Anda di halaman 1dari 2

Pertumbuhan penduduk yang sangat pesat terjadi di Negara Asia, Amerika Latin dan Afrika yang merupakan Negara

miskin. Banyak masalah yang dihadapi sebagai dampak pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, antara lain semakin meningkatnya kemiskinan yang akan berdampak pada masalah kesehatan. Manusia sadar akan bahaya pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali, sehingga gagasan pelaksanaan keluarga berencana telah dipikirkan (Manuaba, 2010). Jumlah penduduk dunia mencapai tujuh miliar hingga akhir tahun 2011. Negara Indonesia berada di urutsn ke-4 penduduk terbanyak di dunia setelah Cina, India dan Amerika. Sensus penduduk Indonesia 2010 menunjukan jumlah penduduk Indonesia 237.641.326 jiwa. Untuk mengatasi terjadinya ledakan penduduk tersebut maka pemerintah mencanangkan program Keluarga Berencana (KB) sejak tahun 1957 (BKKBN, 2011) Partisipasi pria dalam KB merupakan manifestasi kesetaraan gender. Ketidaksetaraan gender dalam bidang KB dan Kesehatan Reproduksi sangat berpengaruh pada keberhasilan program. KB yang bisa digunakan oleh pria antara lain : kondom, vasektomi dan koitus interuptus. Salah satu metode KB yang diperuntukkan laki-laki adalah vasektomi atau MOP (Modus Operatif Pria). Vasektomi telah dikenal kurang lebih 100 tahun yang lalu dan merupakan jenis kontrasepsi yang dianggap efektif untuk menghentikan kesuburan pada laki-laki (Murtiningsih, 2010). Penggunaan metode kontrasepsi pada KB terdiri dari beberapa jenis. Kepesertaan KB menurut penggunaan metode kontrasepsi pada tahun 2012 menunjukkan bahwa sebagian besar peserta KB memilih untuk menggunakan metode kontrasepsi jangka pendek melalui suntikan. Hanya sedikit PUS yang memilih untuk menggunakan Metode Operatif Pria (MOP) pada tahun 2012. Persentase peserta KB aktif menurut metode kontrasepsi suntik 46,84%, pil 25,13%, IUD 11,53%, implant 9,17%, kondom 3,13%, MOW 3,49%, MOP 0,70% (BKKBN, 2012). Pada tahun 2012, jumlah data PUS yang berhasil didata oleh puskesmas sebanyak 259.120 jiwa dengan peserta KB aktif sebanyak 194.423 (75,0%). Peserta KB pria hanya sebanyak 9,5%. Angka penggunaan metode kontrasepsi di kota semarang antara lain: suntik 58,1%, pil 15,5%, IUD 6,8%, implant 5,9%, kondom 8,3%, MOW 4,4%, MOP 1,2%.

Rendahnya keikutsertaan pria dalam KB, terutama vasektomi disebabkan karna banyak suami

masih menganggap bahwa istri saja yang mempunyai kewajiban untuk menggunakan kontrasepsi sebagai upaya pengaturan kelahiran (Dinas Kesehatan Kota Semarang).