Anda di halaman 1dari 16

BAB I TINJAUAN TEORI A. KONSEP DASAR FEBRIS CONVULSION (KEJANG DEMAM) 1.

Pengerti n Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tibatiba yang mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat sementara (Hudak and Gallo, 2008 ! Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh ("ectal di atas #8o $ ekstrakranium (%gastiyah, 200& Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas #8' $ yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium! Kejang demam sering juga disebut kejang demam tonikklonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di ba(ah ) tahun! Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu a(itan hypertermia yang timbul mendadak pada infeksi bakteri atau *irus! (+yl*ia, 2008 ! ,ari pengertian diatas dapat disimpulkan kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu tubuh yaitu #8o $ yang sering di jumpai pada usia anak diba(ah lima tahun! !. K" #i$i% #i -enurut %gastiyah ( 200& , klasikfikasi kejang demam adalah . a! Kejang demam sederhana . yaitu kejang berlangsung kurang dari /) menit dan umum! 0dapun pedoman untuk mendiagnosa kejang demam sederhana dapat diketahui melalui criteria 1i*ingstone, yaitu . / 2 # 4 ) 2mur anak ketika kejang antara 3 bulan sampai 4 tahun Kejang berlangsung hanya sebentar, tidak lebih dari /) menit! Kejang bersifat umum Kejang timbul dalam /3 jam pertama setelah timbul demam! 5emeriksaan saraf sebelum dan sesudah kjang normal yang disebabkan oleh proses

3 7

5emeriksaan 66G yang dibuat sedikitnya / minggu sesudah suhu normal tidak menunjukan kelainan! 8rekuensi kejang bangkitan dalam / tahun tidak melebihi 4 kali Kejang kompleks adalah tidak memenuhi salah satu lebih dari

b! Kejang kompleks . ketujuh criteria 1i*ingstone! -enurut -ansyur ( 2008 biasanya dari kejang kompleks diandai dengan kejang yang berlangsung lebih dari /) menit, fokal atau multiple ( lebih dari / kali dalam 24 jam ! ,i sini anak sebelumnya dapat mempunyai kelainan neurology atau ri(ayat kejang dalam atau tanpa kejang dalam ri(ayat keluarga! &. Eti'"'gi 5enyebab Febris Convulsion hingga kini belum diketahui dengan pasti, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia, gastroenteritis dan infeksi saluran kemih! Kejang tidak selalu tinbul pada suhu yang tinggi! Kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang (-ansjoer, 2008 ! Kejang dapat terjadi pada setiap orang yang mengalami hipoksemia berat (penurunan oksigen dalam darah , hipoglikemia, asodemia, alkalemia, dehidrasi, intoksikasi air, atau demam tinggi! Kejang yang disebabkan oleh gangguan metabolik bersifat re*ersibel apabila stimulus pencetusnya dihilangkan ($or(in, 2008 ! (. P t'$i#i'"'gi 2ntuk mempertahankan kelangsungan hidup sel 9 organ otak diperlukan energi yang didapat dari metabolisme! :ahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah glucose,sifat proses itu adalah o;idasi dengan perantara pungsi paru-paru dan diteruskan keotak melalui system kardio*askuler! :erdasarkan hal diatas bah(a energi otak adalah glukosa yang melalui proses o;idasi, dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air! +el dikelilingi oleh membran sel! <ang terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik! ,alam keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion %0 = dan

elektrolit lainnya, kecuali ion clorida! 0kibatnya konsentrasi K= dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi %0= rendah! +edangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel! -aka terdapat perbedaan membran yang disebut potensial nmembran dari neuron! 2ntuk menjaga keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan en>im %0, K, 0?5 yang terdapat pada permukaan sel! Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion diruang e;tra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis, kimia(i atau aliran listrik dari sekitarnya! 5erubahan dari patofisiologisnya membran sendiri karena penyakit9keturunan! 5ada seorang anak sirkulasi otak mencapai 3) @ dari seluruh tubuh dibanding dengan orang de(asa /) @! ,an karena itu pada anak tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi dipusi di ion K= maupun ion %0= melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya lepasnya muatan listrik! 1epasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter sehingga mengakibatkan terjadinya kejang! Kejang yang yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa! ?etapi kejang yang berlangsung lama lebih /) menit biasanya disertai apnea, %0 meningkat, kebutuhan A2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi hipo;ia dan menimbulkan terjadinya asidosis! (+umijati, 200& ). M ni$e#t #i %"ini# -anifestasi Klinik klien dengan kejang demam antara lain . a. +uhu tubuh B #8$ b! +erangan kejang biasanya berlangsung singkat (kurang dari /) menit c! +ifat bangkitan dapat berbentuk .

?onik . mata ke atas, kesadaran hilang dengan segera, bila berdiri jatuh ke lantai atau tanah, kaku, lengan fleksi, kaki9kepala9leher ekstensi, tangisan melengking, apneu, peningkatan sali*a

Klonik . gerakan menyentak kasar pada saat tubuh dan ekstremitas berada pada kontraksi dan relaksasi yang berirama, hipersali*asi, dapat mengalami inkontinensia urin dan feses

# 4

?onik Klonik 0kinetik . tidak melakukan gerakan

d! 2mumnya kejang berhenti sendiri, anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa adanya kelainan saraf! (Krisanty, 2008 *. K'+,"i% #i 5ada penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi hemiparesis! Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi! -ula C mula kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas! Kejang demam yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga terjadi epilepsi! 0da beberapa komplikasi yang mungkin terjadi pada klien dengan kejang demam . a! 5neumonia aspirasi b! 0sfiksia c! "etardasi mental ("endle, 20/0 -. Pen t " %# n yaitu . a! 5emberantasan kejang secepat mungkin 5emberantasan kejang di +ub bagian +araf 0nak, :agian Dlmu Kesehatan 0nak 8K2D sebagai berikut . 0pabila seorang anak datang dalam keadaan kejang, maka . n . n Peng'/ t n ,alam penaggulangan kejang demam ada 4 faktor yang perlu dikerjakan,

+egera diberikan dia>epam intra*ena dosis rata-rata 0,# mg9kg atau segera diberikan dia>epam rectal dosis /0 kg . ) mg bila kejang tidak berhenti E /0 kg . /0 mg tunggu /) menit dapat diulang dengan cara9dosis yang sama kejang berhenti berikan dosis a(al fenobarbital dosis . neonatus . #0 mg D!-, / bulan - / tahun . )0 mg D!-, B / tahun F 7) mg D!-!

:ila dia>epam tidak tersedia, langsung memakai fenobarbital dengan dosis a(al dan selanjutnya diteruskan dengan dosis rumat! (Hudak dan Gallo, 2008

b! 5engobatan penunjang saat serangan kejang adalah . / 2 # 4 +emua pakaian ketat dibuka 5osisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung 2sahakan agar jalan napas bebasuntuk menjamin kebutuhan oksigen 5engisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen c! 5engobatan rumat 8enobarbital dosis maintenance . 8-/0 mg9kg :: dibagi 2 dosis pada hari pertama, kedua diteruskan 4-) mg9kg :: dibagi 2 dosis pada hari berikutnya! d! -encari dan mengobati penyebab 5enyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan astitis media akut! 5emberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati penyakit tersebut! 5ada pasien yang diketahui kejang lama pemeriksaan lebih intensif seperti fungsi lumbal, kalium, magnesium, kalsium, natrium dan faal hati! :ila perlu rontgen foto tengkorak, 66G, ensefalografi, dll (1umbantobing, 200& 0. Pe+eri%# 5erlu n L /'r t'ri1+ diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa

pemeriksaan gula dengan cara de;trosfr; dan fungsi lumbal! Hal ini

berguna untuk menentukan sikap terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi! +elain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu. a! 5emeriksaan darah rutin . Hb, Ht dan ?rombosit! 5emeriksaan darah rutin secara berkala penting untuk memantau pendarahan intra*entikuler! b! 5emeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan analisis gas darah! c! 8ungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia! :ila cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan ber(arna kuning menandakan adanya ;antrokromia! 2ntuk mengatasi terjadinya trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga tabung yang diisi cairan serebro spinal d! 5emeriksaan 6KG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia e! 5emeriksaan 66G penting untuk menegakkan diagnosa kejang! 66G juga diperlukan untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan! :ayi yang menunjukkan 66G latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust supresion atau bentuk isoelektrik! -empunyai prognosis yang tidak baik dan hanya /2 @ diantaranya mempunyai 9 menunjukkan perkembangan normal! 5emeriksaan 66G dapat juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan! 66G pada bayi prematur dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis! f! :ila / 2 # terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang pasti yaitu mencakup . 5eriksaan urin untuk asam amino dan asam organic :iakan darah dan pemeriksaan liter untuk to;oplasmosis rubella, citomegalo*irus dan *irus herpes! 8oto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari aturan baku

4 ) 3

2+G kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, per*ertikular, dan *ertikular 5enataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial, klasifikasi dan kelainan ba(aan otak ?op coba subdural, dilakukan sesudah pungsi lumbal bila transluminasi positif dengan ubun C ubun besar tegang, membenjol dan kepala membesar! (-ansjoer, 2008

2. T1+/13 Ke+/ ng P . An % U#i 1 4 & T 31n a! 8isik / 2 / 2 # 4 ) 3 / 2 # 4 / 2 2bun-ubun anterior tertutup! 5hysiologis dapat mengontrol spinkter :erlari dengan tidak mantap :erjalan diatas tangga dengan satu tangan -enarik dan mendorong mainan -elompat ditempat dengan kedua kaki ,apat duduk sendiri ditempat duduk -elempar bola diatas tangan tanpa jatuh ,apat membangun menara # dari 4 bangunan -elepaskan dan meraih dengan baik -embuka halaman buku 2 atau # dalam satu (aktu -enggambar dengan membuat tiruan -engatakan /0 kata atau lebih -enyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau # bagian tubuh e! +osialisasi atau kognitif / 2 -eniru -enggunakan sendok dengan bai

b! -otorik kasar

c! -otorik halus

d! Gokal atau suara

# 4 )

-enggunakan sarung tangan Hatak pemarah mungkin lebih jelas -ulai sadar dengan barang miliknya (+oetjiningsih, 2008

15. D +, % 6'#,it "i# #i 5engalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara *erbal, takut terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi! 5ermasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut . a! "asa takut / 2 # 4 ) -emandang penyakit dan hospitalisasi ?akut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal 5emahaman yang tidak sempurna tentang penyakit 5emikiran yang sederhana . hidup adalah mesin yang menakutkan ,emonstrasi . menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol, menyentuh tubuh yang sakit berulang-ulang! b! 0nsietas / 2 # 4 ) 3 7 8 & / $emas tentang kejadian yang tidakdikenal 5rotes (menangis dan mudah marah, (merengek 5utus harapan . komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat -enyendiri terhadap lingkungan rumah sakit ?idak berdaya -erasa gagap karena kehilangan ketrampilan -impi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi pengobatan atau pera(atan "egresi dan 0nsietas tergantung saat makan menghisap jempol 5rotes dan 0nsietas karena restrain +edih dengan perubahan citra diri

c! Gangguan citra diri

2 #

?akut terhadap prosedur in*asi*e (nyeri -ungkin berpikir . bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut (+oetjiningsih, 2008

B. KONSEP ASU6AN KEPERA7ATAN FEBIS CONVULSION 1. Peng% 8i n Hal-hal yang perlu dikaji pada pasien dengan kejang demam menurut Greenberg (2008 , 5aula Krisanty (2008 adalah. a! 0kti*itas 9 istirahat . keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus 9 kekuatan otot! Gerakan in*olunter b! +irkulasi . peningkatan nadi, sianosis, tanda *ital tidak normal atau depresi dengan penurunan nadi dan pernafasan c! Dntegritas ego . stressor eksternal 9 internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau penanganan, peka rangsangan! d! 6liminasi . inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus spinkter e! -akanan 9 cairan . sensiti*itas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan dengan akti*itas kejang, kerusakan jaringan lunak 9 gigi f! %eurosensor . akti*itas kejang berulang, ri(ayat truma kepala dan infeksi serebra g! "i(ayat jatuh 9 trauma h! "i(ayat Kesehatan . / +aat terjadinya demam . keluhan sakit kepala, sering menangis, muntah atau diare, nyeri batuk, sulit mengeluarkan dahak, sulit makan, tidak tidur nyenyak! ?anyakan intake atau output cairan, suhu tubuh meningkat, obat yang dikonsumsi 2 # 0danya ri(ayat kejang demam pada pasien dan keluarga 0danya ri(ayat infeksi seperti saluran pernafasan atis, A-0, pneumonia, gastroenteriks, 8aringiks, brontrope, umoria, morbili*arisela dan campak!

4 / 2 # 4 ) 3 7 8

0danya ri(ayat trauma kepala ?anda-tanda *ital +tatus hidrasi 0kti*itas yang masih dapat dilakukan 0danya peningkatan . suhu tubuh, nadi, dan pernafasan, kulit teraba hangat ,itemukan adanya anoreksia, mual, muntah dan penurunan berat badan 0danya kelemahan dan keletihan 0danya kejang 5ada pemeriksaan laboratorium darah ditemukan adanya peningkatan kalium, jumlah cairan cerebrospiral meningkat dan ber(arna kuning

i! 5engkajian fisik

j! "i(ayat 5sikososial atau 5erkembangan / 2 # 4 ) / 2 # 4 ?ingkat perkembangan anak terganggu 0danya kekerasan penggunaan obat C obatan seperti obat penurun panas 0kibat hospitalisasi 5enerimaan klien dan keluarga terhadap penyakit Hubungan dengan teman sebaya ?ingkatkan pengetahuan keluarga yang kurang Keluarga kurang mengetahui tanda dan gejala kejang demam Ketidakmampuan keluarga dalam mengontrol suhu tubuh Keterbatasan menerima keadaan penyakitnya

k! 5engetahuan keluarga

!. P t39 :
Dnfeksi bakteri Girus dan parasit "angsang mekanik dan biokimia Gangguan keseimbangan cairan I elektrolit

"eaksi inflamasi

5erubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler Ketidakseimbangan potensial membran 0?5 0+6 ,ifusi %a= dan K= Kelainan neurologis perinatal 9 prenatal

5roses demam

6i,erter+i Re#i%' %e8 ng /er1" ng

Kejang 5engobatan pera(atan kondisi, prognosis, dan diit

Re#i%' ;e.er

Kurang dari /) menit

1ebih dari /) menit

Kurang informasi, kondisi, prognosis9pengobatan dan pera(atan

?idak menimbulkan gejala

5erubahan supaly darah ke otak

K1r ng ,enget 31 n Dnefektif 5enatalaksanaan kejang

"esiko kerusakan sel neuron otak

Per$1#i 8 ring n ;ere/r " ti. % e$e%ti$

(%gastiyah (200& , Krisanty (2008 dan +yl*ia (2008

&. Di gn'# Ke,er 9 t n -enurut ,oengoes, (2007 , $arpenito (2007 dan Krisanty (2008 diagnosa yang mungkin muncul pada pasien dengan kejang demam . / 2 # 4 ) "esiko terhadap cidera b!d akti*itas kejang "esiko kejang berulang b9d peningkatan suhu tubuh Hipertermia bd efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus 5erfusi jaringan cerebral tidak efektif bd reduksi aliran darah ke otak! Kurang pengetahuan orang tua bd kurangnya informasi

(. Inter<en#i Ke,er 9 t n a! "esiko terhadap cidera b!d akti*itas kejang ?ujuan . setelah dilakukan tindakan kepera(atan diharapkan resiko cidera dapat di hindari %A$ . 5engendalian "esiko / 2 # 4 ) 5engetahuan tentang resiko -onitor lingkungan yang dapat menjadi resiko -onitor kemasan personal Kembangkan strategi efektif pengendalian resiko 5enggunaan sumber daya masyarakat untuk pengendalian resiko Dndkator skala . / 2 # 4 ) / 2 . ?idak adekuat . +edikit adekuat . Kadang-kadang adekuat . 0dekuat . +angat adekuat

%D$ . -encegah jatuh Ddentifikasi faktor kognitif atau psikis dari pasien yang dapat menjadikan potensial jatuh dalam setiap keadaan Ddentifikasi karakteristik dari lingkungan yang dapat menjadikan potensial jatuh

# 4

monitor cara berjalan, keseimbangan dan tingkat kelelahan dengan ambulasi instruksikan pada pasien untuk memanggil asisten kalau mau bergerak

b! "esiko kejang berulang b 9 d peningkatan suhu tubuh ?ujuan . setelah dilakukan tindakan kepera(atan diharapkan akti*itas kejang tidak berulang Kriteria hasil . Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal Dnter*ensi . / 2 # 4 ) Kaji factor pencetus kejang! 1ibatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien! Abser*asi tanda-tanda *ital! 1indungi anak dari trauma! :erikan kompres dingin pada daerah dahi dan ketiak!

c! Hipertermia bd efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus ?ujuan . setelah dilakukan tindakan kepera(atan suhu dalam rentang normal %A$ . ?hemoregulation / 2 # +uhu tubuh dalam rentang normal %adi dan "" dalam rentang normal ?idak ada perubahan (arna kulit dan tidak (arna kulit dan tidak pusing Dndicator skala . 1 . ekstrem 2 . berat 3 . sedang 4 . ringan 5 . tidak ada gangguan %D$ . ?emperatur regulation / -onitor suhu minimal tiap 2 jam

2 # 4 )

"encanakan monitor suhu secara kontinyu -onitor tanda Ctanda hipertensi ?ingkatkan intake cairan dan nutrisi -onitor nadi dan ""

d! 5erfusi jaringan cerebral tidak efektif bd reduksi aliran darah ke otak! ?ujuan . setelah dilakukan tindakan kepera(atan selama proses kepera(atan diharapkan suplai darah ke otak dapat kembali normal %A$ . status sirkulasi / 2 # 4 ) ?, sistolik dbn ?, diastole dbn Kekuatan nadi dbn ?ekanan *ena sentral dbn "ata- rata ?, dbn Dndicator skala . 1 2 3 4 5 / 2 # 4 ) / 2 # 4 . 6kstrem . :erat . +edang . "ingan . ?idak terganggu -onitor ?,, nadi, suhu, respirasi rate $atat adanya fluktuasi ?, -onitor jumlah dan irama jantung -onitor bunyi jantung -onitor ?, pada saat klien berbarning, duduk, berdiri -onitor tingkat kesadran -onitor tingkat orientasi -onitor status ??G -onitor G$+

%D$ . -onitor ??G

%D$ . +tatus neurologia

e! Kurang pengetahuan orang tua bd kurangnya informasi ?ujuan . setelah dilakukan tindakan kepera(atan keluarga mengerti tentang kondisi pasien %A$ . kno(ledge, diease proses / 2 # Keluarga menyatakan pemahaman tentang penyakit kondisi prognosis dan program pengobatan Keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar Keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan pera(at9 tim kesehatan lainya Dndicator skala . / 2 # 4 ) / 2 # 4 ?idak pernah dilakukan Jarang dilakukan Kadang dilakukan +ering dilakukan +elalu dilakukan

%D$ . ?eaching . diease process :erikan penilaian tentang penyakit pengetahuan pasien tentang proses penyakit yang spesifik Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini berhubungan dengan anatomi fisiologi dengan cara yang tepat Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan cara yang tepat Ddentifikasikan kemungkinan dengan cara yang tepat (Hilkinson, 20/2

DAFTAR PUSTAKA ,oenges, -arillyn 6! (2007 ! Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan! Jakarta . 6G$! ,oenges, -arillyn 6! (2008 ! Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3! Jakarta . 6G$! Hudak I Gallo! (2008 ! Keprawatan kritis vol II! Jakarta . 6G$! Krisanty 5! (2008 ! Asuhan Keperawatan -edia! awat darurat Jakarta . ?rans info

1ynda Juall $! (2007 ! Rencana Asuhan dan Doku!entasi Keperawatan, 5enerjemah -onica 6ster Jakarta . 6G$ -ansjoer, 0rif! (2008 ! Kapita "elekta Kedokteran, #ilid $! Jakarta . -edia 0esculapius! %gastiyah! (200& ! Perawatan Anak "akit% Jakarta . 6G$! +oetjiningsih! (2008 ! &u!buh Ke!bang Anak! Jakarta . 6G$! +umijati -! (200& ! Asuhan Keperawatan Pada Kasus Pen'akit (ang )a*i! &er+adi Pada Anak! +urabaya . 56"K0%D! +yl*ia! (2008 ! Konsep Klinis Proses,proses Pen'akit, Edisi -! Jakarta . 6G$! Hilkinson, Judith -! (20/2 ! .uku "aku Diagnosis Keperawatan/ Diagnosis 0A0DA, Intervensi 0IC, Kriteria 1asil 02C 3Edisi 45! Jakarta . 6G$!