Anda di halaman 1dari 6

Terjemah Jurnal Oleh : Exma Mutatal Hikmah (10620098)

Biologi C 2010

Jurnal Urologi Vol 4 No 3 Tahun 2007 Disfungsi Seksual dan Infertilitas :

Pengaruh Asap Rokok Terhadap Spermatogenesis pada Tikus


Hassan Ahmadnia1, Mohsen Ghanbari1, Mohammad Reza Moradi2, Mohammad Khaje-Dalouee3 1 Department of Urology, Ghaem Hospital, Mashhad University of Medical Sciences, Mashhad, Iran 2 Department of Urology, Kermanshah University of Medical Sciences, Kermanshah, Iran 3 Department of Community Medicine, Mashhad University of Medical Sciences, Mashhad, Iran Corresponding author: Mohsen Ghanbari, MD . Deputy of Education, Mashhad University of Medical Sciences, Daneshgah St, Mashhad, Iran Tel: +98 511 843 3999 Fax: +98 511 843 6828 E-mail: mohsen_ghanbarius@yahoo.com Received February 2007 Accepted July 2007 Pendahuluan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh spermatogenesis pada tikus yang terpapar asap rokok. Bahan dan Metode: Tiga puluh tikus dewasa pria dibagi menjadi 2 kelompok kasus dan kontrol. Sebuah alat dibuat khusus untuk penelitian ini digunakan untuk menimbulkan asap dari sebatang rokok yang umum digunakan dan memberi asap untuk tikus. Tikus-tikus pada kelompok kasus terpapar asap rokok selama 10 minggu (masing-masing setiap hari 90 menit selama 6 hari). Tikus-tikus pada kelompok kontrol adalah yang ditaruh di udara segar Hasil: Pengembangan sperma yang sedikit berkurang masing masing pada kelompok tikus kontrol 14 (93,3%) dan 4 (26,7%) dalam tikus kelompok kasus (P <.001). Rata rata diameter tubulus seminiferus masing-masing menjadi 0,421 0,097 mm dan 0,493 0,026 mm untuk tikus kelompok kontrol dan kasus, (P = 0,04). Itu berarti jumlah sel Sertoli adalah masing-masing 9,2 1,2 dan 13,3 1,8 untuk tikus kelompok kontrol dan kasus, (P <.001). Di tikus-tikus dari kelompok kasus terlihat penurunan bersamaan pada jumlah sel germ dan sel Leydig dengan penurunan jumlah sel Sertoli. Kesimpulan: Asap rokok memiliki efek yang jelas baik pada spermatogenesis serta histologis tikus yang mungkin disebabkan oleh zat beracun dalam rokok karena hipoksemia
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang Page 1

proses

Terjemah Jurnal Oleh : Exma Mutatal Hikmah (10620098)

Biologi C 2010

disebabkan oleh reaksi asap. Diperlukan penelitian lebih lanjut, terutama pada manusia, potensi dampak merokok terhadap kesuburan laki laki harus diperhatikan terutama pada perhatian masyarakat umum terhadap kesehatan Kata kunci: merokok, spermatogenesis, hewan coba, tikus, tubulus seminiferus , sel Sertoli PENDAHULUAN Merokok dan komplikasinya adalah masalah sosial dan kesehatan yang paling penting di semua negara. Pengaruh dari asap rokok pada sistem urogenital sangat penting terutama dalam masyarakat pemuda. Banyak penelitian telah dilakukan pada rokok dan yang merusak efek pada bagian dari sistem tubuh dan reproduksi hewan dan manusia. Dalam penelitian, metode yang berbeda dari eksposur untuk merokok, model binatang, dan periode paparan telah diberi pengaruh, yang hasilnya menunjukkan bahwa terjadi apoptosis berupa pengurangan sel, pertambahan jumlah sel kuman dalam epitel testis, disfungsi sel germ mitokondria, dan kenaikan radikal bebas dalam oksigen. Karena terkait etika, uji klinis tidak dapat dilakukan pada manusia. Jadi, diberi pengaruh potensi risiko dan komplikasi rokok pada proses spermatogenesis pada hewan coba. Karena kemiripan jaringan testis antara manusia dan tikus, digunakan tikus pada penelitian ini.

BAHAN DAN METODE Sebanyak 30 tikus jantan dari ras Sprague dengan usia rata-rata 10 minggu secara acak dibagi menjadi 2 kelompok : kasus dan kontrol. Rokok yang diberikan adalah filter rokok dengan rata rata produksi asap dan harga umum yang digunakan di Iran. Untuk mencapai asap yang sesuai dengan tujuan, sebuah perangkat khusus dirancang yang memiliki kemampuan untuk menjaga tikus selama 2 jam yang sangat mirip dengan situasi yang disebabkan oleh rokok manusia. Perangkat itu memiliki VP800 vakum hisap dengan silinder perisai 200-mL untuk kondensasi dari asap, kotak kaca dalam sebuah kubus bentuk (bentuk akuarium) dengan ukuran 30 40 80 cm untuk menjaga tikus, dan tutup atas akuarium berbentuk kotak untuk menjaga pengaruh ekstra dari lingkungan (Gambar 1). Pertama, tikus pada kelompok kasus dimasukkan dalam kotak, dan setelah sistem menutup, rokok dan hisap itu menyala itu dihidupkan bersamaan. Setiap proses rokok berlangsung selam 15 menit membuat asap dan mempengaruhi asap untuk tikus selama 10 menit (1 menit, kondensasi asap dan 9 menit paparan asap) lalu, 5 menit istirahat dengan membuka ventilasi akuarium berbentuk kotak dan memutar hood. Operasi 15 menit ini diulang 10 kali sehari dengan total dari 2,5 jam, menghasilkan 90 menit terpapar rokok. Sejak periode kematangan
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang Page 2

Terjemah Jurnal Oleh : Exma Mutatal Hikmah (10620098)

Biologi C 2010

lengkap dari sperma adalah sekitar 52 hari pada tikus, waktu untuk asap paparan dipilih menjadi 10 minggu. Setiap minggu, para tikus yang terpapar asap selama 6 hari per hari adalah 1,5 jam. Oleh karena itu, tikus pada kelompok kasus terkena asap dari sejumlah total 600 rokok. Selama masa penelitian, 15 tikus dalam kelompok kontrol dipertahankan di tempat yang sama tetapi terkena ruang udara. Setelah 10 minggu, tikus dalam dua kelompok yang terbius oleh kloroform dan kemudian dimatikan. Jaringan testis itu kemudian dipotong, tetap dalam formalin 10%, dan diwarnai dengan Hematoksilin-eosin. Dua spesimen diambil dari setiap tikus, masing-masing diambil dari salah satu testis, kemudian dilakukan pemeriksaan histopatologi. Pengembangan spermatogenesis diklasifikasikan menjadi "normal," "Sedikit berkurang," "sangat berkurang," dan "tidak spermatogenesis " (Tabel 1). Selain itu, rata-rata diameter tubulus seminiferus di mikroskopis diperbesar menjadi 400, rata-rata jumlah sel Sertoli dalam 1 daya tinggi lapangan (HPF), dan indeks dari Sel Leydig dan sel-sel germ dihitung sebagai berikut : Indeks sel Leydig = sel Leydig per HPF / sel Sertoli per HPF Indeks sel germinal = sel germinal per HPF / sel Sertoli per HPF

Gambar 1. Perangkat merokok yang dibuat untuk mensimulasikan paparan asap rokok untuk tikus. Kiri : Sebelum paparan merokok. Kanan : Paparan merokok

Tabel 1 : Klasifikasi Patologi Spermatogenesis Kelas Normal Sedikit berkurang Tahapan Spermatogenesis lengkap dan tubulus seminiferus yang normal Sperma yang normal tetapi jumlah spermatogenesis tidak teratur Hanya sedikit sperma Sangat berkurang Tidak ada spermatozoa tetapi spermatid melimpah Beberapa spermatid
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang Page 3

Terjemah Jurnal Oleh : Exma Mutatal Hikmah (10620098)

Biologi C 2010

Tidak ada spermatozoa atau spermatid tapi spermatosit melimpah Beberapa spermatosit Tidak ada Spermatogenesis Hanya spermatogonium Tidak ada sel germinal tetapi sel Sertoli Tidak ada sel germinal atau sel sertoli

Analisis data dilakukan dengan perangkat lunak SPSS versi 11,5 (SPSS Inc, Chicago, Ill, USA). Chi-square test dan uji Mann-Whitney masing masing digunakan untuk perbandingan status spermatogenesis dan diameter tubulus seminiferus. Penjumlahan sel Sertoli berarti dalam mikroskopis lapangan dilakukan dengan uji t, karena distribusi variabel normal. Nilai P kurang dari 0,05 di anggap signifikan. HASIL Diketahui perbedaan yang signifikan antara kelompok kasus dan kontrol mengenai efek asap rokok pada proses spermatogenesis (P <.001) (Tabel 2).

Tabel 2 : Perkembangan Spermatogenesis di tikus kelompok Kasus dan Kontrol* Spermatogenesis Normal Sedikit berkurang Sangat berkurang Spermatogenesis Tidak ada Kelompok Kasus 1 (6.7) 14 (93.3) 0 0 Kelompok Kontrol 11 (73.3) 4 (26.7) 0 0

* Nilai dalam kurung adalah persen. Kedua kelompok berbeda nyata (P <.001). Rata rata diameter tubulus seminiferus untuk masing-masing kelompok kontrol dan kasus adalah 0,421 0,097 mm dan 0,493 0,026 mm, (P = 0,04; Angka 2 dan 3). Rata rata jumlah sel Sertoli adalah 9,2 1,2 dan 13,3 1,8 (P <.001). Tidak ditemukan perbedaan antara kedua kelompok dalam indeks dari sel-sel Leydig dan sel-sel germ, karena pengurangan jumlah sel germ dan sel Leydig bersamaan dengan penurunan jumlah Sertoli sel pada tikus dari kelompok kasus.

PEMBAHASAN Beberapa penelitian telah dilakukan pada bahaya efek dari merokok pada sistem genital manusia dan tikus. Juga, seperti yang disebutkan sebelumnya telah dibuktikan hubungan antara merokok dan penyakit jantung, penyakit paru-paru, dan kanker. Di 2 studi
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang Page 4

Terjemah Jurnal Oleh : Exma Mutatal Hikmah (10620098)

Biologi C 2010

yang dilakukan oleh Rajpurkar dan rekannya, selama periode 15 -, 30 -, dan 45-hari, efek merokok dievaluasi pada morfometrik perubahan dari jaringan testis dan menunjukkan pengurangan jumlah sel germinal, penurunan ketinggian epitel germinal, diameter tubulus, dan diinduksi apoptosis pada sel-sel kelamin dari testis. Sebagian besar hasil mereka telah dicapai dalam penelitian ini juga, tetapi kami menggunakan periode seminggu 10- untuk menutup fase spermatogenesis semua dalam tikus (52 hari), sehingga kita mampu mengevaluasi semua perubahan yang mungkin terjadi selama spermatogenesis yang belum dievaluasi sebelumnya. Faktor yang belum juga dievaluasi adalah diameter tubulus seminiferus, jumlah dan indeks dari Sertoli sel, persentase dan kualitas sel germinal, dan sel Leydig dan jumlah sel germ.

Gambar 2. Jaringan testis dari tikus pada kelompok kontrol. Kiri: sperma berkembang. Kanan : tubulus seminiferus (hematoxylin- eosin, 400).

Gambar 3. Jaringan testis dari tikus pada kelompok kasus. Kiri : Sperma berkembang yang mengaalami kelainan baik dalam sisi jumlah dan kematangan. Kanan : Pengurangan diameter tubulus seminiferus dan jumlah sel Sertoli (hematoxylin-eosin, 400). Dari penelitian ini, dilihat bahwa proses spermatogenesis telah rusak. Selain itu, berarti diameter tubulus seminiferus dan indeks dan jumlah sel Sertoli berkurang yang bisa secara tidak langsung merusak spermatogenesis. Perubahan ini mungkin terjadi karena
Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang Page 5

Terjemah Jurnal Oleh : Exma Mutatal Hikmah (10620098)

Biologi C 2010

adanya zat beracun dalam rokok yang mempengaruhi semua jaringan termasuk testis. Juga, reaksi jaringan akibat hipoksia umum dalam tubuh dapat menjadi faktor lain yang mempunyai pengaruh negatif pada spermatogenesis tikus. Namun, tingkat keparahan dampak asap pada sistem reproduksi sangat tergantung pada jenis, pola penggunaan, dan jumlah rokok yang digunakan. Disebabkan oleh kesamaan metabolisme dari jaringan manusia dan tikus, dapat disimpulkan bahwa asap rokok dapat mempengaruhi proses pembangunan sperma, namun ini perlu lebih penelitian pada manusia. Karena pentingnya kesuburan pada manusia dan tingginya prevalensi merokok di kalangan populasi umum terutama pemuda, perokok harus memperhatikan efek kesuburan yang tidak diinginkan dari merokok.

KESIMPULAN Penelitian ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara merokok dan gangguan pada histologi testis yaitu : mengurangi diameter tubulus seminiferus, dan penurunan jumlah dari sel Sertoli pada tikus. Semua elemen ini secara langsung terkait dengan pengurangan dalam proses pembangunan sperma pada tikus yang dapat digeneralisasi untuk manusia. Namun, studi tentang manusia dijamin dalam hal ini, disebabkan kemiripan jaringan testis antara manusia dan tikus.

Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Maliki Malang

Page 6