Anda di halaman 1dari 17

WELDING

Welding atau pengelasan adalah cara meyambung logam dengan cara mencairkan logam di
daerah yang akan di sambung, pada umumnya di lakukan dengan menambahkan logam
pengisi (filler metal). Energy untuk mencairkan logam di dapat dari flame (nyala api) atau dari
busur listrik (electrical arc).

 Dasar-dasar pengelasan

Ada beberapa proses-proses pengelasan diantaranya SMAW (Shielded Methal Arc


Welding), GMAW (Gas Methal Arc Welding), SAW (Submerged Arc Welding), GTAW
(Gas Tungsten Arc Welding). Pada umumnya pengelasan yang banyak digunakan
dikapal maupun di offshore adalah pengelasan dengan proses las busur listrik (SMAW).
Las busur rendam (SAW) dan proses las busur listrik degan pelindung gas (GMAW) dari
material baja karbon dan baja kekuatan tarik tinggi.

Sedangkan proses las electrode tak terumpan (GTAW) banyak digunakan untuk
mengelas bagian-bagian kapal seperti perpipaan, saluran udara, dan bagian-bagian
kecil lainnya yang menggunakan plat tipis.

 Las dengan SMAW termasuk jenis las listrik dengan elektroda termasuk sebagai
filler metal, sering di sebut consumable electrode. Elektroda (filler metal) di
bungkus oleh material pembungkus, yang berfungsi untuk:

• Membentuk gas pelindung

• Menstabilkan busur listrik

• Berfungsi sebagai flux untuk mengikat pengotor dalam logam cair

• Membentuk slag sebagai lapisan pelindung daerah lasan

• Mengurangi percikan logam cair dan menaikkan deposit logam

• Menambahkan unsur paduan di weld metal

• Meaikkan penetrasi busur listrik


• Mempengaruhi bentuk manik las

• Sebagai penambah pada logam pengisi

Adapun cara mengidentifikasi electrode


adalah sbb:

Klasifikasi elektroda menurut AWS (American Welding Society):

E 70 1 8

E = elektroda, bisa carbon steel atau low-alloy steel

70 = kekuatan sambungan las sebelum di lakukan treatment selanjutnya. Pada cotoh ini 70 ksi.

1 = posisi pengelasan. Ada 4 posisi pengelasan: flat, horizontal, vertical, over head. 1: all, 2: flat
and horizontal, 3: flat only

8 = tipe pelapis. Ada 8 tipe pelapis; 0: cellulosic, cellulosic + Ca and K; 2 : Titania; 3 : High
titania-potassium; 4 : titania + iron powder; 5 : low hydrogen (lime); 6 : low hydrogen +
potassium; 7 : cellulosic + iron powder; 8 : low hydrogen + iron powder.

Material Pembungkus Elektroda:

* Cellulosic : 50% SiO2, 15% TiO2, FeO, MgO, Na2O, 30% volatile

* Titania : 30% SiO2, 15% TiO2, FeO, MgO, Na2O, 30% volatile
 SAW (Submerged Arc Welding), pada pengelasan ini busur listrik di lindungi oleh
serbuk flux yang terdiri dari lime, silica, MnO, CaF. Prinsip pada pengelasan ini
hampir sama dengan pengelasan pada SMAW. Bedanya dengan SMAW adalah
pada SAW flux tidak di bungkus ke elektroda, menggunakan elektroda kontinu,
arus lebih tinggi sehingga dapat digunakan untuk mengelas benda yang lebih
tebak hanya dengan langkah yang sedikit.

Pada pengelasan ini menggunakan logam pengisi kontinu berupa gulungan


kawat. Besaran arus listrik AC/DC antara 600-2000 amper dan besaran voltase
listrik AC/DC sampai dengan 440 volt. Bisanya di gunakan untuk mengelas pipa
penyalur minyak dan gas.

 Flux Cored Arc Welding (FCAW).

Pada pengelasan ini menggunakan elektroda berongga yang elektrodanya diisi


flux. tujuannya agar flux tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Elektroda yang
digunakan memiliki diameter 1,5 - 2,5 mm. metode ini biasanya di gunakan untuk
mengelas baja hingga ketebalan 25 mm.

 TIG (Tungsten Inert Gas)

Gas inert yang biasanya di gunakan adalah wolfram untuk pelindung yang bagus
sehingga atmosfir udara tidak masuk ke daerah lasan. Namun sekarang di
gunakan Co2 (tidak inert) karena lebih murah dan stabil.
Elektroda tungsten bukan sebagai filler metal, sehingga perlu filler metal dari luar
untuk mengisi gap sambungan. Filler metal bersama logam induk akan di cairkan
oleh busur listrik yang terjadi antara elektroda dengan logam induk.

Metoda ini biasanya di gunakan untuk mengelas logam yang reaktif terhadap
oksigen seperti paduan alumunium, magnesium, dan titanium. Metoda ini juga
cocok untuk pelat tipis sampai dengan 5 mm.

 GMAW (Gas Metal Arc Welding)

Pada metode pengelasan ini,gas pelindung juga sebagai filler metal. Gas yang
digunakan sebagai pelindung sama dengan gas yang digunakan pada GTAW,
yaitu Ar, He,dam CO2,dialirkan selama proses pengelasan. Metode ini juga
digunakan intuk mengelas logam yang reaktif terhadap oksigen. GMAW
digunakan untuk mengelas bagian yang tebal,karena slag yang terjadi ketika
pengelasan multipass tidak akan terjadi.
 Plasma Arc Welding (PAW)

Plasma adalah gas yang terionisasi dengan jumlah ion sama dengan jumlah
electron. Menggunakan elektroda tungsten, filler metal ditambahkan seperti pada
proses GTAW. Meggunakan gas pelindung He, Ar atau campuran keduanya.
Arus listrik yang digunakan sampai 100 amper dengan temperature plasma
hingga 30000°C dengan temperature setinggi ini material apapun dapat di
cairkan. Metode ini menghasilkan penetrasi yang sangat baik.biasanya
digunakan untuk mengelas alumunium, dan titanium dan sering di gunakan
sebagai pemotong (plasma cutting).

Proses PAW ini terbagi menjadi dua tipe:

1. Transferred, untuk plat tebal, jarak ke benda kerja harus tebal.

2. Non Transferred, untuk pelat tipis,tidak ada pengaruh dengan jarak benda
kerja.

Keuntungan manual welding (MMA/SMAW):

o welding equipment yang di gunakan simple

o beberapa jenis flux dapat di plih sesuai dengan sifat mekanik yang diinginkan

o lebih tahan terhadap angin di banding proses yang memakai gas pelindung

o memungkinkan pengelasan pada segala posisi

Keuntungan MIG welding:

o semua posisi

o deposition rate lebitinggi disbanding SMAW

o diperlukan welder skil lebih rendah di banding SMAW

o pengelasan dapat dilkukan secara kontinyu

o memerlukan post weld cleaning lebih sedikit


Keuntungan TIG welding:

o sambungan las dengan kualitas terbaik

o bisa di lakukan pengelasantanpa filter material

o pengontrolan heat input sangat mudah

o tanpa percikan las

o distorsi sangat rendah

Keuntungan Submerged Arc Welding (SAW):

o depositon rate sangat tinggi

o kualitas pegelasan sangat tinggi

o bisa di gunakan untuk otomalisasi

o tidak memerlukan skil operator yang tinggi

Keuntungan Flux Cored Welding

o dapat untuk pengelasan all position

o kualitas weld deposit sangat baik

o laju pengendapan lebih tinggi dari SMAW

o tidak memerlukan skil operator yang tinggi

o sifat mekani/fisik didapat dari unsure-unsur flux

 WPS (Welding Procedure Specification)

Bertujuan membakukan dan mendokumentasikan secara rinci parameter tentang


pengelasan yang akan di laksanakan pada material yang akan di las.

Kegunaan WPS yaitu sebagai tuntutan baku kepada welder, supervisor, inspector, dan
pihak lain yang berkepentingan untuk menghasilkan lasan yang memenuhi kualitas yang
di syaratkan.
• PQR

PQR (Procedure Qualification Record) merupakan catatan atau record dari


semua parameter essential fariabel pada saat tes coupon di laksanakan.
PQR hanya dibutuhkan untuk WPS yang membutuhkan kualifikasi. Untuk
WPS prequalifikasi tidak perlu membutuhkan PQR karena memang tidak di
lakukan test coupon. Semua requiremen yang ada dalam standard
merupakan min requirement yang harus dipenuhi oleh kontraktor. Artinya kita
boleh melengkapi data-data lain yang dianggap perlu untuk dapat dikatakan
suatu report yang baik. Dimana kemudian hari akan berguna di dalam
argumentasi atau pertanyaan dari pihak-pihak yang membutuhkan klarifikasi.

Urutan pembuatan PQR:

1. Dari drawing konstruksi (AFC) tentukan jenis material, thickness


material.

2. periksa code standard yang akan digunakan (ASME ix, AWS D1.1,
API 1104, DNV FS101, ISO)

3. Rancang terlebih dahulu pWPS nya.

4. Lakukan welding sesuai pWPS

5. Inspeksi visual

6. Lakukan NDT (MPI (DPI), UT, or RT).

7. Lakukan mechanical test sesuai req standard yang digunakan.

8. Kalau semua hasil OK

9. Pindahkan record welding tersebut ke dalam WPS

10. Dapatkan persetujuan approval WPS dari client.

PQR tersebut di buat oleh galangan.


• Variabel-variabel dalam membuat WPS

1. Menentukan jenis sambungan menggunakan tipe apa (essesial)

2. Menentukan menggunakan mesin las jenis apa (SMAW, MIG, TIG, SAW)

3. Compability antara kawat las dan material induk (Base Metal). Compability
antara kawat las dan material induk (Base Metal). (esssesial)

4. Sifat-sifat metallurgy dari material tersebut khususnya weldabilitynya


(essesial)

5. proses pemanasan (preheat, post heat, Interpass Temperatura dan PWHT)

6. Design sambungan dan beban (essesial)

7. Mechanical properties yang diinginkan

8. Lingkungan kerja (environment work) pada equipment tersebut

9. Kemampuan welder

10. Safety

11. Welding position

12. gas

13. technical

14. menentukan filler metal

 Jenis-jenis sambungan

1. But (lurus)
2. Over lap ( tumpang )

3. Fillet ( T )

4. Corner ( sudut )

5. Backing ( Penguat )

6. Egde ( sisi )

Gambar di atas adalah pengelasan dengan single V butt joint dan fillet weld. Yang dibuat
sesuai dengan WPS yang telah di setujui.

 Posisi-posisi pengelasan

Terdapat empat posisi pengelasan : datar, vertical, horizontal, dan diatas kepala
( overdead). Pengelasan overhead dan pengelasan pipa sangat sulit sehingga
sambungan-sambungan yang sangat dapat diandalkan dan efisiensi pengelasan yang
tinggi belum dapat diharapkan meskipun dengan juru las terlatih. Oleh karena itu
sedapat mungkin pengelasan dilakukan dengan posisi datar dengan menggunakan
posisioner.

Fillet: 1. Datar (1F)

2. Horisontal (2F)

3. Vertikal (3F)
4. over head (4F)

Plat: 1. Datar (1G)

2. Horisontal (2G)

3. vertical (3G)

4. Overhead (4G)

Pipa: 1. Datar (1G)

2. Horisonal (2G)

3. Datar pipa tetap (5G)

4. Pipa menyudut 45 (6G)

 Simbol pada las:

Keteragan:

A = las keliling

B = panjang kaki lasan

C = Celah akar

D = Panjang lasan

E = Jarak antar las

F= Sudut alur
G = catatan khusus

H = Kerjakan di lapangan

 Cacat-cacat pada las

Jika pekerjaan pengelasan dikerjakan dengan tidak benar, bermacam-macam cacat las
bisa terjadi, mengahasilkan kualitas sambugan las yang buruk dan tampilan struktur di
las tidak memuaskan. Ada beberapa macam cacat las diantaranya: crack, porosity, lack
of fusion, lack of penetration, under cut, slag inclution, sparter.

• Crack :

Disebabkan:

1. Rancang sambungan keliru

2. Luas penampang las terlalu kecil

3. Kawat pengisi tidak sesuai logam dasar

4. Pendinginan tidak sesuai

5. Kawat las sudah rusak dan terkontaminasi

6. Penguat terlalu kuat

• Weld porosity (berlubang-lubang):

Disebabkan oleh:

1. Permukaan logam dasar kotor

2. Flux (pelapis)kawat las lembab atau rusak


3. Panjang bisur terlalu panjang dan terlalu pendek

4. Terkontaminasi gas pelindung, tidak sesuai kecepatannya (GMAW)

5. Pembekuan logam kawat las terlalu cepat

6. Lingkungan kerja lembab dan berangin besar.

• Lack of fusion (tidak menyatu antara logam induk dengan logam pengisi.

Disebabkan oleh:

1. Arus terlalu rendah

2. Kecepatan terlalu tinggi

3. Persiapan sambungan kurang tepat

4. Ukuran kawat las terlalu besar

5. Kawatlas yang tidak sesuai

6. Gas pelindung tidak tepat dan perpindahan logam cair terlalu lambat
(GMAW)

• Lack of penetration (kurang tembusan):

Disebabkan :

1. Kecepatan terlalu tinggi

2. Amper tarlalu rendah

3. Panjang busur tinggi

4. Diameter kawat las terlalu besar


5. Akar las terlalu sempit

• Undercut (termakan):

Disebabkan:

1. Kesalahan kawat las

2. Amper terlalu besar

3. Kecepatan las terlalu tinggi

4. Kecepatan busur terlalu tinggi

5. Busur las tersembur kembali

• Slack inclusions (kemasukan kerak las)

Disebabkan:

1. Pembersihan kerak las kurang baik pada setiap lapis

2. Kecepatan terlalu pelan

3. Teknik welding kurang tepat. (lengan ayunan dan sudut electrode tidak tepat)

4. Amper dan voltage terlalu rendah


5. Ukuran kawat las terlalu besar

• Spatter (percikan)

Disebabkan:

1. Amper terlalu besar

2. Busur las terlalu tinggi

3. Kawat las terkontaminasi

4. Busur las tersembur balik

• Distorsion (perubahan bentuk)

Disebabkan:

1. Persiapan sambungan kurang tepat

2. Las ikat kurang baik

3. Urutan las tidak tepat

4. Alur las terlalu besar

• Cold lapping (kelebihan lapisan)


Disebabkan;

1. Kecepatan las terlalu pelan

2. Sudut kawat las tidak benar

3. Ukuran kawat las terlalu besar

4. Ayunan las terlalu lebar

5. Amper terlalu kecil

• Magnetic arc bow (mengandung magnit)

Disebabkan oleh:

1. Logam induk megandung logam magnet

2. Tidak bisa di las

3. Ada aliran listrik

Contoh kasus:

Pengelasan Kampuh Kontinyu (Continous Seam Wealding)

Proses inilah yang dipakai pada pembuatan pipa baja pada BPI. Proses ini biasanya
digunakan pada produk yang panjang dan sejenis. Cara kerjanya yaitu lembaran logam di tekuk
dengan tekanan yang telah di tentukan sehingga membentuk sedut 4°-7°. Puncak bantuk V
yang terbuka meninggalkan kontak sesuai arah gerakan. Aliran frekuensi tinggi menyusuri
daerah yang terlakolisasi pada sisi V satu dan lalu balik lagi pada sisi yang lainnya yang
menyebabkan efek kulit dan “proksimiki”. Tahanan logam terhadap aliran arus memanasi
daerah tepi saja tidak sampai melebur ke dalam. Kecepatan pengelasan dan tingkat power di
sesuaikan sehingga dua tepi yang di las selalu pada temperatur welding ketika di temukan.
Pada saat tersebut,tekanan rol menekan tepi panas dan menset tepi-tepi tersebut sehingga
menghasilkan daerah pengelasan. Logam panas yang terdiri dari permukaan lembaran di tekan
keluar dari sambungan dan terbentuklah sambungan las yang kontinyu..

Membuat sambungan sudut

Gambar kerja:

Langkah kerja:

• Persiapkan barang sesuai dengan jenis dan ukuran sesuai dengan yang di minta
kemudian permukaan bahan harus kering dan bersih, bebas karat, cat, dan oli.
Untuk pembersihan dapat dilakukan dengan sikat kawat baja.

• Atur besarnya arus sesuai dengan kebutuhan dan jenis serta diamerer elektroda
yang akan di gunakan.

• Atur benda kerja sesuai dengan posisi yang benar-benar tegak lurus (90°) dan
rata di atas meja kemudian lakukan pengelasan ikat pada kedua ujungnya.

• Bersihkan terak dan percikan- percikan logam pada saat las ikat.
• Lakukan pengelasan sambungan tumpang dengan gerakan elektroda lurus dan
sudut elektroda yang tepat.

No. Aspek Yang Diamati Kriteria Cek List


Benar Salah
1 Penggunaan alat perlindungan - Helm/topeng las, kaca
diri 10-11
- Pakaian kerja, safety
shoes
- Apron, sarung tangan
2 Proses Pengelasan - SMAW
3 Polaritas - DCEP / DCRP
4 Jenis elektroda - AWS E6013
5 Diameter elektroda - ∅ 3,2 mm
6 Besar arus - 80 – 120 A
7 Sudut elektroda - 45o / 70o - 80o
8 Gerakan elektroda - Lurus
- Diayun
9 Alat pembersih hasil lasan - Palu cipping dan sikat
baja