Anda di halaman 1dari 12

1988 - 1990 : Paket deregulasi dibidang Perbankan dan Pasar Modal diluncurkan. Pintu BEJ terbuka untuk asing.

Aktivitas bursa terlihat meningkat. 2 Juni 1988 : Bursa Paralel Indonesia (BPI) mulai beroperasi dan dikelola oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek (PPUE), sedangkan organisasinya terdiri dari broker dan dealer. Desember 1988 : Pemerintah mengeluarkan Paket Desember 88 (PAKDES 88) yang memberikan kemudahan perusahaan untuk go public dan beberapa kebijakan lain yang positif bagi pertumbuhan pasar modal.

16 Juni 1989 : Bursa Efek Surabaya (BES) mulai beroperasi dan dikelola oleh Perseroan Terbatas milik swasta yaitu PT Bursa Efek Surabaya. 13 Juli 1992 : Swastanisasi BEJ. BAPEPAM berubah menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Tanggal ini diperingati sebagai HUT BEJ. 22 Mei 1995 : Sistem Otomasi perdagangan di BEJ dilaksanakan dengan sistem computer JATS (Jakarta Automatic Trading Systems). 10 November 1995 : Pemerintah mengeluarkan Undang -Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. Undang-Undang ini mulai diberlakukan mulai Januari 1996. 1995 : Bursa Paralel Indonesia merger dengan Bursa Efek Surabaya. 2000 : Sistem Perdagangan Tanpa Warkat (scripless trading) mulai diaplikasikan di pasar modal Indonesia. 2002 : BEJ mulai mengaplikasikan sistem perdagangan jarak jauh (remote trading). 2007 : Penggabungan Bursa Efek Surabaya (BES) ke Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan berubah nama menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pakto 88 Pakto 88 ditujukan pada sektor perbankkan, namun mempunyai dampak terhadap perkembangan pasar modal. Pakto 88 berisikan tentang ketentuan 3 L (Legal, Lending, Limit), dan pengenaan pajak atas bunga deposito.

Pengenaan pajak ini berdampak positif terhadap perkembangan pasar modal. Sebab dengan keluarnya kebijaksanaan ini berarti pemerintah memberi perlakuan yang sama antara sektor perbankan dan sektor pasar modal.

Pakdes 88 Pakdes 88 pada dasarnya memberikan dorongan yang lebih jauh pada pasar modal dengan membuka peluang bagi swasta untuk menyelenggarakan bursa.

Karena tiga kebijaksanaan inilah pasar modal menjadi aktif untuk periode 1988 hingga sekarang.

Pada waktu Pasar Modal dihidupkan kembali tahun 1976, dibentuklah Bapepam, singkatan dari Badan Pelaksana Pasar Modal.

Menurut Keppres No.52/1976, Bapepam bertugas: 1. Mengadakan penilaian terhadap perusahaan-perusahaan yang akan menjual sahamsahamnya melalui Pasar Modal apakah telah memenuhi persyaratan yang ditentukan dan sehat serta baik; 2. Menyelenggarakan Bursa Pasar Modal yang efektif dan efisien; 3. terus-menurus mengikuti perkembangan perusahaan-perusahaan yang menjual sahamsahamnya melalui pasar modal. Bapepam dipimpin oleh seorang ketua yang diangkat oleh Presiden dan dalam melaksanakan tugasnya ia bertanggung-jawab kepada Menteri Keuangan.

Akhir Dualisme Pada mulanya, selain bertindak sebagai penyelenggara, Bapepam sekaligus merupakan pembina dan pengawas. Namun akhirnya dualisme pada diri Bapepam ini ditiadakan pada tahun 1990 dengan keluarnya Keppres No. 53/1990 dan SK Menkeu No. 1548/1990.

Keluarnya Keppres 53 tentang Pasar Modal dan SK Menkeu No. 1548 tahun 1990 itu menandai era baru bagi perkembangan pasar modal. Dualisme fungsi Bapepam dihapus, sehingga lembaga ini dapat memfokuskan diri pada pengawasan pembinaan pasar modal.

Dengan fungsi ini, Bapepam dapat mewujudkan tujuan penciptaan kegiatan pasar modal yang teratur wajar, efisien, serta melindungi kepentingan pemodal dan masyarakat. Dibandingkan dengan tugas pokok Securities Exchange Commission (SEC) di Amerika Serikat, tugas ini hampir sama. SEC bertugas menjaga keterbukaan pasar modal secara penuh kepada masyarakat investor dan melindungi kepentingan masyarakat investor dari malpraktik di pasar modal.

Sejarah Emiten Sejarah Asosiasi Emiten Indonesia Pada akhir era 80-an, ketika Pasar Modal Indonesia mulai berkembang, otoritas serta praktisi pasar modal terus mengupayakan peningkatan kegiatan pasar modal. Bapepam yang saat itu berfungsi sebagai otoritas sekaligus pelaksana bursa efek, merupakan motor penggerak

utama kehidupan pasar modal di Indonesia. Lembaga yang mengemban misi besar dalam mengembangkan pasar modal Indonesia ini dituntut membawa akselarasi pertumbuhan pasar modal. Hal tersebut tentunya juga harus diimbangi oleh perusahaan public (emiten), sebagai salah satu komponen penting yang menggerakkan pasar modal. Sejalan dengan itu, maka Emiten harus terus dibina untuk menumbuhkan iklim pasar yang kondusif dan professional sehingga memberikan motivasi perusahaan swasta lain untuk masuk pasar modal. Atas dasar pemikiran tersebut kemudian muncul keinginan sejumlah Emiten untuk mendirikan wadah organisasi bagi perusahaan Go Public. Gagasan pembentukan organisasi ini awalnya didorong oleh Ketua Bapepam yang saat itu dijabat oleh Bapak Marzuki Usman. Alasan pembentukan organisasi itu juga didorong oleh kenyataan bahwa Pasar Modal masih merupakan bidang baru, sehingga diperkirakan akan banyak masalah yang perlu dihadapi secara bersama-sama. Maka pada tanggal 13 Desember 1988, Bapak Marzuki Usman memanggil enam perusahaan mewakili semua Emiten yang tercatat saat itu berjumlah 24 perusahaan. Mereka adalah: Bapak Ahmad Slamet (PT Semen Cibinong Tbk), Bapak Harsono E Soleh (PT Delta Jakarta Tbk), Ny. J. Muaya Siambaton (PT BBD-IBJ Leasing), danBapak JW Sudomo (PT Squibb Indonesia Tbk) Dalam pertemuan di Gedung Bapepam, Jalan Merdeka Selatan Jakarta, mereka sepakat untuk membentuk organisasi bernama Asosiasi Emiten Indonesia (AEI). Dengan Ketua Umum S. Supoyo (BPD Jawa Timur), Sekretaris Umum Kusyadi Kuyono (PT Sepatu Bata Tbk), Bendahara Umum R. Andi Suprianto (PT Squibb Indonesia Tbk). Jumlah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan mengikuti kenaikan jumlah perusahaan Go Public yang tertacat di Bursa Efek, baik untuk saham maupun Obligasi.

Kesadaran anggota Asosiasi Emiten Indonesia cukup meningkat tajam. Hal ini dapat dilihat baik pada keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan Pengurus AEI maupun pada kesediaan Anggota melaksanakan kewajibannya serta respon Anggota terhadap masalah-masalah yang menyangkut Pasar Modal. Pertumbuhan emiten Perkembangan jumlah emiten di Indonesia tergolong lambat dengan rata-rata pertumbuhan 4,9% per tahun pada periode 20042008. Pada 2007 jumlah emiten melonjak tajam hingga 18,6% menjadi 408 emiten dibanding sebelumnya hanya 344 emiten. Kenaikan jumlah emiten tersebut karena terjadi penambahan emiten cukup besar. Pada 2008 jumlah emiten berkurang menjadi 396 perusahaan, ini berarti terjadi penurunan 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan adanya sejumlah emiten yang harus delisting dari lantai bursa sebab mengalami kerugian dalam operasionalnya. Hingga semeter I - 2008 tercatat 16 perusahaan telah listing, enam perusahan sudah masuk pipeline (proses) dari target 30 emiten baru pada 2008, atau lebih tinggi dibanding 2007 sebanyak 22 perusahaan. Namun sepanjang 2008 lalu sekitar 13 perusahaan terpaksa menunda IPO karena melihat kondisi bursa yang masih terpuruk akibat krisis. Calon emiten yang menunda IPO tersebut termasuk sejumlah BUMN yaitu PT Bank Tabungan Negara (BTN), PT Krakatau Steel, PT Pembangunan Perumahan, PT Waskita Karya, PT Garuda Indonesia, dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III, IV, dan VII. Dari sisi penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO), mi-salnya. Semula, BEI memasang target akan ada 30 emiten baru di lantai bursa pada 2008. Tapi, seiring

dengan lesunya pasar, target diturunkan menjadi 25 emiten. Revisi target ini tidak lain dikarenakan banyaknya emiten yang menunda pelaksanaan pencatatan sahamnya lantaran goyah melihat kinerja pasar finansial yang memburuk. Meski demikian, hingga September 2008, jumlah perusahaan yang melantai di bursa naik menjadi 15 perusahaan dengan total nilai IPO Rp27,81 triliun. Dengan emiten yang hanya berjumlah 396 perusahaan, BEI tergolong kecil dibanding jumlah emiten yang terdaftar di berbagai bursa regional. Menurut data World Federation of Exchange per Maret 2009, emiten bursa Malaysia tercatat mencapai 968 emiten, Singapura (765 emiten) dan Thailand (527 emiten). Data Emiten dan Perusahaan Publik Data mengenai seluruh Emiten dan Perusahaan Publik yang telah mendapatkan Pernyataan Efektif dari Bapepam ditampilkan dari Sistem Database Emiten dan Perusahaan Publik (CoreSystem) yang tengah dikembangkan oleh Bapepam. Adapun data dan informasi yang tercakup meliputi: Informasi umum (alamat, bidang usaha, no telpon/faksimili, corporate secretary, email) Data Pemegang Saham Komisaris dan Direksi Komite Audit Sejarah Emisi Pelaporan (Keterbukaan Informasi) RUPS

Obligasi

Statistik Emisi Obligasi


Grafik Perkembangan

Tahun

Jumlah Emiten Per Tahun Kumulatif 0 3 0 0 0 0 6 13 1 1 10 9 3 4 5 15 0 6 15 3 6 35 16 0 3 3 3 3 3 9 22 23 24 24 43 46 50 55 70 70 76 91 94 100 134

Nilai Emisi (Rp Juta) Per Tahun 0,0 154.817,0 70.000,0* 130.000,0* 50.000,0* 131.000,0* 400.000,0 619.500,0 535.000,0 125.000,0 1.641.533,0 1.905.000,0 929.520,0 2.003.130,0 2.841.080,0 7.104.992,0 150.000,0* 4.283.960,0 5.613.000,0 2.875.000,0 6.149.957,0 25.671.100,0 Kumulatif 0,0 154.718,0 224.718,0 354.718,0 404.718,0 535.718,0 935.718,0 1.555.218,0 2.090.218,0 2.215.218,0 3.856.751,0 5.761.751,0 6.691.271,0 8.694.401,0 11.535.481,0 18.740.473,0 18.890.473,0 23.174.433,0 28.787.433,0 31.662.443,0 37.812.400,0 63.483.500,0

1977-82 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

* Pertambahan nilai emisi berasal dari emisi obligasi yang bukan merupakan emisi pertama, sehingga jumlah emiten obligasi per tahun tidak ada/bertambah

Statistik HMETD (Right Issue)

Tahun

Jumlah Emiten Per Tahun Kumulatif 4 13 21 31 50 73 83 102 122 132 146 156 163 167 172 181

Nilai Emisi (Rp Juta) Per Tahun 45.096,2 527.248,9 340.473,1 1.361.236,4 3.356.723,3 5.661.450,5 3.182.000,7 11.924.194,7 15.887.075,1 4.890.935,7 129.934.491,3 17.547.875,0 4.187.976,7 8.600.499,4 2.457.908,9 4.342.150,8 Kumulatif 45.096,2 572.345,1 912.818,2 2.274.054,6 5.630.778,0 11.292.228,5 14.474.229,1 26.398.423,9 42.285.499,0 47.176.434,7 177.110.926,0 194.658.801,0 198.862.268,6 207.469.769,3 209.927.676,9 214.269.827,7

1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

4 9 8 10 19 23 10 19 20 10 14 10 7 4 5 9

Statistik Emisi Saham (IPO)

Tahun

Jumlah Emiten Per Tahun Kumulatif 249 268 302 305 317 342 374 396 405 417

Nilai Emisi (Rp miliar) Per Tahun 5.682,1 2.662,2 3.950,5 68.125,0 805,2 1.772,2 1.096,7 1.166,5 7.508,6 2.194,0 Kumulatif 20.481,9 23.144,1 27.094,6 27.162,7 27.967,9 29.740,1 30.836,9 32.003,4 39.512,0 41.706,0

1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

17 19 34 3 12 25 32 22 9 12

Sumber : http://www.bapepam.go.id

Untuk melihat perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia tahun 1992-2008 dapat di lihat pada Tabel IV-2 berikut : Tabel IV-2 Perkembangan IHSG di Indonesia, Tahun 1992-2008 Tahun IHSG Return IHSG (%)

1992 274.34 18.4 1993 588.77 114.6 1994 469.64 - 20.2 1995 513.84 9.4 1996 637.43 24.1 1997 401.71 36.9 1998 398.03 0.9 1999 676.92 70.1 2000 416.32 - 38.5 2001 392.03 - 5.8 2002 424.94 8.4 2003 679.30 59.9 2004 1,000.23 47.2 2005 1,162.63 16.2 2006 1,805.52 55.3 2007 2,745.83 52.1 2008 1,355.41 - 50.6 Sumber : Statistik Indonesia Dari Berbagai Edisi (diolah) Pada tahun 1992 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Indonesia berada pada posisi 274,34 dengan tingkat keuntungan atau return IHSG yang diraih sebesar 18,4 persen. Sedangkan pada tahun 1993 IHSG meningkat menjadi berada pada posisi 588,77 dengan tingkat return IHSG yang diraih meningkat juga menjadi sebesar 114,6 persen. Sedangkan pada pada tahun 1994 IHSG menurun menjadi berada pada posisi 469,64 dengan tingkat return yang diraih sebesar - 20,2 persen yang diakibatkan oleh perekonomian yang belum stabil. Dan pada tahun-tahun berikutnya IHSG dan return IHSG mengalami fluktuasi yang diakibatkan oleh belum kondusifnya perekonomian dalam negeri baik dari segi ekonomi, sosial,dan keamanan. Pada tahun 1998 IHSG di Indonesia berada pada posisi 398,03 dengan return yang diterima menurun menjadi sebesar 0,9 persen. Hal ini disebabkan karena terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia sehingga menyebabkan harga-harga barang naik secara keseluruhan yang diakibatkan oleh terpuruknya mata uang nasional. Dan juga menyebabkan para investor banyak yang mengalami kerugian sehingga banyak perusahaan yang harus bangkrut. Dan pada tahun-tahun berikutnya IHSG serta returnnya mengalami fluktuasi yang diakibatkan oleh terjadinya pergantian presiden dari masa orde baru ke masa reformasi dan terjadinya kenaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) yang menyebabkan perekonomian tidak stabil. Pada tahun 2008 IHSG di Indonesia menurun menjadi berada posisi 1.355,41 dengan return yang diraih menurun menjadi sebesar - 50,6 persen.

Hal ini disebabkan karena terjadinya krisis finansial di Amerika Serikat sehingga banyak perusahaanperusahaan mengalami kebangkrutan yang berefek pada banyaknya para investor yang mengalami kerugian yang sangat besar dan berefek pada investasi portofolio yang ada di pasar modal mengalami penurunan drastis.

Terlihat bahwa fluktuasi harian pergerakan IHSG selalu berubah dari tahun ke tahun. Yang menarik, fluktuasi harian rata-rata IHSG tampaknya mencapai puncaknya setiap 10 tahun sekali, dan kebetulan terjadi pada tahun yang berakhiran angka 8, yaitu 1988, 1998, dan 2008. Agaknya memang bukan kebetulan apabila ada kejadian besar pada tahun-tahun tersebut.

Pada tahun 1988, muncul Pakto (Paket Oktober) 88 yang merupakan titik balik dunia perbankan Indonesia. Pakto 88 memberikan izin pendirian bank swasta sekaligus mencabut larangan pendirian bank yang ditetapkan pada tahun 1971. Tahun 1998, seperti yang kita tahu adalah masa ketika krisis moneter melanda Indonesia. Tahun 2008 adalah tahun terjadinya krisis global yang dipicu oleh krisis perumahan di AS. Agaknya perubahan fluktuasi IHSG dari tahun ke tahun semakin menyempit walaupun masih saja naik turun. Menariknya, recovery ekonomi terjadi ketika fluktuasi mulai turun dan late expansion terjadi bersamaan dengan kenaikan fluktuasi IHSG (1997 dan 2007).

Untuk kali ini hasilnya ternyata cukup sesuai dengan mitos yang ada. Pada bulan Desember, kenaikan rata-rata IHSG adalah 4.62%, jauh di atas kenaikan rata-rata bulanan sebesar 1.05% (lebih dari empat kali lipat). Terlebih lagi, kenaikan rata-rata IHSG pada bulan Desember adalah kenaikan bulanan tertinggi sepanjang tahun. Peringkat kedua adalah kenaikan rata-rata pada bulan Januari yaitu sebesar 3.79%. Paling tidak dari tahun 1989 sampai dengan 2008, mitos mengenai Santa Claus Rally dan January Effect masih benar Lalu bagaimana dengan October Effect? Walaupun memang benar pada bulan Oktober, IHSG rata-rata menurun sebesar -1.2% namun rata-rata penurunan terbesar adalah pada bulan September sebesar -2.68% dan bulan

Agustus sebesar -1.57%. Dari grafik sepintas agak horor juga market pada bulan Agustus sampai dengan Oktober. Sekali lagi, itu hanyalah statistik, tidak bisa dijadikan pegangan mati. Sumber: http://marketnoise.wordpress.com

Saat ini investasi dalam bentuk portofolio(obligasi, saham, atau surat berharga lainnya) lebih menarik karena dianggap memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dan relatif tidak membutuhkan perizinan yang rumit. Investasi portofolio yang paling marak Indonesia selama kurun waktu 2001 hingga 2008 adalah investasi di pasar modal. Pada tahun 2001, IHSG berada pada level 470.23 dan pada akhir tahun 2007 berada pada 2745.83 atau naik sebesar 483.93 persen, jika di ratarata pertahunnya sebesar 69.13 persen. Berikut ini tabel kinerja BEI selama 3 tahun terakhir

Indikator IHSG Kapitalisasi Pasar Transaksi Harian Volume Harian Emiten Baru IPO Right Issue Emisi obligasi NAB Reksadana

2005 1162.64 Rp 801T Rp 1.67T 1.65M 8 Rp 3.54T Rp 10.36T Rp 8.25T Rp 29.17T

2006 1805.52

2007 2745.83

Rp 1249T Rp 1982T Rp 1.84T Rp 4.26T 1.78M 12 4.26M 24

Rp 3.01T Rp 17.18T Rp 9.76T Rp 29.8T Rp 11.45T Rp 31.28T Rp 52.28T Rp 91.5T

Sumber: http://coki002.wordpress.com