Anda di halaman 1dari 10

1. Ephedrin HCl 50 mg Indikasi Asma, bronchitis, emfisema Kontra indikasi Hipertiroidisme, hipertensi, gangguan jantung, glaucoma.

Takaran pemakaian Biasanya secara subkutan 0,5 1 mL. Efek samping Kardiovaskular: Aritmia, nyeri dada, depresi pada tekanan darah, hipertensi, palpitasi, takikardia, pucat yang tidak biasa. SSP: agitasi, kecemasan, efek menstimulasi SSP, pening, eksitasi ketakutan, hiperaktivitas, insomnia, irritabilitas, gugup, tidak bisa istirahat. Gastrointestinal: anoreksia, gangguan lambung, mual, muntah. Interaksi obat Meningkatkan efektoksisitas: Meningkatkan toksisitas pada jantung dengan agen

simpatomimetik, teofilin glikosida jantung, atau anastesi umum. Meningkatkan tekanan darah jika digunakan bersamaan dengan atropin atau penghambat MAO. Menurunkan efek pemblok dan adrenergik menurunkan efek vasopresor ephedrin. Penyimpanan Suhu sejuk (15-25)0 C, kering & terlindung dari cahaya

2. Methylprednisolone Komposisi Methylprednisolone serbuk injeksi mengandung Metilprednisolon sodium suksinat yang setara dengan metilprednisolon 125 mg/ml dan 500 mg/ml Indikasi Ganggauan enokrin: insufisiensi adrenal kortikoid primer atau sekunder, insufisiensi adrenokortikal akut. Gangguan rematik: sebagai terapi tambahan sebagai pemberian jangka pendek seperti pada: artritispsoriasis, reumatoid artritis, ankilosing spondilitis, bursitis akut dan subakut, tenosinovitis akut non spesifik, artritis gout akut, osteoartritis postraumatik, sinovitis osteoartritis, epikonditis. Penyakit kolagen: selama eksaserbasi atau terapi pemeliharaan pada lupus eritematosus sistemik, karditis rematik akut, atau dermatomiositis sistemik.

Penyakit kulit, seperti: pemphigus, bullous dermatitis herpetiformis, eritema multiform parah, micosis fungoides, psoriasis parah, angioedema atau urtikaria, dermatitis eksfoliatif, dermatitis seboroik parah Alergi: asma bronkial, reaksi hipersensitif obat, dermatitis atopik, dermatitis kontak Penyakit neoplastik: untuk terapi paliatif dari leukimia dan limfoma pada dewasa dan leukimia akut pada anak-anak. Keadaan edema: menginduksi deuresis atau remisi proteinurea pada sindroma nefrotik tanpa uremia, ideopatik atau yang disebabkan lupus eritematosus. Penyakit gastrointestinal: membantu penderita melewati masa kritis pada penyakit kolitis ulseratif dan enteritis regional. Sistem saraf: eksaserbasi akut pada multiple sklerosis. Kontra indikasi Infeksi jamur sistemik Pasien yang diketahui hipersensitif terhadap kortikosteroid Laktasi Bayi prematur Pemberian jangka lama pada penderita ulkus duodenum, osteoporosis berat, penderita dengan riwayat penyakit jiwa, pasien yang sedang diimunisasi. Dosis dan cara pemberian Awal (peroral): sehari 4-48 mg, tergantung berat dan jenis penyakit; dosis pemeliharaan 4-16 mg sehari. Anak-anak: dosis awal 0,8-1,5 mg/kgBB/hari, tidak lebih 80 mg sehari; dosis pemeliharaan 2-8 mg sehari. Sklerosis multiple: sehari 160 mg selama seminggu, dilanjutkan sehari 64 mg selama 1 bulan. Vial: dewasa: 10-40 mg IM/IV. Untuk dosis tinggi 30 mg/kg BB selama minimal 30 menit secara IV. Dosis dapat diulang selama 4-6 jam. Efek samping Gangguan elektrolit dan cairan tubuh Muskulosketal Gastrointestinal Neurologikal Endokrin Metabolik

Penyimpanan Tablet: simpan pada suhu kamar (25-30)0C dan tempat kering Serbuk injeksi: simpan pada suhu kamar (25-30)0C dan tempat kering, terlindung dari cahaya. Peringatan dan perhatian

Pada pasien yang menjalani terapi kortikosteroid, Metilprednison dapat menekan gejala klinis penyakit infeksi. Hati-hati penggunaan pada penderita dengan riwayat hipertensi, tukak lambung, diabetes, osteoporosis, gagal jantung kongestif. Penggunaan jangka panjang dapat mengakibatkan katarak subkapsular posterior, glaukoma dengan kemungkinan kerusakan saraf mata. Pada terapi kostekosteroid jangka panjang harus dilakukan observasi hati-hati untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi dan anak-anak Adanya efek yang meningkat dari kostekosteroid pada pasien hipotiroid dan sirosis.

3. Natrium Phenytoin; 100 mg (50 mg/mL) Indikasi Untuk mengontrol status epileptikus dari tipe grand mal, serta pencegahan dan pengobatan dari bangkitan yang terjadi selama pembedahan saraf. Kontra indikasi Terhadap penderita yang hipersensitif terhadap preparat Natrium Fenitoin sebaiknya tidak diberika IV pada penderita sinus bradycardia. Dosis dan cara pemberian Penyuntikan secara IV tidak boleh melebihi 50 mg permenit. Batas keamanan Natrium Fenitoin relatif kecil. Pada pengobatan status epileptikus pemberian secra IV lebih baik dibandingkan dengan intramuskular karena tidak terjadi penghambatan absorbsi. Efek samping Sistem susunan saraf pusat Sistem saluran pencernaan Sistem intergumenter Sistem hepatopoetik Sistem jaringan penghubung Sistem kardiovaskular Istem imunologi

Peringatan dan perhatian Penghentian dari pengobatan Natrium Fenitoin secara tiba-tiba pada penderita epilepsi dapat mengakibatkan status epileptikus. Pengurangan atau penghentian dosis atau penggantian obat antikejang lainnya harus dilakukan secara bertahap.

Jika disuntikkan secara IV, tidak boleh melebihi 50 mg (1 mL larutan permenit). Jangan gunakan jika larutan berkabut atau timbul endapan. Hati-hati pada penderita gangguan fungsi hati, diskrasia darah. Selama pemakaian obat ini, dilarang menggunakan kendaraan bermotor atau bekerja dengan mesin Natrium Fenitoin tidak diindikasikan untuk kejang yang disebabkan hipoglikemia atau kasus-kasus lain yang belum diketahui dengan pasti. Penyimpanan Simpan di tempat kering pada suhu di bawah 250C, terlindung dari cahaya.

4. Tamoliv Komposisi Setiap vial (100 mL) mengandung Paracetamol 1000 mg Indikasi Sebagai terapi nyeri derajad sedang jangka pendek, khususnya nyeri pasca operasi, dan sebagai terapi demam jangka pendek, ketika pemberian IV dibenarkan secara klinis karena adanya kebutuhan yang mendesak untuk mengatasi rasa nyeri atau hipertermia, dan/atau ketika pemberian Paracetamol lewat jalur lain tidak memungkinkan. Dosis dan cara pemberian Intravena: vial 100 mL hanya diperuntukkan untuk orang dewasa, remaja, dan anak dengan berat badan diatas 33 kg (sekitar umur 11 tahun). Gangguan fungsi ginjal yang berat: kebersihan kreatinin 30 mL/menit), interval minimal antara setiap pemberian paracetamol sebaiknya ditingkatkan menjadi 6 jam. Cara pemberian: larutan paracetamol diberikan sebagai infus intravena selama 15 menit. Kontraindikasi Hipersensitif terhadap Paracetamol atau kandungan lainnya Gangguan fungsi hati berat. Peringatan dan perhatian Paracetamol harus hati-hati pada saat diberikan pada: Gangguan fungsi hati Gangguan fungsi ginjal berat (bersihan kreatinin 30 mL/menit) Alkoholisme kronik Malnutrisi kronik (cadangan gluthatione hati rendah) Dehidrasi Ibu hamil dan/atau menyusui.

Efek samping Malaise, hipotensi, kenaikan kadar transaminase hati, reaksi hipersensitivitas, trombositopenia, leukopenia, neutropenia, ruam pada kulit atau urtikaria hingga syok anafilaktik. Penyimpanan Simpan di bawah suhu 300C

5. Piracetam injeksi 200 mg/mL Indikasi: Pengobatan infark serebral Kontraindikasi: Penderita dengan insufisiensi ginjal yang berat (bersih kreatinin 20 ml/min) Penderita yang hipersensitif terhadap piracetam atau derivat pirolidon lainnya, termasuk komponen obat. Penderita dengan cerebral haemorrhage. Peringatan dan perhatian: Oleh karena piracetam seluruhnya dieliminasi melalui ginjal, peringatan harus diberikan kepada penderita gangguan fungsi ginjal. Oleh karena itu dianjurkan melakukan pengecekan fungsi ginjal. Oleh karena efek piracetam pada agregasi platetet, peringatan diberikan pada penderita dengan gangguan hemostatis, operasi besar atau pendarahan berat. Hindari penghentian obat secara tiba-tiba, karena dapat menginduksi mioklonus atau kejang umum pada penderita mioklonus. Hasil penelitian pada reproduksi hewan, tidak ditemukan adanya berbagai resiko terhadap janin, tetapi penelitian terhadap wanita hamil belum ada. Efek samping: Nervousness, irritabilitas, insomnia, anxietas, tremor dan agitasi. Pada beberapa pasien telah dilaporkan: fatigue dan somnolence Gangguan gastro-intestinal (nausea, vomiting, diare, gastralgia, sakit kepala, dan vertigo). Pernah dilaporkan efek samping lain yang kadang terjadi: mulut kering, meningkatnya libido, meningkatnya berat badan, dan reaksi hipersensitif pada kulit. Interaksi obat: Pernah dilaporkan adanya satu kasus gangguan konfusi, irritabilitas, dan gangguan tidur, pada pemberian bersamaan dengan ekstrak tiroid (T3 + T4). Dosis dan cara pemberian: Dosis yang dianjurkan 1 g 3 x sehari, intravena.

Penyimpanan: Simpan pada suhu di bawah 300C

6. Diphenhydramine HCl 10 mg/ml Indikasi: Digunakan bila terapi oral tidak memungkinkan. Antihistamin: Untuk reaksi alergi pada darah atau plasma Anafilaksis: sebagai terapi penunjang epinefrin. Untuk reaksi alergi yang tidak terkomplikasi Mabuk perjalanan: untuk mengobati aktif pada mabuk perjalanan. Antiparkinson: pada orang tua yang tidak dapat mentoleransi obat-obat yang lebih poten, khusus parkinson yang ringan pada kelompok umur tertentu dan kasus lain parkinson dalam kombinasi dengan obat-obat antikolinergik yang bekerja sentral. Kontraindikasi: Bayi baru lahir dan prematur Ibu menyusui Hipersensitif terhadap obat ini atau antihistamin yang strukturnya sama Penggunaan sebagai anastesi lokal karena efek nekrosis. Efek samping: Umum: urtikaria, rash, syok anafilaksis, fotosensitifitas, keringat berlebihan, mulut kering. Sistem kardiovaskuler: hipotensi, sakit kepala, palpitasi, takikardi. Sistem saraf pusat: sedasi, eksitasi, tremor, pandangan kabur. Sistem gastrointestinal: epigastrik distress, anoreksia, nausea, muntah, diare, konstipasi. Sistem saluran urin: retensi urin. Peringatan dan perhatian: Hati-hati digunakan pada penderita riwayat penyakit seperti: epilepsi, peningkatan tekanan intraokuler, asma bronkial, gejala hipertropi prostat, retensi urin, gangguan fungsi hati. Selama minum obat ini tidak boleh mengemudi kendaraan bermotor atau melakukan pekerjaan yang memerlukan konsentrasi penuh. Hati-hati penggunaan pada wanita hamil, menyusui. Tidak dianjurkan pemakaian pada anak-anak dibawah usia 6 tahun. Jangan digunakan bila terjadi endapan atau perubahan warna larutan injeksi.

Interaksi obat: Pemberian difenhidramin dengan alkohol dan depresan susunan saraf pusat akan memberikan efek adiktif. Penghambat antidepresan jenis MAO dapat memperpanjang efek antikolinergik dari difenhidramin bila diberikan bersama-sama. Penyimpanan: Simpan pada ruang ber-AC (suhu di bawah 250C), terlindung dari cahaya dan kelembaban.

7. Ozid i.v (omeprazole) Indikasi: Tukak duodenal, tukak lambung dan reflux esofagus, sindroma Zollinger Ellison. Kontraindikasi: Pada orang-orang yang diketahui hipersensitif terhadap omeprazole. Peringatan dan perhatian: Pada penderita yang dicurigai menderita tukak duodenal harus diverifikasi pada awal stadium penyakit dengan menggunakan x-ray atau endoskopi untuk mendapatkan pengobatan yang adekuat. Kalau tukak lambung tombul atau diperkirakan ada atau disertai dengan gejala-gejala yang timbul seperti terjadi penurunan berat badan, muntah yang berulang, distagia, hematemesis atau melena, keganasan harus dikeluarkan sebagai pengobatan yang mungkin dapat mengurangi gejala dan memperlambat diagnosis. Interaksi obat: Beberapa kombinasi yang harus dihindari pemberiannya bersamaan dengan serbuk omeprazole dan pelarutnya sebagai larutan untuk injeksi: ketokonazol dan itrakonazole. Berkaitan dengan penurunan keasaman lambung, absorbsi ketokonazole atau itrakonazol dapat berkurang selama terapi dengan omeprazole. Omeprazol menghambat enzim CYP2C 19 dan memperlambat eliminasi pada beberapa obat (diazepam, walfarin, fenitoin) yang metabolismenya melalui enzim ini. Penurunan dosis pada obat-obat ini mungkin perlu dilakukan. Efek samping: Headache, diare, nausea/vomiting konstipasi, sakit di abdominal, flatulen. Penyimpanan: Jangan disimpan pada suhu di atas 250C apabila berada di luar karton. Larutan i.v yang sudah direkonstitusi harus disimpan di bawah suhu 250C dan harus digunakan 4 jam setelah pencampuran dilakukan. Sensitif terhadap cahaya.

8. Inviclot (Heparin Sodium 5000 iu/ml) Indikasi: Pencegahan dan pengobatan trombosis vena dan emboli pulmonary Pengobatan emboli arterial Mencegah terjadinya pengumpalan darah pada pembedahan arteri dan jantung; trombosis serebral Antikoagulan pada transfusi darah, sirkulasi ekstrakorporeal, prosedur dialisis dan untuk tujuan laboratorium Peringatan dan perhatian: Ijeksi heparin sodium tidak dimaksudkan untuk intramuskular Pasien yang hipersensitif terhadap heparin diberi obat hanya jika dalam situasi yang jelas membahayakan jiwa heparin sodium harus digunakan secara lebih hati-hati pada pasien dengan lesiulseratif, menstruasi, penyakit hati dengan kerusakan hemostatis jika uji koagulasi menunjukkan hasil yang lama atau jika terjadi hemorage, pemakaian heparin sodium harus segera dihentikan. Terapi heparin sodium diberikan secara hati-hati pada pasien usia lanjut dan wanita hamil Trombositopenia dilaporkan telah terjadi pada pasien yang menerima heparin.

Bagaimanapun Trombositopenia pada tingkat tertentu harus dimonitor secara seksama. Efek samping: Hemorage, iritasi lokal, hipersensitivitas, Trombositopenia, osteoporosis, peningkatan kadar SGOT dan SGPT. Dosis dan cara pemakaian: Dosis harus dimonitor dengan melakukan uji koagulasi sebelum pemakaian dan bervariasi tergantung pada respon masing-masing. Waktu pembekuan harus 2-3 kali nilai kontrol. Pemakaian subkutan (dosis terapeutik): pemberian subkutan 10.000 iu dapat diberikan tiap 8 jam setelah injelsi bolus i.v sebesar 5.000 iu Pemberian secara i.v: 5.000-10.000 iu setiap 4 jam melalui injeksi bolus atau infus berkesinambungan dalam larutan pembawa injeksi NaCl atau injeksi dekstrosa. Kontraindikasi: Ijeksi heparin sodium tidak boleh digunakan pada pasien dengan kondisi hemoragik, trombositopenia, hemofilia, bakterial endokarditis subakut, tukak peptik, hipertensi, jaudice, aborsi yang membahayakan dan pembedahan besar pada bagian otak, sumsum tulang belakang serta mata.

Interaksi obat: Heparin sodium dapat memperpanjang satu tahap waktu protrombin. Untuk mendapatkan waktu protrombin yang benar, jika heparin sodium diberikan bersamaan dengan dikumarol atau warfarin sodium, pengambilan darah dilakukan selama 5 jam dari pemberian i.v terakhir atau 24 jam setelah pemberian subkutan terakhir. Obat-obat seperti asam oktil salisilat, fenilbutazon, ibuprofen, indometasin, dipyridamol dan hidroksiklorokuin dan obat-obat lainnya yang menggaggu reaksi agregasi platetet dapat menginduksi pendarahan. Digitalis, tetrasiklin, nikotin, atau antihistamin dapat mengurangi aktivitas antikoagulan heparin sodium. Penyimpanan: Simpan pada suhu 150-250C

9. Captopril 12,5 mg, 25 mg, dan 50 mg Indikasi: Pengobatan hipertensi ringan sampai sedang. Pada hipertensi berat digunakan bila terapi standar tidak efektif atau tidak dapat digunakan. Pengobatan gagal jantung kongestif, digunakan bersama dengan diuretik dan bila mungkin dengan digitalis. Kontraindikasi: Penderita yang hipersensitif terhadap captopril atau ACE lainnya Wanita hamil atau yang berpotensi hamil Wanita menyusui Gagal ginjal Stenosis aortik Peringatan dan perhatian: Pemakaian harus hati-hati karena sensitivitasnya terhadap efek hipotensif Hati-hati diberikan pada penderita penyakit ginjal Pemberian pada anak-anak belum diketahui keamanan dan efektivitasnya, sehingga obat ini hanya diberikan bila tidak ada obat lain yang efektif, untuk mengontrol tekanan darah. Pengobatan agar dihentikan bila terjadi gejala-gejala angioedema, seperti bengkak mulut, mata, bibir, lidah, larynx, juga sukar menelan, sukar bernafas dan serak. Hati-hati pada penderita dengan penyakit kolagen vaskuler yang mendapat terapi imunosupresan, pengobatan dengan alopurinol atau prokainamid, karena dapat menyebabkan terjadinya infeksi serius.

Efek samping Proteinurea, peningkatan ureum darah dan kreatinn Idiosinkratik, rashes, trauma pruritus Neutropenia, anemia, trombositopenia Hipotensi Interaksi obat: Obat-obat imunosupresan dapat menyebabkan diskrasia darah pada pengguna captopril dengan gagal ginjal Suplemen potasium atau obat diuretik yang mengandung potasium, dapat terjadi peningkatan yang berarti pada serum potassium. Probenesid, dapat mengurangi bersihan gnjal dari captopril Obat antiinflamasi non steroid, dapat mengurangi efektivitas antihipertensi Obat tiuretik meningkatkan efek antihipertensi captopril Captopril laporkan bekerja sinergis dengan vasodilator perifer seperti minoxidil Dosis dan cara pemberian: Hipertensi ringan sampai sedang Dosis awal 12,5 mg, 2 kali sehari. Dosis pemeliharaan 25 mg, 2 kali sehari. Hipertensi berat Dosis awal 12,5 mg, 2 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan bertahap menjadi maksimal 50 mg, 3 kali sehari. Gagal jantung Dosis awal 6,25 mg atau 12,5 mg. Dosis pemeliharaan 25 mg, 2 3 kali sehari, dapat ditingkatkan bertahap dengan selang paling sedikit 2 minggu. Dosis maksimum 150 mg sehari. Usia lanjut Dosis awal yang rendah, mengingat kemungkinan menurunnya fungsi ginjal atau organ lain pada penderita usia lanjut. Anak-anak Dosis awal 0,3 mg/kg BB sampaimaksimum 6 mg/kg BB perhari dalam 2-3 dosis, tergantung reson. Penyimpanan: Simpan pada suhu kamar (250-300C) terlindung dari cahaya.