Anda di halaman 1dari 60

Emulsi adalah suatu sistem yang tidak stabil secara

termodinamik dan mengandung paling sedikit dua fase


cair yang tidak bercampur, dimana satu diantaranya
didispersikan sebagai tetesan-tetesan dalam fase cair lain.
Sistem dibuat stabil dengan adanya suatu zat pengemulsi
atau emulsifying agent.

EMULSI
- Mikroemulsi : tetesan berukuran 0,01 0,1 m

- Makroemulsi : tetesan berukuran 5 m (0,1-10 m)
Komposisi
- Fase Internal / diskontinyu/ terdispers
- Fase eksternal / Kontinyu
- Emulgator
Bentuk
- Cair
- Semisolids
Fase dalam emulsi :
- Bersifat polar : air
- Bersifat non polar : minyak
TIPE EMULSI
- Emulsi minyak dalam air (o/w) : bila fase
minyak didispersikan dalam fase air

- Emulsi air dalam minyak (w/o) : bila fase air
didispersikan dalam minyak

- Tipe emulsi dapat ditentukan dari:
Ratio fasa minyak dan air
Jenis Emulgator
Cara pencampuran: urutan/suhu


1. Dilution test (pengenceran)
Emulsi o/w dapat diencerkan dengan air
Emulsi w/o dapat diencerkan dengan minyak
2. Conductivity test
Emulsi o/w dapat menghantarkan arus listrik
3. Dye Solubility test
Pemberian zat warna yang larut pada air pada
emulsi tipe o/w warna akan terlihat merata
(zat warma methylen blue atau brilian blue)
Cara mendeteksi/menentukan tipe emulsi
ALASAN DIBUAT SEDIAAN EMULSI
1. Bahan aktif fasa minyak
2. Bahan aktif larut dalam minyak
3. Diinginkan pelepasan terkontrol
Keuntungan sediaan emulsi
1. Penggunaan Internal:
- rasa obat fasa minyak tersamarkan
- dapat membawa obat yang larut dalam
minyak

2. Penggunaan eksternal: cair/semisolid (krim)
- daya sebar lebih baik dibanding larutan dan
suspensi
- mudah tercucikan
- lebih elegan.
- Emulsi obat untuk pemberian oral
biasanya tipe o/w

- Pengemulsi yang digunakan
- non ionik emulsifying agent:
merupakan bahan sintetis.
- acasia (gom)
- tragakan
- gelatin

Pemilihan tipe emulsi
Emulsi yang dipakai untuk pemakaian obat
luar biasanya tipe o/w atau w/o

Pengemulsi tipe o/w :
- Na lauryl sulfat
- Tri etanolamine stearat
- Sabun-sabun monovalen seperti natrium
oleat dan self emulsifying glyceryl
monostearate
Pemilihan tipe emulsi
Tipe w/o :

emulsifying agent yang digunakan:
- Sabun-sabun polivalen: Ca palmitat
- Ester-ester sorbitan (Spans)
- Kolesterol
- Lemak wool
Pemilihan tipe emulsi
1. Pemecahan fasa minyak menjadi tetesan
halus yang berlangsung sangat cepat
(disruption)
2. Stabilisasi tetesan oleh fasa ketiga
(pengemulsi) (stabilization)
Pembentukan Emulsi
- Bila dua cairan tidak saling campur dikocok
secara mekanik tanpa keberadaan komponen
ketiga , kedua fasa cenderung membentuk
tetesan dengan berbagai ukuran.

- Distribusi ukuran tetesan terkait dengan fasa
yang terlibat selama pengocokan, sedangkan
jumlah tetesan setiap cairan tergantung pada
volume relatif
- Energi bebas permukaan sistem bergantung
pada luas permukaan total dan tegangan

- Bila partikel diperkecil ukurannya luas
permukaan akan meningkat dan peningkatan
luas permukaan ini akan menyebabkan
peningkatan energi permukaan dan sistem
secara termodinamika akan tidak stabil.
- Pada saat terjadi tumbukan tetesan terjadi
koalesensi atau fusi yang akan mengurangi
luas antarmuka dengan tegangan antarmuka
masih tetap. Koalesensi akan berlanjut sampai
terjadi pemisahan fasa secara sempurna.

- Tipe emulsi yang dihasilkan M/A atau A/M
bergantung kecepatan relatif koalesensi dari
setiap jenis tetesan dan tetesan yang besar akan
secara cepat akan membentuk fasa kontinu.
- Biasanya cairan yang berada dalam jumlah
besar akan meningkatkan kemungkinan
tumbukan dan kualesensi.
- Contoh:
1 cm
3
minyak mineral didispersikan menjadi
tetesan-tetesan yang mempunyai diameter volume
permukaan d
vs
0,01 m (10
-6
cm) dalam 1 cm
3
air.
Luas permukaan yang terbentuk (S
v
): 600 m
2
- Energi bebas permukaan dengan luas 600 m
2
dapat
dihitung dengan cara sebagai berikut:
2 2 6
6
600 10 6
10
6
6
m cm S
d
S
v
vs
v
= = =
=

A W
ow
A =

ow
antar minyak mineral dan air adalah 57 dyne/cm
(erg/cm
2
)

W =
ow
x A
= 57 erg/cm
2
x (6 x 10
6
cm
2
) = 34 x 10
7
erg
= 34 Joule
- Besarnya energi permukaan menyebabkan sistem
tidak stabil secara termodinamika emulsifying
agent (pengemulsi)
Zat pengemulsi dibedakan menjadi 3
berdasarkan mekanisme kerjanya

1. Adsorpsi monomolekuler.
Zat-zat yang aktif pada permukaan yang
teradsorbsi pada antar muka minyak/air (o/w)
membentuk lapisan monomolekular dan
mengurangi tegangan permukaan.
2. Adsorpsi multimolekuler
Koloidal hidrofilik membentuk suatu
lapisan multimolekular di sekitar tetesan-
tetesan terdispers dari minyak dalam emulsi
o/w.
3. Adsorpsi partikel padat.
Partikel-partikel padat yang terbagi halus,
yang diadsorbsi pada batas antar muka dua
fase cair yang tidak saling campur
membentuk suatu lapisan partikel disekitar
tetesan-tetesan terdispers.
Tabel Beberapa zat Pengemulsi yang
sering digunakan
Nama Golongan Tipe emulsi yang
terbentuk
Trietanolamin oleat zat aktif permukaan o/w (HLB = 12)
(anionik)
N-setil N-etilmorfilinum zat aktif permukaan o/w (HLB = 25)
etosulfat (Atlas G-263) (kationik)
Sorbitan mono-oleat zat aktif permukaan w/o (HLB = 4,3)
(Atlas Span 80) (non ionik)
Polioksietilen Sorbitan zat aktif permukaan o/w (HLB = 15)
mono-oleat (Atlas Tween 80) (non ionik)
Nama Golongan Tipe emulsi yang
terbentuk
Akasia (garam dari koloida hidrofilik o/w
d-asam glukoronat)
Gelatin (polipeptida dan koloida hidrofilik o/w
asam amino)
Bentonit (aluminium partikel padat o/w (dan w/o)
Silikat hidrat)
Veegum (magnesium partikel padat o/w
aluminium silikat)
Karbon hitam partikel padat o/w

Zat yang aktif pada permukaan disebut surfaktan
atau amfifil mengurangi tegangan antarmuka
karena adsorpsinya pada batas minyak/air
membentuk lapisan-lapisan mono molekular

Untuk menjaga supaya surfaktan terpusat pada
antar muka, jumlah yang larut dalam air dan
minyak harus seimbang.
1.ADSORPSI MONO MOLEKULAR
- Bila molekul terlalu hidrofil, surfaktan
berada dalam fase air tidak memberikan
efek pada antar muka

- Bila terlalu lipofil, surfaktan larut secara
sempurna dalam fase minyak sehingga
sedikit yang muncul pada antar muka
Dalam praktek digunakan pengemulsi kombinasi
dalam pembuatan emulsi.
Contoh kombinasi dari natrium setil alkohol dan
kolesterol.
SISTIM HIDROFIL-LIPOFIL
Griffin merancang suatu skala sebaran dari
berbagai angka untuk dipakai sebagai suatu
ukuran keseimbangan hidrofilik-lipofilik (HLB)
dari zat-zat aktif antar muka.

Tipe suatu emulsi o/w atau w/o tergantung pada
sifat zat pengemulsi yg digunakan

Umumnya emulsi o/w terbentuk jika HLB
pengemulsi berkisar antara 9-12. Contoh
campuran Tween 20 dan Span 20 akan
membentuk emulsi o/w

Makin tinggi harga HLB suatu zat, makin
hidrofilik zat tersebut.

Span (ester sorbitan) adalah lipofilik
dengan nilai HLB 1,8-8,6 membentuk
emulsi w/o.

Span 60 mempunyai HLB 4,7, bila tanpa
kombinasi cenderung membentuk emulsi
w/o

Tabel Fungsi surfaktan
HLB Surfaktan
Rendah 1-3 Antifoaming agent
3-6 Emulsifying agents (w/o)
7-9 Wetting agents
8-18 Emulsifying agents (o/w)
13-16 Detergents
High 16-18 Solubilizing agents
Tween merupakan turunan polioksietilena
dari span adalah hidrofilik dengan nilai HLB
9,6-16,7 membentuk emulsi o/w

HLB sejumlah ester alkohol polihidrat dari
asam lemak misalnya gliseril monostearat
dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
|
.
|

\
|
=
A
S
HLB 1 20
S : bilangan penyabunan dari ester
A : bilangan asam dari asam lemak
HLB penjumlahan dari gugus surfaktan
dapat dihitung dengan persamaan:
HLB = E(angka gugus hidrofilik)
- E(angka gugus lipofilik) + 7
Tabel nilai HLB beberapa surfaktan
Zat HLB
Asam oleat 1
Gliseril monostearat 3,8
Sorbitan mono-oleat (Span 80) 4,3
Sorbitan monolaurat (Span 20) 8,6
Trietanolamin oleat 12,0
Polioksietilena sorbitan mono-oleat (Tween 80) 15
Polioksietilena sorbitan monolaurat (Tween 20) 16,7
Natrium oleat 18,0
Natrium lauril sulfat 40
Tabel angka gugus HLB
Gugus hidrofilik HLB
- SO4- Na+ 38,7
- COO- Na+ 19,1
Ester (cincin Sorbitan) 6,8
Ester (bebas) 2,4
Hidroksil (bebas) 1,9
Hidroksil (cincin sorbitan) 0,5
Gugus lipofilik
-CH -
-CH2- 0,475
-CH3-
= CH -
HLB BUTUH (RHLB)
RHLB atau HLB butuh adalah HLB spesifik yang
dibutuhkan untuk membentuk emulsi.
Contoh penentuan HLB butuh untuk emulsi O/w
Bahan JUMLAH HLB BUTUH
1. Beeswax 15 gram 9
2. Lanolin 10 gram 12
3. Parafin wax 20 gram 10
4. Cetyl alcohol 5 gram 15
5. Emulsifier 2 gram
6. Pewarna qs
7. Air sampai 100 gram
Jumlahkan seluruh HLB butuh dari fase minyak
Beeswax 15/50 X 9 = 2,70
Lanolin 10 /50 X 12 = 2,40
Parafin wax 20/50 X 10 = 4,00
Cetyl alcohol 5 /50 X 15 = 1,50

Total HLB butuh = 10,60
Sebagai emulsifying digunakan Tween 80 (HLB
15) dan Span 80 (HLB 4,3)
2 gram adalah jumlah emulsifying agent yang
diperkirakan dapat membentuk emulsi o/w. Jadi
berdasarkan hitungan diatas Tween yang dibutuhkan
untuk emulsi o/w adalah 2,0 g X 0,59 = 1,18 gram dan
diperlukan penambahan Span 80 sebanyak 0,82 gram
HLBrendah HLBtinggi
HLBrendah RHLB
Tween

= 80
3 , 4 0 , 15
3 , 4 6 , 10
80

= Tween
59 , 0 80 = Tween
Jumlah minimum campuran
pengemulsi/surfaktan (Q
s
)
ditentukan dengan menggunakan
rumus Bonadeo:
1000 / 4
5 , 0 10
) ( 6
Q
RHLB
Q
s
s
+


=

s : density campuran surfaktan
: density fase dalam
Q : persen (%) fase kontinu
Koloida liofilik digunakan sebagai zat pengemulsi
dan bisa dianggap sebagai zat aktif permukaan
karena tampak pada batas antar muka minyak/air.

Perbedaan antara koloida liofilik dengan zat aktif
permukaan sintetis adalah:

1. Tidak menyebabkan menurunnya tegangan antar
muka yang bermakna.
2. Membentuk suatu lapisan multimolekular pada
antar muka.
ADSORPSI MULTI MOLEKULAR
Bekerjanya sebagai zat pengemulsi
terutama adalah membentuk lapisan
multimolekular.

Emulsi yang dibentuk stabil karena terjadi
kenaikan viskositas dari medium pendispers.

Membentuk emulsi o/w sebab lapisan-
lapisan multilayer yang dibentuk adalah
disekitar tetesan yang bersifat hidrofilik.
Partikel-partikel padat yang halus yang dibasahi
sampai derajat tertentu oleh minyak dan air dapat
berfungsi sebagai pengemulsi.

Serbuk yang mudah dibasahi dengan air akan
membentuk emulsi tipe o/w.

Serbuk yang mudah dibasahi oleh minyak akan
membentuk emulsi w/o.

Contoh: bentonit, magnesium hidroksida,
aluminium hidroksida.
3. ADSORPSI PARTIKEL PADAT
Suatu sediaan emulsi dalam bidang farmasi
dikatakan stabil bila:
- tidak ada penggabungan fase dalam
- tidak ada creaming
- memberikan penampilan, bau ,warna dan sifat-
sifat fisik lainnya yang baik.
STABILITAS FISIK EMULSI
Ketidak stabilan emulsi farmasi bisa digolongkan
sebagai berikut:
1. Flokulasi dan creaming
2. Penggabungan dan pemecahan
3. Berbagai jenis perubahan kimia dan fisika
4. Inversi fase
CREAMING
Keterkaitan antara creaming dari suatu
emulsi dan Hukum Stokes:
o
o s
g d
q

u
18
) (
2

=
: Kecepatan pengendapan akhir (cm/detik)
d : Diameter partikel dalam cm

s
dan
o
:kerapatan dari fase terdispers dan
medium pendispers
g : Percepatan karena gravitasi

o
: Viskositas dari medium pendispers dengan
satuan poise
Bila kerapatan fase terdispers (
s
) < kerapatan
fase pendispers (
o
) kecepatan sedimentasi
negatif creaming mengarah keatas (pada
emulsi o/w)

Bila kerapatan fase terdispers (s) > kerapatan
fase pendispers (
o
) bola-bola (tetesan-
tetesan) akan mengendap creaming
mengarah kebawah (pada emulsi w/o)

Laju creaming bisa meningkat bila:
- Perbedaan kerapatan antara fase terdispers
dan pendispers semakin besar.
Laju creaming emulsi meningkat bila:
- Perbedaan kerapatan antara fase terdispersi
dan pendispers semakin besar.
- Viskositas pendispersi menurun
- Menaikkan gaya gravitasi dengan cara
sentrifugasi
Laju creaming emulsi bisa diturunkan dengan
cara:
- Ukuran partikel bola-bola dikurangi
dengan menghomogenkan fase terdispersi.

- Viskositas pendispersi ditingkatkan dengan
menambah pengental. Misalnya
metilselulosa, tragacanth, natrium alginat
PENGGABUNGAN DAN PEMECAHAN
Faktor-faktor yang berpengaruh pada
penggabungan dan pemecahan emulsi a.l.

- Ukuran partikel (bola-bola) terdispersi

- Viskositas fase pendispersi viskositas
optimum

- Perbandingan volume antara fase
terdispersi dan pendispersi dibuat
ratio 50 bagian fase minyak dan 50
bagian fase air.

- Sifat fisik lapisan pengemulsi lapisan
emulsi harus kuat, elastis dan terbentuk
dengan cepat.

- Viskositas fase pendispersi viskositas
optimum

- Perbandingan volume antara fase
terdispersi dan pendispersi dibuat
ratio 50 bagian fase minyak dan 50
bagian fase air.

- Sifat fisik lapisan pengemulsi lapisan
emulsi harus kuat, elastis dan terbentuk
dengan cepat.
CARA PEMBUATAN EMULSI
1. Fasa air (air dan bahan2 yang larut dalam
air )
2. Fasa minyak (minyak dan bahan2 yang larut
dalam minyak)
3. Fasa minyak dicampur dengan fasa air dan
diaduk dengan cepat sampai terbentuk emulsi.
EVALUASI
Warna emulsi
Tipe emulsi
Analisa ukuran partikel atau diameter bola-
bola fase terdispersi dari waktu kewaktu.
Analisa pertumbuhan bakteri
Degradasi kimia
INVERSI FASE
(PERUBAHAN FASE)
Dengan metode inversi dapat dihasilkan emulsi
yang lebih halus
Inversi fase dapat terjadi :
- Perubahan perbandingan volume fase
terdispersi dan pendispersi (continental
method)
- Penambahan bahan sehingga mengubah
pengemulsi. Misal emulsi o/w dengan
pengemulsi natrium stearat, dengan
penambahan kalsium klorida tipe emulsi
menjadi w/o.
PENGAWETAN EMULSI
Pengemulsi dapat diuraikan oleh bakteri
perlu ditambahkan pengawet/antibakteri
dengan konsentrasi yang cukup.

Pengawet efektif dalam keadaan terlarut dan
tak terionkan perhitungkan konsentrasinya

Emulsi terdiri dari fase air dan minyak
pengawet yang efektif di kedua fase.

Pertimbangkan interaksi dengan bahan yang
ada di dalam emulsi mis surfaktan

Tabel Pengawet sediaan emulsi
Pengawet Konsentrasi (%)
Alkohol 15
Asam benzoat, Na benzoat (pH 4) 0,05-0,01
Benzyl alkohol (pH>5) 1-4
Methylparaben 0,05-0,3
Propylparaben 0,02-0,2
Butylparaben 0,02-0,2
Benzalkonium klorid 0,002-0,1
Asam sorbat (pH6) 0,1-0,2

SIFAT RHEOLOGI EMULSI
- Sifat aliran emulsi diperlukan untuk
penampilan dan penggunaan produk.
Mis untuk pemakaian parenteral,
pemindahan ke dari botol atau tube dll.

- Bisa bersifat Newton, pseudoplastis atau
plastis tergantung pada volume fase
terdispersinya.
WADAH/PENYIMPANAN
Wadah tertutup rapat untuk menghindari
penguapan air
Bila sediaan berbentuk cairan harus ada
ruangan untuk pengocokan
Untuk sediaan oral harus mudah
penuangannya
Disimpan pada suhu ruang atau lemari es
Harus diberi label kocok dahulu kalau
sediaan cair.
CONTOH FORMULA
Safflower oil 30 ml
Glycerin 20 ml
Rose oil (or other oil) 2 ml
Polysorbat 80 2 ml
Benzyl alcohol 1 ml
Purified water ad 100 ml
CARA PEMBUATAN
1. Ukur masing-masing bahan
2. Campur safflower oil, rose oil dan polysorbat
hingga homogen
3. Campur glycerin dengan benzyl alcohol dan
tambahkan 45 ml air untuk membentuk fase
air
4. Tambahkan (3) kedalam (4) dan aduk hingga
homogen
Emulsi ganda adalah emulsi air dalam minyak
dalam air (w/o/w).

SISTEM EMULSI KHUSUS
Dibuat dengan cara mencampur pengemulsi w/o
misal sorbitan mono-oleat dengan fase minyak
dalam mixer. Kemudian tambahkan air perlahan-
lahan untuk membentuk emulsi w/o. Selanjutnya
didispersikan dalam larutan air yang mengandung
pengemulsi o/w misal Tween 80..

Emulsi ganda
Digunakan untuk memperpanjang kerja
obat, untuk makanan dan kosmetik.
Mikroemulsi
Mikroemulsi terdiri dari misel-misel besar atau
swollen misel yang mengandung fase dalam
(solubilized solution)

Jernih seperti larutan transparan, tidak stabil secara
termodinamik.
Senyawa obat atau zat-zat lainnya
disatukan dengan fase dalam
Keadaan mikroemulsi berada diantara solubilized
solution dan emulsi.

Mikroemulsi mengandung tetesan-tetesan minyak
dalam air (o/w) atau tetesan air dalam minyak (w/o)

Diameter tetesan 10 20 nm, fraksi volume dari
fase terdispersi bervariasi dari 0,2 0,8

Pada pembuatan ditambahkan zat pengemulsi
pembantu atau ko-surfaktan

Contoh cara pembuatan adalah natrium lauril sulfat
atau kalium oleat didispersikan pada cairan organik
(benzen), ditambah sedikit air maka akan terbentuk
mikroemulsi dengan penambahan pentanol yang
merupakan ko surfaktan lipofilik terbentuk
larutan jernih pada suhu 30C.

Dapat digunakan untuk melarutkan obat.

Digunakan pada kosmetika, makanan, pembersih
kering dan produk pengkilat dari malam (wax)
Terimakasih atas perhatiannya
&
Selamat belajar