Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama.

Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-4 ! dan angka ke"a"atan # $ !. %akteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka ke&adian penyakit yang bervariasi. 'i Indonesia, dilaporkan bah(a )aemophilus influen*ae tipe % ditemukan pada ##! diantara kasus meningitis. Pada penelitian lan&utan, didapatkan #8! penyebab meningitis pada anak kurang dari $ tahun. 'i +ustralia pada tahun 1,,$ meningitis yang disebabkan -eisseria meningitidis .,1 kasus per 1 dengan pun"aknya pada usia 1 . . populasi, / 1 per / 4 tahun dan 1$ / 1, tahun . Sedangkan kasus meningitis kasus per

yang disebabkan Stepto"o""us pneumoniae angka ke&adian pertahun 1 populasi pada anak kurang dari . tahun dan diperkirakan ada #

tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 1$!, retardasi mental 10!, ke&ang 14! dan gangguan pendengaran .8!. 1leh karena itu dalam makalah ini kami akan membahas se"ara detail tentang meningitis. 2u&uannya agar pemba"a mengerti dan (aspada terhadap penyakit meningitis. Selain itu, harapan kami dengan mengetahui meningitis, kasus meningitis di Indonesia dapat menurun. B. TUJUAN PENULISAN Setelah dilakukan pembela&aran tentang +suhan 3epera(atan +nak dengan Meningitis, diharapkan mahasis(a mampu4 1. Memahami tentang pengertian dari meningitis .. Memahami tentang etiologi dari meningitis #. Memahami tentang patofisiologi5path(ay dari meningitis 4. Memahami tentang manifestasi klinis dari meningitis 1

$. Memahami tentang pemerikaan diagnosa dari meningitis 6. Memahami tentang penatalaksanaan medis dari meningitis 0. Memahami tentang pengka&ian kepera(atan meningitis 8. Memahami tentang diagnosa kepera(atan yang mun"ul pada anak dengan meningitis ,. Memahami tentang peren"anaan kepera(atan meningitis

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. DEFINISI Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, "airan serebrospinal dan spinal "olumn yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat. 7Suriadi, dkk. +suhan 3epera(atan pada +nak, ed.., . 68

Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh berbagai organisme pathogen. 79ay 2ureen. %uku +&ar Pediatri :udolph,vol.1, . 68

Meningitis merupakan infeksi parah pada selaput otak dan lebih sering ditemukan pada anak-anak. Infeksi ini biasanya merupakan komplikasi dari penyakit lain, seperti "ampak, gondong, batuk re&an atau infeksi telinga. 7http455(((.anneahira."om5pen"egahan-penyakit5otak.htm8 Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari "airan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. ;irus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. 7+nonim, . B. ETIOLOGI 1.

0 dalam 9uita, .

88.

%akteri My"oba"terium tuber"ulosa )aemophillus influen*ae 7tipe %8 -esseria meningitis 7meningo"o""al8 'iplo"o""us pneumoniae 7pneumo"o""al8 Strepto"o""us, grup + #

Staphylo"o""us aureus <s"heri"hia "oli 3lebsiella Proteus Pseudomonas

.. ;irus. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat =self-limitting> dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. #. 9amur 4 ?andidiasis, +spergillus, ?rypto"o""us.

C. FAKTOR RESIKO 1. @aktor predisposisi4 laki-laki lebih sering disbanding dengan (anita .. @aktor maternal4 rupture membran fetal, infeksi metrnal pada minggu terakhir kehamilan #. @aktor imunologi4 usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena penyakit sel sabit atau asplenia 7rentan terhadap S. Pneumoniae dan )ib8, anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi 4. +nak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau in&uri yang berhubungan dengan system persarafan $. @aktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah4 lingkungan padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena 7penularan melalui sekresi pernapasan8 D. KLASIFIKASI 1. Meningitis Purulenta4 :adang selaput otak 7 araknoidea dan piameter8 yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman nonspesifik dan nonvirus. .. Meningitis 2uberkulosa4 2er&adi akibat komplikasi penyebaran tuber"ulosis primer, biasanya dari paru. Meningitis ter&adi bukan karena terimfeksinya selaput otak langsung oleh penyebaran hematogen, tetapi biasanya sekunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pe"ah ke rongga araknoid 7:i"h dan 4

M"?orde"k8. +nak-anak yang ibunya menderita 2%? kadang-kadang mendapatkan meningitis 7-gastiyah,. tuberkolusa $8 pada bulan-bulan pertama setelah lahir.

E. PATOFISIOLOGI Meningitis ter&adi akibat masuknya bakteri ke ruang subaraknoid, baik melalui penyebaran se"ara hematogen, perluasan langsung dari fokus yang berdekatan, atau sebagai akibat kerusakan sa(ar anatomik normal se"ara konginetal, traumatik, atau pembedahan. %ahan-bahan toksik bakteri akan menimbulkan reaksi radang berupa kemerahan berlebih 7hiperemi8 dari pembuluh darah selaput otak disertai infiltrasi sel-sel radang dan pembentukan eksudat. Perubahan ini terutama ter&adi pada infeksi bakteri strepto"o""us pneumoniae dan ). Influen*ae dapat ter&adi pembengkakan &aringan otak, hidrosefalus dan infark dari &aringan otak. <fek peradangan akan menyebabkan peningkatan "airan "erebro spinalis yang dapat menyebabkan obstruksi dan selan&utnya ter&adi hidrosefalus dan peningkatan 2I3. <fek patologi dari peradangan tersebut adalah hiperemi pada meningen. <dem dan eksudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan intrakranial. 7-gastiyah. Pera(atan +nak Sakit, ed.., . $8 Penyebaran hematogen merupakan penyebab tersering, dan biasa ter&adi pada adanya fokus penyakit lain 7misalnya, pneumonia, otitis media, selulitis8 atau akibat bakteremia spontan. 1leh karena patogen-la*im menyebar melalui &alur pernapasan , peristi(a a(alnya adalah kolonisasi traktus respiratorius bagian atas. Meningitis yang disebabkan oleh penyebaran nonhematogen men"akup penyebaran infeksi dari daerah infeksi yang berdekatan 7 otitis media, mastoiditis, sinusitis, osteomielitis vertebralis atau tulang kranialis8 serta kerusakan anatomi 7fraktur dasar tengkorak, pas"a-prosedur bedah saraf, atau sinus dermal konginetal di sepan&ang aksis kraniospinalis8. Aambaran la*im setiap penyebab infeksi adalah masuknya bakteri patogen ke dalam ruang subaraknoid dan perbanyakan bakteri. 79ay 2ureen. %uku +&ar Pediatri :udolph,vol.1, . 68 Meningitis biasanya mulai perlahan-lahan tanpa panas atau terdapat kenaikan suhu yang ringan sa&a, &arang ter&adi akut dengan panas yang tinggi. Sering di&umpai anak mudah $

terangsang atau men&adi apatis dan tidurnya sering terganggu. +nak besar dapat mengeluh nyeri kepala. +noreksia, obstipasi, dan muntah &uga sering di&umpai. Stadium ini kemudian disusul dengan stadium transisi dengan ke&ang. Ae&ala di atas men&adi lebih berat dan ge&ala rangsangan meningeal mulai nyata, kuduk kaku, seluruh tubuh men&adi kaku dan timbul opistotonus. :efleks tendon men&adi lebih tinggi, ubunubun menon&ol dan umumnya &uga terdapat kelumpuhan urat saraf mata sehingga timbul ge&ala strabismus dan nistagmus. Sering tuberkel terdapat di koroid. Suhu tubuh men&adi lebih tinggi dan kesadaran lebih menurun hingga timbul stupor. Stadium terminal berupa kelumpuhan-kelumpuhan, koma men&adi lebih dalam, pupil melebar dan tidak bereaksi sama sekali. -adi dan pernapasan men&adi tidak teratur, sering ter&adi pernafasan B?heyne-StokesB. )iperpireksia timbul dan anak meninggal tanpa kesadarannya pulih kembali. 2iga stadium tersebut biasanya tidak mempunyai batas yang &elas antara satu dengan lainnya, namun &ika tidak diobati umumnya berlangsung # minggu sebelum anak meninggal. 7-gastiyah. Pera(atan +nak Sakit, ed.., . F. KOMPLIKASI a. )idrosefalus obstruktif b. Meningo"o""al septi"emia 7mengingo"emia8 ". Sindrom Cater @rideri"hsen 7septi" syok, 'I?, perdarahan adrenal bilateral8 d. SI+') 7Syndrome Inappropriate +ntidiureti" )ormone8 e. <fusi subdural f. 3e&ang g. <dema dan herniasi serebral h. ?erebral Palsy i. Aangguan mental &. Aangguan bela&ar k. +ttention defi"it disorder $8

G. MANIFESTASI KLINIS 2rias klasik ge&ala meningitis adalah demam, sakit kepala, dan kaku kuduk. -amun pada anak di ba(ah usia dua tahun, kaku kuduk atau tanda iritasi meningen lain mungkin tidak ditemui. Peruban tingkat kesadaran la*im ter&adi dan ditemukan pada hingga , ! pasien. 79ay 2ureen. %uku +&ar Pediatri :udolph,vol.1, . 68

Pada bukunya, Cong men&abarkan manifestasi dari meningitis berdasarkan golongan usia sebagai berikut4 +nak dan :ema&a a. +(itan biasanya tiba-tiba b. 'emam ". Mengigil d. Sakit kepala e. Muntah f. Perubahan pada sensorium g. 3e&ang 7seringkali merupakan tanda-tanda a(al 8 h. Peka rangsang i. +gitasi &. 'apat ter&adi4 @otofobia 'elirium )alusinasi Perilaku agresif atau maniak Mengantuk Stupor 3oma k. 3ekakuan nukal 'apat berlan&ut men&adi opistotonus l. 2anda 3ernig dan %rud*inski positif m. )iperaktif tetapi respons refleks bervariasi 0

n. 2anda dan ge&ala bersifat khas untuk setiap organisme4 :uam ptekial atau purpurik 7infeksi meningokokal8, terutama bila berhubungan dengan status seperti syok. 3eterlibatan sendi 7infeksi meningokokal dan ). influen*ae8 'rain telinga kronis 7meningitis pneumokokal8 %ayi dan +nak 3e"il Aambaran klasik &arang terlihat pada anaka-anak antara usia # bulan dan . tahun a. Muntah b. Peka rangsangan yang nyata ". Sering ke&ang 7seringkali disertai dengan menangis nada tinggi8 d. @ontanel menon&ol e. 3aku kuduk dapat ter&adi dapat &uga tidak f. 2anda %rud*inski dan 3ernig bersifat tidak membantu dalam diagnose g. Sulit untuk dimun"ulkan dan dievaluasi dalam kelompok usia h. <mpihema subdural 7infeksi )aemophilus influen*a8 -eonatus4 2anda-tanda Spesifik a. Se"ara khusus sulit untuk didiagnosa b. Manifestasi tidak &elas dan tidak spesifik ". %aik pada saat lahir tetapi mulai terlihatmenyedihkan dan berperilaku buruk dalam beberapa hari d. Menolak untuk makan e. 3emampuan menghisap buruk f. Muntah atau diare g. 2onus buruk h. 3urang gerakan i. Menangis buruk &. @ontanel penuh, tegang, dan menon&ol dapat terlihat pada akhir per&alanan penyakit k. Deher biasanya lemas 2anda-tanda -onspesifik yang Mungkin 2er&adi pada -eonatus 8

a. )ipotermia atau demam 7tergantung pada maturitas bayi8 b. Ikterik ". Peka rangsang d. Mengantuk e. 3e&ang f. 3etidakteraturan pernapasan atau apnea g. Sianosis h. Penurunan berat badan 7'onna D. Cong. Pedoman 3epera(atan Pediatrik,ed.4,. #8

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSA 1. Punksi Lumbal 4 tekanan "airan meningkat, &umlah sel darah putih meningkat, glukosa menurun, protein meningkat. Indikasi Punksi Dumbal4 a. Setiap pasien dengan ke&ang atau t(it"hing baik yang diketahui dari anamnesis atau yang dilihat sendiri. b. +danya paresis atau paralysis. 'alam hal ini termasuk strabismus karena paresis -.;I. ". 3oma. d. Ebun-ubun besar menon&ol. e. 3uduk kaku dengan kesadaran menurun. f. 2uberkulosis miliaris dan spondilitis tuber"ulosis. g. Deukemia. 2. Kultur swab hidung dan tenggorokan 7Suriadi, dkk. +suhan 3epera(atan pada +nak, ed.., . 68 3. Darah4 leukosit meningkat, ?:P meningkat, EF<, glukosa, pemeriksaan fa"tor pembekuan, golongan darah dan penyimpanan. 4. Mikroskopik, biakan dan sensitivitas4 darah, tin&a, usap tenggorok, urin, rapid antigen s"reen. 5. C s!an4 &ika "uriga 2I3 meningkat hindari pengambilan sample dengan DP.

". LP untuk C##4 merupakan kontra indikasi &ika di"urigai tanda neurologist fokal atau 2I3 meningkat. $. C## pada meningitis bakteri4 netrofil, protein meningkat 71-$g5D8, glukosa menurun 7kadar serum G$ !8 8. ?SS pada meningitis virus4 limfosit 7pada mulainya netrofil8, protein normal5meningkat ringan, glukosa normal, P?: untuk diagnosis. ,. ?SS4 mikroskopik 7pulasan Aram, misal, untuk basil tahan asam pada meningitis 2%8, biakan dan sensitivitas. I. PENATALAKSANAAN MEDIS Penatalaksanaan efektif untuk meningitis bergantung pada terapi suportif agresif yang dini dan pemilihan antimikroba empirik yang tepat untuk kemungkinan patogen. 2indakan suportif umum diindikasikan bagi setiap pasien yang menderita patologi intrakranium berat. Pasien dengan Meningitis purulenta pada umumnya dalam keadaan kesadaran yang menurun dan seringkali disertai muntah-muntah atau diare. Entuk menghindari kekurangan "airan5elektrolit, pasien perlu langsung dipasang "airan intavena. 9ika terdapat ge&ala asidosis harus dilakukan koreksi. Pengelolaan "airan merupakan hal yang sangat penting pada pasien meningitis. Sindrom sekresi hormon antidiuretik yang tidak tepat 7SI+'), syndrome of inappropriate antidiureti" hormone se"retion8 ter&adi pada sekitar # ! pasien meningitis, dan &ika ditemukan, harus dilakukan pembatasan "airan. Meskipun demikian, sebuah studi klinis telah membuktikan pentingnya memelihara tekanan perfusi otak yang adekuat pada penyakit ini. Pembatasan "airan se"ara tidak tepat dapat menimbulkan deplesi volume, yang &ika ekstrim, dapat menu&u pada ketidakadekuatan volume sirkulasi. Sebaiknya "airan mula-mula dibatasi, sementara menunggu pemeriksaan elektrolit urin dan serum. %ila terdapat SI+'), pembatasan "airan sampai dua pertiga "airan pemeliharaan merupakan tindakan yang tepat, sampai kelebihan hormon antidiuretuk pulihH bila tidak terdapat SI+'), "airan harus diberikan dalam &umlah yang sesuai dengan dera&at kekurangan "airan, dan elektrolit dia(asi se"ara seksama. 2erapi peningkatan tekanan intrakranium harus diarahkan pada pemeliharaan dera&at tekanan perfusi otak yang adekuat, seperti pada kondisi lain yang dipersulit oleh hipertensi intrakranium. ?ara yang ada bisa termasuk hiperventilasi, pengambilan ?SS melalui kateter intraventrikel, atau mungkin pemakaian 1

obat diuretikosmotik se"ara hati-hati. Pada ke"urigaan meningitis, antibiotik intravena diberikan se"ara empiri" sementara menunggu hasil biakan. Pemilihan antibiotik a(al didasarkan pada kemungkinan pathogen menurut kelompok usia, pa&anan yang diketahui, dan setiap faktor resiko yang tidak la*im bagi pasien. Prinsip terapi antimikroba meningitis men"akup pemilihan antibiotik yang bersifat bakterisid terhadap pathogen yang di"urigai dan yang mampu men"apai konsentrasi ?SS setidaknya sepuluh konsentrasi bakterisid minimal untuk organisme tersebut, karena inilah konsentrasi yang dalam penelitian he(an telah terbukti berkolerasi dengan sterilisasi ?SS paling efektif. 79ay 2ureen. %uku +&ar Pediatri :udolph,vol.1, . 6 8 %ila pasien masuk dalam keadaan status konvulsivus, diberikan dia*epam ,$ mg5kg %%5kali I;, dan dapat diulang dengan dosis yang sama 1$ menit kemudian bila ke&ang belum berhenti. Elangan pemberian dia*epam berikutnya 7yang ketiga kali8 dengan dosis sama tetapi diberikan se"ara IM. Setelah ke&ang dapat diatasi, diberikan fenobarbital dosis a(al untuk neonatus # mgH anak G 1 tahun $ mg dan anak I 1 tahun 0$ mg. Selan&utnya untuk pengobatan rumat diberikan fenobarbital dengan dosis 8-1 mg5kg %%5hr dibagi dalam . dosis, diberikan selama . hari 7dimulai 4 &am setelah pemberian dosis a(al8. )ari berikutnya dengan dosis 4-$ mg5kg%%5hr dibagi dalam . dosis. %ila tidak tersedia dia*epam, fenobarbital dapat langsung diberikan dengan dosis a(al dan selan&utnya dosis rumat.

Penyebab utama meningitis purulenta pada bayi atau anak di Indonesia79akarta8 ialah ). influen*ae dan pneumo""o"us sedangkan meningo"o""us &arang sekali,maka diberikan ampisilin I; sebanyak 4 mg5kg %%5hr dibagi 6 dosis ditambah kloramfenikol 1 mg5kg %%5hr iv dibagi dalam 4 dosis. Pada hari ke 1 pengobatan dilakukan pungsi lumbal ulangan dan bila ternyata menun&ukkan hasil yang normal pengobatan tesebut dilan&utkan . hari lagi. 2etapi &ika masih belum dan pengobatan dilan&utkan dengan obat dan "ara yang sama seperti di atas dan diganti dngan obat yang sesuai dengan hasil biakan dan u&i resistensi kuman. Meningitis paru pada neunatus berbeda,karena biasa dan disebabkan oleh baksil "olifom dan staphylo"o""us, maka pengobatan pada neonatus sebagai berikut4 Pilihan pertama4 Sefalosporin . mg5kg %%5hr I; dibagi dalam . dosis, dikombinasi

dengan amikasin dengan dosis a(al 1 mg5kg %%5hr I;,dilan&utkan dengan dosis 1$ 11

mg5kg %%5hr atau dengan gentamisin 6 mg5kg %%5hr masing-masing dibagi dalam . dosis. Pilihan kedua 4 +mphisilin # -4 mg5kg %%5hr I; dibagi dalam 6 dosis,dikombinasi dengan kloramfenikol $ mg5kg %%5hr I; dibagi dalam 4 dosis. Pada bayi kurang bulan dosis kloramfenikol tidak boleh melebihi # mg5kg %b5hr 7dapat ter&adi grey baby8. Pilihan selan&utnya kotrimoksa*ol 1 mg 2MP5kg %%5hr I; dibagi dalam . dosis selama # hari dilan&utkan dengan dosis 6 mg 2MP5kg %%5hr I; dibagi dalam . dosis. Dama pengobatan neonatus adalah . hr. Sefalosporin dan kotrimakso*ol tidak diberikan pada bayi yang berumur kurang 1 minggu. Elangan pungsi lumbal pada meningitis paru anak dilakukan pada hari ke 1 pengobatan sedang pada neunatus pada hari ke .1. 7-gastiyah. Pera(atan +nak Sakit, ed.., . $8

2erapi pilihan pada bayi yang telah mengalami meningitis bakterial dengan komplikasi hidro"ephalus adalah dilakukan pembedahan dengan tu&uan untuk pemasangan shunt guna mengalirkan "erebrospinal fluid yang tersumbat di dalam otak. +da beberapa &enis shunt antara lain 7;P8 ventrikulo peritoneal shunt dan 7;+8 ventri"uloatrial shunt. Penatalaksanaan pada bayi dengan hidro"ehalus adalah pemberian posisi head up dan penga(asan pemberian "airan yang adekuat. J. PENCEGAHAN PENULARAN MENINGITIS Meningitis yang disebabkan oleh virus dapat ditularkan melalui batuk, bersin, "iuman, sharing makan 1 sendok, pemakaian sikat gigi bersama dan merokok bergantian dalam satu batangnya. Maka bagi anda yang mengetahui rekan atau disekeliling ada yang mengalami meningitis &enis ini haruslah berhati-hati. Man"u"i tangan yang bersih sebelum makan dan setelah ketoilet umum, memegang he(an peliharaan. Men&aga stamina 7daya tahan8 tubuh dengan makan bergi*i dan berolahraga yang teratur adalah sangat baik menghindari berbagai ma"am penyakit.

1.

Pemberian Imunisasi vaksin 7va""ine8 Meningitis merupakan tindakan yang tepat terutama didaerah yang diketahui rentan terkena (abah meningitis, adapun va""ine yang telah dikenal sebagai pen"egahan terhadap meningitis diantaranya adalah H - )aemophilus influen*ae type b 7)ib8 - Pneumo"o""al "on&ugate va""ine 7P?;08 - Pneumo"o""al polysa""haride va""ine 7PP;8 - Meningo"o""al "on&ugate va""ine 7M?;48

K. ASUHAN KEPERAWATAN P<-A3+9I+- 3<P<:+C+2+-

1. :i(ayat kepera(atan4 ri(ayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma ri(ayat pembedahan pada otak, "edera kepala .. Pada -eonatus4 ka&i adanya perilaku menolak untuk makan, reflek menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan menangis lemah #. Pada anak-anak dan rema&a4 ka&i adanya demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, ke&ang mudah terstimulasi dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda 3ernig dan %rud*insky positif, refleks fisiologis hiperaktif, pte"hiae atau pruritus 4. %ayi dan anak-anak 7usia # bulan hingga . tahun84 ka&i adanya demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, ke&ang, menangis dengan merintih, ubun-ubun menon&ol, kaku kuduk, dan tanda 3ernig dan %rud*insky positif 'I+A-1S+ 3<P<:+C+2+-

1. Perubahan perffusi serebral sehubungan dengan proses inflamasi 1#

.. Aangguan pertukaran gas berhuubungan dengan meningkatnya tekanan intra "ranial


#. 4. -yeri berhubungan dengan proses inflamasi :esiko tinggi "edera berhubungan dengan ke&ang

$. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius P<:<-?+-++-

1. Perubahan er!u"# "erebra$ berhubun%an &en%an r'"e" #n!$a(a"# 2u&uan 4 mempertahankan perfusi serebral yang adekuat

Intervensi4 Pastikan anak tidak akan mengalami in&ury Pertahankan anak tetap kontak dengan lingkungan sekitar Mengobservasi dan men"atat tingkat kesadaran 7ke(aspadaan orientasi, mudah terstimulasi,letargi,respon yang tidak tepat8 Menilai status neurology setiap 1-. &am 7gerakan yang simetris,refleks infantile,respon pupil,kemampuan mengikuti perintah kemampuan mengepalkan tangan,gerakan mata,keta&aman penglihatan mata,refleksi tendon dalam,ke&ang,respon verbal8 Memonitor adanya peningkatan tekanan intra kranial 7meningkatnya lingkar kepala,fontanel nadi, menon&ol,meningkatnya pernafasan tidak tekanan darah, mudah menurunnya fo"al,ke&ang8 ?atat setiap ke&ang yang ter&adi,anggota tubuh tubuh yang terkena, lamanya ke&ang, dan aura. Menyiapkan peralatan &ika ter&adi ke&ang 7pinggiran tempat tidur dinaikan,tempat tidur dalam posisi raa, peralatan penghisapan lender,bell mudah di&angkau,peralatan emergensi,obat anti ke&ang8. Meninggikan bagian kepala tempat tidur # Mempertahankan kepala dan leher dalam satu garis lurus untuk nemudahkan venous return 14 beraturan,

terstimulasi,menangis merintih,gelisah,bingung perubahab pupil,defisit

Memberikan antibiotik sesuai order5 mempertahankan lingkungan yang tenang, dan menghindari rangsangan yang berlebihan 7"ayaha lampu yang tidak terlalu terang,anak dalam posisi yang nyaman,hindari melakukan tindakan yang tidak terlalu penting8

Menga&ar perlahan

kepada

anak

untuk

menghindari

valsava

manuver

7mengedar,batuk,bersin8 dan &ika merubah posisi anak lakukan se"ara Melakukan latihan pasif atau aktif 7:1M8 )indari dilakukannya pengikatan &ika memungkinkan Memonitir tanda tanda septik syok 7hipotensi,meningkatnya

temperatur,meningkatnya vasokonstriksi perifer8 Memonitor hasil analisa gas darah

pernafasan,kebingungan,disorientasi,

Memberikan terapi untuk mengurangi edema otak sesuai order Memberikan oksigen sesuai order

). Gan%%uan er*u+aran %a" berhuubun%an &en%an (en#n%+a*n,a *e+anan #n*ra -ran#a$ 1. 2u&uan 4 menun&ukkan status pernafasan adekuat yang ditandai dengan &alan nafas paten dan bersih,pola nafas efektif dan pernapasan normal .. Intervensi 4 +uskultasi suara pernapasan setiap 4 &am, laporkan adanya bunyi tambahan 7(hee*ing,"ra"kles8 Memonitor frek(ensi pernafasan, pola,inspirasi dan ekspirasiH observasi kulit,kuku,membran mukosa terhadap adanya sianosis. Memonitor analisa gas darah terhadap adanya hypoJia. Melakukan rontgen dada untuk mengetahui adanya infiltrate Aanti posisi setiap . &am,an&urkan anak untuk melakukan aktivitas yang dapat ditoleransi

1$

Mempertahankan kepatenan &alan nafas H melakukan pengisapan lendir, dan mengatur posisi tidur dengan kepala ekstensi Menilai adanya hilangnya refleks mudah Memberikan oksigen sesuai order dan monitor efektifitas pemberian oksigen tersebut 1bservasi meningkatnya kebingungan,mudah terstimulasi,gelisah,laporkan setiap perubahan kepada dokter.

.. N,er# berhubun%an &en%an r'"e" #n!$a(a"#

a. 2u&uan 4 Pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak b. Intervensi kepera(atan5:asional4 18 %iarkan anak mengambil posisi yang nyaman4 i8 Aunakan posisi miring, bila ditoleransi, karena kaku kuduk ii8 2inggikan sedikit kepala tempat tidur tanpa menggunakan bantal karena hal ini seringkali men&adi posisi yang paling tidak nyaman .8 %erikan analgesik sesuai ketentuan, terutama asetaminofen dengan kodein ". )asil yang diharapkan4 +nak tidak menun&ukkan tanda-tanda nyeri atau tanda-tanda nyeri yang dialami anak minimum /. Re"#+' *#n%%# -e&era berhubun%an &en%an +e0an%1re!$e+ (en#n%+a* a. 2u&uan 14 Pasien tidak menun&ukkan tanda-tanda infeksi b. Intervensi kepera(atan5:asional4 18 %antu praktisi kesehatan mendapat kultur yang diperlukan untuk mengidentifikasikan organisme penyebab .8 %erikan antibioti", sesuai resep, dan segera setelah diinstruksikan #8 Pertahankan rute intravena untuk pemberian obat ". )asil yang diharapkan4 16

+nak menun&ukkan bukti-bukti penurunan ge&ala d. 2u&uan .4 Pasien tidak menyebabkan infeksi ke orang lain e. Intervensi kepera(atan5 :asional4 18 Implementasikan pengendalian infeksi yang tepat4 a8 2empatkan anak di ruang isolasi selama sedikitnya .4 &am setelah a(al terapi antibioti" b8 Pantau tanda-tanda vital untuk tanda a(al proses infeksi "8 1bservasi adanya tanda-tanda infeksi khusus pada penyakit anak .8 Instruksikan orang lain 7keluarga, anggota staf8 tentang ke(aspadaan yang tepat #8 %erikan vaksinasi yang tepat4 i8 %erikan vaksin rutin sesuai usia 7mis., vaksin untuk men"egah ). influen*ae tipe % K)ibL8 ii8 Identifikasi kontak erat dan anak berisiko tinggi yang dapat memperoleh manfaat dari vaksinasi 7mis., vaksinasi meningokokus8 f. )asil yang diharapkan4 1rang lain tetp bebas dari infeksi g. 2u&uan # 4 Pasien tidak mengalami komplikasi h. Intervensi kepera(atan5 :asional4 18 1bservasi dengan ketat adanya tanda-tanda komplikasi, terutama peningkatan 2I3, syok, dan distres pernapasan, sehingga dapat dilakukan tindakan kedaruratan .8 Pertahankan hirasi optimal sesuai ketentuan #8 Pantau dan "atat masukan dan keluaran untuk mengidentifikasi komplikasi seperti an"aman syok atau peningkatan akumulasi "airan yang berhubungan dengan edema serebral atau efusi subdural 48 3urangi stimulus lingkungan, karena anak mungkin sensitif terhadap kebisingan, sinar terang, dan stimulus eksternal lainnya $8 Implementasikan ke(aspadaan keamanan yang tepat karena anak sering gelisah dan ke&ang

10

68 9elaskan pentingnya pera(atan tindak lan&ut pada orang tua karena sekuel neurologis, termasuk penurunan pendengaran mungkin tidak tampak selama penyakit akut i. )asil yang diharapkan4 +nak tidak mengalami komplikasi 4.Perubahan r'"e" +e$uar%a berhubun%an &en%an ana+ ,an% (en&er#*a en,a+#* "er#u" a. 2u&uan 4 Pasien 7keluarga8 mendapatkan dukungan yang adekuat b. Intervensi kepera(atan5:asional4 18 'orong keluarga untuk mendiskusikan perasaan untuk meminimalkan rasa bersalah dan saling menyalahkan .8 Makinkan keluarga bah(a a(itan meningitis bersifat tiba-tiba dan bah(a mereka sudah bertindak dengan penuh tanggung &a(ab dengan men"ari bantuan medis untuk meminimalkan rasa bersalah dan saling menyelahkan #8 Pertahankan agar keluarga tetap mendapat informasi tentang kondisi anak, kema&uan, prosedur, dan tindakan untuk mengurangi ke"emasan ". )asil yang diharapkan4 +nak 7keluarga8 mendapatkan dukungan yang "ukup <;+DE+SI

+ngka motalitas meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan patogen penyebab. Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa meningokoksemia berat mempunyai angka fatalitas sebesar hanya . !, sedangkan neonatus dengan meningitis gram negative meninggal dalam 0 kasus. +ngka kematian akibat ). influen*ae dan S. pneumoniae masing-masing adalah sekitar #! dan 6!. Ae&ala sisa penyakit ter&adi pada kira-kira # ! penderita yang bertahan hidup, tetapi &uga terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi terbesar pada bayi yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri gram negative dan S. pneumoniea. Ae&ala sisa neurologi tersering adalah tuli, yang ter&adi pada #-.$! pasienH kelumpuhan saraf kranial pada .-0! pasienH dan "idera berat seperti hemiparesis atau "idera otaku 18

mum pada 1-.! pasien. Debih dari $ ! pasien dengan ge&ala sisa neurologi pada saat pemulangan dari :S akan membaik seiring (aktu, dan keberhasilan dalam implant koklea belum lama ini memberi harapan pada anak dengan kehilangan pendengaran. Pen"egahan meningitis saat ini terdiri atas dua bentuk4 kemoprokfilaksis terhadap individu rentan yang diketahui terpa&an pada pasien yang mengidap penyakit 7pasien indek8 serta imunisasi aktiv. Sekarang, kemoprokfilaksis diindikasikan untuk men"egah meningitis sekunder yang disebabkan oleh ). influen*ae dan -. meningitides. Imunisasi aktiv terhadap ). influen*ae telah menghasilkan penguangan dramatis pada penyakit invasive, dengan pengurangan sebanyak 0 -8 ! pada meningitis akibat organisme tersebut. Saat ini imunisasi dian&urkan untuk bayi sebagai rangkain imunisasi tiga dosis pada usia .,4,6 bulan. BAB III PENUTUP +. 3<SIMPED+1tak dan sumsum otak belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, memba(a pembuluh darah dan dengan sekresi se&enis "airan yaitu "airan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu4 a. Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam "elah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini. b. +ra"hnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter. ". 'ura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari &aringan ikat tebal dan kuat. 3omponen intrakaranial terdiri dari4 parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan ?S@. +pabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis. Meningitis merupakan salah satu &enis infeksi yang menyeranga susunan saraf pusat, dimana angka ke&adiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat ditentukan 1,

pada permulaan pengobatan. %eberapa bakteri penyebab meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. :esiko ter&adinya penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak langsung "airan ludah seperti ber"iuman. Perlu diketahui &uga bah(a bayi dengan ibu yang menderita 2%? sangat rentan terhadap penyakit ini. Meningitis adalah infeksi pada "airan otak dan selaput otak 7meningen8 yang melindungi otak dan medulla spinalis. Meningitis ba"terial merupakan penyakit yang sangat serius dan fatal. 'iagnose kepera(atan yang mun"ul tergantung dengan kondisi saat pengka&ian, tapi yang utama adalah -yeri berhubungan dengan proses inflamasiH resiko ter&adi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otakH resiko "edera berhubungan dengan ke&ang, reflek meningkatH perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius. %. S+:+Mengerti dan memahami ge&ala meningitis sangat penting untuk menegakkan diagnosis sedini mungkin. 'iagnosis dan pengobatan dini men"egah ter&adinya komplikasi yang bersifat fatal. Mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk menentukan &enis pengobatan yang diberikan. ;aksin untuk men"egah ter&adinya meningitis bakterial telah tersedia, dan sangat dian&urkan untuk diberikan &ika berada atau akan berkun&ung ke daerah epidemik.

DAFTAR PUSTAKA 1. +lpers,+nn.. 6.%uku +&ar Pediatri :udolph. <d.. .9akarta4<A?. 0.:u&ukan ?epat Pediatri dan 3esehatan +nak.9akarta4<A?. 6.+suhan kepera(atan pada +nak <d...9akarta4Per"etakan

.. http455(((.anneahira."om #. %rough,)ellen,et al.. 4. -gastiyah.. $.Pera(atan +nak Sakit.<d...9akarta4<A?

$. Suriadi, :ita Muliani.. Penebar S(adaya

.1