Anda di halaman 1dari 10

TUGAS SCANCH (BEARING)

Disusun Oleh : 1. Dwiky Kusuma 2. Dectyo Fandryas 3. Imam H Nugraha 4. Rizky Kurnia P 5. Teddy Setiawan

(3331090588) (3331091116) (3331090646) (3331090559) (3331090750)

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK MESIN CILEGON BANTEN 2011

SCANCH ( BEARING )
Definisi : Bearing (bantalan) merupakan salah satu bagian dari elemen mesin yang memegang peranan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu sebuah poros agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja dengan baik. Prinsip kerja bearing (bantalan) Apabila ada dua buah logam yang bersinggungan satu dengan lainnya saling bergeseran maka akan timbul gesekan , panas dan keausan . Untuk itu pada kedua benda diberi suatu lapisan yang dapat mengurangi gesekan , panas dan keausan serta untuk memperbaiki kinerjanya ditambahkan pelumasan sehingga kontak langsung antara dua benda tersebut dapat dihindari. Klasifikasi Bearing ( bantalan ) Bantalan dapat diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Berdasarkan gerakan bantalan terhadap poros Bantalan luncur Pada bantalan ini terjadi gesekan luncur antara poros dan bantalan karena permukaan poros ditumpu oleh permukaan bantalan dengan perantara lapisan pelumas. Bantalan luncur mampu menumpu poros berputaran tinggi dengan beban yang besar. Dengan konstruksi yang sederhana maka bantalan ini mudah untuk dibongkar pasang. Akibat adanya gesekan pada bantalan dengan poros maka akan memerlukan momen awal yang besar untuk memutar poros. Pada bantalan luncur terdapat pelumas yang berfungsi sebagai peredam tumbukan dan getaran sehingga akan meminimalisasi suara yang ditimbulkannya. Secara umum bantalan luncur dapat dibagi atas : Bantalan Luncur Radial Bantalan ini untuk mendukung gaya radial dari batang torak saat berputar. Konstruksinya terbagi / terbelah menjadi dua agar dapat dipasang pada poros engkol.

Gambar 1. Bantalan luncur radial

Bantalan luncur aksial Bantalan ini menghantarkan poros engkol menerima gaya aksial yaitu terutama pada saat terjadi melepas / menghubungkan plat kopling saat mobil berjalan. Konstruksi bantalan ini juga terbelah / terbagi menjadi dua dan dipasang pada poros jurnal bagian paling tengah.

Gambar 2. Bantalan luncur radial dan aksial


Bantalan gelinding Pada bantalan gelinding terjadi gesekan gelinding antara bagian yang berputar dengan yang diam melalui elemen gelinding seperti bola (peluru), rol atau rol jarum atau rol bulat. Bantalan gelinding lebih cocok untuk beban kecil. Putaran pada bantalan gelinding dibatasi oleh gaya sentrifugal yang timbul pada elemen gelinding tersebut. Apabila ditinjau dari segi biaya, bantalan gelinding lebih mahal dari bantalan luncur. Bantalan gelinding / roll Bantalan poros engkol ini digunakan pada poros engkol yang terpisah / terbagi , sehingga pemasangan / pelepasannya dengan jalan membagi poros engkol terlebihdahulu.Bantalan roll ini banyak digunakan pada motor-motor 2 tak . Konstruksi bantalan ini disesuaikan dengan beban yang diterimanya yaitu : a. Bantalan gelinding aksial ( mengatasi gaya aksial ) b. Bantalan gelinding Radial ( mengatasi gaya radial ) c. Bantalan gelinding kontak sudut ( mengatasi gaya aksial dan radial )

Gambar 3. Bantalan gelinding

Pembacaan nomor nominal pada bantalan gelinding. Dalam praktek, bantalan gelinding standart dipilih dari katalog bantalan. Ukuran utama bantalan adalah : - Diameter lubang - Diameter luar - lebar - Lengkungan sudut Nomor nominal bantalan gelinding terdiri dari nomor dasar dan nomor pelengkap. Nomor dasar yang ada merupakan lambang jenis, lambang ukuran(lambang lebar, diameter luar). Nomor diameter lubang dan lambang sudut kontak penulisannya bervariasi tergantung produsen bearing yang ada. Bagian Nomor nominal ABCD A menyatakan jenis dari bantalan yang ada. Jika A berharga : - 0 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, double row. - 1 maka hal tersebut menunjukkan jenis Self-aligning ball bearing. - 2 maka hal tersebut menunjukkan jenis spherical roller bearings and spherical roller thrust bearings. - 3 maka hal tersebut menunjukkan jenis taper roller bearings. - 4 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, double row. - 5 maka hal tersebut menunjukkan jenis thrust ball bearings. - 6 maka hal tersebut menunjukkan jenis Deep groove ball bearings, single row. - 7 maka hal tersebut menunjukkan jenis Angular contact ball bearings, single row. - 8 maka hal tersebut menunjukkan jenis cylindrical roller thrust bearings. B menyatakan lambang diameter luar. Jika B berharga 0 dan 1 menyatakan penggunaan untuk beban yang sangat ringan. Jika B berharga 2 menyatakan penggunaan untuk beban yang ringan. Jika B berharga 3 menyatakan penggunaan untuk beban yang sedang. Jika B berharga 4 menyatakan penggunaan untuk beban yang berat. C dan D menyatakan lambang diameter dalam Untuk bearing yang berdiameter 20 - 500 mm, kalikanlah 2 angka lambang tersebut untuk mendapatkan diameter lubang sesungguhnya dalam mm. Nomor tersebut biasanya bertingkat dengan kenaikan 5 mm tiap tingkatnya.

2.

Berdasarkan arah beban terhadap poros Bantalan radial tegak lurus Arah beban yang ditumpu tegak lurus terhadap sumbu poros. Bantalan radial sejajar Arah beban bantalan sejajar dengan sumbu poros Bantalan gelinding khusus Bantalan ini menumpu beban yang arahnya sejajar dan tegak lurus terhadap sumbu poros. Pertimbangan Dalam Pemilihan Bantalan

b.

Dalam pemilihan bantalan banyak hal yang harus dipertimbangkan seperti : Jenis pembebanan yang diterima oleh bantalan (aksial atau radial ) Beban maksimum yang mampu diterima oleh bantalan Kecocokan antara dimensi poros yang dengan bantalan sekaligus dengan keseluruhan sistem yang telah direncanakan Keakuratan pada kecepatan tinggi Kemampuan terhadap gesekan Umur bantalan Harga Mudah tidaknya dalam pemasangan Perawatan. Menurut bentuk dan letaknya bagian poros yang ditumpu bantalan yaitu bagian yang disebut jurnal dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Bantalan Radial, yang dapat berbentuk silinder, belahan silinder, elips. b. Bantalan Aksial, yang dapat berbentuk bola, kerah, michel. c. Bantalan Khusus, yang berbentuk bola. Bahan Bantalan luncur Bahan untuk bantalan luncur harus memenuhi persyaratan berikut: - Mempunyai kekuatan yang cukup (tahan beban dan kelelahan) - Dapat menyesuaikan diri terhadap lenturan poros yang tidak terlalu besar atau terhadap perubahan bentuk yang kecil - Mempunyai sifat anti las (tidak dapat menempel) terhadap poros jika terjadi kontak dan gesekan antara logam dan logam - Sangat tahan karat - Dapat membenamkan kotoran atau debu kecil - Murah harganya - Tidak terlalu terpengaruh oleh temperature

1) Bahan-bahan untuk bantalan umum a. Paduan tembaga, termasuk dalam golongan ini adalah perunggu, perunggu fosfor dan perunggu timah hitam. b. Logam putih, termasuk dalam golongan ini adalah logam putih berdasar Sn (yang disebut logam babit) dan logam putih berdasar Pb. 2) Bahan untuk bantalan tanpa pelumasan Bahan ini mengandung pelumas di dalamnya sehingga dapat dipakaii sebagai bantalan yang melumasi sendiri. Bantalan semacam ini dipakai bila tidak memungkinkan perawatan secara biasa, yaitu: a. Jika letak bantalan tidak memungkinkan pemberian pelumas dariluar b. Jika bantalan mempunyai gerakan bolak-balik sehingga kemungkinan terbentuknya lapisan minyak sangat kecil c. Untuk alat-alat kimia atau pengolahan air d.Untuk kondisi khusus seperti beban besar, temperatur tinggi, temperatur rendah atau keadaan hampa. Bantalan tanpa minyak dapat berupa: a. Bantalan plastik b. Bantalan logam yang diresapi minyak c. Pelumas padat 3) Bantalan luncur hidostatik Bantalan semacam ini dipakai sebagai bantalan utama pada mesin perkakas presisi tinggi, misalnya pada meja putar bubut vertikal besar. Bahan bantalan dapat berupa minyak atau udara. Dalam hal ini, minyak atau udara dialirkan dengan tekanan ke dalam celah bantalan untuk mengangkat beban dan menghindari keausan ataupenempelan pada mesin berputar. 4) Bahan bantalan khusus a. Bantalan Kayu, dipakai dalam mesin pengolahan makanan. b. Bantalan Karet, dicampur dengan air sebagai pelumas, Bantalan karet mempunyai koefisien gesek yang rendah. Bantalan karet juga dapat meredam bunyi dan getaran. c. Bantalan Grafit Karbon, merupakan bahan yang sepenuhnya dapat melumasi sendiri dan bekerja pada temperatur tinggi.penambahan serbuk babit, perak, atau tembaga dapat memperbaiki sifatnya yang susah bereaksi sebagai bantalan. d.Bantalan Permata, dipakai pada alat-alat ukur. Merupakan bantalan dari batu akik seperti delima (ruby), dan batu nilam (sapphire).

Berdasar bahannya batalan luncur dibedakan menjadi : a) Bantalan satu bahan Yaitu bantalan yang terbuat dari satu jenis bahan saja seperti besi tuang kelabu atau perunggu . Jenis ini hanya digunakan pada motor dengan beban ringan

Gambar 4. Bantalan luncur satu bahan b) Bantalan dua bahan Bantalan ini mempunyai dua bahan untuk pendukung dan untuk bagian luncurnya.Untuk bagian pendukungnya terbuatdari Cuprum ( Cu) , Plumbum ( Pb), Sn atau paduan alumunium , sedanng bagian luncurnya biasanya terbuat dari : Pb atau Sn. Jenis ini mempunyai sifat luncur yang baik serta daya dukungnya lebih besar

Gambar 5. Bantalan luncur dua bahan c) Bantalan tiga bahan : Bantalan ini biasanya pelindungya terbuat dari baja ,pendukungnya terbuat dari Pb , Cu atau Sn dan permukaan luncurnya terbuat dari Pb atau SN dengan proses galvanis.

Gambar 6. Bantalan luncur dengan tiga bahan

Lifetime Of Bearing : Penyebab-penyebab kerusakan pada bearing: 1. Kesalahan bahan - faktor produsen: yaitu retaknya bantalan setelah produksi baik retak halus maupun berat, kesalahan toleransi, kesalahan celah bantalan. - faktor konsumen: yaitu kurangnya pengetahuan tentang karakteristik pada bearing. 2. Penggunaan bearing melewati batas waktu penggunaannya (tidak sesuai dengan petunjuk buku fabrikasi pembuatan bearing). 3. Pemilihan jenis bearing dan pelumasannya yang tidak sesuai dengan buku petunjuk dan keadaan lapangan (real). 4. Pemasangan bearing pada poros yang tidak hati-hati dan tidak sesuai standart yang ditentukan. Kesalahan pada saat pemasangan, diantaranya: - Pemasangan yang terlalu longgar, akibatnya cincin dalam atau cincin luar yang berputar yang menimbulkan gesekan dengan housing/poros. - Pemasangan yang terlalu erat, akibatnya ventilasi atau celah yang kurang sehingga pada saat berputar suhu bantalan akan cepat meningkat dan terjadi konsentrasi tegangan yang lebih. - Terjadi pembenjolan pada jalur jalan atau pada roll sehingga bantalan saat berputar akan tersendat-sendat. 5. Terjadi misalignment, dimana kedudukan poros pompa dan penggeraknya tidak lurus, bearing akan mengalami vibrasi tinggi. Pemasangan yang tidak sejajar tersebut akan menimbulkan guncangan pada saat berputar yang dapat merusak bearing. Kemiringan dalam pemasangan bearing juga menjadi faktor kerusakan bearing, karena bearing tidak menumpu poros dengan tidak baik, sehingga timbul getaran yang dapat merusak komponen tersebut. 6. Karena terjadi unbalance (tidak imbang), seperti pada impeller, dimana bagian-bagian pada impeller tersebut tidak balance (salah satu titik bagian impeller memiliki berat yang tidak seimbang). Sehingga ketika berputar, mengakibatkan putaran mengalami perubahan gaya disalah satu titik putaran (lebih terasa ketika putaran tinggi), sehingga berpengaruh pula pada putaran bearing pada poros. Unbalance bisa terjadi pula pada poros, dan pengaruhnya pun sama, yaitu bisa membuat vibrasi yang tinggi dan merusak komponen. 7. Bearing kurang minyak pelumasan, karena bocor atau minyak pelumas terkontaminasi benda asing dari bocoran seal gland yang mempengaruhi daya pelumasan pada minyak tersebut.

Proses pemasangan bearing Proses balancing. Pemasangan bearing pada komponen mesin, komponen tersebut pertama-tama harus benar-benar balance agar bearing dapat bertahan dengan baik. Alignment (pengaturan sumbu poros pada mesin harus benar-benar sejajar). Proses pemberian beban. Pemberian beban ini harus sesuai dengan jenis bearing yang digunakan apakah itu beban radial atau beban aksial. Pengaturan posisi bearing pada poros. Clearance bearing. Metode pemasangan dan peralatan yang digunakan. Toleransi dan ketepatan yang diperlukan. Pada saat pemasangan bearing pada poros, maka toleransi poros pada proses pembubutan harus diperhatikan karena hal tersebut mempengaruhi keadaan bearing.

Gambar 7. Pemasangan dan pelepasan bearing

Cara mengatasi kerusakan pada bearing: 1. Melakukan penggantian bearing sesuai umur waktu kerja yang telah ditentukan. 2. Mengganti bearing yang sesuai dengan klasifikasi kerja pompa tersebut. 3. Melakukan pemasangan bearing dengan hati-hati sesuai standar yang telah ditentukan. 4. Melakukan alignment pada poros pompa dan penggeraknya. 5. Melakukan tes balancing pada poros dan impeller. 6. Memasang deflektor pada poros dan pemasangan rubber seal pada rumah bantalan dan perbaikan pada seal gland, untuk mengantisipasi kebocoran.

Distribusi beban bearing Untuk shafting, ketegangan statis dianggap didukung oleh bantalan, dan setiap beban yang bekerja pada shaft didistribusikan ke bantalan. Misalnya, dalam perakitan poros gigi digambarkan dalam Gambar. 8, beban bantalan yang diterapkan dapat ditemukan dengan menggunakan rumus (4.10) dan (4.11). Contoh ini adalah kasus sederhana, tetapi dalam kenyataannya, banyak perhitungan yang cukup rumit. FrA = {(a+b)/b}F1 +{ d/(c+d)}F2..(4.10) FrB = - (a/b)F1 + {c/(c+d)}F2(4.11) dimana, FrA: Radial beban pada bantalan A, N{kgf} FrB: Radial beban pada bantalan B, U{kgf} F1, F2: Radial beban pada poros, N {kgf} Jika arah beban radial berbeda, jumlah vektor dari masing-masing beban masing harus ditentukan.

Gambar 8. Perakitan poros gigi