Anda di halaman 1dari 8

Angka kematian bayi ( Infrant Mortality Rate) merupakan salah satu indikator penting dalam menentukan tingkat kesehatan

masyarakat karena dapat

menggambarkan kesehatan penduduk secara umum. Angka ini sangat sensitif terhadap perubahan tingkat kesehatan dan kesejahteraan. Angka kematian bayi tersebut dapat didefenisikan sebagai kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu tahun (BPS). Sedangkan untuk menghitung angka kematian bayi dapat dihitung dengan cara :

GIZI Cakupan pemberian vitamin A pada bayi Vitamin A merupakan zat gizi yang sangat diperlukan bagi bayi dan ibu nifas, karena zat gizi ini sangat penting agar proses fisiologis dalam tubuh berlangsung secara normal, termasuk pertumbuhan sel, meningkatkan fungsi penglihatan, meningkatkan imunologis dan pertumbuhan badan. Vitamin A juga membantu mencegah perkembangan sel-sel kanker. Cakupan bayi mendapat kapsul vitamin A adalah jumlah bayi 6-11 bulan mendapat kapsul vitamin A dosis 100 A satu kali per tahun di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu. Pemberian vitamin A yang rutin dilakukan setahun dua kali, yaitu pada bulan Februari dan Agustus. Cakupan pemberian vitamin A pada bayi di provinsi Aceh ditahun 2011 adalah 51,5 %.

Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vitamin A adalah jumlah pemberian vitamin A dengan dosis dua kali dan diberikan pada ibu bersalin saat periode nifas yaitu 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan. Pemberian kapsul vitamin A pada ibu nifas (melahirkan) memiliki manfaat penting bagi ibu dan bayi yang disusuinya. Tambahan vitamin A melalui suplementasi dapat meningkatkan kualitas ASI, meningkatkan daya tahan tubuh dan dapat meningkatkan

kelangsungan hidup anak. Cakupan pemberian vitamin A pada ibu nifas di provinsi Aceh pada tahun 2011 adalah 70,0 %.

Cakupan pelayanan Kesehatan Neonatal (KN) Neonatal adalah bayi yang berumur 0-28 hari. Dalam pelaksanaan pelayanan neonatal, petugas kesehatan melakukan konseling pada ibu melahirkan. Pelayanan kesehatan neonatal dasar yaitu tindakan resusitasi, pencegahan hipotermia, pemberian ASI dini dan eksklusif, pencegah infeksi berupa perawatan luka, perawatan tali pusat, perawatan kulit dan pemberian imunisasi. Kunjungan Neonatus (KN) 1 adalah pelayanan kesehatan neonatal dasar, kunjungan pertama pada 6-24 jam setelah lahir. KN lengkap adalah pelayanan kesehatan neonatal dasar meliputi pemberian ASI eksklusif, pencegahan infeksi berupa perawatan mata, tali pusat, pemberian vitamin K1 injeksi bila tidak diberikan pada saat lahir, pemberian imunisasi hepatitis B1 bila tidak diberikan pada saat lahir dan manajemen terpadu bayi muda. Untuk melihat aksesibilitas dan mutu pelayanan neonatal yang adekuat digunakan indicator KN1 dan KN lengkap. KN dilakukan 3 kali yaitu pada 6-24 jam setelah lahir, 3-7 hari dan pada 8-28 hari setelah lahir. Upaya ini perlu dilakukan mengingat risiko kesakitan dan kematian pada periode neonatal sangat tinggi. Secara empiris dinyatakan bahwa 2/3 kematian bayi dikontribusi pada kematian periode neonatal maupun kunjungan ibu nifas. Pada tahun 2011 capaian indicator kunjungan neonatal lengkap adalah 87,07% melebihi

target SPM (85%), namun masih ada 6 kabupaten yang belum mencapai target SPM yaitu Gayo Lues, Pidie Jaya, Simeulue, Sabang, Aceh Barat dan Aceh Selatan dengan kisaran (60% - 80%). Cakupan kunjungan neonatal (KN1) Provinsi Aceh pada tahun 2011 sebesar 77,6 % dan Kunjungan Neonatal yang ketiga kali (KN Lengkap) 75,4 %.

Cakupan kunjungan Bayi Cakupan kunjungan bayi adalah jumlah kunjungan bayi umur 29 hari-11 bulan di sarana pelayanan kesehatan (polindes, pustu, puskesmas, rumah bersalin dan rumah sakit) maupun kunjungan rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan mendapat pelayan dari petugas kesehatan, Setiap bayi memperoleh pelayanan kesehatan minimal 4 kali yaitu satu kali pada umur 29 hari - 3 bulan, satu kali pada umur 3 6 bulan, satu kali pada umur 6 9 bulan dan satu kali pada umur 9 11 bulan. Pelayanan kesehatan tersebut meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB 13, Polio 1-4, Campak), Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan penyuluhan perawatan kesehatan. Penyuluhan perawatan kesehatan bayi meliputi konseling ASI eksklusif, pemberian makanan pendamping ASI sejak usia 6 bulan, perawatan dan tanda bahaya bayi sakit sesuai manajemen terpadu balita sakit, pemantauan pertumbuhan dan pemberian vitamin A kapsul biru pada usia 6-11 bulan. Persentase kunjungan bayi di Provinsi Aceh tahun 2011 sebesar 87,8 %.

Cakupan Imunisasi Bayi Program imunisasi pada bayi dikelompokkan menjadi beberapa jenis vaksinasi imunisasi yaitu BCG, HBO, DPT+HB1, DPT3+HB3, polio3 dan campak. Adanya penurunan jumlah imunisasi pada bayi perlu mendapat perhatian dari pelaksana program, mengingat peningkatan status kesehatan bayi sangat di pengaruhi dari kekebalan bayi terhadap penyakit yang akan di munculkan, akibat ketidak lengkapan dari imunisasinya. Sebagian besar kabupaten/kota belum dapat mencapai target yang di tetapkan pada tahun 2011 yauitu 90%. Capaian BCG mencapai 86,9%. DPT+HB1 mencapai 88,8%, DPT3+HB3 mencapai 83,7%, Polio3 mencapai 85,9%, campak pada bayi mencapai 81,6%. Perbedaan capaian setiap jenis imunisasi di sebabkan karena terjadinya drop out (DO) antar pemberian imunisasi. DO bayi yang tidak mendapat imunisasi lengkapa dilakukan dengan mendeteksi bayi yang mendapat imunisasi DPT1-HB1 tetapi tidak terdeteksi pada pemberian imunisasi campak pada kunjungan berikutnya. Berdasarkan hal tersebut diketahui DO Rate untuk tahun 2011 sebesar 8,1%. Grafik dibawah ini menunjukkan cakupan imunisasi tahun 2011.

Cakupan Bayi yang Mendapat ASI Eksklusif Bayi ynag mendapat ASI eksklusif adalah bayi yang hanya mendapat ASI saja sejak lahir sampai 6 bulan. ASI merupakan makanan khusus bayi supaya kebutuhan nutrisinya akan kalori, asam lemak, laktosa, dan asam amoni dapat terpenuhi dalam proporsi yang tepat. ASI juga memberikan perlindungan pada bayi bru lahir karena kaya akan immunoglobulin (antibody yang diperlukan untuk kekebalan tubuhnya). Pemberian ASI eksklusif harus dilakuakan selama 6 bulan, persentasi bayi yang diberi ASI eksklusif tahun 2011 baru mencapai 11,9%. Rendahnya cakupan ini banyak dipengaruhi oleh budaya memberikan makanan dan minuman terlalu dini kepada bayi baru lahir, akibat dari pengetahuan keluarga tentang ASI yang masih sangat minim. Disamping itu gencannya propaganda susu formula

terutamadiperkotaan dan perilaku ibuterhadap pemberian ASI.

Cakupan Pemberian Makanan Pendamping ASI pada Usia 6-23 Bulan Keluarga Miskin Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) merupakan suplemen tambahan untuk bayi usia 6 sampai 23 bulan, yang utama tetap ASI. Sehingga diharapkan jumlah dan frekuensi ASI yang diberikan tidak boleh berkurang hanya karena MP-ASI. Memberikan MP-ASI tidak sekedar memberikan makan, tetapi juga memberikan nutrisi dan kebiasaan kepada anak. Selain itu, MP-ASI juga mensinergikan kemampuan mengunyah, menelan menjadi optimal. Anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin adalah bayi usia 6-11 bulan dan anak usia 12-23 bulan dari keluarga miskin (Gakin). Kriteria keluarga miskin ditetapkan oleh kabupaten kota. Cakupan pemberian MP-ASI pada anak 6-23 bulan Gakin adalah pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6-23 bulan dari keluarga miskin selama 90 hari. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada usia 6-23 bulan untuk keluarga miskin di Provinsi Aceh tahun 2011 sebesar 25,48%, sementara target SPM 100%.

TENAGA KESEHATAN Jumlah Dan Rasio Tenaga Medis Di Sarana Kesehatan Rasio dokter per 100.000 penduduk adalah dokter yang memberikan pelayanan kesehatan di suatu wilayah (di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain) per 100.000 penduduk. Rasio dokter spesialis per 100.000 penduduk adalah dokter spesialis yang memberikan pelayanan kesehatan di suatu wilayah (di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain) per 100.000 penduduk. Rasio dokter gigi per 100.000 penduduk adalah dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan di suatu wilayah (di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain) per 100.000 penduduk. Bila dilihat dari diagram di bawah ini Provinsi Aceh tahun 2011 rasio dokter umum 34 per 100.000 penduduk, rasio dokter spesialis 15 per 100.000 penduduk, rasio dokter gigi 6 per 100.000 penduduk.

Rasio Dokter Umum per 100.000 penduduk di Provinsi Aceh Tahun 2011

Jumlah dan Rasio Tenaga Keperawatan (Bidan dan Perawat) di Sarana Kesehatan Rasio bidan per 100.000 penduduk adalah yang memberikan pelayanan kesehatan di suatu wilayah (di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain) per 100.000 penduduk. Rasio perawat per 100.000 penduduk adalah yang memberikan pelayanan kesehatan di suatu wilayah (di Puskesmas, Rumah Sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain) per 100.000 penduduk. Bila dilihat dari diagram Provinsi Aceh tahun 2011 rasio bidan 281 per 100.000 penduduk dan rasio perawat 151 per 100.000 penduduk.

Rasio Bidan per 100.000 penduduk prov.Aceh Tahun 2011