Anda di halaman 1dari 6

N o 1.

Diangosa Keperawatan Nyeri b/d Granulasi disertai sensasi benda asing dan iskemik syaraf optik

Rencana Tindakan Tujuan Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri dapat teratasi KH : 1. Klien mengatakan nyeri berkurang. 2. Mengungkapkan peningkatan kenyamanan di daerah mata 3. TTV dalam batas normal 4. Klien Nampak nyaman/tidak gelisah 5. Mata pasien tidak hiperemia. 6. Mata pasien tidak berair. 7. Nyeri berkurang atau terkontrol : - Skala nyeri 0-1 8. Klien dapat beradaptasi dengan keadaan yang sekarang. 1. 2. Intervensi Kaji skala dan intensitas nyeri, Kaji TTV Kompres tepi palpebra ( mata dalam keadaan tertutup ) dengan larutan salin selama kurang lebih 3 menit. Usap eksudat secara perlahan dengan kapas yang sudah dibasahi salin dan setiap pengusap hanya dipakai satu kali. Anjurkan klien menggunakan kacamata (gelap). 1. 2. Rasional Menentukkan intervensi selanjutnya melepaskan eksudat yang lengket pada tepi palpebra

3.

3.

membersihkan palpebra dari eksudat tanpa menimbulkan nyeri dan meminimalkan penyebaran mikroorganisme. pada klien fotobia, kacamata gelap dapat menurunkan cahaya yang masuk pada mata sehingga sensitivitas terhadap cahaya menurun. Pada konjungtivitis alergi, kacamata dapat mengurangi ekspose terhadap allergen atau mencegah iritasi lingkungan Memberikan informasi pada saat pasien perawatan di rumah mengenai pengobatan khusus serta nama orang yang harus dihubungi bila dijumpai nyeri yang tidak tertahankan, akan memberikan kesempatan pada klien untuk ikut serta berpartisipasi dalam penanganan masalah kesehatannya.

4.

4.

5.

6.

7.

Berikan edukasi tentang pengobatan khusus yang harus di konsumsi, frekuensi pemberian, kemungkinan efek samping, kemungkinan interaksi obat, kewaspadaan khusus saat mengkonsumsi obat tersebut (misalnya alergi dan kontraindikasi), dan nama orang yang harus dihubungi bila dijumpai nyeri yang tidak tertahankan. Informasikan pada pasien tentang prosedur yang dapat meningkatkan nyeri dan tawarkan saran koping. Berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, seberapa

5.

6.

Klien dapat mengendalikan stressor penyebab nyeri serta dapat meningkatkan mekanisme koping klien. Memberikan informasi tentang nyeri, seperti

7.

8.

lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. Ajarkan penggunaan teknik non farmakologi (relaksasi) Kolaborasi : pemberian anti nyeri (analgetik)

penyebab nyeri, seberapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur. 8. Tehnik relaksasi nafas dalam dapat membantu klien untuk mengurangi rasa nyeri, apalagi pada klien dengan nyeri kronis. Kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik sesuai indikasi Membantu dalam penentuan intervensi selanjutnya

9.

9. 1.

2.

Kerusakan Integritas Jaringan berhubungan dengan ulkus kornea

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan nyeri dapat teratasi, dengan criteria hasil KH : Mengidentifikasi penyebab kerusakan jaringan mekanik. Berpartisipasi dalam perencanaan untuk meningkatkan penyembuhan luka. Memperlihatkan kemajuan penyembuhan luka jaringan. Klien mengatakan nyeri berkurang. TTV dalam batas normal

1.

Identifikasi faktor penyebab/penunjang ( deficit sensori,) Untuk kerusakan neuromuscular : a. Ajarkan klien/orang terdekat tindakan yang tepat untuk mencegah tekanan, robekan, gesekan, maserasi.

2.

2.

Kerusakan neuromuscular : a. Tindakan ambulansi kepala dengan hati-hati serta Batasi aktivitas pergerakan kepala tiba tiba dan berlebihan dapat mencegah terjaidnya peningkatan TIO, menganjurkan klien untuk tidak menggaruk mata dan mencegah terjadinya robekan kornea. seperti, menggaruk mata, mengucek mata, dan membungkuk b.

b. Ajarkan untuk mengenali tanda-tanda awal kerusakan jaringan 3. Jaga kulit tetap bersih dan kering dengan menganjurkan penggunaan sabun ringan untuk wajah yang tidak merubah pH dan tidak menyebabkan iritasi pada mata. Melakukan perawatan luka pada klien Kolaborasi : a. Agen Kolinergik (Miotik) :

4. 5.

Awal kerusakan jaringan dapat berupa nyeri , rasa terbakar pada mata, munculnya purulen, dan gangguan lapang pandang penglihatan. 3. Menjaga klien tetap bersih dan kering akan mencegah kerusakan jaringan yang lebih luas, sabun wajah dengan PH yang tinggi dapat menyebabkan iritasi pada mata; 4. Mencegah terjadinya infeksi yang lebih lanjut, 5. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi medis: a. Merangsang reseptor kolinergik, mengkontraksikan otot-otot iris untuk

3.

Potensial Komplikasi : Sepsis, Abrasi Kornea, Meningitis berhubungan dengan infeksi dan hiperskeresi kelenjar airmata

Klien Nampak nyaman/tidak gelisah Produksi air mata berkurang Tidak adanya peningkatan refleks berkedip Berkurangnya lecet karena garukan. Penyembuhan area mata yang telah mengalami iritasi Tujuan perawat akan mengatasi dan memantau komplikasi sepsis dan meningitis, dengan KH: TTV dalam batas normal Tidak ada perubahan aktivitas mental

b. Carbonic anhydrase inhibitors dan

b.

Agen Osmotik

mengecilkan pupil dan menurunkan tahanan terhadap aliran humor aqueous, juga mengkontraksikan otot-otot ciliary untuk meningkatkan akomodasi. Menghambat produksi humor aqueous dan meningkatkan osmolaritas plasma darah, meningkatkan aliran cairan dari humor aqueous ke plasma.

1.

Pantau tanda dan gejala sepsis ( suhu: > 38C atau < 36 C , nadi: >90x/m, Respirasi : >20x/m, Leukosit: >12.000) Pantau perubahan aktivitas mental;kelemahan, malaise, normotermia atau hiportermia, dan anoreksia Kolaborasi : Pemberian anti-infeksi, pemantauan dan penatalaksanaan oksigen, imunomodulasi, dan dukungan nutrisi sesuai dengan program

1.

Mengidentifikasi gejala sepsis

2.

2.

Perubahan aktivitas mental menunjukkan gejala sepsis, pada lansia tidak memperlihatkan tanda tipikal infeksi Pemberian anti-infeksi akan mencegah terjaidnya infeksi lebih lanjut bahkan infeksi yang lebih berat. Pemberian terapi oksigen yang tepat dapat mengurangi syok

3.

3.

4.

Risiko cedera berhubungna dengan gangguan penglihatan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan Klien dapat mengidentifikasi faktor yang dapat meningkatkan risiko cedera dengan KH : Klien mampu menjelaskan tujuan penggunaan tindakan keamanan untuk mencegah cedera Klien mampu mempertahankan lapang pandang tanpa kehilangan\lebih lanjut. Klien mampu Mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan risiko cedera

1.

2.

3.

4.

5.

6. 7. 8.

Berikan penerangan yang aman dan sarankan untuk memberi penerangan yang cukup, serta penerangan lembut di malam hari. Ajarkan klien bagaimana cara mengurangi silau ( hindari permukaan yang mengkilap, menggunakan lampu sinarnya menyebar, bukan menyorot) Anjurkan klien dan keluarga untuk meletakkan warna-warna yang cukup kontras guna membedakan pandangan Orientasikan pasien terhadap lingkungan dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke tubuhnya. . Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kecelakaan. Awasi atau temani pasien saat melakukan aktivitas. Bersihkan sekret mata dengan cara yang benar Perhatikan keluhan penglihatan kabur yang dapat terjadi setelah penggunaan tetes mata dan salep mata.

1.

Penerangan yang memadai akan membantu klien

2.

Kondisi sulit melihat karena silau sering kali menjadi penyebab jatuh, Bola lampu pijar dapat menghasilkan cahaya silau yang lebih sedikit. Warna-warna yang kontras akan membantu klien dalam membedakan pandangandan ingatkan untuk menghindari warna hijau biru. menurunkan resiko jatuh atau cidera.

3.

4.

5.

6. 7. 8.

Orientasi lingkungan dan mendekatkan alat yang di butuhkan dekat pada klien dapat Mencegah cidera, dan meningkatkan kemandirian klien. meminimalkan resiko cedera, memberikan rasa nyaman bagi pasien mengontrol kegiatan pasien dan menurunkan bahaya keamanan penumpukan sekret pada mata akan membuat pandangan kabur, membersihkan sekret dengan benar akan mengurangi sensasi benda asing di sekitar mata, sehinga dapat meminimalikan cidera. Memberikan informasi pada klien agar tidak melakukan aktivitas berbahaya sesaat setelah penggunaan obat mata.

5.

Gangguan body image berhubungan dengan perubahan status kesehatan

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan Klien dapat menerima perubahan dirinya dan meningkatnya kepercayaan diri klien. Dengan KH:

1. 2.

Kaji tingkat penerimaan klien. Ajak klien mendiskusikan keadaan atau perasaan yang dialaminya. Catat jika ada menyimpang. tingkah laku yang

1. 2.

untuk mengetahui tingkat penerimaan klien mengenai perubahan dari dirinya. Membantu pasien atau orang terdekat untuk memulai menerima perubahan. kecermatan akan memberikan pilihan intervensi yang sesuai pada waktu individu menghadapi rasa duka dalam berbagai cara yang berbeda memberikan penjelasan tentang penyakit yang dialami kepada pasien atau orang terdekat sehingga ansietas dapat berkurang. menyediakan, meningkatkan menegaskan kesanggupan kepercayaan diri dan klien

3.

3.

4.

Jelaskan perubahan berhubungan dengan dialami.

yang terjadi penyakit yang

4.

5.

Berikan kesempatan klien untuk menentukan keputusan tindakan yang dilakukan. Kaji tingkat ansietas atau kecemasan.

5.

6.

Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya

Tujuan :Setelah di lakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami kecemasan. dengan KH: Klien menyatakan pemahaman tentang proses penyakitnya. Klien dapat menggambarkan dan Menggunakan mekanisme koping yang efektif. klien melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi

1.

1.

2. 3. 4.

Beri penjelasan tentang proses penyakit yang di alami oleh klien Beri dukungan moril berupa doa terhadap pasien Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan. Identifikasi sumber atau orang yang menolong

2. 3. 4.

Bermanfaat dalam penentuan intervensi yang tepat sesuai dengan kebutuhan klien. Fungsi ini mempengaruhi persepsi pada pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus ancietas dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO. Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya. Memberikan perasaan tenang kepada klien Memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasi yang nyata, mengklarifikasi kesalah pahaman dan pemecahan masalah. Memberi keyakinan bahwa pasien tidak sendiri dalam menghadapi masalah.

5.

5.