Anda di halaman 1dari 11

Urin Porsi Tengah

Disusun oleh : Irna Parwati Anne Lestari 1 A Analis Kesehatan

STIKES Jenderal Achmad Yani Cimahi 2013-2014

Kata Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul "Urin Porsi Tengah". Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: Kedua orang tua,temanteman dan semua pihak yang telah membantu. Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi. Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.

Cimahi, 19 Oktober 2013

Penyusun

Daftar Isi Kata Pengantar.. i Daftar Isi...ii Pendahuluan..1 a. Latar belakang1 b. Tujuan.1 Pembahasan2 a. Pengertian2 b.Pelaksanaan prosedur...2 b.1. Pengkajian2 b.2. Intervensi..2 b.3. Implementasi2 b.4. Evaluasi2 b.5.Dokumentasi2 c. Teknik pengambilan porsi tengah..3 Penutup4 a. Kesimpulan4 b. Saran..4 Daftar pustaka5

Pendahuluan
Latar belakang Urinalisis yang akurat dipengaruhi oleh spesimen yang berkualitas. Sekresi vagina, perineum dan uretra pada wanita, dan kontaminan uretra pada pria dapat mengurangi mutu temuan laboratorium. Mukus, protein, sel, epitel, dan mikroorganisme masuk ke dalam sistem urine dari uretra dan jaringan sekitarnya. Oleh karena itu pasien perlu diberitahu agar membuang beberapa millimeter pertama urine sebelum mulai menampung urine. Pasien perlu membersihkan daerah genital sebelum berkemih. Wanita yang sedang haid harus memasukkan tampon yang bersih sebelum menampung specimen. Kadang-kadang diperlukan kateterisasi untuk memperoleh spesimen yang tidak tercemar. Meskipun urine yang diambil secara acak (random) atau urine sewaktu cukup bagus untuk pemeriksaan, namun urine pertama pagi hari adalah yang paling bagus. Urine satu malam mencerminkan periode tanpa asupan cairan yang lama, sehingga unsure-unsur yang terbentuk mengalami pemekatan.
Tujuan

Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih,batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakitginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi),dan skrining terhadap status kesehatan umum

Pembahasan
Pengertian
Urin porsi tengah adalah bagian urin yang dikeluarkan di tengah proses maksi (pengeluaran urin).

Pelaksanaan perasat
A. 1. 2. 3. 4. PENGKAJIAN Mengkaji instruksi / pesanan medik untuk pemeriksaan diagnostik. Mengkaji intake dan pola eliminasi klien. Mengkaji tingkat pengetahuan klien akan prosedur dan tujuan pemerikasaan urine. Mengkaji tujuan pengambilan sampel urine, untuk menetukan metode yang tepat dalam pengambilan sampel urine. B. INTERVENSI 1. Persiapan Alat :

a.

Bokal/botol/wadah tempat sampel urine. 1) Bokal/botol/wadah steril untuk pemeriksaan urine kultur dan sensitivitas. 2) Bokal/botol/wadah bersih untuk pemeriksaan urine rutin atau urine lengkap. b. Handscoen bersih. c. Pot/urinal. d. Nierbeken/bengkok. e. Perlak/alas. f. Etiket. g. Formulir pemeriksaan. h. Menurut cara pengambilan sampel urine dengan cara mid stream : a) Baskom berisi air hangat, sabun, washlap dan handuk. b) Pinset steril dan kapas betadine. 2. Persiapan Klien Menjelaskan prosedur dan tujuan dilakukannya pengambilan sampel urine. C. 1. 2. 3. 4. IMPLEMENTASI Menutup sampiran Mencuci tangan. Memakai handscoen bersih. Melakukan pengambilan sampel urine :

a. Dengan Cara Mid Stream : 1) Meletakkan perlak/pengalas dibawah bokong klien, lepaskan pakaian bawah klien dan atur posisi yang sama seperti saat membersihkan vulva/perineum (bila klien harus dibantu). 2) Membersihkan daerah perineum dan alat genitalia dengan menggunakan air hangat + sabun dan washlap, kemudian keringkan dengan handuk. 3) Membersihkan daerah meatus urethra eksternus dengan menggunakan kapas betadine dan pinset steril. 4) Menganjurkan kepada klien untuk berkemih dan tampung urine yang pertama keluar dalam pot/urinal, kemudian tampung urine yang keluar selanjutnya kedalam bokal/botol urine sampai 10 20 cc dan anjurkan klien untuk menuntaskan berkemihnya kedalam pot/urinal. 5. Menempatkan bokal/botol urine ditempat yang aman, setelah urine untuk pemeriksaan ditampung. 6. Menutup bokal/botol urine. 7. Merapihkan klien dan alat. 8. Melepaskan handscoen. 9. Menempelkan etiket pemeriksaan urine pada bokal/botol urine, dan buatkan formulir pemeriksaannya. 10. Membuat formulir pmerikasaan. 11. Membawa sampel urine beserta formulir pemeriksaannya ke laboratorium. D. EVALUASI 1. Mengevaluasi hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui hasil test 2. Mengevaluasi respon klien selama pelaksanaan prosedur.

3. E. 1. 2. 3.

Mengobservasi karakteristik urine : warna, kepekatan dan bau. DOKUMENTASI Mencatat jumlah, warna, bau dan konsistensi urine. Mencatat waktu dan cara pengambilan sampel urine. Mencatat respon klien selama prosedur.

Teknik Pengambilan Urin Porsi tengah


Pada wanita : 1. Siapkan beberapa potongan kasa steril untuk membersihkan daerah vagina dan muara uretra.

2.Dengan 2 jari pisahkan kedua labia dan bersihkan daerah vagina dengan potongan kasa steril yang mengandung sabun.

3.Bilas daerah tersebut dari arah depan ke belakang denganpotongan kasa yang dibasahi dengan air atau salin hangat.

4.Dengan tetap memisahkan kedua labia, mulaila berkemih. Buang beberapa mililiter urin yang mula-mula keluar. Kemudian tampung aliran urin selanjutnya ke dalam wadah steril sampai kurang lebih sepertiga atau setengah wadahterisi. 5.Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapatda bersihkan dinding luar wadah dari urin yangtertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadah tersebut dan kirim segera ke laboratorium.

Pada Pria 1.Siapkan beberapa potongan kasa steril untukmembersihkan daerah penis dan muara uretra. 2.Tarik prepusium ke belakang dengan satu tangan danbersihkan daerah ujung penis dengan kasa yang dibasahiair sabun. 3.Bilas ujung penis dengan kasa yang dibasahi air atausalin hangat. Ulangi sekali lagi, lalu keringkan daerahtersebut dengan potongan kasa steril yang kering. 4.Dengan tetap menahan prepusium ke belakang, mulailahberkemih. Buang beberapa mililiter urin yang keluar,kemudian tampung urin yang keluar berikutnya ke dalamwadah steril sampai terisi sepertiga sampaisetengahnya. 5.Setelah selesai, tutup kembali wadah urin dengan rapatdan bersihkan dinding luar wadah dari urin yangtertumpah. Tuliskan identitas penderita pada wadahtersebut dan kirim segera ke laboratorium

Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan urinalisis dilakukan untuk menentukan dua parameter penting ISK yaitu leukosit dan bakteri. Pemeriksaan rutin lainnya seperti deskripsi warna, berat jenis dan pH, konsentrasi glukosa, protein, keton, darah dan bilirubin tetap dilakukan.5 Pemeriksaan Dipstik Pemeriksaan dengan dipstik merupakan salah satu alternatif pemeriksaan leukosit dan bakteri di urin dengan cepat. Untuk mengetahui leukosituri, dipstik akan bereaksi dengan leucocyte esterase (suatu enzim yang terdapat dalam granul primer netrofil). Sedangkan untuk mengetahui bakteri, dipstik akan bereaksi dengan nitrit (yang merupakan hasil perubahan nitrat oleh enzym nitrate reductase pada bakteri). Penentuan nitrit sering memberikan hasil false-negative karena tidak semua bakteri patogen memiliki kemampuan mengubah nitrat atau kadar nitrat dalam urin menurun akibat obat diuretik. Kedua pemeriksaan ini memiliki angka sensitifitas 60-80% dan spesifisitas 70 98 %. Sedangkan nilai positive predictive value kurang dari 80 % dan negative predictive value mencapai 95%. Akan tetapi pemeriksaan ini tidak lebih baik dibandingkan dengan pemeriksaan mikroskopik urin dan kultur urin. Pemeriksaan dipstik digunakan pada kasus skrining follow up. Apabila kedua hasil menunjukkan hasil negatif, maka urin tidak perlu dilakukan kultur.5,6 Pemeriksaan Mikroskopik Urin Pemeriksaan mikroskopik dilakukan untuk menentukan jumlah leukosit dan bakteri dalam urin. Jumlah leukosit yang dianggap bermakna adalah > 10 / lapang pandang besar (LPB). Apabila

didapat leukosituri yang bermakna, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan kultur. Pemeriksaan langsung kuman patogen dalam urin sangat tergantung kepada pemeriksa. Apabila ditemukan satu atau lebih kuman pada pemeriksan langsung, perlu dilakukan pemeriksaan kultur.5,7 Pemeriksaan Kultur Urin Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari kultur urin masih merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Bila jumlah koloni yang tumbuh > 105 koloni/ml urin, maka dapat dipastikan bahwa bakteri yang tumbuh merupakan penyebab ISK. Sedangkan bila hanya tumbuh koloni dengan jumlah < 103 koloni / ml urin, maka bakteri yang tumbuh kemungkinan besar hanya merupakan kontaminasi flora normal dari muara uretra. Jika diperoleh jumlah koloni antara 103 - 105 koloni / ml urin, kemungkinan kontaminasi belum dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan biakan ulang dengan bahan urin yang baru. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah kuman adalah kondisi hidrasi pasien, frekuensi berkemih dan pemberian antibiotika sebelumnya.1,5 Perlu diperhatikan pula banyaknya jenis bakteri yang tumbuh. Bila > 3 jenis bakteri yang terisolasi, maka kemungkinan besar bahan urin yang diperiksa telah terkontaminasi.1 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

PENUTUP A. Kesimpulan Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal,memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. B. 1. Saran Tenaga kesehatan: Selalu melakukan tindakan dengan benar sesuia prosedur dan menjaga privasi pasien serta lebih mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien. Pasien: Bekerjasama agar lebih mudah dalam melakukan tindakan. Mahasiswa:

2. 3.

Mampu melakukan perasat dengan benar agar tidak terjadi kesalahan

DAFTAR PUSTAKA

Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas, Jakarta, Depkes Colby, 1992, Ringkasan Biokimia Harper, Alih Bahasa: Adji Dharma, Jakarta, EGC