Anda di halaman 1dari 3

RESUME ARTIKEL MATA KULIAH SEMINAR AKUNTANSI

Judul

: The Fallacy of Assuming Equality: Evidence Showing Vastly Different Weighting of The Global Reporting Initiatives Key Items (Kekeliruan dalam Mengasumsi Kesetaraan: Bukti yang

Menunjukkan Pembobotan yang Sangat Berbeda dari Butir-Butir Kunci Inisiatif Pelaporan Global) Penulis Jurnal : Djoko Suhardjanto, Greg Tower & Alistair M. Brown : International Business & Economics Research Journal, Volume 7, Number 8, August 2008

Disusun oleh: Oktovian Siregar (F1312084)

Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta Oktober 2013

1. Pendahuluan Paper ini merupakan studi atas liputan pers Indonesia mengenai lingkungan selama tahun 2005 dengan menggunakan 35 butir-butir pelaporan lingkungan dari Inisiatif Pelaporan Global/Global Reporting Inisiative (GRI) sebagai template kunci. Meskipun Indonesia memiliki masalah lingkungan yang serius, belum ada pedoman pelaporan wajib yang spesifik untuk perusahaan-perusahaan Indonesia dalam menghasilkan informasi lingkungan untuk para pemangku kepentingannya. IFRS atau PSAK yang menjadi standar akuntansi keuangan di Indonesia tidak mensyaratkan pengungkapan substansial atas data lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan indeks lingkungan yang didesain dan dibobot secara tepat merupakan metode penghasil informasi yang penting untuk meningkatkan diskusi kebijakan publik. Isunya adalah apakah indeks GRI menyediakan analisis kriteria dalam konteks spesifik negara. Paper ini mempertimbangkan isu-isu pelaporan lingkungan seperti yang dikembangkan oleh GRI yang diliput oleh pers Indonesia. GRI dipertimbangkan secara luas sebagai pedoman pelaporan lingkungan terkini untuk entitas dan para pemangku kepentingannya dalam memahami kontribusi perusahaan terhadap perkembangan berkelanjutan. Studi ini memberikan bukti terkait tepat atau tidaknya penggunaan GRI sebagai konteks untuk menilai isu-isu lingkungan kunci yang diangkat oleh pers Indonesia. 2. Pers sebagai Pemangku Kepentingan Kunci di Negara Berkembang Sebagai kelompok pemangku kepentingan nonfinansial, pers menawarkan dasar yang subur untuk eksplorasi dalam hal pandangannya terhadap isu-isu lingkungan. Pers sebagai sumber informasi yang vital mempunyai kekuatan untuk memengaruhi opini publik dan untuk mengkritik masyarakat modern. Karena surat kabar mempunyai kendali sosial yang penting dan kuat terutama dalam konteks negara berkembang, paper ini menggunakan liputan mereka atas isu-isu lingkungan yang penting sebagaimana dirinci oleh indeks GRI untuk mengumpulkan sudut pandang pers yang menyeluruh atas isu-isu lingkungan Indonesia. 3. Inisiatif Pelaporan Global/Global Reporting Inisiative (GRI) GRI dipandang secara luas sebagai pedoman pelaporan lingkungan terkini bagi penyusun laporan untuk menghasilkan informasi lingkungan. GRI membantu perusahaan pelapor dan para pemangku kepentingannya untuk memahami kontribusi perusahaan terhadap perkembangan berkelanjutan. Aspek khusus dari GRI adalah adanya asumsi implisit bahwa semua 35 butir lingkungan adalah sama pentingnya sehingga dibobot secara sama. Hal ini menjadi masalah karena kelompok-kelompok pemangku kepentingan, selaku pihak yang dituju oleh GRI, dapat dikategorikan baik sebagai yang memiliki ikatan finansial maupun tidak, dan GRI sendiri memiliki komponen-komponen yang dikategorikan sebagai item finansial dan nonfinansial. Hal ini menjadi semakin menarik mengingat pers memposisikan dirinya sebagai organisasi yang tidak terikat secara finansial. 4. Metodologi Penelitian Studi ini mengumpulkan bukti secara online dari empat surat kabar harian Indonesia yaitu Kompas, Suara Merdeka, Jawa Pos dan Solo Pos terkait liputan mereka mengenai isu-isu lingkungan. Jangkauannya meliputi peristiwa geografis nasional, provinsi dan lokal. Keempat surat kabar ini dipilih sebagai sampel karena merupakan surat kabar utama sesuai segmen geografisnya.

Masing-masing tema artikel surat kabar terkait lingkungan dikelompokkan dalam 35 butir pelaporan lingkungan sesuai template GRI. Dimungkinkan bagi satu artikel untuk dikelompokkan ke lebih dari satu jenis butir pelaporan lingkungan GRI. 5. Hasil Hasil analisis menunjukkan bahwa semua butir GRI diliput oleh pers Indonesia. Akan tetapi frekuensi (prioritas) pelaporannya sangat bervariasi. Dampak dari Penggunaan Air (9,29%), Insiden dan Denda (8,72%) dan Program untuk Perlindungan (6,48%) mendapat rating liputan tertinggi. Penggunaan air jelas menjadi isu kritis pada level lokal, provinsi dan nasional. Tiga butir GRI dengan rating teratas tersebut mencakup 24,49% liputan pers Indonesia, yang berarti seperempat perhatian pers terfokus pada tiga butir tersebut. Lebih jauh lagi, sepuluh butir GRI dengan rating teratas secara keseluruhan mencakup 58,62% total liputan. Pers Indonesia lebih memprioritaskan isu-isu domestik tentang lingkungan. Isu-isu global tentang lingkungan mendapat prioritas yang sangat rendah, semakin menyoroti kekeliruan dalam mengasumsi kesetaraan tingkat kepentingan dari butirbutir lingkungan GRI khususnya dalam konteks satu negara yang spesifik dan unik. Isu-isu global tentang lingkungan seperti GGE dan Emisi Ozon sangat sedikit diliput oleh pers Indonesia dan dianggap sebagai isu yang tidak menarik. Temuan penting yang lain adalah bahwa tidak ada bukti statistik yang menunjukkan bahwa pers Indonesia meliput item GRI dengan kaitan finansial secara lebih banyak daripada item GRI berbasis luas. 6. Simpulan Hasil studi ini menunjukkan bahwa semua 35 butir GRI diliput oleh pers Indonesia dengan tingkat yang bervariasi, yang menunjukkan bahwa template GRI memiliki relevansi terhadap kelompok pemangku kepentingan sekunder yang tidak memiliki ikatan finansial. Pendekatan moral-model stakeholder mengemukakan bahwa perusahaan Indonesia perlu mempertimbangkan kepentingan semua pemangku kepentingan yang dipengaruhi oleh perusahaan, termasuk perhatian pers. Perhatian pers terhadap butir-butir lingkungan melalui liputannya menganjurkan perusahaan untuk mempertimbangkan kepentingan kelompok pemangku kepentingan sekunder karena pers telah membuat liputan isu-isu lingkungan baik finansial maupun nonfinansial yang mungkin dapat membentuk pola pikir kolompok pemangku kepentingan yang lain baik primer (finansial) maupun sekunder (luas). Pers memiliki kemampuan untuk membentuk opini publik dan memiliki peran penting sebagai pengawas. Perusahaan dapat mempertimbangkan perhatian pers sebagai sinyal bagi perusahaan untuk menyediakan informasi isu-isu lingkungan untuk memuaskan pandangan model moral teori pemangku kepentingan. Kontribusi dari studi ini adalah pembuatan indeks pelaporan pengungkapan lingkungan secara unik untuk Indonesia/Indonesian Environmental Reporting (IER). Template asli GRI yang dibuat oleh negara barat dikerjakan ulang dan dikembangkan untuk menambahkan keunggulan spesifik suatu negara. Analisis dengan skala besar atas liputan pers Indonesia digunakan sebagai ukuran wakil untuk kebutuhan pemangku kepentingan yang luas. Indeks pengungkapan Indonesia ini (IER) memberi bobot yang jauh lebih besar pada isu-isu lingkungan domestik yang paling penting bagi orang Indonesia.