Anda di halaman 1dari 6

2.

1 Etiologi dan Patogenesis Kista dentigerous atau kista folikular adalah kista berupa kantung epitelium yang berkembang dari organ enamel dan berhubungan dengan mahkota dari gigi yang tidak tumbuh. Kista ini merupakan kista kedua yang umum ditemukan pada kista odontogenik sekitar 22,3% setelah kista radikular 53,5%. Penyebab timbulnya kista dentigerous antara lain, gigi impaksi, gigi yang erupsi tertunda, perkembangan gigi, dan odontoma. Kista ini biasanya terjadi pada laki-laki dan pada gigi molar tiga impaksi, caninus rahang atas, serta premolar dua bawah. Tetapi, kista ini mungkin juga terjadi pada gigi lain yang masih tertanam. Ini terjadi karena ukuran rahang yang lebih kecil pada wanita serta tingginya kesadaran untuk melakukan ekstraksi profilaktik pada gigi impaksi. Telah disebutkan bahwa kista dentigerous banyak terjadi pada gigi impaksi. Secara proses patogenesisnya dimana gigi impaksi memiliki potensi untuk erupsi akan menyebabkan penyumbatan aliran venous dan mengakibatkan transudasi serum dinding-dinding kapiler. Hal tersebut akan menyebabkan tekanan hidrostatik yang akan memisahkan folikel dari mahkota gigi. Umumnya kista terbentuk mengelilingi mahkota dan melekat pada cemento enamel junction dari gigi. Saat telah terbentuk sempurna, mahkota akan berprotusi kedalam lumen dan akar-akarnya akan memanjang ke sisi luar kista.

(Perkembangan kista dentigerous terjadi disekitar CEJ)

Biasanya, kista dentigeous mulai berkembang segera setelah mahkota gigi tumbuh sempurna, dengan adanya akumulasi carian diantara permukaan enamel dan sekitar kapsul jaringan lunak dari epiteliumnya. Namun, apabila kista terjadi saat gigi sedang erupsi, biasanya akan menghalangi proses erupsi atau kista juga memiliki kesempatan untuk berkembang dan bertambah besar bersamaan dengan tumbuhnya gigi tersebut. Menurut penelitian, dalam kebanyakan kasus, kekuatan erupsi gigi lebih besar daripada tekanan kistanya, sehingga saat mahkota gigi muncul kepermukaan, maka kista akan

hancur. Kejadian tersebut terjadi bila gigi yang tumbuh tidak menemukan halangan berarti ketika proses erupsinya. Kista yang telah terbentuk tersebut dan kemudian hancur kemudian dinamakan kista erupsi.

2.2 Klasifikasi Adanya hubungan kista dentigerous dengan mahkota gigi, maka kista ini dibagi menjadi tiga macam yaitu, bagian sentral, lateral dan sirkumferensial sesuai dimana kista tersebut terbentuk dalam hubungannya dengan mahkota gigi. A. Tipe sentral : Kista terletak tepat di mahkota gigi secara simetris. Pada tipe sentral, kista terjadi sebelum degenerasi organ enamel yang meliputi mahkota gigi. Kista dentigerous sentral yang mengelilingi keseluruhan mahkota gigi secara berangsur-angsur akan membesar.

B. Tipe lateral : Kista terletak disebelah mesial atau distal mahkota gigi dan akan meluas menjauh dari gigi yang hanya disekitar mahkota saja. Kista ini terbentuk pada bagian email yang menetap setelah bagian atas permukaan oklusal telah berubah menjadi dental kutikel.

C. Tipe Sirkumferensial : Seluruh email disekitar leher gigi menjadi kista, menghasilkan gambar yang mirip dengan kista radicular.

2.3 Gambaran Klinis Kista dentigerous hamper selalu melibatkan gigi permanen meskipun pada beberapa kasus ditemukan adanya keterlibatan gigi sulung. Beberapa kasus lainnya berhubungan dengan gigi supernumerary dan odontoma. Karena berhubungan gigi impaksi maka kemungkinan terjadinya kista akan bertambah seiring bertambahnya usia. Kista dentigerous juga biasanya asimtomatik kecuali bila ukurannya menjadi sangat besar (10-15cm) atau bila terjadi infeksi sekunder akan terasa sakit. Infeksi sekunder ini sering terjadi, dapat juga menyebabkan ekspansi rahang. Besarnya kista tersebut juga memungkinkan terjadinya fraktur patologis. Fraktur patologis dan infeksi ini dapat

mempengaruhi sensasi nervus alveolar inferior dan plexus nervus alveolar superior sehingga menyebabkan parastesia.

2.4 Gambaran Radiografis Ukuran normal ruang folikular kurang dari 2,5mm pada radiograf intraoraldan 3mm pada radiograf panoramik. Maka dar itu, ukuran yang lebih besar dianggap sebagai kista. Temuan diagnosis yang penting yakni kista dentigerous melekat pada cemento enamel junction. Beberapa kista dentigerous nampak lain, berkembang dari aspek lateral folikel sehingga kista malah menempati area di sebelah mahkota, bukan di atas mahkota. Kista yang berhubungan dengan molar ketiga maksila sering tumbuh ke dalam maxilla antrum biasanya ukurannya sudah cukup besar sebelum akhirnya ditemukan. Kista yang melekat pada mahkota molar tiga mandibular dapat memanjang sampai ke ramus.

(Kista yang melibatkan ramus mandibula)

(Kista dentigerous yang menyebabkan pergeseran gigi kaninus ke dalam ruang maxillary antrum serta menggeser insisif lateral dan premolar satu)

Pada tahap awal, tampak pada gambaran radiografi adanya pelebaran didaerah perikoronal, daerah tersebut mencapai lebar 2,5mm dan merupakan kista dengan lapisan epitel yang pasti ada pada sekitar 80% kasus.

DAFTAR PUSTAKA 1. Turvey, dkk. (). Oral and Maxillofacial Surgery Second Edition. (): W. B. Saunders Company (YG COVERNYA DARI KAMU BEL) 2. Stafne, Edward C., D.D.S., F.A.A.O.R. 1870. Oral Roentgenographic Diagnosis. Philadelphia : W. B. Saunders Company 3. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126173-R19-BM151%20Distribusi%20dan%20frekuensi-Literatur.pdf

4. http://lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126517-R19-BM150%20Distribusi%20dan%20frekuensi-Literatur.pdf

5.