Anda di halaman 1dari 18

Nurhayati Rutaci Santi rohati Yuke E.

Agustina

DEFINISI

Penyakit arteri koroner ( atau penyakit jantung koroner) terjadi karena penyempitan arteri koronaria akibat aterosklerosis. Dampak utama PJK adalah gangguan pasokan oksigen dan nutrien ke dalam jaringan miokard akibat penurunan aliran darah koroner. Seiring makin panjang usia masyarakat, prevalensi PJK juga meningkat

Plak yang mengandung lemak dan jaringan fibrosa secara progresif membuat lumen arteri koronaria makin sempit sehingga volume darah yang mengalir melalui arteri tersebut berkurang sehingga terjadi iskemia miokard. Ketika proses aterosklerosis berlanjut, penyempitan lumen akan disertai perubahan vaskuler yang merusak kemampuan arteri koronaria untuk berdilatasi. Keadaan ini menyebabkan gangguan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan oksigen dalam miokardium sehingga miokardium yang terletak distal terhadap lesi akan terancam.

Manifestasi utama iskemia miokardium adalah nyeri dada. Angina

pektoris adalah nyeri dada yang hilang timbul, tidak disertai kerusakan ireversibel sel-sel jantung. Iskemia yang lebih berat, disertai kerusakan sel dinamakan infark miokardium. Manisfestasi klinis lain penyakit arteri koroner dapat berupa perubahan EKG, aneurisma ventrikel, disritmia,dan kematian mendadak.

KOMPLIKASI

Komplikasi PJK meliputi: 1. Aritmia 2. Infark miokard 3. Kardiomiopati iskemik

Pencegahan bisa bersifat primer atau sekunder: Pencegahan primer meliputi segala usaha yang dilakukan sebelum timbulnya gejala proses penyakit. Sedangkan pencegahan sekunder meliputi segala usaha yang dilakukan untuk mengurangi perkembangan atau mencegah kekambuhan proses penyakit. Ada lima faktor risiko yang dapat diubah adalah merokok, tekanan darah tinggi, kolesterol darah tinggi, hiperglikemia, dan berbagai pola tingkah laku yang mendapat perhatian besar dalam program promosi kesehatan.

PENDEKATAN GERONTOLOGIS
Penyakit jantung koroner aterosklorotik bukan akibat penurunan fungsi akibat penuaan. Namun, penuaan menyebabkan perubahan pada integritas lapisan dinding arteri (arteriosklerosis), sehingga menghambat aliran darah dan nutrisi jaringan. Perubahan tersebut kadang begitu besar sampai menurunkan oksigenasi dan meningkatkan konsumsi oksigen jantung . Akibatnya dapat terjadi angina pektoris berat dan diikuti gagal jantung kongestif.

1.

Pengkajian Pemeriksaan fisik o Keadaan umum o Pemeriksaa tanda-tanda vital o Pemeriksaan kulit, rambut dan kelenjar getah bening o Pemeriksaan kepala dan leher o Pemeriksaan dada o Pemeriksaan abdomen o Pemeriksaan ekstremitas dan neurologis

Pemeriksaan penunjang 1. EKG 2. Enzim jantung dan iso enzim 3. Elektrolit 4. Sel darah putih 5. Kecepatan sedimentasi 6. Kimia 7. GDA/Oksimetri nadi 8. Kolesterol/trregliserida serum 9. Foto dada

10.
11. 12.

13.

14.

15.

Ekokardiogram Pencitraan darah jantung Angiografi koroner Digital Substraction Angiography (DSA) Nuclear Magnetic Resonance (NMR) Tes stress olahraga

2. 1)

Diagnosa Intoleransi aktivitas berhubungan dengan antara suplai dan kebutuhan oksigen, adanya jaringan yang nekrotik dan iskemik pada miokard Penurunan curah jantung berhubungan dengan peruabahan dalam rate, irama, konduksi jantung, menurunnya preload atau peningkatan SVR, miocardial infark. Kecemasan berhubungan dengan Faktor keturunan, Krisis situasional, Stress, perubahan status kesehatan, ancaman kematian, perubahan konsep diri, kurang pengetahuan dan hospitalisas

2)

3)

3.
a. 1.

INTERVENSI
NOC (TUJUAN) PENURUNAN CURAH JANTUNG Cardiac Pump effectiveness Circulation Status Vital Sign Status Tissue perfusion: perifer
Setelah dilakukan asuhan selama... penurunan curah jantung klien teratasi dengan kriteria hasil: Tanda Vital dalam rentang normal (Tekanan darah, Nadi, respirasi) Dapat mentoleransi aktivitas, tidak ada kelelahan Tidak ada edema paru, perifer, dan tidak ada asites Tidak ada penurunan kesadaran AGD dalam batas normal Tidak ada distensi vena leher Warna kulit normal

INTOLERANSI AKTIFITAS Self Care : ADLs Toleransi aktivitas Konservasi energi Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama .... Pasien bertoleransi terhadap aktivitas dengan, Kriteria Hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas fisik tanpa disertai peningkatan tekanan darah, nadi dan RR Mampu melakukan aktivitas sehari hari (ADLs) secara mandiri Keseimbangan aktivitas dan istirahat
2.

KECEMASAN Kontrol kecemasan Koping Setelah dilakukan asuhan selama.. klien kecemasan teratasi dgn kriteria hasil: Klien mampu mengidentifikasi dan mengungkapkan gejala cemas Mengidentifikasi, mengungkapkan dan menunjukkan tehnik untuk mengontol cemas Vital sign dalam batas normal Postur tubuh, ekspresi wajah, bahasa tubuh dan tingkat aktivitas menunjukkan berkurangnya kecemasan
3.

b. 1.

NIC (INTERVENSI) PENURUNAN CURAH JANTUNG

Circulation management
Evaluasi adanya nyeri dada Catat adanya disritmia jantung Catat adanya tanda dan gejala penurunan cardiac putput Monitor status pernafasan yang menandakan gagal jantung Monitor balance cairan Monitor respon pasien terhadap efek pengobatan antiaritmia

Atur periode latihan dan istirahat untuk menghindari kelelahan Monitor toleransi aktivitas pasien Monitor adanya dyspneu, fatigue, tekipneu dan ortopneu Anjurkan untuk menurunkan stress Monitor TD, nadi, suhu, dan RR Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri m. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan n. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama, dan setelah aktivitas o. Monitor jumlah, bunyi dan irama jantung

2.

INTOLERANSI AKTIFITAS Self care management Observasi adanya pembatasan klien dalam melakukan aktivitas Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat Monitor pasien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan Monitor respon kardivaskuler terhadap aktivitas (takikardi, disritmia, sesak nafas,diaporesis, pucat, perubahan hemodinamik) Monitor pola tidur dan lamanya tidur/istirahat pasien Kolaborasikan dengan Tenaga Rehabilitasi Medik dalam merencanakan progran terapi yang tepat. Bantu klien untuk mengidentifikasi aktivitas yang mampu dilakukan Bantu untuk memilih aktivitas konsisten yang sesuai dengan kemampuan fisik, psikologi dan social

KECEMASAN Anxiety Reduction (penurunan kecemasan)


3.

Gunakan pendekatan yang menenangkan Nyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien Jelaskan semua prosedur dan apa yang dirasakan selama prosedur Temani pasien untuk memberikan keamanan dan mengurangi takut Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis Libatkan keluarga untuk mendampingi klien Instruksikan pada pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi Dengarkan dengan penuh perhatian Identifikasi tingkat kecemasan Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan, ketakutan, persepsi Kelola pemberian obat anti cemas