Anda di halaman 1dari 16

Kepemimpinan dan Manajemen, Sama atau Berbeda?

Seseorang yang bekerja dalam perusahaan atau organisasi non profit lainnya yang terutama membutuhkan kemampuan memimpin (kepemimpinan) atau kemampuan manajemen (manajerial)? Sebagai profesional kita direkrut dan mendapat imbalan dalam bentuk gaji (professional fee) karena kita menjalankan tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas dengan tuntas. Tugas kita sebagai seorang profesional biasanya tertulis di dalam uraian jabatan (job description) atas jabatan yang kita emban. Jadi, pertama-tama tugas dan tanggungjawab kita di dalam suatu organisasi adalah menjadi seorang manajer yang menjalankan fungsi manajemen. Tugas seorang manajer umumnya adalah mengalokasikan sumberdaya, mengambil keputusan, dan mengkoordinasikan kegiatan untuk mencapai tujuan. Semua kegiatan tersebut dilakukan dalam fungsi manajemen yang meliputi kegiatan perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian. Manajemen adalah kegiatan pengalokasian sumberdaya, melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, dan pengendalian secara efektif dan efesien untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan akhir dalam organisasi sering kita kenal dengan visi dan misi. Gambar berikut menunjukkan konsep manajemen;

Gambar Konsep Manajemen

Jika seorang professional membutuhkan manajemen untuk menyelesaikan tugasnya, apakah kepemimpinan dibutuhkan? Mengapa kepemimpinan dibutuhkan, jika manajemen akan menyelesaikan tugas dan tanggungjawab kita sebagai professional. Jawabanya kembali kepada hakikat hidup manusia sebagai individu yang terbatas. Sebagai makhluk hidup di dunia ini, manuasia terbatas oleh ruang dan waktu. Oleh karena itu, maka seorang manajer dalam menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya yang begitu besar sering kali tidak mampu diselesaikan sendiri, manusia membutuhkan manusia lain sebagai penolong. Dalam konteks inilah kepemimpinan dibutuhkan. Kepemimpinan dibutuhkan seorang manajer untuk menggerakkan orang lain supaya turut serta membantu dan mneyelesaikan tugas dan tanggungjawab sang pemimpin. Makin tinggi jabatan seseorang, maka makin banyak orang yang

akan terlibat dalam penyelesaian tugasnya, maka makin tinggi pula kualitas kepemimpinan yang diperlukan. Jika manajemen menurut Warren Bennis adalah do the things right, maka selanjutnya Warren Bennis mengatakan bahwa kepemimpinan adalah do the right thing. Secara sederhana dapat kita katakan bahwa kepemimpinan adalah soal melaksanakan sesuatu dengan benar. Kebenaran yang hakiki melekat kepada kepemimpinan, kebenaran secara ilmu pengetahuan, kebenaran secara etika, keberanan secara moral, kebenaran secara hukum, kebenaran secara estetika, kebenaran secara sosial, kebenaran secara kebudayaan, kebenaran secara meyeluruh. Di sini terdapat perbedaan mendasar antara manajemen dan kepemimpinan. Jika manajamen bicara soal penyelesaian tugas, maka obyek dari manajemen adalah pekerjaan (task), sedangkan kepemimpinan bicara soal kebenaran dalam melaksanakan tugas, sehingga obyek dari kepemimpinan adalah orang (people) yang menjadi penentu kebenaran pelaksanaan tugas. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan dan manajemen adalah dua hal yang berbeda namun saling melengkapi. Dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan yang berimbang maka seorang professional mampu meyelesaikan pekerjaannya dengan tuntas melalui orang lain (get things done through other people). Semakin tinggi jabatan dan tanggungjawab seorang professional, maka semakin tinggi pula level kepemimpinan yang perlu dia laksakan. Secara sederhana, John P. Kotter mengatakan bahwa tugas pemimpin adalah merumuskan visi (dan misi) lalu menuangkannya ke dalam strategi (uraian bagaimana mencapai visi dan misi), lalu manajer melanjutkannya dengan membuat strategi tadi menjadi terlaksana dalam kegiatan operasional yang terencana, terorganisir, terkendali, dan terukur. Manajemen juga bicara tentang persiapan sumberdaya yang dibutuhkan.

Gambar Hubungan Kepemimpinan dan Manajemen Sumber : Leading Change, John P. Kotter
Penulis : DR. Martinus Tukiran, ST.,MT.

Implementasi Performance Management Dashboard


Dalam lingkungan yang kompetitif dan semakin kompleks seperti saat ini maka implementasi strategi menjadi sangat menantang. Adalah merupakan hal yang niscaya bahwa saat ini organisasi baik yang bersifat profit maupun non profit harus dapat mengelola dan mengimplementasikan strategi secara efektif dan sistematis. Manajemen pada level senior seringkali menemukan tantangan bagaimana menurunkan strategi level korporasi menjadi level operasional dan bahkan sampai dengan level individu, secara jelas dan terkoordinasi dengan baik. Dalm hal ini maka kita perlu menggunakan alat bantu sebuah software yang didesain untuk memudahkan manajemen agar mempunyai kejelasan dalam mengartikulasikan dan mengimplementasikan strategi. Software tersebut sering dikenal sebagai performance

management dashboard. Sering disebut dahsboard karena software tersebut mampu menampilkan indikator kinerja seperti halnya kita melihat "dashboard" mobil. Di dalam dashboard mobil maka kita bisa mengetahui kondisi mobil saat ini, seperti berapa kecepatan mobil, berapa liter bahan bakar yang masih ada, konsumsi rata-rata bbm per km, oli mesin, rpm dan lain sebagainya.

Seperti kita tahu bahwa dalam implementasi strategi, kita harus bisa mengukur keberhasilan strategi menggunakan indikator kinerja dan tentunya upaya yang harus dilakukan untuk dapat mencapai kinerja yang sering disebut dengan inisiatif strategis atau program kerja. Tentunya untuk dapat menilai kondisi kinerja organisasi atau perusahaan maka software tersebut harus mampu menampilkan indikator-indikator kinerja penting yang tersusun secara sistematis baik pada level strategis melalui key performance indikator ataupun pada level operasional yang menunjukkan apakah strategi inisiatif ataupun program kerja yang harus dilakukan untuk bisa mewujudkan suatu kinerja yang baik telah dilakukan ? Melalui software dashboard ini, kita bisa melihat kinerja perusahaan kita dengan otomatis dan real time seperti berapa tingkat penjualan di setiap wilayah pada bulan ini, berapa jumlah transaksi per pelanggan, berapa tingkat caat produk, berapa pangsa pasar masing-masing produk, berapa jumlah jam pelatihan per karyawan telah dilakukan dan lain sebagainya. Penerapan performance management dashboard memiliki arti yang sangat penting karena dalam implementasi strategi, tahapan paling penting yang harus dilakukan adalah pencatatan data indikator kinerja utama (IKU). Seringkali kita sudah mendesain IKU sedemikian baik, namun kemudian proses pemantauan IKU menjadi tidak berjalan dengan baik karena tidak didukung dengan suatu sistem pelaporan yang baik dan sistematis. Dengan adanya software performance dashboard ini, kita akan sangat terbantu dalam proses pemantauan data-data pencapaian kinerja organisasi ataupun perusahaan.

Apabila hal ini dilakukan secara manual maka dapat dipastikan dalam era saat ini yang begitu kompetitif dan perubahan lingkungan industri yang berlangsung dengan cepat maka hal ini akan banyak membuang banyak waktu hanya untuk mengetahui kondisi dan fakta strategis per hari ini. Otomatisasi melalui performance management dashboard akan membantu manajemen dalam mengambil keputusan penting berbasis fakta dan kondisi mutakhir sehingga diharapkan keputusan yang diambil akan semakin akurat. Kemudian proses kerja dalam mengumpulkan dan menampilkan data strategis maupun operasional menjadi jauh lebih efisien. Akhirnya mengelola kinerja perusahaan ataupun organisasi secara sistematis dan terukur merupakan salah satu prioritas penting yang harus dilakukan manajemen puncak untuk bisa membawa organisasi ataupun perusahaan meraih keunggulan kompetitif melalui keputusan yang tepat dan akurat dengan dibantu oleh implementasi software performance management dashboard.
Penulis : DR. (Cand) Fahmi Samsul Huda, SE., MM.

Workshop Manajemen Perubahan di BPOM


Sebagai salah satu lembaga Negara yang ingin semakin diakui kredibilitasnya secara internasional, BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) telah menetapkan akan melaksanakan manajemen perubahan melalui pendekatan Learning Organization. Hal ini dilakukan sesuai dengan reformasi birokrasi dalam rangka meningkatkan kinerja organisasi dan pelayanan kepada masyarakat. Tepatnya pada tanggal 2 dan 3 Oktober 2013 Magna Transforma Consulting Group telah dipercayakan untuk mengadakan Workshop di Balai POM Jayapura dengan pembicara Dr. Matinus Tukiran untuk membawakan materi mengenai Manajemen Perubahan. Workshop diadakan untuk menanamkan konsep Manajemen Perubahan dan konteks Learning Organization dalam penerapan Manajemen Perubahan. Membangun organisasi pembelajar (Learning Organization) merupakan salah satu misi dari BPOM dimana hal ini adalah wujud pelaksanaaan Visi, Misi, dan Reformasi Birokrasi BPOM Jayapura. Hal ini juga telah menjadi salah satu komitmen dari BPOM mengingat reformasi birokrasi juga sangat penting bagi lembaga kementrian. Sebanyak 60 peserta mengikuti workshop ini dengan sangat antusias dan bersemangat selama 2 hari penuh. Dr. Martinus Tukiran, pembicara sekaligus konsultan manajemen juga memberikan materi- materi workshop yang sangat berkaitan dengan manajemen perubahan dan konsep Learning Organization, disertai dengan diskusi pembahasan, games dan simulasi yang membuat materi mudah dicerna dan dipahami oleh semua peserta. Beberapa materi yang diberikan antara lain seperti ; Tahapan transisi dalam perubahan, Komunikasi dan koneksi, mengelola penolakan, mengelola tim perubahan, menciptakan agen perubahan, Konsep Learning Organization BPOM & tahapan penerapan Learning Organization, pembentukan Forum Learning Organization, serta langkah-langkah melaksanakan Forum Learning Organization. Konsep Learning Organization sangat dibutuhkan dalam organisasi sebagai sarana untuk meningkatkan dan mempertahankan daya saing organisasi (Competitive Edge) atau bahkan memenangkan persaingan bisnis. Dengan diterapkannya Learning Organization, perusahaan akan mampu memproduksi dan mengembangkan pemikiran yang unik dan inovatif. Masukan, koreksi dan perbaikan dalam manajemen perusahaan akan terjadi baik secara internal maupun eksternal yang kemudian tentunya mendatangkan keuntungan bagi manajemen perusahaan seperti mendukung karyawan untuk menerima perubahan serta adanya perbaikan kinerja secara individu, kelompok maupun perusahaan, bahkan dapat membantu para decision maker untuk mengambil keputusan secara lebih kreatif dan efektif. Sedangkan Reformasi Birokrasi adalah peraturan pemerintah yang baru saja diresmikan dan telah tercantum dalam Peraturan Pemerintah nomor 81 tahun 2010 dimana pemerintah Republik Indonesia telah menyatakan bahwa dalam rangka mempercepat tercapainya tata kelola pemerintahan yang baik maka perlu diadakan reformasi birokrasi dalam seluruh kementrian/ lembaga/ pemerintah daerah. Dengan terlaksananya reformasi birokrasi diharapkan dapat melahirkan SDM yang berkualitas dan pelayanan publik yang lebih baik. Oleh sebab itulah, BPOM sebagai lembaga Negara dengan serius menanggapi hal ini dan bekerjasama dengan PT. Magna Transforma Consulting Group untuk mewujudkan reformasi birokrasi.

Peta Proses Bisnis dan SOP


Pemetaan proses adalah visualisasi dari rangkaian seluruh aktivitas dari suatu organisasi, yang mendemonstrasikan bagaimana pekerjaan di dalam organisasi tersebut dilakukan, sehingga menjadikan pekerjaan tergambar dengan jelas/eksplisit (Robert Damelio, 1996). Dengan pemetaan proses sebuah organisasi memiliki dokumentasi mengenai pekerjaan yang dilakukan, sehingga memungkinkan untuk menganalisa pekerjaan yang telah dilakukan bagi peningkatan kepuasan pelanggan melalui identifikasi terhadap pengurangan waktu proses, mengurangi produk defect, mereduksi biaya, mereduksi tahapan proses yang tidak menghasilkan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan memudahkan pengukuran performansi. Penggunaan peta proses lainnya adalah : Sebagai alat evaluasi atau alternatif untuk mengorganisasikan sumber daya manusia dan pekerjaan di dalam organisasi Untuk mengidentifikasikan peluang improvement Untuk melakukan evaluasi dan memperketat pengukuran performansi Proses secara sederhana dapat didefinisikan sebagai rangkaian aktivitas yang merubah input menjadi output yang bernilai tambah. Sebagai contoh sebuah meja adalah ouput yang bernilai tambah karena dapat dipakai untuk berbagai kepentingan mulai dari meletakkan barang, menulis, untuk rapat, dll. Meja sebagai output yang bernilai tambah dihasilkan melalui suatu proses pembuatan meja, yang dimulai dari pohon sebagai input bahan baku, ditebang, dibelah menjadi papan, diukur sesuai dengan design, dipotong sesuai ukuran, dihaluskan, diberiwarna, dan dirangkai sehingga menjadi satu meja yang utuh. Serangkaian kegiatan yang dilakukan itulah disebut dengan proses. Dalam organisasi satu rangkaian input-process-output yang satu bersambung kepada rangkaian input-process-output yang lainnya sehingga membentuk bisnis proses. Gambar berikut menunjukkan interaksi antar proses yang terjadi dalam satu organisasi;

Gambar Interksi Proses yang Membentuk Proses Bisnis Untuk dapat membangun pemetaan proses yang representatif, maka diperlukan pengetahuan dan pemahaman mengenai proses yang akan dipetakan. Berikut ini merupakan hierarki proses, yang akan menjelaskan mengenai proses dan komponen-komponen yang membangunnya (David Hoyle, 1998).

Gambar Hierarki Proses Keterangan: Proses merupakan rangkaian aktivitas logis yang saling berhubungan dan berkesinambungan dalam mengolah keluaran dari supplier, memberi nilai tambah, dan menjadikannya keluaran bagi customer. Sub proses adalah bagian dari proses yang memiliki tujuan spesifik dalam mendukung major process. Sub proses merupakan bagian dari proses, bila major process terlalu kompleks.

Task merupakan gabungan aktivitas yang ditujukan untuk tujuan minor dalam sebuah organisasi. Task adalah pekerjaan di dalam work process yang harus dilakukan. Aktivitas merupakan bagian terkecil dari pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu task. Dalam pemetaan proses dapat kita mulai dengan menggambarkan seluruh aktifitas yang terjadi dalam suatu organisasi menjadi kelompok besar aktivitas yang kita sebut sebagai peta proses bisnis. Dari peta proses bisnis ini kemudian dapat didetailkan menjadi sub peta proses bisnis dan kemudian menjadi SOP dan intruksi kerja seperti yang dijelaskan dalam gambar berikut ini;

Gambar Sistematika Peta Proses Bisnis Perlu diingat dokumen SOP adalah dokumen yang mengatur tata cara bagaimana suatu proses diselesaikan dengan tuntas dalam memberikan nilai tambah terhadap outputnya. Maka suatu dokumen SOP berisikan norma dan kriteria yang menjelaskan bagaimana, siapa, dan hasil apa yang diwujudkan dalam rangkaian aktifitas tersebut yang melibatkan lintas fungsi dalam organisasi. Oleh karena itu sebelum menuliskan SOP, ada baiknya kita menggambarkan peta lintas fungsi (cross functional map). Cross functional map merupakan peta yang menggambarkan hubungan antar fungsi dengan urutan aktivitas dalam menyelesaikan proses tertentu. Untuk dapat memastikan siapa saja pelaku yang terlibat dalam satu kelompok proses perlu diidentifikasikan lebih dahulu dalam peta hubungan (relationship map). Relationship Map merupakan peta yang menggambarkan hubungan masukan-keluaran (supplier - customer) antar bagian di dalam sebuah organisasi, baik itu antar fungsi, departemen, atau divisi. Informasi yang didapat dari Relationship Map antara lain: Apa yang dihasilkan oleh organisasi terkait (produk dan service) Bagaimana alur pekerjaan yang melewati batasan fungsional (pekerjaan lintas fungsi)

Hubungan supplier-customer baik internal maupun eksternal yang digunakan untuk menyediakan atau menerima produk dan layanan. Secara utuh, peta proses yang lengkap dapat dijelaskan seperti gambar dibawah ini;

Gambar Peta Proses yang Lengkap Keterangan: Business Process Map & Sub Business Process Map merupakan hubungan keterkaitan antara proses dengan proses. Relationship Map merupakan hubungan keterkaitan antara proses dengan pelaku. Cross Functional Map merupakan hubungan keterkaitan antara pelaku dengan aktifitas. Dengan demikian, penyusunan SOP memerlukan pemetaan proses atau business process mapping dimana hal tersebut merupakan visualisasi dari suatu organisasi, yang mendemonstrasikan bagaimana pekerjaan di dalam organisasi tersebut dilakukan, sehingga menjadikan pekerjaan tergambar dengan jelas/eksplisit (Robert Damelio, 1996). Dengan pemetaan proses sebuah organisasi memiliki dokumentasi mengenai pekerjaan yang dilakukan, sehingga memungkinkan untuk menganalisa pekerjaan yang telah dilakukan bagi peningkatan kepuasan pelanggan melalui identifikasi terhadap pengurangan waktu proses, mereduksi tahapan proses yang tidak menghasilkan nilai tambah, meningkatkan produktivitas, dan memudahkan pengukuran kinerja. Penggunaan peta proses lainnya antara lain: Sebagai alat evaluasi atau alternatif untuk mengorganisasikan sumber daya manusia dan pekerjaan di dalam sebuah organisasi. Untuk mengidentifikasikan peluang improvement. Untuk melakukan evaluasi dan memperketat pengukuran kinerja.

Untuk dapat membangun pemetaan proses yang representatif, maka diperlukan metodologi yang sistematis dan terstruktur untuk mempermudah pemahaman dan pengembangan proses yang akan dipetakan. Berikut ini merupakan kerangka pengembangan proses, yang akan menjelaskan mengenai proses dan komponen-komponen yang membangunnya.

Gambar Kerangka Pengembangan Proses Keterangan: Proses merupakan serangkaian aktivitas logis yang saling berhubungan dan berkesinambungan dalam mengolah input, memberikan nilai tambah, dan menjadikannya output. Sub-proses adalah bagian dari proses yang memiliki tujuan spesifik dalam mendukung major process. Sub proses merupakan bagian dari proses, bila major process terlalu kompleks. Tugas merupakan gabungan aktivitas yang ditujukan untuk tujuan minor dalam sebuah organisasi. Tugas adalah pekerjaan di dalam work process yang harus dilakukan. Aktivitas merupakan langkah-langkah detail dari pekerjaan yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu tugas.
Penulis : DR. Martinus Tukiran, ST.,MT.

Value Added Creation


Terjadi perubahan yang nyata dalam kehidupan sehari-hari saat ini, di mana produk-produk yang dipilih oleh konsumen adalah produk yang murah namun dengan kualitas yang lumayan. Maka

tidak heran pasar segala macam produk di pasar dipenuhi oleh produk Cina yang terkenal dengan harga murah. Jika kita perhatikan dengan seksama, maka prinsip konsumen dalam memilih produk sebenarnya tidaklah berubah. Konsumen dari jaman ke jaman selalu berpegang pada nilai tambah yang diperoleh. Apakah nilai tambah itu? Secara praktis dapat kita katakana nilai tambah adalah quality over the price (kulitas barang dibandingkan dengan harganya). Secara lebih luas dapat kita katakan bahwa nilai tambah adalah manfaat yang dirasakan oleh konsumen dibandingkan dengan pengorbanan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan nilai tambah tersebut. Manfaat dapat dilihat dari manfaat fungsional, manfaat psikologis, manfaat sosial, dsb. Sedangkan pengorbanan juga dapat dilihat sebagai pengorbanan waktu, pengorbanan uang, pengorbanan psikologis, dst.

Makin besar manfaat yang dipersepsikan oleh konsumen dibandingkan dengan persepsi terhadap pengorbanan yang dilakukannnya, maka makin besar nilai tambah yang dirasakan. Persaingan bisnis saat ini sebenarnya adalah persaingan terhadap nilai tambah. Bagaimana produsen selalu berusaha meningkatkan manfaat dari produk yang dihasilkannya dan pada waktu yang sama juga mengurangi pengorbanan yang akan dirasakan oleh konsumen dengan menggunakan produk ini. Inilah yang disebut dengan inovasi. Perusahan dari waktu ke waktu melakukan inovasi, yaitu menghasilkan nilai tambah terhadap produk yang dihasilkannya relative terhadap produk competitor. Jadi jelas persaingan bisnis adalah persaingan nilai tambah. Perusahaan akan menguasai pasa, jika perusahaan secara konsisten melakukan inavasi menciptakan nilai tambah. Para pelaku pemasaran juga melakukan promosi dan publikasi terhadap nilai tambah, yaitu mengkomunikasikan pesan-pesan yang akan membentuk persepsi masyarakat terhadap nilai tambah yang akan dirasakan jika menggunakan produk yang dipromosikan. Marketing pada

dasarnya adalah mengkomunikasikan nilai tambah kepada masyarakat terhadap nilai tambah produk yang dijual. Persepsi masyarakat terhadap produk yang dipromosikan inilah yang menjadi moment of truth (kontak momen kritis), yaitu harapan pelanggan yang akan dibandingkan terhadap pengalaman nyata pelanggan dalam menggunakan produk tersebut. Jika pelanggan merasa setuju dengan nilai tambah yang dipersepsikannya, maka pelanggan merasa puas. Sebaliknya jika pelanggan merasa persepsinya berbanding terbalik dengan pengalaman menggunakan produk, maka hasilnya adalah tidak puas. Nilai tambah ini perlu dirancang oleh perusahaan sebagai value proposition (nilai yang ditawarkan). Perusahaan perlu melakukan upaya yang terencana, terkendali, dan terukur dalam upaya penciptaan nilai tambah ini. Bagaimana menghasilkan nilai tambah dalam perusahaan? Bagaimana merancang proses Utama dan proses pendukung di dalam perusahaan untuk mendukung penciptaan nilai tambah tersebut? Bagaimana melibatkan pihak supplier dalam mendukung proses di dalam perusahaan untuk menghasilkan nilai tambah? Bagaimana menghitung dan menyiapkan sumber daya, termasuk waktu, uang, dan tenaga ahli yang dapat mewujudkan nilai tambah yang dirancang? Bagaimana dampak terhadap pelanggan, dampak terhadap keuangan perusahaan, dampak terhadap persepsi produkyang dihasilkan? Maka disinilah perlunya perumusan model bisnis dan strategi untuk mewujudkannya.
Penulis : DR. Martinus Tukiran, ST., MT.

Modal Seorang Pemimpin


Secara sederhana dapat kita katakan bahwa kepemimpinan adalah seni untuk menggerakkan orang lain. Kepemimpinan disebut seni karena kepemimpinan bersifat subyektif kualitatif. Cara memimpin, gaya memimpin, gaya berkomunikasi, karakter dan kepribadian, dsb berbeda antara seorang pemimpin dan pemimpin lainnya.
Warren Bennis mengatakan bahwa kepemimpinan adalah do the right thing, bahwa kepemimpinan adalah soal melaksanakan sesuatu dengan benar. Kebenaran yang hakiki melekat kepada kepemimpinan, kebenaran secara ilmu pengetahuan, kebenaran secara etika, keberanan secara moral, kebenaran secara hukum, kebenaran secara estetika, kebenaran secara sosial, kebenaran secara kebudayaan, kebenaran secara meyeluruh.

Kepemimpinan merupakan hal yang mampu membangkitkan dorongan dari dalam diri seseorang untuk melaksanakan sesuatu. Secara umum menggerakkan orang lain untuk melakukan sesuatu dapat dilakukan dengan dua cara yaitu; pertama adalah dengan perintah (by order), yang dilakukan oleh seseorang yang memiliki wewenang yang didapat dari mandat suatu organisasi yang diberikan kepadanya melalui suatu mekanisme tertentu. Melalui wewenang ini maka seseorang memiliki kuasa formal utk memerintahkan orang lain untuk melaksanakan sesuatu. Cara lain menggerakkan orang adalah dengan pengaruh (by influence), yang dilakukan seseorang dengan membangun kesadaran dan keinginan dari dalam diri mereka sehingga secara suka rela seseorang mau melakukan sesuatu.

Baik melalui perintah maupun melalui pengaruh sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tabel berikut menjelaskan kelebihan dan kekurangan masingmasing cara menggerakkan orang lain. Tabel Kekuatan dan Kelemahan Cara Menggerakkan Orang Lain

Dengan perintah, eksekusi yang akan dilakukan orang lain akan lebih cepat dilaksanakan, hal ini dikarenakan perintah diberikan dari seseorang yang memiliki kewenangan, dan pelaksana perintah semata-mata menjalankan perintah tersebut atas dasar tunduk kepada norma yang ada, bahwa perintah yang tidak dijalankan akan berdampak pada konsekuensi negatif terhadap dirinya. Penggunaan cara perintah dalam mengerakkan orang lain jika dilakukan oleh seorang pemimpin secara terus menerus dan dalam waktu lama akan berakibat bahwa perintah adalah satu-satunya instumen menggerakkan orang lain sehingga dampak yang timbul adalah tidak ada perintah maka tidak ada eksekusi (perintah bersifat sementara). Keberadaan secara fisik pemimpin di tempat mutlak diperlukan, karena hal intulah yang menjamin perintah akan dilaksanakan. Orang lain yang menjalankan perintah hanya akan pasif dan reaktif terhadap perintah saja. Dalam situasi kepemimpinan semacam ini hampir mustahil mengharapkan kesadaran dan kreatifitas dari tim yang dipimpin. Perintah perlu digunakan, namun perlu dikombinasikan dengan cara pengaruh, dimana dengan cara pengaruh pada dasarnya seseorang pemimpin membangun kesadaran dalam diri orang lain melalui hubungan yang positif sehingga seseorang akan melaksanakan sesuatu dalam waktu yang lama (permanen). Kehadiran pemimpin secara fisik tidak dibutuhkan, karena secara sadar dan iklas seseorang secara sukarela akan menjalankan arahan yang diinginkan oleh pemimpin. Satu-satunya kelemahan dalam menggerakkan orang lain melalui cara pengaruh adalah dibutuhkannya waktu yang lebih lama dalam membangun hubungan dan pengaruh tersebut. Dengan demikian kedua cara ini perlu dilakukan untuk menghasilkan resultan yang produktif, dimana cara perintah kita butuhkan untuk mendapatkan eksekusi yang cepat dan cara pengaruh kita butuhkan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan terjadi dalam jangka panjang (permanen). Seperti layaknya bermain layang-layang, kita tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur, sehingga layang-lanyang akan terbang tinggi di udara. Kemampuan untuk tahu kapan harus memberi perintah dan kapan harus membangun relasi untuk mendapat kan pengaruh adalah suatu seni. Maka kepemimpinan dikategorikan sebagai seni (memerintah dan mempengaruhi) orang lain untuk melaksanakan apa yang kita inginkan. Kepemimpinan disebut seni karena kepemimpinan bersifat subyektif kualitatif. Cara memimpin, gaya memimpin, gaya berkomunikasi, karakter dan kepribadian, dsb berbeda antara seorang pemimpin dan pemimpin lainnya.

Apa yang menjadi modal dasar seorang pemimpin untuk mampu menggerakkan orang lain? Dari survey yang dilakukan oleh Kouzes & Posner, ternyata modal seorang pemimpin bukan karena kemampuan strategi, atau kemampuan komunikasi, atau kemampuan teknis lainnya. Modal dasar dari kepemimpinan adalah hati yang tulus (honesty). Tabel Hasil Survey atas Karakteristik Pemimpin Ideal Sumber: Kouzes & Posner, 2002

Penulis : DR. Martinus Tukiran, ST., MT.