Anda di halaman 1dari 22

coli yang dilihat dari tidak adanya koloni bakteri yang berwarna hijau metalik.

Pada sampel air sungai seharusnya bakteri kontaminan relatif sedikit sebab air mengalir deras dan bergolak karena menerjang batu-batuan sehingga kurang baik bagi kehidupan bakteri (Dwidjoseputro., 2005). Banyaknya bakteri coliform ini kemungkinan disebabkan karena adanya pencemaran akibat pembuangan limbah ke sungai. Akan tetapi dalam sungai ini tidak terdapat E. coli yang berarti tidak tercemar oleh tinja baik itu dari manusia atau hewan. Air sungai merupakan air yang permukaan yang paling rentan terhadap pencemaran berkala oleh mikroorganisme dari atmosfer maupun limbah domestik (Pelczar dan Chan., 2006). Sehingga jumlah mikroba air permukaan lebih banyak jika dibandingkan dengan air tanah (Black., 1999). Pengamatan terhadap air yang berasal dari sumber mata air menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform yang ditandai dengan terbentuknya gelembung gas dan kekeruhan yang disebabkan oleh adanya mikroba pembentuk gas dalam seluruh tabung semua seri pengenceran (Fardiaz S., 1992). Setelah dilakukan pencocokan tabung yang mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada sumber mata air per 100 ml adalah lebih dari 1.100 (> 1.100 MPN/100ml). Apabila hasil ini dikaitkan dengan pustaka maka sumber mata air ini berbahaya apabila dikonsumsi sebab mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Dalam uji penetapan didapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri golongan coli. Air dari sumber mata air semestinya tidak mengandung bakteri apapun karena belum terkontaminasi. Hal ini berarti sumber mata air ini telah terkontaminasi bakteri atau karena terjadi kontaminasi dalam pengambilan air dari sumber mata air ini. Akan tetapi, dalam uji penetapan mendapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri golongan coli. Hal ini terjadi karena sumber air ini letaknya jauh dari daerah septic tank sehingga tidak tercemar dari tinja. Pengamatan terhadap air tangki menunjukkan hasil positif dalam uji dugaan coliform yang ditandai dengan terbentuknya gelembung gas dan kekeruhan yang disebabkan oleh adanya mikroba pembentuk gas dalam seluruh tabung semua seri pengenceran (Fardiaz S., 1992). Setelah dilakukan pencocokan tabung yang mengandung coliform dengan tabel MPN seri 9 tabung, didapatkan hasil bahwa jumlah bakteri coliform pada air tangki per 100 ml

adalah lebih dari 1.100 (> 1.100 MPN/100ml). Apabila hasil ini dikaitkan dengan pustaka maka air tangki ini berbahaya apabila dikonsumsi sebab mengandung coliform lebih dari 10 per 100 ml (Suriaman dan Juwita., 2008). Sedangkan berdasarkan hasil uji penetapan didapatkan hasil negatif terhadap adanya bakteri E. coli. Banyaknya bakteri coliform kemungkinan disebabkan oleh terkontaminasinya air tangki karena penyimpanan yang lama. Selain itu juga bisa disebabkan tangki tersebut dibiarkan terbuka sehingga rentan terhadap pencemaran berkala oleh mikroorganisme dari atmosfir (Pelczar dan Chan., 2006). Tidak adanya E. coli disebabkan karena letak tangki yang umumnya tinggi dan tertutup sehingga tidak mungkin terkontaminasi oleh tinja manusia. IV. KESIMPULAN 1. Metode yang digunakan dalam pemeriksaan kualitas air adalah metode MPN (Most Probable Number) sebab metode ini dapat mendeteksi koliform dalam jumlah yang sangat rendah. 2.Jenis bakteri yang mencemari semua sampel adalah berasal dari bakteri coliform, tidak terdapat pencemaran akibat adanya bakteri Escherichia coli. 3.Kualitas air pada sampel yang diuji adalah tidak layak digunakan sebagai air minum sebab jumlah coliformnya sangat banyak pada seua jenis air sampel sehingga akan berbahaya bila diminum. DAFTAR PUSTAKA Black, J.G. 1999. Microbiology Principles and Exploration 4th Edition. Prentice-Hall Inc. New Jersey. Campbell, N. A., J.B. Reece, L.G. Mitchell. 2002. Biologi Jilid 2 edisi Kelima. Erlangga. Jakarta. Dwidjoseputro, D. 2005. Dasar-Dasar Mikrobiologi Cetakan ke-13. Percetakan Imagraph. Jakarta. Fardiaz, S. Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Lim, D. 1998. Microbiology 2nd Edition. McGraw Hill. United States of America. Pelczar, M.J dan E.C.S. Chan. 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. UI Press. Jakarta. Ramona, Y., R. Kawuri, I.B.G. Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi Umum Untuk Program Studi Farmasi FMIPA UNUD. Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Udayana. Bukit Jimbaran.

Suriaman, E., Juwita. 2008. Uji Kualitas Air. Available at : http://www.icel.or.id/uji_kualitas_air. Opened at : 17 April 2010

http://www.scribd.com/doc/31810832/Pemeriksaan-Kualitas-Air-Minum LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI PEMERIKSAAN KUALITAS AIR MINUM Oleh: Nama : I Gede Dwija Bawa Temaja Nim : 0808505031 Kelompok : II Tanggal Praktikum : 12 April 2010 Asisten : Agus Brahmantra Panca JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2010

LAPORAN BIOLOGI UJI KUALITAS AIR BERSIH TUJUAN : Mengetahui kualitas air bersih DASAR TEORI : Definisi air bersih Air yang memenuhi persayaratan kesehatan untuk kebutuhan minum, masak, mandi dan energi. Air sebagai salah satu faktor essensial bagi kehidupan sangat dibutuhkan dalam kriteria sebagai air bersih. Air dikatakan bersih bila memenuhi syarat sebagai berikut:Air dikatakan bersih bila memenuhi 3 ketentuan 1. Memenuhi faktor fisika : tidak berwarna tidak berasa tidak berbau 2. Memenuhi faktor kimia tidak mengandung bahan kimia ( mineral an organik ) berlebihan pH netral = 6,8 s/d 7 , 2 kesadahan air normal 3. Memnuhi faktor biologis tidak mengandung organisme : mikro maupun makroorganisme

Air dengan ketentuan diatas sudah disebut air besih , namun belum tentu bisa langsung dikonsumsi untuk kebutuhan tubuh , karena secara psikologis / kebiasaan. air bersih itu masih harus di proses dengan direbus , disaring dan banyak ragam yang dilakukan . Secara umum pemerintah telah menyediakan kebutuhan air bersih untuk masyarakat lewat Perusahaan Air Minum ( PAM) dengan sistem yang ditetapkan sebagai berikut : Air bersih adalah air yang memenuhi ketentuan baku mutu air besih yang berlaku Air baku adalah air yang yang memenuhi ketentuan baku mutu air baku yang dapat diolah menjadi air minum Air minum adalah Air yang memenuhi ketentuan baku mutu air minum yang berlaku Dari dasar ketentuan inilah kami lakukan suatu percobaan kecil kecilan tentang kualitas air bersih, dengan memanfaatkan ketersediaan air yang ada dilingkungan. dan alat serta bahan yang ada secara konvensional dan methode uji yang sederhana yang diharapkan bisa memberikan hasil yang cukup yang tentu harus memenuhi beberapa parameter baku mutu air minum berdasarkan PERMENKES /No. 907/MENKES/ SK/ VI I / 2002. ALAT DAN BAHAN 1. ALAT Gelas Loupe Ember alat penyaring sederhana Kertas Lakmus 2. BAHAN Air teh, PAM , AIR Hujan , Air bekas Material penyaring : Arang , kerikil , batu besar , pasir LANGKAH KERJA 1. Menentukan Methode uji sederhana yang digunakan 2. Menentukan Variable percobaaan

3. Melakukan Uji air secara kimia , fisika dan Biologis dengan perlakukan air yang berbeda 4. Mengamati perubahan yang terjadi , dengan mencatat hasil sebelum dan sesudah Percobaan 5. merasakan dengan tester ujung lidah , membahu dan melihat kekruhan ( dibantu Loupe) untuk memenuhi sifat fisika 6. menguji pH air dengan mengamati perubahan kertas lakmus 7. mengamati ada tidaknya lendir ( akibat sekresi bakteri , dan organisme lain patogen ) EXPERIMEN 1. Untuk menentukan sifat fisika kami lakukan penyaringan sederhana 2. Untuk uji kimia kami gunakan kertas lakmus 3. Untuk uji biologi kami gunakan pengamatan busa , lendir , sebaiknya dengan mikroskop kalau ada 4. Menentukan Air yang digunakan untuk diamati ditentukan sebagai Variabel bebas Air yang baik (Aqua) / teh fresh ditentukan sebagai Variable kontrol

5. Air gambar

.disaring secara sederhaba seperti pada

AIR yang diamati 1. Air sumur 2. Air bekas cuci piring 3. Air kolam lele Khusus Air teh, dibiarkan 5 hari kemudian diamati setiap gari (sore dan pagi )

KESIMPULAN 1. Air teh yang basi , dengan ditandai ada busa dan berlendir serat aprl dipastikan tidak layak dikonsumsi karena tidak memenuhi kriteria air bersih 2. Air kolam , air hujan dan air cucian sesudah disaring , sebenarnya masih bisa digunakan untuk keperluan mandi namun bukan untuk minum karena belum memnuhi kriteria biologi dan khemis 3. Air sumur di rumah selayaknya bisa langsung diminum karena sangat jernih , tidak berasa , tidak berbau , pH netrak dan sepertinya tidak ada organisme namun karena psikologis somatis dan kepantasan jadi belum layak di konsumsi.

4 Air Aqua mineral , yang sebenarnya sama dengan air sumur hanya melalui penyaringan ozonisasi layak dikonsumsi

http://biologigonz.blogspot.com/2010/03/uji-kualitas-air-sederhana.html isharmanto bojonegoro

Uji kualitas Air Parit Pertigaan Lampu Merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Air mempunyai peranan penting bagi seluruh kehidupan di dunia. Manusia memanfaatkan air untuk keperluan air minum, memasak, mandi, mencuci dan dipakai sebagai pembangkit tenaga listrik. Bagi tumbuhan air sangat berperan penting dalam proses fotosintesa. Seperti pada manusia, hewan dan juga mikroorganisme memerlukan air untuk proses metabolisme Berdasarkan kualitasnya, air dibedakan menjadi dua, yaitu : air bersih dan air tercemar. Air bersih mempunyai ciri-ciri : tidak berbau, tidak berwarna, tidak berbusa dan pH netral. Sedangkan air tercemar jika dilihat dari kondisi fisik menunjukkan ciri-ciri : berbau, berwarna, berbusa dan pH tidak netral. Air berperan penting dalam keseimbangan ekosistem. Namun ketersediaan di berbagai habitat sangat bervariasi. Organisme air memanfaatkan air sebagai habitat, misalnya ikan hidup terendam dalam air. Habitat air tersebut sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternalnya. Keseimbangan ekosistem air mengalami permasalahan apabila tekanan osmosis intraselulernya tidak sesuai dengan tekanan osmosis air di sekitarnya (Maizer,2007). Kondisi di atas terjadi dapat disebabkan karena air telah tercemar oleh limbah air. Pencemaran merupakan penyimpangan dari keadaan normalnya. Misalnya pencemaran air sungai dimana suatu keadaan air tersebut telah mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya. Menurut Wardhana ( 1995) menyatakan bahwa keadaan normal air masih tergantung pada faktor penentu yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air. Pencemaran air dapat dijadikan sebagai indikator yang menentukan kualitas air. Pencemaran air dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu : dari bahan organik, anorganik, zat kimia, dan limbah. Bahan buangan organik biasanya berupa limbah yang dapat terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga dapat meningkatkan perkembangan mikroorganisme. Sedangkan bahan buangan anorganik berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan mikroorganisme tidak dapat mendegradasinya. Macam-macam bahan anorganik bersal dari logam-logam seperti : ion kalsium (Ca), ion magnesium (Mg), ion timbal (Pb), ion arsen (As), dan air raksa (Hg). Apabila logam-logam tersebut mencemari air, maka akan terakumuasi akibatnya sifat air menjadi sadah dan mengganggu kesehatan manusia. Bahan buangan yang berasal dari zat kimia dihasilkan dari sabun, bahan pemberantas hama, zat warna kimia, larutan penyamak kulit dan zat radioaktif. Dan yang terakhir adalah limbah, yaitu zat,energi dan atau komponen lain yang dikeluarkan , dibuang

akibat sesuatu kegiatan baik industri maupun non-industri (Peraturan Daerah Tingkat I Bali 1988). Limbah yang dihasilkan dapat menimbulkan gas yang berbau busuk misalnya H2S dan ammonia (Kadek Diana, 2007). Dewasa ini air menjadi masalah yang sangat penting, karena keberadaan air bersih manjadi barang mahal. Air yang dahulu melimpah akan kandungan mineral dan oksigen, kini telah banyak terjadi kasus pencemaran air. Pencemaran air ini disebabkan oleh ulah manusia yang kurang memperhatikan lingkungan. Diantara ulah manusia itu adalah kebiasaan manusia membuang sampah ke sungai, mengalirkan limbah MCK, pembuangan limbah pabrik dan pembuangan limbah rumah tangga. Selain itu sisa-sisa pupuk atau pestisida dari derah pertanian, limbah kotoran ternak, hasil kebakaran hutan dan endapan sisa-sisa gunung berapi meletus juga mengakibatkan terjadinya pencemaran air (Lutfi, 2009). Pencemaran air ini dapat menurunkan kualitas air yang telah ditentukan. Gajah Wong merupakan salah satu sungai yang ada di propinsi Yogyakarta. Jika dilihat dari warna air sungai menunjukkan adanya pencemaran. Pencemaran air ini diduga berasal dari parit-parit yang mengalir ke sungai, salah satunya parit sepanjang jalan Solo. Sehingga perlu adanya uji kualitas air yang meliputi fisik, kimia dan uji mikrobia terhadap kualitas air parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga sub inlet sungai Gajah Wong Yogyakarta. B. Batasan masalah 1. Uji kualitas limbah cair di parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dengan sub inlet sungai Gajah Wong Yogyakarta. 2. Uji kualitas air dilakukan pada uji kimia, fisika dan mikrobia. C. Rumusan Masalah Penelitian Bagaimana kualitas air parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta, apakah masih pada ambang normal atau tidak menurut Peraturan Pemerintah. No.20 Tahun 1990? D. Tujuan penelitian Mengetahui kuaslitas air parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dengan sub inlet sungai Gajah Wong Yogyakarta. E. Manfaat Penelitian 1. Mengetahui kualitas air parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dengan sub inlet sungai Gajah Wong Yogyakarta. 2. Data yang diperoleh dapat menjadi refrensi untuk peneliti beikutnya dalam uji kualitas air F. Hipotesa Kualitas air di parit sepanjang Hotel Saphir sampai dengan sub Inlet Sungai Gajah Wong Yogyakarta di atas ambang normal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Air Air (H2O) merupakan sebagian unsur kimia yang berada dalam bentuk cair pada tekanan biasa dan pada suhu bilik. Air merupakan suatu kebutuhan pokok bagi manusia. Air diperlukan untuk minum, mandi, mencuci pakaian, pengairan dalam bidang pertanian dan minuman untuk ternak. Selain itu, air juga sangat diperlukan dalam kegiatan industri dan pengembangan teknologi untuk meningkatkan taraf kesejahteraan hidup manusia. Namun dibalik manfaat-manfaat tersebut, aktivitas manusia di bidang pertanian, industri, dan kegiatan rumah tangga dapat dan telah terbukti menyebabkan menurunnya kualitas air. Kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kegiatan atau keperluan tertentu (Efendi, 2003). Upaya pemenuhan kebutuhan air oleh manusia dalam kehidupan seharihari dapat dengan mengambil air dari dalam tanah, air permukaan, atau langsung dari air hujan. Dari ketiga sumber air tersebut, air tanah yang paling banyak digunakan karena air tanah memiliki beberapa kelebihan dibanding sumber-sumber lainnya antara lain karena kualitas airnya yang lebih baik serta pengaruh akibat pencemaran yang relatif kecil. Akan tetapi air yang dipergunakan tidak selalu sesuai dengan syarat kesehatan, karena sering ditemui air tersebut mengandung bibit ataupun zat-zat tertentu yang dapat menimbulkan penyakit yang justru membahayakan kelangsungan hidup manusia (Suripin, 2002). Sumber air merupakan salah satu komponen utama yang ada pada suatu sistem penyediaan air bersih, karena tanpa sumber air maka suatu sistem penyediaan air bersih tidak akan berfungsi. Menurut Suyono (1993), macam-macam sumber air yang dapat di manfaatkan sebagai sumber air minum adalah sebagai berikut: 1. Air laut Mempunyai sifat asin, karena mengandung garam NaCl.Kadar garam NaCl dalam air laut 3 % dengan keadaan ini maka air laut tidak memenuhi syarat untuk diminum. 2. Air Atmosfer Untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada waktu menampung air hujan mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran. Selain itu air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini akan mempercepat terjadinya korosi atau karatan. Juga air ini mempunyai sifat lunak, sehingga akan boros terhadap pemakaian sabun. 3. Air Permukaan Air permukaan adalah air hujan yang mengalir di permukaan bumi. Pada umumnya air permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh lumpur, batang-batang kayu, daun-daun, kotoran industri dan lainnya. Air permukaan ada dua macam yaitu air sungai dan air rawa. Air sungai digunakan sebagai air minum, seharusnya melalui pengolahan yang sempurna, mengingat bahwa air sungai ini pada umumnya mempunyai derajat pengotoran yang tinggi. Debit yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan akan air

minum pada umumnya dapat mencukupi. Air rawa kebanyakan berwarna disebabkan oleh adanya zat-zat organik yang telah membusuk, yang menyebabkan warna kuning coklat, sehingga untuk pengambilan air sebaiknya dilakukan pada kedalaman tertentu di tengahtengah. 4. Air tanah Air tanah adalah air yang berada di bawah permukaan tanah didalam zone jenuh dimana tekanan hidrostatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer. 5. Mata air Mata air yaitu air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah dalam hampir tidak terpengaruh oleh musim dan kualitas atau kuantitasnya sama dengan air dalam. B. Sungai Sungai adalah air hujan atau mata air yang mengalir secara alami melalui suatu lembah atau diantara dua tepian dengan batas jelas, menuju tempat lebih rendah(laut, danau,atau sungai lain). Sungai terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian hulu, bagian tengah dan bagian hilir: 1. Bagian hulu sungai terletak di daerah yang relatif tinggi sehingga air dapat mengalir turun. 2. Bagian tengah sungai terletak pada daerah yang lebih landai. 3. Bagian hilir sungai terletak di daerah landai dan sudah mendekati muara sungai.

Jenis-jenis sungai dibagi menjadi 5, yaitu sumgai hujan, sungai gletser, sungai campuran, sungai permanen. 1.Sungai hujan adalah sungai yang berasal dari hujan. 2. Sungai gletser adalah sungai yang airnya berasal dari gletser atau bongkahan es yang mencair. 3. Sungai campuran adalah sungai yang airnya berasal dari hujan dan salju yang mencair. 4. Sungai permanen adalah sungai yang airnya relatif tetap. 5. Sungai periodik adalah sungai dengan volume air tidak tetap.(Anonim,2010) C. Kualitas Air Kualitas air dapat dilihat dari sifat fisika, kimiawi dan biologis. Air yang mempunyai kualitas baik harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai berikut : 1. Persyaratan fisika a) Air tidak keruh b) Air tidak berwarna c) Rasanya tawar Air yang terasa asam, manis, pahit atau asin menunjukan air tersebut tidak baik. Rasa asin disebabkan adanya garam-garam tertentu yang larut dalam air, sedangkan rasa asam diakibatkan adanya asam organik maupun asam anorganik. Air yang baik memiliki ciri tidak berbau bila dicium dari jauh maupun dari dekat. Air yang berbau busuk mengandung bahan organik yang sedang mengalami dekomposisi (penguraian) oleh mikroorganisme air. d) Temperaturnya normal Suhu air sebaiknya sejuk atau tidak panas terutama agar tidak terjadi pelarutan zat kimia yang ada pada saluran/pipa, yang dapat membahayakan kesehatan dan menghambat pertumbuhan mikro organisme. e) Tidak padatan terlarut total (Total Dissolved Solid/ TDS) Air Baku mutu air Tahun 2001 menetapkan bahwa kadar maksimum TDS yang diperbolehkan dalam penggunaan air golongan I, II dan III adalah 1000 mg/l, sedangkan untuk golongan IV sebesar 2000 mg/l. f) pH (derajat keasaman) Nilai pH air yang normal adalah sekitar netral, yaitu antara pH 6-7,5.

Fluktuasi nilai pH pada air sungai dipengaruhi oleh berbagai hal antara lain: (1) Bahan organik atau limbah organik. Meningkatnya kemasaman dipenga-ruhi oleh bahan organik yang membebaskan CO2 jika mengalami proses penguraian, (2) Bahan anorganik atau limbah anorganik. Air limbah industri bahan anorganik umumnya mengandung asam mineral dalam jumlah tinggi sehingga kemasamannya juga tinggi, (3) Basa dan garam basa dalam air seperti NaOH2 dan Ca(OH)2 dan sebagainya. (iv) Hujan asam akibat emisi gas. pH air hujan ini dapat mencapai 2 atau 3 berada jauh dibawah pH air hujan normal yaitu sekitar pH 5,6 (Siradz, 2008) 2. Persyaratan Kimia a) Besi Air yang mengandung banyak besi akan berwarna kuning dan menyebabkan rasa logam besi dalam air, serta menimbulkan korosi pada bahan yang terbuat dari metal. b) Aluminium Batas maksimal yang terkandung didalam air menurut Peraturan Menteri Kesehatan No 82 / 2001 yaitu 0,2 mg/l. Air yang mengandung banyak aluminium menyebabkan rasa yang tidak enak apabila dikonsumsi. c) Sulfat Kandungan sulfat yang berlebihan dalam air dapat mengakibatkan kerak air yang keras pada alat merebus air (panci / ketel)selain mengakibatkan bau dan korosi pada pipa. Sering dihubungkan dengan penanganan dan pengolahan air bekas. d) Nitrat dan nitrit Pencemaran air dari nitrat dan nitrit bersumber dari tanah dan tanaman. Nitrat dapat terjadi baik dari NO2 atmosfer maupun dari pupuk-pupuk yang digunakan dan dari oksidasi NO2 oleh bakteri dari kelompok Nitrobacter. Jumlah Nitrat yang lebih besar dalam usus cenderung untuk berubah menjadi Nitrit yang dapat bereaksi langsung dengan hemoglobine dalam daerah membentuk methaemoglobine yang dapat menghalang perjalanan oksigen didalam tubuh. e) Zink atau Zn Batas maksimal Zink yang terkandung dalam air adalah 15 mg/l. penyimpangan terhadap standar kualitas ini menimbulkan rasa pahit, sepet, dan rasa mual. Dalam jumlah kecil, Zink merupakan unsur yang penting untuk metabolisme, karena kekurangan Zink dapat menyebabkan hambatan pada pertumbuhan anak (Depkes, 2002). f) COD (Chemical Oxygen Demand) COD menunjukkan jumlah oksigen total yang dibutuhkan untuk mengoksi dasi bahan secara kimiawi, baik yang dapat didegradasi secara biologis (biodegradable) maupun yang sukar didegradasi secara biologis (non-biodegradable). Sedangkan BOD hanya menunjukkan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikrobia aerob untuk mengoksidasi bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Oleh karena itu nilai COD pada umumnya lebih tinggi daripada nilai BOD. Nilai COD dapat digunakan sebagai ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organis yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut (DO) di dalam air (Nurdijanto, 2000). g) Oksigen Terlarutkan (Disolved Oksigen /DO) Oksigen dibutuhkan oleh hampir semua organisme untuk hidupnya. Pada kehidupan hewan, oksigen merupakan salah satu komponen utama di dalam proses metabolisme dan proses respirasi, namun kebutuhan akan oksigen pada setiap hewan bergantung pada jenis, stadia dan aktivitasnya. Oksigen terlarutkan di dalam air menunjukkan cadangan oksigen dalam air sungai tersebut. Oksigen dapat merupakan faktor pembatas dalam penentuan kehadiran makhluk hidup dalam air. Kadar oksigen terlarut dalam perairan alami biasanya kurang dari 10 mg/l. Oleh karena itu kadar oksigen terlarutkan dapat dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas air. Penurunan kadar oksigen terlarut dalam perairan merupakan indikasi kuat adanya

pencemaran terutama pencemaran bahan organik (Siradz, 2008). h) Persyaratan mikrobiologis Persyaratan mikrobiologis yang harus dipenuhi oleh air adalah sebagai berikut : (1) Tidak mengandung bakteri patogen misalnya: bakteri golongan coli; Salmonella typhi, Vibrio cholera dan lain-lain. Kumankuman ini mudah tersebar melalui air. (2) Tidak mengandung bakteri non patogen seperti: Actinomycetes, Phytoplankton coliform, Cladocera dan lain-lain. (Sujudi, 1995). D. Pencemaran Air Pencemaran adalah suatu penyimpangan dari keadaan normalnya. Jadi pencemaran air tanah adalah suatu keadaan air tersebut telah mengalami penyimpangan dari keadaan normalnya. Keadaan normal air masih tergantung pada faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air (Wardhana, 1995). Pencemar air dapat menentukan indikator yang terjadi pada air lingkungan. Pencemar air dikelompokkan sebagai berikut : 1. Bahan buangan organik Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga hal ini dapat mengakibatkan semakin berkembangnya mikroorganisme dan mikroba patogen pun ikut juga berkembang biak di mana hal ini dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit. 2. Bahan buangan anorganik Bahan buangan anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit didegradasi oleh mikroorganisme. Apabila bahan buangan anorganik ini masuk ke air lingkungan maka akan terjadi peningkatan jumlah ion logam di dalam air, sehingga hal ini dapat mengakibatkan air menjadi bersifat sadah karena mengandung ion kalsium (Ca) dan ion magnesium (Mg). Selain itu ion-ion tersebut dapat bersifat racun seperti timbal (Pb), arsen (As) dan air raksa (Hg) yang sangat berbahaya bagi tubuh manusia. 3. Bahan buangan zat kimia Bahan buangan zat kimia banyak ragamnya seperti bahan pencemar air yang berupa sabun, bahan pemberantas hama, zat warna kimia, larutan penyamak kulit dan zat radioaktif. Zat kimia ini di air lingkungan merupakan racun yang mengganggu dan dapat mematikan hewan air, tanaman air dan mungkin juga manusia (Harmayani dan Konsukartha, 2007).

E. Standar Kualitas Air Menurut peraturan pemerintah No. 20 tahun 1990, standar kualitas air di perairan umum dapat ditinjau secara fisika, kimia, mikrobiologis, dan radioaktivitas. Berdasarkan beberapa parameter tersebut, air digolongkan menjadi empat yaitu golongan A, B, C, dan D. Golongan A merupakan air yang dapat digunakan sebagai air minum tanpa pengolahan terlebih dahulu. Golongan B merupakan air yang digunakan sebagai bahan baku air minum melalui suatu pengolahan. Pada golongan C, air digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan. Sedangkan golongan D , air digunakan untuk pertanian dan usaha perkotaan, industry dan PLTA. (Depkes, 2002) Banyaknya suatu bakteri seperti E. coli dan coliform dalam air menunjukkan rendahnya kualitas air yang dimiliki. Menurut Depkes (2002), semakin banyak jumlah bakteri E. coli

dan coliform, kualitas airnya semakin menurun.

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Mikrobiologi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta selama satu minggu pada minggu terakhir bulan Maret 2010. B. Alat Adapun peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah Erlenmeyer, tabung pengukuran CO2, gelas beker, thermometer g/alkohol, secchi disk, pH meter, tabung reaksi, kawat inokulasi, mikroskop, spektofotometer, inkubator, erlemmeyer. C. Bahan C1. Bahan Sampel Sampel air yang digunakan pada penelitian ini diambil di air parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan sub inlet Sungai Gajah Wong. C2. Bahan Kimia Bahan-bahan kimia yang dipakai pada penelitian ini adalah MnSO4, KOH-KI, Air aquades, Na2S2O3, Indikator pp, Larurtan NaOH, H2SO4 pekat, Yeast extrack, NaCl, Pepton atau tripton, dan Alkohol. Bahan sampel adalah air sampel. D. Cara Kerja D.1. Pembuatan media LB ( Lauryl Burtany) 5 gr Yeast extract ditambah 10 gr NaCl ditambah 10 gr tripton diencerkan dengan aquadest sampai volume 1 liter. Kemudian di aliquot pada tabung reaksi dan selanjutnya diautoclave 1 atm 15 menit. D.2. Pengambilan sampel Sampel diambil dengan cara memasukan wadah ke air searah aliran sungai dengan pengulangan tiga kali. Sampling dilakukan pada lokasi yang sama yaitu dari selokan pertigaan lampu merah di depan perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebelah timur. D.3. Pengamatan kualitas air secara kimia Pengukuran DO (Dissolved Oxygen ) dengan metode Micro winker Diambil air sampel yang akan di ukur sebanyak 40cc dan dimasukkan ke dalam Erlenmeyer, kemudian ditetesi dengan MnSO4 ( 480 g MnSO4. 4H2O dalam 1 liter akuades ) dan KOH-

KI 22 tetes (1 ml) (700 g KOH dan 150 g KI dalam 1 Liter akuades ) masing-masing sebanyak 8 tetes, digoyang perlahan dan akan terbentuk endapan coklat. Dimasukkan larutan H2SO4 pekat sebanyak 5 cc lewat dinding Erlenmeyer di goyang berlahan, sehingga endapan coklat akan hilang dan warna air sempel akan berubah menjadi kuning. ditambahkan air sampel ke dalam Erlenmeyer , sehingga volume menjadi 50 cc dan didiamkan selama 10-15 menit. Setelah itu titrasi dengan larutan NA2S2O3 ( 0,025 N ) (titrasi ), sehingga warna berubah menjadi kuning pucat. Tetesi dengan indikator amilum sebanyak 8 tetes dan warna akan berubah menjadi biru tua. Titrasi kembali dengan larutan NA2S2O3 (titrasi 2 ), sehingga warna biru tepat hilang ( catat volume titran/jumlah skala yang digunakan dalam titrasi 1 dan 2 Kadar DO =

a. Pengukuran CO2 bebas dengan metode Mocro Winkler Diambil air sampel sebanyak 20 cc dan dimasukkankedalam tabung pengukur CO2. Ditetesi dengan indicator pp (0,035%) sebanyak 3 tetes, apabila berwarna merah berarti tidak ada CO2bebas dan pekerjaan dihentikan. Apabila air sempel tetap (tidak timbul warna merah muda ) dilanjutkan dengan titrasi dengan larutan NaOH 0,02N, sehingga timbul warna merah muda.Catat warna NaOH yang digunakan. Kadar CO2 bebas=

D.4. Pengukuran Kualitas air secara fisik 1). Pengukuran pH Diambil air sampel, dimasukkan ke dalam gelas beker kemudian kertas pH dimasukkan ke dalam air sampel tersebut. kertas tersebut diangkat dan diukur pH nya sesuai standar indikator pH universal. 2). Pengukuran kualitas air secara mikrobiologi Penentuan kualitas koliform dilakukan dengan 15 tabung ( seri 5-5-5 ). Medium yang digunakan adalah LB (Lauryl Burtany) masing-masing tabung berisi 5 ml untuk 2 kali konsentrasi, dan masing-masing 10ml untuk konsentrasi 1 kali., Setiap tabung dimasukkan tabung Durcham dalam posisi terbalik. Untuk pengujian yang menggunakan 15 tabung, pada 5 seri tabung pertama diisi 5 ml sampel air, 5 seri tabung kedua diisi dengan 1 ml sampel air, dan 5 seri tabung ketiga diisi dengan 0,1 ml sampel air. Semua tabung reaksi kemudian diinkubasi pada inkubator pada suhu 37C. Setelah masa inkubasi 1-2 x 24 jam diamati terbentuknya gas(gelembung udara pada tabung Durcham) dan perubahan warna media (media menjadi keruh). Jika terdapat gelembung udara pada tabung durham atau media berubah warna menjadi keruh maka menunjukkan adanya bakteri E.coli. Analisis dilakukan dengan metode MPN (Most Probable Number).

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Tabel 1. Hasil uji kualitas air

Pengujian Hari ke- Rata-rata 123 kimia DO (ppm) 24 43,5 10,9 26,13 CO2 (ppm) 6,68 4,75 1,136 4,18 mikrobia E.coli >1600 >1600 >1600 >1600 fisika pH 8 8 7 7,6 kekeruhan +++ ++ + bau +++ ++ +

Gambar 1.Grafik kadar DO Ket: Percobaan 1 : hari senin Percobaan 2 : hari rabu Percobaan 3: hari jumat

Gambar 2.Grafik kadar DO Keterangan : Percobaan 1 : hari senin Percobaan 2 : hari rabu Percobaan 3: hari jumat F. PEMBAHASAN Uji kualitas air dilakukan secara fisik, kimia, biologi. Uraian pengukuran dan hasil pembahasan masing-masing adalah sebagai berikut : 1. Pengujian Fisik a) pH Pengukuran pH yang dilakukan menunjukkan hasil yang berbeda. Pada hari Senin hasil pengukuran pH adalah 8, pH pada hari Selasa yaitu 8, sedangkan pH pada hari Jum`at adalah 7. Secara teoritis pH normal berkisar 6 - 7,5. Pada hari Senin dan Rabu menunjukkan bahwa pH air sampel yang diambil adalah bersifat basa. Sedangkan pH sampel pada hari Rabu

adalah bersifat netral atau normal. Pengukuran pH dilakukan karena berperan dalam aktivitas enzim. Pada pH 8 meningkatkan kerja enzim sehingga laju metabolismenya meningkatkan pada algae, mikroorganisme, fitoplankton. Hal ini dapat menyebabkan meningkatnya konsentrasi DO (oksigen terlarut). Sehingga pada konsentrasi DO (oksigen terlarut) diperoleh nilai tinggi .Faktor-faktor yang mempengaruhi pH air parit adalah adanya sampah organik yang didegradasi oleh mikroorganisme dan sampah anorganik yang mengandung banyak asam mineral. b) Bau Bau yang ditimbulkan dari air limbah tersebut pada hari Senin menunjukkan air limbah yang sangat bau. Pada hari Rabu dan Jumat bau yang ditimbulkan dari air limbah adalah bau. Air yang bau menunjukkan bahwa air tersebut tercemar. Hari Senin lebih bau dari pada hari Rabu dan Jumat. Hal ini menunjukkan bahwa air pada hari Senin lebih tercemar dari pada hari Rabu dan Jumat. Ini disebabkan karena aktifitas pengunjung pada hari Sabtu dan Minggu lebih banyak dari pada hari Rabu dan Jumat yang menyebabkan terjadinya akumulasi limbah pada parit di lokasi pengambilan sampel. Bau tersebut ditimbulkan karena adanya aktifitas mikroorganisme dalam merubah sampah organik menjadi senyawa anorganik dan CO2 2. Uji kimia Pengujian kimia merupakan salah satu cara untuk mengetahui kualitas air, apakah air tersebut masih pada ambang batas normal atau tidak. Pada pengujian kualitas air ini menggunakan parameter DO (Dissolved Oxygen/Oksigen Terlarut) dan parameter CO2 (karbondiosida). Berdasarkan hasil pengujian yang diperoleh, untuk parameter DO (Oksigen Terlarut) di dapat nilai rata-rata 26,13 ppm. Secara teoritis, kadar oksigen terlarut untuk air limbah normal kurang dari 10 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa kadar oksigen terlarut pada air limbah ini melebihi ambang batas normal. Tingginya kadar oksigen terlarut dalam air dapat diduga adanya aktivitas mikroorganisme anaerob yang mendegradasi sampah organik tanpa menggunakan oksigen. Aktivitas mikroorganisme tersebut dapat menimbulkan bau pada air. Sedangkan untuk parameter parameter CO2 (karbondiosida) diperoleh rata-rata 4,18 ppm. Secara teoritis kadar CO2 lebih tinggi dari 10 ppm diketahui menunjukkan bersifat racun. Karbon dioksida dalam air pada umumnya merupakan hasil respirasi dari ikan dan phytoplankton. Maka dari sini dapat diketahui bahwa jika dipandang dari parameter CO2 untuk air limbah ini dapat dikatakan tidak bersifat racun. Jika CO2 yang terkandung dalam air terlalu banyak dapat menyebabkan keracunan bagi organisme air. Rendahnya kandungan CO2 dalam air dapat disebabkan banyaknya mikroorganisme yang mendegradasi bahan buangan organik tanpa menghasilkan CO2. Berbeda halnya dengan mikroorganisme aerob yang menggunakan bahan buangan organic dan O2 yang menghasilkan CO2, H2O, dan NH3 (Warlina, 2004). Dengan demikian di dalam air sampel banyak terkandung mikroorganisme anaerob daripada mikroorganisme aerob. Dengan demikian banyaknya mikroorganisme anaerob dalam air dapat menyebabkan kandungan O2 lebih tinggi karena mikroorganisme tersebut tidak menggunakan oksigen dalam mendegradasi bahan buangan organic. Sedangkan kadar CO2 lebih rendah karena tidak adanya proses degradasi bahan buangan organik secara aerob. Semakin tinggi kandungan O2 dalam air, kadar CO2 semakin rendah. Pada hari kedua kadar oksigen terlarut menunjukkan angka tertinggi. Oksigen terlarut yang terkandung dalam air berasal dari udara dan hasil proses fotosintesis tumbuhan air. Oksigen diperlukan oleh semua mahluk yang hidup di air seperti ikan, udang, kerang dan hewan lainnya termasuk mikroorganisme seperti bakteri. Pada hari kedua ini, kemungkinan mikroorganisme tidak mengunakan oksigen melainkan menggunakan senyawa organik. Sehingga oksigen terlarut pada hari kedua tertinggi. Jenis limbah mempengaruhi kadar oksigen terlarut dalam air. Limbah selokan hotel saphir ini

sebagian besar merupakan limbah organik. Sebagian besar oksigen terlarut digunakan bakteri aerob untuk mengoksidasi karbon dan nitrogen dalam bahan organik menjadi karbondioksida dan air. Sehingga kadar oksigen terlarut akan berkurang dengan cepat dan akibatnya hewanhewan seperti ikan, udang dan kerang akan mati. Bau busuk ini berasal dari gas NH3 dan H2S yang merupakan hasil proses penguraian bahan organik lanjutan oleh bakteri anaerob. 3. Pengujian mikrobiologi Uji kualitas air secara mikrobiologi dilakukan dengan menguji adanya bakteri E. coli. E. coli merupakan bakteri coliform fecal yang berasal dari manusia. Bakteri E. coli merupakan bakteri yang dapat dijadikan sebagai indicator adanya pencemaran. Keberadaan E. coli juga merupakan indicator adanya bakteri pathogen lainnya. Peningkatan jumlah E. coli menyebabkan penurunan kualitas air. E. coli yang tercemar dalam air dapat menyebabkan sakit perut dan beberapa gangguan kesehatan lainnya. Seperti yang disebutkan oleh Zein (2004) bahwa bakteri E. coli bersifat enterophatogenic yang melekat pada epitel usus sehingga menyebabkan kerusakan membrane mikrovili yang mengganggu permukaan absorpsi dan aktivitas disakarida. Untuk menguji jumlah bakteri E. coli, diambil sampel yang kemudian diinokulasikan dalam medium LB (Lauril Burtany). Medium LB (Luria-Bertani) biasa digunakan dalam mengkulturkan bakteri E. coli. Medium LB menyediakan asam amino tryptofan, vitamin dan beberapa metabolit lainnya yang disintesis oleh bakteri E. coli. Dalam percobaan ini, medium dibuat dalam tiga jenis pengenceran sebagai perbandingan. Masing-masing pengenceran berjumlah lima tabung reaksi berisi tabung durham yang pasang terbalik. Tabung durham berfungsi untuk menangkap gas CO2 yang merupakan sisa metabolit bakteri. Dengan demikian adanya bakteri E. coli dalam tabung ditandai dengan adanya gelembung pada tabung durham. Selain itu indicator adanya E. coli juga ditandai dengan adanya kekeruhan medium. Untuk mengetahui jumlah E. coli digunakan system 5-5-5 yaitu 5 tabung untuk 10 ml, 5 tabung untuk 1 ml, dan 5 tabung untuk 0,1 ml. Apabila dari 15 tabung positif adanya E. coli, maka jumlah E. coli adalah >1600. Hasil inkubasi pada hari pertama hingga hari ketiga diperoleh >1600 bakteri. Pada hari pertama menunjukkan adanya E.coli pada seluruh tabung yang ditunjukkan dengan adanya gelembung pada tabung dan kekeruhan medium. Hari kedua dan ketiga tidak semua tabung menghasilkan gelembung pada tabung durham namun seluruh medium pada tabung tampak keruh. Hal tersebut dapat diduga karena beberapa bakteri belum melakukan metabolit secara sempurna yang menghasilkan gelembung. Berdasarkan Standar Nasional Indonesia, penggunaan untuk air minum mensyaratkan dalam 100 ml air terkandung 0 coliform. Dengan demikian, berdasarkan data tersebut, air sungai selokan telah tercemar oleh bakteri E. coli yang mengandung lebih dari 1600 bakteri. Hal ini menunjukkan bahwa air parit pertigaan lampu merah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga dengan sub Inlet Sungai Gadjah Wong Yogyakarta amat sangat tercemar. BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan uji fisik,kimia dan mikrobiologi diatas dapat disimpulkan bahwa air limbah ini telah tercemar dan secara umum telah diambang batas normal. Daftar Pustaka Achmad Lutfi. 2009. Sumber Dan Bahan Pencemar Air Anonim, 1988. Peraturan Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali Nomor 16 Tahusn 1988, Tentang Pengawasan dan Penaggulangan Pencemaran Lingkungan Oleh Limbah, Denpasar, Bali. Depkes. 2002. Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air Minum/Air Bersih. Jakarta.

Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius Harmayani, Kadek Diana dan I. G. M. Konsukartha. 2007. Pencemaran Air Tanah Akibat Pembuangan Limbah Domestik Di Lingkungan Kumuh. Jurnal Permukiman Natah. Denpasar : Universitas Udayana. Vol, 5. NO. 2 Agustus 2007 : 62 108 Nahdi, M. S, dan Solikhah J .2007.Biologi Umum.Yogyakarta: Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Nurdijanto, 2000. Kimia Lingkungan. Pati: Yayasan peduli Lingkungan Siradz, Syamsul A., dkk. 2008. Kualitas Air Sungai Code, Winongo dan Gajahwong, Daerah Istiewa Yogyakarta. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 8,. No. 2 (2008) p: 121-125 Sujudi. 1995. Mikrobiologi Kedokteran (Edisi Revisi). Jakarta: Bina Rupa Aksara Suripin, 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Yogyakarta : Andi Offset. Suyono, 1993. Pengelolaan Sumber Daya Air. Fakultas Geografi Universitas. Wardhana, W.A., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakrta : Andi Offset Yogyakarta Widiyanti, N.L.P.M. Analisis Kualitatif Bakteri Koliform Pada Depo Air Minum Isi Ulang di Kota Singaraja Bali. Bali : P-MIPA IKIP Negeri Singaraja Diposkan oleh BLOG SAFcliton http://safcliton.blogspot.com/2010/08/uji-kualitas-air-parit-pertigaan-lampu.html

Latar Belakang Mengingat bahwa air minum yang digunakan kemungkinan mengandung bakteri patogen maka sebelum digunakan harus diperiksa terlebih dahulu, sebab air minum harus bebas dari bakteri-bakteri patogen tersebut. Untuk pemeriksaan tersebut diperlukan pengujian bakteriologis air di laboratorium. Pengujian ini dapat menentukan air yang diperiksa tersebut mengandung bakteri patogen atau tidak. Alam prakteknya pengujian air secara bakteriologis untuk menentukan ada tidaknya bakteri bentuk koli. Air tawar bersih yang layak minum, semakin langka di perkotaan. Sungai- sungai yang menjadi sumbernya sudah tercemar berbagai macam limbah, mulai dari buangan sampah organik, rumah tangga hingga limbah beracun dari industri. Air tanah sudah tidak aman dijadikan bahan air minum karena telah terkontaminasi rembesan dari tangki septik maupun air permukaan. Itulah salah satu alasan mengapa air minum dalam kemasan (AMDK) yang disebut-sebut menggunakan air pegunungan banyak dikonsumsi. Namun,

harga AMDK dari berbagai merek yang terus meningkat membuat konsumen mencari alternatif baru yang murah, yaitu penggunaan Air minum isi ulang. Uji kualitas air Ke dalam parameter mikrobiologis hanya dicantumkan Coli tinja dan total Coliforms. a. Coli tinja, air yang mengandung coli tinja berarti air tersebut tercemar tinja. Tinja dari penderita sangat potensial menularkan penyakit yang berhubungan dengan air. b. Total Coliforms, bila air yang tercemar coliform dapat mengakibatkan penyakitpenyakit saluran pernafasan. Standar Air Minum, menurut standar WHO semua sampel tidak boleh mengandung E. coli dan sebaiknya juga bebas dari bakteri coliform. Standar WHO: Dalam setiap tahun, 95% dari sampel-sampel tidak boleh mengandung coliform dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung E. coli dalam 100 ml, Tidak ada sampel yang mengandung coliform lebih dari 10 dalam 100 ml, Tidak boleh ada coliform dalam 100 ml dan dua sampel yang berurutan (AOAC, 2000). Bakteri coliform adalah golongan bakteri intestinal, yaitu hidup dalam saluran pencernaan manusia. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, sebenarnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. E. coli jika masuk ke dalam saluran pencernaan dalam jumlah banyak dapat membahayakan kesehatan. WalaupunE.coli merupakan bagian dari mikroba normal saluran pencernaan, tapi saat ini telah terbukti bahwa galur-galur tertentu mampu menyebabkan gastroeritris taraf sedang hingga parah pada manusia dan hewan. Sehingga, Air yang akan digunakan untuk keperluan sehari-hari seperti erbahaya yaitu dapat menimbulkan penyakit infeksius.

Menurut Soetarto (2008), semua organisme selalu membutuhkan air untuk kelangsungan hidupnya. Hal ini disebabkan semua reaksi biologis yang berlangsung di dalam tubuh makhluk hidup berlangsung dalam medium air. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya air. Air memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Tetapi sering sekali terjadi pengotoran dan pencemaran air dengan kotoran-kotoran dan sampah. Oleh karena itu air dapat menjadi sumber atau perantara berbagai penyakit seperti tipus, desentri, dan kolera. Bakteri-bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tersebut adalahSalmonella typhosa, Shigella dysenteriae,dan Vibrio koma. Bakteri coliform adalah bakteri indikator keberadaan bakteri patogenik lain. Lebih tepatnya, bakteri coliform fekal adalah bakteri indikator adanya pencemaran bakteri patogen. Penentuan coliform fekal menjadi indikator pencemaran dikarenakan jumlah koloninya pasti berkorelasi positif dengan keberadaan bakteri patogen. Selain itu, mendeteksi Coliform jauh lebih murah, cepat, dan sederhana daripada mendeteksi bakteri patogenik lain. Contoh bakteri coliform adalah, Esherichia coli dan Entereobacter aerogenes. Jadi, coliform adalah indikator kualitas air. Makin sedikit kandungan coliform, artinya, kualitas air semakin baik. Terdapatnya bakteri coliform dalam air minum dapat menjadi indikasi kemungkinan besar adanya organisme patogen lainnya. Bakteri coliform dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu faecal coliform dan non-faecal coliform. E. coli adalah bagian dari faecal coliform. Keberadaan E. coli dalam air dapat menjadi indikator adanya pencemaran air oleh tinja. E. coli digunakan sebagai indikator pemeriksaan kualitas bakteriologis secara universal dalam analisis dengan alasan; a) E. coli secara normal hanya ditemukan di saluran pencernaan manusia (sebagai flora normal) atau hewan mamalia, atau bahan yang telah terkontaminasi dengan tinja manusia atau hewan; jarang sekali ditemukan dalam air dengan kualitas kebersihan yang tinggi, b) E. coli mudah diperiksa di laboratorium dan sensitivitasnya tinggi jika pemeriksaan dilakukan dengan benar, c) Bila dalam air tersebut ditemukan E. coli, maka air tersebut dianggap berbahaya bagi penggunaan domestik, d) Ada kemungkinan bakteri enterik patogen yang lain dapat ditemukan bersama-sama dengan E. coli dalam air tersebut.

Maka, untuk mendapat gambaran yang jelas mengenai kualitas air minum khususnya kandungan bakteri total coli dan Escherichia coli (fecal coli) dalam air minum dari depot air minum dan air minum yang telah tersedia, maka dilakukan penelitian tentang kualitas air minum. 1.2. Rumusan Masalah Rumusan Masalah dari penelitian ini adalah: Apakah terdapat cemaran bakteri koliform dalam sample air minum isi ulang pada depot Kenzi Sunan Ample, Air Mineral Merek Club, dan Air PDAM ? 1.3. Tujuan Tujuan penelitian ini adalah: Untuk mengetahi adanya cemaran bakteri koliform dalam sample air minum isi ulang pada depot Kenzi Sunan Ample, Air Mineral Merek Club, dan Air PDAM.