Anda di halaman 1dari 34
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN LUPUS ERITEMATOSUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
LUPUS ERITEMATOSUS

Kelompok 3

  • Hesti Setiasih

  • Iyang Sofyan Sauri

  • Jefry Roniansyah

  • Kasyadi

  • Khusnul Khotimah

  • Laeliyah

  • Lily Puspita Rini

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN LUPUS ERITEMATOSUS Kelompok 3  Hesti Setiasih  Iyang Sofyan Sauri

PENGERTIAN

P ENGERTIAN Penyakit ini dalam ilmu kedokteran disebut <a href=Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV / AIDS . " id="pdf-obj-1-5" src="pdf-obj-1-5.jpg">

Penyakit

ini

dalam

ilmu

kedokteran

disebut

(SLE),

yaitu ketika penyakit

ini sudah

menyerang

seluruh

tubuh

atau

sistem internal manusia. Dalam

ilmu imunologi

atau

kekebalan

tubuh,

penyakit

ini

adalah

kebalikan dari kanker atau HIV/AIDS.

P ENGERTIAN Penyakit ini dalam ilmu kedokteran disebut <a href=Systemic Lupus Erythematosus (SLE), yaitu ketika penyakit ini sudah menyerang seluruh tubuh atau sistem internal manusia. Dalam ilmu imunologi atau kekebalan tubuh, penyakit ini adalah kebalikan dari kanker atau HIV / AIDS . " id="pdf-obj-1-78" src="pdf-obj-1-78.jpg">

CON

Pada Lupus, tubuh menjadi overacting

terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuat terlalu banyak antibodi atau semacam protein yang malah ditujukan untuk melawan jaringan tubuh sendiri.

Dengan

demikian,

sebagai autoimmune

Lupus

disebut

(penyakit

dengan kekebalan tubuh berlebihan).

C ON ’ Pada Lupus, tubuh menjadi overacting terhadap rangsangan dari sesuatu yang asing dan membuatautoimmune Lupus disease disebut (penyakit dengan kekebalan tubuh berlebihan). " id="pdf-obj-2-27" src="pdf-obj-2-27.jpg">

CONTINUE..

SLE adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan

sistem kekebalan tubuh sehingga antibodi yang seharusnya

ditujukan untuk melawan bakteri maupun virus yang masuk ke dalam tubuh berbalik merusak organ tubuh itu sendiri seperti ginjal,

hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit. Karena organ

tubuh yang diserang bisa berbeda antara penderita satu dengan lainnya, maka gejala yang tampak sering berbeda, misalnya akibat kerusakan di ginjal terjadi bengkak pada kaki dan perut, anemia berat, dan jumlah trombosit yang sangat rendah (Sukmana, 2004).

C ONTINUE .. SLE adalah suatu penyakit yang ditandai dengan peningkatan sistem kekebalan tubuh sehingga antibodi

ANATOMI FISIOLOGI

Lupus dalam bahasa Latin artinya anjing hutan. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Penyakit lupus yang dalam bahasa kedokteran dikenal degan nama systemic lupus erythematosus (SLE). SLE adalah penyakit autoimun multisistemik kronis, ditandai dengan pembentukan antibody yang membentuk komplek imun dan menimbulkan reaksi inflamasi pada berbagai organ seperti kulit, sendi, ginjal, dan organ lainnya).

A NATOMI FISIOLOGI Lupus dalam bahasa Latin artinya “ anjing hutan ” . Istilah ini mulai

KLASIFIKASI

Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam bentuk:

  • 2. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf.

  • 3. Drug Induced Lupus (DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang.

K LASIFIKASI Jenis penyakit Lupus ini memiliki tiga macam bentuk: 1. <a href=Cutaneus Lupus / Discoid, yang memengaruhi kulit. 2. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) yang menyerang organ tubuh seperti kulit, persendian, paru-paru, darah, pembuluh darah, jantung, ginjal, hati, otak, dan syaraf. 3. Drug Induced Lupus (DIL), timbul karena menggunakan obat-obatan tertentu. Setelah pemakaian dihentikan, umumnya gejala akan hilang. " id="pdf-obj-5-20" src="pdf-obj-5-20.jpg">

ETIOLOGI

Penyebab belum pasti diketahui Faktor resiko:

  • 1. Faktor genetik

E TIOLOGI Penyebab belum pasti diketahui Faktor resiko: 1. Faktor genetik Faktor genetik mempunyai peranan yang

Faktor genetik mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan dan ekspresi penyakit SLE. Sekitar 10% 20% pasien SLE mempunyai kerabat dekat (first degree relative) yang menderita SLE. Angka kejadian SLE pada saudara kembar identik (24-69%) lebih tinggi daripada saudara kembar non-identik (2-9%).

E TIOLOGI Penyebab belum pasti diketahui Faktor resiko: 1. Faktor genetik Faktor genetik mempunyai peranan yang

CON

2. Faktor lingkungan

C ON ’ 2. Faktor lingkungan Faktor lingkungan yang menyebabkan timbulnya SLE yaitu sinar UV yang

Faktor lingkungan yang menyebabkan timbulnya SLE yaitu sinar UV yang mengubah struktur DNA di daerah yang terpapar sehingga menyebabkan

perubahan sistem imun di daerah tersebut serta

menginduksi apoptosis dari sel keratonosit.

C ON ’ 2. Faktor lingkungan Faktor lingkungan yang menyebabkan timbulnya SLE yaitu sinar UV yang

CON

3. Faktor imunologis

selama ini dinyatakan bahwa hiperaktivitas sellimfosit

B

menjadi

dasar

dari

eritematosus sistemik.

pathogenesis

lupus

Beberapa autoantibodi ini secara langsung bersifat p atogen termasuk dsDNA (doublestranded DNA), yang berperan dalam membentuk kompleks imun yang kemudian merusak jaringan.

C ON ’ 3. Faktor imunologis selama ini dinyatakan bahwa hiperaktivitas sellimfosit B menjadi dasar dari

MANIFESTASI KLINIS

  • Atralgia, sinovitis, pembengkakan sendi, nyeri, kaku.

  • Ruam kulit di pangkal hidung dan pipi (kupu-kupu)

M ANIFESTASI KLINIS  Atralgia, sinovitis, pembengkakan sendi, nyeri, kaku.  Ruam kulit di pangkal hidung
CON’
CON’

Lesi memburuk jika terkena sinar matahari Ulkus di mukosa mulut Anemia hemolitik, leukophenia, limfophenia, atau Trombositopenia

Demam,

keletihan

Lesi

memburuk

jika terkena sinar matahari

CON’  Lesi memburuk jika terkena sinar matahari  Ulkus di mukosa mulut  Anemia hemolitik,

CONTOH PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSUS

CONTOH PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSUS
CONTOH PENYAKIT LUPUS ERITEMATOSUS

PATHWAYS

Lingkungan (cahaya matahari,luka bakar internal)

Hormonal

Obat-obatan(hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin)

PATHWAYS Lingkungan (cahaya matahari,luka bakar internal) Obat-obatan(hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin) Fungsi sel T-supresor abnormal Peningkatan produksi
PATHWAYS Lingkungan (cahaya matahari,luka bakar internal) Obat-obatan(hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin) Fungsi sel T-supresor abnormal Peningkatan produksi

Fungsi sel T-supresor abnormal

Peningkatan produksi auto antibodi

PATHWAYS Lingkungan (cahaya matahari,luka bakar internal) Obat-obatan(hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin) Fungsi sel T-supresor abnormal Peningkatan produksi

Terganggunya regulasi kekebalan

PATHWAYS Lingkungan (cahaya matahari,luka bakar internal) Obat-obatan(hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin) Fungsi sel T-supresor abnormal Peningkatan produksi

Kerusakan

jaringan

Penumpukan kompleks imun

PATHWAYS Lingkungan (cahaya matahari,luka bakar internal) Obat-obatan(hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin) Fungsi sel T-supresor abnormal Peningkatan produksi

SLE

SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi
SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi

Kerusakan

mobolitas fisik
mobolitas
fisik

muskuloskeletal

Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan
Integument
Sistem
kardiak
Sistem
pernafasan

pembengkakan

nyeri

SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi

Kerusakan integritas

kulit

Lesi

SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi

Decreased Cardiac

output

SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi

Perikarditis

SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi

Pola nafas tidak

efektif

Efusi pleura

SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi
SLE Kerusakan mobolitas fisik muskuloskeletal Integument Sistem kardiak Sistem pernafasan pembengkakan nyeri Kerusakan integritas kulit Lesi

Sistem

vaskuler

Perkemihan Saraf
Perkemihan Saraf
Perkemihan

Perkemihan

Saraf

Saraf

Sistem vaskuler Perkemihan Saraf Inflamasi pada artiola farmatif Lesi papuler di ujung Kerusakan kaki, tumit integritas

Inflamasi pada artiola

farmatif

Sistem vaskuler Perkemihan Saraf Inflamasi pada artiola farmatif Lesi papuler di ujung Kerusakan kaki, tumit integritas

Lesi papuler di ujung

Kerusakan

kaki, tumit

integritas

dan siku

dan siku kulit

kulit

Glomurolus

Sistem vaskuler Perkemihan Saraf Inflamasi pada artiola farmatif Lesi papuler di ujung Kerusakan kaki, tumit integritas

renal

Depresi

Keletihan

Sistem vaskuler Perkemihan Saraf Inflamasi pada artiola farmatif Lesi papuler di ujung Kerusakan kaki, tumit integritas
Sistem vaskuler Perkemihan Saraf Inflamasi pada artiola farmatif Lesi papuler di ujung Kerusakan kaki, tumit integritas

PATOFISIOLOGI

Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan

autoantibodi yang berlebihan.

Gangguan

imunoregulasi

ini ditimbulkan

oleh

kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal (sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal).

P ATOFISIOLOGI Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan

CON

seperti

hidralazin,

prokainamid,

isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat

antikonvulsan yang terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-obatan.

Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-supresor yang

abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan

kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya terangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.

C ON ’ <a href=Obat-obat tertentu seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan yang terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya terangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali. " id="pdf-obj-16-26" src="pdf-obj-16-26.jpg">

KOMPLIKASI

  • 1. Infeksi saluran kemih

  • 2. Osteonekrosis pada pinggul

  • 3. Perikarditis, endokarditis.

myokarditis,

  • 4. Pleurisi (inflamasi pleura, efusi pleura)

  • 5. Atherosclerosis koroner

  • 6. Kejang dan disfungsi mental

  • 7. Hipertensi

  • 8. Gangguan pertumbuhan

  • 9. Gangguan paru-paru kronik

    • 10. Abnormalitas mata

    • 11. Kerusakan ginjal permanen

    • 12. Gejala neuropsikiatri

    • 13. Kerusakan muskuloskeleta

    • 14. Gangguan fungsi gonad

K OMPLIKASI 1. Infeksi saluran kemih 2. Osteonekrosis pada pinggul 3. Perikarditis, endokarditis. myokarditis, 4. Pleurisi

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Riwayat Kesehatan Klien, meliputi :

Biografi

Klien

(nama,

alamat,

jenis

kelamin,

status

pernikahan, pekerjaan, dan etnis klien)

Keluhan utama klien

ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Riwayat Kesehatan Klien, meliputi : Biografi Klien (nama, alamat, jenis kelamin,

Riwayat kesehatan yang lampau (riwayat imunisasi,

alergi, penyakit dan pemeriksaan diagnostic yang pernah dijalani klien)

ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Riwayat Kesehatan Klien, meliputi : Biografi Klien (nama, alamat, jenis kelamin,
ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Riwayat Kesehatan Klien, meliputi : Biografi Klien (nama, alamat, jenis kelamin,

Riwayat kesehatan keluarga (penyakit yang diidap anggota keluarga yang lain)

  • Profil

klien

(pengetahuan,lingkungan,factor

spiritual,

gaya hidup, seksualitas, dan respon stress dari klien).

b. Pengkajian Keperawatan (bisa dengan metode head to toe atau system by system)

Inspeksi area kulit terutama bagian wajah/inspeksi adanya butterfly rash

 Riwayat kesehatan keluarga (penyakit yang diidap anggota keluarga yang lain)  Profil klien (pengetahuan,lingkungan,factor spiritual,

Palpasi area abdomen, apakah terdapat nyeri abdomen

Perkusi bagian abdomen untuk mengkaji adanya gas pada GI Tract klien

Auskultasi dada dan punggung klien untuk memastikan kebersihan jalan nafas klien

TTV, meliputi suhu tubuh, nadi, kecepatan pernafasan, dan tekanan darah.

c. Rekam medis

 Palpasi area abdomen, apakah terdapat nyeri abdomen  Perkusi bagian abdomen untuk mengkaji adanya gas

2. DIAGNOSA

Nyeri

akut

jaringan

b.d

inflamasi/kerusakan

Kerusakan Integritas

kulit

b.d

perubahan fungsi kulit

 

Ketidakseimbangan

nutrisi

:

kurang

dari

kebutuhan

tubuh

b.d

factor

biologis.

2. D IAGNOSA Nyeri akut jaringan b.d inflamasi/kerusakan Kerusakan Integritas kulit b.d perubahan fungsi kulit Ketidakseimbangan

3. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Dx I : Nyeri akut b.d inflamasi/kerusakan jaringan

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24

jam nyeri berkurang

KH : Tanda inflamasi tidak ada

3. R ENCANA A SUHAN K EPERAWATAN Dx I : Nyeri akut b.d inflamasi/kerusakan jaringan Tujuan

INTERVENSI

RASIONAL

1. Selidiki keluhan nyeri (PQRST). Catat

1. Membantu

dalam

menentukan

respon nonverbal

kebutuhan manajemen nyeri

  • 2. Berikan matras/kasur busa, bantal,

  • 2. Memberikan kenyamanan.

tinggikan linen tempat tidur sesuai

kebutuhan.

  • 3. Dorong untuk sering mengubah posisi. Bantu pasien untuk bergerak di tempat tidur, hindari gerakan keras.

  • 3. Mencegah

terjadinya

kelelahan

umum dan kekakuan sendi.

INTERVENSI RASIONAL 1. Selidiki keluhan nyeri (PQRST). Catat 1. Membantu dalam menentukan respon nonverbal kebutuhan manajemen

INTERVENSI

RASIONAL

  • 4. Dorong penggunaan teknik manajemen 4. Meningkatkan relaksasi, membeikan stress. Misalnya : relaksasi progresif, dan sentuhan terapeutik, biofeedback, visualisasi, pedoman imajinasi, hypnosis diri, pengendalian nafas.

control kemampuan koping.

rasa

meningkatkan

  • 5. Beri obat sebelum aktivitas/latihan 5. Meningkatkan relaksasi, mengurangi yang direncanakan sesuai petunjuk.

  • 6. Berikan NSAID sesuai order

spasme, memudahkan untuk turut serta dalam terapi.

INTERVENSI RASIONAL 4. Dorong penggunaan teknik manajemen 4. Meningkatkan relaksasi, membeikan stress. Misalnya : relaksasi progresif,
  • 6. Megurangi nyeri otot, jaringan lain.

Dx II : Kerusakan Integritas kulit b.d

perubahan fungsi kulit

Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam diharapkan Integritas kulit baik dan

Pemeliharaan Integritas kulit

KH : Tidak ada laserasi

Dx II : Kerusakan Integritas kulit b.d perubahan fungsi kulit Tujuan : Setelah dilakukan asuhan keperawatan

INTERVENSI

RASIONAL

1. Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan laserasi.

1. Mencegah kemungkinan terjadinya laserasi.

2. Beritahu pasien untuk penggunaan

  • 2. Mengurangi/ mencegah

tabir surya.

photosensitivity.

3. Kolaborasi pemberian NSAID atau

  • 3. NSAID atau kortikosteroid

kortikosteroid.

adalah anti-inflamasi.

INTERVENSI RASIONAL 1. Lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan laserasi. 1. Mencegah kemungkinan terjadinya laserasi. 2.

Dx III : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d factor biologis.

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan

selama 3x24 jam diharapkan

kebutuhan nutrisi klien terpenuhi secara adekuat. KH : Mempertahankan BB dalam batas normal Klien mampu menghabiskan ½ porsi makanan yang disediakan

Klien mengalami peningkatan nafsu makan

Dx III : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d factor biologis. Tujuan : Setelah

INTERVENSI

RASIONAL

1. Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien. 2. Kaji penurunan nafsu makan klien. 3. Jelaskan pentingnya makan bagi proses penyembuhan. 4. Ukur tinggi dan BB klien.

  • 1. Mengetahui kekurangan nutrisi klien.

  • 2. Agar dapat dilakukan intervensi dalam pemberian makanan pada klien.

  • 3. Dengan pengetahuan yg baik tentang nutrisi akan memotivasi untuk meningkatkan pemenuhan nutrisi.

  • 4. Membantu dalam identifikasi malnutrisi protein-kalori khususnya bila BB kurang dari normal.

INTERVENSI RASIONAL 1. Kaji pemenuhan kebutuhan nutrisi klien. 2. Kaji penurunan nafsu makan klien. 3. Jelaskan

INTERVENSI

RASIONAL

  • 5. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan.

  • 6. Berikan makanan dengan jumlah kecil dan bertahap.

  • 5. Membuat waktu makan lebih menyenangkan, yang dapat mengingkatkan nafsu makan.

  • 6. Untuk memudahkan proses makan.

  • 7. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk membantu memiliki makanan yang dapat memenuhi kebutuhan gizi selama sakit.

  • 7. Ahli gizi adalah spesialisasi ilmu gizi yang membantu klien memilih makanan sesuai dengan keadaan

INTERVENSI RASIONAL 5. Ciptakan suasana makan yang menyenangkan. 6. Berikan makanan dengan jumlah kecil dan bertahap.

sakitnya, usia,tinggi,berat badannya.

4. IMPLEMENTASI

Implementasi yang diberikan oleh perawat sesuai

dengan intervensi yang di atas

4. IMPLEMENTASI Implementasi yang diberikan oleh perawat sesuai dengan intervensi yang di atas

5. EVALUASI

  • Dx I : Klien mengatakan Nyeri berkurang

  • Dx II : Klien menunjukkan tanda Integritas kulit baik

  • Dx III : Klien mengatakan porsi makannya lebih banyak di banding kemarin

5. EVALUASI Dx I : Klien mengatakan Nyeri berkurang Dx II : Klien menunjukkan tanda Integritas

DAFTAR PUSTAKA

Judith M, Wilkinson. Nursing Diagnosis Hand Book. 2005. New Jersey : Pearson Education,Inc

Williams, Lippincott & Willkins. 2011. Kapita selekta penyakit dengan implikasi keperawatan edisi 2. Jakarta : EGC

usEritematosusSistemikpendidikan-drnanang.pdf, diakses tanggal 21 Maret 2013, jam 10:00)

www.scribd.com

DAFTAR PUSTAKA Judith M, Wilkinson. Nursing Diagnosis Hand Book . 2005. New Jersey : Pearson Education,Inc( http://staff.ui.ac.id/internal/140067028/material/Lup usEritematosusSistemikpendidikan-drnanang.pdf , diakses tanggal 21 Maret 2013, jam 10:00) www.scribd.com " id="pdf-obj-32-21" src="pdf-obj-32-21.jpg">