Anda di halaman 1dari 28

Asuhan Keperawatan dengan Klien HIV/AIDS Kelompok 5

Definisi
AIDS atau Acquired Immune Deficiency diartikan sebagai bentuk paling berat dari keadaan sakit terus menerus yang berkaitan dengan HIV atau Human Immunodeficiency Virus. (Bruner dan Suddarth, 2002)

ODHA (Orang dengan HIV/AIDS)

Anatomi Fisiologi Virus HIV

Etiologi Penyebab penyakit HIV atau AIDS adalah Human Imonudeficiency Virus yaitu virus yang menyebabkan penurunan daya kekebalan tubuh.

Pasien AIDS secara khas punya riwayat gejala dan tanda penyakit. Pada infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) primer akut yang lamanya 1 2 minggu pasien akan merasakan sakit seperti flu. Dan disaat fase supresi imun simptomatik (3 tahun) pasien akan mengalami demam, keringat dimalam hari, penurunan berat badan, diare, neuropati, keletihan, ruam kulit, limpanodenopathy, pertambahan kognitif, dan lesi oral. Dan disaat fase infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) menjadi AIDS (bevariasi 1-5 tahun dari pertama penentuan kondisi AIDS) akan terdapat gejala infeksi opurtunistik, yang paling umum adalah Pneumocystic Carinii (PCC), Pneumonia interstisial yang disebabkan suatu protozoa, infeksi lain termasuk meningitis, kandidiasis, cytomegalovirus, mikrobakterial, atipikal :

Tanda dan Gejala

Tanda dan Gejala

Next...

Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) Akut gejala tidak khas dan mirip tanda dan gejala penyakit biasa seperti demam berkeringat, lesu mengantuk, nyeri sendi, sakit kepala, diare, sakit leher, radang kelenjar getah bening, dan bercak merah ditubuh. Infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) tanpa gejala Diketahui oleh pemeriksa kadar Human Immunodeficiency Virus (HIV) dalam darah akan diperoleh hasil positif. Radang kelenjar getah bening menyeluruh dan menetap, dengan gejala pembengkakan kelenjar getah bening diseluruh tubuh selama lebih dari 3 bulan.

Patofisiologi
Pembagian stadium HIV: 1. Stadium pertama: HIV Infeksi dimulai dengan masuknya HIV dan diikuti terjadinya perubahan serologis ketika antibody terhadap virus tersebut berubah dari negatif menjadi positif. Rentang waktu sejak HIV masuk ke dalam tubuh sampai tes antibodi terhadap HIV menjadi positif disebut window period. Lama window period antara satu sampai tiga bulan, bahkan ada yang dapat berlangsung sampai enam bulan.

2. Stadium kedua: asimptomatik (tanpa gejala) Asimptomatik berarti bahwa di dalam organ tubuh terdapat HIV tetapi tubuh tidak menunjukkan gejala-gejala. Keadaan ini dapat berlangsung rerata selama 5-10 tahun. Cairan tubuh pasien HIV/AIDS yang tampak sehat ini sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain.

3. Stadium ketiga: pembesaran kelenjar limfe secara menetap dan merata (Persistent Generalized Lymphadenopathy), tidak hanya muncul pada satu tempat saja, dan berlangsung lebih satu bulan. 4. Stadium keempat: AIDS Keadaan ini disertai adanya bermacam-macam penyakit, antara lain penyakit konstitusional, penyakit syaraf, dan penyakit infeksi sekunder.

PATHWAY

a. Oral Lesi Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral,nutrisi,dehidrasi,penurunan berat badan, keletihan dan cacat. b. Neurologik 1. kompleks dimensia AIDS karena serangan langsung Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada sel saraf, berefek perubahan kepribadian, kerusakan kemampuan motorik, kelemahan, disfasia, dan isolasi social. 2.Enselophaty akut, karena reaksi terapeutik, hipoksia, hipoglikemia, ketidakseimbangan elektrolit, meningitis / ensefalitis. Dengan efek : sakit kepala, malaise, demam, paralise, total / parsial. 3. Infark serebral kornea sifilis meningovaskuler,hipotensi sistemik, dan maranik endokarditis. 4. Neuropati karena imflamasi demielinasi oleh serangan Human Immunodeficienci Virus (HIV)

Komplikasi

c. Gastrointestinal 1. Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan,anoreksia,demam,malabsorbsi, dan dehidrasi. 2. Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma,sarcoma Kaposi, obat illegal, alkoholik. Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri abdomen, ikterik,demam atritis. 3. Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang sebagai akibat infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rectal, gatal-gatal dan Diare. d. Respirasi Infeksi karena Pneumocystic Carinii, cytomegalovirus, virus influenza, pneumococcus, dan strongyloides dengan efek nafas pendek,batuk,nyeri,hipoksia,keletihan,gagal nafas.

e. Dermatologik Lesi kulit stafilokokus : virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis, reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri,gatal,rasa terbakar,infeksi skunder dan sepsis. f. Sensorik Pandangan : Sarkoma Kaposi pada konjungtiva berefek kebutaan Pendengaran : otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan efek nyeri.

Penatalaksanaan Medis
Belum ada penyembuhan untuk AIDS, jadi perlu dilakukan pencegahan Human Immunodeficiency Virus (HIV) untuk mencegah terpajannya Human Immunodeficiency Virus (HIV), bisa dilakukan dengan : 1. Melakukan abstinensi seks / melakukan hubungan kelamin dengan pasangan yang tidak terinfeksi. 2. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi. 3. Menggunakan pelindung jika berhubungan dengan orang yang tidak jelas status Human Immunodeficiency Virus (HIV) nya. 4. Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya. 5. Mencegah infeksi kejanin / bayi baru lahir.

ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian
Mencakup faktor resiko yang potensial, termasuk praktik sexsual yang beresiko dan penggunaan obat bius IV. Status fisik dan psikologis pasien harus dinilai. Semua faktor yang mempengaruhi fungsi sistem imun harus di gali dengan seksama, yaitu: 1. Status nutrisi, dinilai dengan menanyakan riwayat diet dan mengenali faktor-faktor yang dapat menganggu asupan oral seperti anoreksia, mual, nyeri oral atau kesulitan menelan.

2. Kulit dan membran mukosa, diinspeksi setiap hari untuk menemukan tanda-tanda lesi, ulserasi atau insfeksi. 3. Status respiratorius, dinilai lewat pemantauan pasien untuk mendeteksi gejala batuk, produksi sputum, nafas yang pendek, ortopnea, takipnea, dan nyeri dada.

4. Status neurologis, ditentukan dengan menilai tingkat kesadaran pasien, orientasinya terhadap orang, tempat serta waktu dan ingatan yang hilang. 5. Status cairan dan elektrolit dinilai dengan memeriksa kulit serta membran mukosa untuk menentukan turgor dan kekeringannya. 6. Tingkat pengetahuan pasien tentang penyakitnya dan cara-cara penularan penyakit harus dievaluasi.

Diagnosa keperawatan
1. Keletihan yang berhubungan dengan efek penyakit, stres, infeksi kronis, dan defisiensi nutrisi. 2. Resiko penularan infeksi yang berhubungan dengan sifat dapat menular dari ekskresi dan darah. 3. Gangguan proses keluarga yang berhubungan dengan sifat kondisi AIDS, gangguan peran, dan ketidakpastian masa depan.

4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan peningkatan kerentanan sekunder akibat gangguan sistem imun. 5. Resiko kerusakan membran mukosa oral yang berhubungan dengan penurunan sistem imun. Isolasi sosial yang berhubungan dengan takut penolakan atau penolakan aktual dari orang lain sekunder akibat ketakutan

Continue

6.

Continue
7. Ketidakberdayaan yang berhubungan dengan sifat kondisi yang tidak dapat diperkirakan. 8. Ansietas yang berhubungan dengan efek penyakit yang dirasakan pada gaya hidup pada masa depan yang tidak diketahui.
9. Kepedihan kronis yang berhubungan dengan kehilangan fungsi tubuh dan efeknya pada gaya hidup.

Continue
10. Resiko ketidakefektifan penatalaksanaan program teurapeutik yang berhubungan dengan kurang pengetahuan kondisi, obatobatan, perawatan dirumah, kontrol infeksi, dan sumber komuniitas.
Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan diare kronis, malabsorpsi gastrointestinal, keletihan, anoreksia, dan atau lesi oral atau esofagus.

11.

EVALUASI 1. Mempertahankan status nutrisi yang memadai 2. Tidak adanya komplikasi 3. Mengalami pengurangan perasaan terisolir dar pergaulan sosial dan melewati proses kesedihan

DAFTAR PUSTAKA Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddart. Jakarta: EGC Nursalam, dan Ninuk Dian Kurniawati. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta: Salemba Medika. Carpenito, Lynda Juall. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC