Anda di halaman 1dari 14

KODIFIKASI HADIS: PENGERTIAN, SEJARAH PERKEMBANGANNYA BESERTA PENULISAN HADIS, PEMBUKUAN, dan METODE PEMBUKUAN HADIS

Disusun oleh: NURMALA SARI :13290072 M. ARIFIN :13290050

ALDO JOSVALDO :13290044

Dosen Pembimbing: Eka rija, M.Pd.I

Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Raden Fatah Palembang 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah sebagai tugas diskusi kelompok mata kuliah Ulumul Hadis ini dengan baik dan tepat waktu.

Makalah kami berjudul Kodifikasi Hadis: Pengertian, Sejarah, dan Perkembangannya Beserta Penulisan, Pembukuan, dan Metode Pembukuan Hadis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini. Dan kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar tercipta makalah yang jauh lebih baik. Atas perhatiannya kami mengucapkan terima kasih.

Palembang, Oktober 2013

Penulis

PENDAHULUAN

Sejarah berkembangannya hadis merupakan Masa atau Periode yang telah dilalui oleh hadis dari masa dan lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengalaman umat dari generasi kegenerasi. Dengan memerhatikan Masa yang telah dilalui hadis sejak Masa timbulnya atau lahirnya di zaman Nabi SAW. Meneliti dan membina hadis, serta gejala hal yang mempengaruhi hadis tersebut. Para ulama Muhadditsin membagi sejarah hadits dalam beberapa periode. Adapun para Ulama penulis sejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah hadis. Ada yang membagi dalam tiga priode, lima dan tujuh priode.

Sejarah Perkembangan Hadis: Periode Pertama Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah SAW, Periode kedua Perkembanga Hadis Pada Masa KhulafaAl-rasidin (11 H-40 H), Periode Ketiga Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan Tabiin, Periode Keempat Perkembangan Hadis pada Abad II dan III Hijriah, Periode Kelima Masa Men-tashih-kan Hadis dan Penyusunan Kaidah-kaidahnya, Periode Keenam Dari Abad IV-Tahun 656 H, Periode Ketujuh (656 HSekaraang)

Penulisan Hadis nabawi atau sunnah nabawiyah adalah satu dari dua sumber syariat islam setelah AL-Quran. Fungsi hadis yang paling penting adalah menafsirkan al-quran dan menetapkan hukum-hukum lain yang tidak terdapat dalam al-quran. Dahulu para sahabat biasa mendengarkan perkataan nabi dan menyaksikan tindak-tanduk kehidupan Nabi secara langsung. Diawal pertumbuhan ilmu hadis, kaum muslimin lebih cenderung bertumpu pada kekuatan hapalannya tanpa menuliskan hadis yang mereka lakukan dengan al-quran.

Sebagaimana kita ketahui bahwa pada masa rasul dan sahabat hinggan akhir abad pertama hijriah, hadis belum dibukukan, dan masih diriwayatkan dari mulut ke mulut. Masing-masing perawi meriwayatkan hadits dengan kekuatan hafalan. Metode pembukuan hadis: Metode Manasanid, Al-Maajim, Pengumpulan Hadis Berdasarkan Semua Bab Pembahasan Agama, Seperti Kitab-kitab Al-jawami, Penulisan Hadis Berdasarkan Pembahasan Figh, Kitab-kitab yang Penyusunnya Hanya Menuliskan Hadis-Hadis yang sahih, Karya Tematik, Kumpulan Hadis Hukum Fiqh (Kutubul ahkam), Merangkaikan Al-Majami, Al-Ajza, Al-athraf, Kumpulan Hadis yang Masyhur Diucapkan secara Lisan atau Tematik, Az-Zawaid. Demikianlah penjabaran tentang pengertian, sejarah perkembangan, penulisan, serta metode pembukuan hadis.

PEMBAHASAN

A. Pengertian kodifikasi Kodifikasi adalah: Usaha pengumpulan dan pembukuan hadis secara resmi oleh seorang khalifah dalam bentuk sebuah buku yang dihimpun dari berbagai sumber dari para penghafal dan penulis hadis sejak masa Rasulullah SAW, sahabat dan tabiin.1

B. Sejarah Perkembangan Hadis Sejarah perkembangan hadis merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis dari masaa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengalamaan umat dari generasi kegenerasi.2 Dengan memperhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak masa timbulnya/lahirnya di zaman Nabi SAW. Meneliti dan membina hadis, serta segala hal yang memengaruhi hadis tersebut. Para ulama Muhaditsin membagi sejarah hadis dalam beberapa periode. Adapunn para ulama penulisan sejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah hadis. Ada yang membagi dalam tiga periode, lima periode, dan tujuh periode. M.Hasbi Asy-Shidieqy membagi perkembangan hadis menjadi tujuh periode, sejak periode Nabi SAW. Hingga sekarang, yaitu sebagai berikut.

1. Periode Pertama: Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah SAW. Periode ini disebut Ashr Al-Wahyi wa At-Taqwin (masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat islam). Pada periode inilah, hadis lahir berupa sabda (aqwal), afal, dan taqrir Nabi yang berfungsi menerangkan al-quran untuk menegakkan syariat islam dan untuk masyarakat islam.

Para sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara langsung misalnya saat Nabi saw. Member ceramah, pengajian, khotbah, atau penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun penerimaan secara tidak langsung adalah mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik dari utusan yang dikirim oleh Nabi ke daerah-daerah atau yang datang kepada Nabi.
1 2

Uswatun Hasana, Ulumul Hadis, (Palembang: Grafika Telindo Press, 2012) hlm 31 Drs. M. Agus Solahudin, M.Ag. ulumul Hadits, Cetakan Pertama, (Bandung:Pustaka Setia, 2008). Hlm. 33-34.

2. Periode Kedua: Perkembangan Hadis pada Masa KhulaAr-Rasyidin (11 H-40 H) Periode ini disebut Ashr-At-Tatsabbut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah(masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi SAW. Wafat pada tahun 11 H. Kepada umatnya beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman sebagai dasar bagi pedoman hidup, yaitu Al-Quran dan hadis (As-Sunnah) yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat manusia.3 Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis tersebar secara terbatas. Penulisan hadis pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Bahkan, pada masa itu, Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadis, dan sebaliknya, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatiannya untuk menyebarluaskan al-quran. Dalam praktiknya, ada dua sahabat yang meriwayatkan hadis, yakni: 1. Dengan lafazh asli, yakni menurut lafazh yang mereka terima dari Nabi SAW. Yang mereka hapal benar lafazh dari Nabi. 2. Dengan maknanya saja, yakni mereka meriwayatkan maknanya karena tidak hapal lafazh asli dari Nabi SAW.

3. Periode Ketiga: Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil

Periode ini di sebut Ashr Intisyar al-Riwayah ila Al-Amshar (Masa berkembang dan meluasnya periwayatan hadis) Para sahabat kecil dan tabiin yang ingin mengetahui hadis-hadis Nabi SAW di haruskan berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan hadis kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar di wilayah tersebut. Dengan demikian, pada masa ini, disamping tersebarnya periwayatan hadis kepelosok-pelosok daerah jazirah arab, perlawataan untuk mencari hadis pun menjadi ramai.

Karena meningkatnya periwayatan hadis, munculah bendaharawan dan lembagalembaga (Centrum perkembangan) hadis di berbagai daerah di seluruh negeri.

Ibid, hlm. 35-36.

Diantara bendaharawan meriwayatkan hadis adalah: 1. Abu Hurairah, menurut ibn Al-Jauzi, beliau meriwayatkan 5.374 hadis, sedangkan menurut Al-Kirmany, beliau meriwayatkan 5.364 hadis.

2. Abdullah Ibn Umar meriwayatkan 2.630 hadis.

3. Aisyah, istri Rasu SAW. Meriwayatkan 2.276 hadis, dan lain-lain.

4. Periode Keempat: Perkembangan Hadis pada Abad II dan III Hijriah Periode ini disebut Ashr Al-Kitabah wa Al-Tadwin (masa penulisan dan pembukuan secara resmi, yakni yang diselenggarakan atas inisiatif pemerintah. Masa pembukuan secara resmi dimulai pada awal abad II H, yakni pada masa pemerintahan Khalifah Umar Ibn Abdul Azis tahun 101 H. Sebagai khalifah, Umar Ibn Aziz sadar bahwa para perawi yang menghimpun hadis dalam hapalannya semakin banyak yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak membukukan dan mengumpulkan dalam buku-buku hadis dari par perawinya, ada kemungkinan hadis-hadis tersebut akan lenyap dari permukaan bumi.4 Adapun kitab-kitab hadis yang telah dibukukan dan dikumpulkan dalam abad kedua ini, jumlahnya cukup banyak. Akan tetapi, yang masyhur di kalangan ahli hadis adalah: : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Al-Muwaththa, susunan Imam Malik (95 H-179 H) Al-Maghazi wal Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150 H) Al-Fami susunan Abdul Razzaq As-Sanany (211 H) Al-Mushannaf, susunan Al-Humaidy (219 H ) Al- Musnad, susunan Zaid Ibn Ali. Al-Maghazin Nabawiyah, susunan Muhammad Ibn Waqid Al-Aslamy. Mukhtalif Al-Hadis, susunan Al-Imam Asy-SyafiI, dan lain-lain.

Ibid, hlm 38-41

Tokoh-tokoh yang masyhur pada abad kedua hijriah adalah Malik, Yahya ibn Said AlQaththan, Waki Ibn Al-Jarrah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Syubah Ibnu Hajjaj, Abdul Ar-rahman ibn Mahdi, Al-AuzaI, Al-Laits, Abu Hanifah dan Asy-Syafii.5

Berbeda dengan para ahli hadits abad kedua hijriah yang membukukan hadits bercampur dengan fatwa dan tabiin, maka pada abad ketiga Hijriah para ahli hadis hanya membukukan hadits dengan tidak mencampurkannya dengan fatwa sahabat dan tabiin.6 Dengan usaha-usaha ulama ahli hadits abad ketiga ini, maka terkumpullah tiga macam kitab hadits, yaitu: 1. Kitab-kitab Shahih. Yaitu kitab-kitab yang penyusunannya hanya memasukkan haditshadits shahih. 2. Kitab-kitab Sunan. Yaitu kitab yang tidak dimasukkan kedalamnya hadits-hadits munkar. 3. Kitab-kitab Musnad, yaitu kitab-kitab yang penyusunannya memasukkan semua macam hadits tanpa menyaring dan tidak pula menerangkan derajat hadis tersebut.

5. Periode Kelima: Masa Men-tashih-kan Hadis dan penyusunan Kaidah-kaidahnya Pada awalnya, ulama hanya mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di kotanya masing-masing. Hanya sebagian kecil diantara mereka yang pergi ke kota lain untuk kepentingan pengumpulan hadits. Keadaan ini diubah oleh Al-Bukhari. Beliaulah yang mula-mula meluaskan daerahdaerah yang dikunjungi untuk mencari hadis. Beliau pergi ke Mekah, Madinah, Mesir, Kufah, Baghdad, dan lain-lain. Imam Bukhari membuat terobosan dengan mengumpulkan hadis yang tersebar di berbagai daerah. Enam tahun lamanya Al-bukhari terus menjelajah untuk menyiapkan kitab Shahih-Nya. Pekerjaan yang mulia ini kemudian diselenggarakan dengan sempurna oleh Al-Imam AlBukhari. Al-Bukhari menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama Al-Famius Shahih. 7 Sesudah Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, bermunculan Imam lain yaitu Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-nisai
5 6

Ibid, hlm. 42. Drs. M. Isa Anshori Mutaal, Lc, Ulumul Hadis, Cetakan ketiga, (Palembang: Iain Raden Fatah Press, 2005). hlm.22. 7 Op.cit, hlm. 43.

6. Periode Keenam: Dari Abad IV hingga Tahun 656 H. Periode Keenam ini dimulai dari abad IV hingga tahun 656 H, yaitu pada masa Abasiyyah angkatan kedua. Periode ini dinamakan Ashru At-Tahdib wa At-Tartibi wa AlIstidraqi wa Al-Jami.8 Adapun usaha-usaha ulama hadis yang terpenting dalam periode ini adalah: 1. Mengumpulkan Hadis Al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab. Diantaranya adalah: Kitab Al-Jami Bain Ash-Shahihani. 2. Mengumpulkan hadis-hadis dalam kitab enam. 3. Mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab. 4. Mengumpulkan hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab Athraf

7. Periode Ketujuh (656 H-Sekarang) Periode ini dinamakan Ahdu As-Sarhi wa Fami wa At-Takhriji wa Al-Bahtsi, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pen-tahrij-an, dan pembahasan. Pada periode ini disusun Kitab-kitab Zawaid, yaitu usaha mengumpulkan hadis yang terdapat dalam kitab yang sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, diantaranya Kitab Zawaid susunan Ibnu Majah, dan lain-lain. Banyak kitab dalam dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut perawinya dan pen-takhrij-nya. Sebagai ulama pada masa ini berusaha menerangkan tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab tertentu, diantaranya Takhrij Hadis Tafsir Al-Kasyasyaf karangan Al-Zailaii (762), dan lain-lain. Sebagaimana periode keenam, periode ketujuh ini pun muncul ulama-ulama hadis yang menyusun kitab-kitab Athraf, di antaranya Ithaf Al-Maharah bi Athraf Al- Asyrah oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan lain-lain. Tokoh-tokoh hadis yang terkenal pada masa ini adalah: Al-Ainy (855 H), Al-Mizzy (742 H), Ibnu Katsir (774 H), Abu Zurah (826 H), dan lain-lain.

Ibid, hlm. 45-49.

Penulisan Hadis
Sebelum agama Islam datang, bangsa Arab tidak mengenal kemampuan membaca dan menulis. Mereka lebih dikenal sebagai bangsa yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Namun, ini tidak berarti bahwa tidak ada seorang pun yang bisa menulis dan membaca. Adiy bin Zaid Al-Adi misalnya, sudah belajar menulis hingga menguasainya, dan merupaka orang petama yang menulis dengan bahasa Arab. Kota Mekah menjadi saksi adanya para penulis dan orang yang mampu membaca dan menulis. Pada masa Nabi, tulis-menulis sudah tersebar luas. Rasulullah pun mengangkat para penulis wahyu yang jumlahnya mencapai 40 orang. Para penulis semakin banyak di Madinah setelah terjadinya Perang Badar. Rasul mengharapkan para sahabat untuk menghapalkan AlQuran dan menuliskannya di tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, batu, dan sebagainya. Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW. Wafat, Al-Quran telah dihapalkan dengan sempurna oleh para sahabat. Seluruh ayat suci al-quran pun telah lengkap ditulis, tetapi belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Akan tetapi penulisan hadis kurang memperoleh perhatian seperti halnya Al-Quran. Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi karena tidak diperintahkan oleh Rasul.9 Menurut buku ulumul hadis karangan Uswatun Hasana, M.Ag. Diantara para sahabat yang melakukan penulisan hadis dan memiliki catatan-catatan, yaitu:10 1. Abdullah bin Amr Ash ( 27 SH 63 H.) Memiliki catatan yang di beri nama alshahifah al-ahadiqah, yang memuat sekitar seribu hadis Rasulullah SAW. 2. Abu Bakar As-shiddig ( 50 SH - 40 H.) Ia menuliska hadis sebanyak 500 buah 3. Ali bin Abi Thalib ( 23 SH - 40 H.) Disamping sebagai penulis pribadi Rasul SAW. Ia juga memiliki catatan hadis, dan lain-lain. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa Rasulullah tidak menghalangi usaha para sahabat untuk menulis hadis secara tidak resmi. Mereka memahami hadis Rasulullah SAW. Di atas bahwa larangan Nabi menulis hadis ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkan akan mencampuradukkan hadis dengan Al-Quran. Oleh karena itu, setelah Al-Quran ditulis dengan sempurna dan lengkap pula turunnya, makas tidak ada larangan untuk menulis hadis.

9 10

Ibid, hlm. 57-60. Uswatun Hasana, Op.cit, hlm. 36-37

Pembukuan Hadis
Pembukuan hadis dimulai sejak ahir masa pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sepurna. Maka pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, pada pertengahan abad II H, dilakukan upaya penyempurnaan. Sejak itu, tampak gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan, termasuk pembukuan dan penulisan hadis-hadis Rasul SAW. Pembukuan hadis itu kemudian di lanjutkan secara lebih teliti oleh imam imam ahli hadis, seperti Bukhari, Musim, Tirmizi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain. 11

Metode Pembukuan Hadis


Para penulis mempunyai beberapa metode dalam penyusunan hadis. Metode yang di gunakan oleh para ulama tersebut adalah

1. Metode Masanid Al-Masanid ,jamak dari sanad ,maksudnya buku buku yang berisi tentang kumpulan hadis setiap sahabat secara tersendiri,baik hadis sahih, hasan, atau dhaif. 2. AI-Maajim Al-Maajim adalah jamak dari mujam.Menurut istilah Para ahli hadis,AI-Ma-ajim adalah buku tang berisi Kumpulan hadis yang berurutan berdasarkan nama nama sahabat,atau guru guru penyusun,atau negeri sesuai dengan huruf hijaiyah.

3. Pengumpulan hadis berdasarkan Semua Bab Pembahasan Agama, Seperti Kitab Kitab Al Jawami Al-Jawamijamak dari jaami.Jawami dalam Karya hadis adalah yang di susun dan di bukukan Pengarangnya terhadaP semua pembahasan agama. Dalam Kitab dalam kitab ini, akan menemukan bab tentang iman, ibada, dan lain- lain a. As-Sunan As- Sunan yaitu kitab- kitab yang di susun berdasarkan bab-bab tentang fiqh, dan hanya memuat hadis yang marfuagar dijadikan sebagai sumber bagi para fuqaha dalam
11

Ibid, hlm.61-66

mengambil ke simpulan hukum.As-Sunah berbeda dengan al- jawami . Dalam As- Sunan tidak terdapat pembahasan tentang akidah,sirah, manakib dan sebagainya ,tetapi terbatas pada masalah fiqh dan hadis-hadis hukum . b. Al-Mushannafat Al- Mushannafat adalah sebuah kitab yang di susun berdasarkan urutan bab-bab tentang fiqh. c. Muwaththan at AI-Muwathahta at merupakan jamak dari muwaththa .Menurut istilah ahli hadis. AI-Muwaththaat adalah sebua Kitab yang tersusun berdasarkan urutan bab-bab fiqh dan mencakup hadis-hadis marfu, mauquf,dan maqthu, sama seperti mushannaf, meskipun namanya berbeda. 12 5. Kitab Kitab Yang Penyusun Hanya Menuliskan Hadis-Hadis Yang Sahih Selain metode metode Penyusunan yang telah disebutkan di atas, sebagai ulama tetap berkomitmen menyusun kitab-kitab sahih, di antaranya Shahih AI-Bukhari, Shahih Muslim, dan lain-lain. 6. Karya Tematik Sebagai ahli hadis menyusun Karya-Karya tematik yang terbatas Pada hadis hadis tertentu berkaitan dengan tema tertentu. 7. Kumpulan Hadis Hukum Fiqh ( Kutubul Ahkam ) Kumpulan Ahkam adalah buku-buku yang memuat tentang hadis hadis hukum fiqh saja. 8. Merangkai Al-Majami Al-Majami, yaitu setiap kitab yang berisi kumpulan beberapa mushannaf dan disusun berdasarkan urutan mushannaf yang telah dikumpulkan tersebut.

12

Ibid, hlm. 67-69.

9. Al-Ajza Al-Ajza, yaitu setiap kitab kecil yang berisi kumpulan riwayat seorang perawi hadis, atau yang berkaitan dengan suatu permasalahan secara terperinci. 10. Al-Athraf Al-Athraf yaitu setiap kitab yang hanya menyebutkan sebagian hadis yang dapat menunjukkan lanjutan hadis yang dimaksud, kemudian mengumpulkan sanadnya, baik sanad satu kitab ataupun sanad dari beberapa kitab. 11. Kumpulan Hadis yang Masyhur Diucapkan secara Lisan atau Tematik Hadis Mayhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga pengarang atau lebih dalam setiap tingkat sanadnya. 12. Az-Zawaid Az-zawaid adalah karya yang berisi kumpulan hadis tambahan terhadap hadis yang ada pada sebagian kitab yang lain.13 .

13

Ibid, hlm 71.

KESIMPULAN

Dari urain dan penjelasan diatas, pada bagian penutup ini dapat dikemukakan beberapa kesimpulan sebagai berikut. Kodifikasi adalah: Usaha pengumpulan dan pembukuan hadis secara resmi oleh seorang khalifah dalam bentuk sebuah buku yang dihimpun dari berbagai sumber dari para penghafal dan penulis hadis sejak masa Rasulullah SAW, sahabat dan tabiin. Sejarah perkembangan hadis: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Perkembangan Hadis pada Masa Rasulullah SAW Perkembangan Hadis pada Masa Khulafa Al-Rasidin (11 H-40 H) Perkembangan pada Masa Sahabat Kecil dan Tabiin Perkembangan Hadis pada abad II dan III Hijriah Perkembangan Masa Men-tashihkan-kan Hadis dan Penyusunan Kaidah-Kaidahnya Periode Keenam dari Abad IV-Tahun 656 H Periode Ketujuh (656 H Sekarang).

Pembukuan hadis dimulai sejak ahir masa pemerintahan Bani Umayyah, tetapi belum begitu sepurna. Maka pada masa pemerintahan Bani Abbasiyah, pada pertengahan abad II H, dilakukan upaya penyempurnaan. Sejak itu, tampak gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan, termasuk pembukuan dan penulisan hadis-hadis Rasul SAW. Pembukuan hadis itu kemudian di lanjutkan secara lebih teliti oleh imam imam ahli hadis, seperti Bukhari, Musim, Tirmizi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain. Metode pembukuan hadis, yaitu: 1. Metode Masanid. 2. Al-Maajim. 3. Pengumpulan hadis berdasarkan semua bab. 4. Penulisan hadis berdasarkan fiqh. 5. Kitab-kitab yang penyusunnya hanya menuliskan hadis-hadis yang sahih. 6. Karya Tematik 7. Kumpulan hukum fiqh 8. Merangkaikan Al-Majami 9. Al-Ajza 10. Al-Athraf 11. Kumpulan hadis yang masyhur diucapkan secara lisan atau tematik, dan 12. Az-Zawaid

DAFTAR PUSTAKA

Hasanah, Uswatun. 2012. Ulumul Hadis. Palembang: Grafika Telindo Press. Solahudin, M. Agus, 2008. Ulumul Hadis. Bandung: Pustaka Setia. Mutaal, M. Isa Anshori, 2005. Ulumul Hadis. Palembang: IAIN Raden Fatah Press.