Anda di halaman 1dari 39

Anatomi Hidung

DEFINISI

Rinitis atrofi merupakan penyakit infeksi hidung kronik, yang ditandai oleh adanya atrofi progresif pada mukosa dan tulang konka

EPIDEMIOLOGI

Paling sering pada wanita

Terutama pada masa pubertas

Ekonomi rendah & higiene jelek

Insiden tinggi pd negara berkembang

Klasifikasi

Berdasarkan Penyebab Berdasarkan Gejala Klinis Berdasarkan Patologi

Berdasarkan Penyebab 1. Rinitis Atrofi Primer


Bentuk klasik rinitis atrofi. Penyebab primernya merupakan Klebsiella ozenae.

2. Rinitis Atrofi Sekunder


Disebabkan oleh bedah sinus, radiasi, trauma, serta penyakit granuloma dan infeksi.

Berdasarkan Gejala Klinis 1. Rinitis Atrofi Ringan


Krusta yang tebal dan mudah ditangani dengan irigasi.

2. Rinitis Atrofi Sedang


Anosmia dan rongga hidung yang berbau

3. Rinitis Atrofi Berat


Disebabkan oleh sifilis, rongga hidung sangat berbau disertai destruksi tulang

Berdasarkan Patologi 1. Tipe 1


Adanya endarteritis dan periarteritis pada arteriola terminal akibat infeksi kronik yang membaik dengan efek vasodilator dari terapi estrogen

2. Tipe 2
Terdapat vasodilatasi kapiler yang bertambah jelek dengan terapi estrogen.

ETIOLOGI

Rinitis atrofi Primer

Gangguan pertumbuhan cavum nasi

Defisiensi Fe & Vit A

Endokrin

Nutrisi

Rinitis atrofi Sekunder

klebsiella ozaenae

streptokokkus

stafilokokus

Bakteri penyebab Ozaena


pseudomonas aerugius Proteus

Bacillus Pertusis

PATOFISIOLOGI

Lap epitel mengalami metaplasia

Kemampuan pembersihan hidung & debris berkurang

Silia menghilang Atrofi kelenjar serumusinus Kelenjar berdegranasi & atrofi

Etiologi

Pembentukan Krusta

Atrofi Mukosa Olfactoria

Hiposmia/ anosmia

Atrofi Konka

Lubang hidung lapang

GAMBARAN

Tanda Klinis: Tanda Klinis: Rongga hidung sangat lapang konka inferior dan media hipotrofi atau atrofi sekret purulen berwarna hijau dan krusta berwarna hijau. Mukosa hidung tipis & kering Bau busuk Bisa ditemukan ulat (larva)

Gejala Klinis: Hidung tersumbat Gangguan Penciuman Hiposmia / Anosmia Ingus kental berwarna hijau Sakit kepala Kebas pada wajah Nafas berbau Epistaksis

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan darah rutin

Pemeriksaan Fe Serum

Foto rongen sinus paranasal

Pemeriksaan Ct-Scan

Pemeriksaan histopatologik

Pemeriksaan mikroorganisme & uji resistensi kuman

Pemeriksaan serologi VDRL utk menyingkirkan RA sifilis

Foto thorax & uji mantox utk menyingkirkan RA TB

Pembesaran signifikan dari rongga hidung dan hipoplasia dari sinus maksila.

submukosa sinus paranasal menunjukkan destruksi dari dasar tengkorak dan dinding lateral hidung

Microphotograph menunjukkan metaplasia skuamosa9

Microphotograph menunjukkan metaplasia skuamosa

Microphotograph menunjukkan metaplasia skuamosa9

Microphotograph menunjukkan pembuluh darah melebar

DIAGNOSIS

Anamnesis

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan penunjang

DIAGNOSIS BANDING

rinitis kronik TB rinitis kronik lepra rinitis kronik sifilis rinitis sika

TATALAKSANA

Dilakukan secara: Konservatif & pembedahan

Tujuan pengobatan: Menghilangkan faktor penyebab & gejala Tujuan Pembedahan: Penyempitan rongga hidung yg lapang Mengurangi pengeringan & pembentukan krusta Mengistirahatkan mukosa Memungkinkan terjadinya regenerasi

Konservatif: 1. Antibiotik sprektum luas atau sesuai uji resistensi dengan dosis adekuat sampai tanda infeksi hilang. Ex: Ciprofloxacin 2x500mg 2. Obat cuci hidung Betadine dalam 100ml air hangat/ NaCl,dihirup dan dihembuskan kuat-kuat. Air yang masuk ke nasofaring dikeluarkan melalui mulut. 2xsehari 3. Obat tetes hidung Streptomicin 1gr & NaCl 0,9% 30cc 3x sehari 3 tetes 4. Vitamin A 3x 50.000 IU 5. Prefarat Fe, Sulfas ferosus 2x1 6. Vitamin B12 7. Menutup lubang hidung secara bergantian pada malam hari 8. Jika sinusitis, obati sinusitis sampai tuntas Kontrol 2minggu sekali selama 2-3 bulan

Pembedahan 1. Operasi Young Penutupan total rongga hidung dengan flap. Telah dilaporkan hasil yang baik dengan penutupan lubang hidung sebagian atau seluruhnya dengan menjahit salah satu hidung bergantian masing-masing selama periode tiga tahun. 2. Operasi Young yang dimodifikasi Penutupan lubang hidung dengan meninggalkan 3 mm yang terbuka. 3. Operasi Lautenschlager Dengan memobilisasi dinding medial antrum dan bagian dari etmoid, kemudian dipindahkan ke lubang hidung. 4. Implantasi submukosa dengan tulang rawan, tulang, dermofit, bahan sintetis seperti teflon, campuran triosite dan lem fibrin. 5. Transplantasi duktus parotis ke dalam sinus maksila (operasi Wittmack) dengan tujuan membasahi mukosa hidung.

KOMPLIKASI

Perforasi septum Faringitis Sinusitis Miasis hidung Hidung pelana

PROGNOSIS

Quo ad vitam Quo ad fungtionam Quo ad sanactionam

: dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

TERIMA KASIH