Anda di halaman 1dari 15

Perencanaan Strategis Sistem Informasi

Tugas Kelompok Fase I: Laporan Analisis Awal Perencanaan Strategis Sistem Informasi Studi Kasus Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP)

Disusun Oleh : Bayu Prasetio Bhimo Bhaskoro Christian Regensius David Krisna Saputra Dedi Irawan 1206337993 1206338005 1206338043 1206338062 1206338075

PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNOLOGI INFORMASI FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA 2013

Daftar Isi

Daftar Isi ................................................................................................................................... iv Daftar Tabel ............................................................................................................................... v Daftar Gambar .......................................................................................................................... vi Bab 1 Profil Organisasi .............................................................................................................. 1 1.1 1.2 1.3 1.4 Sejarah BPKP .............................................................................................................. 1 Struktur Organisasi BPKP........................................................................................... 1 Pengguna Jasa BPKP .................................................................................................. 2 Visi dan Misi BPKP .................................................................................................... 3

Bab 2 Aktivitas Organisasi ........................................................................................................ 3 2.1 Aktivitas Utama........................................................................................................... 3 Penyusunan Rencana Kerja Pengawasan ............................................................. 3 Pelaksanaan Pengawasan ..................................................................................... 3 Penugasan ............................................................................................................ 3 Monitoring dan Pengawasan Internal .................................................................. 3 Analisis dan Penyusunan Laporan Hasil Pengawasan ......................................... 4 Penelitian dan Pengkajian Hasil Pengawasan ...................................................... 4 Publikasi............................................................................................................... 4 Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor (JFA) .................................................... 4 Pendidikan dan Latihan........................................................................................ 4

2.1.1 2.1.2 2.1.3 2.1.4 2.1.5 2.1.6 2.1.7 2.1.8 2.1.9 2.2

Aktivitas Pendukung ................................................................................................... 4 Kepegawaian ........................................................................................................ 4 Umum .................................................................................................................. 4 Keuangan ............................................................................................................. 5

2.2.1 2.2.2 2.2.3

Bab 3 Analisa Permasalahan ...................................................................................................... 5 Bab 4 Analisa Keunggulan Kompetitif ...................................................................................... 8 Daftar Pustaka .......................................................................................................................... 11

Daftar Tabel

Tabel 3.1 Perbandingan kondisi saat ini dengan ekspektasi proses bisnis internal BPKP ........ 5

Daftar Gambar

Gambar 1.1 Komposisi SDM BPKP.......................................................................................... 2 Gambar 3.1 Cause-Effect Analysis ............................................................................................ 7 Gambar 4.1 Analisa Value Chain BPKP ................................................................................... 9

Bab 1 Profil Organisasi


Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) merupakan Lembaga Pemerintah Non Kementrian yang bertugas melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara dan sebagai pembina Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) untuk seluruh instansi pemerintah. Pendekatan yang dilakukan BPKP lebih mengedepankan aspek pencegahan atau pembinaan (preventif), walaupun tetap melakukan tindakan represif berupa audit. 1.1 Sejarah BPKP

Sejarah BPKP dimulai dari perkembangan lembaga pengawasan sejak sebelum era kemerdekaan, yaitu Djawatan Akuntan Negara (DAN) yang kemudian diambil alih tugasnya dengan dibentuknya Direktorat Jendal Pengawasan Keuangan Negara (DJPKN) pada Departemen Keuangan. Tugas pengawasan yang dilakukan DJPKN adalah meliputi seluruh pelaksanaan anggaran negara, anggaran daerah, dan badan usaha milik negara/daerah. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 31 tahun 1983, DJPKN ditransformasikan menjadi BPKP, sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND, sekarang LPNK) yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. Berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 103 tahun 2001 sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden No 64 tahun 2005, BPKP mempunyai tugas melaksanakan pengawasan keuangan dan pembangunan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pendekatan yang dilakukan BPKP diarahkan lebih bersifat preventif atau pembinaan dan tidak sepenuhnya audit atau represif. Revitalisasi dan reposisi BPKP melalui penajaman visi, misi dan strategi sesuai dengan arahan Presiden dan Peraturan Presiden Nomor 60 tahun 2008 yang memberikan mandat bagi BPKP sebagai auditor Presiden yang memiliki tugas melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara dan sebagai pembina SPIP untuk seluruh instansi pemerintah (BPKP, 2009). 1.2 Struktur Organisasi BPKP Dalam melaksanakan tugasnya, BPKP dipimpin oleh seorang kepala yang dibantu oleh satu Sekretaris Utama dan lima Deputi. Selain itu, terdapat Inspektorat dan empat Pusat. BPKP mempunyai Kantor Perwakilan di 33 Provinsi seluruh Indonesia. Kantor pusat BPKP terletak di Jalan Pramuka Nomor 33 Jakarta. Berikut tugas masing masing unit satuan kerja BPKP (BPKP, 2009): Sekretariat Utama, mempunyai tugas mengkoordinasikan perencanaan, pembinaan, pengendalian administrasi dan sumber daya di lingkungan BPKP. Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Perekonomian, mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang pengawasan instansi pemerintah bidang perekonomian. Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Politik, Sosial dan Keamanan , mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang pengawasan instansi pemerintah bidang politik, sosial dan keamanan. 1

Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Penyelenggaraan Keuangan Daerah, mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang pengawasan penyelenggaraan bidang keuangan daerah. Deputi Bidang Akuntan Negara, mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang akuntan negara. Deputi Bidang Investigasi, mempunyai tugas melaksanakan perumusan kebijakan di bidang investigasi. Inspektorat, mempunyai tugas melaksanakan pengawasan fungsional terhadap unit kerja yang berada di lingkungan BPKP. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan (Pusdiklatwas), mempunyai tugas melaksanakan penyelenggaraan, pembinaan dan koordinasi kegiatan pendidikan dan pelatihan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pengawasan (Puslitbangwas), mempunyai tugas melaksanakan penyelenggaraan, pembinaan dan koordinasi kegiatan penelitian dan pengembangan pengawasan. Pusat Informasi Pengawasan (Pusinfowas), mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan data dan informasi serta pengembangan sistem informasi. Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor (Pusbin JFA), mempunyai tugas melaksanakan penelaahan dan penyusunan peraturan, standar, pedoman, program pembinaan, dan pelaksanaan sertifikasi serta evaluasi pelaksanaan sertifikasi, angka kredit, dan efektivitas tim penilai jabatan fungsional auditor di lingkungan BPKP dan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) lainnya. Perwakilan BPKP Provinsi, melaksanakan pengawasan keuangan dan pembangunan serta akuntabilitas di daerah sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. Guna menunjang pelaksanaan tupoksinya, BPKP memiliki 6.010 pegawai, dengan komposisi seperti ditunjukkan pada Gambar 1.1 di bawah ini:

Gambar 1.1 Komposisi SDM BPKP

1.3

Pengguna Jasa BPKP Pengguna jasa BPKP terbatas pada lembaga di lingkungan pemerintahan, yaitu Presiden, Penentu Kebijakan (Menteri Koordinator dan Menteri), Gurbernur/Walikota/Bupati, Auditee/Pengguna (Instansi Pemerintah, BUMN/D), Aparat Penegak Hukum (Polri, Kejaksaan, KPK), APIP lainnya dan BPK. Informasi yang disajikan ke masyarakat / publik adalah informasi yang memenuhi UU Keterbukaan Informasi Publik (BPKP, 2009). 2

1.4

Visi dan Misi BPKP Visinya adalah Auditor Presiden yang responsif, interaktif dan terpercaya untuk mewujudkan akuntabilitas keuangan negara yang berkualitas. Dalam rangka untuk mencapai visinya, BPKP menetapkan 4 (empat) misi (BPKP, 2009), yaitu: 1. Menyelenggarakan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara yang mendukung tata kepemerintahan yang baik dan bebas KKN. 2. Membina cara efektif penyelenggaraan sistem pengendalian intern pemerintah. 3. Mengembangkan kapasitas pengawasan intern pemerintah yang profesional dan kompeten. 4. Menyelenggarakan sistem dukungan pengambilan keputusan yang andal bagi presiden / pemerintah.

Bab 2 Aktivitas Organisasi


Berdasarkan dokumentasi Renstra BPKP, aktivitas BPKP dapat dibagi menjadi aktivitas utama dan aktivitas pendukung. Aktivitas-aktivitas tersebut saling terkait dan bekerjasama dalam mencapai visi, misi dan tujuan BPKP. 2.1 Aktivitas Utama Berikut merupakan aktivitas-aktivitas utama BPKP (BPKP, 2008). 2.1.1 Penyusunan Rencana Kerja Pengawasan Aktivitas ini berfungsi untuk mendapatkan jenis kegiatan pengawasan yang dinilai paling efektif untuk mengantisipasi risiko yang dihadapi oleh masing-masing lembaga yang menjadi objek pengawasan. 2.1.2 Pelaksanaan Pengawasan Aktivitas ini merupakan pelaksanaan pengawasan yang terdiri dari kegiatan edukasi, bimbingan teknis, pendampingan (asistensi), dan audit (termasuk audit investigasi), serta melaksanakan kegiatan pengawasan yang diminta oleh stakeholder (Presiden, Lembaga Pemerintah, maupun Lembaga Peradilan dan Penegak Hukum). 2.1.3 Penugasan Pejabat Fungsional Auditor (PFA) dapat membantu kegiatan pengawasan di lembaga lain, baik atas inisiatif kantor perwakilan atau lembaga yang bersangkutan. Pemilihan PFA yang akan ditunjuk mesti dilakukan berdasarkan data tentang kompetensi di bidang dan jenis kegiatan tersebut, rekam jejak dalam melaksanakan kegiatan serupa, serta mengacu pada standar kompetensi yang dipersyaratkan untuk tiap kegiatan dan bidang pengawasan. 2.1.4 Monitoring dan Pengawasan Internal Aktivitas ini berguna untuk memantau status pelaksanaan rencana kerja pengawasan, ketepatan jadwalnya, alokasi SDM-nya, penggunaan anggarannya, serta kinerjanya, termasuk dampak (outcome) kegiatan pengawasan. Data dampak hasil 3

pengawasan dapat diperoleh melalui sumber data eksternal, seperti laporan audit BPK, publikasi Biro Pusat Statistik, publikasi Bank Indonesia, maupun laporan hasil survei lembaga-lembaga teknis. 2.1.5 Analisis dan Penyusunan Laporan Hasil Pengawasan Kegiatan pada aktivitas ini meliputi pengumpulan, tabulasi dan agregasi data hasil pengawasan, dan menyusunnya sebagai laporan hasil pengawasan. 2.1.6 Penelitian dan Pengkajian Hasil Pengawasan Pada aktivitas ini, dilakukan analisis dengan pemodelan untuk menemukan polapola penyimpangan dan risiko dari tiap program kerja pemerintah, jenis kegiatan, dan lembaga. Pengetahuan ini dikembangkan secara kolektif oleh para analis lintas sektoral/bidang di kantor pusat dengan bantuan fasilitas kolaborasi. 2.1.7 Publikasi Penerbitan laporan rutin hasil pengawasan serta publikasi hasil analisis merupakan nilai tambah bagi stakeholders. Publikasi pengetahuan berupa pola penyimpangan, risiko, dan peta permasalahan dapat meningkatkan kredibilitas BPKP sebagai lembaga pendamping (quality assurance). 2.1.8 Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor (JFA) Aktivitas ini terdiri dari pelaksanaan program pembinaan JFA baik yang merupakan pegawai BPKP maupun pegawai lembaga lain, melakukan sertifikasi JFA, mengevaluasi dan menetapkan Angka Kredit bagi PFA, mencatat data kompetensi dan rekam jejak aktivitas PFA untuk menjadwalkan kepesertaan PFA dalam programprogram pendidikan dan pelatihan, dan menetapkan standar kompetensi PFA untuk tiap jenis kegiatan dan bidang pengawasan. 2.1.9 Pendidikan dan Latihan Aktivitas ini berguna untuk meningkatkan kompetensi di bidang yang berkaitan dengan pengawasan, baik bidang ke-JFA-an, teknis substansi, maupun administrasinya. 2.2 Aktivitas Pendukung Berikut merupakan aktivitas-aktivitas pendukung BPKP (BPKP, 2008). 2.2.1 Kepegawaian Tujuan utama aktivitas ini adalah mengelola sumber daya manusia (SDM) BPKP dengan memetakan kebutuhan SDM, yaitu dengan merencanakan dan melaksanakan penerimaan, alokasi, serta pengembangan SDM, memantau dan mengevaluasi kinerja SDM, mempromosikan, dan memberhentikan SDM. 2.2.2 Umum Aktivitas ini bertujuan untuk mengelola sarana dan prasarana BPKP, termasuk fasilitas inventaris kantor, kendaraan, rumah dinas, daya, jasa, dan sebagainya.

2.2.3 Keuangan Aktivitas ini terdiri dari penyusunan anggaran tahunan BPKP, berdasarkan data realisasi anggaran serta hasil evaluasi antara perencanaan dan realisasi anggaran tahuntahun sebelumnya. Data realisasi anggaran diambil dari Sistem Akuntansi Instansi (SAI), Simak-BMN BPKP dan pengelolaan keuangan BPKP, termasuk melaksanakan administrasi perbendaharaan.

Bab 3 Analisa Permasalahan


Terbitnya PP Nomor 60 tahun 2008 merupakan pendorong perubahan visi dan misi BPKP untuk dapat melakukan tugas pengawasan akuntabilitas negara dan pembinaan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dengan cakupan yang lebih luas. Berdasarkan visi dan misi ini, dibutuhkan strategi baru untuk meningkatkan kinerja dan bisnis proses yang ada di BPKP. Secara umum BPKP telah menunjukkan kinerja yang baik dalam meningkatkan tata kelola dan menciptakan iklim pencegahan KKN (Narasi Renstra, 2009). Akan tetapi, di beberapa bagian internal proses BPKP masih terdapat target yang belum tercapai. Berdasarkan dokumen arsitektur pengembangan SI BPKP, menunjukkan perbandingan antara kondisi saat ini dengan target yang ingin dicapai dari internal bisnis proses.
Tabel 3.1 Perbandingan kondisi saat ini dengan ekspektasi proses bisnis internal BPKP (Sumber: (BPKP, 2008))

Proses Bisnis

Kondisi Saat ini Hasil evaluasi atas keefektifan kegiatan pengawasan yang telah dan sedang berjalan tidak tersedia secara tepat waktu untuk dapat digunakan sebagai landasan dalam merencanakan jenis kegiatan pengawasan yang efektif. Data profil-profil risiko untuk setiap lembaga, program kerja, jenis kegiatan, statistik penyimpangan, dan sebagainya belum tersedia secara reguler.

Gap

Penyusunan Rencana Kerja Pengawasan

Tidak tersedianya data yang dapat digunakan sehingga dapat dilakukan kegiatan pengawasan yang efektif

Kondisi yang Diharapkan Perencanaan kegiatan pengawasan dapat menggunakan data hasil evaluasi atas keefektifan kegiatan pengawasan sebelumnya sebagai pertimbangan untuk mendapatkan jenis kegiatan pengawasan yang dinilai paling efektif Analisis risiko dapat dilakukan berdasarkan hasil analisis dan penelitian terhadap data rekam-jejak pengawasan pada masamasa sebelumnya.

Pelaksanaan Pengawasan

Fasilitas online auditing maupun fasilitas ekspor data dari SAI lembaga yang menjadi objek pengawasan belum ada.

Tidak tersedianya sebuah sistem online untuk mendukung kegiatan pengawasan

Penelitian dan Pengkajian Hasil Pengawasan

Fasilitas kolaborasi online untuk mendukung kegiatan penelitian secara lintas sektoral atau lintas bidang belum dimanfaatkan secara optimal.

Penggunaan sistem yang mendukung kolaborasi online oleh analis lintas sektoral/bidang belum optimal

Publikasi

Fasilitas visualisasi, pembandingan, perangkuman, dan elaborasi data hasil pengawasan interaktif belum tersedia

Sistem dashboard untuk stakeholder belum ada

Kepegawaian

Data tentang kompetensi, riwayat penugasan, dan rekam jejak kinerja pegawai dikelola secara terpisah oleh berbagai satuan kerja dan

Terdapat pengelolaan informasi yang tidak teratur.

Kegiatan pengawasan berupa audit dapat dilakukan secara online dengan men-transfer dari Sistem Akuntansi Instansi (SAI) lembaga yang menjadi objek pengawasan ke kantor pusat. Para analis lintas sektoral/bidang di kantor pusat dapat melakukan analisis pemodelan untuk menemukan pola-pola penyimpangan dan profil risiko dari tiap program kerja pemerintah, jenis kegiatan, dan lembaga yang dikembangkan secara kolektif dengan bantuan fasilitas kolaborasi. Departemen Pusat Informasi menyediakan akses secara interaktif atas informasi hasil pengawasan yang memungkinkan stakeholders untuk memvisualisasikan, membandingkan, merangkum, dan mengelaborasi hasil pengawasan sesuai dengan kebutuhannya. Biro Kepegawaian mengelola data induk pegawai, termasuk data tentang kompetensi di bidang pengawasan, riwayat penugasan, angka kredit, serta 6

banyak yang tidak dilaporkan ke Biro Kepegawaian.

rekam jejak kinerjanya sebagai acuan dalam proses kepangkatan, kenaikan gaji, dan sebagainya.

Berdasarkan fakta kondisi saat ini dibandingkan dengan target, hasil analisa masih menunjukkan terdapat gap antara kondisi yang terjadi dan target. Dengan demikian, ditarik kesimpulan bahwa proses internal BPKP sendiri belum berjalan dengan efektif. Hal inilah yang saat ini menjadi permasalahan utama bagi BPKP yaitu belum efektifnya bisnis proses utama dalam internal BPKP. Gambar 3.1 menunjukkan cause-effect analysis untuk mendapatkan akar permasalahan.
Stakeholders
Fasilitas visualisasi, pembandingan, perangkuman, dan elaborasi data hasil pengawasan interaktif belum tersedia

Administrasi Pengelolaan SDM


Data tentang kompetensi, riwayat penugasan, dan rekam jejak kinerja pegawai tidak dikelola secara terpadu oleh Biro Kepegawaian. Belum ada SOP Untuk pengelolaan Informasi

Para analis belum menggunakan Fasilitas kolaborasi Online dengan optimal Belum ada aturan Terkait kolaborasi lintas Sektoral atau bidang Dalam analisa laporan

Tidak tersedia fasilitas Online auditing Tidak tersedia data/informasi yang dapat digunakan sehingga dapat dilakukan kegiatan pengawasan yang efektif Belum ada sistem Informasi untuk menyimpan Dan mengelola Data & informasi

Pelaksanaan Bisnis Proses utama BPKP belum efektif


Tidak ada fasilitas Ekspor data dari lembaga Objek pengawasan Ke kantor pusat Belum tersedia Teknologi & aplikasi

Kebudayaan

SI/TI

Bagaimana perencanaan pengembangan SI/TI untuk mengatasi permasalahan yang terjadi?

Gambar 3.1 Cause-Effect Analysis

1. Administrasi Pengelolaan SDM Peran kepegawaian masih sangat kurang dalam pengelolaan informasi SDM di BPKP. Hal ini ditunjukkan dari masih banyaknya data yang dibutuhkan terkait SDM, namun tidak dimiliki oleh Biro Kepegawaian. Selain itu, data-data tentang kompetensi, riwayat penugasan dan rekam jejak pegawai tidak dikelola secara terpadu oleh Biro Kepegawaian, melainkan terpisah di berbagai satuan kerja. 2. SI/TI Analisis risiko, untuk melihat profil risiko dari tiap program kerja pemerintah, perlu dilakukan oleh BPKP. Kegiatan ini membutuhkan data rekam-jejak pengawasan 7

sebelumnya, namun data tersebut juga tidak terekam dengan baik sehingga analisis risiko tidak dapat dilakukan. Data hasil evaluasi efektivitas pengawasan sebelumnya dibutuhkan BPKP secara tepat waktu. Akan tetapi, pada kenyataannya informasi tersebut tidak dapat didapatkan tepat waktu sehingga menghambat proses perencanaan kegiatan pengawasan. Selain itu, dibutuhkan fasilitas online audit dan mekanisme pengiriman data keuangan secara online sehingga data tersebut dapat diproses di kantor pusat. Hal ini dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan dalam pengumpulan informasi kebutuhan audit dari lembaga objek pengawasan. 3. Stakeholders Penerbitan laporan rutin hasil pengawasan kepada stakeholders merupakan salah satu tugas BPKP. Kebutuhan akan alat bantu, seperti sistem dashboard, untuk dapat membantu stakeholders dalam pengambilan keputusan berdasarkan laporan adalah aplikasi yang dibutuhkan stakeholders. Fasilitas visualisasi, pembandingan, perangkuman, dan elaborasi data hasil pengawasan informasi dibutuhkan oleh stakeholders, tetapi hal ini belum tersedia. 4. Kebudayaan Dengan kolaborasi dalam penelitian dan pengkajian hasil pengawasan secara lintas sektoral atau bidang, tim pengawas dapat melakukan pertukaran pendapat sehingga mendapatkan hasil penelitian yang lebih akurat. Akan tetapi, saat ini penggunaan fasilitas kolaborasi online untuk mendukung kegiatan penelitian lintas sektoral dan lintas bidang belum dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan hasil analisa di atas, dijelaskan permasalahan-permasalahan yang menjadi akar masalah dari belum efektifnya pelaksanaan proses bisnis di BPKP. Secara umum, permasalahan yang timbul adalah ketidaktersediaan data, belum adanya sistem informasi dan prosedur maupun aturan untuk mendukung proses bisnis yang ada. Kebutuhan akan sistem informasi dan teknologi pendukungnya, serta pengaturan aliran informasi inilah yang menjadi alasan dibutuhkannya PSSI bagi BPKP.

Bab 4 Analisa Keunggulan Kompetitif


Keunggulan kompetitif dapat tercipta jika terdapat kesepadanan antara distinctive competencies dari sebuah perusahaan dengan faktor-faktor kritis untuk sukses dalam industrinya yang memungkinkan perusahaan dapat mengungguli pesaingnya (Utama, 2003). Terdapat dua cara untuk mencapai keunggulan kompetitif, yaitu: 1. Keunggulan kompetitif dapat tercapai apabila perusahaan melakukan strategi biaya yang memungkinkan untuk menawarkan produk pada harga yang lebih rendah dibanding pesaing. 2. Keunggulan kompetitif juga dapat dicapai dengan strategi diferensiasi produk sehingga pelanggan mempunyai persepsi tentang manfaat unik yang membenarkan harga tinggi. 8

Kedua strategi tersebut mempunyai dampak yang sama untuk meningkatkan manfaat yang dirasakan pelanggan. Porter (1995) dalam bukunya Competitive Advantage memperkenalkan konsep Value Chain dengan menjelaskan bahwa dalam perusahaan terdapat serangkaian kegiatan yang memberikan kontribusi terhadap nilai akhir atau jasa yang dijual kepada konsumen (Porter, 1995). Value itu sendiri menurut Porter merupakan sejumlah uang yang oleh pembeli dirasakan dengan membayar untuk mendapatkan produk atau jasa tersebut. Rangkaian kegiatan yang berbeda secara fisik dan teknologi secara bersama-sama menciptakan nilai yang disebut Value Chain. Pada Value Chain akan ditampilkan total value yang terdiri dari value activities dan margin. Value Activities adalah aktifitas-aktifitas yang berbeda secara fisik dan teknologi yang digunakan perusahaan yang terdiri dari aktifitas primer (primary activities) dan aktifitas pendukung (support activities) (Utama, 2003). Sedangkan Margin merupakan perbedaan antara total value dan aktifitas yang dilakukan perusahaan. Sistem nilai (value system) yang ada dalam perusahaan akan menentukan keunggulan kompetitif perusahaan, baik dari segi harga yang Iebih murah maupun peningkatan kinerja pembeli (buyer performance). Setiap perusahaan mempunyai value chain yang berbeda tergantung dari strategi masing-masing (Utama, 2003). Berdasarkan analisis customer value proposition (CVP) dimana dari beberapa faktorfaktor yang dapat memberikan nilai tambah kepada pelanggan, BPKP termasuk dalam service dan quality. Fungsi BPKP adalah sebagai auditor Presiden yang memiliki tugas melakukan pengawasan intern terhadap akuntabilitas keuangan negara dan sebagai pembina SPIP untuk seluruh instansi pemerintah. Peran pembina SPIP terkait erat dengan peran pengawasan intern, karena dengan penguatan SPIP maka pengendalian pelaksanaan kegiatan pemerintahan menjadi semakin terjaga dari penyimpangan dan penyalahgunaan. BPKP harus dapat memberikan nilai tambah kepada pelanggannya, yang dalam hal ini instansi pemerintah yang diwujudkan melalui unjuk kinerja yang optimal sebagai Auditor Presiden sehingga peran BPKP semakin nyata dalam membantu pemerintah menyelesaikan permasalahanpermasalahan yang dihadapi (BPKP, 2009). Gambar 4.1 menggambarkan Value Chain yang sudah dikemas berdasarkan aktivitas-aktivitas BPKP yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya:

Gambar 4.1 Analisa Value Chain BPKP

Berdasarkan analisis value chain yang sudah dilakukan dapat disimpulkan beberapa strategi yang mendukung BPKP dalam memberikan nilai tambah kepada pelanggannya yaitu: Product Differences Kualitas layanan BPKP harus bersifat strategis, makro, nasional (lintas sektoral) yang merupakan jiwa pasal 49 PP Nomor 60 Tahun 2008. Hal ini dapat dicapai dengan perumusan kebijakan untuk standarisasi tingkat layanan BPKP. Market Differences BPKP memiliki pasar pengawasan yang jelas, yaitu Presiden sebagai shareholders utama dan stakeholders birokrasi yang lain yang terdiri dari legislatif, yudikatif, organisasi pendidikan dan organisasi profesi. Dalam mempercepat penyebaran informasi, dibutuhkan peningkatan kerjasama hubungan antar shareholders dan stakeholder dan pengembangan pelayanan sistem informasi dan teknologi informasi dalam pelaksanaan pengawasan. Methodology Differences Metodologi pengawasan harus terus dikembangkan dan ditingkatkan. Hal ini dapat dicapai melalui pemantapan pelaksanaan (performance audit, policy analysis dan forensic audit), pengawasan(internal control review) dan evaluasi tahapan penyelenggaraan (program evaluations). Dengan menggunakan analisis value chain dan strategi diharapkan BPKP dapat meningkatkan pelayanan dan meningkatkan kepuasaan pelanggan. Kepuasan pelanggan dan peningkatan pelayanan menjadi tolak ukur utama dalam menilai BPKP dalam memberikan nilai lebih kepada pelanggan yang memakai jasa BPKP. Analisa Competitive Advantage ini juga menjadi acuan untuk analisa kedepan dalam merancang kebutuhan sistem informasi yang dibutuhkan BPKP.

10

Daftar Pustaka
BPKP. (2008). Arsitektur Pengembangan Sistem Informasi BPKP. Jakarta: BPKP.

BPKP. (2009). Rencana Strategis BPKP 2009-2014. Jakarta: BPKP.

Porter, M. E. (1995). Competitive Advantage : Creating and Sustaining Superior Performance. New York: Simon and Schuster. Inc.

Utama, A. (2003). Upaya Meningkatkan Keunggulan Kompetitif Perusahaan Dalam Era Persaingan Global Melalui Aliansi Strategis. Kajian Bisnis No. 30 September Desember 2003, 57- 73.

11