Anda di halaman 1dari 15

TINJAUAN PUSTAKA

Lansia Istilah usia lanjut menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. World Health Organization (WHO) diacu dalam Komnas Lansia (2008) menggolongkan lansia berdasarkan aspek kronologis (batasan usia) menjadi: 1. usia pertengahan (middle age): usia 45-59 tahun 2. usia lanjut (elderly): 60-74 tahun 3. usia tua (old): 75-90 tahun 4. usia sangat tua (very old): diatas 90 tahun Dahlan diacu dalam Arisman (2004) menyatakan bahwa di Indonesia orang dikatakan lansia jika telah berumur di atas 60 tahun. Jika mengacu pada usia pensiun, lansia ialah mereka yang telah berusia di atas 56 tahun. Proses Penuaan Penuaan merupakan proses yang terjadi dari awal kelahiran hingga kematian. Penuaan, periode hidup setelah usia 30 tahun, adalah proses yang melibatkan seluruh tubuh. Selama periode pertumbuhan, proses anabolik melebihi perubahan katabolik. Ketika tubuh mencapai kedewasaan fisiologis, laju katabolik atau perubahan degeneratif mungkin lebih tinggi dibanding laju anabolik. Hasil akhir berkurangnya sel dapat membawa pada penurunan efisiensi dan gangguan fungsional pada berbagai tingkat. (Harris 2004). Secara alami fungsi fisiologis dalam tubuh lansia menurun seiring pertambahan usianya. Perubahan fungsi fisiologis yang terjadi pada lansia pada dasarnya meliputi penurunan kemampuan sistem syaraf, yaitu pada indera penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman. Selanjutnya perubahan ini juga mengakibatkan penurunan sistem pencernaan, sistem syaraf, sistem pernapasan, sistem endokrin, sistem kardiovaskular hingga penurunan kemampuan muskuloskeletal (Fatmah 2010). Proses penuaan ditandai dengan kehilangan massa otot tubuh sekitar 2 3% perdekade. Sarkopenia, kehilangan massa otot yang berkaitan dengan usia, berkontribusi terhadap penurunan kekuatan otot, perubahan pada gaya berjalan dan keseimbangan, kehilangan fungsi fisik, dan meningkatnya resiko penyakit kronis. Fungsi imunitas juga mengalami penurunan pada lansia, sehingga

kemampuan melawan infeksi berkurang dan meningkatnya kejadian penyakit infeksi pada lansia. (Harris 2004). Susunan makanan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi tubuh, dapat menciptakan dua kemungkinan, yaitu keadaan gizi kurang dan keadaan gizi lebih (kegemukan/ obesitas). Keadaan obesitas ini banyak dipengaruhi oleh kegiatan yang berlebihan dari kelenjar hipotalamus, banyaknya sel-sel lemak tubuh, umur para lanjut usia, aktivitas jasmani yang kurang, faktor psikologis, faktor keturunan, dan faktor endokrin. Keadaan ini sering pula menimbulkan gangguan dalam tubuh secara mekanis, secara metabolik, traumata/ kecelakaan, maupun gangguan kardiovaskuler (Astawan & Wahyuni 1988). Menurut Arisman (2004) terjadi beberapa kemunduran dan kelemahan yang bisa diderita oleh lansia yaitu: 1. pergerakan dan kelemahan lansia 2. intelektual terganggu (demensia) 3. isolasi diri (depresi) 4. inkontinensia dan impotensia 5. defisiensi imunologis 6. infeksi, konstipasi, dan malnutrisi 7. latrogenesis dan insomnia 8. kemunduran penglihatan, pendengaran, pengecapan, pembauan, komunikasi, dan integritas kulit 9. kemunduran proses penyembuhan. Konsumsi Pangan dan Zat Gizi Konsumsi pangan adalah jumlah pangan (tunggal atau beragam) yang dimakan seseorang atau sekelompok orang tertentu dengan jumlah tertentu. Konsumsi pangan erat kaitannya dengan masalah gizi dan kesehatan serta perencanaan produksi pangan. Jenis dan jumlah pangan merupakan hal yang penting dalam menghitung jumlah zat gizi yang dikonsumsi (Hardinsyah & Briawan 1994). Konsumsi pangan merupakan faktor utama untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan zat gizi, pada gilirannya zat gizi tersebut berfungsi untuk menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh, pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Konsumsi makanan haruslah beragam karena tidak ada satu jenis makanan yang mengandung komposisi zat gizi yang lengkap. Oleh karena itu, kekurangan gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan dan

susunan zat gizi jenis makanan yang lain sehingga diperoleh asupan yang seimbang. Selain itu, konsumsi makanan yang lebih beragam dapat memperbaiki kecukupan akan zat-zat gizi dan menunjukkan perlindungan terhadap serangan berbagai penyakit kronik yang berhubungan dengan proses penuaan

(Wirakusumah 2001). Metode Food Frequency Questionnaire (FFQ) Food Frequency Questionnaire (FFQ) bertujuan untuk menilai frekuensi pangan atau kelompok pangan yang dikonsumsi pada selang waktu tertentu. Sebenarnya FFQ didisain untuk menyediakan data mengenai pola konsumsi pangan secara deskriptif kualitatif. Akan tetapi dengan menambahkan perkiraan jumlah porsi yang dikonsumsi, metode menjadi semi-kuantitatif sehingga memungkinkan penghitungan energi dan zat gizi terpilih (Gibson 2005). Metode ini terdiri dari dua komponen dasar yaitu daftar makanan dan frekuensi konsumsi untuk melaporkan seberapa sering suatu makanan dikonsumsi. Keuntungan FFQ terletak pada beban kerja yang relatif rendah bagi responden disamping analisis kuesioner ini yang cukup sederhana dan murah karena dapat dilakukan sendiri serta dapat dipindai dengan mesin. Kerugian FFQ terdapat pada keharusan responden melakukan tugas kognitif yang levelnya cukup tinggi untuk memperkirakan frekuensi dan ukuran takaran saji yang lazim (Pietinen & Patterson 2009). Pengukuran asupan makanan pada lansia secara retrospektif yang memerlukan konfirmasi kurang tepat dilakukan. Tidak satupun metode dietary assessment menghasilkan estimasi kebutuhan energi umum yang akurat pada lansia karena adanya defisit memori atau gangguan lainnya. Dietary history dan dietary record tampaknya menghasilkan nilai under-estimate pada makanan yang dikonsumsi lansia. Penggunaan FFQ lebih tepat digunakan bagi lansia untuk menilai rata-rata asupan zat gizi daripada metode food weighing yang memerlukan waktu lama dan biaya yang mahal. Metode FFQ yang

menggunakan ukuran porsi (semi-kuantitatif) dapat memberikan estimasi jumlah makanan atau zat gizi yang dikonsumsi pada masa lampau (Sanjur & Maria 1997 dalam Fatmah 2010). Perhitungan asupan zat gizi secara keseluruhan pada metode FFQ semi kuantitatif diperoleh dengan jalan menjumlahkan kandungan zat gizi masingmasing pangan. Sebagian kuesioner frekuensi justru memasukan pertanyaan tentang bagaimana makanan biasanya diolah, penggunaan makanan suplemen,

penggunaan vitamin dan mineral tambahan serta makanan bermerek lain. (Arisman 2004). Kebutuhan gizi pada lansia secara umum sedikit lebih rendah dibandingkan kebutuhan gizi di usia dewasa. Kondisi ini merupakan konsekuensi terjadinya penurunan tingkat aktivitas dan metabolisme basal tubuh para lansia. Angka kecukupan gizi yang dianjurkan merupakan patokan bagi lansia yang sehat. Akibatnya, kecukupan gizi tersebut bersifat fleksibel dan tidak mutlak (Wirakusumah 2001). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (2004) mengelompokkan angka kecukupan yang dianjurkan untuk usia 50-64 tahun dan diatas 65 tahun sebagai berikut: Tabel 1 Angka kecukupan zat gizi untuk lansia per orang per hari
Zat Gizi Energi (Kal) Protein (g) Kalsium (mg) Fofor (mg) Vitamin A (RE) Vitamin C (mg) Angka Kecukupan Gizi Pria Wanita 50-64 tahun >65 tahun 50-64 tahun >65 tahun 2250 2050 1750 1600 60 60 50 45 800 800 800 800 600 600 600 600 600 600 500 500 90 90 75 75

Energi Manusia membutuhkan energi untuk mempertahankan hidup, menunjang pertumbuhan dan melakukan aktivitas fisik. Energi yang dibutuhkan lansia berbeda dengan energi yang dibutuhkan oleh orang dewasa karena perbedaan aktivitas fisik yang dilakukan. Selain itu, energi juga dibutuhkan oleh lansia untuk menjaga sel-sel maupun organ-organ dalam tubuh agar bisa tetap berfungsi dengan baik walaupun fungsinya tidak sebaik seperti saat masih muda (Fatmah 2010). Energi diperoleh dari karbohidrat, lemak, dan protein yang ada di dalam makanan. Kandungan karbohidrat, lemak dan protein suatu bahan makanan menentukan nilai energinya. Sumber energi berkonsentrasi tinggi adalah bahan makanan sumber lemak seperti lemak dan minyak, kacang-kacangan dan bijibijian. Selain itu bahan makanan sumber karbohidrat seperti padi-padian, umbiumbian, dan gula murni (Almatsier 2004). Protein Protein adalah suatu substansi kimia dalam makanan yang terbentuk dari serangkaian atau rantai-rantai asam amino. Protein dalam makanan di dalam

tubuh akan berubah menjadi asam amino yang sangat berguna bagi tubuh yaitu untuk membangun dan memelihara sel, seperti sel otot, tulang, enzim, dan sel darah merah (Fatmah 2010). Rekomendasi asupan protein pada lansia tidak berubah, beberapa studi menunjukkan bahwa asupan protein 1g/kg berat badan dibutuhkan untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen tubuh. Akan tetapi konsumsi protein 11,25g/kg berat badan secara umum aman untuk lansia. Kebutuhan akan protein akan meningkat sejalan dengan adanya penyakit akut dan kronis (Harris 2004). Bahan makanan hewan merupakan sumber protein yang baik, dalam jumlah maupun mutu seperti telur, susu, daging, unggas, ikan, dan kerang. Sumber protein nabati adalah kacang kedelai dan hasilnya, seperti tahu dan tempe serta kacang-kacangan lainnya. Kacang kedelai merupakan sumber protein nabati yang mempunyai mutu tertinggi (Almatsier 2004). Mineral Kalsium merupakan mineral yang paling banyak terdapat di dalam tubuh, yaitu 1,5-2% dari berat badan orang dewasa atau sekitar 1 kg. Lebih dari 99 persen, berada di tulang dan gigi bersama fosfor membetuk kalsium fosfat, zat keras yang memberikan kekakuan pada tubuh. Kalsium juga hadir dalam serum darah dalam jumlah kecil namun memegang peranan penting (Latham 1997). Secara umum, fungsi kalsium bagi lansia adalah sebagai komponen utama tulang dan gigi, berperan dalam kontraksi dan relaksasi otot, fungsi saraf, proses penggumpalan darah, menjaga tekanan darah agar tetap normal serta sistem imunitas tubuh (Fatmah 2010). Sumber kalsium utama adalah susu dan hasil susu, seperti keju. Ikan dimakan dengan tulang, termasuk ikan kering merupakan sumber kalsium yang baik. Serealia, kacang-kacangan dan hasil kacang-kacangan, tahu dan tempe, dan sayuran hijau merupakan sumber kalsium yang baik juga, tetapi bahan makanan ini mengandung zat yang menghambat penyerapan kalsium seperti serat, fitata, dan oksalat (Almatsier 2004). Fosfor merupakan mineral kedua yang paling banyak di dalam tubuh dan jumlahnya 6,5-11 g/kg berat badan dewasa. Sekitar 85% fosfor berada dalam tulang bersama kalsium (Latham 1997). Fosfor mempunyai berbagai fungsi dalam tubuh seperti klasifikasi tulang dan gigi, mengatur pengalihan energi, absorpsi dan transportasi zat gizi, bagian dari ikatan tubuh esensial, dan pengaturan keseimbangan asam-basa. Fosfor terdapat di dalam semua

makanan, terutama makanan kaya protein seperti daging, ayam, ikan, telur, susu dan hasil olahannya, kacang-kacangan dan hasil olahannya, serta serealia (Almatsier 2004). Vitamin Vitamin merupakan senyawa kimia yang sangat esensial bagi tubuh walau ketersediaannya dalam tubuh dalam jumlah sedemikian kecil dan diperlukan bagi kesehatan dan pertumbuhan tubuh yang normal. Terdapat beberapa jenis vitamin yang bermanfaat bagi sistem imunitas tubuh dan mencegah timbulnya radikal bebas pada lansia, misalnya vitamin A dan vitamin C (Fatmah 2010). Vitamin A adalah vitamin larut lemak yang pertama ditemukan. Vitamin A esensial untuk pemeliharaan kesehatan dan kelangsungan hidup. Vitamin A berperan dalam berbagai fungsi tubuh seperti penglihatan, diferensiasi sel, fungsi kekebalan, pertumbuhan dan perkembangan, reproduksi, pencegahan kanker dan penyakit jantung, dan lain-lain (Almatsier 2004). Sumber vitamin A yang sudah terbentuk (performed) hanya terdapat pada pangan hewani seperti hati, minyak hati ikan, kuning telur sebagai sumber utama. Sayuran, terutama sayuran berdaun hijau dan buah berwarna kuningjingga mengandung karotenoid provitamin A (Gibson 2005). Vitamin C mempunyai banyak fungsi di dalam tubuh, sebagai koenzim atau kofaktor. Pada lansia, vitamin C bermanfaat menghambat berbagai penyakit. Fungsinya antara lain meningkatkan kekebalan tubuh, melndungi dari serangan kanker, melindungi arteri, meremajakan dan memproduksi sel darah putih, mencegah katarak, memperbaiki kualitas sperma, dan mencegah penyakit gusi (Fatmah 2010). Vitamin C pada umumnya hanya terdapat di dalam pangan nabati, yaitu sayur dan buah terutama yang asam seperti, nenas, rambutan, jeruk, pepaya, gandaria, dan tomat. Vitamin C juga terdapat di dalam sayuran daun-daunan dan jenis kol (Almatsier 2004). Status Kesehatan World Health Organization (WHO) pada tahun 1947 mendefinisikan kesehatan adalah keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan sosial dan bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Status kesehatan adalah keadaan kesehatan pada waktu tertentu

(Smet 1994). Secara umum, status kesehatan pada lansia tidak sebaik saat usia muda. Seringkali lansia menderita berbagai penyakit yang umumnya terjadi akibat penurunan fungsi organ tubuh (McKenzie et. al. 2008). Penyakit adalah kegagalan tubuh dalam beradaptasi. Secara jelas penyakit adalah terganggu atau tidak berlangsungnya fungsi-fungsi psikis dan fisik, yaitu ada kelainan dan penyimpangan yang mengakibatkan kerusakan dan bahaya pada organ/ tubuh sehingga bisa mengancam kehidupan (Sarafino 1994). Beberapa pengarang membagi pengertian penyakit ini menjadi penyakit communicable (yang dapat menular) dan non-communicable (yang tidak dapat menular) (WHO-SEARO 1986, Diekstra 1989). Akan tetapi ada juga yang membagi penyakit menjadi penyakit infeksi dan penyakit kronis (Smet 1994). Penyakit-penyakit infeksi adalah penyakit-penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri atau virus di dalam tubuh (Sarafino 1994). Sebagai contoh malaria, cacar air, diare, influenza, tipus, dll. Penyakit-penyakit kronis adalah penyakit-penyakit degeneratif yang berkembang selama kurun waktu yang lama seperti jantung, kanker dan stroke. Umumnya, penyakit kronis adalah non-communicable (tidak menular) sedangkan penyakit infeksi adalah communicable (menular). Akan tetapi, tidak semua penyakit ini cocok untuk kategori penyakit infeksi maupun kronis seperti AIDS. AIDS adalah penyakit infeksi (communicable) karena disebabkan oleh virus dan penyakit kronis (ciri-ciri degeneratif dan waktu lama) (Smet 1994). Penyakit atau gangguan kesehatan pada orang usia lanjut umumnya berupa penyakit-penyakit kronik-menahun dan degeneratif, seperti penyakit hipertensi, diabetes mellitus, osteoporosis, demensia, gangguan jantung, gangguan pencernaan, gangguan pernapasan, gangguan keseimbangan, gangguan penglihatan, gangguan pengunyahan dan sebagainya. Selain itu, pada usia lanjut di Indonesia penyakit-penyakit infeksi akut juga masih sering terjadi, misalnya infeksi saluran pernapasan atas (radang tenggorokan, influenza) atau infeksi saluran pernapas bawah (pneumonia, tbc), infeksi saluran kemih, infeksi kulit (Rahardjo et al. 2009). Status gizi berhubungan langsung dengan status kesehatan, khususnya keberadaan penyakit, terutama penyakit infeksi. Kurang gizi dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan dan masalah jantung, tekanan luka, kematian dini dan gangguan multi organ (Azad 2002). Malnutrisi merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian untuk banyak penyakit infeksi primer. Namun, di

sisi lain keberadaan penyakit, penyakit infeksi, akan meningkatkan kebutuhan tubuh terhadap zat gizi. Seseorang yang mengalami peyakit akan kehilangan nafsu makan sehingga berdampak pada menurunnya asupan energi dan zat gizi. Hal ini akan memperburuk kondisi tubuh dan membawa pada kondisi kurang gizi. Suhardjo (2008) menambahkan bahwa antara infeksi dan status gizi kurang terdapat pola interaksi bolak-balik. Infeksi menimbulkan efek langsung pada katabolisme jaringan. Walaupun hanya terjadi infeksi ringan sudah menimbulkan kehilangan nitrogen. Tingkat Depresi Lansia merasa khawatir dengan kesehatan mental mereka, khususnya mereka fokus pada mulai menurunnya ingatan. Menurunnya ingatan

memungkinkan berdampak negatif mempengaruhi kemampuan merawat diri dari hari ke hari dan berfungsi secara independen. Salah satu masalah mental yang dialami lansia adalah depresi (Mezey et. al 1993). Depresi adalah istilah yang akrab digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Depresi adalah penyakit medis yang ditandai dengan kesedihan terus menerus, kekecewaan dan hilangnya harga diri. Depresi mungkin disertai dengan menurunnya energi dan konsentrasi, masalah tidur (insomnia), menurunnya nafsu makan, kehilangan berat badan, dan sakit jasmani (Medical Encyclopedia 2010). Depresi bukanlah bagian normal dari penuaan. Depresi merupakan sakit yang dapat menimbulkan dampak serius jika tidak dikenali dan diobati. Depresi merupakan masalah yang meluas diantara lansia, akan tetapi seringkali tidak dapat secara baik dikenali atau dideteksi pada lansia. Gejala seperti rasa sedih, gangguan tidur dan nafsu makan atau perubahan suasana hati mungkin dianggap sebagai bagian normal pada lansia. Orang-orang terakadang menganggap bahwa masalah dengan ingatan atau konsentrasi disebabkan oleh perubahan berpikir terkait penuaan dibandingkan karena depresi. Lansia mengalami kesulitan untuk berbicara mengenai perasaan sedih atau depresi (Better Health Channel 2010). Smith (2010) menyebutkan beberapa faktor risiko yang dapat memicu depresi. Namun, tidak semua depresi dapat ditelusuri penyebabnya. Faktor risiko depresi pada lansia diantaranya: 1. Kesepian dan isolasi. Tinggal sendirian, berkurangnya aktivitas sosial, berkurangnya mobilitas karena sakit

2.

Hilangnya tujuan hidup. Perasaan hilangnya tujuan hidup atau identitas diri karena masa pensiun atau keterbatasan aktivitas fisik

3.

Masalah kesehatan. Sakit, disabilitas, penyakit kronis, menurunnya fungsi kognitif, serta berbagai penyakit lain yang mengakibatkan perubahan tubuh

4.

Pengobatan. Penggunaan beberapa obat dapat meningkatkan risiko terkena depresi

5.

Takut. Rasa takut akan kematian atau kekhwatiran tentang masalah keuangan serta kesehatan

6.

Kehilangan mendadak. Kehilangan pasangan hidup, teman, keluarga bahkan binatang peliharaan dapat memicu rasa tertekan pada lansia Wirakusumah (2001) menyebutkan bahwa perubahan lingkungan sosial,

kondisi yang terisolasi, kesepian dan berkurangnya aktivitas menjadikan para lansia mengalami rasa frustasi dan kurang bersemangat. Akibatnya, selera makan terganggu dan pada akhirnya dapat mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan. Oleh karena itu, kondisi mental yang tidak sehat secara tidak langsung dapat memicu terjadinya status gizi yang buruk. Skala Depresi Geriatrik Skala depresi dapat bermanfaat untuk memeriksa depresi atau distres psikologi menyeluruh. Skala Depresi Geriatrik (SDG) didisain sebagai alat tes skrining depresi pada lansia. Konsep dasar dari SDG, depresi pada lansia sama halnya seperti pada orang muda (gangguan tidur, hilangnya berat badan, pesimis akan masa depan) sebagai efek penuaan atau karena sakit jasmani. Skala depresi geriatrik (SDG) didisain secara sederhana, jelas, dan skala pelaporan sendiri. Meskipun secara normal, SDG didisain sebagai skala pelaporan sendiri, SDG juga dapat dibacakan oleh pewawancara dan wawancara melalui telepon. Rentang waktu yang digunakan untuk pengukuran SDG adalah satu minggu terakhir. Skala depresi geriatrik (SDG) terdiri dari 30 pertanyaan yang harus dijawab ya atau tidak. Sheikh dan Yesavage mengusulkan bentuk singkat dari SDG. Hal ini ditujukan untuk mengurangi masalah kelelahan terutama pada responden dengan sakit fisik atau demensia. Bentuk singkat SDG hanya berisi 15 pertanyaan terpilih. Skala depresi geriatrik (SDG) fokus pada aspek perasaan dari depresi. Skala ini mudah digunakan dan dilaporkan secara cepat. Skala depresi geriatrik (SDG) telah digunakan baik pada contoh komunitas ataupun pasien, dan hasilnya memiliki reliabilitas dan sensitivitas yang tinggi diantara lansia. Selain itu, SDG versi pendek telah divalidasi untuk kebutuhan

klinis dan penelitian. Validasi dibandingkan dengan SDG versi panjang dengan nilai r=0,84 (McDowell 2006). Penelitian Matsubayashi et al. (2003) yang dilakukan di Bandung dan Karawang menyebutkan bahwa SDG versi pendek memiliki nilai sensitivitas (88% - 92%) dan spesifisitas (62% - 81%) yang cukup tinggi. Status Gizi Status gizi merupakan hasil akhir dari keseimbangan antara makanan yang masuk ke dalam tubuh (nutrient input) dengan kebutuhan tubuh (nutrient output) akan zat gizi tersebut. Kebutuhan akan zat gizi ditentukan oleh banyak faktor, seperti tingkat metabolisme basal, tingkat pertumbuhan, aktivitas fisik dan faktor yang bersifat relatif yaitu gangguan pencernaan (ingestion), perbedaan daya serap (absorption), tingkat penggunaan (utilization), dan perbedaan pengeluaran dan penghancuran (excretion and destruction) dari zat gizi tersebut dalam tubuh (Supariasa et al. 2001). Penilaian Status Gizi Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang telah tersedia. Data objektif dapat diperoleh dari data pemeriksaan laboratorium perorangan serta sumber lain (Arisman 2004). Penilaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Penilaian secara langsung dapat dibagi menjadi empat yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik sedangkan secara tidak langsung dibagi menjadi tiga yaitu, survei konsumsi pangan, statistika vital, dan faktor ekologi (Supariasa et al. 2001). Pemeriksaan antropometri adalah pengukuran variasi berbagai dimensi fisik dan komposisi tubuh secara umum pada bebagai tahapan umur dan derajat kesehatan. Pengukuran yang dilakukan meliputi berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas dan tebal lemak di bawah kulit dan khusus pada lansia adalah pola distribusi lemak (Muis 2006). Penilaian status gizi lansia diukur dengan antopometri atau ukuran tubuh, yaitu berat badan dan tinggi badan. Namun, pada usia lanjut terjadi penurunan tinggi badan karena kompresi vertebra, kifosis, dan osteoporosis. Pengukuran tinggi badan pada usia lanjut harus dilakukan dengan teliti dalam posisi berdiri tegak. Bila hal ini tidak dapat dilakukan maka dapat digantikan dengan

pengukuran tinggi lutut (menggunakan kaliper tinggi lutut) atau pengukuran rentang lengan (arm span) (Sari 2006). Tinggi lutut memiliki korelasi yang tinggi dengan tinggi badan dan mungkin digunakan untuk memprediksi tinggi badan seseorang dengan kifosis atau seseorang yang tidak mampu berdiri (Gibson 2005). Tinggi lutut direkomendasikan oleh WHO (1995) untuk digunakan sebagai prediktor dari tinggi badan pada seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih (lansia). Tinggi lutut diukur dengan sebuah kaliper berupa tongkat pengukur yang dilengkapi dengan papan kayu untuk membentuk sudut 90 derajat. Gambar di bawah menunjukkan alat pengukur tinggi lutut:

Gambar 1 Alat pengukur tinggi lutut, kaliper (kiri) dan papan kayu 90 (kanan)

Tinggi lutut terlentang diukur pada kaki kiri yang dibengkokan pada lutut dengan sudut 90 derajat (Gambar 2). Salah satu ujung kaliper diposisikan di bawah, dibagian tumit, sedangkan yang satu lagi diposisikan di bagian atas bagian lutut (Gambar 3). Batang kaliper disejajarkan dengan tibia dan kemudian sedikit ditekan pada bagian ujung atas (tempurung lutut).

Gambar 2 Posisi lutut membentuk sudut 90

Gambar 3 Cara pengukuran tinggi lutut posisi terlentang

Indeks massa tubuh (IMT) merupakan alat sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan, maka mempertahankan berat badan normal

memungkinkan seseorang dapat mencapai usia harapan hidup lebih panjang. Penggunaan IMT hanya berlaku bagi orang dewasa berumur di atas 18 tahun. Indeks massa tubuh (IMT) tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil, dan olahragawan. Selain itu, IMT juga tidak bisa diterapkan pada keadaan khusus (penyakit) lainnya seperti adanya edema, aitesis dan hepatomegalia (Supariasa et.al 2001). Nilai IMT diperoleh dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter. Berikut merupakan kategori ambang batas IMT menurut WHO: Tabel 2 Klasifikasi status gizi berdasarkan IMT pada populasi Asia
Klasifikasi IMT kg/m ) Underweight <18,5 Normal 18,5-25 Overweight >25 Obesitas >30 Sumber: WHO 2004 diacu dalam PDGKI 2008
2

Keadaan Gizi Lansia Lansia merupakan golongan yang rawan mengalami malnutrisi. Azad (2002) mendefinisikan malnutrisi sebagai keadaan yang diakibatkan oleh terlalu rendahnya intake makronutrien (defisiensi protein, mineral, vitamin), terlalu banyak intake makronutrien (obesitas) atau berlebihannya jumlah zat-zat yang tidak diperlukan, seperti alkohol. Malnutrisi secara nyata dapat mempengaruhi kesejahteraan lansia, menyebabkan penurunan status fungsional dan membuat masalah medis semakin buruk. Terjadinya kekurangan gizi pada lansia oleh karena sebab-sebab yang bersifat primer maupun sekunder. Sebab-sebab primer meliputi ketidaktahuan, isolasi sosial, hidup seorang diri, baru kehilangan pasangan hidup, gangguan fisik, gangguan indera, gangguan mental, dan kemiskinan hingga kurangnya asupan makanan. Sebab-sebab sekunder meliputi malabsorpsi, penggunaan obat-obatan, peningkatan kebutuhan zat gizi serta alkoholisme (Muis 2006). Faktor-faktor ini dapat menyebabkan malnutrisi pada lansia dan jika bergabung maka akan mengakibatkan keburukan nutrisi yang akhirnya dapat

membahayakan status kesehatan mereka (Watson 2003). Kehilangan berat badan dianggap sebagai indikator yang banyak digunakan untuk mendiagnosa kurang gizi. Kehilangan berat badan 10 persen

dalam 6 bulan, 7,5 persen dalam 3 bulan atau 5 persen dalam 1 bulan dianggap sangat serius, karena berhubungan langsung dengan kesakitan dan kematian (Morley et al. 2009). Kelebihan gizi pada lansia biasanya berhubungan dengan kemakmuran dan gaya hidup pada usia sekitar 50 tahun. Kondisi ekonomi yang makin membaik dan tersedianya makanan siap saji yang enak terutama sumber lemak, asupannya melebihi kebutuhan tubuh. Keadaan kelebihan gizi yang dimulai awal usia 50 tahun ini akan membawa lansia pada keadaan obesitas dan dapat pula disertai dengan munculnya berbagai penyakit metabolisme seperti diabetes mellitus dan dislipidemia (Muis 2006). Home care Home care adalah bentuk pelayanan pendampingan dan perawatan lanjut usia di rumah sebagai wujud perhatian terhadap lanjut usia dengan mengutamakan peran masyarakat berbasis keluarga (Depsos 2009a). Sabdono (2010) menambahkan bahwa home care merupakan pelayanan yang diberikan di rumah dan bukan di panti maupun di rumah sakit. Home care dapat dilakukan oleh anggota keluarga ataupun masyarakat. Home care pun dapat dilakukan oleh tenaga profesional atau tenaga sukarela. Akan tetapi meskipun dilakukan oleh masyarakat, hal ini bukanlah bermaksud untuk mengambil alih fungsi keluarga. Home care dapat dilakukan siang ataupun malam hari. Hal ini memungkinkan lanjut usia untuk tetap tinggal di lingkungannya sendiri selama mungkin. Fungsi home care (Depsos 2009a) antara lain pencegahan, promosi, rehabilitasi, dan perlindungan serta pencegahan. Penyelenggaraan home care ditujukan bukan hanya bagi lansia itu sendiri, akan tetapi juga bagi keluarga lansia. Depsos (2009b) menyebutkan bahwa tujuan penyelenggaraan home care antara lain: 1. meningkatkan kemampuan lanjut usia untuk menerima kondisi kemunduran fisik, fisiologis dan psikis 2. 3. memenuhi kebutuhan dasar lanjut usia secara wajar meningkatkan peran serta keluarga dan masyarakat meningkatkan kesejahteraan lanjut usia 4. terciptanya rasa aman, nyaman dan tentram bagi lanjut usia. dalam upaya

Penyelenggara

home

care

adalah

lembaga/yayasan/lembaga

sosial/badan sosial/lembaga swadaya masyarakat/organisasi sosial/lembaga kesejahteraan sosial lainnya berstatus badan hukum maupun tidak berbadan hukum. Sebagai lembaga swadaya masyarakat, home care lanjut usia membangun kemitraan lintas disiplin dan lintas sektoral. Kemitraan lintas disiplin antara lain dengan pekerja sosial, dokter, perawat, ahli gizi, psikolog, rohaniawan, guru, pemadu kebugaran jasmani. Kemitraan lintas sektor antara lain pemerintah (dinas sosial, dinas kesehatan, pemerintah provinsi /kabupaten/ kota/ kecamatan/ kelurahan/ desa), perguruan tinggi dan dunia usaha (Depsos 2009a). Till (2001) menambahkan bahwa penyelenggara home care bisa individu, organisasi sosial, dan pemerintah seperti departemen kesehatan dan departemen sosial. Bentuk pelayanan yang perlu disediakan dalam home care berupa perawatan sosial, pendampingan, dan pemenuhan kebutuhan lanjut usia. Perawatan sosial adalah bentuk pelayanan sosial kepada lanjut usia yang membutuhkan perawatan dengan jangka waktu lama. Bentuk perawatan sosial umumnya secara fisik maupun emosional yang bersifat non medis.

Pendampingan sosial lanjut usia di rumah merupakan upaya membantu lanjut usia dan keluarga dalam rangka memenuhi kebutuhan lanjut usia yang bersangkutan (Depsos 2009b). Till (2001) menyebutkan bahwa secara umum home care dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu pelayanan sosial dan perawatan kesehatan. Perawatan sosial mncakup dukungan emosional dan praktek. Hal ini termasuk bantuan merawat rumah, mengantar atau menyiapkan makanan, menemani lansia ke tempat-tempat penting, beberapa bantuan perawatan pribadi, dan pertemanan. Pelayanan sosial biasanya diberikan oleh anggota keluarga, teman, tetangga, sukarelawan dan pekerja sosial baik terlatih ataupun tidak. Perawatan kesehatan meliputi pemeriksaan kesehatan, pendidikan kesehatan, perawatan, dan terapi. Perawatan kesehatan biasanya diberikan oleh orang-orang terlatih dibawah pengawasan pekerja kesehatan profesional seperti dokter, perawat, terapis, atau pekerja sosial. Terdapat beberapa jenis model penyelenggaraan home care, yaitu volunteer-based home help services, paid home help services, home nursing services, home-based medical services, dan case management services. Volunteer-based home help services biasanya merupakan bagian dari program

home care dengan keterbatasan dana dan sumerdaya profesional. Sukarelawan memegang peranan penting dalam mempertahankan kualitas hidup lansia dengan menyediakan pelayanana sosial dan pertemanan. Paid home help services biasanya meliputi perawatan pribadi, rumah tangga, mencuci, pengaturan rumahtangga, berbelanja, menyiapkan atau mengantarkan makanan. Home nursing services menyediakan perawatan jangka pendek biasanya untuk tujuan khusus seperti untuk pengobatan luka. Home-based medical services memegang peran penting untuk menciptakan akses perawatan medis bagi lansia yang sangat lemah atau miskin. Akan tetapi biaya yang dibutuhkan sangat mahal dan terbatasnya dokter. Case management services meliputi penilaian kebutuhan lansia dan pengkoordinasian jaringan pelayanan formal dan informal untuk menyediakan paket perawatan dan dukungan (Till 2001).