Anda di halaman 1dari 4

1.

Bagaimana terapi MDT (Multidrug Theraphy) diterapkan kepada pasien lepra?

MDT atau Multidrug Therapy adalah kombinasi dua atau lebih obat anti kusta, yang salah satunya harus terdiri atas Rifampisin sebagai anti kusta yang sifatnya bakterisid kuat dengan obat anti kusta lain yang bisa bersifat bakteriostatik. Regimen pengobatan MDT di Indonesia sesuai dengan regimen pengobatan yang direkomendasikan oleh WHO. Regimen tersebut adalah sebagai berikut: 1) Penderita Pauci Baciler (PB) Dewasa Pengobatan bulanan: hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) 2 kapsul Rifampisin @300 mg (600mg) 1 tablet Dapsone/ DDS 100 mg

Pengobatan harian: hari ke 2-28 1 tablet dapsone/ DDS 100 mg 1 blister untuk 1 bulan Lama pengobatan: 6 blister diminum selama 6-9 bulan 2) Penderita Multi-Basiler (MB) Dewasa Pengobatan bulanan: hari pertama (dosis yang diminum di depan petugas) 2 kapsul Rifampisin @ 300 mg (600mg) 3 tablet lampren @ 100 mg 1 tablet Dapsone/DDS 100 mg (300mg)

1 blister untuk 1 bulan Lama pengobatan: 12 blister diminum selama 12-18 bulan. 3) Dosis MDT menurut umut Bagi dewasa dan anak usia 10-14 tahun tersedia paket dalam bentuk blister. Dosis anak disesuaikan dengan berat badan. Rifampisin DDS Clofazimine : 10-15 mg/kgBB : 1-2 mg/kgBB : 1 mg/kgBB

1.

Bagaimana cara pemeriksaan saraf tepi pada pasien lepra? 1) N. Auricularis magnus Pasien menoleh ke samping semaksimal mungkin, maka saraf yang terlibat akan terdorong oleh otot di bawahnya sehingga terlihat pembesaran sarafnya. Dua jari pemeriksa diletakkan diatas persilangan jalannya saraf tersebut dengan arah otot. Bila ada penebalan maka akan teraba jaringan seperti kabel atau kawat. Bandingkan kiri dan kanan.

2) N. Ulnaris Tangan kanan pemeriksa memegang lengan kanan bawah penderita dengan posisi siku sedikit ditekuk sehingga lengan penderita relaks.

Dengan jari telunjuk dan jari tengah kiri pemeriksa mencari sambil meraba saraf ulnaris di dalam sulcus nervi ulnaris yaitu lekukan diantara tonjolan tulang siku dan tonjolan kecil di bagian medial (epicondilus medialis).

Dengan tekanan ringan gulirkan pada saraf ulnaris dan telusuri keatas dengan halus sambil melihat mimik/reaksi penderita apakah tampak kesakitan atau tidak. Bandingkan kanan dan kiri.

Tangan yang diperiksa harus santai, sedikit fleksi dan sebaiknya diletakkan di atas satu tangan pemeriksa. Tangan pemeriksa yang lain meraba lekukan di bawah siku ( sulcus nervi ulnaris) dan merasakan adakah penebalan.

Pemeriksaan fungsi Saraf Ulnaris (Kekuatan Otot Jari Kelingking) Tangan kiri pemeriksa memegang ujung jari 2, 3 dan 4 tangan kanan penderita dengan telapak tangan pendenita menghadap ke atas dan posisi ekstensi (jari kelingking/5 bebas bergerak tidak terhalang oleh tangan pemeriksa). Minta penderita mendekatkan dan menjauhkan kelingking dan jari-jari lainnya. Bila penderita dapat melakukannya, minta ia menahan kelingkingnya pada posisi jauh dari jari lainnya, dan kemudian ibu jari pemeriksa mendorong pada bagian pangkal kelingking.

Penilaian: Bila jari kelingking penderita tidak dapat mendekat atau menjauh dan jari lainnya berarti sudah lumpuh. Bila jari kelingking penderita tidak dapat menahan dorongan pemeriksa berarti lemah. Bila jari kelingking penderita dapat menahan dorongan pemeriksa, ibu jari bisa maju dan dapat menahan dorongan ibu jari pemeriksa, berarti masih kuat.

Bila hasil pemeriksaan meragukan, lakukan pemeriksaan konfirmasi sebagai berikut: Minta penderita menjepit sehelai kertas yang diletakkan diantara jari manis dan jari kelingking tersebut, lalu pemeriksa menarik kertas tersebut sambil menilai ada tidaknya tahanan / jepitan terhadap kertas tersebut. Bila kertas terlepas dengan mudah berarti kekuatan otot lemah. Bila ada tahanan terhadap kertas berarti otot masih kuat

3) Saraf Medianus (Kekuatan otot Ibu Jari) Tangan kanan pemeriksa memegang jari telunjuk sampai kelingking tangan kanan penderita agar telapak tangan penderita menghadap ke atas, dan dalam posisi ekstensi. Ibu jari penderita ditegakkan ke atas sehingga tegak lurus terhadap telapak tangan penderita (seakan-akan menunjuk ke arah hidung) dan penderita diminta untuk mempertahankan posisi tersebut Jari telunjuk pemeriksa menekan pangkal ibu jari penderita yaitu dari bagian batas antara punggung dan telapak tangan mendekati telapak tangan.

Penilaian: Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti masih kuat Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti sudah lemah Bila tidak ada gerakan berarti lumpuh

Selalu perlu dibandingkan kekuatan otot tangan kanan dan kiri untuk menentukan adanya kelemahan.

4) Saraf Radialis (Pergelangan tangan) Tangan kiri pemeriksa memegang punggung lengan bawah tangan kanan penderita. Penderita diminta menggerakkan pergelangan tangan kanan yang terkepal ke atas. Penderita diminta bertahan pada posisi ekstensi (ke atas) lalu dengan tangan kanan pemeriksa menekan tangan penderita ke bawah ke arah fleksi. Penilaian: Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti masih kuat Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti lemah Bila tidak ada gerakan berarti lumpuh (pergelangan tangan tidak bisa ditegakkan ke atas)

5) N. Peroneus communis (Saraf Poplitea Lateralis) Penderita diminta duduk di suatu tempat (kursi, tangga, dll) dengan kaki dalam keadaan relaks. Pemeriksa duduk di depan penderita dengan tangan kanan memeriksa kaki kiri penderita dan tangan kiri memeriksa kaki kanan. Pemeriksa meletakkan jari telunjuk dan jari tengah pada pertengahan betis bagian luar penderita sambil pelan-pelan meraba keatas sampai menemukan benjolan tulang ( caput fibula), setelah menemukan tulang tersebut jari pemeriksa meraba saraf peroneus 1 cm ke arah belakang Dengan tekanan yang ringan saraf tersebut digulirkan bergantian ke kanan & ke kiri sambil melihat mimik/reaksi penderita

Pemeriksaan motorik n. peroneus communis Dalam keadaan duduk, pendenita diminta mengangkat ujung kaki dengan tumit tetap terletak dilantai/ekstensi maksimal (seperti berjalan dengan tumit). Penderita diminta bertahan pada posisi ekstensi tersebut lalu pemeriksa dengan kedua tangan menekan punggung kaki penderita ke bawah/lantai. Keterangan: Bila ada gerakan dan tahanan kuat berarti kuat Bila ada gerakan dan tahanan lemah berarti lemah Bila tidak ada gerakan berarti lumpuh (ujung kaki tidak bisa ditegakkan ke atas)

6) N. Tibialis Posterior Penderita masih dalam duduk relaks. Dengan jari telunjuk dan tengah, pemeriksa meraba N. Tibialis Posterior di bagian belakang bawah dari mata kaki sebelah dalam (maleolus medialis) dengan tangan menyilang (tangan kiri pemeriksa memeriksa N. tibialis kiri dan tangan kanan pemeriksa memeriksa N. tibialis posterior kanan pasien). Dengan tekanan ringan saraf tersebut digulirkan sambil melihat mimik reaksi dari penderita.

Bila saraf yang dicari tersentuh oleh jari pemeriksa, sering pasien merasakan seperti tekanan setrum pada daerah yang dipersarafi oleh saraf tersebut. Pada keadaan neuritis akut, sedikit sentuhan sudah memberikan rasa nyeri yang hebat.

2.

Bagaimana cara pewarnaan ziehl-neelsen? 1) Sampel yang diperoleh diapus ke kaca objek. 2) Sampel difiksasi melewati nyala api sebanyak 3 kali. 3) Kaca objek yang telah difiksasi diletakkan di atas rak pewarnaan. 4) Teteskan karbol fuchsin hingga menutupi apusan. Pada kondisi tersebut, api dilewatkan berkali-kali di bawah kaca objek hingga keluar uap. Pemanasan dihentikan pada saat uap tersebut keluar dan didiamkan selama 5 menit. 5) Bilas dengan air mengalir, kemudian miringkan kaca objek. 6) Teteskan larutan asam alkohol 3% hingga warna menjadi pucat, kemudian bilas dengan air mengalir. 7) Lakukan pewarnaan dengan metilen biru dan dibiarkan selama 10 20 detik, 8) Bilas dengan air mengalir dan biarkan kering di udara.