Anda di halaman 1dari 7

Psikologi Umum Perkembangan Anak

Sebagai individu, anak tumbuh dan berkembang. Pertumbuhan pada anak merupakan suatu proses perubahan kuantitatif dalam diri individu, misalnya dari kecil menjadi besar. Sedangkan perkembangan merupakan suatu proses perubahan kualitas dalam diri individu. Pertumbuhan maupun perkembangan seseorang berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebut disebabkan oleh banyak faktor yang mempengaruhi timbulnya permasalahan dalam setiap tahap perkembangan dan cara mengendalikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu tugas utama dari seorang pendidik adalah memberi fasilitas dan membantu anak dalam menghadapi masalah dalam setiap tahapan perkembangannya. Tugas-tugas yang diberikan seharusnya dikaitkan dengan kebutuhan, minat, dan gaya belajar anak. Hal yang paling penting adalah penekanan bukan pada hasil belajar, tapi lebih pada proses belajar itu sendiri. Perkembangan fisik awal dan akhir masa anak-anak Pada saat ini, secara luas diketahui bahwa masa kanak-kanak harus dibagi menjadi dua periode yang berbeda. Awal dan akhir masa kanak-kanak. Peride awal berlangsung dari umur dua sampai enam tahun dan periode akhir dari enam sampai tiba saatnya anak matang secara seksual. Dengan demikian awal masa kanak-kanak dimulai sebagai penutup masa bayi usia dimana ketergantungan secara praktis sudah dilewati, diganti dengan tumbuhnya kemandirian dan berakhir disekitar usia masuk sekolah dasar. Ciri-ciri awal masa kanakkanak adalah Salah satu ciri tertentu masa bayi merupakan ciri khas yang membedakannya dengan periode-periode lain dalam rentang kehidupan, demikain pula halnya denagn ciri tertentu dari periode awal masa kanak-kanak. Ciri ini tercermin dalam sebutan yang biasanya diberikan oleh para orang tua (usia mainan), pendidik (usia prasekolah), dan ahli psikologi (usia menjelajah). Awal masa kanak-kanak ditandai oleh moralitas dengan paksaan, dimana anak belajar mematuhi peraturan secara otomatis melalui hukuman dan pujian. Perkembangan fisik pada awal masa kanak-kanak berlangsung lambat dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa bayi. Pertumbuhan awal masa kanak-kanak relatif seimbang meskipun terdapat perbedaan musim, jadi Garis pemisah antara awal masa kanak-kanak dan akhir masa kanak-kanak sangat penting karena dua alasan yaitu: 1. Pemisahan ini khususnya digunakan untuk anak-anak yang yang belum mencapai usia wajib belajar diperlakukan sangat berbeda dari anak yang sudah masuk sekolah.

2.

Garis pemisah antara awal dan akhir masa kanak-kanak pada usia enam tahun itu adalah efek dari faktor-faktor sosial.bukan faktor-faktor fisik.

Kebiasaan fisikologis awal dan akhir masa kanak-kanak Dalam awal masa kanak-kanak kebiasaan fisiologi yang dasarnya sudah diletakan dimasa bayi menjadi semakin baik misalnya tidak perlu lagi disediakan makanan khusus dan anak makan pada waktu-waktu tertentu. Namun nafsu makan anak-anak tidak sebesar pada masa bayi karena ia telah mengembangkan jenis makanan yang disukai dan yang tidak disukai. Pada akhir masa kanak-kanak juga mempunyai tugas perkembangan antara lain : Membangun sikap yang sehat mengenai diri sendiri sebagai mahluk yang sedang tumbuh Mempelajari keterampilan-keterampilan fisik. Dalam keterampilan ini terdapat tiga alasan : 1. Anak sedang mengulang-ulang dan karenanya dengan senang hati mau mengulang suatu aktivitas sampai mereka terampil melakukannya 2. Anak-anak bersifat pemberani sehingga tidak terhambat oleh rasa takut atau rasa malu kalau dirinya mengalami sakit atau diejek teman-temannya, sebagaimana ditakuti anak yang lebih besar. 3. Anak belia mudah dan cepat belajar karena tubuh mereka masih sangat lentur dan keterampilan yang dimiliki baru sedikit sehingga mudah untuk menguasai hal-hal yanga baru Mengembangkan ketarampilan-keterampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung Mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan untuk kehidupan sehari-hari Mengembangkan hati nurani, pengertian moral dan tata krama Mencapai kebebasan diri

Emosi dan sosialisasi awal dan akhir masa kanak-kanak Emosi awal pada masa kanak-kanak merupakan saat ketidak seimbangan karena anakanak keluar dari fokus dalam arti bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledaklan emosional sehingga sulit dibimbing dan diarahkan.

Pada Emosi akhir anak-anak cendrung memiliki tingkat emosi yang tinggi, kebanyakan disebabkan oleh masalah psikologis dari pada masalah fisiologis, biasanya orang tua hanya memperbolehkan anak melakukan beberapa hal, padahal anak merasa mampu melakukan lebih banyak hal dan ia cenderung menolak larangan orang tua. Sosialisasi awal pada masa kanak-kanak dimana anak baru berusia 21 24 bulan mempunyai ciri-cri khusus antara lain : Main bersama dengan teman sebaya, menarik, dan mendorong, melempar meniru Permainan melibatkan interaksi dengan orang yang lebih tua Main dengan teman sebaya Perkembangan sosialisasi akhir pada masa kanak-kanak dimana pada masa akhir ini anak-anak memiliki tiga tingkatan yaitu : A. Sosialisasi Dengan Anggota Keluarga Ketika seseorang memasuki usia akhir masa anak-anak maka biasanya para orang tua mulai memberikam waktunya yang lebih sedikit. Menurut suatu investivigasi tentang banyaknya waktu yang digunakan orang tua bersama anak, maka waktu yang dihabiskan oleh orang tua untuk mengasuh, mengajar, berbicara dan bermain dengan anak-anak yang telah memasuki masa akhir kurang dari setengah waktu yang dihabiskan ketika anak masih lebih kecil (Hill & Stafford, 1980). Pada umumnya anak-anak pada masa akhir, lebih diarahkan dalam mengerjakan tugas-tugas sederhana secara sendiri. Misalnya pekerjaan-pekerjaan membersihkan kamar, membersihkan dapur, dll. Selain dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti itu menyebabkan interaksi dengan orang tua menjadi berkurang. Perubahan-perubahan pada kehidupan orang tua seperti, kedua orang tua yang bekerja, perceraian, single parent, sangat mempengaruhi hakekat interaksi orang tua dengan anak pada masa akhir anak-anak. Ketika tuntutan pengasuhan mulai berkurang biasanya para ibu akan lebih memilih kembali karir atau memulai suatu kegiatan baru. Hal ini menyebabkan waktu yang harusnya lebih diberikan untuk membimbing dan mengasuh anak malah digunakan untuk kegiatan pengembangan karir khususnya bagi para ibu.

B. Sosialisasi Di Sekolah Akhir masa anak-anak sering disebut sebagai usia berkelompok, (gang) karena pada masa ini ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota kelompok di sekolahnya. Ia merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya. Anak tidak lagi puas bermain sendiri di rumah atau dengan saudara kandung atau melakukan kegiatan dengan angota keluarga. Anak ingin bermain bersama teman-teman sekolahnya dan akan merasa kesepian serta tidak puas bila tidak bersama teman-temannya tersebut. Sosialisasi anak di sekolah pada umumnya terjadi atas dasar interest dan aktvitas bersama. Hubungan persahabatan dan hubungan peer group di sekolah bersifat timbal balik dan biasanya diantara sesama anggota kelompok ada saling pengertian, saling membantu, saling percaya dan saling menghargai serta menerima satu sama lain. C. Sosialisasi Dengan Teman Sebaya Selama masa pertengahan dan akhir, biasanya anak lebih banyak meluangkan waktunya dalam berinterkasi dengan teman sebaya. Dalam suatu investivigasi, diketahui bahwa waktu yang digunakan untuk anak-anak berinteraksi dengan teman sebayanya sebanyak 40 persen pertahun (Baker & Wright, 1951). Episode bersama teman sebaya berjumlah 299 hari sekolah. Dalam suatu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui tentang bagaimana aktivitas anak, diketahui bahwa umumnya anak-anak masa akhir melakukan kegiatan olahraga, jalan-jalan, permainan dan sosialisasi yang merupakan kegiatan yang paling sering dilakukan. Pada saat mereka melakukan kegiatan biasanya anggota kelompok terdiri dari teman yang sama jenis kelaminya daripada diantara anak-anak yang berbeda jenis kelaminnya. Pada masa akhir anak-anak mereka telah menjalin persahabatan dengan teman sebaya dan mulai memasuki usia gang, yaitu usaha yang pada saat itu kesadaran sosial berkembang pesat dan telah menjadi pribadi sosial yang merupakan salah salah satu tugas perkembangan yang utama dalam periode ini. Perkembangan kepribadian dan moral awal & akhir masa kanak-kanak Perkembangan kepribadian dan moral pada awal masa kanak-kanak adalah setiap orang tua sangat mendambakan anaknya memiliki kepribadian yang baik dan moral yang baik pula. Oleh karena itu pendidikan tentang kepribadian dan moral diberikan kepada anak

sejak masi dikandungan ibu. Hal ini dapat dibuktikan bahwa adanya pantangan atas perilaku yang dilakukan oleh ibu yang sedang hamil atau mengandung bayi. Perilaku ibu biasanya mengarah hal-hal yang positif menurut tatanan moral yang baik dan kepribadian yang baik. Hal ini merupakan budaya bahkan keyakinan apabila seorang ibu hamil melakukan kepribadian yang baik dan moral yang baik maka akan dapat mempengaruhi moral dan kepribadian bayinya. Dengan kata lain pernyataan ini merupakan pendidikan ibu terhadap bayinya sebelum lahir. Anak tidak begitu saja tumbuh menjadi individu yang bermoral/beretika, kemampuan dalam menggunakan prinsip-prinsip etika sebagai arahan bagi kebiasaan sampai mereka masuk ke dunia nyata. Kadang-kadang selama tingkat dasar, mereka menemukan apa itu ketuhanan/agama yang biasa disebut age of reason. Yang ditandai dengan persepsi pengetahuan/identifikasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan yangterjadi pada saat ini. Piaget (1932) salah seorang yang pertama kali mempelajari perubahan dalam etika individu yang diikuti perubahan dalam perkembangan pengetahuan. Piaget menyatakan bahwa anak-anak yang menjadi terlalu egois/mementingkan diri sendiri dan mengembangkan kemampuan pengetahuannya memerlukan pemikiran tentang keberadaan orang lain, mereka mulai mengerti konsep etika seperti keadilan. Pada akhir anak-anak cendrung memiliki emosi yaitu dimana emosi merupakan salah satu aspek perkembangan yang melekat pada diri anak-anak. Kondisi emosi itu sendiri dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu positif (misalnya, gembira) dan negatif (misalnya sedih). Konsep emosi cukup penting bila dikaitkan dengan fungsinya dalam hubungan interpersonal. Dalam hal ini, ekspresi emosi akan menjadi fasilitasi bagi seorang anak untuk dapat mengungkapkan perasaannya, perilakunya, serta keinginan-keinginannya. Peran keluarga terhadap perkembangan kepribadian anak Sebagai sistem sosial terkecil, keluarga memiliki pengaruh luar biasa dalam hal pembentukan karakter suatu individu. Keluarga merupakan produsen dan konsumen sekaligus, dan harus mempersiapkan dan menyediakan segala kebutuhan sehari-hari seperti sandang dan pangan. Setiap keluarga dibutuhkan dan saling membutuhkan satu sama lain, supaya mereka dapat hidup lebih senang dan tenang. Keluarga menjalankan peranannya sebagai suatu sistem sosial yang dapat membentuk karakter serta moral seorang anak. Keluarga tidak hanya sebuah wadah tempat berkumpulnya ayah, ibu, dan anak. Sebuah keluarga sesungguhnya lebih dari itu. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi anak. Berawal dari keluarga segala sesuatu berkembang. Kemampuan untuk bersosialisasi,

mengaktualisasikan diri, berpendapat, hingga perilaku yang menyimpang. Keluarga merupakan payung kehidupan bagi seorang anak. Keluarga merupakan tempat ternyaman bagi seorang anak. Beberapa fungsi keluarga selain sebagai tempat berlindung, (Mudjijono, et al., 1995) diantaranya : a. Mempersiapkan anak-anak bertingkah laku sesuai dengan niai-nilai dan normanorma aturan-aturan dalam masyarakat dimana keluarga tersebut berada (sosialisasi). b. Mengusahakan tersekenggaranya kebutuhan ekonomi rumah tangga (ekonomi), sehingga keluarga sering disebut unit produksi. c. Melindungi anggota keluarga yang tidak produksi lagi (jompo). d. Meneruskan keturunan (reproduksi). Keluarga memiliki peranan utama didalam mengasuh anak, di segala norma dan etika yan berlaku didalam lingkungan masyarakat, dan budayanya dapat diteruskan dari orang tua kepada anaknya dari generasi-generasi yang disesuaikan dengan perkembangan masyarakat dan keluarga memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan moral dalam keluarga perlu ditanamkan pada sejak dini pada setiap individu. Walau bagaimana pun, selain tingkat pendidikan, moral individu juga menjadi tolak ukur berhasil tidaknya suatu pembangunan. Oleh karena itu, Keluarga merupakan suatu sistem sosial terkecil yang di dalamnya dapat terdiri dari Ayah, Ibu, dan anak yang masing-masing memiliki peran. Anak merupakan buah dari keluarga bahagia. Anak-anak memiliki pemikiran kritis akan banyak hal dimulai ketika ia mulai mengenal bahasa. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari mulut seorang anak sebaiknya dijawab dengan jawaban yang jujur dan dapat memuaskan hati anak. Pendidikan moral dan kejujuran bagi seorang anak berawal dari kelurga, melalui orang tua. Hal ini yang dapat membentuk karakter anak di masa depan.