga sedang dibahas.
Ada dua pengertian yayasan yaitu sebagai foundation dan sebagai
perkumpulan. Seharusnya undang-undang yayasan memperjelas pasal-pasalnya

80
Ketika Undang-Undang Yayasan Menuai Konflik, Kompas, tanggal23 April 2002, hal. 2.

84
supaya terdapat kepastian maupun keadilan hukum, bukannya menyama ratakan
pengertian tentang yayasan tersebut. Misalnya banyak sekali yayasan
pendidikan didirikan justru menggunakan dana pribadi. Di Pontianak, yayasan
Tionghoa jelas ada pemiliknya yaitu marga yang berdasarkan lineage atau garis
keturunan.
81

Mestinya dalam pembentukan undang-undang, para pembuat undang-undang
mengundang dan meminta pertimbangan dari pengurus-pengurus yayasan, ahli-ahli
bahasa seperti yang membuat kamus bahasa Indonesia.
Dalam undang-undang yayasan, dikatakan dalam yayasan tak boleh memiliki
anggota. J ika demikian, apakah yayasan Tionghoa termasuk yang tidak diatur oleh
undang-undang yayasan. Satu lagi cara bagi pemilik atau pengurus yayasan untuk
menyikapi persoalan ini adalah dengan melakukan penyesuaian. Artinya dengan cara
merubah AD atau ART dan menghapuskan keanggotaan. Ini juga menjadi masalah,
karena seperti dikatakan sebelumnya, umur yayasan sudah puluhan tahun. Sementara
undang-undang tentang yayasan baru saja dilahirkan pada tahun 2001 dan direvisi
tahun 2004.
82

Rasa keadilan yang tidak diurus dengan baik oleh Negara, menurut Toto
Suparto bakal menciptakan spiral kekerasan. Untuk itu Negara jangan egois. Karena
hakikatnya kepentingan rakyat adalah merasakan keadilan, maka Negara wajib

81
Martinus Pondang, Problematika Yayasan Tionghoa di Kalimantan Barat, Media
indonesia, tanggal 6 April 2002, hal. 6.
82
W. Suwito, Ketua DPD Serikat Pengacara Indonesia Kalimantan Barat, Undang-Undang
Yayasan dan Permasalahannya, J umat, 2 Februari 2007. hal. 15

85
memberika keadilan itu pada rakyatnya. Bukan sebaliknya, melahirkan legitimasi
yang justru melukai rasa keadilan itu sendiri.
83

B. Yayasan Sebagai Subjek Pajak
Secara umum, penghasilan yayasan berasal dari sumbangan dan dari kegiatan
yang dilakukannya. Penghasilan yayasan yang berasal dari sumbangan dikecualikan
dari pengenaan pajak atau bukan menjadi objek pajak sepanjang diterima dari pihak
yang tidak memiliki hubungan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan
dengan yayasan.
Terhadap penghasilan yayasan yang berasal dari kegiatan yang bersifat
komersil seperti penjualan buku, berlaku ketentuan perpajakan yang sama dengan
apabila kegiatan tersebut dilakukan oleh badan usaha. Seperti kewajiban untuk
membayar pajak penghasilan atas laba bersih yang diperoleh dan juga kewajiban
untuk memungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN) jika atas kegiatan tersebut terutang
dan memenuhi batasan untuk dikukuhkan sebagai pengusaha kena pajak.
Perlu untuk dicermati bahwa sumbangan yang bukan menjadi objek pajak
penghasilan adalah hanya atas sumbangan yang memenuhi kriteria tersebut di atas.
Seandainya yayasan menerima sumbangan dari pihak yang ada hubungan usaha,
pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan dengan yayasan, maka sumbangan tersebut
menjadi terutang pajak penghasilan.

83
Toto Suparto, dalam Ibid., hal. 15.

86
Pembentukan yayasan oleh perusahaan berpotensi untuk dianggap adanya
hubungan penguasaan antara yayasan yang didirikan dengan perusahaan sebagai
pendirinya. Hal ini dipertegas dengan adanya kelaziman penempatan pimpinan
perusahaan di dalam yayasan yang didirikan tersebut. Sehingga, dapat dianggap
bahwa perusahaan memegang kendali terhadap operasional yayasan tersebut yang
akan berakibat pada diperlakukannya sumbangan yang diberikan oleh perusahaan
kepada yayasan sebagai objek pajak penghasilan.
Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan, dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 Pasal
2 ayat (1) huruf b, bahwa yayasan adalah termasuk dalam pengertian sebagai subjek
pajak badan. Pengertian badan dalam Undang-Undang tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan Tahun 2000 tersebut, merupakan sekumpulan orang dan atau
modal yang merupakan kesatuan, baik yang melakukan usaha maupun tidak
melakukan usaha, yang meliputi di antaranya adalah yayasan (bersifat non profit)
yang bergerak di bidang usaha apa pun.
Karena itu, jelaslah bahwa karena Yayasan merupakan subjek pajak sesuai
ketentuan perpajakan yang berlaku maka wajib pajak ber NPWP (nomor pokok wajib
pajak). adanya nomor pokok wajib pajak tersebut akan membawa konsekuensi ke
pemenuhan perpajakan sesuai ketentuan Perundang-Undangan Perpajakan maupun
ketentuan Peraturan Daerah yang berlaku dalam rangka peningkatan pendapatan asli
daerah tersebut.

87
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan, Yayasan hanya
sebagai pemungut pajak dan bukan sebagai pembayar pajak, yang menjadi subjek
pajak adalah ahli waris.
C. Kendala Yayasan Pengelola Tanah Pekuburan Dalam Pembayaran Pajak Di
Kabupaten Deli Serdang
1. Kendala Internal Yayasan
Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang mempunyai Peraturan Daerah
Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan. Dalam peraturan daerah itu diatur pajak luas dan
kemewahan/penghiasan kuburan senilai Rp. 100.000 sampai Rp. 4.000.000,-
tergantung luas dan kemewahan/penghiasan kuburan, yang harus dibayarkan tiap
tahun. Di mana pada saat ini dengan harapan untuk menambah pemasukan, maka
Pemerintah Kabupaten Deli Serdang berencana merevisi peraturan itu dan menaikkan
pajak luas dan kemewahan/penghiasan kuburan tersebut.
Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang
Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan tersebut meresahkan 12 yayasan
pengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang. Hal ini disebabkan yayasan-
yayasan di Kabupaten Deli Serdang dibebankan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten
Deli Serdang untuk melakukan pembayaran Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan. Sedangkan yayasan-yayasan yang ada di Kabupaten Deli Serdang
mengalami kesulitan dalam melakukan pembayaran Pajak Luas dan Kemewahan/

88
Penghiasan Kuburan disebabkan karena yayasan-yayasan yang ada di Kabupaten Deli
Serdang adalah yayasan yang bersifat kemanusiaan, sosial dan keagamaan dan bukan
merupakan yayasan yang bersifat komersil yang artinya mengambil keuntungan dari
orang yang meninggal.
Disamping itu yayasan juga mengalami kendala dalam menghubungi para ahli
waris yang memiliki kuburan-kuburan karena banyaknya kuburan-kuburan yang telah
berusia lama dan tidak diketahui lagi ahli warisnya, begitu juga keberadaan ahli waris
yang telah banyak berdomisili didaerah lain. Kemudian juga yang dihadapi yayasan
adalah banyaknya para ahli waris yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, yang
mana kuburan tersebut merupakan sumbangan dari pihak-pihak lain dalam
prosesnya.
2. Kendala Ekternal Yayasan
Dalam penetapan Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan di
Kabupaten Deli Serdang, sebanyak 12 yayasan pengelola tanah pekuburan di
Kabupaten Deli Serdang mendapat penolakan pembayaran dari para ahli waris yang
keluarganya dikuburkan di areal tanah pekuburan yang dikelola ke 12 yayasan
pengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang, dikarenakan ketidakmampuan
secara finansial dari para ahli waris dari keluarga yang meninggal yang berasal dari
keluarga tidak mampu dan adanya kesan diskriminasi dalam pelaksanaan Peraturan
Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan yang hanya diberlakukan bagi masyarakat etnis
Tionghoa.

89
Rencana ini menuai protes, khususnya bagi masyarakat Tionghoa. Bagi
mereka membuat kuburan bagus bagi keluarga yang meninggal adalah bentuk bakti
mereka kepada leluhur. Sehingga jika Peraturan Daerah soal pajak kuburan ini
direvisi, mereka akan dikenakan pajak lebih besar lagi. Apalagi sudah bukan rahasia
bahwa selain biaya yang tertulis, ada banyak biaya siluman yang harus mereka bayar,
agar kuburan keluarga tetap terawat. Oleh karena itu masyarakat keturunan Tionghoa
di Kabupaten Deli Serdang sejak awal Februari kemudian berusaha melobi DPRD
sampai Departeman Dalam Negeri agar Peraturan Daerah itu tidah hanya gagal
direvisi tapi juga dicabut.
Selain jumlah pembayaran pajak yang besar, aturan Pemerintah Kebupaten
Deli Serdang juga memaksa dan bahkan dengan ancaman sanksi bagi mereka yang
menolak untuk membayar, yaitu Pemerintah Daerah dapat melakukan penyitaan atau
bahkan pidana dengan sanksi dua tahun kurungan kepada ahli waris, yang lebih
memberatkan lagi, pembayaran uang pajak pekuburan itu tidak termasuk biaya
perawatan kuburan.
Keluhan mengenai mahalnya biaya pemakaman, sebenarnya juga sering
diutarakan masyarakat di berbagai daerah lain, misalnya di J akarta, pemesan tanah
pekuburan harus membayar Rp. 400.000 sampai dengan Rp. 1.000.000 untuk
mendapatkan lahan untuk menguburkan keluarganya. Belum lagi harus membayar
biaya untuk menggali, kayu untuk menutup mayat dan masih banyak lainnya. Padahal
aturannya hanya membayar biaya retribusi Rp. 100.000,- saja. Koran Tempo pernah

90
menulis dana yang dihasilkan dari total hampir 100 kuburan umum di J akarta setiap
bulannya mencapai Rp. 760 juta. Dari jumlah itu tidak sampai separuhnya yang
masuk ke kas Negara.
84
Namun demikian sebagai perbandingan, ketentuan pajak di
J akarta ini, maka ahli waris keluarga yang dikuburkan memang wajib membayar
retribusi yang jumlahnya sesuai ketentuan tidak sebesar apa yang harus dibayarkan
seperti yang ditetapkan di Deli Serdang, dan juga biaya yang dibayarkan itu sudah
termasuk biaya perawatan pekuburan.
Pekuburan di Indonesia memang harus diatur, karena jumlahnya yang
terbatas. Retribusi pun sah-sah saja asal memang wajar dan tidak memberatkan.
Pemerintah Daerah kemudian harus benar-benar memastikan bahwa tidak ada lagi
pungutan-pungutan yang memberatkan. Karena mamang itulah tugas pemerintah,
malayani masyarakat sehingga bisa merasa tenang dan nyaman.
85

Menurut Ngadiwon sebagai orang yang mendapat kepercayaan menjadi juru
kunci pekuburan Tionghoa di Desa Sidodadi, Kecamatan si Biru-Biru, Kabupaten
Deli Serdang, pria berusia 50 tahun itu yang bertugas antara lain pemotong rumput di
kuburan, yang selalu sibuk dua bulan dari bulan cheng beng, yaitu waktu ziarah bagi
warga Tionghoa tiba, karena saat itu, keluarga yang dikubur datang berziarah yang
hanya sekali dalam setahun. Tidak hanya Ngadiwon, sebagian besar warga sidodadi
memetik tuah Cheng Beng meski tidak ikut merayakan, karena dengan membantu
proses sembahyang orang-orang Tionghoa, mereka memperoleh penghasilan

84
Sugondo Marto Suwiryo, Mahalna MAti di Ibukota, Opini, J akarta, 2005, hal. 2.
85
Ibid., hal. 2.

91
Tambahan dari kuburan tersebut. Lebih lanjut, menurut Ngadiwon dengan merawat
kuburan, dia mendapatkan imbalan yaitu tiap bulan dibayar Rp. 250.000,- hanya
dengan kewajiban menjaga gudang dan mesin air di pekuburan. Selain itu, disediakan
tempat tinggal di area pekuburan, yang cukup layak dihuni. Sedangkan penghasilan
yang lebih besar didapat dari kerjanya merawat dua kuburan yang tiap bulan dibayar
Rp. 1.000.000,- dan upah membuat kuburan jika ada yang meninggal, nilainya bisa
bervariasi. Maka, tidak heran jika Ngadiwon juga mengajak adik terkecilnya, ikut
membantunya, bahkan, ada seorang pengganguran yang datang ke tempat itu sejak
dua bulan lalu juga merawat kuburan tersebut.
Penjaga kuburan tidak tahu jika kuburan yang dirawatnya ini harus membayar
pajak kuburan mewah, selain Pajak Bumi dan Bangunan. Pajak atas kuburan mewah
itu diatur dalam Peraturan Daerah Nomor Kabupaten Deli Serdang 26 Tahun 2000
tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan. Dalam Peraturan Daerah
itu diatur Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan senilai Rp. 100.000,-
sampai dengan Rp. 4.000.000,- tergantung luas kuburan.
Menurut J o Ko Hun (J oko) salah seorang donator Yayasan Pekuburan Sosial
Setia Budi Tj. Morawa Deli Serdang, tidak tahu soal pungutan pajak yang dibebankan
pada kuburan ayahnya (J o Tjin To). Dia menjadi salah satu donator yayasan itu,
sehingga segala urusan dilakukan pengurus yayasan.

Oleh karena itu, dirinya dan
sebagian orang Tionghoa meminta keadilan. Meski dalam agama Budha,
menganjurkan agar mayat dibakar, banyak warga yang masih mempercayai

92
menguburkan mayat terkait dengan rezeki dan keselamatan manusia, termasuk bentuk
dan letak kuburan.
86

Selain itu, salah satu warga Tionghoa yang juga bereaksi keras atas
pemberlakuan Peraturan Daerah itu adalah Karya Elly, yang menguburkan tantenya
di Desa Sidodadi, Kecamatan si Biru-Biru. Padahal dalam kebiasaan Tionghoa, orang
pergi ke kuburan hanya sekali dalam setahun. Waktunya sudah ditentukan, tidak
boleh lebih tidak boleh kurang, yakni pada saat Cheng Beng. Akan tetapi, demi
keadilan, Karya Elly menabrak tradisi itu, ia pergi untuk menerangkan betapa
pentingnya arti kuburan bagi keluarganya.
87

Kuburan keluarganya sebelumnya berada di Sunggal, Medan. Kini, di kawasan itu
dibangun area perkantoran pemerintah, sehingga tulang belulang keluarganya
terpaksa dipindah. Kini, kuburan yang sudah dipindah kembali diusik lagi dengan
keharusan membayar pajak. Akibatnya, jika seorang warga Tionghoa pergi ke
kuburan bukan pada saat Cheng Beng, sepanjang tahun akan ketiban sial. Akan tetapi
sebagai generasi ketiga orang Tionghoa di Medan, Karya tidak khawatir dengan itu,
karena niat baik terpaksa ke kuburan tidak saat Cheng Beng, hanya karena terkait
masalah pajak tersebut.
Peraturan Daerah itu sama sekali tidak pantas dan tidak benar. Tidak pantas
karena orang yang sudah mati masih harus dibebani pajak, sedangkan orang yang

86
J o Ko Hum dalam Karya Elly, Antara Ceng Beng dan J iarah Pekuburan Cina, Harian
Analisa, 12 J uli 2002, hal. 2.
87
Ibid., hal. 2.

93

menganggur saja tidak dpungut pajak, dan tidak benar karena dalam aturan
perpajakan tidak diatur tentang pajak luas dan kemewahan/penghiasan kuburan.
88

Selanjutnya, warga Tionghoa memberikan kepercayaan kepada Lembaga Tim
Pencari Keadilan Perda Kuburan (TPKPK) dengan koordinator Karya Elly. Lembaga
itu siap melawan secara hukum sampai ke tingkat Mahkamah Agung untuk menolak
Peraturan Daerah yang mewajibkan pembayaran pajak luas dan
kemewahan/penghiasan kuburan tersebut, yang juga diikuti ke 12 Yayasan yang
mengornisir pekuburan Tionghoa lainnya di Deli Serdang, yaitu: Yayasan Pekuburan
Tionghoa Pantai Labu, Budha Murni, Setia Budi, Budi Murni, Angsa Pura, Tanah
Mujur, Marga Raja, Sentana Abadi, Hang Kang, Budi Mulia, Marga Wijaya, dan
Budi Luhur.


88
Ibid., hal. 2.
BAB IV
UPAYA YANG DILAKUKAN YAYASAN PENGELOLA TANAH
PEKUBURAN DALAM MEMBAYAR PAJAK BERDASARKAN PERDA
NOMOR 26 TAHUN 2000 DI KABUPATEN DELI SERDANG
A. Sekilas Tentang Kabupaten Deli Serdang
Kabupaten Deli Serdang adalah sebuah Kabupaten di Propinsi Sumatera
Utara, Indonesia. Ibu Kota Kabupaten ini berada di Lubuk Pakam. Kabupaten Deli
Serdang dikenal sebagai salah satu daerah dari 25 Kabupaten atau Kota di Propinsi
Sumatera Utara. Kabupaten yang memiliki keanekaragaman sumber daya alamnya
yang besar sehingga merupakan daerah yang memiliki peluang investasi cukup
menjanjikan. Dulu wilayah ini disebut Kabupaten Deli dan Serdang dan
pemerintahannya berpusat di kota Medan.
Sebelum kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah ini terdiri dari dua
pemerintahan yang berbentuk kerajaan atau kesultanan yaitu Kesultanan Deli
berpusat di kota Medan dan Kesultanaan Serdang berpusat di Perbaungan.
89

Bandar udara baru untuk Kota Medan yang direncanakan akan menggantikan
Polonia, Bandara Kuala Namun, sebenarnya terletak di kabupaten ini. Sebelum
Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945, Kabupaten Deli
Serdang yang dikenal sekarang ini merupakan dua pemerintahan yang berbentuk
kerajaan atau kesultanan yaitu Kesultanan Deli Serdang yang berpusat di Kota Medan

89
Sumadi Tamatjita, Perjalanan Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, Sinar Mulia,
Medan, 2005, hal. 5.
Timbul Kusnadi : Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pemakaman Dalam
Pembayaran Pajak Di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun 2000
95
dan Kesultanan Serdang berpusat di Perbaungan yang berhak 38 Km dari Kota
Medan menuju Kota Tebing Tinggi.
90

Dalam Pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), keadaan Sumatera
Timur mengalami pergolakan yang dilakukan oleh rakyat secara spontan menuntut
agar Negara Sumatera Timur (NST) yang dianggap sebagai prakarsa van mook atau
belanda dibubarkan dan wilayah Sumatera Timur kembali masuk Negara Republik
Indonesia. para pendukung Negara Sumatera Timur membentuk permusyawaratan
rakyat se Sumatera Timur menetang Kongres Rakyat Sumatera Timur yang dibentuk
oleh Front Nasional.
91

Negara-negara bagian dan daerah-daerah istimewa lain di Indonesia kemudian
bergabung dengan NRI, sedangkan Negara Indonesia Timur dan Negara Sumatera
Timur tidak bersedia. Akhirnya Pemerintah NRI meminta kepada Republik Indonesia
Serikat untuk mencari kata sepakat dan mendapat mandat penuh dari Negara
Sumatera Timur dan NIT untuk bermusyawarah dengan NRI tentang pembentukan
Negara Kesatuan dengan hasil antara lain Undang-Undang Dasar Sementara
Kesatuan yang berasal dari UUD Republik Indonesia serikat diubah sehingga sesuai
dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Pembagian Sumatera Timur ke dalam 5 afdeling. Atas dasar tersebut
terbentuklah Kabupaten Deli Serdang seperti tercatat dalam sejarah bahwa Sumatera

90
Ibid., hal. 26
91
Ibid., hal. 27.

96
Timur di bagi 5 (lima) afdeling, salah satu di antaranya Deli Serdang. Afdeling ini
dipimpin oleh seorang Asisten Residen beribukota di Medan serta terbagi atas 4
(empat) Onder Afdeling yaitu Beneden Deli beribukota di Medan, Bovan Deli
beribukota Pancur Batu, Serdang beribukota di Lubuk Pakam, Padang Bedagai
beribukota di Tebing Tinggi dan masing-masing dipimpin oleh Kontelir.
Selanjutnya dengan Keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Sumatera Timur
tanggal 19 April 1946, Keresidenan Sumatera Timur dibagi menjadi 6 (enam)
Kabupaten ini terdiri atas 6 (enam) Kewedanaan yaitu Deli Hulu, Deli Hilir, Serdang
Hulu, Serdang Hilir, Bedagai atau Kota Tebing Tinggi pada waktu itu ibukota
berkedudukan di Perbaungan. Kemudian dengan Besluit Wali Negara tanggal 21
Desember 1949 wilayah tersebut adalah Deli Serdang dengan ibu kota Medan
meliputi Lubuk Pakam, Deli Hilir, Deli Hulu, Serdang, Padang dan Bedagai.
92

Pada tanggal 14 November 1956, Kabupaten Deli dan Serdang ditetapkan
menjadi daerah otonom dan namanya berubah menjadi Kabupaten Deli Serdang
sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 yaitu Undang-Undang Pokok-
Pokok Pemerintahan Daerah dengan Undang-Undang Nomor 7 Drt Tahun 1956.
Untuk merealisasikannya dibentuklah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dan
Dewan Pertimbangan Daerah (DPD).
Tahun demi tahun berlalu setelah melalui berbagai usaha penelitian dan
seminar-seminar oleh para pakar sejarah dan Pejabat Pemerintah Daerah Tingkat II

92
Tengteng Ginting, Sejarak Kersidenan Suamtera Timur, Bina Insani, Medan, 1973, hal. 5.

97
Deli Serdang pada waktu itu atau sekarang Pemerintah Kabupaten Deli Serdang,
akhirnya disepakati dan ditetapkanlah bahwa hari jadi Kabupaten Deli Serdang
adalah tanggal 1 J uli 1946.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1984, ibukota Kabupaten
Deli Serdang dipindahkan dari Kota Medan ke Lubuk Pakam dengan lokasi
perkantoran di Tanjung Garbus yang diresmikan oleh Gubernur Sumatera Utara
tanggal 23 Desember 1986. Demikian pula pergantian pimpinan di daerah ini pun
telah terjadi beberapa kali.
Tahun 2004 Kabupaten ini kembali mengalami perubahan baik secara
geografi maupun administrasi pemerintahan, setelah adanya pemekaran daerah
dengan lahirnya kabupaten baru Serdang Bedagai sesuai dengan UU No. 36 Tahun
2003 sehingga berbagai potensi daerah yang dimiliki ikut berpengaruh. Dengan
terjadinya pemekaran daerah, maka luas wilayahnya sekarang menjadi 2.394,62 Km2
yang terdiri dari 22 Kecamatan dan 403 Desa/Kelurahan yang terhampar mencapai
3,34 % dari luas Sumatera Utara.
93

Perjalanan penyelenggaraan Pemerintahan di Kabupaten Deli Serdang,
tercatat beberapa Bupati didampangi oleh seorang Wakil Bupati. Dengan berlakunya
UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, J abatan Wakil Bupati
merupakan satu paket dengan Bupati yang dipilih oleh Anggota Legislatif Tahun
2003. Selanjutnya diterbitkan UU No. 32 Tahun 2004 tentang perubahan atas UU

93
Rubianto, Pemekaran Kabupaten Deli SErdang, LP3S, Medan, 2008, hal. 6.

98
Nomor 22 Tahun 1999 dilakukan Pemilihan Kepala Daerah Langsung yang saat ini
terpilih Drs H Amri Tambunan yang berdampingan dengan Drs Yusuf Sembiring
MBA MM sebagai Wakil Bupati untuk Periode 2004 -2009.
94
Demikian pula halnya
di Lembaga Legislatif, pimpinan di lembaga ini pun silih berganti yang saat ini Ketua
Dewan DPRD Kabupaten Deli Serdang dijabat oleh H Wagirin Arman.
95

B. Pengenaan dan Penetapan Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan
Kuburan di Indonesia
Berbicara Masalah kuburan mewah, bukanlah hal yang baru di Indonesia. Hal
ini dapat dlihat dari pembangunan kuburan mewah San Diego Hills yang terletak di
Kawasan Karawang Propinsi J awa Barat yang harganya dari jutaan sampai dengan
ratusan juta rupiah.
Taman Memorial memetok harga Rp. 800 juta untuk kaveling Royal Family
bahkan Taman Kenangan Berabi mematok Rp. 1 miliar untuk kaveling sejenis.
Penyediaan lahan kuburan sekarang bukanlah persoalan ringan bagi Pemerintah
Propinsi J akarta. Sebab, 95 unit tempat pemakaman umum (TPU) yang dimiliki
J akarta saat ini yang luasnya mencapai 580 hektar tidak mampu lagi menampung

94
Lihat, Usman Harahap, Perjalanan Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, Biro Humas
LPMNN, Medan, 2007, hal. 8. Tercatat dalam sejarah bahwa Bupati di Kabupaten Deli Serdang adalah
Moenar S.Hamidjojo, Sampoerna Kolopaking, Wan Oemaroeddin Barus 1 Feb 1951 s/d 1 April 1958,
Abdullah Eteng 1 April 1958 s/d 11 J anuari 1963, Abdul Kadir Kendal Keliat 11 J anuari 1963 s/d 11
November 1970, Haji Baharoeddin Siregar 11 November 1970 s/d 17 April 1978, Abdul Muis Lubis
17 April 1978 s/d 3 Maret 1979, H. Tenteng Ginting 3 Maret 1979 s/d 3 Maret 1984, H. Wasiman 3
Maret 1984 s/d 3 Maret 1989, H. Ruslan Mansyur 3 Maret 1989 s/d 1994, H. Maymaran N.S 3 Maret
1994 s/d 3 Maret 1999, Drs. H.Abdul Hafid, MBA 3 Maret 1999 s/d 7 April 2004, Drs H. Amri
Tambunan 2004 sampai sekarang.
95
Ibid., hal. 8.

99
jasad-jasad kaku tak bernyawa itu untuk berkubur. Dalam catatan Kantor Pelayanan
Pemakaman (KPP) DKI J akarta, setiap hari, ada sekitar 100 hingga 130 warga J akarta
yang meninggal.
96

Memang tidak semua manusia yang meninggal di wilayah ibukota dikuburkan
di J akarta karena sebahagian dikuburkan di daerah asal mereka karena keinginannya.
Akan tetapi, berdasarkan catatan KPP DKI J akarta, tetap saja ibukota kekurangan
lahan makam sekitar 300 hektar untuk kebutuhan pemakaman warga yang meninggal
tersebut. Tidak heran kalau perburuan lahan kuburan di luar J akarta menjadi tidak
terelakkan lagi. Kondisi ini ternyata mampu dimanfaatkan oleh sejumlah
pengembang sebagai peluang bisnis yang dibalut selimut sosial.
97

Setidaknya ada tiga proyek pekuburan komersil yang dikembangkan sebagai
Estate pekuburan yang kesemuanya berada di kawasan Kerawang, J awa Barat. Ketiga
makam itu memiliki lahan pengembangan cukup luas, seperti Taman Kenangan
Lestari seluas 32 hektar, Taman Memorial Graham Sentosa 200 hektar, dan San
Diego Hills seluas 500 hektare.
Pengelola pemakanan ini menyediakan berbagai macam pilihan kaveling
dengan antara lain makam tunggal, ganda, keluarga, hingga kaveling VIP. Ketiga
pemakaman itu berada di kawasan elite karena di desain dengan biaya mahal,
sehingga menciptakan lingkungan eksklusif dengan kualitas infrastruktur terbaik.

96
Erman Prayitno, Pelayanan Pemakanan di DKI Jakarta Raya, Opini, J akarta, 12 J uli 2007,
hal. 2.
97
Ibid., hal. 8.

100
Selain itu yang tak kalah penting, pengembang ingin menghapus kesan bahwa tempat
pemakaman identik dengan hal-hal yang seram.
Pengembang pekuburan San Diego Hills bahkan menyediakan tiga fasilitas
Heli Pad di kawasan estate pemakamannya untuk kebutuhan pendaratan bagi peziarah
yang menggunakan helikopter. Tidak heran, bagi orang yang datang ke pemakaman
itu serasa pergi piknik saja karena suasananya yang memang menciptakan suasana
rileks dan lanskapnya yang bernuansa rekreasi.
San Diego Hills paling menonjol terlihat sebagai kawasan rekreasi. Tepat di
tengah-tengah kawasan pemakaman itu ada danau buatan seluas delapan hektar. Air
danau itu berasal dari sudetan sungai citarum yang memang menggalir kearah Kota
Karawang. Pengelola San Diego Hills akan memamfaatkan danau itu sebagai sarana
rekreasi bagi para pengunjung pemakaman. Akan disiapkan pula perahu-perahu
dayung berikut pemandunya.
Semua itu tidak didapat begitu saja, tapi sebanding dengan harga yang
ditawarkan. Bayangkan harga pemakaman bisa ada yang sampai berharga Rp. 700
juta per kaveling. Taman Memorial mematok harga sedikitnya Rp. 800 juta untuk
Kaveling Royal Family, bahkan Taman Kenangan berani mematok harga Rp. 1 miliar
untuk kaveling sejenis. Tarif harga makam itu lebih mahal dari harga satu unit
apartemen di J akarta yang masih bisa didapat seharga Rp. 300 juta. Akan tetapi
memang tidak semuanya semahal itu karena ada juga kaveling biasa dengan harga

101
berkisar Rp. 3 jutaan untuk tipe makam single, sehingga orang bisa memilih sesuai
dengan kemampuan.
Pengelolanya perlu mengeluarkan investasi besar untuk membangunnya
menjadi bagus. J adi jangan heran, apabila pengembang menghabiskan dana ratusan
miliar rupiah, bahkan sampai angka triliun rupiah untuk membangun taman
pekuburan tersebut.
Menurut Andi Kurniawan Alie, General Maneger Operation San Diego Hills,
tercatat orang-orang besar seperti Gubernur DKI J akarta Fauzi Bowo, Desainer Iwan
Tirta, Raja Sinetron Raam Punjabi, Artis Rima Melati, Mantan Gubernur DKI
Soerjadi Soerdirdja, hingga mantan Menteri Pemberdayaan BUMN Tanri Abeng
telah memesan dan membeli lahan pekuburan di sana.
98

Sistem pesan lahan kuburan jauh-jauh hari sebelum ajal menjemput menjadi
sebuah tren baru yang menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat perkotaan. Hal
tersebut sangat berbeda dengan kondisi dan situasi yang ada di Kabupaten Deli
Serdang, berdasarkan hasil penelitian dan wawancara dengan beberapa yayasan yang
berada di wilayah Kabupaten Deli Serdang yaitu Yayasan Budi Mulia yang berada di
Kecamatan Lubuk Pakam yang di ketuai oleh Saudara Suyanto, Yayasan Sosial
Tionghoa Batang Kuis yang diketuai oleh Khu Lai Kim, Yayasan Budi Murni Galang
yang diketuai oleh Benny Timur, bahwa ternyata di daerah tersebut tidak dibenarkan

98
Ibid., hal. 8.

102
pemesanan tanah pekuburan dan yayasan tersebut mempunyai aturan-aturan yang
sudah menjadi kebiasaan yang harus ditaati oleh setiap orang yang hendak
menguburkan keluarganya di daerah tersebut, yakni bahwa orang yang dikuburkan di
daerah tersebut haruslah penduduk yang berdomisili di daerah tersebut atau minimal
mantan penduduk di daerah tersebut, selain dari pada itu yayasan hanya menyediakan
kavelingan ukuran kuburan yang ditetapkan oleh yayasan, misalnya di Daerah
Kecamatan Lubuk Pakam yaitu Yayasan Budi Mulia, kaplingan yang disediakan oleh
yayasan tersebut adalah ukuran 3 x 6 meter untuk yang single dan ukuran 4 x 7 meter
untuk orang yang hendak menguburkan keluarganya secara berdampingan.
Didamping itu tarif yang harus dibayar atau dikenakan kepada orang yang
hendak memakamkan keluarganya tersebut adalah sebesar Rp. 1.500.000,- (satu juta
lima ratus rupiah) untuk ukuran 3 x 6 meter dan Rp. 3.000.000,- (tiga juta rupiah)
untuk ukuran 4 x 7 meter dengan jangka waktu yang tidak ditentukan artinya ahli
waris yang menguburkan keluarganya atau orang tuanya di daerah tersebut hanya
sekali saja dikenakan biaya dan biaya tersebut lebih dianggap sebagai bantuan yang
disumbangkan kepada yayasan serta yayasan tidak lagi mengenakan biaya tahunan
kepada ahli waris yang meninggal misalnya biaya perawatan pemakaman dan biaya-
biaya lainnya, dan dalam hal perawatan dan pemeliharaan kuburan menjadi tanggung
jawab yayasan, dalam hal pembuatan bangunan kuburan, sepenuhnya diserahkan
kepada keluarga dari yang dikuburkan namun dengan batas-batas ukuran yang
ditetapkan oleh yayasan yatiu ukuran 3 x 6 meter atau ukuran 4 x 7 meter dan tidak

103
diperkenankan melebihi ukuran tersebut, hal serupa juga diterapkan oleh Yayasan
Tionghoa lainnya yang berada di Kabupaten Deli Serdang, selain daripada itu, bagi
orang-orang yang dikategorikan tidak mampu atau miskin yang hendak menguburkan
keluarganya yang meninggal dunia, maka yayasan tidak melakukan pengutipan atau
tidak dikenakan biaya atas penguburan.
C. Kesepakatan Pembayaran Pajak Kuburan Antara Yayasan Pengelola Tanah
Kuburan Dengan Pemkab Deli Serdang
Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan, yang dalam hal ini dikenakan pada kuburan
Tionghoa di Daerah Deli Serdang, tetapi mendapat penolakan dari 12 yayasan
pengelola kuburan maupun oleh masyarakat sebagai ahli waris dari kuburan tersebut.
Salah satu pekuburan tersebut adalah Pekuburan Tionghoa Yayasan Marga
Ong di J alan Medan Tanjung Morawa Kilometer 13, yang dikenakan pajak tersebut.
Terdapat puluhan kuburan di Yayasan Marga Ong, yang ukuran pekuburan itu
bervariasi yaitu lebar 4 meter x 5 meter, atau lebar 6 meter x 6 meter dan lebar 8
meter x 12 meter. Di areal yang luas sedikitnya dua hektar itu terdapat juga tempat
penyimpanan abu kremasi. Walaupun pada dasarnya Yayasan Marga Ong keberatan
terhadap pemungutan pajak itu, tetapi Pemerintah Kebupaten Deli Serdang tetap
memungut pajak kuburan bersenjatakan Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang
Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan.

104
Dengan adanya Peraturan daerah itu atau Peraturan Daerah Kabupaten Deli
Serdang ini, pihak keluarga yang anggota keluarganya dikuburkan di pekuran
yayasan tersebut wajib membayar pajak, padahal, yayasan sudah membayar Pajak
Bumi dan Bangunan (PBB) kepada Pemerintah Deli Serdang.
Pasal 1 huruf f Peraturan daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan menyebutkan pajak
yang dimaksud Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan adalah pungutan
daerah setiap kuburan yang melebihi panjang 2 meter x lebar 1,75 meter. Kemudian
dalam Pasal 1 huruf g disebutkan pajak atas bangunan diatas kuburan yang melebihi
ukuran panjang 2 meter, lebar 1,75 meter dan tinggi 0,50 meter.
Peraturan Daerah itu dimaksudkan untuk membatasi pemakaian lahan yang
tidak produktif. Kuburan yang dikenakan pajak yaitu kuburan yang melebihi ukuran
yang diatur dalam Peraturan Daerah tersebut. Kalau lebih dari ukuran itu dikenakan
pajak karena dianggap kemewahan. Ketentuan ini membatasi agar areal yang
produktif jangan dijadikan kuburan sehingga tidak produktif lagi.
Membuat standarisasi istilah luas dan kemewahan pada sebuah kuburan dan
sekaligus menghindari konflik diperlukan suatu resolusi seperti dialog, karena
pandangan masyarakat Tionghoa memelihara kuburan orang mati dengan harapan
yang dimakamkan itu tidak mengalami kesengsaraan di dalam kuburan. Kuburan
penuh dengan gaya arsitektur sesuai dengan feng sui dan hong sui. Pada hari Ceng
Beng, warga Tionghoa berkumpul di kuburan orang tuanya untuk membersihkan,

105
memelihara dan menghormati arwah orang tua mereka. Ada juga yang berpendapat
bahwa pemeliharaan kuburan merupakan ungkapan terima kasih yang berkaitan
dengan hau atau bakti kepada orang tua.
Istilah luas atau mewah sebuah kuburan sebagaimana yang dimaksud pihak
yang berwenang pada Peraturan daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun
2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan itu belum tentu benar
bagi masyarakat Tionghoa. Bagi mereka atau masyarakat Tionghoa bentuk sebuah
kuburan adalah ungkapan atau ekspresi metafisis-religius untuk menunjukkan
kemewahan atau gengsi sosial, tetapi lebih mengarah pada sikap bakti atau hau
kepada keluarga yang sudah mati. Oleh karena itu, Peraturan Daerah pajak atau
retribusi kuburan Kabupaten Deli Serdang sebaiknya ditinjau ulang dengan lebih
seksama dan dengan mengikutsertakan seluruh elemen masyarakat serta didasarkan
atas asas keadilan, kemaslahatan dan pemusyawaratan.
Penolakan masyarakat maupun pihak yayasan pengelola kuburan Tionghoa
terhadap pajak luas dan penghiasan kuburan memang beralasan mengingat bahwa
penghiasan kuburan itu bukan semata-mata untuk kemewahan tetapi sebagai
ungkapan ekspresi metafisi-regiligius. Di samping itu juga bahwa yayasan pengelola
kuburan Tionghoa di Deli Serdang merupakan yayasan yang bersifat yayasan sosial
bagi masyarakat Tionghoa dalam tanah kuburan bagi masyarakat Tionghoa. Akan
tetapi di sisi lain, dalam penyelenggaraan kuburan bagi masyarakat Tionghoa, pihak
yayasan adalah melakukan penyediaan (penjualan) lahan kuburan (berarti adanya

106
kutipan) yang dilakukan oleh pihak yayasan. J adi atas dasar ini dapat saja pihak
pemerintahan Kabupaten Deli Serdang mengenakan pajak terhadap pihak yayasan,
misalnya dalam hal ini adalah pajak penghasilan atas penjualan lahan tersebut.
Selanjutnya penetapan pajak luas dan kemewahan/penghiasan kuburan di
Kabupaten Deli Serdang, yang menjadi dasar hukumnya adalah sebagai berikut:
1. Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak
Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan.
2. Keputusan Bupati Deli Serdang Nomor 32 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan
Peraturan Daerah Kabupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak
Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan.
Objek Pajak atas Luas dan Kemewahan/Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli
Serdang yang ditetapkan adalah kuburan yang luasnya melebihi dari 3,5 m2 dan
bangunan kemewahan atau penghiasan kuburan yanluasnya melebihi 3,5 m2.
Sedangkan subjek pajak adalah orang atau badan yang bertanggung jawab atas
pembuatan kuburan atau walinya atau ahli warisnya.
Sementara itu besarnya Pajak atas Kuburan yang luasnya lebih dari 3,5 m2
atau 2 x 1,75 meter adalah sebagai berikut:
a. Lebih dari 3,5 m2 s/d 6 m2 =Rp. 50.000,-
b. Lebih dari 6 m2 s/d 9 m2 =Rp. 100.000,-
c. Lebih dari 9 m2 s/d 12 m2 =Rp. 150.000,-
d. Lebih dari 12 m2 s/d 15 m2 =Rp. 200.000,-

107
e. Lebih dari 15 m2 s/d 20 m2 =Rp. 300.000,-
f. Lebih dari 20 m2 s/d 40 m2 =Rp. 600.000,-
g. Lebih dari 40 m2 s/d 60 m2=Rp. 1.000.000,-
h. Lebih dari 60 m2 s/d 100 m2 =Rp. 1.500.000,-
i. Lebih dari 100 m2 s/d 150 m2 =Rp. 2.000.000,-
Besarnya Pajak atas Bangunan Penghiasan atau Kemewahan Kuburan yang luasnya
lebih dari 3,5 meter atau 2 meter x 1,75 meter dan tingginya 0,5 meter adalah:
a. Lebih dari 3,5 m2 s/d 6 m2 =Rp. 100.000,-
b. Lebih dari 6 m2 s/d 9 m2 =Rp. 200.000,-
c. Lebih dari 9 m2 s/d 12 m2 =Rp. 400.000,-
d. Lebih dari 12 m2 s/d 15 m2 =Rp. 600.000,-
e. Lebih dari 15 m2 s/d 20 m2 =Rp. 800.000,-
f. Lebih dari 20 m2 s/d 40 m2 =Rp. 1.200.000,-
g. Lebih dari 40 m2 s/d 60 m2 =Rp. 1.600.000,-
h. Lebih dari 60 m2 s/d 100 m2 =Rp. 2.800.000,-
i. Lebih dari 100 m2 s/d 150 m2 =Rp. 4.000.000,-
Lebih dari 150 m2 setiap kelebihan 1 m2 ditambah Rp. 60.000,- Sedangkan dalam hal
penentuan masa pajak adalah waktu lamanya 1 (satu) tahun.
Dalam melakukan perhitungan jumlah dan besarnya penetapan pajak
dilakukan dengan cara penghitungan pengenaan pajak, kuburan antara luas tanahnya
sebagaimana rumus perhitungan di bawah ini:

108
Luas kuburan 40 m2 atau 5 x 8 meter maka tarifnya Rp. 600.000
Luas bangunannya 20 m2 atau 2,5 meter x 8 meter maka tarifnya Rp. 800.000,-
Maka jumlah yang harus di bayar adalah:
Tanah Rp. 600.000
Bangunan Rp. 800.000
J umlah Rp. 1.400.000
Dalam upaya menindaklanjuti pembayaran Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan di Kabupaten Deli Serdang, sebanyak 12 yayasan pengelola
pekuburan di daerah tersebut mengambil kesepakatan bahwa: pelaksanaan Peraturan
Daerah Kebupaten Deli Serdang Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan yang efektif berlaku J anuari 2001.
Hasil musyawarah yayasan-yayasan pengelola pekuburan yang berada di
wilayah Deli Serdang mengenai hal tersebut diatas yang diselenggarakan pada hari
jumat tanggal 30 Mei 2003 bertempat di Sekretariat Yayasan Sosial Angsapura J alan
Logam Nomor 3 Medan. Maka sebanyak 12 Yayasan Pekuburan di Kabupaten Deli
Serdang sepakat untuk memikul beban kewajiban membayar Pajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan yang ditargetkan Pemerintah Kabupaten Deli
Serdang untuk Tahun 2003 sesuai dengan situasi dan kondisi ekonomi keluarga
masing-masing sebagai berikut:

109
Tabel 1. Tentang Kesepakatan Yayasan Untuk PembayaranPajak Luas dan
Kemewahan/Penghiasan Kuburan Tahun Anggaran 2003

Nama Yayasan
Nama yang
mewakili
Jumlah pajak
(Rp)
Tanda
tangan
Yay. Sos. Angsapura Andi Wijaya Rp. 24.250.000,-
Yay. Sos. Wijaya Hasan Wijaya Rp. 15.000.000,-
Yay. Sos. Budi Luhur Rp. 7.350.000,-
Yay. Sos. Sentana Abadi Rp. 15.000.000,-
Yay. Sos. Hang Kang Kwek Gek Tin Rp. 19.950.000,-
Yay. Sos. Tionghoa B. kuis Khu Lai Kim Rp. 1.050.000,-
Yay. Sos. Per. Tionghoa S. Rampah Tan Cin Kiong Rp. 2.100.000,-
Yay. Sos. Tionghoa Perbaungan Tan Ciong Teng Rp. 3.465.000,-
Yay. Vihara Budha Murni Indonesia Tan Beng Hiong Rp. 31.000.000,-
Yay. Sos. Lautan Mulia Tan Pit Tiong Rp. 15.000.000,-
Yay. Sos. Budi Murni Galang Benny Rp. 1.500.000,-
Yay. Sos. Marga Raja Heryanto Rp. 3.465.000,-
Yay. Pekuburan P. Cermin A Hui Rp. 2.100.000,-
Yay. Perk Tionghoa P.Labu Kui Sun dkk Rp. 2.520.000,-
Yay. Sos. Budi Mulia Suyanto Rp. 6.250.000,-
Total Rp. 150.000.000,-
Catatan : Kesepakatan rapat pertama tentang Pajak Luas dan Kemewahan Penghiasan Kuburan
SeKabupaten Deli Serdang Tahun Anggaran 2003.
Dari tabel di atas terlihat bahwa yayasan-yayasan pengelola kuburan di
Kabupaten Deli Serdang setuju mengadakan kesepakatan untuk pembayaran pajak
luas dan kemewahan/penghiasan kuburan di Tahun Anggaran 2003. Di mana
pembebanan pajak terbesar adalah ditanggung Yayasan Sosial Angsapura yaitu
sebesar Rp. 24.250.000,- (dua puluh empat juta dua ratus lima puluh ribu rupiah),
sedangkan pembebanan pajak terkecil adalah Yayasan Sosial Tionghoa Batang Kuis
yaitu sebesar Rp. 1.050.000,- (satu juta lima puluh ribu rupiah). Total pajak luas dan
kemwahan/penghiasan kuburan yang harus dibayarkan seluruh Yayasan kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten Deli adalah sebesar Rp. 150.000.000,- (seratus lima
puluh juta rupiah) yang merupakan target pajak luas dan kemewahan/penghiasan
kuburan di Kabupaten Deli Serdang.

110
Selanjutnya hasil Keputusan Rapat Tanggal 20 J uli 2005 di Aula Kantor
Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Serdang sebagai terlihat pada tabel berikut:
Tabel 2. Tentang Hasil Keputusan Rapat Tanggal 20 Juli 2005 Tempat Aula
Kantor Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Deli Serdang

No Yayasan
Pajak 2004
(Rp)
Target 2005
(Rp)
Nama
Tanda
tangan
1 Sentana abadi 15.000.000 15.750.000 Sucipto
2 Hangkang tj.morawa 19.950.000 20.900.000 Kwek gek tin
3 Budi mulia l.pakam 9.250.000 7.000.000 Suyanto
4 Budi murni galang 1.500.000 1.800.000 Benny timur
5 Budi luhur 7.350.000 8.100.000 Eddy
6 Angsapura medan 24.250.000 25.250.000 Pendi
7 Lautan mulia medan 15.000.000 15.750.000 Tan pit tjiong
8 Wijaya 15.000.000 15.750.000 Hasan wijaya
9 Mangaraja 3.465.000 3.850.000 Anwar
10 Vihara budha murni 31.000.000 32.250.000 Yensen S
11 Perkumpulan tionghoa bt.kuis 1.050.000 1.200.000 Budiman
12 Perkumpulan tionghoa pt.labu 2.520.000 2.700.000 Ng king sui
Total 142.335.000 150.300.000
Catatan : Kesepakatan rapat kedua tentang target Pajak Luas dan Kemewahan Penghiasan Kuburan Se
Kabupaten Deli Serdang Tahun Anggaran 2005.
Dari tabel di atas terlihat bahwa hasil kesepakatan Pajak Luas dan
Kemewahan/ Penghiasan Kuburan antara Yayasan dengan Pemerintah Kabupaten
Deli Serdang, dari sebesar Rp. 142.335.000,- (seratus empat puluh dua juga tiga ratus
tiga puluh lima ribu rupiah) pada Tahun Anggaran 2004, kemudian ditargetkan untuk
penerimaan Tahun Anggaran 2005 meningkat menjadi Rp. 150.300.000,- (seratus
lima puluh juta tiga ratus ribu rupiah).
Kesepakatan dari 12 yayasan pengelola pekuburan di Kabupaten Deli Serdang
dengan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang ditandatangani oleh Suyanto mewakili
12 yayasan pengelola tanah pekuburan di Kabupaten Deli Serdang serta Parlaungan
Lubis Selaku Kasubdis Pembinaan Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Deli
Serdang. Kesepakatan yang dibuat oleh pihak yayasan-yayasan dan Pemerintah

111
Daerah Kabupaten Deli Serdang ini, diakibatkan adanya tekanan dari pihak
Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang dalam hal ini Dinas Pendapatan Daerah
Kabupaten Deli Serdang yang dapat dilihat dari adanya Surat Nomor 970/215
tertanggal 23 Mei 2007 yang ditandatangani oleh Pelaksana Kepala Dinas Pendapatan
Daerah Kabupaten Deli Serdang Prayitno, dengan tembusan Tim Penegakan Hukum
Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dan kepada Bupati sebagai laporan, sehingga
dengan adanya tekanan-tekanan tersebut melahirkan kesepakatan yang didasarkan
atas rasa keterpaksaan.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan pada penelitian dan pembahasan pada bab-bab sebelumnya maka
diperoleh kesimpulan dan saran dalam penelitian sebagai berikut:
A. Kesimpulan
1. Subjek pajak menurut Perda Kabupaten Deli Serdang No. 26 Tahun 2000 adalah
bukan Yayasan Pengelola Kuburan. Yayasan dapat ditunjuk sebagai badan
pemungut pajak luas dan kemewahan/penghiasan kuburan karena adanya
kesepakatan antara Pengelola dengan Pemkab Deli Serdang. Akan tetapi akibat
naiknya tentang target pajak, sebagai pemungut seolah-olah menjadi kewajiban
Yayasan untuk memenuhi target pajak luas dan kemewahan/penghiasan kuburan
tersebut.
2. Kendala yayasan pengelola tanah pekuburan dalam pembayaran pajak sesuai
Perda No. 26 Tahun 2000 di Kabupaten Deli Serdang adalah disebabkan yayasan
kesulitan menghubungi para ahli waris dari kuburan-kuburan yang telah berusia
lama dan tidak diketahui lagi ahli warisnya, dan ahli waris yang masih ada banyak
berdomisili di luar daerah Deli Serdang. Selain itu, banyak para ahli waris yang
berasal dari keluarga yang tidak mampu, yang mana kuburan tersebut merupakan
sumbangan dari pihak-pihak lain dalam prosesnya.
3. Upaya yang dilakukan Yayasan Pengelola Tanah Pekuburan dalam membayar
Pajak berdasarkan Perda No.26 Tahun 2000 di Kabupaten Deli Serdang adalah
melakukan kesepakatan bersama dengan pihak Pemerintah Daerah untuk
Timbul Kusnadi : Tinjauan Hukum Atas Tanggung J awab Yayasan Pengelola Tanah Pemakaman Dalam
Pembayaran Pajak Di Kabupaten Deli Serdang Berdasarkan Perda Nomor 26 Tahun 2000

113
membayar pajak sesuai dengan tingkat ekonomi ahli waris. Selain itu melakukan
upaya hukum ke Mahkamah Agung untuk judicial review terhadap Perda
tersebut.
B. Saran
1. Diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang dalam membuat
Peraturan Daerah dapat meningkatkan frekuensi dalam melakukan public hearing
dengan para pengurus yayasan, tokoh-tokoh masyarakat, ahli-ahli agama dalam
rangka menggali nilai-nilai/norma yang hidup dan berkembang pada masyarakat
yang berada di daerah tersebut, sehingga produk Peraturan Daerah yang
dihasilkan dapat mengakomodir kepentingan masyarakat yang ada di Kabupaten
Deli Serdang, mengingat masyarakat yang ada di Kabupaten Deli Serdang adalah
masyarakat yang pluraristik.
2. Diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Deli Serdang agar dalam pemungutan
pajak luas dan kemewahan/penghiasan kuburan dapat dilakukan secara ekspansi
dan tidak hanya dilakukan scara intensif agar target pajak tersebut dapat
terpenuhi.
3. Diharapkan kepada Yayasan Pengelola Kuburan di Kabupaten Deli Serdang
untuk mengatasi kesulitan tentang keberadaan ahli waris mengenai kewajiban
wajib pajak tersebut maka untuk ke depan dapat mendata setiap keluarga atau ahli
waris setiap masyarakat Tionghoa yang dikubur di tanah yayasan tersebut secara
berkelanjutan.

114
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku:
Bohari, Pengantar Perpajakan, Ghalia Indonesia, J akarta, 1985.
Borahima, Anwar, Eksistensi Yayasan di Indonesia, Swara Bangsa, J akarta, 2007.
________, Problematika Pendirian Yayasan di Indonesia, Fakultas Hukum
Universitas Hasanuddin, Makassar, 2005.
Brotodiharjo, R. Santoso, Pengantar Ilmu Hukum Pajak, Djambatan, J akarta, 2002.
Ginting, Tengteng, Sejarah Kersidenan Sumatera Timur, Bina Insani, Medan, 1973.
Hadikusuma, Hilman, Hukum Waris Adat, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2005.
Harahap, Usman, Perjalanan Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, Biro Humas
LPMNN, Medan, 2007.
Ismawan, Indra, Memahami Reformasi Perpajakan 2000, Media Komputindo,
J akarta, 2001.
Koentjoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Edisi ketiga,
PT. Gramedia Pustaka Utama, J akarta, 1997.
Kurniawi, Yani, Mahalnya Mati di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Kwong, Edmond, Pentingnya Tanah Pemakaman di Ibukota, Taman Kenangan
Lestari, J akarta, 2003.
Mardiasmo, Perpajakan, Edisi Revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2006.
Marsugindo, Sugondo, Asas Pemungutan Pajak di Indonesia, FE Undip, Semarang,
2005.
Patrick, J usuf, Pengaturan Yayasan di Indonesia Berdasarkan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2001, Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 dan
Peraturan Pemerintah Nomor 63 Tahun 2008, Wawasan, J akarta, 2007.
Poerwadarminta, W.J .S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, J akarta,
1976.

115
Prayitno, Erman, Pelayanan Pemakanan di DKI Jakarta Raya, Opini, J akarta, 12 J uli
2007.
Rahardjo, Satjipto, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996.
Rasjidi, Lili, Dasar-Dasar Filsafat dan Teori Hukum, PT. Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2004.
Rubianto, Pemekaran Kabupaten Deli Serdang, LP3S, Medan, 2008.
Soekanto, Soerjono dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, PT. Raja Grafindo Persada, J akarta, 1995.
Soekanto, Soerjono, Penegakan Hukum, Bina Cipta, J akarta, 1983.
_______, Pengantar Penelitian Hukum, UI Perss, J akarta, 1986.
_______, Pokok-Pokok Sosiologi, LP3S, J akarta, edisi tiga, 1986.
Soemitro, Rochmat, Pajak dan Pembangunan, Eresco, Bandung-J akarta, 1974.
Sudibyo, Bambang, Sejarah Pajak Sebagai Pemasukan Negara, Bina Insani, J akarta,
2005.
Sugiono, Proses Pendirian Yayasan di Indonesia, Bina Insani, Yakarta, 2008.
Suprianoto, Penetapan Pajak, Djambatan, J akarta, 2002.
Susillo, Tarman, Pentingnya Pajak Untuk Pembangunan, Bina Media, J akarta, 2005.
Suwiryo, Sugondo Marto, Mahalna Mati di Ibukota, Opini, J akarta, 2005.
Suyanto, Agus, Prosedur Pendirian Yayasan Bagi Orang Asing, CV. Setia, J akarta,
2007.
Tamatjita, Sumadi, Perjalanan Pemerintahan Kabupaten Deli Serdang, Sinar Mulia,
Medan, 2005.
Wantjik, K., Perkembangan Perundang-Undangan (1966-1973), Pustaka Bangsa,
J akarta, 1975.
Widjaja, I.G. Rai, Penetapan Pajak di Indonesia, Dajambatan, J akarta, 2005.
Wigjosoebroto, Sutandyo, Apakah Sesungguhnya Penelitian Itu, Kertas Kerja,
Universitas Erlangga, Surabaya.

116
B. Artikel, Makalah dan Karya Ilmiah
Antara Ceng Beng dan J iarah Pekuburan Cina, Harian Analisa, tanggal 12 J uli
2002.
Ketika Kerawang Menjadi Lokasi Pekuburan Favorit, Media Indonesia, 12 Agustus
2003.
Ketika Undang-Undang Yayasan Menuai Konflik, Kompas, tanggal 23 April 2002.
Lippo Karawaci Bangun Pekuburan Mewah, Kompas, 23 Agustus 2003.
Pekuburan Mewah Laku Keras, Kompas,, tanggal 26 Agustus 2005.
Peluang Bisnis Kuburan, Harian Media Indonesia, 2 September 2003.
Peraturan Daerah Kuburan di Deli Serdang Diskriminatif, Harian Analisa, tanggal
3 J uli 2008.
Perda Pajak Di Deli Serdang Menuai Protes, Harian Analisa, Edisi Hari Rabu,
Tanggal 23 September 2005.
Problematika Yayasan Tionghoa di Kalimantan Barat, Media Indonesia, tanggal 6
April 2002.
Target Penerimaan Pajak di Indonesia, Media Indonesia, tanggal 28 April 2001.
Harian Medan Pos, Hari Seni, tanggal 21 Maret 2005.
Harian Waspada, Hari Rabu, tanggal 17 Maret 2005.
C. Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria.
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2000 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum Tata Cara
Perpajakan.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2000 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan
J asa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah.

117
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penghasilan Pajak dengan Surat Paksa.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor
21 Tahun 1997 tentang Peralihan Hak Atas Tanah dan Bangunan.
Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
Undang-Uindang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Bea dan Materai.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak Sebagai Pengganti
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1997 tentang Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak.
Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan.
Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum.
Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pajak Luas dan Kemewahan/
Penghiasan Kuburan