Anda di halaman 1dari 30

Kegawatdaruratan Ginekologi dan Obstetri

Oleh : Pamella Arteliana (406127103) Adiprayogo Liemena (406127098)

Definisi
Gawat darurat adalah Suatu keadaan yang terjadinya mendadak mengakibatkan seseorang atau banyak orang memerlukan penanganan / pertolongan segera dalam arti pertolongan secara cermat, tepat dan cepat.

Kista Ovarium Terpuntir


Torsi atau puntiran kista ovarium terjadi bila kista terpuntir pada tangkai vaskularnya dan mengganggu suplai darah. Pasien datang dengan gejala onset mendadak, berat, nyeri abdomen bagian bawah unilateral yang memburuk secara intermiten dalam beberapa jam.

Pemeriksaan penunjang USG Kombinasi Doppler flow imaging dengan penentuan morfologik ovarium Computed tomography Tatalaksana Pembedahan

Kista Pecah/ Robekan Dinding Kista


Gejala : Onset nyeri tiba-tiba, lebih nyeri pada onset dan membaik setelah beberapa jam Perdarahan minim per vaginam Mual, muntah Tanda-tanda peritoneal Pemeriksaan : USG Tatalaksana : Laparotomi

Kegawatdaruratan obstetri
Kegawatdaruratan obstetri adalah kondisi kesehatan yang mengancam jiwa yang terjadi dalam kehamilan atau selama dan sesudah persalinan dan kelahiran. Terdapat sekian banyak penyakit dan gangguan dalam kehamilan yang mengancam keselamatan ibu dan bayinya (Chamberlain, Geoffrey, & Philip Steer, 1999)

Kehamilan Ektopik
Kehamilan ektopik adalah implantasi dan pertumbuhan hasil konsepsi di luar endometrium kavum uteri. Tanda dan Gejala Nyeri abdomen, sering unilateral (abortus tuba), hebat dan akut (rupture tuba), ada nyeri tekan abdomen yang jelas dan menyebar. Kavum douglas menonjol dan sensitive terhadap tekanan. Jika ada perdarahan intra-abdominal, gejalanya sebagai berikut: Sensitivitas tekanan pada abdomen bagian bawah, lebih jarang pada abdomen bagian atas. Abdomen tegang. Mual. Membran mukosa anemis. Syok

Pemeriksaan penunjang Laboratorium : Hb, Leukosit, urine B-hCG (+) Hemoglobin menurun setelah 24 jam dan jumlah sel darah merah dapat meningkat. USG: berguna pada 5 10% kasus bila ditemukan kantong gestasi di luar uterus. Kuldosentesis Penatalaksanaan Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi :
Salphingostomi Salphingotomi Salphingektomi

Abortus
Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi yang usia kehamilannya kurang dari 20 minggu. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya amenore, tanda-tanda kehamilan, perdarahan hebat per vagina, pengeluaran jaringan plasenta dan kemungkinan kematian janin.

Diagnosis :
Anamnesis Pemeriksaan dalam USG

Klasifikasi :
Abortus Iminens Abortus Insipiens Abortus Inkomplet Abortus Komplet Abortus Tertunda Abortus Febrilis

Tatalaksana
Perbaiki keadaan umum Evakuasi Uterotonika pasca evakuasi Antibiotika selama 3 hari

Plasenta Previa
Plasenta Previa adalah Plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah uterus sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir Diagnosis Pendarahan dari jalan lahir berulang tanpa disertai nyeri Dapat disertai atau tanpa adanya kontraksi Pada pemeriksaan luar biasanya bagian terendah janin belum masuk pintu atas panggul, atau ada kelainan letak Pemeriksaan spekulum : darah berasal dari OUI USG : mengetahui jenis plasenta previa

Tatalaksana Ekspektatif , jika


KU ibu dan anak baik Pendarahan sedikit Usia kehamilan < 37 minggu / TBJ < 2500 gram Tidak ada his persalinan Th/ pasang infus, tirah baring, bila ada kontraksi diberikan tokolitis, USG dan KTG tiap minggu

Aktif
Pervaginam SC untuk keadaan :
Plasenta previa dengan perdarahan banyak Plasenta previa totalis Plasenta previa lateralis posterior Plasenta letak rendah dengan posisi anak sungsang

Solusio Plasenta
Solusio plasenta adalah lepasnya sebagian atau seluruh jaringan plasenta yang berimplantasi normal pada kehamilan di atas 22 minggu dan sebelum anak lahir. Diagnosa :
Perdarahan dari vagina berwarna kehitaman Uterus bisa tegang/tidak USG

Derajat ringan Rawat konservatif di RS dengan observasi ketat

Derajat sedang dan berat Perbaikan KU Lahirkan janin :


Hidup : dilakukan SC, kecuali bila pembukaan sudah lengkap. Pada keadaan ini dilakukan amniotomi, drip oksitosin, dan bayi dilahirkan dengan ekstraksi forceps Mati : dilakukan persalinan pervaginam dengan cara amniotomi, drip oksitosin 1 labu saja. Bila bayi belum lahir dalam waktu 6 jam, dilakukan tindakan SC.

Ruptur uteri
Ruptur uterus adalah robekan pada uterus, dapat meluas ke seluruh dinding uterus dan isi uterus tumpah ke seluruh rongga abdomen (komplet), atau dapat pula ruptur hanya meluas ke endometrium dan miometrium, tetapi peritoneum di sekitar uterus tetap utuh (inkomplet).

Kriteria diagnosis Nyeri perut mendadak dengan tanda-tanda adanya perdarahan intraabdominam Pendarahan per vaginam bisa sedikit atau banyak Syok Sesak napas/napas cuping gidung atau nyeri bahu His negatif Bagian janin teraba langsung di bawah dinding perut BJJ tidak terdengar Urin bercampur darah

Penatalaksanaan Atasi syok dan perbaiki keadaan umum penderita. Bila keadaan umum mulai baik, tindakan selanjutnya adalah melakukan laparatomi dengan tindakan jenis operasi:
Histerektomi baik total maupun sub total Histerorafia, yaitu luka di eksidir pinggirnya lalu di jahit sebaik-baiknya Konserfatif : hanya dengan temponade dan pemberian antibiotika yang cukup.

Perdarahan Pasca Persalinan


Pendarahan pasca persalinan (post partum) adalah pendarahan pervaginam 500 ml atau lebih sesudah anak lahir. Perdarahan post partum primer
Terjadi dalam 24 jam pertama pasca melahirkan. Etiologi : atonia uteri, trauma jalan lahir, retensio plasenta, gangguan pembekuan darah.

Perdarahan post partum sekunder

Terjadi Perdarahan setelah 24 jam pertama. Etiologi : Subinvolusi uteri, sisa plasenta, tumor/mioma uteri, kelainan perdarahan, hematoma jalan lahir.

Penatalaksanaan Atasi syok dan perbaikan KU Hentikan pendarahan Masase uterus Uterotonika Penjahitan luka Kuret Transfusi darah/trombosit Histerektomi

Retensio Plasenta
Keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir. Diagnosis ditegakkan berdasarkan adanya plasenta tidak lahir spontan dan tidak yakin apakah plasenta lengkap.
Klasifikasi Plasenta adhesiva Plasenta inkreta Plasenta akreta Plasenta perkreta

Penatalaksanaan Resusitasi Uterotonika Plasenta coba dilahirkan dengan Brandt Andrews, jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. Jika plasenta tidak lepas dicoba dengan tindakan manual plasenta. Jika tindakan manual plasenta tidak memungkinkan, jaringan dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. Pemberian antibiotika apabila ada tanda-tanda infeksi dan untuk pencegahan infeksi sekunder.

Syok Hemoragik
Keadaan penurunan KU yang disebabkan oleh berkurangnya volume darah yang beredar akibat perdarahan atau dehidrasi. Tanda-tanda Syok :
nadi cepat dan halus (> 100 X per menit) menurunnya tekanan darah (diastolik < 60 mmHg) pernafasan cepat (respirasi > 32 X per menit) pucat (terutama pada konjungtiva palpebra, telapak tangan , bibir) berkeringat, gelisah, apatis/bingung atau pingsan/tidak sadar

Penatalaksanaan Pada syok hemoragik tindakan yang esensial adalah menghentikan perdarahan dan mengganti kehilangan darah. Setelah diketahui adanya syok hemoragik, segera lakukan: Resusitasi Penderita dibaringkan dalam posisi Trendelenburg Dijaga jangan sampai penderita kedinginan badannya Jika dianggap perlu kepada penderita syok hemoragik diberi cairan bikarbonat natrikus untuk mencegah atau menanggulangi asidosis. Penampilan klinis penderita banyak memberi isyarat mengenai keadaan penderita dan mengenai hasil perawatannya.

Syok Septik (Bakteri, Endotoksin)


Penyebab gangguan ini adalah masuknya endotoksin bakteri gram negative (coli, proteus, pseudomonas, aerobakter, enterokokus). Toksin bakteri gram positif (streptokokus, Clostridium welchii) lebih jarang terjadi. Penatalaksanaan Resusitasi cairan Terapi untuk infeksi adalah antibiotika (Leucomycin, kloramfenikol 2-3 mg/hari, penisilin sampai 80 juta satuan/ hari). Pengobatan insufisiensi ginjal dengan pengenalan dini bagi perkembangan insufisiensi ginjal, manitol (Osmofundin). Jika insufisiensi ginjal berlanjut 24 jam setelah kegagalan sirkulasi, diperlukan dialysis peritoneal.

Preeklampsia Berat dan Eklampsia


Suatu komplikasi pada kehamilan lebih dari 22 minggu, dapat dijumpai : Tekanan darah sistolik > 160 mmHg atau tekanan darah diastolik > 110 mmHg. Proteinuri > 2 g/24 jam atau > 2 + dalam pemeriksaan kualitatif (dipstick) Kreatinin serum > 1,2 mg% disertai oliguri (< 400 ml/ 24 jam) Trombosit < 100.000/mm3 Angiolisis mikroangiopati (peningkatan kadar LDH) Peninggian kadar enzim hati (SGOT dan SGPT) Sakit kepala yang menetap atau gangguan visus dan serebral Nyeri epigastrium yang menetap Pertumbuhan janin terhambat Edema paru disertai sianosis Adanya HELLP Syndrome (H : Hemolysis; EL : Elevated liver enzymes LP :low platelet count)

Pengelolaan kejang Beri obat anti kejang (anti konvulsan) Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, penghisap lendir, masker oksigen, oksigen) Lindungi pasien dari kemungkinan trauma Aspirasi mulut dan tenggorokan Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendelenburg untuk mengurangi risiko aspirasi Berikan O2 4-6 liter/menit Anti konvulsan Magnesium sulfat merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada preeklampsia dan eklampsia. Alternatif lain adalah Diazepam, dengan risiko terjadinya depresi neonatal.

Pengelolaan umum Jika tekanan diastolik > 110 mmHg, berikan antihipertensi sampai tekanan diastolik antara 90-100 mmHg Pasang infus Ringer Laktat dengan jarum besar no.16 atau lebih Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload Kateterisasi urin untuk pengukuran volume dan pemeriksaan proteinuria Infus cairan dipertahankan 1.5 2 liter/24 jam Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin Observasi tanda vital, refleks dan denyut jantung janin setiap 1 jam Auskultasi paru untuk mencari tanda edema paru. Adanya krepitasi merupakan tanda adanya edema paru. Jika ada edema paru, hentikan pemberian cairan dan berikan diuretik (mis. Furosemide 40 mg IV) Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan. Jika pembekuan tidak terjadi setelah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati

Penilaian Awal (INITIAL ASSESMENT)


Definisi : Initial Assesment adalah proses penilaian yang cepat dan pengelolaan yang tepat guna menghindari kematian pada pasien gawat darurat. Antisipasi dan kesiapsiagaan adalah hal yang amat penting. Peralatan medis untuk menghadapi kegawatdaruratan harus sudah siap pakai dan semua staf dapat mengoperasionilkan dengan baik, cepat dan benar. Ingat : 1. Pada kasus obstetri ada 2 jiwa yang harus diselamatkan yaitu Ibu dan Anak 2.Dalam situasi kegawatdaruratan maka hitungan detik sangat berharga 3.Kepanikan bukan jawaban yang baik

Tujuan : Mencegah semakin parahnya penyakit dan menghindari kematian korban dengan penilaian yang cepat dan tindakan yang tepat. Terdiri dari: a.Persiapan b.Triase c.Primary Survey d.Resusitasi e.Secundary Survey f. Monitoring dan reevaluasi g.Penanganan definitif

Terima Kasih