Anda di halaman 1dari 97

i

KISAH PERGULATAN SUKU PEJAGAN


DALAM SEJARAH INGATAN SESEPUH KAMPUNG LAUT

ii

Sanksi Pelanggaran Pasal 44:


Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1987 Tentang
Perubahan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1982
Hak Cipta
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpak hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan
atau memberi izi untuk itu, dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun
dana/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah).
2. Barangsiapa dengan sengaja menyerahkan, memamerkan, mengedarkan atau menjual kepada
umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau paling banyak Rp.
50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).

iii

KISAH PERGULATAN SUKU PEJAGAN


DALAM SEJARAH INGATAN SESEPUH KAMPUNG LAUT

STEPHANUS MULYADI

Penerbit Yayasan Sosial Bina Sejahtera


Cilacap, 2013

iv

KISAH PERGULATAN SUKU PEJAGAN


DALAM SEJARAH INGATAN SESEPUH KAMPUNG LAUT
Copyright: 2013, Stephanus Mulyadi
All rights reserved

KISAH PERGULATAN SUKU PEJAGAN


DALAM SEJARAH INGATAN SESEPUH KAMPUNG LAUT
Stephanus Mulyadi

Diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Sosial Bina Sejahtera Cilacap


Gedung AMN Lt.4
Jl. Kendeng 307, Cilacap 53223

Perwajahan: Stephanus Mulyadi


Perwajahan Sampul: Stephanus Mulyadi

YSBS Cilacap
2013

DAFTAR ISI
Pendahuluan ................................................................................................ 2
Bagian I: Jaman Antik suku Pejagan ......................................................... 3
Kedatangan Wiratama Kesultanan Mataram ...................................... 3
Kutukan Jaga Resmi................................................................................. 6
Berdirinya Perkampungan Nusakambangan ...................................... 8
Orang Rantai .......................................................................................... 10
Bagian II: Membangun peradaban baru ................................................. 13
Menetap di Segara Anakan ................................................................... 13
Jaman Jepang ......................................................................................... 16
Kembalinya Belanda Orang Doreng .............................................. 18
Upaya untuk kembali ke tanah leluhur............................................... 19
Gerombolan DI/TII .................................................................................. 20
Peristiwa G30S/PKI (Gestok) ................................................................. 22
Peristiwa Perang saudara di tubuh TNI ............................................... 24
Kerasnya hidup nelayan di Segara Anakan......................................... 25
Ketergantungan pada musim - Kalender Suku Pejagan.................... 27
Suasana kehidupan di Rumah Panggung............................................ 29
Kehidupan rumah-tangga .................................................................... 31
Tidak ada pendidikan............................................................................ 34
Aktifitas saat tidak melaut ................................................................... 36
Hiburan ................................................................................................... 37
Kehidupan sosial ..................................................................................... 38
Adat dan tradisi ...................................................................................... 39
Kebersamaan .......................................................................................... 42
Tidak menghukum, tetapi memaafkan............................................... 43

vi

Sistem Kepercayaan ............................................................................... 43


Sistem pemerintahan.............................................................................. 44
Demokrasi dan jabatan ......................................................................... 45
Pelibatan perempuan dalam pemerintahan....................................... 46
Bencana alam & Wabah Malaria.......................................................... 46
Masalah Pendangkalan Segara Anakan.............................................. 49
Pulau-pulau buatan manusia ............................................................... 53
Konflik Agraria ....................................................................................... 57
Bagian III : Kehadiran Romo Carolus........................................................ 63
Misi kemanusiaan ................................................................................... 63
Awal mula pembangunan jalan dan bantuan untuk tlukah ............ 67
Pendidikan .............................................................................................. 69
Manfaat bantuan Infrastruktur ............................................................ 80
Tanggapan masyarakat atas bantuan Romo (Yayasan) ................... 80
Bagian IV: Harapan dan tantangan ........................................................ 82
Harapan .................................................................................................. 82
Pemikiran untuk masa depan .............................................................. 84
Sejumlah Tantangan .............................................................................. 85
Pendangkalan .................................................................................... 85
Figure pemimpin yang menyapa warga.......................................... 86
Pluralisme ............................................................................................ 87
Melemahnya adat gotong royong ..................................................... 87
Sekilas tentang penulis............................................................................... 89
Daftar Kontributor ..................................................................................... 90

vii

Sekapur Sirih Penulis


Sebuah realitas akan punah jika tidak dikenang melalui shering atau regenerasi
pengalaman atau pengetahuan tentang realitas tersebut. Ia akan hilang bersama angin
jika tidak diresapi secara regenerative dan dikontstruksi sebagai memoria dan nilai-nilai
yang bisa dihidupi dan dijiwai oleh siapapun. Salah satu cara agar realitas itu bertahan
dan menembus berbagai perubahan jaman adalah dengan mengingat atau mengenang,
menuturkan dan menuliskannya.
Buku yang berjudul KISAH PERGULATAN PERADABAN SUKU PEJAGAN
DALAM SEJARAH INGATAN SESEPUH KAMPUNG LAUT yang ada di tangan
Anda ini memaparkan kisah pergulatan Suku Pejagan (Kampung Laut) dalam
mempertahankan eksistensi serta membangun peradaban mereka berhadapan dengan
alam yang keras, bencana, wabah penyakit, dan kebijakan politis pembangunan yang
tidak berpihak, yang bahkan secara struktural mengabaikan dan memiskinkan mereka.
Di dalam buku ini dikisahkan bagaimana Suku Pejagan bangkit dari keterpurukan
dalam kemiskinan dan kesepian karena ditinggalkan, bagaimana akhirnya mereka
mampu berdiri tegak di atas kaki sendiri dan berani menatap masa depan dengan muka
yang terangkat gagah.
Meskipun dikatakan sejarah, buku ini bukanlah buku sejarah. Buku ini adalah
sebuah ruang di mana penutur dan pembaca duduk bersama mengumpulkan rekaman
jejak peristiwa yang tersimpan dalam ingatan. njagong bareng, itulah ungkapan di
Kampung Laut. Dengan cara demikian pembaca diajak untuk turut merasakan sendiri
kegembiraan dan harapan, kekhawatiran dan ketakutan pelaku sejarah dalan sejarah
ingatan.
Ilustrasi-ilustrasi visual yang ditampilkan dalam buku ini dimaksudkan untuk
membantu pembaca mendapat gambaran tentang sejarah yang dikisahkan. Ilustrasi yang
ditampilkan tidak selalu persis dengan kenyataan. Ilustrasi visual tersebut diambil dari
berbagai sumber, baik dari internet (google), sumbangan para sahabat, maupun dari
koleksi pribadi penulis. Untuk itu penulis mohon ijin dan berterima kasih kepada
pemilik foto atau gambar yang dipakai untuk mendukung ilustrasi visual buku ini.
Ungkapan terima kasih yang tak terhingga penulis sampaikan kepada para
sesepuh dan seluruh warga Kampung Laut, kepada YSBS yang telah mendanai proyek
ini, Bapak Bupati Cilacap, H.Tatto S. Pamudji, serta para sahabat semua yang telah
secara luar biasa membantu penulis dalam proses penyusunan buku ini. Semoga buku
kecil ini dapat bermakna bagi para pembaca dan mampu menginspirasi untuk
membangun peradaban dunia yang lebih baik. Selamat membaca.
Cilacap, 12 April 2013
Stephanus Mulyadi

Pendahuluan
Kampung Laut bukanlah nama sebuah kampung, melainkan sebutan yang diberikan
oleh orang luar untuk kampung-kampung yang tersebar di tengah-tengah lautan
Segara Anakan, terletak di antara Cilacap dan Pulau Nusakambangan. Penduduk asli
Kampung Laut adalah keturunan keluarga Jaga Playa, Jaga Rasmi, Jaga Laut dan
Banda Yudha, keempat Wiratama kesultanan Mataram yang diutus oleh Raja Mataram
untuk menjaga keamanan Segara Anakan dari gangguan Bajak Laut. Keturunan
Wiratama Mataram tersebut kemudian disebut Pejagan, artinya penjaga. Asal-usul
penduduk Kampung Laut terrekam di dalam sebuah macopatan karya Darmono,
sesepuh Kampung Laut. Di dalam mocopatan itu diceritakan bahwa orang Kampung
Laut asalnya dari keraton. Sebab keturunan utusan Sinuhun Ingkang Surakarta.
Setelah Bajak Laut dapat dikalahkan para utusan Sri Sinuhun Pakubuwono itu
mendirikan kerajaan Nusakambangan. Namun kerajaan Nusakambangan tidak
bertahan lama. Pakubuwono sendiri menyerahkan Nusakambangan kepada Kompeni
sebagai imbal jasa mengamankan pemberontakan yang terjadi di kerajaan Mataram.
Kompeni kemudian mengusir suku Pejagan dari Nusakambangan dengan menggunakan
Orang Rantai.
Setelah terusir dari Nusakambangan sebagian orang Pejagan menetap di tengah laut
Segara Anakan. Di situ mereka harus bergulat dengan alam yang keras, bencana alam
dan wabah penyakit, bahkan kebijakan politis pembangunan yang tidak berpihak, yang
secara struktural mengabaikan dan memiskinkan. Namun mereka tidak pernah
menyerah. Jiwa kesatria sang Wiratama mengalir dalam darah dan menyemat
semangat untuk tidak hanya mempertahankan eksistensi, melainkan membangun
peradaban nan luhur. Dalam pergulatan peradaban itu mereka pernah terpuruk
karena kemiskinan dan ditinggalkan. Pada saat itulah tangan lembut sang Lentera,
Romo Carolus, menjamah mereka, yang mengangkat harkat dan derajat mereka
untuk kembali berani berdiri di atas kaki sendiri dan menatap masa depan dengan
muka yang terangkat perkasa, seperti leluhur mereka para Wiratama. Suku Pejagan
yang kini dikenal sebagai Kampung Laut telah siap menatap masa depan, siap
berkontribusi untuk membangun peradaban luhur bangsa ini.

Bagian I: Jaman Antik suku Pejagan


Kedatangan Wiratama Kesultanan Mataram
Menurut buah tutur Sesepuh Kampung Laut yang diwariskan turun temurun,
setelah kerajaan Pajang runtuh, sekitar tahun 1587 Panembahan Senopati mendirikan
Kerajaan Mataram. Daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula berada di
bawah kekuasan Kerajaan Pajang lalu menjadi bagian kerajaan Majapahit. Cikal bakal
ibu kota kabupaten Cilacap terletak di sebuah tanjung di pantai selatan pulau Jawa,
persis di mulut Samudera Hindia yang ganas. Namun ke ganasan laut selatan tidak
menyentuh Cilacap berkat pulau Nusakambangan yang bak seekor makhluk laut raksasa
setia melindungi Cilacap dari ganasnya amukan laut selatan.

Pulau Nusakambangan di lihat dari Cilacap


Berbeda dengan laut Selatan yang ganas, laut di sebelah utara pulau
Nusakambangan, yaitu Segara Anakan sangat tenang, seprti bayi tertidur pulas di
pangkuan ibunya. Laut Segara Anakan dihubungkan dengan Samudera Hindia oleh dua
selat, yang disebut Plawangan Barat, yaitu pintu masuk ke Segara Anakan dari ujung
barat Pulau Nusakambangan dan Plawangan Timur, pintu masuk ke Segara Anakan dari
sebelah timur. Selat di Plawangan Parat lebih luas, lebar dan dalam di banding selat di
sebelah timur. Sedangkan selat Plawangan Timur sangat berbahaya bagi seseorang yang
belum berpengalaman berlayar di antara karang karang yang bermunculan di
permukaan laut.

Solok Kipah di pantai selatan pulau Nusakambangan 1908

Plawangan Barat antar Nusakambangan dan pulau Jawa


dilihat dari Banteng Mati 1908

Lama sekali lautan Segara


Anakan yang kaya akan ikan dan hasil
laut lainnya berada di bawah
kekuasaan para Bajak Laut yang
ganas. Hingga ahkirnya Raja Mataram
mengutus lima Wiratama ke Cilacap.
Mereka
bersama
pasukannya
ditugaskan untuk menjaga keamanan
laut di Kawasan Segara Anakan, mulai
dari plawangan di pesisir timur, yaitu
Sapuregel dan di pesisir plawangan
barat yaitu Majingklak, yg sekarang
merupakan perbatasan Jawa Barat dan
Jawa Tengah. Kedua plawangan itu
sangat penting, karena dari sanalah
para bajak laut masuk ke Segara
Anakan.
Salah
satu
dari
kelima
Wiratama
itu
adalah
seorang
perempuan. Tetapi yang dikenal dalam
Wiratama Kerajaan Mataram
tradisi tutur sampai sekarang hanya
empat orang yang laki-laki, karena konon Wiratama yang perempuan tenggelam di
Cimiring saat akan memasuki Plawangan Timur, sehingga namanya tidak pernah
diketahui di dalam cerita lisan Suku Pejagan. Sedangkan keempat Wiratama yang
selamat bernama Jaga Laut, Jaga Playa, Jaga Resmi dan Banda Yudha.
Konon, sesampainya di kawasan Segara Anakan, ke empat wiratama Mataram
yang selamat tersebut langsung mengelilingi Segara Anakan untuk mengenal medan
dengan naik perahu. Mereka berlayar mulai dari plawangan timur, dari pesisir utara
pulau Nusakambangan, yaitu dari Peniten, wilayah Kembang Kuning sekarang. Dari
situ mereka menuju ke arah utara melewati sebelah barat Segara Anakan. Ketika sampai
di dekat daratan di sebelah barat, ada satu dari keempat orang itu yang meloncat naik ke
pulau. Tempat dia meloncat itu sekarang dinamakan Majingklak, dari kata njingklak,
bahasa Pejagan, yang berarti meloncat.
Dari Majingklak mereka berlayar ke arah utara dan sampai di ujung sebuah
pulau kecil. Kebetulan saat mereka sampai di ujung pulau itu, di atas pohon ada seekor
burung gagak yang berbunyi. Maka ujung pulau itu dinamakan Ujung Gagak.

Kemudian mereka terus berlayar ke utara melalui lautan Segara Anakan yang
waktu itu masih sangat luas. Kebetulan saat mereka berlayar musim angin kencang
sedang melanda Segara Anakan, sehingga gelombangnya sangat besar. Karena itu
keempat Wiratama itu berhenti untuk berlindung di sebuah sungai, di sela-sela hutan
mangrove. Sungai tempat mereka berlindung itu lalu mereka namai sungai Pelindukan,
dari kata ngelinduk bahasa Pejagan artinya berlindung.
Setelah angin reda, mereka terus berlayar ke arah utara ke sungai Cikonde.
Sampai di situ mereka melihat ada hutan agak tinggi karena tanahnya agak tinggi.
Mereka berhenti di situ dan menamai tempat itu Siti Inggil. Sekarang disebut Sitinggil.
Lokasi tempat para wiratama Mataram itu berhenti sekarang dinamakan Panembahan
Banda Yudha, nama salah seorang dari wiratama Mataram tersebut, dan di situ
didirikan sebuah masjid.
Dari Siti Inggil mereka terus berlayar ke arah selatan untuk mengamati
(mengawasi) suasana segara Anakan dari jauh. Sampai di sebuah pulau terluar, mereka
dapat mengwasi seluruh SA dan kedua plawangan, baik plawangan timur, Sapuregel,
maupun plawangan barat, Majingklak. Pulau tempat mereka mengawasi Segara Anakan
itu kemudian mereka namai Panikel, dari kata niteni bahasa Pejagan yang berarti
mengamati.
Tidak jauh dari Panikel mereka menemukan sebuah ujung pulau, yang
merupakan muara dari dua sungai. Ujung pulau itu kemudian mereka namai Muara
Dua.
Dari Muara Dua mereka berlayar membelah Segara Anakan ke arah
Nusakambangan. Sampai di Nusakambangan hari sudah senja. Mereka turun ke darat
untuk beristirahat dan bermalam di sebuah desa, di mana terdapat sebuah masjid dari
gua. Warga desa itu adalah keturunan keluarga Panembahan Jayaraga. Pada tahun 1609,
Panembahan Jayaraga, yaitu kakak Raja Mataram II, Panembahan Seda Krapyak (16011613), pemamngku pemerintahan Ponorogo, berusaha mengadakan pemberontakan
tetapi segera ditumpas. Selanjutnya ia bersama seluruh keluarganya di buang ke Pulau
Nusakambangan, tepatnya di sebuah gua di bagian utara pulau Nusakambangan, yang
disebut Masjid Watu, sekarang disebut Masigit Sela.
Karena waktu itu waktunya untuk sholat keempat Wiratama menunaikan sholat
berjamaah di gua Masjid Watu. Di gua itu juga mereka bermusyawarah untuk membagi
tugas masing-masing. Banda Yudha mendapat tugas berjaga di Paniten mengamankan
daerah timur Sapuregel dan Plawangan Cimiring. Jaga Resmi bertugas mengamankan
plawangan sebelah barat. Jaga Resmi memilih menetap di Ciawitali, tepatnya di gunung

Bregolo. Sedangkan Jaga Praya dan Jaga Laut bertugas berkeliling di wilayah Segara
Anakan.
Dari para wiratama Mataram inilah kemudian lahir suku bangsa yang mendiami
kawasan Segara Anakan. Pada waktu itu suku di Segara Anakan belum dinamakan
Kampung Laut. Suku mereka masih disebut suku Pejagan, yang berarti penjaga, sesuai
dengan tugas leluhur mereka, keempat Wiratama Kerajaan Mataram yang ditugaskan
menjaga kawasan Segara Anakan. Begitulah silsilah asal usul suku Pejagan, yang
sekarang disebut orang-orang Kampung Laut.

Sitinggil

Penikel
Muara Dua

Pelindukan

Ujunggagak
Majingklak

Masigit Sela

Peniten

Cimiring

Peta perjalanan keempat Wiratama Mataram saat memeriksa Segara Anakan

Kutukan Jaga Resmi


Satu bagian dari cerita tentang Wiratama leluhur Suku Pejagan yang jarang
dituturkan oleh masyarakat suku Pejagan, adalah peristiwa yang dialami oleh Jaga
Resmi. Alasannya, menurut para tetua Suku Pejagan, takut cerita itu membuat warga
Suku Pejagan, sekarang dikenal sebagai Kampung Laut, tersinggung. Namun untuk
kepentingan mengambil hikmahnya, para tetua Suku Pejagan meminta agar cerita
tersebut juga dibukukan dalam tulisan ini.

Konon, dari keempat wiratama Mataram itu, Jaga Resmi lah yang paling kaya.
Jaga Resmi menetap di gunung Bergolo. Setelah berhasil menaklukkan Bajak Laut,
Jaga Resmi berhasil memperoleh kekayaan berlimpah dan sangat terkenal dibanding
ketiga Wiratama lainnya. Dalam situasi yang demikian, Jaga Resmi ingin sekali
didatangi raja. Secara politis kunjungan Raja tentu saja akan semakin meningkatkan
pamor Jaga Resmi di mata rakyat dan semakin ditakuti oleh para Bajak Laut. Dengan
demikian kekuasaan Jaga Resmi tentu akan menjadi semakin kokoh di kawasan Segara
Anakan. Rupanya keiginan Jaga Resmi itu berkenan kepada raja dan raja Mataram
memberi kabar bahwa dia akan berkunjung ke gunung Bregolo.
Mendengar jawaban itu
Jaga
Resmi
segera
mempersiapkan sebuah pesta
besar
untuk
menyambut
kedatangan Raja. Pesta besar
sudah disiapkan. Jaga Resmi
memasang sebuah tratag yang
sangat besar dengan aneka hiasan
yang sangat indah. Orang-orang
yang melihat persiapan itu semua
kagum dan mengakui kekayaan
dan kuasan Jaga Resmi.
Sedang
sibuk-sibuknya
orang
mempersiapkan
pesta
penyambutan
Raja,
tiba-tiba
Jaga Resmi
muncul seorang pengemis tua
lusuh dan menjijikan meminta air
minum di depan rumah Jaga
Resmi. Melihat pengemis itu Jaga Resmi murka dan berusaha mengusirnya. Namun
pengemis itu memohon agar diperkenankan mendapat secangkir air saja dari Jaga
Resmi.
Kurang ajar! Apa kamu ingin supaya saya dipermalukan di depan raja?
Sebentar lagi Raja dating, pergi! bentak Jaga Resmi kasar.
Berikan hamba seteguk saja air minum, Tuan. Setelah itu hamba akan pergi,
pinta pengemis itu sambil mencium kaki Jaga Resmi.
Jaga resmi langsung mengebaskan kakinya sehingga pengemis itu tersungkur di
tanah. Lalu Jaga Resmi masuk rumah, dan tidak berapa lama keluar lagi, sambil

membawa air dalam tempurung kelapa. Jaga Resmi ternyata tidak memberi air minum
pada pengemis itu, melainkan semangkuk air kencing.
Setelah pengemis itu meminum air kencing pemberian Jaga Resmi, berkatalah
dia, Oh...Jaga Resmi. Katanya kamu ingin didatangi raja. Lihat dulu siapa saya....
Pengemis itu bangkit dan mendekatkan wajahnya pada muka Jaga Resmi.
Setelah Jaga resmi memperhatikan wajah pengemis dengan seksama, Jaga Resmi
terpana. Sesaat dia mematung, lalu gemetar dan lunglai terjerembab di kaki si
pengemis, yang ternyata adalah rajanya, Raja Mataram.
Jaga Resmi sangat menyesal. Ternyata kekayaan dan nafsu untuk memiliki
kekuasaan telah membutakan mata hatinya. Untuk menebus kesombongannya di depan
Raja Jaga Resmi mengutuk dirinya dan keturunannya.
Turun pitu tedak wolu, aja nganti sugih turunanku. Artinya sampai tujuh
turunan bahkan sampai keturunan ke delapan, jangan sampai keturunanku menjadi
orang kaya. Konon kutukan itu terjadi. Sampai turunan ke delapan, penghasilan
keturunan Jaga Resmi selalu habis dan mereka hidup dalam kemiskinan.

Berdirinya Perkampungan Nusakambangan


Meskipun Bajak Laut telah berhasil ditaklukan dan Segara Anakan sudah aman,
ke empat wiratatama Kerajaan Mataram tidak pulang ke kerajaan Mataram, melainkan
mendirikan kerajaan di Pulau Nusakambangan 1 . Sejak itu pulau Nusakambangan
menjadi tanah perdikan dari kesultanan Mataram dan berdirilah perkampungan
Nusakambangan. Demikianlah penduduk Nusakambangan mulai bersawah dan
berladang di sana. Semantara itu mereka tetap menjalankan tugas menjaga keamanan
laut Segara Anakan. Sampai sekarang jejak-jejak para wiratama penjaga Segara
Anakan sudah tidak diketahui, di mana meninggal, kapan dan di makamnya di mana.
Tapi anak cucunya menerima wasiat, seperti tombak, baju, keris, itu masih ada sampai
sekarang. Konon Sekdes Motean adalah keturunan Jaga Laut. Sekarang baju Jaga Laut
sudah hancur. Konon bajunya besar, kalau direntangkan dipintu bisa menutupi pintu,
terbuat dari kain citah. Konon kalau ada orang sakit, jika diselimuti dengan baju itu,
bisa sembuh.

Bekas kerajaann Nusakambangan masih terlihat ketika beberapa tahun yang lalu ada camat yang meninjau bekas
kerajaann Nusakambangan. Saat itu batanya masih, aritnya masih dan bahkan tekonya masih. Sekarang tekonya dipegang
oleh juru Kunci. Bekas-bekasnya ada. Lokasinya di Kali Bener. Pada waktu saya bikin perahu di Kalibener, galangannya
(jalannya) masih. Cuma tukulannya pakisan [Darmono].

Jika memperhatikan sejarah ingatan yang dituturkan turun-temurun di Kampung


Laut, cukup beralasan jika orang Kampung Laut meyakini bahwa prajurit Mentaram
(Mataram) lah sebtulnya yang pertama mapan (menetap) di Segara Anakan, yang
sekarang disebut Kampung Laut. Dalam sastra lisan masyarakat Kampung Laut
disebutkan bahwa orang Kampung Laut adalah keturunan Mbah Jaga Laut. Sebenarnya
Mbah Jaga Laut itu bukan Mbah dalam pengertian kakek, melainkan bagian dari
kepercayaan Suku Pejagan, bahwa Jaga Laut adalah Mbah Pepunden artinya orang
sakti. Mereka diberi gelar Jaga Laut karena bertugas menjaga kawasan laut Segara
Anakan. Tugas penjagaan itu kemudian diwariskan secara turun-temurun. Itu sebabnya
keturunannya disebut Pejagan.
Setelah Sunan Puger kembali ke Kartasura, pada tanggal 5 Oktober 1705
diadakan perjanjian antara Kerajaan Mataram dan Kompeni Kartasura. Batas timur
kekuasaan Belanda berpindah dari Ci Pamanukan (Krawang) ke sungak Losari
(Kabupaten Brebes) di utara sungai Donan (kabupaten Banyumas) di selatan. Sebagai
upah atas bantuannya menyelesaikan masalah perebutan ke kuasaan di lingkungan
Kerajaan Mataram, sebagian wilayah pulau Jawa, termasuk bagian barat cikal-bakal
kabupaten Cilacap, pada masa Susuhunan Pakubuwono I (1704-1719) diserahkan oleh
kerajaan Mataram ke Kompeni. Dengan demikian Pulau Nusakambangan, Segara
Anakan dan Tanah Madura (cikal-bakal sebagian Kecamatan Cilacap, Kedungreja dan
wanareja) mengalami lebih dulu zaman Belanda lebih dulu dari bagian lain dari cikal
bakal Kabupaten Cilacap. Dalam pasal II Perjanjian 5 Oktober 1705 disebutkan bahwa
jurisdiksi dan kemepilikan tanah di sebelah barat gunung-gunung dan sungai-sungai
diserahkan kepada Kompeni mulai dari muara sungai Donan di Laut Selatan. Sepanjang
sungai tersebut kearah barat sampai Passorouan, awal dari danau dalam (binnen meir)
atau Segara Anakan ke arah utara sepanjang tepi timur dan utara dari Segara Anakan
sampai muara sungai Tsiborom (Cibereum). Sepanjang tepi timur dan utara dari rawa
yang tidak dapat dilalui sampai Tsisatia (Cisatya) sekitar negeri Madura, sekarang nama
desa di Kecamatan Wanareja, ke arah utara sebelah timur melalui Pegunungan Dailoer
(Dayaluhur) sampai Gunung Summa setelah Subang. Sebelah tenggara Gunung
Bonkock ke utara sampai sungai Lassarij (Losari), dan seterusnya. Demikian juga
penduduk di Pulau Nusakambangan, Segara Anakan dan Tanah Madura, cikal bakal
sebagian Kecamatan Cilacap, Kedungreja dan Wanareja) sejak penandatanganan di
Negeri Donan pada tanggal 12 Juli 1706 secara de facto menjadi kekuasaan Kompeni di
bawah kekuasaan Kabupaten Galuh Imbanegara, Karesidenan Cirebon atau secara de
facto mengalami Zaman Belanda.
Peta Nusakambangan dibust setelah menjadi milik Kompeni berdasarkan perjanjian 5 Oktober 1705

Pada zaman Pemerintahan Sunan Amangkurat IV atau Amangkurat Jawa (17191726), tahun 1726 Francois Valentijn menerbitkan buku yang memuat peta dengan
nama-nama Sungai Soute River (Sungai Serayu) dan desa desa Lonbong Negorij
(Negeri Lumbung atau Daun Lumbung), Dainu, Donan, yaitu nama-nama desa dalam
kota Cilacap sekarang, dan juga Dailoor (Dayeuhluhur), yang semuanya terletak di
wilayah Kerajaan Mataram. Sedangkan nama-nama desa Calomprit, Oetiong Klang
(Ujung Alang), Kalikaros, Karosea (Muara Dua), Kalbalambang, Pagalangan
(Pekalongan), Passongan (Passuruhan), Oeloebontoe, Boeykota, Caroeng, dan Sungai
De Schey Rivier terletak di Segara Anakan dan sekitar, wilayah Kompeni. Pada zaman
Pemerintahan Sunan Pakubuwono II (1726 1749), Kompeni membuat peta terakhir
dari hasil ekspedisi tahun 1739 sebelum Pemerintah Hindia Belanda mengambil alih
Kompeni pada akhir abad XVIII.
Pada tanggal 5 Agustus 1738 Kompeni Batavia menerima laporan dari penduduk
di Pulau Nusakambangan bahwa sebuah kapal Inggris Royal George berlabuh dan
bermaksud membeli nilai, mutiara dan kopi. Kompeni khawatir jika Inggris akan
membuat benteng, tetapi setelah berita dicek kebenarannya, ternyata hanya akan
mengambil air. Mekipun demikian tanggal 31 Maret 1739 Kompeni memutuskan
mengirim ekspedisi eksplorasi di Pulau Nusakambangan untuk meyakinkan kebenaran
berita, menghadang kapal asing yang tersesat pada bulan Mei sampai Juli dan
melengkapi kedalaman teluk dan sungai sungai di sekitarnya.
Meskipun kekhawatiran Kompeni bahwa Inggris akan membangun benteng di
pulau Nusakambangan tidak terbukti, namun peristiwa berlabuhnya kapal Inggris di
Pulau Nusakambangan telah membuka mata Kompeni bahwa pulau Nusakambangan
memiliki arti yang sangat strategis untuk pertahanan. Maka meskipun secara hukum,
berkat Perjanjian tanggal 5 Oktober 1705, Pulau Nusakambangan di bawah kekuasaan
Kompeni, namun Kompeni tidak berani langsung menduduki Pulau Nusakambangan.
Selain karena factor alam pulau Nusakambangan yang sangat sulit dikuasai, Kerajaan
Nusakambangan juga cukup kuat didukung oleh keturunan Wiratama Mataram yang
terkenal sebagai pejuang yang gagah berani. Keturunan wiratama ini juga didukung
oleh para nelayan Segara Anakan berkat jasa mereka mengamankan lautan Segara
Anakan dari gangguan Bajak Laut. Setelah memperhitungkan faktor-faktor tersebut
Kompeni berusaha mencari jalan lain untuk menguasai pulau Nusakambangan tanpa
dengan peperangan tetapi efektif dan efisien.

Orang Rantai
Setelah lama mencari cara untuk mengusir penduduk Nusakambangan akhirnya
Kompeni mencoba suatu strategi. Tahanan sisa-sisa pejuang Diponegoro yang biasanya
dikirim ke perkebunan atau tambang di luar Jawa sebagai budak sekarang dikirim ke

10

pulau Nusakambangan. Agar tidak melarikan diri, kaki dan tangan para tahanan itu
dipasang rantai. Karena itu mereka kemudian disebut Orang Rantai.

Orang Rantai di Nusakambangan


Sumber: http://www.kaskus.co.id/sejarah-amp-semua-tentang-cilacap/

Ketika dibuang ke Nusakambangan orang-orang rantai tidak diberi tempat


tinggal dan tidak diberi makan. Jika kamu ingin makan, makan orang-orang di situ,
kata Kompeni kepada orang-orang rantai. Yang dimaksudkan dengan orang-orang di
situ adalah penduduk pulau Nusakambangan, yaitu keturunan keluarga dan pasukan
wiratama kerajaan Mataram. Karena orang-orang rantai itu bekas pejuang yang berani,
akhirnya untuk bertahan hidup mereka merampok dan menjarah milik warga
Nusakambangan dan lama-lama bahkan tidak segan-segan membunuh warga yang
melawan. Demikianlah Orang-orang Rantai yang semula pahlawan itu berubah menjadi
hantu menakutkan bagi penduduk pulau Nusakambangan, sehingga banyak penduduk
pulau Nusakambangan yang mengungsi ke luar pulau. Peristiwa teror terakhir yang
sangat biadab menimpa Mbok Nut (ibu Nut), seorang ibu dari Lempong Pucung. Ibu
Nut tidak hanya dirampok, tetapi juga diperkosa oleh 25 Orang Rantai sampai
meninggal.

11

Karena sangat takut pada Orang Rantai penduduk pulau Nusakambangan bubar.
Sebagian membuat perkampungan baru di pinggir-pinggir pulau Nusakambangan dan
sebagian lagi pindah jauh ke barat dan menetap di Lempong Pucung untuk mencari
keselamatan. Hanya kampung Banjar Nusa, di sebelah Kembang Kuning, yang tidak
pindah. Sebagian lagi ada yang pergi jauh sampai ke Kalipucang, Nusakambangan,
Kesugihan dan sebagainya. Yang penting mereka berada sejauh mungkin dari orang
Perantaian. Demikianlah siasat licik Belanda untuk menguasai pulau Nusakambangan
dengan menggunakan teror orang-orang Perantaian berhasil sempurna. Dan dengan
begitu pula perkampungan Nusakambangan berakhir.

12

Bagian II: Membangun peradaban baru


Meskipun telah telah terusir dari tanah leluhur di Nusakambangan,
meskipun terkatung-katung tak bertanah di tengah lautan Segara
Anakan, Suku Pejagan tidak boleh menyerah. Hidup harus terus
berjalan
Itulah wasiat yang secara turun-temurun diwariskan oleh leluhur Suku Pejagan kepada
anak-cucunya.

Menetap di Segara Anakan


Sebagian dari keturunan wiratama Mataram yang tersingkir dari
Nusakambangan menetap di tengah lautan Segara Anakan. Menurut cerita ketika itu
luas Segara Anakan masih sekitar 20.000 hektar. Salah satu tempat yang mula-mula
dihuni adalah daerah di muara Kali (sungai) Malang. Kali Malang mengalir dari
Cilacap di antara sungai Dayak dan sungai Dangal menuju ke tengah Segara Anakan.
Di muara sungai itu pertama kali didirikan beberapa rumah panggung dengan tiang
pancang dari kayu, berlantai bambu dan beratap daun nipah. Itulah kampung pertama
di tengah lautan Segara Anakan. Tapi kampung itu tidak lama berdiri karena terbakar.
Tempat itu sekarang disebut Karang Kobar, artinya pekarangan yang terbakar. Di dekat
karang Kobar, lebih ke tengah laut ada sebuah nusa (pulau) kecil. Letaknya persis di
ujung Kali Malang. Nusa itu disebut Tirang Malang. Masyarakat yang semula di
Karang Kobar pindah ke pulau itu dan mendirikan kampung di sana. Karena kampung
itu persis di ujung kali Malang maka kampung itu disebut Ujung Alang atau Motean
sampai sekarang.

Motean, Ujung Alang 1908


13

Motean, Ujung Alang 1978


Sebagian lagi membangun perkampungan lebih ke utara. Letaknya di sebelah
kali Legok Dompo dan di sebelahnya ada Kali Sereh. Jadi perkampungan itu diapit oleh
dua muara sungai. Kampung itu kemudian di sebut desa Muara Dua sampai sekarang.
Di sebelah utara Muara Dua ada perkampungan lagi. Letaknya di dekat kali Trajiwa dan
kali Panikel. Kampung itu kemudian dinamai Panikel. Dari Penikel terlihat seluruh
lautan Segara Anakan, Pulau Nusakambangan sampai Majingklak, dekat Plawangan
Barat.
Sisanya menyingkir ke arah barat Segara Anakan dan menetap di dekat Congor
Tambak tidak jauh dari kali Cibereum. Mereka mendirikan kampung di situ dan
kampung itu disebut kampung Ciberem, sebuah kampung yang paling besar di Segara
Anakan.
Di dekat Ciberem ada kampung Ujung Gagak. Konon suatu ketika terjadilah
banjir Cilingin, atau apa yang sekarang disebut Tsunami. Banjir Cilingin itu membawa
pasir, lumpur dan macam-macam sampah dari laut, sehingga laut di daerah Ujung
Gagak mengalami pendangkalan. Karena orang laut (nelayan) membutuhkan laut yang
dalam, penduduk Ujung Gagak lalu pindah. Ada yang pindah ke Ciberem, ada yang
pindah ke muara sungai Sidareja, bahkan lama lama sampai ada yang pindah ke
Tiram Cironggeng. Sedikit ke selatan di dekat Cibrem, ada pulau baru. Pulau baru
dalam bahasa Pejagan disebut Karang Anyar atau Kawis (tanah) Enggal. Setelah banjir
Cilingin sebagaian masyarakat Ujung Gagak juga ada yang pindah ke pulau baru itu.

14

Namun ada juga penduduk Nusakambangan yang mendirikan kampun di dekat


pulau Nusakambangan, yaitu di dekat pesisir pantai di Peniten, dekat Kembang Kuning
sekarang. Setelah peristiwa tragis menimpa Mbok (ibu) Nut, penduduk Peniten
akhirnya juga pindah lebih jauh ke laut dan membangun rumah di atas panggung.
Mereka itulah yang kemudian menjadi cikal bakal penduduk Lempong Pucung dan
Klaces saat ini.
Setelah semua penduduk pulau Nusakambangan melarikan diri dan pulau
Nusakambangan kosong, Belanda mendirikan penjara di di sana. Sebuah penjara yang
mematikan, karena meskipun tahanan bisa melarikan diri dari penjara, tidak ada
kemungkinan bagi mereka untuk keluar dari pulau itu karena lautnya sangat luas.
Agar benar-benar dapat menguasai Nusakambangan, selain mendirikan penjara
untuk tahanan politik di Nusakambangan, Belanda juga membangun pos-pos penjagaan
di sepanjang pesisir pulau itu. Orang-orang Rantai ditempatkan di pos-pos penjagaan itu
dengan dilengkapi senjata. Pos-pos penjagaan di pantai itu bukan untuk menjaga agar
tidak ada tahanan melarikan diri, melainkan untuk menjaga agar penduduk tidak ada
yang berani untuk kembali lagi ke tanah mereka di Nusakambangan. Belum cukup
dengan pos penjagaan, kemudian Belanda mengeluarkan peraturan bahwa penduduk
dilarang menginjakkan satu kaki pun di pulau itu. Jika peraturan itu dilanggar, maka
yang melanggar akan ditembak di tempat. Peraturan itu sungguh membuat penduduk
takut untuk mendekati pulau Nusakambangan. Sejak itu penduduk Nusakambangan
benar-benar kehilangan hak mereka atas tanah leluhur mereka di pulau
Nusakambangan.

Ilustrasi salah satu pos penjagaan Belanda

15

Jaman Jepang
Ketika Belanda kalah oleh Jepang, sebelum Jepang datang ke Cilacap, Pak
Wedana datang ke Motean, menyuruh semua penduduk Motean pindah ke Sidareja dan
Cisumur. Karena diprediksi akan ada huru-hara. Maka semua orang mengungsi.
Termasuk semua orang Cina di Motean pindah ke Cilacap gara-gara Jepang. Setelah itu
mereka tidak pulang ke Motean lagi. Saat itu saya kelas 3. Sekolah bubar. Geger ngilen.
Saya bersama orang tua ikut mengungsi dengan naik perahu ke Cisumur. Rumah dan
ternak kami tinggalkan begitu saja di sini.
Saat datang ke Cilacap tahun 1942, Jepang tidak mendirikan pos. Hanya
menggunakan bioskop untuk kantornya. Pelabuhan Cilacap digempur Jepang melalui
udara. Kawasan Segara Anakan juga termasuk daerah yang menjadi medan
pertempuran. Pesawat-pesawat Jepang setiap hari berseliweran di langit menembaki
kapal laut dan markas Belanda di Cilacap. Bunyi sirene meraung-raung di kejauhan
tidak ada hentinya. Sementara malam hari suasana sunyi mencekam.

Japanese planes attack ships trying to flee the port of Cilacap, March 1942
(watercolor by Sardjono Angudi) Sumber: http://www.google.de/

Di Cisumur situasi sangat sulit. Banyak yang kelaparan dan terkena penyakit.
Tidak sedikit yang meninggal dalam pengungsian di sana. Sementara pertempuran di
Cilacap masih belum mereda.
Kemudian setelah resmi dipegang Jepang, semua pengungsi disuruh pulang ke
Motean. Ketika kembali ke Ujung Alang kami sudah tidak punya apa-apa lagi. Rumah
sudah hampir roboh karena kayu-kayu lapuk. Maklum waktu itu rumah-rumah masih

16

terbuat dari kayu dengan atap daun nipah. Alat-alat nelayan sudah banyak yang rusak.
Kampung Ujung Alang seperti kampung hantu.
Selama penduduk Pejagan berada dipengungsian, hasil laut utuh, tidak diambil
orang. Saya mengalami sendiri saat itu ikan, rebon berlimpah, bahkan jika air pasang
ikan sampai masuk ke dalam rumah. Penghasilan nelayan di kawasan Segara Anakan
luar biasa banyaknya. Ikan, udang dan kepiting melimpah. Belajar dari pengalaman
sulitnya membawa barang saat mengungsi, kebanyakan warga lebih senang menukar
hasil laut dengan emas, maksudnya supaya mudah dibawa pergi jika harus mengungsi.
Tapi selama jaman Jepang ternyata emas tidak banyak membantu. Meskipun punya
emas dan hasil laut melimpah, di pasar tidak ada bahan makanan yang bisa dibeli. Beras
tidak ada di mana-mana. Terjadi kelaparan yang hebat. Bencana kelaparan itu bukan
karena paceklik, bukan karena tidak ada hasil laut, melainkan terjadi karena Jepang
membeli semua hasil panen. Contohnya di Cisumur semua hasil panen yang disimpan
petani di lumbung yang masih dalam bentuk gagangan ditimbang. Paling yang ditinggal
175 kilogram, yang lainnya dibeli semua oleh Jepang untuk persediaan perang.
Akibatnya di pasar-pasar tidak ada orang yang menjual beras. Tidak ada bahan
makanan. Demikian juga di seluruh Segara Anakan. Bencana kelaparan luar biasa
melanda seluruh penduduk Kampung Laut sampai banyak penduduk yang mati
kelaparan. Setiap hari bangkai-bangkai orang mati hanyut di mana-mana. Untuk
menyambung hidup penduduk makan apa saja yang bisa dimakan. Sehingga asupan
makanan penduduk tidak karuan waktu itu. Waktu itu makan singkong dianggap makan
nomor satu. Waktu itu ada Gaber (ampas singkong parut yang sudah diambil sari
patinya), ada dangkel (bongkol) batang pisang diparut dan buah bogem pun diambil
untuk dimakan. Kejadian itu terjadi waktu Jepang di Indonesia.

Buah Bogem

Setelah itu tahun 1945 kemerdekaan negara kita diproklamirkan. Tetapi


kemerdekaan itu tidak membawa perbaikan nasib bagi suku Pejagan. Suku pejagan
masih saja paceklik di tengah-tengah Segara Anakan dan tetap belum memiliki harapan
untuk kembali ke Nusakambangan, tanah leluhurnya.

17

Kembalinya Belanda Orang Doreng


Tiga tahun setelah Indonesia merdeka (1948), Belanda kembali lagi ke Cilacap.
Itu disebut jaman doreng, karena Belanda kembali dengan pasukannya yang
mengenakan seragam loreng. Pak Wedana datang memberi kabar bahwa Belanda
menyuruh agar penduduk asal pulau Nusakambangan mendaftar tanah dan rumahrumah yang mereka tinggalkan di Nusakambangan. Bahkan waktu itu sampai kandang
ayam pun disuruh daftar. Kabar itu membuat kami penduduk asal Nusakambangan
gembira dan mulai berharap bahwa kami akan bisa kembali ke tanah leluhur kami di
Nusakambangan.

Pasukan Doreng

Namun apa yang kami terima justru kenyataan pahit. Rupanya pendataan tanah
dan rumah itu hanyalah siasat licik Belanda untuk menguasai secara utuh pulau
Nusakambangan. Setelah menerima daftar nama pemilik tanah di Nusakambangan,
tiba-tiba Belanda mengirim doreng2 untuk menggeledah rumah penduduk yang telah
mendaftarkan tanah mereka di Nusakambangan. Dalam penggeledahan itu mereka
mencari dan merampas semua surat tanah warga yang diberikan oleh Raja Mataram saat
Nusakambangan masih menjadi tenah perdikan kerajaan Mataram.
Saya masih ingat waktu itu Doreng datang ke Ujung Alang untuk mengadakan
penggeledahan surat-surat tanah, kenang pak Darmo. Pasukan doreng juga mengadakan
geledahan dan mengambil surat tanah milik kakek saya. Saat kejadian itu saya ada di
2

Orang Doreng adalah sebutan untuk tentara Belanda yang berseragam loreng.

18

belakang rumah (dapur). Karena ada


suara ribut-ribut saya keluar. Saya
lihat kakek saya duduk memegang
kepala dengan kedua tangan sambil
menangis dengan tubuh gemetaran di
depan Doreng.
Ana apa toh Mbah? (ada
apa kek?) tanya saya.
Bumbung Bambu

Iki aduh..... Kamu besok anak


cucu tidak bisa menanyakan gugatan tanah Nusakambangan... isak kakek saya masih
gemetaran karena takut setelah dibentak oleh tentara Belanda. Dia menunjuk
bumbung3 bambu di tangan tentara Belanda.
Sing ana neng bumbung iku opo toh Mbah? tanya saya penasaran bercampur
kasihan melihat kakek yang sangat ketakutan seperti itu.
Ketika tahu bahwa yang di dalam bumbung bambu itu adalah surat-surat tanah,
tanpa berpikir panjang bumbung bambu ditangan Doreng itu saya rampas. Berhasil!
Tapi Doreng nya ngamuk. Saya dipukul pakai gagang bayonet di rusuk hingga terluka
dan mau ditembak. Untung saat itu ada Doreng orang jawa bersama tentara Belanda itu.
Ini jangan (ditembak)! Ini kan anak kecil. Tidak tahu apa-apa, ... teriak Doreng Jawa
itu sambil melindungi saya. Peristiwa itu terjadi tahun 1948. Ketika itu saya masih
berumur sekitar dua belas tahun. Saya belum tahu apa-apa.

Upaya untuk kembali ke tanah leluhur


Setelah peristiwa penggeledahan dengan kekerasan itu, harapan kami untuk bisa
kembali ke Nusakambangan semakin pupus. Kami sudah tidak punya surat tanah yang
menjadi satu-satunya bukti hak kami atas tanah itu. Meskipun demikian, semangat
perjuangan untuk bisa kembali ke tanah leluhur di Nusakambangan tidak pernah padam.
Semangat perjuangan itu terus mengalir dalam darah kami sampai pulau
Nusakambangan kembali ke tangan penduduk. Pada saat Ndara Kanjeng Cakrawijaya
ke IV, yaitu Kanjeng Gatot berkuasa di Cilacap, penduduk Nusakambangan pernah
mengajukan tuntutan agar hak kami untuk tinggal di pulau Nusakambangan
dikembalikan. Namun dari Cilacap tidak ada keputusan. Kanjeng Gatot hanya

Bumbung adalah potongan ruas bambu. Jaman dulu orang-orang tua menyimpan surat-surat
berharga di dalam bumbung bambu agar surat-surat tidak mudah rusak atau dimakan bubuk.

19

menjawab bahwa untuk sementara tanah itu dipinjam dulu, suatu saat nanti
dikembalikan

Gerombolan DI/TII
Pak Takrun alias Tugimin adalah salah satu saksi pergulatan masyarakat
Kampung Laut. Dia bukan kelahiran Kampung Laut, melainkan berasal dari
Pangandaran, Jawa Barat. Di Pangandaran dia berjualan sapi. Karena itu dia sering
bepergian ke kampung lain untuk berjualan sapi. Usahanya berjalan cukup bagus.
Keluarganya cukup berada.
Setelah Jepang kalah, beberapa tahun kemudian geger lagi. DI/TII ngamuk.
Kartosuwirja dan rombongannya turun gunung. Mereka sering kali merampok warga
yang cukup berada untuk membiayai pemberontakan mereka dan bahkan tidak segansegan membunuh jika warga tidak memberi makan. Saat itu saya masih bujangan.
Saya ingat sekali peristiwa itu... Suatu hari yang sangat cerah. Hari menjelang
siang, sekitar jam 10 pagi. Saya sedang berada di kamar. Tiba tiba saya mendengar
ibu saya ditanyai oleh gerombolan (DI/TII).
Bu, Tugimin masih ada di rumah? bentak seorang anggota gerombolan.
Mboten wonten, Mas (Ndak ada mas), jawab ibu saya. Jualan sapi. Dereng
wangsul. Padahal waktu itu saya ada di kamar. Mendengar itu saya langsung
meringkuk di bawah amben. Memang kebetulan masih diberi selamat. Mereka tidak
menembaki rumah saya.
Setelah gerombolan bubar saya melarikan diri. Saya hanya disanguni nasi
sebuntal (sebungkus) dan padi dua untir (ikat) untuk makanan kuda di jalan, dan uang
lima ringgit. Dari Pangandaran sampai ke Sidareja hanya sejam seperempat. Selama
dalam perjalanan saya tidak berhenti sama sekali. Keluarga saya di Pangandaran lari
semua ke Cikadim, Rawa Apu. Akhirnya tanah di Pangandaran dijual untuk membeli
tanah di Sidareja. Jaran (kuda) kemudian juga dijual 12 ribu 20 perak. Saat itu masih
belum ada uang ribuan. Adanya lima ratusan. Saya juga jual darat (tanah), kenang pak
Takrun.
Tidak berapa lama tinggal di Sidareja, saya pindah ke Klaces dan menetap di sini
sampai sekarang. Waktu itu di Klaces masih lautan. Baru hanya 9 rumah di Klaces.
Semuanya rumah di atas panggung. Saya langsung bikin rumah, lalu jadi sepuluh. Saya
membangun rumah tidak nyambung dengan rumah warga yang sudah ada. Jadi di kiri
kanan saya masih alas (hutan). Saya tinggal di rumah itu hanya berdua dengan isteri

20

saya. Isteri saya berasal dari Cisumur. Asalnya dari Mutean. Mereka pindah ke Cisumur
ketika mengungsi saat jaman Jepang, dan setelah itu tetap tinggal di Cusumur.
Waktu itu penduduk di Klaces semuanya masih nelayan. Hasil laut masih
melimpah. Saat itu orang masang (widei) satu hari satu malam saja, hasil tangkapannya
sudah lebih satu perahu (2 sampai 3 kwintal). Mereka cari ikan, cari udang. Orang
nyeser di pinggir-pinggir saja bisa dapat 7 kwintal satu hari. Saat itu udang banyak
sekali. Udang merah.

Klaces tahun 1900

Karena saya tidak bisa mencari ikan, untuk menyambung hidup saya bikin
lemari, kursi, dll. Saya membeli kayu dari warga yang diambil di Nusakambangan.
Waktu itu di Klaces ada tanah timbul sudah menjadi alas. Sejak tahun 1967 saya babat
sedikit-sedikit alas itu. Saya mulai bertani di sini. Di Pangandaran saya sudah biasa
bertani. Lama-lama lahan saya menjadi luas sampai sekitar 3000 meterpersegi.
Awalnya saya hanya nanam tales, budin. Kemudian saya juga nanam padi. Namun
dibanding berhasil, lebih banyak gagalnya. Karena waktu itu tanaman padi masih sering
tergenang air asin. Itu sebabnya sampai tujuh tahun saya sendirian bertani, tidak ada
kawan. Sekarang sudah banyak orang yang bersawah. Kebanyakan adalah pendatang
dari Pangandaran. Dulu memang orang Jawa Barat diundang kesini untuk bertani,
supaya orang sini tahu pertanian. Maksudnya guru nyawah. Lama-lama banyak orang
yang datang ke sini untuk bersawah, terutama dari Sunda. Sedangkan orang asli Klaces
sendiri sangat sedikit bersawah. Sampai sekarang hanya ada 3 keluarga.

21

Ketika laut di sekitar rumah di Klaces sudah mulai dangkal, tahun 1964-1967
saya mulai ngurug, mulai bikin batur (jalan) dengan cara dipagar. Sedangkan warga di
kiri kanan saya masih pakai jerampah (emperan dari kayu-kayu).
Gerombolan DI/TII juga masuk ke Motean, jaman lurahnya Atmadja, tutur pak
Sumbardja. Untungnya ketika terjadi pemberontakan DI/TII tidak ada kejadian besar di
Motean. Gerombolan hanya datang sebagai tamu. Saat itu saya sudah duduk dalam
pemerintahan sebgai pejabat pemuda desa. Tugas saya ngawasi. Kalau ada tamu kudu
lapor. Kalau ada orang dagang mampir, saya minta cukai. Ya terang-terangan minta
cukai, karena saya tidak digaji. Yang gaji harus masyarakat. Pada waktu itu ada orang
membawa kopra, minyak, dibawa ke Cilacap, sok (sering) mampir di Motean. Perahu
mereka saya datangi dan dimintai cukai.
Pak bawa apa? Mana cukainya? Tanya saya. Terus dikasih. Cukai dipakai
untuk membeli rokok dan lain-lain. Karena jaganya siang malam.
Terus saya menjadi anggota OPR (Organisasi Pemuda Rakyat) atau disebut
Pagar Desa. OPR dijamin oleh desa. Desa yang bertanggung jawab atas OPR.
Pakaian juga minta sama masyarakat.
Terus ada lagi SOB. SOB ini kekuasaan militer. Jadi siapa yg melangar
peraturan militer dikenakan sanksi. SOB berdiritahun 1955, jaman Sukarno. Soalnya
saat itu masih banyak DI/TII yang masih di gunung-gunung, belum turun. Setelah
Kartosuwaryo ditangkap di Jawa Barat, dipagar betis, diberitahukan kepada
pengikutnya supaya turun gunung. Situasi waktu itu aman. Semua yang digunung, anak
buahnya turun. Kembali semula. Tidak diapa-apakan. Mereka disuruh kembali saja ke
desanya masing-masing. Alhamdullilah, sampai aman.

Peristiwa G30S/PKI (Gestok)


Dulu ketika terjadi peristiwa Gestok, banyak sekali orang meninggal digapeti
(dibunuh). Mayatnya bergelimpangan di laut. Ndak ada orang ambil air di bawah. Saat
itu di Klaces dan juga di seluruh Segara Anakan udang dan kepiting tidak laku. Tidak
ada orang yang mau makan.
Inyong pernah digestok, kon ngawini bojone gembong. Bojone Batnalim wong
Brebeg, Marwito. Inyong digestok kon ngawin dina Rebo Kliwong, kemutan bae. Kalau
ndak gelem ngaweni arep dipateni. Ya dikawini. (Saya pernah di gestok, disuruh
gawini isteri gembong. Isteri Batnalim orang Brebeg, Marwito. Saya digestok dipaksa
ngawini hari Rabu Kliwon, selalu teringat oleh saya. Kalau tidak mau ngawini dibunuh.
Ya dikawini), cerita pak Takrun. Masalahne inyong dirauhni, nyong setengah dadog

22

(bodoh), pada-padane kula candane (masalahnya saya didatangi, saya setengah bodoh,
sama-sama bercanda). Karena itu saya lalu dianggap ngroyali (selingkuh) wedon kowe.
Jadi dipaksa ngawini. Kalau ndak mau dibunuh. Akhirnya dikawini. Tujuh tahun saya
nikah dengan dia, tapi kami tidak punya anak. Setelah itu kami cerai. Setelah itu tahun
1977 saya menikah dengan isteri sekarang.
Seingat pak Sumbardja, waktu jaman PKI di Motean ya rame. Tapi cuma melumelu. Untungnya setelah PKI jatuh di Motean tidak ada yang kena (tangkap). Di sini
aman-aman saja. Memang ada Pemuda Rakyat yang cenderung ke politik. Tapi mereka
langsung disingkirkan saja, supaya aman.
Saya mengalami jaman setelah G30SPKI di Muara Dua, kenang pak Handoko.
Saat itu saya masih kecil. Saat itu rumah-rumah di Muara Dua masih rumah panggung.
Setelah kejadian G30SPKI sering sekali ada bangkai (manusia) yang hanyut keluar dari
Citandui melet (nyangkut) di rumah-rumah di sini. Di sini dicongkok (dicolok pakai
galah) melet di sana. Di sana dicongkok melet ditempat lain lagi. Terus begitu. Waktu
itu penghasilan dari nelayan luar biasa banyaknya. Tapi ndak laku. Ndak ada yang beli
pada waktu itu. Itu karena bangke. Bangke yang dibuang di kali Citandui metunya kan
nang kene, di Segara Anakan.
Akibatnya waktu itu masalah makanan memang sulit sekali. Saya memang
ngalami. Pada waktu itu, kalau masak jangungnya sekilo berasnya hanya secomplong
(segenggam). Hanya keluarga-keluarga tertentu yang bisa makan makanan seperti itu.
Anak-anak kecil yang ingin beli jajan di warung, mereka ngeriji duite (mencari receh
yang tercebur ke laut di bawah rumah/jembatan). Meskipun jajannannya waktu itu
budin sudah kayak makan roti. Selain itu jajane jengkol, gula kelapa. Warunge adol
mandan ana panganan sing mandan dipangan kecemel ya, kinca-kinca gaber4. Saking
miskinnya bahkan sampai
ada
keluarga
yang
mengambil buah Tancang
untuk dimakan.
Buah dan Pohon tancang.
Tancang adalah salah satu
jenis
pohon
bakau
(mangrove). Buah Tancang
bisa diolah menjadi semacam
tepung dan bisa dimasak
untuk dimakan.

Gaber adalah sisa ampas singkong parut yang sudah diambil sari patinya.

23

Saat itu memang orang di Muara Dua kebanyakan miskin. Yang cukup berada
bisa dihitung dengan jari. Saya ngalami sendiri waku masih kecil, sekitar tahun 1968.
Dulu kalau musim kering semuanya susah. Air juga susah. Makanan susah. Semuanya
susah. Orang mencari ikan juga sudah ndak ada. Paling-paling cari kayu bakar untuk
ditukar makanan. Karena orang tua saya tidak kuat tenaganya mereka tidak bisa
mencari kayu. Akhirnya apa yang ada dijual untuk makani anak-anak. Saking kami
tidak punya makan, suatu hari ayah saya mengambil seng atap rumah kami untuk dijual
ditukar sama gaplek di daerah desa Karangsari di dekat Majingklak. Waktu itu saya ikut
ayah saya. Kami berangkat pagi sekali pakai perahu. Ketika itu pas musim angin besar
di laut. Dengan bersusah payah kami membawa seng untuk dijual. Hasil penjualan seng
itu dapat gaplek setengah kwintal dan berasnya hanya dapat 10 kg. Itu untuk bahan
makan sampai 2-3 bulan, sambil menunggu musim hujan.
Termasuk tahun 1965 ketika terjadi peristiwa G30S/PKI, kenang pak Handoko.
Sebenarnya orang Kampung Laut, sama seperti orang di daerah lainnya, hanya ikutikutan orang luar saja. Siapa sing rame, melu. Jadi tidak tahu apa arti sebenarnya PKI
itu. Oh di sana ada sedhulur melu PKI, PKI rame, maka melu. Tapi tidak ada yang
sungguh-sungguh aktif di partai. Kalau tidak salah hanya dua orang yang dianggap
terlibat. Satu kepala desa Ujung Gagak, satu orang warga dari Ujung Alang. Dan
mereka berdua ditahan di Nusakambangn. Yang lain tidak ada. Jadi orang Kampung
Laut hanya melu-melu. Makanya ketika PKI jatuh lalu banyak orang dibunuh, orang
Kampung Laut juga tidak ada yang jadi korban. Juga saat ramai-ramai terjadi PETRUS,
orang Kampung Laut juga tidak ada yang jadi korban.

Peristiwa Perang saudara di tubuh TNI


Setelah lewat masalah DI/TII dan PKI, terus ada lagi masalah. Tiba-tiba
pemerintah mengeluarkan larangan pembelian segala bahan makanan oleh penduduk,
terutama beras. Larangan itu muncul karena semua pasokan beras dibeli dari Jawa
(Tengah) dan dibawa ke Jawa barat. Rupanya saat itu sedang terjadi perang saudara
dalam tubuh TNI. Pasukan Siliwangi melawan pasukan Indonesia di Jawa Tengah.
Padahal pasukan Siliwangi dan Jateng sama-sama Indonesia. Di sepanjang rel kereta api
terjadi baku tembak. Karena membela ekonomi. Membela beras. Katanya kalau beras di
bawa ke sana (Jawa Barat) dibuang. Jadi tujuannya untuk melemahkan ekonomi
Indonesia. Itu rahasia sana (Jawa Barat). Maka pemerintah Jawa tengah melarang
menjual beras, takut diselundupkan ke Jawa Barat.
Saya waktu itu menjadi petugas keamanaan di OPR, kenang pak Sumbardja.
Makanya saya ditugaskan untuk mengawasi peredaran beras ke Jawa Barat. Kalau ada
beras mau di bawa ke Jabar harus dipertahankan. Kalau malam patroli di lautan untuk
mencari kalau ada orang atau kapal lewat. Isinya mereka itu pasukan Siliwangi. Cuma

24

mereka mreman. Tapi saya berani saja. Berani ngomong. Soalnya saya juga tugas.
Biarpun saya tidak memakai pakaian hijau. Tapi saya berani. Lebih tahu Bapak.
Sayakan anak buahnya, kata saya. Mereka tidak berani.
Saya pernah mengalami di Kawunganten. Waktu itu saya mau beli beras. Tapi
tentara luar biasa banyaknya yang datang ke sana. Seperti mau perang. Satu truk itu
tentara tok. Terus mereka berpencar. Rupanya tentara pada nempur, pada mau beli
beras. Kalau ada orang datang mikul beras ditanyak berturut-turut sampai akhir. Saya
juga menanyakan sama orang yang mikul beras itu, harganya berapa. Saya didekati oleh
tentara, dibentak, Mau tanya apa?!. Ndak tanya apa-apa Pak, jawab saya. Namun saya
bisa mengambil beras langsung dari bakul di situ, tidak membeli di pikulan, dari pada
rubes sih.

Kerasnya hidup nelayan di Segara Anakan


Sampai tahun 1970 semua desa lain masih terlihat dari Penkel. Waktu itu
Penikel masih merupakan sebuah pulau. Di tempat lain ada pulau Muara Dua, Pulau
Ujung Gagak, Motean dan Klaces. Di Muara Dua sekitar tahun 1970-1971 masih lautan
semua. Sebelumnya penduduk membangun perkampungan di sebelah timur, di muara
kali Sereh. Tapi karena di sana pertumbuhan semak-semak sangat cepat, sampai di
kolong-kolong rumah panggung, orang sering diserang binatang. Pertumbuhan
hutannya juga cepat. Akhirnya orang pindah ke Muara Dua. Waktu masih rumah
panggung di Muara Dua ada sekitar 170-an rumah. Saat itu hasil nelayan masih
lumayan. Terutama di musim hujan. Tapi kalau musim kering/paceklik ndak ada hasil.
Saat tidak ada hasil laut warga hidup dari mencari dan kayu bakar yang
kemudian dijual ke Kalipucang, Kawunganten, Sidareja, dll. Menjualnya saja sangat
susah. Dulunya dari Muara Dua ke mana-mana jauh. Ke Cilacap, Kawunganten, dan
lain-lain sampai dua hari dua malam. Pakai perahu dayung. Kalau berangkat dari sini
sore, sampai ke sana pagi jam 4. Pulang perginya sampai dua hari. Sekali membawa
satu perahu sampai dua hari. Makannya khusus dari itu. Maka musim paceklik orang
susah sekali cari makan. Susah sekali makan nasi. Orang dulu makan gaplek/tiwul.
Belinya di Kawungnten. Pasaran di Kawunganten seminggu sekali. Kalau sungguhsungguh tidak ada makanan penduduk mengolah pohon putut (tancang) untuk dimakan.
Sekitar tahun 71-an di Muara Dua masyarakat mengalami kelaparan hebat. Orang
sampai mengambil buah bogem untuk dimakan. Akibatnya hampir separoh desa yang
pindah ikut program transmigrasi. Ada 40 kepala Keluarga yang bertransmigrasi ke
Aceh. Kemudian tahun 1985 sebanyak 60 KK bertransmigrasi ke Riau.
Saya masih selalu terbayang situasi waktu saya masih kecil, kalau malam
melihat ke langit, langit gelap, kenang pak Rumbono. Saat laut masih dalam, jika ada

25

angin kencang, ombak laut masih besar. Airnya juga masih deras. Perahu diikat saja
kalau air surut, bunyinya menderu. Jadi kalau tidak biasa seperti orang kampung laut
itu, memang takut. Tapi karena sejak kecil diajari orang tua bekerja keras, karena
hidupnya di laut, mau tidak mau harus menghadapi alam yang ada di laut. Nasib
nelayan waktu itu tidak bisa dipastikan. Apalagi waktu peristiwa G30S/PKI tahun 1965.
Itu sangat memprihatinkan. Sekolah di Ujung Alang bubar saat saya kelas IV. Waktu
itu gurunya dilaju dari Cilacap. Kebetulan guru-guru itu telibat G30S. Akhirnya sekolah
bubar. Tidak ada sekolahan. Wah saya sampai nangis. Nangisnya karena koq sampai
seperti ini nasib kita hidup di Kampung Laut. Nah, dari itulah saya punya prinsip,
setelah dewasa, anak saya jangan samapai seperti saya. Apapun yang terjadi, saya akan
membanting tulang dengan cara yang baik, saya percaya Tuhan akan tahu. Yaaa,
meskipun saya SD tidak lulus, anak saya sampai S1, D3. Itulah saya bersyukur.
Saya mengalami rumah di atas panggung. Meskipun masih anak-anak saya
berkewajiban membantu orang tua memperbaiki jerampah (emperan depan rumah
panggung yang terbuat dari kayu). Kalau ada yang rusak saya nyerep (menggantinya).
Maka saya sering merenung, sering terkesan dan merindukan supaya desa kembali ke
masa dulu. Karena, pertama desa itu bersih dari sampah. Karena terbawa arus laut.
Pekerjaan orang tua saya adalah Kadus (bau), tapi sumber penghidupan tetap
nelayan. Karena jaman dulu, jabatan itu murni untuk melayani masyarakat. Jika kita
tidak punya penghasilan sendiri, jangan harap kita bisa hidup. Jadi pelayanan murni.
Saya mengalami itu.
Ketika bapak saya ke Cilacap untuk rapat, saya yang mengganti ayah saya ke
laut. Ketika itu umur saya 10 tahun. Saya ingat sekali, meskipun baru berumur 10 tahun
saya sudah berpikir dewasa. Kalau saya terus hidup di sini (Ujung Alang) seperti ini,
terus anak saya besok seperti apa?
Kalau bekerja itu biasa. Itu tanggung jawab. Tapi kalau harus kerja menghadapi
alam yang keras, kalau hujan, petir, badai harus melaut, paling penghasilannya paspasan. Karena dulu penghasilannya sangat terbatas. Lain dengan perkembangannya
sekarang. Kalau sekarang apapun hasil nelayan harganya bersaing. Kalau dulu nelayan
diatur oleh tengkulak. Jadi tidak bisa dapat harga yang tinggi. Makanya untuk nelayan
biasa jangan harap ada kelebihan. Hanya orang tertentu yang bisa punya kekayaan,
yaitu tengkulak atau yang punya modal dan jaring.

26

Dulu kebanyakan keluarga punya lahan sendiri-sendiri untuk pasangan 5 widei


(jaring apong yang dipasang di tengah laut). Jadi saya tlukah, punya pasangan. Kalau
orang yang tidak punya pasangan, ya hidupnya njaring, nurung, mintur. Itu pekerjaan
orang-orang yang tidak punya pasangan.

Ketergantungan pada musim - Kalender Suku Pejagan


Sebagai nelayan mata pencaharian Suku Pejagan sangat tergantung pada musim.
Mereka pergi menangkap ikan memakai perhitungan mangsa (masa, waktu atau bulan).
Merka tahu bahwa kalau mangsa ke sana, mangsa ke 3, penghasilan laut mulai turun.
Mangsa ke 3-11 orang nelayan Pejagan laut belum berhasil. Perhitungan mangsa itu ada
dalam Kalender Pejagan, kalender yang mereka pakai untuk menentukan kapan mereka
pergi ke laut untuk menangkap ikan. Pedoman perhitungan mangsa Suku Pejagan
adalah 6 (enam) bulan. Mangsa Siji (satu) adalah bulan Juli. Perhitungannya demikian:
7-6 = 1. Mangsa Karo adalah Agustus, yaitu 8-6 = 2. Bulan September adalah mangsa
telu. Oktober adalah mangsa papat. Demikian seterusnya. Mangsa Karo adalah mangsa
hujan. Musim banjir itu masa karo, kapat, kanam, kapitu, kewulu, kasanga, itu banjir.
Tinggal hasilnya. Banjir itu ada hasilnya atau tidak. Biasanya mangsa 6 baru mulai ada
hasil. Mangsa 6 itu berarti bulan Desember. Nanti sampai mangsa 9 (Maret). Mangsa 9
sudah angin timur. Pada mangsa ini hasil tangkapan sudah mulai berkurang, karena
ikannya mulai kurang. Nanti banjir kapitu (Januari) lumayan hasilnya. Banjir itu mulai
Karo, setelah tidak ada hujan. Tapi banjir Karo ceritanya tanahnya adem. Karo ketiga
itu ngendet lagi, tanahnya panas. Ini miturut perhitungan orang tua dulu begitu. Saya
ngrungoaken sih. Nanti karo kapat banjir lagi, tidak ada hujan tapi tanahnya juga adem.
Kelima, kalau ganjil, itu mungkin banjir. Ngko ketiga. Ngko kanam. Ini nanti
(Nopember) kanam, hujan harusnya ada menurut perhitungan. Banjir kanam itu paling
besar. Bisa naik masuk ke rumah. Banjir gede malam hari. Nah, kalau masa kesanga,
nanti banyu paling besar, tapi siang. Jadi gentenan itu. Kalau kanam besarnya malam,
kalau ke sanga besarnya itu siang, sampai bulan (masa)10. Mangsa 10 paling besar
terakhir, banyu sing terakhir. Ya titeni mengko, mengko bulane. Masa 10 itu paling
ngepol, jane pancaroba. Itu menurut perhitungan Suku Pejagan.
Di samping itu, soal penghasilan itu bagaimana tahune? Ora pada sih, tutur
pak Sumbardja sambil menggambar lingkaran dengan telunjuk di lantai. Mulane orang
sok ngomong, lah biasane bulane iki biasane wes ana hujan, wes ana hasil. Tapi tahune
....? lah kiye. Nek orang Jawa perhitungannya macam-macam. Tahune tahun apa?
Tahun Ali, tahun Wawu, tahun Jemahir, dan sebagainya. Jadi ora pada. Robah-robah.
5

Pasangan adalah semacam pagar perangkap ikan di tengah laut. Biasanya terbuat dari kayu
atau bambu. Pada pasangan itu dipasang jaring yang disebut widei dan juga wuwu (bubu)
untuk menangkap ikan.

27

Robahnya ke sanga tahun. Mulane kula niki sungkanlah nek belajar kuwe remit (rumit).
Contoh sekarang ini (Nopember 2012) tahunnya tahun Wawu. Nanti tahun depan
(2013) tahu Jemahir (terakhir).
Dalam perhitungan Suku Pejagan, sebenarnya semua bulan itu bagus.
Tergantung usahanya manusianya. Kalau usahanya cuma satu, ya...banyak kurangnya
(tidak banyak hasilnya). Ya seperti orang nelayanlah, ya. Orang nelayan kalau
diperhitungkan tanggal slawe istilah orang nelayan angkat sepisan. Slawe, enam likur,
pitu likur, wolu likur, lewat pitu likur bae sudah berubah. Mulai turun. Lah maka kalau
dihitung, saya dulu juga nelayan 6 , kula perhitungkan, banyak kurang (kebanyakan
kekurangan). Mbok wong tanggal slawe, 26,27,28,29,30 tanggal 1, kiye nggo ulih-ulihe
ceritanya. Tanggal 2-9 arepe ngangkat maning. Tanggal nom. Tapi sing diambil paling
7 dina (hari). Jadi dari 15 hari yang diambil cuma 7 atau 8 hari. Yang satu minggu kan
tongkrong. Nggak usaha. Karena kepercayaan (alat) cuma satu. Contoh perhitungan
pemasangan widei. Dalam setiap bulan, mulai tanggal 10 bulan jawa, itu ayatan
(pemasangan) yang pertama. Ayatan ngangkat itu berlangsung sampai tgl 17. Setelah
itu masa istirahat sampai nanti tanggal 25 bulan Jawa. Tanggal 25 itu wiwitan (awal)
yang pertama lagi sampai tanggal 5 atau 6. Setelah itu prei lagi. Lalu nunggu tanggal
10. Jadi antara tanggal 10-25 itu sebagai tanda wiwitan dari ngangkat, dari pekerjaan
awal. Tanggal pasangan widei seperti itu menyesuaikan dengan keadaan alam.
Pasangan hanya bisa saat air deras, karena kalau air tenang ikan tidak bisa masuk ke
dalam widei. Jaman dulu orang hanya punya satu alat, ya widei itu. Maka sangat
tergantung pada alam, pada musim. Sekarang, setelah ada jaring, nelayan tidak
tergantung lagi pada musim. Entah air deras atau tidak jika orang memasang jaring
tetap dapat ikan. Sebetulnya kalau bisa pindah usaha lain atau alatnya lebih dari satu
jenis, kemungkinan bisa ada kelebihan. Bisanya di sini bisa ada banyak kekurangan kan
begitu. Alatnya cuma satu. Padahal orang nelayan itu sebenarnya bidang usahanya
banyak, miturut (menyesuaikan) mangsa. O kiye masa siji kudu pintur, nggarap
kepting. Pintur cara kuna. Masa loro apa nggarap...masa telu apa. Mengikuti mangsa.
Jadi kosong ini ganti ini, kosong ini ganti itu.Tapi untuk bisa begitu alatnya harus
banyak. Masalahnya jaman dulu alatnya sangat terbatas jenisnya.
Yang juga menyebabkan nelayan jaman dulu selalu kekurangan adalah
ketergantungan mereka pada bakul (tengkulak). Kebanyakan nelayan itu terikat pada
bakul. Apalagi yang tidak punya alat. Saya tidak punya alat, diberikan alat, dipinjamkan
perahu oleh bakul. Tapi mereka harus setor pada bakul. Harga hasil tangkapannya
tergantung bakul. Misalnya di luar harganya seratus, di tempat bakul hanya 50, jadi
6

Dulu pak Sumbardja adalah salah satu pengepul (bakul) ikan di Motean.

28

n.
di Cilacap 1908

n.
di Cilacap 1908

separoh harga, ya harus disetor pada bakul. Padahal masa kuna, waktu itu saya masih
kecil, hasilnya hitung perahu. Tapi orangnya banyak kekurangannya. Itu karena
orangnya terikat sama bakul. Alatnya, makannya, hutang pada bakul, harga tangkapan
dibeli lebih rendah. Bakul-bakul besar (terkenal) di Motean pada jaman Belanda antara
lain Wirya Santa, Tirtasengaja (bakul terasi), Nini Mertaderana. Bakul-bakul ini
menjual ikanya ke Cilacap, ke Kalipucang. Dulu di sini ada toko, ning toko Cina. Orang
Jawa tidak ada yang punya toko. Tidak bisa bikin toko.. yang bikin toko orang Cina.
Pemilik toko terkenal seperti Babah Ing, Babah Dadi, Babah Kimli. Babah Babi. Ya
namanya Babah, karena turunan Jawa. Bukan Cina asli. Dagangannya yang
ngangkutnya namanya Nyonya Seneng. Dia orang Cilacap, tempatnya di Sleko.

Pantai Cilacap dengan toko-toko besar milik orang Cina,1917

Di Cilacap yang membeli hasil nelayan juga orang-orang Cina. Tidak ada orang
Jawa. Sedang saya pada waktu dagang ikan, yang menerima ya orang Cina. Babah
Wasim namanya. Rumahnya di depan bisokop Sinar. Ada Babah Wahok. Rumahnya
diterobosan Manggisan. Babah Wabi di Kebon Baru. Mereka semua orang dagang.
Mereka berdagang sampai ke kampung Karang Anyar.

Suasana kehidupan di Rumah Panggung


Menurut cerita orang tua-tua, sampai tahun 1927 kampung laut masih luas.
Pantai Segara Anakan masih sampai rel sepur di Gandrung. Kakek buyut saya, Bau
Bendil, dulunya tinggal di Panikel, lalu pindah ke Ujung Gagak, cerita pak Karto
Admojo. Mereka menyeberang laut luas untuk sampai di Ujung Gagak. Desa Ujung
Gagak saat itu masih kecil. Masih lebih luas desa Ciberem. Sekitar tahun 60-an rumah

29

panggung di desa Ciberem masih 6 jalur. Satu jalur bisa ratusan rumah. Sekarang warga
Ciberem menjadi sedikit karena banyak yang transmigrasi ke Sumatera.

Ciberem merupakan desa terpadat di Segara Anakan waktu itu

Rumah-rumah tersebut dibangun di atas tiang kayu tancang (salah satu jenis
pohon bakau). Setiap rumah panggung memiliki jerampah (latar). Rumah yang satu
terhubung dengan rumah lainnya oleh jembatan dari kayu.

Motean

Kalau malam suasana gelap gulita. Kalau yang mampu pakai petromak, kalau
yang ndak mampu ya pakai sentir (lampu minyak). Kalau air sedang pasang, tahu
bahwa di bawah ada ikan.
Umum di suku Pejagan dalam satu rumah dihuni beberapa keluarga. Sebenarnya
setiap keluarga waktu itu bisa bikin rumah panggung sendiri-sendiri. Karna waktu itu
masih banyak kayu. Tapi kembali terbentur masalah eknomi. Meskipun masih banyak

30

kayu namun untuk membangun rumah juga memerlukan banyak biaya. Sehingga
mereka tidak bisa bikin rumah. Orang kaya bisa bikin rumah dari papan (dinding dan
lantai). Sedangkan keluarga ekonomi menengah bikin rumah dari plupuh (bilik
bambu).
Satu keluarga bisa terdiri dari tiga sampai empat Kepala Keluarga. Tidak ada
rumah yang hanya dihuni satu kepala keluarga. Kecuali orang kaya sekali yang punya
satu rumah untuk satu keluarga. Tapi di situpun biasanya ada pembantu-pembantu
dengan keluarga mereka. Misalnya saya jadi pembantu, anak dan siteri saya harus
diikutkan di situ. Maka rumah waktu itu besar-besar. Sekitar 12 x 16 meter. Rumah
milik satu keluarga, kemudian ada keluarga lain yang mondok (numpang). Itu terjadi
karena keluarga yang numpang itu ndak punya rumah, miskin dan tidak punya peralatan
nelayan. Akhirnya yang tidak punya rumah dan punya alat makai alat yang punya, dan
saking miskinnya akhirnya keluarganya juga numpang di situ.

Kehidupan rumah-tangga
Pada waktu itu kebanyakan rumah tidak ada sekat-sekat atau kamar, kenang pak
Gunantoro. Kalau tidur gelaran. Kalau ada enam kepala keluarga dalam satu rumah,
semuanya tidur jadi satu di situ. Tidurnya ya pasang-psangan. Meskipun begitu rupanya
tidak ada masalah dalam hubungan intim suami isteri. Mungkin rahasianya dulu tidak
ada penerangan. Sehingga walaupun tidur bersama di suatu ruang terbuka, tetap saja
banyak anaknya.
Kadang ada juga rumah yang punya emperan (kamar). Emperan itu dibuat
semacam kamar di pojok. Namanya sentong. Di tengah ada ruangan untuk jalan. Tapi
itu hanya rumah keluarga yang kaya. Rumah yang seperti itu sudah dianggap mewah
pada masa itu. Kalau pengantin baru diberi kamar khusus beberapa waktu. Setelah itu
tetap kembali semula.
Meskipun satu rumah dihuni beberapa keluarga, tapi kehidupan rumah tangga
jarang ada masalah. Kasus perselingkuhan sangat jarang terjadi. Mungkin itu karena
masyarakatnya sederhana, dan belum terpengaruh oleh tehnologi seperti sekarang.
Sarana yang bisa mengarahkan pada perselingkuhan tidak ada. Selain itu suami dulu
harus bekerja keras. Sepanjang hari di laut. Pulang sudah capek. Maka setelah makan
langsung tidur. Keesokan harinya berangkat lagi. Selain itu ketaatan pada adat masih
kuat. Hukum adat masih dilakukan (dipatui). Misalnya rumah tidak ada pintu tapi tidak
ada maling. Padahal setiap rumah waktu itu pasti punya emas.
Di setiap rumah ada penampungan air tawar. Soal makan minum ditanggung
sendiri-sendiri oleh setiap keluarga. Setiap keluarga masak sendiri-sendiri. Mereka

31

masaknya gantian karena pawonnya (tungku) hanya satu. Misalnya satu keluarga
masak pagi-pagi sekali. Nanti setelah itu keluarga lainnya. Kadang ada juga keluarga
masak bareng. Sekali masak beberapa kilo. Sehingga mereka perlu memasak dengan
menggunakan sebuah dandang besar.
Musim pelabu dan rendeng (hujan) selalu ada ombak gede, kenang pak Taryono.
Saat angin dari luar membawa ombak tinggi biasa rumah yang di atas panggung
kebanjiran terkena ombak. Orang tidur pada basah karena tidak ada amben. Rumah juga
tidak ada daun pintu. Paling dipasang kerei dari widei. Jika terjadi angin kencang atau
hujan deras orang akan mengambil tempat untu menjemur terasi untuk menutup pintu.

Rumah-rumah sederhana dengan jembatan penghubung di depan rumah

Kehidupan masyarakat waktu itu masih sangat sederhana. Selain cara hidupnya
yang sederhana, masyarakat juga penurut. Apa yang diminta pemerintah dijalankan
tanpa banyak bicara, tutur pak Karto. Umpamanya bapak saya bakul. Di laut ada orang
sedang jala. Lalu orang jala minta diantarkan makanan ke tengah laut, bapak saya mau.
Sekarangkan gak mau disuruh gitu. Kalau saya ke pasar dengan bapak saya, nanti
pulang bawa oleh-oleh, yang lain dibageni (dikasih). Itu sudah bangga.
Ada banyak juga orang yang kaya jaman itu. Saya tidak ingin menonjolkan. Di
Ujung Gagak yang terkaya adalah kakek mertua saya, pak Kartawirjda. Sedangkan di
Ciberem, itu kakek saya, Pak Jaya Kadim. Kakek saya rumhanya empat. Yang satu
untuk warungan, jualan sembako. Yang satu untuk menampung terasi. Yang satu untuk
balean (tempat tidur) dan yang satu lagi untuk dapur dan warin kambangan.

32

Kakek saya pengepul udang dan jualan. Dia juga punya alat. Alat itu
dipinjamkan pada nelayan. Yang penting hasilnya dijual pada kakek saya. Kakek punya
10 perahu jukung. Perahu itu juga dipakaikan pada nelayan. Dia juga beternak babi.
Saya pernah disuruh ngurusi babi. Ada puluhan babi yang dipelihara.

Rumah-rumah besar di atas panggung di Muara Dua 1900


Perbedaan rumah orang kaya (depan) dan rumah keluarga miskin
(kanan)

Meskipun termasuk kaya, kakek dan nenek saya hidupnya sangat sederhana.
Mereka biasa-biasa saja. Di rumah kakek saya ada banyak pembantu dan keluarganya.
Sementara suami mereka pergi melaut, isteri-isteri bantu di rumah. Ada yang masak,
ada yang ngurus jualan ada yang ngerjakan udang, dan lain-lain. Tidak ada yang boleh
nganggur. Bahkan saya sering disuruh nenek jualan. Bawa kue-kue pakai tampah.
Neh, jam semene akeh sing medang. Jualan kono! kata nenek pada saya.
Saya pergi jualan. Anak-anak lain juga ada yang jualan. Kebanyakan yang jualan
anak perempuan. Yang dijual biasanya jajanan, ada pisang, tela, kue, permen, dan lain
sebagainya. Sedangkan alat pembayarannya bisa pakai uang atau pakai beras. Jajanan
yang dijual juga tidak selalu milik sendiri. Seringkali punya pedagang di desa.
Kalau sudah capek jualan kami biasanya duduk-duduk di jerampah. Ngobrol
atau main. Yang paling berkesan saat kami semuanya nyebur ke laut. Orak lanang, ora
wadon, semuanya telanjang. Padahal sudah gede-gede. Siraman. ... byuuuurrr.
Saat bawa jualan atau kalau main malam-malam sering kali terperosok. Karena
kayu jembatan ditengah kampung banyak yang sudah lapuk. Jualan pada tumpah. Ya
nangis. Takut dimarahi orang tua atau yang punya jualan.

33

Anak-anak Suku Pejagan dengan barang jualan mereka

Pernah kakek saya nyunati pak Lek, anak bungsunya. Kakek nyembeleh sapi.
Walah, gegere orak keru-keruan orang Ciberem. Baru sekali itu orang Ciberem
nyembeleh sapi. Sapinya diambil dari Sidareja. Perahunya dibikin gethek, didayungi.
Satu hari satu malam baru nyampe Ciberem. Bikin tratak satu minggu baru jadi. Pakai
atap. Orang kerja sampai 50. Jadi atap dipasang dibawah. Sesudah jadi baru diangkat.
Maka berat sekali. Untung waktu itu gotong royong masih sangat kuat. Sayang sekali
waktu itu blum ada foto.

Tidak ada pendidikan


Sampai lama sekali Suku pejagan tidak dapat menikmati pendidikan berarti
seperti anak-anak lainnya di Indonesia. Pertama kali ada SD di Desa Ujung Alang,
sekitar tahun 1960-an. Tapi hanya sampai kelas 3. SD itu punya pemerintah. Tapi ndak
ada meja atau kursi. Semua anak-anak pada duduk di lantai blabak (bambu). Kemudian
ada SD di Ciberem. Kedua Desa itu penduduknya banyak. Sangat Padat. Di Ciberem,
kalau tidak ikut transmigrasi tahun 1967, penduduknya sudah padat sekali. Saya sendiri
tidak mengenal sekolah. Saya pernah sebentar masuk sekolah swasta di Panikel terus
pindah ke Bugel tapi tidak lulus, tutur pak Prayitno. Di Bugel mulai ada sekolah tahun
1976. Waktu itu sekolahnya masih sangat sederhana.
Saya mulai sekolah tahun 1967, kenang pak Handoko. Saat saya kelas 1, satu
tahun gurunya ganti 3 kali. Karena gurunya ndak kerasan di sini. Waktu itu sudah di
sini sekolahnya. Tapi kan belum ada gedung sekolahan, masih numpang di rumah

34

masyarakat. Waktu itu belum ada bangku-bangku, masih ngangkap (tengkurap), pakai
sabag (papan tulis). Guru pertamanya orang pindahan dari Patikraja. Dia dari SGO
(Sekolah Guru Olahraga). Karena di sini ndak ada guru, dia berjuang di sini mengajar
anak-anak. Setelah satu tahun baru ada penambahan guru dari Cilacap. Baru empat
bulan guru dari Cilacap sudah ndak kerasan, pindah. Ndak kerasan, pertama karena
perjalanan. Juga kalau musim kemarau airnya ndak ada. Mesti ambil di
Nusakambangan. Dulu perahu ndak ada mesin. Harus pakai dayung. Jam 4 jam 5 subuh
sudah pada magang (ngantri) air. Kan belum ada jerigen. Bawa air pakai gentong.
Pernah terjadi rebutan air, gentong sampai pada pecah. Sampai tahun 1980-an yang
sekolah sampai SMA itu pilihan orang. Pilihan orang artinya anak-anak dari keluarga
berada. Ada yang sekolah di Cilacap, ada yang di Kawunganten, ngekos. Kadangkadang ada yang pulang, belum bayaran (belum bayar SPP).
Hal yang terpenting pada waktu itu adalah pendidikan. Masyarakat sangat ingin
dapat pendidikan. Maka, setiap ada rumah kosong waktu itu dijadikan sekolah. Dan
setiap ada sekolah dibuka, tidak peduli siapa gurunya, apa fasilitasnya, anak-anak rajin
datang ke sekolah. Bahkan tidak ada raportnya. Misalnya kelas IV, raportnya tidak
pernah ada. Ketika terjadi G30S, sekolah bubar. Anak-anak semua jadi korban. Maka
anak-anak yang putus sekolah waktu itu bertekat, anak-anak mereka harus sekolah.
Supaya mengerti angka dan bisa bergaul dengan orang-orang di luar sana.

Lama sekali anak-anak Suku Pejagan tidak mendapatkan akses pendidikan yang layak

35

Aktifitas saat tidak melaut


Pada waktu itu, secara manajemen sangat banyak kerugiannnya. Yang pertama,
orang masih sangat diatur oleh alam. Contoh: kalau orang punya widei, kalau air sudah
mau surut, harus masang. Meskipun malam, meskipun ada hujan badai, harus
berangkat. Kalau tidak berangkat kan tidak ada hasil. Itulah orang masih diatur oleh
alam. Tidak bisa leluasa berhubungan dengan sesama, karena masih terikat oleh alam.
Yang dipikirkan cuma itu-itu saja. Cuma makan-kerja, makan kerja. Kalau musim
pasang, musim ngangkat, sepanjang minggu kerja. Semampunya. Tapi nanti satu
minggu lagi prei. Istirahat.
Pada masa-masa air tenang (masa ngember-kalender Jawa), nelayan tidak
melaut. Kesempatan itu dipakai warga untuk tinggal di rumah sambil memperbaiki alatalat, seperti waring (jaring), memperbaiki rumah, dan lain-lain. Waktu itu orang
memperkuat waring dengan cara ditungu dengan menggunakan bahan kulit kayu Girih.
Kulit kayu girih bisa menambah kekuatan jaring. Kulit girih digodog, setelah mendidih
airnya berwarna merah. Jaring dimasukan dalam air itu. Itu namanya ditungu. Dulu, jika
setiap ngeber alat tidak diperbaiki, alatnya tidak tahan lama. Maka harus rajin merawat
alat. Jika tidak rajin, alatnya cepat rusak. Maka orang dulu yang peka-peka, yang rajin
merawat alat, pendapatannya lumayan. Selama tidak melaut, perahu juga digalang, di
tir. Makanya dulu waktu satu minggu tidak melaut itu pas untuk memperbaiki alat. Itu
sebabnya dulu penghidupannya pas-pasan. Satu minggu pendapatan untuk satu minggu
istirahat. Itu pas. Karena alatnya terbatas. Selain ngurus alat nelayan, dulu orang juga
kreatif, bikin tampah, keranjang dan sebagainya dan rajin-rajin (bagus) buatannya, bisa
tahan 2-3 tahun sekali buat.

Suasana di depan rumah seorang pengepul udang


36

Hiburan
Jaman dulu orang tidak punya hiburan apa-apa. Maka kalau ada orang hajatan
semua orang datang. Mendengar bunyi gamelan atau bunyi gong saja masyarkat sudah
merasa sangat terhibur. Dulu orang rajin. Maksudnya kalau ada orang lagi hajatan, di
sini hajatan biasanya sampai dua hari dua malam. Nah, kalau ada hajatan biasanya
pemuda kondangan pada saat siang. Cilakanya saat pemuda-pemuda lain kondangan,
saya masih harus mintur untuk nyari uang saku buat kondangan, kenang pak Prayitno.
Lengger wes muni (sudah berbunyi), tapi di sini (saya) masih di tengah laut, masih
mintur (mencari kepiting). Ngangkat pintur pinturnya kosong. Aduh! Itu kenangan
paling pahit. Batire (teman-teman) sudah dandan, arep kondangan, aku urung olih
duit. Itu keluhan dalam hati saya. Tapi legi ne, setelah dapat uang bisa beramai-rame
pergi kondangan siang.
Jaman dulu kalau ada orang di Kampung Laut yang tidak mau main judi, orang
itu malah dianggap banci. Tapi kalau orang yang mau main, itu dianggap orang yang
hebat. Kalau suaminya lagi main judi, ibunya masak. Nanti masakannya diantar pada
suami yang sedang main judi. Kalau suaminya bilang, Bu, aku kalah, nanti ibunya
pulang, ambil duit untuk dikasih pada suaminya untuk main lagi. Kadang juga ada yang
mengambil simpanan emas untuk berjudi. Jaman dulu orang Kampung Laut banyak
yang berinvestasi emas. Maka banyak orang yang menyimpan atau mengenakan
perhiasan emas. Karena emas itu bila suatu saat ada keperluan mendadak mudah dijual.
Maka waktu itu, bagi yang kaya gelang emasnya bisa penuh lengan.
Minum minuman keras tidak lasim dalam masyarakat Kampung Laut. Mereka
kadang minum kalau ada pentas obyok (lengger/sawer). Orang pesan ciu (arak). Lalu
joget, nyawer. Namun budaya minum minuman keras makin ke sini makin hilang.
Dalam masyarakat nelayan Kampung Laut, yang ke laut adalah kaum lelaki.
Sedangkan ibu-ibu tinggal di rumah menunggu penghasilan bapak dari laut. Nah untuk
mengisi waktu saat ditinggal suami mereka melaut, apa yang dikerjakan oleh para ibu
itu tergantung penghasilannya. Kalau pas musim rebon atau ebi, ibu-ibu sibuk. Kalau
urusan ebi-nya sudah rampung, rebonnya sudah jadi terasi, ibu-ibu tinggal menikmati
hiburannya... maplek (main gaplek). Itu bagi yang mau. Pada umumnya dulu, ibu-ibu
di Kampung Laut pinter main judi gaplek atau ceki, kartu kecil.Masalahnya waktu itu
TV nggak ada, hiburan lain ndak ada. Paling-paling masak. Keculai para tengkulak tadi
sibuk, sehingga tidak ada waktu untuk main. Jadi justru ibu-ibu dari keluarga biasalah
yang main judi. Itu taruhan. Akibatnya bahkan sampai ada yang bangkrut atau terlilit
hutang karena kalah. Setelah bangkrut atau berhutang lalu sering terjadi pertengkaran
dalam keluarga atau dengan tetangga. Jeleknya di situ. Umumnya akar padu itu judi.
Kalau padunya orang dulu di sini sampai jinjing-jinjing jarit (mengangkat kain). Rame.

37

Judi sebenarnya sudah dilarang sejak dulu. Polisi desa bisa nangkapi orang yang
main judi. Kalau orang ketangkap main judi, pemain judi dikalungkan kartu lalu diarak
keliling desa. Tapi dalam prakteknya penangkapan ini sangat jarang terjadi. Karena
yang main judi hampir semua warga desa. Tidak jarang polisi desa juga ikut main judi.

Kehidupan sosial
Meskipun dalam satu rumah ada beberapa keluarga dan sering terjadi
pertengkaran, tapi konflik yang besar hampir jarang terjadi di antara mereka. Itu
membuktikan bahwa orang Pejagan punya watak menyedulur. Tapi kalau orang belum
mengenal kepribadian orang Pejagan dan hanya melihat cara bicaranya, orang Pejagan
itu kelihatan keras. Tapi sebenarnya orang Pejagan itu menyedulur. Mengapa saya
katakan menyedulur, orang atau masyarakat Pejagan tidak pendendam. Saya belum
pernah mengalami ada dendam di sini. Sekarang misalnya bertengkar dengan tetangga,
besok sudah biasa lagi. Kalau saya melihat orang di sana (di luar Pejagan) kalau sudah
bertengkar lama dendamnya. Maka, kalau menurut saya, masyarakat Pejagan orangya
menyedulur. Hanya dengan pemahaman yang sangat berbeda mungkin bisa menjadi
pemahaman yang salah.
Orang Pejagan kalau berbicara suaranya keras itu ada sebabnya. Jaman dulu,
masyarakat Kampung Laut tergabung dalam komunitas-komunitas kecil di tengah laut.
Satu kelompok terdiri dari beberapa rumah. Dalam satu rumah terdiri dari beberapa
keluarga. Rumah-rumah itu terhubung satu sama lain oleh sebuah jembatan. Di tengah
laut anginnya besar. Kalau ngomong pelan, tidak akan terdengar. Maka orang ngomong
dengan berteriak. Jadi orang Kampung Laut berbicara keras itu karena faktor alam.
Jaman dulu setiap hari pasti ada orang padu (bertengkar). Setiap hari. Yang
paling sering padu waktu itu adalah kaum perempuan, ibu-ibu. Padunya bisa lama,
seru, bisa sambil njinjing jarit, sambil nangis. Bertengkar itu bisa dengan anggota
keluarga sendiri, bisa dengan tetangga. Penyebab padu terutama masalah penghasilan.
Kalau tetangga sebelah ngasihnya banyak, sedangkan sumainya tidak dapat, anak-anak
belum makan, ya ribut, padu dengan suami. Bisa juga karena selisih paham, judi,
selingkuh dan sebagainya.
Menariknya, kalau ibu-ibu padu sampai nangis, cerita pak Gunantoro. Kalau
sekarang orang nangis sembunyi di kamar. Kalau dulu ndak. Kalau dulu, kalau nangis
duduk didepan rumah, suguh-suguh bathok (menyorongkan kepala), sudah, nangis di
situ. Selama nangis mereka mengungkapkan segala uneg-uneg, kemarahannya, bahkan
sumpah serapahnya, sambil nangis. Karena nangisnya lama sering sambil ngudut
(merokok) atau nginang (makan sirih). Dan menariknya lagi, nangisnya seperti nyanyi.
Jadi ada lagunya. Nangisnya bunyinya gini huuhuuu..huuyee.e.ee..
?@!$&*.... Itu nangis.

38

Karena sepanjang hari di laut, maka hubungan sosial jaman dulu agak minim
dibanding sekarang. Paling nanti kalau ada orang hajatan baru ketemu. Makanya pada
waktu itu orang diatur oleh alam.

Adat dan tradisi


Dulu banyak orang suku Pejagan yang tidak pakai celana. Mereka lancingan
(pakai sarung). Jadi sarung sekaligus dipakai celana. Saya waktu kecil masih memakai
lancing, kenang pak Gun.
Merata di suku Pejagan bahwa pada musim paceklik mengalami kelaparan dan
kekurangan air minum. Prayitno menuturkan, di Penikel juga terjadi paceklik air, ikan,
dan segalanya. Pada musim rendeng (hujan) hasilnya banyak. Hanya sulit
pemasarannya. Nelayan di Segara Anakan tidak ada yang punya modal. Demikian juga
di Penikel. Paling-paling pinjam. Keadaan perekonomian masyarakat waktu itu masih
rendah. Hanya beberapa keluarga yang berdagang. Itu dikarenakan saat itu ada
dominasi dalam perdagangan. Keluarga kaya masih mengatur keluarga lain sehingga
perkembangan ekonomi keluarga lain bisa dikendalikan. Misalnya saya orang kaya,
jenengan saya rekrut. Maksudnya untuk menghindari jumlah saingan. Pada waktu itu di
Penikel ada tengkulak. Tapi jadi tengkulak pun di Penikel tidak banyak artinya bagi
perkembangan perekonomian. Karena baik nelayan kecil maupun tengkulak sama-sama
bodoh. Tengkulak hanya bisa membeli ikan, tapi tidak bisa memasarkan [buntu].
Nelayan juga sama. Tahunya bakul di situ ya di jual di situ saja. Kalau sekarang,
misalnya di Cilacap lima ribu dan di Kawunganten enam ribu, sudah terdengar. Jadi
bakul ndak berani macam-macam.
Karto bercerita, dulu di kalangan pedagang di Suku Pejagan ada adat gantian
hari pasaran. Di Ciberem adat itu bahkan masih ada sampai sekarang. Misalnya saya
pasaran hari Senin. Jenengan pasaran hari Kamis. Jadi seminggu hanya satu kali
pasaran. Gantian. Kosong gak masalah. Kalau jumlah pedagang lebih dari 7 dalam
sebuah kampung, systemnya sama. Mungkin ada 2 toko yang pasaran bersamaan.
Barang yang dijual kadang sama, kadang tidak. Aturan itu sudah ada sejak leluhur.
Akhirnya membudaya.
Adat pasaran seperti itu di masa itu diyakini muncul dari prinsip kebersamaan
dan kekeluargaan (menyedulur). Karena waktu itu rumah-rumah panggung
berkelompok menjadi suatu komunitas di tengah-tengah laut. Contoh Bugel ada 17
rumah. Yang punya warung di Bugel hanya ada 2 keluarga. Kalau bersaing nanti
banyak yang ndak laku. Karena yang beli orang-orang itu saja. Tidak ada orang beli
dari luar. Makanya ada suatu kesepakatan, dah kamu pasarannya nanti Rebo, saya
pasarannya Minggu. Nanti kalau ada warung baru lagi, Jumat misalnya. Itu etika

39

bisnisnya waktu itu. Jika di kampung itu hanya ada warung yang pasarannya hari
Minggu dan Rebo, misalnya, maka di hari Senin, Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu tidak ada
warung yang buka. Kalau pas membutuhkan sesuatu untuk dibeli, sedangkan hari itu
tidak ad ayang pasaran, ya mau tidak mau harus nunggu sampai pada hari pasaran
berikutnya. Itu sebabnya dulu di Penikel sering tidak ada beras, tidak ada rokok, atau
kebutuhan lainnya, yang dalam bahasa Pejagan disebut komplang. Waktu itu orang
sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Maka tidak ada warga yang mengeluh atau
tidak ada warung yang melanggar etika bisnis yang sudah disepakati itu.
Adat pasaran seperti itu bisa jalan karena dulu orang masih sangat sederhana.
Namun kalau sungguh-sungguh ditelusuri, sebenarnya adat pasaran seperti itu muncul
karena persaingan, karena tidak mau kalah. Walaupun dikatakan, supaya terjadi
perdagangan yang adil. Namun sebenarnya justru tidak adil. Bisa terjadi modal satu
dipakai orang dua. Pinjam meminjam. Maka di situ yang punya modal bisa
mendominasi. Dari segi pembeli juga tidak adil. Bisa jadi di warung suatu saat tidak ada
rokok. Bahasa Pejagan disebut komplang. Itu terjadi karena waktu itu system
pasaran masih menggunakan sistem bergilir. Maka bisa jadi ada hari di mana tidak ada
orang pasaran (jualan). Atau bisa juga kebetulan warung yang hari itu jualan tidak
punya rokok. Contoh, saya punya warung, saya pasarnya Rebo, ya warung saya hanya
buka pada hari Rebo. Dan pada hari itu hanya warung saya sendiri yang buka.
Meskipun misalnya barang jualan saya sudah habis, dan masih ada orang yang ingin
membeli sesuatu, warung lain tidak boleh buka. Itu perjanjiannya. Dan perjanjian itu
dijalankan dengan segala konsekuensinya. Warung sana pasarannya Minggu, warung
sana lagi bukanya Selasa. Mereka hanya buka pada hari pasarannya. Jika ada warung
yang pas pasaran, tapi karena ada suatu halangan sehingga tidak bisa buka, warung lain
tetap tidak boleh buka. Itu adat pasaran masyarakat di Penikel.
Adalagi adat hajatan. Pak Karto ingat sekali, jaman dulu jumlah orang hajatan
dalam sebulan diatur. Satu bulan orang sekian, misalnya 4. Orangnya nurut. Sekarang
tidak. Malah tiap hari. Hak saya koq, gitu jawabannya. Yang repot yang kondangan.
Nggak datang kasihan, datang bagaimana? Masak saya harus jual kaos? Pemerintah
dulu sudah ngatur kayak gitu, sekarang bisa berubah.
Hal yang paling menyedihkan dalam sejarah hidup masyarakat Pejagan adalah
terjadinya selingkuh dalam komunitas itu, kenang pak Gun. Ini royal (selingkuh)
dengan itu. Yang itu selingkuh dengan sana. Itu terjadi karena orangnya hanya di situsitu saja. Arep jajan, jajan mareng ngendi? Nah, selingkuh itu menyebabkan sering
terjadi padu (pertengkaran) dalam keluarga atau antar keluarga. Kalau padu, rame.
Ngomongnya pokoknya yang nggak enak. Apalagi ibu-ibu. Bisa sampai angkat-angkat
kain. Tapi uniknya, setelah padu, tidak ada dendam di antara mereka. Sudah padu, ya
sudah. Kalau sekarang bisa sampai terjadi orang berbunuhan, kalau dulu tidak. Paling,

40

kalau sudah tidak senang, ya pegat (cerai). Atau nanti dinasihati. Atau didiami. Lamalama akur. Ya sudah. Jaman dulu tidak ada istilah, misalnya isteri saya selingkuh
dengan pak Anu, lalu saya mukul pak Anu atau melaporkan pak Anu, tidak ada. Kalau
isteri saya ketahuan selingkuh dan saya tidak suka itu, paling isteri saya ditanya, kamu
suka sama saya atau pak Anu. Kalau dia bilang pak Anu, ya sudah. Cerai. Lalu dia
dinikahkan sama pak Anu7.
Sejak nenek moyang sudah ditentukan oleh adat bahwa satu hari dalam setahun
diadakan tradisi sedekah laut atau bumi. Bagi petani melakukan sedekah bumi dan
nelayan melakukan tradisi sedekah laut. Warga nelayan membuat sesaji, lalu dibawa
dan dibuang di laut. Air siraman untuk sedekah laut itu disiram oleh para nelayan ke
perahu mereka, untuk minta berkah dan keselamatan. Makna dari tradisi itu adalah
menyukuri apa yang diberikan kepada saya setiap hari oleh laut. Jadi di situ ada nilainilai luhur, yaitu sekali setahun mensyukuri hidup di atas bumi ini. Mensyukuri
anugerah itu membuat kita lega. Kalau tidak disyukuri nanti menimbulkan perasaan
was-was, jangan sampai ada ini-itu. Maka setahun sekali kita mensyukurinya.
Pak Karto menjelaskan bahwa Sedekah Laut adalah tradisi leluhur, di mana
semua warga berpartisipasi. Adat sudah mengaturnya. Adat dan tradisi itu sudah ada
sebelum agama ada di sini. Adat itu perlu dilestarikan. Jangan sampai adat itu punah.
Nah kenapa sekarang ada sebagian orang mau menyingkirkan adat dan tradisi leluhur?
Ini masalah serius. Yang sebenarnya harus mengurus masalah ini adalah ketua adat,
bukan RT/RW. Ketua adat harus menjaga agar adat dan tradisi luhur ini lestari. Kalau
ada orang yang menolak, mestinya ketua adat mendekati, memberikan arahan sebenarbanarnya. Jangan sampai nanti setahun dua tahun nanti hilang, tegas pak Karto.
Untuk menyelenggarakan sedekah laut sudah biasa kita mengumpulkan dana,
dan itu dikalukan melalui tarikan dengan menggunakan girik, cerita pak Karto.
Namun, menurutnya, tahun ini ada kejadian konflik. Ternyata panitia tidak
mengedarkan girik pada semua warga. Ada sebagian orang yang tidak dikasih girik oleh
panitia. Alasannya katanya mereka menolak tradisi Sedekah Laut. Sebenarnya kalau
sudah dikasih girik kita akan menggunakan prinsip, bahwa akan kita tarik. Kalau tidak
mau akan kita tanyakan, apa sih keberatannya? Mengapa orang itu tidak mau
menysukuri, padahal dia juga menerima dari laut atau bumi setiap hari. Kalau dia
menolak karena agama, umpanya, dia menolak nyumbang karena menganggap sedekah
laut itu syirik atau apa, akan kita kasih arahan, sekemampuan saya. Tapi karena di situ
mentok, mereka tidak dikasih girik, saya mana bisa mendekati?

Ingat cerita pak Takrun saat dia dipaksa menikahi isteri seorang gembong.

41

Kebersamaan
Dalam refleksinya pak Prayitno menemukan bahwa rupanya sistem pasaran yang
sering menyebabkan komplang tadi punya makna positif bagi pembangunan rasa
persaudaraan dan solidaritas dalam masyarakat. Pada waktu itu ndak ada misalnya saya
punya rokok satu bungkus lalu ada orang yang minta satu batang. Ndak ada. Tapi ketika
ada orang ngerokok teman yang tidak punya rook bilang, Mas gesane. Artinya minta
ikut ngemot (menghisap) rokok. Maka jaman itu rokok satu batang bisa dihisap oleh
beberapa orang secara bergiliran. Namanya emotan (menghirup atau menghisap). Jadi
teman yang satu se-emotan, yang berikutnya rong (dua) emotan, berikutnya lagi rong
emotan, dan seterusnya. Itu adalah bentuk dari sedhuluran masyarakat Penikel.
Mungkin karena terbiasa hidup dalam kekurangan kepedulian satu sama lain
sangat kuat, tambah pak Karto. Misalnya alat dapur terbatas, kalau ada tamu, sudah
umum pinjam tetangga. Nyelak piring begitu orang dulu minjam piring. Atau bila
kekurangan alat lainnya, juga kekurangan garam dan lain-lain, orang saling bantu.
Pak Karto ingat sekali, bahwa dulu nasi terasa enak sekali. Selain dimasak
dengan kayu, nasi yang sudah masak didinginkan di dalam iyan (tampah), dengan cara
dikipasi. Sisa nasi yang nempel di iyan juga sangat enak. Itu biasanya dibagi pada anakanak yang sudah nunggu sisa nasi itu. Sisa nasi yg nempel itu digulung kayak lemper.
Anak tetangga yang tidak punya makanan juga dikasih, kenangnya.
Jaman dulu kalau mau makan keluarga kumpul semua, kenang pak Rumbono.
Kalau satu belum datang dicari. Kalau semuanya sudah kumpul baru mulai makan. Si
ibu membagi makanan (nasi dan lauk) di piring kepada Bapak dan anak-anak. Ibu dapat
jatah makanan yang paling terakhir. Setelah semua yang lain dapat bagiannya.
Meskipun demikian ibu selalu kebagian makanan karena ibu sudah tahu berapa banyak
masak untuk sekeluarga. Kalau masih ada yang mau nambahpun harus lapor pada ibu.
Terus yang menjadi keprihatinan adalah orang-orang yang tidak mampu, lanjut
pak Handoko. Misalnya saya anaknya orang kaya. Orang tua saya baru pulang belanja
di Kawunganten beli pelem satu. Ketika melihat saya mulai mengupas mangga, di
sekitar saya anak-anak orang yang ndak punya sudah berjejer bisa sampai 10 orang.
Mas, ploke pinta mereka. Ploke artinya ngemut biji mangga yang sudah diambil
dagingnya. Jika anak orang kaya tadi mau member biji mangga itu lalu anak-anak yang
tidak mampu tadi satu persatu giliran ngemut biji mangga itu. Demikian juga kalau
makan tebu. Jaman dulu, di daerah Pejagan, kalau pas kedatangan tamu dan di rumah
kebetulan tidak ada makanan, tapi ada tebu, tamu disugihi tebu. Karena memang
adanya itu. Lalu kulit tebu itu diminta oleh anak-anak untuk dimakan, dan anak-anak
selalu dengan rela berbagi dengan yang lain.

42

Tidak menghukum, tetapi memaafkan


Sebaik apapun kehidupan bersama suatu saat pasti akan terjadi masalah dengan
orang lain. Menarik sekali apa yang terjadi dalam kesahajaan hidup Suku Pejagan.
Dalam masyarakat Pejagan jika ada masalah, misalnya ada yang padu atau ada yang
merasa dirugikan, masalah itu diselesaikan melalui rembug secara kekeluargaan. Kalau
pihak yang merasa dirugikan sudah terima, sudah merasa ikhlas, ya sudah. Tidak ada
dendanya. Hanya damai begitu saja.
Dalam ingatan pak Prayit, jaman dulu di Suku Pejagan jarang sekali ada orang
nyuri, meskipun kehidupannya sangat sulit. Yang ada cuma ngudul. Contohnya saya
punya pasangan dan di situ ada wuwu (bubu). Saya datang terlambat lalu ada orang
lain yang mengambil ikan di widei saya. Kalau ketahuan, paling-paling orang itu
dimarahi, disuruh mengembalikan hasilnya. Atau paling-paling orangnya diarak di
jalanan. Hanya itu. Tidak didenda apa-apa. Kalau yang merasa salah minta ngapura
(minta ampun), ya sudah di-ngapurani. Makanya, orang Kampung Laut itu aslinya
hatinya baik, menyedhulur. Cuma kelihatannya saja kasar atau sangar.

Sistem Kepercayaan
Kepercayaan orang Kampung Laut ada dua bagian, alirannya juga sama. Masih
Hindu campur Budha dan Kejwen. Saat itu belum ada agama Islam atau Kristen. Orang
Kampung Laut masih memiliki keyakinan yang berbau mitos. Keyakinan itu
berlangsung sampai tahun 1984. Setelah 1984 keyakinan itu baru mulai sedikit
berkurang. Contoh menurut adat di Kampun Laut, dan memang diyaikini oleh orang di
Kampung Laut, bahwa orang luar yang baru sekali ke Kampung Laut, kalau dia belum
makan gula kelapa dan minum air putih yang diberi oleh orang Kampung Laut akan
mengalami sakit perut. Dia juga tidak boleh tidur siang dan tidak boleh bersandar pada
saka guru (tiang yang berada di tengah-tengah rumah).
Yang lebih unik lagi, menurut ingatan pak Gun, pada saat Segara Anakan masih
lautan luas, belum terkena sedimentasi seperti sekarang, ketika itu suku Pejagan masih
kuat di bawah kewibawaan keempat wiratama dari Kerajaraan Mataram, kalau ada
pendatang (tamu) yang sebelumnya belum pernah datang ke wilayah Segara Anakan,
pada saat dia datang, pertama-tama belum disuguhi apa-apa, melainkan hanya disuguhi
gula dan kelapa. Jadi tamu itu harus terlebih dahulu makan gula dan kelapa. Padahal
waktu itu gula dan kelapa harus dibeli dari warung, karena di Segara Anakan belum ada
kelapa. Meskipun entah hanya sedikit, tamu harus makan gula dan kelapa. Kalau tamu
itu tidak mau makan lalu berbicara, ah di desa sendiri pun ndak pernah makan itu,
boleh dicoba.... orang itu akan mengalami nasib sial, yang dalam ungkapan Pejagan

43

disebut, beja ne lara, cilaka ne pati. Jadi, jika tamu itu tidak mau makan gula dan
kepala yang diberi oleh tuan rumah, artinya orang itu dianggap tidak mau menerima
kehadiran ke empat Wiratama Mataram itu. Maka suku Pejagan dulu terkenal sebagai
Kedung Santet, orangnya ampuh-ampuh. Itu kepercayaan masyarakat pada waktu itu.
Maka kalau ada tamu selalu ditanya, kamu sudah pernah ke sini belum? jika belum
mesti dikasih gula dan kelapa. Terus jangan duduk smender (bersandar) pada tiang
(tengah). Jangan tidur siang selama satu hari itu.
Kembali ke tahun 1988. Setelah 1988 sedimentasi semakin cepat, penduduk luar
berdatangan, terus masyarakat nelayan pindah ke pertanian, karena telah melihat contoh
dari masyarakat pendatang, baru pada saat itulah mulai ada pemahaman tentang makna
dari agama Islam, dari Kristen, dari Kepercayaan. Sehingga mulai dari generasi ke
generasi mempelajari makna agama itu seperti apa. Islam panutannya apa, Kristen
panutannya apa, Kepercayaan panutannya apa. Nah mulai saling mengerti.
Dengan saling mengerti tersebut masyarakat Kampung Laut juga saling
menghargai. Karena, saya Islam, Bapak Kristen, secara pribadi kan warga. Mengapa
kita harus bertengkar? Anda juga tuntutannya surga. Saya juga tuntutannya surga.
Sama saja. Menyembahnya pada Tuhan. Itu saja, tutur pak Prayit.
Meskipun orang Pejagan terkenal pemberani dan tangguh, namun berhadapan
dengan dunia gaib orang Pejagan saat masih hidup di rumah panggung sangat kecing
(penakut). Kecing-nya begini, tutur pak Darmono, kalau sudah jam 7 malam, mau ke
dapur saja untuk masak, kalau tidak ada temannya tidak berani. Kalau sekarang itu di
sebut tahyul. Tapi masa itu sungguh-sungguh terjadi. Dulu saat malam tiba sering kali
saat orang mau masak di dapur, tiba-tiba di sana terlihat ada orang yang tidak di kenal
duduk di dapur. Karena itu orang lari ketakutan. Peristiwa seperti itu bukan hanya satu
dua orang yang mengalami.
Kadag-kadang saat kita berjalan sudah melewati jam sebelas atau dua belas
malam, sering kali di jalan bertemu orang yang tidak dikenal. Ketika orang itu ditanya
tidak menjawab malah tiba-tiba menghilang. Itu sebabnya dulu kalau tidak ada teman
orang di sini tidak berani jalan pada waktu malam. Tetapi setelah menjadi daratan
seperti sekarang itu, peristiwa itu tidak pernah terjadi lagi. Itu anehnya jaman masih
lautan dulu. Saat itu sembilan puluh persen masyarakat Kampung Laut masih
mempercayai dukun.

Sistem pemerintahan
Menurut ingatan pak Sumbardja, di Motean ada berapa turunan (struktur hirarki
jabatan pemerintahan). Urutan pemerintahan desa waktu itu sebagai berikut: ada

44

penatus kemudian ada lurah di bawahnya. Sukardjo dua kali jadi penatus. Ketika di
Motean belum ada Penatus, penatusnya di Kembang Kuning. Motean ikut Penatus
Kembang Kuning.
Struktur pemerintahan waktu itu adalah Bupati, Wedana, Penatus (Camat),
Lurah, Carik, Baur (Kadus), Polisi (punya hak nangkap orang), setelah itu Kebayan
(kebayan adalah suruhan pak Lurah). Waktu itu satu kelurahan satu Baur dan belum ada
RW/RT.
Yang paling berkesan bagi pak Rmbono adalah kalau ada perintah dari Lurah
pak Bayan berkeliling membawa kentongan. Setiap 50 meter dia berhenti dan memukul
kentungan, tung..tung...tungg... Itu tanda, Bende namanya. Terus pak Bayan
berteriak, Sedhulur...sedhulur....kulo dipun kalian pak Lurah, pak Lurah dipun saking
Wedana, ngenjan Bapak-bapak kersane kumpul teng kalurahan...
Terus masyarakatnya, walaupun nelayan, kalau ada perintah, ya.. lebih baik prei.
Karena saking takutnya, karena keterbatasan pengalaman dan pengetahuan. Jadi semua
bapak-bapak kumpul. Kelurahan penuh sesak. Jadi masyarakatnya mantep.

Demokrasi dan jabatan


Jaman dulu pemilihan Lurah sudah melalui PEMILU dengan menerapkan
prinsip demokrasi langsung, umum, bebas dan rahasia. Kotak suara memakai bumbung
(ruas) bambu seperti celengan, dan milihnya pakai giting (seperti tusuk gigi), disebut
sada untuk suara. Bumbungnya digambar simbol calon Lurah. Misalnya jagung,
singkong, pisang, padi, dll. Pemilih memasukan giting ke dalam bumbung yang
disediakan di dalam tobong (bilik suara). Dalam kesederhanaanya warga masyarakat
menjalankan demokrasi secara tulus dengan tingkat kepercayaan yang tinggi sampai
sering melupakan fungsi pengawasan.
Saya pernah menggelapkan suara, tutur pak Karto mengenang satu peristiwa
dalam sebuah pemilu. Kejadiannya di Muara Dua, desa Panikel. Saya diperbantukan
panitia kecamatan. Pada waktu jam setengah satu, jam satu kan penutupan, panitia Desa
dikon (disuruh) istirahat, dikon mangan (makan). Nah, tempat losmen ne mandan adoh
(agak jauh). Saat TPS kosong aku dadi mlebu tobong (masuk bilik suara). Ceritane aku
pengen ngerti, sing abot (berat) ki bumbung sing kosong (golput) apa sing ana wonge
(ada calonnya)? Lah, ternyata sing abot sing kosong (golput). Bumbung kosong tidak
ada gambar. Sedangkan yang ada calon ada gambare. Waktu itu oleh panitia Kecamatan
gambar calon tidak dilem di bumbung. Hanya diikat pake gelang karet. Lalu saya
keluar, tanya pada orang, yang gambar itu siapa? Itu si Anu jawab orang itu. Saya
masuk lagi, lalu gambarnya saya pindah pada bumbung kosong. Mengapa saya buat

45

seperti itu? Ya, masak bumbung kosong (golput) yang menang? Akhirnya calon yang
gambarnya saya pindah itu, yang semula hampir tidak jadi, akhirnya jadi (terpilih).
Kejadian itu memperlihatkan begitu mudahnya pemilihan waktu itu dicurangi.
Penduduknya juga waktu itu gampang dibohongi. Soalnya sudah milih ya sudah,
langsung ke laut. Tidak mikirkan hitungan, tidak peduli siapa yang jadi Lurah. Percaya
saja pada panitianya.
Mengapa tingkat kepercayaan penduduk begitu tinggi? Itu karena waktu itu
jabatan Lurah masih muri pelayanan. Tidak ada uang seperti sekarang. Namun
demikian, jabatan pada waktu itu punya arti penting waktu itu. Jabatan menyangkut
penghargaan, harga diri seseorang. Istilahnya orang yang punya jabatan itu
panembahan, orang yang disembah. Ngomong satu patah kata itu dipercaya, ditakuti
oleh orang lain. Bagi orang Jawa, pangkat, derajat, keramat itu sangat penting artinya.

Pelibatan perempuan dalam pemerintahan


Dalam ingatan pak Rumbono, jaman dulu tidak pernah ada perempuan yang jadi
Lurah, Bau, Polisi atau Kebayan di dalam Suku Pejagan. Tongkat kekuasaan selalu ada
di tangan kaum laki-laki. Itu terbukti dari semua jabatan struktural dalam pemerintahan
dipegang oleh kaum laki-laki. Peran perempuan paling-paling hanya masak-masak.
Dalam hal hak untuk mendapatkan pendidikan sebenarnya sama antara anak
laki-laki dan perempuan. Jaman dulu perempuan juga sekolah, sama seperti laki-laki.
Namun anak-anak perempuan paling tinggi pendidikannya hanya tamat SD, setelah itu
lalu kawin. Tetapi laki-laki juga begitu. Seingat saya waktu itu hanya ada dua orang
dari Ujung Gagak yang melanjutkan sampai SMA, karena orang tuanya mampu. Selain
hambatan keterbatasan sekolah, juga hambatan dari orang tua. Banyak orang tua
berpikir, sekolah untuk apa? Bayar mahal, jauh dari orang tua, tidak ada alat
transportasi ke kota. Kalau mau sekolah harus ke Cilacap, ke Kawunganten harus
diantar naik perahu, harus dayung, di sana harus kost, harus bayar ini-itu, duitnya dari
mana? Itu sebabnya anak-anak sampai generasi kami tidak ada yang sampai sekolah
tinggi.

Bencana alam & Wabah Malaria


Untungnya di Motean tidak pernah terjadi bencana alam besar. Pernah terjadi
lindu (gempa bumi) sampai merobohkan rumah. Romo juga ikut membantu. Saya
sendiri menerima sih bantuan Romo, sekitar dua ratusan, kenang pak Sumbardja.

46

Bencana lainnya yang sangat lekat terekam di ingatan pak Sumbardja pernah
terjadi di Motean adalah wabah malaria. Ketika di daerah rawa-rawa dekat
Nusakambangan mulai dibuka untuk pertanian. Waktu jaman Lurah Budiono. Banyak
bantuan saat itu, ada yg ngasih tenda, segala rupa. Masing-masing instansi membantu
semua. Padahal itu wabah malaria, kenang Sumbardja.
Pak Taryono masih ingat peristiwa banjir besar dari Cimeneng pada tahun 1986.
Itu bencana banjir besar yang pertama di Panikel. Di dalam rumah panggung lumpurnya
bisa setengah dabag (sekitar sepinggang). Akibat bencana itu pemerintah mau
membuka program transmigrasi lokal di desa di Cikerang. Semua warga sudah didaftar
dan siap-siap mau dipindahkan ke Cikerang. Tapi Kepala Desa Pak Sumbono tidak mau
warganya dipindah ke Cikerang. Dia ingin warganya tetap di Panikel dan bercocok
tanam di sana. Untuk itu dia mengadakan uji coba membuka hutan sekitar 100 ubinan
untuk ditanam padi. Ujicoba itu berhasil. Panen sangat bagus. Ketika diadakan panen
raya, bupati Pujono sampai datang ke Panikel. Kesempatan kunjungan Bupati ke
Panikel tersebut dimanfaatkan oleh Bapak Sumbono untuk mengajukan permohonan
pembukaan tanah pertanian di Panikel. Bupati Cilacap waktu itu adalah Bapak Pudjono
Pranoto. Setelah melihat keberhasilan uji coba penanaman padi itu, Bupati Pudjono
memberi rekomendasi untuk pembukaan lahan pertanian di Panikel. Ketika itu setiap
keluarga mendapat jatah awal setengah hektaran untuk peralihan pertanian, meskipun
waktu itu penduduk Panikel masih 100% nelayan. Maka untuk bertani masih harus
belajar. Nyoba-nyoba. Tapi ternyata berhasil. Oleh karena itu akhirnya masyarakat pada
bikin sawah sendiri-sendiri sehingga pada tahun 1987-1989 pertanian di Panikel sudah
berkembang pesat. Tanah di sepanjang aliran Cimeneng sangat subur. Sekali panen
hasilnya lumayan, meskipun cuma bisa panen setahun sekali.
Pak Karto masih ingat ketika sekitar tahun 1978 terjadi angin litsus di Segara
Anakan. Tapi untung menurutnya tidak melanda Karanganyar, melainkan hanya Klaces.
Waktu itu ada penelitian dari UGM. Ketika angin litsus datang saya sedang di Congor
Asu. Hampir habis satu desa Klaces kena badai. Untungnya karanganyar tidak ada yang
kena, padahal lewatnya dari sini, kenang pak Karto.
Dalam ingatan pak Handoko, Muara Dua termasuk desa yang sering terkena
bencana angin besar. Juga lindu (gempa bumi). Angin kencang menyebabkan atap
rumah terbang. Namun bencana paling ngeri adalah saat terjadi wabah Malaria tahun
1980, kenang Handoko. Banyak anak-anak kecil meninggal. Karena waktu itu belum
ada jalan tembus. Di sini juga belum ada mantri. Ketika satu orang kena susah mau
berobat ke mana. Kemana-mana jauh. Sulitnya di situ. Akhirnya menular. Setelah agak
lama Lurah baru melapor ke Cilacap. Sampai pak Pujono meninjau ke sini. Setelah
ditinjau dari sana baru kemudian bantuan turun. Itu sampai hampir satu bulan. Sudah
banyak korban yang meninggal.

47

Barangkali penyebabnya dari air yang di bawa dari Nusakambangan. Mungkin


dalam air itu ikut terbawa jentik-jentik malaria. Dulu yang pertama kena wabah Malaria
warga di Klaces. Waktu itu penanganan kesehatan belum memadai. Mungkin juga
nyamuk yang sudah menggigit orang Klaces yang terkena Malaria menggigit orang sini
yang mengambil air dari sana. Lalu orang itu yang membawa virus Malaria ke sini,
yang akhirnya menular di sini. Mungkin juga nyamuk malaria terbawa angin ke sini.
Soalnya di kampung Laut waktu itu wabah Malaria merata.
Tahun 1984 daerah Ujung Gagak juga terkena wabah Malaria. Tahun 1984
Klaces penduduknya sedikit. Maka orang Karanganyar banyak yang ikut kerja proyek
di sana. Pulang dari sana pekerja itu gigilan (menggigil/demam). Tapi tidak ada yang
tahu itu penyakit apa. Kadang panas, kadang kedinginan. Mulanya bingung tok, dikira
meriang biasa, karena seharian di air saja. Suasana saat wabah malaria itu sangat
memperihatinkan sekali. Saya sudah punya anak empat orang waktu itu. Kalau malam
suasana sangat mencekam. Tidak ada orang yang bicara, dari rumah-rumah tetangga
hanya terdengar orang menangis, mengerang. Meskipun demikian ketika itu tidak ada
yang bisa tolong menolong. Semuanya kena wabah Malaria. Kalau saya mau tolong
tetangga di sana, di sini isteri anak saya juga sakit. Bahkan ngubur jenazah pun tidak
ada yang bisa menolong. Sangat memprihatinkan sekali waktu itu. Banyak sekali yang
meninggal, terutama anak-anak. Jaman itu orang di sini sangat buta tentang kesehatan.
Kasihan sekali itu, kenang pak Karto.
Setelah kejadian itu berlangsung hampir setahun, orang sini baru tahu itu
malaria ketika ibu Wismo dan Bp. dr. Nugroho datang ke sini mengatakan itu penyakit
malaria, sambung pak Rumbono. Rupanya ketika pekerja dari Klaces pulang, mereka
membawa virus malaria ke sini. Sejak itu wabah malaria menyebar di sini. Romo dan
pak dokter Nugroho bawa obat ke sini, entah berapa banyak. Maka bantuan Romo
sangat luar biasa bagi kami. Akhirnya setelah itu juga dapat bantuan dari mana-mana.
Masih sangat segar dalam ingatan pak Darto situasi saat belum ada jalan darat di
Kampung Laut. Ketika itu sering kali orang sakit meninggal, yang mestinya kalau
segera dibawa ke Rumah Sakit atau kalau mendapat perawatan yang memadai tidak
meninggal. Adik saya dapat orang Karanganyar, Ujung Gagak, kenang pak Darto. Pas
barbaran (melahirkan), tapi bayinya ndak bisa keluar. Ya gara-gara belum ada jalan
tembus harus nunggu perahu. Mau dibawa ke Cilacap bingung, belum ada perahu. Mau
dibawa ke Kawunganten juga sulit, belum ada perahu. Karena kelamaan akhirnya
nyawanya tidak tertolong. Andai waktu itu sudah seperti sekarang, sudah ada jalan
tembus, satu jam saja sudah nyampe ke rumah sakit. Pasti nyawanya bisa ditolong.

48

Masalah Pendangkalan Segara Anakan


Dulu saya mengalami saat di Lempong Pucung ini semuanya masih laut, tutur
pak Darmono. Sekarang sudah menjadi daratan dan ada kampung. Perubahan yang luar
biasa cepat terjadi setelah peristiwa letusan Galunggung tahun 1982. Entah bagaimana
caranya, rupanya sebagian pasir lahar dan abu Galunggung terbawa arus laut dan
menumpuk Segara Anakan. Tumpukan pasir itu menghambat aliran sungai-sungai besar
yang bermuara di Segara Anakan, sehingga setiap tahun jutaan meter kubik lumpur
yang dibawa sungai-sungai itu mengendap di Segara Anakan. Akibatnya lautan di
segara Anakan sekarang sudah hampir habis dan berubah menjadi daratan. Tanah
timbul di mana-mana.
Sedimentasi yang sangat cepat di Segara Anakan lebih menakutkan bagi
masyarakat Suku Pejagan dibanding terror Orang Rantai jaman dulu. Lautan hilang dan
kini diganti daratan dan rawa-rawa yang terhampar luas. Bagi kami para nelayan
peristiwa ini merupakan pukulan berat, keluh Darmono. Lautan yang dulu kaya akan
ikan, udang, kepiting, kini sudah tidak ada lagi. Kalau dulu leluhur kami masih ada
tempat untuk menyelamatkan diri ketika Belanda mengirim Orang Rantai untuk
mengusir mereka. Mereka menyingkir ke sini ke Segara Anakan. Sekarang kami bisa ke
mana? Ungkap pak Darmono gelisah.
Masalahnya adalah masyarakat nelayan di Segara Anakan sangat sulit
menyesuaikan diri dengan perubahan itu. Kami telah ratusan tahun terlanjur menjadi
nelayan. Kami sangat sulit menyesuaikan diri apalagi harus berubah dari nelayan ke
petani. Meskipun sekarang sudah ada tanah, tetapi tidak ada gunanya. Tidak digarap.
Penduduk nelayan senangnya mengambil ikan dari laut. Itu sebabnya sekarang di
Kampung Laut kondisinya tetap memprihatinkan. Sekali lagi, kami seakan terusir dari
dunia kami. Kalau dulu karena penjajah, sekarang karena alam. Karena sedimentasi.
Karena terus terjadi sedimentasi, tahun 1969 saya mencoba tlukah8 di Klaces.
Tanggal 4 bulan sebelas tahun 1969, itu pertama saya tlukah di Klaces. Waktu itu baru
hanya beberapa rumah di Klaces, semuanya masih rumah panggug di atas laut. Saat itu
saya menjabat sebagai Wadanton brigade AL (sekarang Hansip) di sana. Brigadenya
brigade nelayan. Sedangkan Danton ada di Ujung Alang. Saat itu Klaces masih
menginduk ke Ujung Alang.
Setelah saya babat di Klaces, waktu itu suasana di Nusakambangan masih keras.
Saya dianggap PKI/BTI. Aduh...! Saya ditahan di CPM. Waktu ditahan saya tidak
ditanya mengapa kamu membabat tanah itu, siapa yang suruh, tidak! Saya hanya
8

Tlukah bahasa Pejagan berarti membuka pemukiman baru.

49

dibentak dan dimaki: Kamu BTI! PKI! Cuma itu saja omongannya. Tanpa ada
pengadilan saya saya diputus hukum jrong (hokum tembak mati).
Kamu diberi waktu sepuluh menit, minta apa ! bentak seorang perwira CPM
kasar.
Ah.. saya berdoa. Koq perasaan saya jadi begini? Mengapa Indonesia koq ada
hukum jrong? Jadi tahunya saya dianggap orang politik.
Mohon saya diberi waktu bisa Pak? jabwab saya.
Bisa, sepuluh menit! Paling banyak lima belas menit. Lagi perwira CPM itu
membentak dengan kasar.
Kesempatan itu saya pakai untuk bertanya, apa laut Segara Anakan ini petanya?
Ada! Minta peta segala. PKI! BTI! perwira it uterus saja membentak.
Setelah peta ditunjukkan, saya perhatikan. Ternyata peta Segara Anakan masih
silang. Artinya daerah yang saya buka itu bukan bagian dari pulau Nusakambangan,
melainkan lautan. Maka saya tanya, Pak kalau silang, ini masih laut...
Tutup ! Segitu! bentak perwira itu sambil merampas peta dan memberikannya
pada anggota lain.
Loh koq sekejap amat? Barangkali hanya ini pengetahuan saya pak. Kita
orang-orang kampung. Kalau petanya masih silang berarti daerah yang saya buka itu
masih laut. Tanah maritim. Kalau Nusakambangan tanahnya pengkal-pengkol batu
saya mencoba membela diri.
Coba ambil lagi! Ambil lagi ! kata petugas itu pada temannya.
Setelah perwira itu melihat peta, raut mukanya berubah. Rupanya dia sadar
bahwa saya tidak salah, karena tidak membuka lahan di pulau Nusakambangan,
melainkan di natah timbul yang dulunya adalah laut Segara Anakan. Nah itu, saya
mendapat pertolongan dari situ.
Kalau begitu saya diadu. Nusakambangan bajingan ! Sangar! umpat petugas
itu.
Rupanya dia akhirnya menyadari bahwa dia diadu dengan warga. Akhirnya saya
bisa dikeluarkan. Setelah dibebaskan saya masih tinggal di Klaces. Karena isteri saya
orang Klaces. Saya membesarkan anak-anak saya di sana. Namun kemudian tahun 1970

50

saya cerai dengan isteri saya dan pulang ke Ujung Alang, desa kelahiran saya. Tanah di
Klaces saya serahkan ke desa. Tadinya untuk lapangan, sekarang untuk bangunan itu.
Tanah yang sekarang dipakai untuk balai desa dan untuk sekolahan itu tanah
sumbangan saya.
Di Ujung Alang oleh lurah Sukarjo saya diangkat menjadi ketua RW sampai
tahun 1982. Tahun 1989 saya diangkat jadi Kepala Dusun Ujung Alang. Kemudian
pada tahun 2002 saya berhenti dari jabatan sebagai Kepala Dusun karena katanya saya
sudah kelebihan umur. Setelah itu saya diangkat menjadi Ketua Adat Kampung Laut
sampai sekarang.
Kawasan Segara Anakan yang dulu sangat luas, akibat perkembangan
sedimentasi dari sungai-sungai besar yang bermuara di Segara Anakan, dari sungai
Citandui, Sidareja, Kreong, semakin lama semakin menyempit. Lambat laun terjadilah
pendangkalan sehingga mempengaruhi pendapatan nelayan lokal. Pendapatan nelayan
semakin lama semakin berkurang. Akibatnya masyarakat Kampung Laut semakin
terpuruk dalam kemiskinan.
Pada waktu itu kondisi masyarakat di seluruh kawasan Segara Anakan sangat
memprihatinkan. Alat transportasi jalur darat tidak ada, sedangkan jalur laut sangat sulit
karena airnya dangkal. Kondisi yang semakin memburuk tersebut menyebabkan banyak
masyarakat suku Pejagan, terutama dari Panikel, Ujung Gagak dan Ciberem mengikuti
program transmigrasi. Yang mula-mula ikut transmigrasi adalah masyarakat dari
Ciberem tahun 1968. Mereka bertransmigrasi ke Sumatera dan Kalimantan. Di Ciberem
hanya sekitar 20 KK dan Ujung Gagak hanya tertinggal sekitar seperempat saja yang
tidak ikut transmigrasi. Sementara di dusun Panikel tinggal 65 KK dan Bugel tinggal 17
KK, serta Muara Dua tinggal separohnya.
Yang tidak ikut transmigrasi mungkin karena pemikiran mereka waktu itu belum
begitu luas. Namun ada juga ramalan dalam cerita leluhur bahwa kalau Congor Wedi,
Congor Blekok, dengan Congor Apai-Api Karanganyar besok sampai tembus
(nyambung), daerah itu akan subur makmur. Tidak banyak orang yang percaya pada
ramalan itu. Dalam pandangan masyarakat waktu itu congor-congor (pulau-pulau)
tersebut tidak mungkin akan menyambung, karena jaraknya sangat jauh. Namun
ternyata, setelah Pelindukan nyamung dengan Karanganyar seperti sekarang, ramalan
itu terbukti. Daerah itu memang sangat subur.
Tahun 1982 sungai Cimeneng diluruskan menuju ke sungai Domasan. Semula
Sungai Cimeneng bermuara di Cihaur dan Cireong. Cireong berpasangan dengan
Cikonde. Cimeneng di luruskan diambil tengah-tengah antara Cireong dan Cikonde
menuju sungadi Domasan, sehingga langsung lurus ke Segara Anakan. Namun

51

pelurusan Cimeneng yang langsung menuju Plawangan tersebut malah mengakibatkan


terbentuknya sedimentasi dan penyempitan Segara Anakan yang kemudian di musim
hujan menyebabkan banjir meluap di daerah desa Panikel dan Karanganyar. Tidak
hanya itu, pendangkalan Segara Anakan menyebabkan air tertahan di Penikel dan
Ujung Gagak, sehingga menggenangi sawah dan pemukiman warga. Penduduk yang
mulai terbiasa bertani kembali kehilangan lahan mereka karena sawah berubah menjadi
rawa-rawa. Penduduk kembali diliputi kemiskinan. Ini pukulan ketiga bagi masyarakat
Kampung Laut.
Karena penduduk Panikel sangat menderita akibat sedimentasi tersebut, tahun
1982-1984 pemerintah mencanangkan transmigrasi lokal bagi warga Penikel di
wilayah Semen petak 23 dan petak 24 desa Bantarsari, kec. Kawunganten. Karena
waktu itu desa Panikel masuk Kec. Kawunganten. Rencana transmigrasi local itu
semakin kuat ketika antara tahun 1985 dan 1986 desa Panikel sering sekali terkena
musibah banjir, sehingga penduduknya harus berhari hari mengungsi ke dusun Bugel
sambil mencari nafkah di sana. Selain ke Bugel ada juga warga yang mengungsi ke
desa tetangga dekat lainnya.
Tanggal 24 Februari 1987 Bupati Cilacap, Pujono Pranyoto berkunjung ke desa
Penikel, dengan agenda mensosialisasikan rencana transmigrasi lokal ke petak 23-24.
Namun karena tahun 1986 sudah ada sebagian masyarakat yang menanam padi dan
berhasil, maka dalam kunjungan Bupati tersebut masyarakat desa Panikel mengajak
Bupati berdialog. Warga Penikel tidak merasa perlu transmigrasi, asal mereka
diperbolehkan mengelola tanah timbul di wilayah Pelindukan. Dialog tersebut
memperoleh kesepakatan bahwa kalau siswa warga Penikel yang tidak ikut transmigrasi
masih betah dan mau mengelola tanah timbul, maka program transmigrasi lokal Semen
Petak 23 dan 24 dibatalkan. Dalam dialog itu masyarakat Penikel menyatakan
keinginan mereka untuk tetap tinggal di Penikel. Sedangkan dana yang dialokasikan
untuk transmigrasi local ke petak 23-24 dialihkan ke Penikel. Akhirnya diperoleh
kesepakatan bahwa penduduk Panikel boleh tetap tinggal di Panikel dan tanah timbul
boleh dikelola oleh masyarakat untuk dijadikan lahan pertanian. Dengan kesepakatan
tersebut program transmigrasi lokal Semen Petak 23 dan 24 dibatalkan.
Setelah terjadi kesepakatan, pemerintah desa Panikel menjalankan tugasnya.
Pemerintah desa melakukan pembagian lahan garapan di tanah timbul, di mana setia
kepala keluarga mendapat lahan garapan 2 hektar. Penduduk Panikel saat itu berjumlah
303 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk 674 dan jumlah jiwa 1.027. Setelah
mendengar ada kesepakatan desa Penikel dengan Bupati Pujono tersebut, desa Ujung
Gagak dan Ujung Alang mengikuti. Sebenarnya program pembukaan tanah timbul
awalnya adalah program desa Penikel.Ujung Gagak dan Ujung Alang nunut karena
masalahnya sama.

52

Karena sedimentasi sampai tahun 1986-1987 sudah sangat besar, pada saat itu
tidak ada jalan untuk komunikasi antar dusun dan desa dan pembukaan lahan garapan
tersebut membutuhkan sarana - prasarana dan dana, warga meminta bantuan YSBS.
Permohonan itu dikabulkan oleh YSBS dan sejak tahun 1988 YSBS memberikan
bantuan berupa peninggian tanah permukiman dan pembangunan badan jalan
penghubung antar dusun dan desa-desa, termasuk membantu peninggian pekarangan
rumah. Karena pada saat itu masih banyak rumah yang tenggelam akibat banjir lumpur.
Romo Carolus pernah meneteskan air mata di Penikel karena melihat 65 KK seluruhnya
rumahnya tertimbun lumpur rata-rata 1 meter yang dibawa banjir kali Cimeneng.
Setelah ada proses pembukaan lahan pertanian, atau lebih tepatnya tahun 1989,
pertumbuhan penduduk di desa Panikel sangat pesat. Selain jumlah KK, jumlah
pendatang juga bertambah. Kedatangan para pendatang ini ada sisi positif dan sisi
negatifnya. Positif nya adalah masyarakat Kampung Laut yang semula nelayan sangat
sulit untuk berubah menjadi petani. Karena tidak ada pengetahuan dan pengalaman di
bidang pertanian. Dari petani pendatang tersebut mereka bisa belajar bagaimana bertani.
Namun sisi negatifnya juga ada. Sekarang ada fenomena bahwa tanah timbul di
Kampung Laut yang mestinya diakui dan dimiliki oleh masyarakat Kampung Laut,
malah hampir keseluruhan sudah dikuasai oleh pendatang. Entah sistemnya ganti
garapan, jual beli, dll. Hal itu terjadi karena banyak faktor, entah karena waktu itu
aturannya belum ada, karena masyarakat di sini pengetahuannya masih kurang, atau
karena tingkat pendidikannya yang masih sangat rendah. Pada waktu itu fasilitas
pendidikan di Kampung Laut masih sangat minim.

Pulau-pulau buatan manusia


Sedimentasi yang terjadi sangat cepat menyebabkan laut di Segara Anakan
menjadi dangkal. Pendangkalan laut tersebut membuat penduduk Pejagan secara
naluriah merindukan kehidupan di darat. Dorongan untuk hidup di darat itu
membimbing penduduk Pejagan mengurug sekitar rumah mereka dengan tanah atau
lumpur. Demikian perlahan-lahan, bertahun-tahun, bongkah-demi bongkah tanah
dikumpulkan dan diurug di sekeliling rumah hingga membentuk pulau-pulau kecil.
Semakin lama semakin banyak yang ngurug sehingga perkampungan nelayan di Segara
Anakan menjadi pulau-pulau buatan manusia.
Tahun 1971, berhubung pulau Nusakambangan setelah G30 S / PKI agak sulit
dimasuki untuk mengambil kayu, terus saya di Klaces mencoba menguruk latar
(halaman) dengan tanah, kenang pak Darmono. Itu pertama ada pengurugan di Klaces.
Lama-lama Ujung Alang mengikuti tahun 1972-1973 dan rumah-rumah mulai dibangun

53

di atas tanah. Setelah itu sampai sekarang di Klaces sudah tidak ada rumah panggung
lagi.
Di Motean orang yang pertama ngurug tanah adalah pak Maryadi, sekarang
orangnya sudah meninggal, tutur pak Sumbardja. Yang diurug pertama adalah jalan
umum. Cuma didepan rumahnya sendiri. Tanpa diperintah kemudian warga lain juga
ikut. Pertama ngurug jalan bersama-sama. Setelah selesai jalan baru halaman. Yang di
dalam rumah ini nomor tiga.
Dulu kalau ambil tanah, tanahnya lemas (lembek). Tanah digolong-golong, di
peh (dijemur), terus kalau sudah kering baru dimasukan. Tanah diambil di sekitar sini,
lumpur-lumpur di pinggrian jalan kapal. Semak dibabat dulu kemudian tanah dijojog
(digali). Dulu Pertama belum ada alat pakai dayung, ditaruh keperahu dulu baru
diangkut ke sini. Dibopongi. Ya kerjanya sama orang estri (perempuan). Kerjanya
sama-sama. Tapi kalau tanahnya dimasukkan ke dalam rumah. Kalau diluar tidak.
Ditruh saja begitu, nantikan kering. Dulu saya ya begitu, ngurug. Tanahnya di situ, di
belakang rumah, kemudian diambil. Sekarang tanahnya diambil di hutan. Hutannya
dibabat, tadelan, dijojog, tanahnya keras bisa langsung masuk kerumah. Dulu ndak.
Lemahnya lemah lumpur yang diambil.
Tahun 71, pada waktu saya punya hajat (mantu), itu baru jalan sama halaman
depan. Jaman Buardi menjadi Bau, saya diperintahkan supaya pengantennya iring-iring.
Iring-iring penganten itu supaya menggiatkan jalan, ben (biar) cepat diurug. Ya,
Alhamdullilah, bisa dilaksanakan. Saya sendiri mengalaminya.
Pulau buatan manusia (urugan) muncul di Muara Dua sekitar tahun 1970-an,
ketika itu laut Segara Anakan sudah mulai banyak yang dangkal, kenang Handoko.
Orang Muara Dua yang pertama punya ide ngurug pekarangan dengan tanah adalah
Lurah Santadiwirya. Karena dia punya duit untuk membeli tanah. Tanah diambil dari
daerah yang agak tinggi, di sebelah sana, dekat jalan tadi. Di sana tanahnya agak tinggi.
Ngambilnya di situ pakai perahu. Pakai perahu diurug, diurug, diurug, sampai lama,
sampai setahun, dua tahun. Dalam perjalanan waktu tanah di sini juga semakin tinggi
karena banjir dari Citandui dan Cimeneng membawa lumpur. Akhirnya rumah
panggung yang dulu tingginya sampai tiga meter bisa menjadi hanya dua sampai satu
setengah meter. Bahkan ada yang hanya setengah meter di pelataran. Akhirnya orang
semua ikut nyoba ngurug. Sampai tahun 1975 sudah hampir 65% rumah penduduk di
Muara Dua diurug.
Setelah itu ada program SD Inpres tahun 1975. Pondasi dan lapangan SD Inpres
dicoba pakai pengrugan. Pertama dipancang pakai kayu bakau api-api, yaitu api api
bogem. Pengerjaanya dilakukan secara kerjabakti, tapi tanahnya dibeli. Satu perahu 500

54

perak. Upaya itu membuahkan hasil. Akhirnya SD Inpres bisa jadi rumah gedung.
Bangunan gedung SD itu hapir semua peralatannya khusus dari sini. Batunya batu
alam. Pasirnya pasir alam. Hanya semennya yang dari sana (luar).
Sampai sekitar tahun 1980 sudah hampir merata rumah-rumah di atas tanah.
Bisa dibilang di daerah pemukiman sudah 90 % daratan. Sekitar tahun 1984 rumah
panggung sadah habis. Tahun 1984-1985 setiap tahun terus-menerus terjadi banjir
lumpur. Di daerah hulu sungai, di pegunungan banyak erosi. Sekali banjir satu tahun
tinggi permukaan tanah bisa bertambah satu meter. Akibatnya rumah panggung itu
malah kena urugan dari alam. Akhirnya tahun 1986-1987 Muara Dua sudah menjadi
daratan daratan semua dan daratan itu bahkan sudah nyambung dengan pulau Panikel.
Dalam ingatan pak Taryono, pada tahun 1970 semua desa lain masih terlihat dari
Penikel. Bugel dulunya tidak di sini. Sampai tahun 1973 daerah ini masih laut. Dusun
Bugel aslinya dulu di belakang tower. Ciberem, Klaces, Panikel, Muara Dua masih
kelihatan dari sini. Di sini dulu laut yang dalam, tempat mencari ikan. Daerah ini
bernama Larapan Widei. Rumah masih panggung. Sekitar 60 KK. Satu rumah bisa 2-3
Kepala Keluarga. Karena tidak mampu. Anak-anak yang sudah berkeluarga tidak pergi.
Rumah masih di atas panggug, beratap daun nipah.
Orang tua saya nelayan sekaligus dagang kecil-kecilan. Jual terasi ke Kalipucang
pakai perahu. Kadang-kadang dapat untung sedikit disimpan utk anak-anak. Setelah
saya menikah masih tinggal bersama orang tua, walau sudah hidup sendiri. Orang tua
hanya memberi waring satu untuk cari nafkah.
Tahun 1982 terjadi banjir badang lumpur, berbarengan dengan Galunggung
meletus. Dusun Bugel hampir hilang tertimbun lumpur. Terus Bugel pindah ke sini.
Bugel itu ada tiga, Bajangan, Congor Wedi, Congor Putung, dan, Alur Wegat, terus
Panikel. Rumah-rumah semua masih rumah panggung di tengah laut.
Seingat Taryono, warga Bugel mulai ngurug sekitar tahun 1975. Yang pertama
ngurug di Bugel adalah pak Daryo, orang tua saya. Yang diurug halaman depan dan
belakang, sekitar 5X10m. Lumpur diambil pakai perahu dari sungai sebelah. Setelah
itu semakin lama tetangga sebelah juga ikut. Ngurug (kerigan) secara gotong-royong
pertama dilakukan untuk ngurug lapangan voli. Setiap keluarga dapat jatah ngurug satu
meter persegi. Setelah itu perjalanan ngurug jalan terus sampai Bugel menjadi sebuah
pulau. Penduduk pun mulai membangun rumah di atas tanah. Pada tahun 1987 rumah di
atas panggung di Bugel sudah tidak ada lagi. Setia keluarga dapat kapling untuk
membangun rumah. Tahun 1975 kunjungan Rm Carolus dengan Romo Subra. Ada misa
di sini.

55

Hampir sama di seluruh suku Pejagan di Segara Anakan, kami di Ujung Gagak
membangun pulau-pulau dengan tangan kami, tutur pak Karto. Ujung Gagak lebih dulu
dari Ciberem menjadi daratan (pulau). Mertua kakek saya yang bernama Kartaredja
yang pertama membuat rumah di atas daratan. Sekitar tahun 1972 dia membuat rumah
jalan dan kandang bebek diurug pakai tanah. Waktu itu kampung Ujung Gagak
sebagian masih laut dan sebagian sudah darat. Ada turis ke sini saya ajak untuk melihat
asli kampung sini, saya bawa ke sana, bagian kampung yang masih laut. Dari Balai desa
ke sana masih laut. Ciberem juga sama. Masih banyak yang panggungan, tapi ada yang
sudah daratan.
Terus Ujung Gagak diikuti Ujung Alang, tambah pak Rumbono. Saya juga
ngurug. Awalnya ngurug halaman rumah. Saya senang sih. Saya ambil tanah pakai
perahu. Sampai 10 perahu tiap hari. Ya kepengen ada perubahan baru. Setelah rumah
dibangun di atas tanah, pertama memang merasakan suasana yang kurang sejuk. Kaget.
Hujan yang dulu tidak bikin becek, sekarang jadi becek. Tapi bagaimana lagi. Karena
kayunya semakin habis.
Di sini pertama dulu ada olah raga Volley. Yang ngajari orang sini main volley
adalah petugas dari angkatan Laut yang tugas di sini. Sebelum ada daratan, main volley
di atas panggung. Kalau ada keluarga yang mampu rumahnya disambung, lalu di antara
rumah itu disasak pakai bambu. Di situ dipakai main volley. Ya kalau bola mencolot
jauh, ya jatuh ke laut. Senenge wah setengah mati...

Emperan rumah yang dipersiapkan untuk lapangan volley

56

Sedangkan permainan anak-anak waktu itu adalah Gobak Slodor dan main kasti.
Kasti itu musiman. Terus main kucing-kucingan. Semua permainan itu di atas sasak.
Kalau bola jatuh kelaut, ya nyebur, ambil. Maka kalau main kasti siap, baju di buka,
pakai celana tok.
Sumbardja merasakan bahwa ketika pindah dari rumah di atas panggung ke
rumah di atas tanah memang sulit bagi masyarakat Motean. Ya bisa ndak bisa, tutur
Sumbardja. Tapi karena kehendak sendiri, ingin ikut cara hidup orang di luar jadi
senang. Tidak di suruh. Membuat desa seperti ini sampai dibikin gedung tidak
diperintah. Cuma karena secara pribadi. Dari pada ambil kayu, kayu sudah tidak ada,
kan mending. Tapi juga memang setiap tahun kan ngurug. Tapikan mending.
Pengambilan kayu juga semakin berkurang oleh masyarakat sini.
Tapi sing mangkeli, semakin orang sini (Suku Pejagan) tidak mengambil kayu,
orang lain semakin banyak mengambilnya. Yang dituduh orang sini, yang berdekatan
dengan hutan itu. Kan begitu. Orang sini paling membutuhkan kayu bakar. Sewaktuwaktu. Apalagi sekarang sama sekali tidak mengambil kayu bakar. Sebetulnya kayu
harus utuh. Tapi setelah ada mesin perahu, jadi habis kayu. Yang mengambil orang
sana. Sidareja, Kalipucang, dari mana saja lah. Cilacap, dsb.

Konflik Agraria
Ketika mulai membuka lahan untuk pertanian dan pembangunan jalan di Panikel
terjadi permasalahan dengan PT Perhutani. Waktu itu bahkan saya tidak diperbolehkan
mengambil beras ke Yayasan oleh orang Perhutani, kenang pak Darto. Orang dari PT
Perhutani menghadap ke Yayasan, bilang bahwa pekerjanya tidak boleh dibayar.
Karena itu dianggap tanah PT Perhutani. Begitu masalah demi masalah muncul. Karena
Camat pada waktu itu pak Bambang, Pak Bambang ngotot agar Kampung Laut
memang perlu ada jalan tembus, akhirnya upah pekerja bisa terbayar oleh Yayasan.
Setelah dibikin badan jalan, pada waktu terus dikasih batu untuk perkerasan. Batu-batu
dibawa dengan menggunakan roder.
Saya punya alasan melawan Perhutani. Kepada orang dari Perhutani saya bilang,
Anda bisa mengatakan bahwa tanah ini adalah tanah Perhutani, paling tidak Perhutani
bisa pasang batas tanah antara tanah Perhutani di mana, dan tanah timbul di mana. Juga
untuk kepentingan Perhutani, Perhutani punya kepentingan tengok hutan. Maka lebih
mudah bagi Perhutani kalau dibikin jalan pada waktu itu, menyesuaikan dengan tanah
timbul. Akhirnya perhutani kendang (takut). Nggak berani.
Setelah itu tahun 1996 ada patok-patok yang disebut Patok KODAM disingkat
TOKDAM. Karena yang patok itu tentara, dari Kodam Diponegoro. TOKDAM itu

57

bukan patok batas wilayah, melainkan KODAM matok hanya untuk menakut-nakuti
masyarakat. TOKDAM antara tanah perhutani dengan tanah timbulkan itu sendiri baru
dipasang setelah ada pada protes dari para Pamog Desa. Tahunya patok itu sebanarnya
adalah batas laut. Tetapi kan sekarang untuk acuan antara tanah timbul dan tanah
perhutani. Itu sengketane tanah di sini itu begitu. Sengketa itu masih terus belum
terselesaikan sampai sekarang.
Sepengetahuan pak Sumbono, pada waktu dia bersama pak Darto ke Badan
Koordinasi Stabilitas Nasional dan Daerah (Bakortanasda) Kodam Diponegoro
Semarang, Bakortanasda mengatakan berdasarkan peta US-Armed (foto udara, foto dari
titik triangulasi) tahun 1942, di tanah yang diklaim oleh PT Perhutani sekarang tidak
ada tanah Perhutani. Adanya tanah timbul. Kalau Perhutani ngaku bahwa di sana adalah
tanah Pperhutani, Perhutani dikon ngukur dari rel sepur (KA) 3 Kilometer, wes sesuai
dengan peta US-ARMED tahun 1942. Begitu menurut Bakortanasda Semarang.

Perhutani

Tuntutan dari perhutani, karena tanah itu kena lumpur timbul, muncul hutan
tumbuhan dari alam, hutan itu tidak ditanami oleh Perhutani. Kadang kadang kan
Perhutani begitu saja masuk dalam peta. Ada anak peta, putu peta (peta dalam peta).

58

Akibatnya luas tanah Perhutani tetap berjalan. Padahal yang diklaim itu adalah tanah
timbul.
Mulane, cerita dari Bakortanasda, setelah dipelajari, benar. Kalau ada Angkatan
Laut mengaku tanah timbul itu tanah mariner itu sudah tidak benar. Dari pelabuhan
cuma 1 kilometer. Itu tanah Marinir. Kalau Perhutani dari rel sepur 3 kilometer itu
tanah perhutani. Itu sesuai dengan peta Bakortanasda yang didasarkan pada peta US
Armed 1942.
Kadang-kadang kan lumpur ditumbuhi pohon jadi hutan. Hutan itu tidak
ditanami, tetapi hutan alam. Masalahnya perhutani mengaku setiap tanah timbul yang
ditumbuhi pohon sebagai tanah perhutani. Tanah timbul lalu dicatat, lalu jadi tanah
Perhutani. Karena itu Pperhutani punya peta berjalan. Sekarang sebagian tanah
sengketa itu sudah ada yang menjadi milik masyarakat/desa. Tapi sekarang masih ada
sekitar 25 % yang masih konflik, belum terselesaikan.
Sesuai keterangan dari Perhutani, bahwa pak Darto, seperti Sumbono, dijadikan
LMDH. Alasannya karena tanah perhutani tidak dia minta. Tapi aturanya boleh diganti
rugi, ditanami apa-apa boleh. Nantikan saya urusannya dengan Pemda. Mestinya saya
minta tukar menukar. Yang tanah perhutani, tujuannya menghutankan. Tapi kalau lahan
sudah menjadi sumber kesejahteraan rakyat, apa perlu dijaluk? Sesuai dengan UUD
1945 pasal 3 ayat 33. Maka apa tanah itu perlu dijaluk oleh Perhutani? Mestinya kan
tidak?! Paling-paling rembugan antara Perhutani dengan Pemda.
Wes sekarang tanah ini saudah menjadi sumber kesejahteraan masyarakat, mau
ditukar dengan yang mana? Mestinya kan begitu?
Seingat Sumbardja di Motean sendiri tidak ada sengketa tanah timbul.
Sebetulnya munculnya sengketa tanah timbul itu karena desa sendiri tidak
memeperhatikan wilayahnya. Masing-masing desa sudah ada batas wilayah. Cuma
batas antara wilayah desa dengan perhutani itu tidak diperhatikan. Jadi Perhutani itu
anggape asal ada tanah maka tanah perhutani. Sedang ini juga diaku perhutani. Padahal
ini alas timbul. Tapi diaku wilayah perhutani.
Saya pernah dibawa ke Purwokerto sama mahasiswa. Satu minggu. Ya iu saya
tanya. Permasalahan batas saya mohon, antara wilayah desa dengan wilayah perhutani.
Jangan ambur-ambur. Saya ambil kayu bakar di wilayah desa dianggap nyolong
wilayah perhutani. Apabila perhutani membutuhkan mau ditanam ya monggo, asal ada
kerjasama dengan desa. Karena tanah itu sebetulnya milik desa. Dari pada tidak
bermanfaat ya monggo.

59

Tanah-tanah penduduk sebagaian sudah disertifikat, sebagian belum. Baru


sampai SPPT. Tapi tidak ada konflik dengan perhutani. Permasalahan dengan perhutani
sekarang adalah masalah mangrove. Saya juga mikir mengenai masalah mangrove ini.
Padahal msyarakat sini kan masih banyak kebutuhan atas tanah-tanah. Kalau tanah itu
sampai ditanami mangrove kan sudah diakui sama perhutani. Saya kan tidak punya hak.
Kan begitu? Itu kesalahan orang sini.
Kalau sudah ditanam mangrove, bagai mana status tanahnya? Itu pertanyaannya.
Penanaman mangrove itu program pemerintah (kehutanan). Tapi dalam program itu
belum ada arah bahwa nanti tanah itu jadi milik pemerintah atau milik siapa. Takutnya
tanah timbul yang ditanami mangrove, yang dibiayai pemerintah, itu akan diakui oleh
pemrintah, jadi tanah perhutani, tidak lagi milik rakyat.
Ada juga sebagain wilayah/masyarakat tidak mau menanam mangrove. Seperti
Klaces tidak mau. Sampai sekarang pemetaan batas desa dengan perhutani belum ada
ketegasan. Contohnya Donan. Sehingga daerah secara definitif milik desa Donan, tapi
tanahnya banyak dikira milik perhutani. Ini karena belum ada ketegasan batas tadi.
Maka saya sangat berharap tolong dibuat batas wilayah yang secara yuridis tidak
melanggar hak masing-masing.
Dalam pengamatan pak Gunantoro soal konflik tanah timbul di Kampung Laut
sebenarnya salah kaprah (salah paham). Penyebabnya waktu itu masyarakat Kampung
Laut masih Nol pendidikan dan pengetahuan. Hanya sebatas pengetahuan umum. Kalau
nggak salah tahun 1991 dari Pemda menawarkan untuk wilayah Kampung Laut akan
menggunakan peta nomor berapa, tahun berapa. Nah karena masyarakat Kampung Laut
ndak ngerti blas peta ke kayak ngapa wujude, skala 1 banding berapa juga ndak tahu,
ujug-ujug dipakai peta US Armed tahun 1942 sebagai dasar penentuan wilayah,
sehingga kemudian keluar satu keputusan di situ mengenai wilayah Kampung Laut.
Bedasarkan keputusan itu tahun 1992 lalu muncul Patok KODAM (Tokdam) 9
Diponegoro sebagai tanda perbatasan antara tanah timbul dan tanah milik PT.
Perhutani.
Namun, ini makanya salah kaprah, saya bukan ingin memojokkan atau
menjelekkan loh ya, sudah ada keputusan seperti itu, penduduk asli juga ditempatkan di
luar Tokdam (di dalam wilayah yang di klaim PT.Perhutani). Sehingga sepengetahuan
masyarakat pribumi yang asli, ini adalah tanah timbul. Nah, setelah ditempati penduduk
asli, PT Perhutani sebenarnya juga tidak berani mempermasalahkannya. Inikan salah
kaprah. Sampai sekarang makanya ada kalimat, secara administrasi itu wilayah
Perhutani, secara pengakuan masyarakat Kampung Laut itu adalah tanah timbul.
9

TOKDAM peta Pangdan Diponegoro 1992, mengacu pada peta US Armed 1942.

60

Menurut pak Prayitno akar permasalahannya sebenarnya ada pada kesepakatan


peta batas wilayah. Batas wilayah didasarkan atas kesepakatan menggunakan peta 1942.
Yang pertama berembug waktu arep nggawe kesepakatan batas adalah Pangdam,
Perhutani, Bupati. Masyarakat tidak ikut dari awal. Setelah diputuskan baru masyarakat
diundang ke Balai Desa Penikel. Masalahnya adalah kalau kita merujuk peta 1942,
secara otomatis ini bertentangan dengan pemukiman sebelum keluarnya keputusan
wilayah batas kampung Laut dengan PT Perhutani yang menggunakan peta 1942 itu. Ini
yang menjadi persoalan. Karena kalau acuannya berdasarkan peta 1942, berarti ada
pemukiman yang tidak masuk Kampung Laut, yaitu pemukiman yang di luar peta 1942.
Karena kalau kita melihat peta 1942 ada titik-titik yang memisah, tapi itu sudah jadi
daerah pemukiman.
Ketika diberitahu bahwa batas wilayah Kampung Laut didasarkan pada peta US
Armed 1942 masyarakat Kampung Laut beranggapan bahwa itu sesuai dengan kawasan
Segara Anakan. Jadi disangka warga masyarakat Kampung Laut peta 1942 itu sudah
oke. Contohnya Panikel berbatasan paling wetan Bogum Gede. Trus Ngentak, mlayu ke
Pertelu, terus mlayu ke Jongor Asu, Congor Asu mlayu wetan Sapuregel. Ndak tahunya
peta US Armed itu misahkan / pembatasan wilayah Segara Anakan dengan Perhutani.
Kalau kita melihat peta 1932 atau 1927, ya memang ndak seperti itu. Itu hanya
kesepakatannya Pangdam, Bupati dan PT. Perhutani. Mau-maunya orang Kampung
Laut diberi peta 1942 itu. Masalahnya kalau tetap merujuk peta 1942, tanah-tanah
timbul yang sudah menjadi garapan masyarakat, itu banyak yang hilang, banyak yang
ke gawa perhutani. Itu maksude. Sementara ini perhutani sih tidak mempersoalkan
masyarakat yang menggarap tanah sengketa itu. Tapi kepastian hukumnya belum ada.
Kayak gitu.
Ada beberapa kelompok yang mencoba memperjuangkan petak 9. Hanya
perbedaannya, ya itu. Banyak orang pintar, banyak orang berjuang, tapi ada kelompok
oposisi, itu tidak mencermati dasar hukumnyanya dulu. Sebenarnya kalau prosesnya
permohonan, contohnya seperti Bantarsari, ya gak mungkinlah. Tanah petak 23, 24
harus anu, ya gak mungkin. Itukan harus ada kebijakan khusus melalui Keppres.
Kecuali Keppresnya dikeluarkan, gitu loh Kalau menurut hemat saya, pengajuan
tanah yang bersengketa itu bukan kembali ke ranah hukum, bukan kembali ke status,
dan sebagainya, tapi kita kembali ke dasar, bahwa ini (kesepakatan mengunakan peta
US Armed 1942) harus ditinjau ulang. Jadi ndak usah kita membuat permohonan ke
perhutani, membuat permohonan ke menteri dalam negeri, membuat permohonan
begini ndak usah. Maksudnya permohonan ya kita mengawali dasar kesepakatan
yang ditentukan peta itu. Berarti itu harus didasarkan pada kembalinya, peta itu keluar
karena belum ada kecocokan, belum pas di lapangan, ya harus ditinjau ulang. Menurut
pemahaman saya harus seperti itu. Jadi kita bukan memohon (tanah), tetapi
memohonnya itu harus ada pemetaan ulang, peta itu harus ditinjau kembali.

61

Sebenarnya menetukan wilayah Kampung Laut gampang. Orang membuat peta


kan karena ada pemekaran Kecamatan. Kampung Laut masuk wilayah mana? Dulu
wilayah Segara Anakan masuk kecamatan Cilacap Selatan. Kampung Laut adalah
wilayah seluruh Segara Anakan. Maka batas jangan dengan Patimuan, tetapi batasnya
dengan Sidareja. Karena belum ada Kedungreja. Yang dilihat itu. Terus Kampung Laut
di mana? Berbatasan dengan Kawunganten. Terus ke sananya berbatasan dengan Jeruk
Legi. Dari sejarah penuturan orang tua, Kampung Laut ke timur berbatasan dengan
Bogum Gede. Bogum Gede tarik ke Daun Suit, Daun Suit ke Ngentak, Ngentak
langsung ke Cirudu, wilayah Penikal, tarik ke Pelindukan, tarik Jojoktelu. Itu wilayah
Penikel. Kalau wilayah Kampung Laut ya dari Bogum Gede, Mertelu, kali Pruat,
sampai dengan Majingklak. Sebetulnya itu. Jadi wilayah kecamatan Patimuan, daerah
Cimrutu, itu sebetulnya sedimentasi sungai Sidareja.
Sing menjadi masalah tu itu, kalau sesuai cerita pak Gun membuat SPPT petak
9, saya kan mengeluarkan SPPT petak 9, 10, 100 SPPT karo biaya. Saya pernah disurati
oleh Perhutani, saya membuat pemukiman di lahan perhutani, ya pernah disurati. Saya
nggak butuh surat, saya butuh kepastian hukum. Maksudnya, aku kepengen, di dahapan
hukum. Tapi kalau hanya Perhutani ya emoh. Yang lucunya lagi sak iki tak
hapuskarena apa? Setelah saya mengeluarkan SPPT itu, saya mempertahanakan, saya
punya tujuan, tapi masyarakat, masyarakat ku dewek ora ngerti. Ada kepentingan
maing. Ya bingung. Jadi masyarakat juga orak bisa pro sih, itu sulite. Padahal saya
kepengen bagaimana masyarakat memberikan kontribusi pada Negara. Lah setelah
status ini keluar yang penting kan pajaknya aja di korupsi nang ngesor, pajake kan
tekan dhuwur. Adapun neng nduwur arep sengketa ini tanah Perhutani, ini tanah timbul,
orak ngerti. Sing penting nang dhuwur. Itu sih menurut saya. Yang penting yang kita
ipuk yang dilapangan saja. Tapi yang menjadi masalah kan malah orangnya dewek.

62

Bagian III : Kehadiran Romo Carolus


Misi kemanusiaan
Sejak kedatangannya pertama
kali di Cilacap (1973) Romo Carolus
memprioritaskan pembangunan antar
desa dengan program Padat Karya.
Kerasnya kehidupan waktu kecil
justru membuat Rm. Carolus ingin
mengabdi di wilayah kantong
kemiskinan, tempat keterbelakangan
dan derita kemanusiaan terasa begitu
kental (Amanda Valani, Metro TV).
Romo Carolus pertama kali menginjakkan kakinya di Kampung Laut tahun
1973. Saat itu pemukiman penduduk masih berupa rumah panggung dengan
perekonomian sangat sulit. Tahun 1976, melalui YSBS Rm. Carolus memulai berbagai
proyek infrastruktur di wilayah Kampung Laut Cilacap, Jawa Tengah. Sampai sekarang
proyek perbaikan infrastruktur yang terus dikembangkannya telah menjamah hampir
seluruh pelosok di Kabupaten Cilacap dari Kampung Laut hingga Deyeuhluhur.
Waktu saya datang, belum begitu lama sesudah 1965. Tahun 1965 Anda tahu sendiri di Indonesia agak
kacau. Di desa-desa banyak orang yang takut karena banyak yang ditangkap dan banyak yang dibunuh.
Jalan juga waktu itu sangat rusak. Jalan ini kalau musim hujan seperti sungai. Hanya bisa dilewati jeep
atau truck dan memang jarang ada yang lewat. Pelayanan pendidikan dan kesehatan hampir tidak ada.
Orang-orang kampung seakan tidak ada harapan untuk hidup. (Rm. Carolus, dalam Pengabdian
Sepanjang Jalan,JOD/Metro TV)
Klaces mulai dibangun 1978. Romo Carolus yang membangunnya. Saya ikut
bekerja bersama Romo Carolus mulai 1982, sampai sekarang, tutur pak Takrun.
Bantuan Romo untuk masyarakat Klaces banyak sekali. Waktu itu orang Klaces sulit
makan. Karena ada proyek jalan mereka bisa makan. Waktu itu warga yang bangun
badan jalan dibayar Rp.300 per meterkubik. Bikin jalan lagi, saya bawa orang 70 ya
sering.
Kalau ndak ada bantuan Romo ya ndak ada pertanian. Saya punya 3000 meter
ini juga dulu masih hutan. Saya tanggul keliling. Ada banyu asin masuk ya ndak panen
lagi. Romo membangun tanggul yang kemudian juga dijadikan jalan. Jalan sudah

63

sampai empat kali direhab. Yang ke lima sekarang baru pemerintah. Tanggul yang
dibangun masih ada sampai sekarang. Di tanggul itu juga ada klep air yang dibangun
untuk memisahkan air asin dari air tawar. Sehingga dengan demikian daerah yang
berair tawar bisa untuk bertani. Dulu ada sawah sampai lempong Pucung. Tapi di sana
sekarang sawahnya sudah ndak ada. Selain itu juga dibangun PAUD di dua tempat.
Bantuan-bantuan Romo itu sangat berguna. Kalau ndak ada bantuan itu, di Klaces
sampai sekarang belum ada jalan.

Klaces termasuk daerah disposal. Disposal itu dibikin oleh Romo. Bagian utara
yang paling luas. Sehingga di sebelah utara paling banyak yang mengerjakan sawah.
Setelah disposal itu bagian utara bisa untuk pertanian. Lahan di sebelah utara sangat
bagus, subur sekali. Panen bahkan bisa sampai dua bulan. Satu panen lebih 1,5 ton.
Meskipun waktu itu orang di sini belum bisa tanam dan panen padi. Padi belum
dipotong sudah dipegagang. Tanam padi ndak bisa lurus. Persoalan lainnya adalah
orang sini maunya setiap hari dapat uang. Tidak mau tanam.
Waktu dibangun disposal warga di sini setuju sekali. Sekarang minta ditanggul
di sebelah utara sungai untuk bangun rumah. Karena penduduk di sini tiap tahun
tambah KK. Banyak sekali anak-anak. Pengajuan sudah diserahkan kepada Romo. Tapi
katanya hilang.

64

disposal

Peta disposal Segara Anakan milik PU


Sebenarnya orang di sini kalau ndak dibantu ndak bisa ada pertanian. Tapi
sayangnya pintu air semuanya sudah dirusak. Tanggul juga rusak. Bahkan ada tanggul
yang digali untuk meninggikan jalan. Aneh. Klep yang bikinan Romo juga rusak
semua. Ada yang diambil kawatnya, ada yang diambil besinya. Akhirnya lahan yang
dulu sudah bisa untuk bertani, sekarang kembali tergenang air asin. Untunglah sekarang
ada empat klep yang sudah diperbaiki. Tapi di bagian utara masih ada yang rusak.Sulit
orang di sini. Jalan ada lobang saja ndak mau memperbaiki. Kalau ndak dibantu ndak
diurug. Orang Kampung Laut hanya minta-minta tok. Ndak mau kerjalah. Saya ikut
kerja jalan ini sampai di Ketapang, Kalen Semak. Selain itu orang di sini juga suka jual
tanah. Punya tanah sedikit-sedikit dijual.
Di Klaces belum pernah ada larangan menggarap tanah. Paling hanya ditanya
oleh Mantri dari Nusakambangan, kenapa tanah timbul ditanam, saya jawab Ya saya
butuh nanam. Setelah itu tidak pernah ditanya lagi. Kalau orang yang garap lahan di
Nusakambangan ya sering di larang. Dulu Mantri Nusakambangan pernah turun di sini.
Pakai dua helikopter. Tapi setelah itu ndak ada apa-apa lagi. Status kepemilikan tanah
di sini kebanyakan baru sampai tahap ijin menggarap. Belum ada sertifikat, tapi sudah
ada SPPT. Sudah diurus, tinggal nerima sertifikat. Kalau tanah rumah sudah ada
sertifikat hak milik.

65

Romo Carolus juga membantu warga di Motean. Malah Pertama warga


diberikan perahu, kenang Sumbardja. Perahu itukan bergilir. Ya gitu, orang sih ya.
Sampai bangkrut. Jadi diberi perahu supaya nyewa, sewanya lalu digilirkan ke lain
orang. Bangkrut. Harga perahu jaman dulu jika dibanding uang sekarang ya murah, 50
ribu. Romo membantu pengurugan. Bulgur 9 ton, susunya 15 kantong. Itu dibagi-bagi
pada orang yang bekerja. Kalau satu hari satu kubik dibayar Rp.300. 3 hari kerja dapat
satu kantong bulgur (25 kg).
Orang bekerja membangun tanggul dibayar dengan Bulgur, jadi tidak dibayar
dengan uang, tapi bulgur. Yang mengelola adalah pak Subroto. Tiap hari sabtu orang
yang ikut bekerja menerima 1 (satu) kandi (karung) bulgur seberat 20 kg. Bulgur itu
keras. Kalau dimakan cepat bikin kenyang dan kenyangnya lama, tapi waktu buang air
bulgurnya masih utuh.
Waktu itu Romo membantu masyarakat dengan bikin proyek. Dari situ kami
bisa mendapat upah beras bulgur. Kalau tidak ada bantuan itu, kami tidak tahu apa yang
akan terjadi pada masyarakat di sini. Mungkin lebih banyak yang mati. Makanya dalam
sebuah dialog dengan Romo Carolus, - saya tidak melebih-lebihkan, itu nyata,- saya
mengatakan, setelah dapat bantuan dari Romo masyarakat sini sangat bersyukur,
tambah pak Darto.
Romo Carolus datang ke Ujung Gagak tahun 1973. Saya sangat dekat dengan
Romo, tutur pak Karto. Kalau Romo datang saya pasti di sana. Kebetulan Romo dari
Cilacap kalau datang turunnya di rumah pak Kartaredja. Dan saya yang selalu nampa
(menerima) tambang perahu fibernya. Saat itu pak Badi menjadi kepala Desa. Pak Badi
minta dana pada Romo untuk ngurug jalan. Jalan yang dulu di atas kayu diurug menjadi
jalan tanah. Karena mengingat kayu-kayu semakin berkurang.
Tahun 1973 Romo mula-mula bangun jalan, terus buat empang di Tiram Gesing.
Bantuannya Romo Bulgur. Buat empang lemahnya dimasukan kandi. Kandinya dari
Romo. Sesudah itu pengambilan tanah untuk pengurugan lapangan yang kemudian
didirikan sekolah. Itu kasihan. Romo diminta oleh masyarakat untuk membantu
pengurugan. Jasa Romo, memang saya akui, luar biasalah. Sekarang sisa tanah itu
malah sudah dijual oleh masyarakat.
Terus Romo buat jalan sampai ke Panikel. Kemudian membangun tanggul. Saya
ikut kerja. Sungguh, Romo banyak jasa. Jalan itu kalau tidak diawali oleh Romo tidak
mungkin. Saya bukan sedang mengidolakan Romo, bukan. Itu kenyataan. Contoh
sejarah Grugu. Kalau tidak dibantu Romo tidak akan ada jalan seperti itu.

66

Selain jalan, Romo pernah bantu memberikan bebek, perahu nelayan dengan
mesinnya dan membangun klinik. Perawatnya bu Wismo. Mereka datang biasanya
setiap hari Selasa atau Kamis.

Awal mula pembangunan jalan dan bantuan untuk tlukah


Saking kepengennya orang Kampung Laut ada jalan nyambung ke daratan,
akhirnya Kepala Desa Panikel, Sumbono, minta bantuan jalan ke Yayasan, kenang
Handoko. Permohonan itu dikabulkan oleh Romo Carolus. Sekitar tahun 1989 Romo
Carolus mulai membantu membangun jalan di Muara Dua dengan lebar 6 meter sampai
ke Binangun. Daerah itu awal mula masih hutan. Karena terjadi pendangkalan yang
terus menerus, dan masyarakat butuh ada jalan tembus ke Grugu, ada keinginan
masyarakat untuk menyesuaiakan permohonan kepada Bupati. Dari Bupati
direkomendasikan, setelah itu dibikin jalan dari Grugu tembus sampai ke Muara Dua.
Waktu itu yang menjadi kepala kantor Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) adalah
pak Narto, dilanjutkan pak Sarwadi dan kemudian Bapak Bambang Ritanto. YSBS
sendiri waktu itu mendapat dukungan bulgur dari CRS. Maka ketika proyek berjalan,
pekerja dibayar dengan bulgur. Bulgur itu memiliki arti yang sangat penting katika itu,
karena warga Kampung Laut dilanda kelaparan yang sangat parah.

Pembangunan badan jalan di Kampung Laut, semuanya dikerjakan denegan tangan manusia

67

Selain membantu membangun jalan dan lapangan sepakbola, Romo Carolus juga
membantu tlukah (buka lahan baru) di Muara Dua. Saat tlukah pak Kilat datang ke
Muara Dua bawa uang sampai ada se-tas. Setiap keluarga dibantu Rp.50 ribu untuk
membantu nyangoni tlukah. Setiap satu hektar dibabat dibayar 25 ribu. Lapangan sepak
bola juga diurug. Dibantu sama beras bulgur.
Terus pada jaman pak Narto bantuannya sudah mulai lumayan. Karena dibayar
dengan beras. Saya datang ke tempat Romo bilang, Romo kalau beras ini dibawa ke
sana (Muada Dua) riskan. Karena angin di Sapuregl besar. Bisa karam di laut. Lalu
Romo Carolus menjawab, Sudah, diuangkan saja ya. Akhirnya beras itu diuangkan.
Beras saya bawa ke pasar Sangkal Putung, ke tempat pak Sumarno, dan dijual di sana.
Jadi kembali ke Muara Dua membawa duit.
Terus yang kedua Romo bikin Puskesmas di Kawunganten. Setelah bangunan
selasai, masa jabatan pak Pujono juga berakhir, diganti pak Supardi. Pada saat serah
terima Puskesmas dari Yayasan ke pak Supardi, pak Supardi tidak mau nerima. Saya
ingat itu. Saya tidak tahu mengapa Bupati Supardi tidak mau terima Puskesmas yang
dikasih Romo itu. Karena dia Islam fanatik apa ya, tidak mau terima bantuan dari
Romo. Setelah Heri Tabri jadi Bupati Cilacap baru Puskesmas itu diterima. Puskesmas
itu sangat besar jasanya bagi masyarakat.
Bagi masyarakat Kampung Laut, semua bantuan Romo Carolus, mulai dari
jalan, dan lain-lain, itu sangat banyak manfaatnya. Yang dulu ndak ada jalan, ada
bantuan dari Yayasan jadi ada jalan. Kalau ndak ada bantuan dari Yayasan, semua
daerah Kampung Laut, termasuk daerah terpencil ini, Muara Dua, pasti tertinggal
sekali. Karena apa? Kampung Laut dulunya masuk kecamatan Cilacap Selatan.
Kecamatan Cilacap selatan desanya banyak. Yang paling tertinggal kan daerah
Kampung Laut. Kalau di sini tidak ada Yayasan, yang jelas tidak terpikirkan oleh
Pemerintah.
Oleh karena itu kami orang Kampung Laut bersyukur sekali ada Yayasan,
karena bisa membantu Kampung Laut membangun jalan-jalan. Sampai sekarang
jalannya sudah sampai meluas. Dalam arti dari pertama nol, tidak ada jalan sama sekali,
karena dibatu dari Yayasan sampai sekarang semua desa sudah terhubung oleh jalan.
Kalau ndak dimodali dari Yayasan yang jelas ndak bisa membangun jalan sampai ke
kota-kota. Karena Pemda juga banyak yang dipikirkan. Maka orang Kampung Laut
waktu ada Yayasan masuk sangat senang.
Bantuan Yayasan juga menambah penghasilan. Artinya yang dulu jika musim
paceklik tidak dapat duit untuk beli beras, nah akhirnya dengan bikin jalan bisa dapat
beras. Walau pun diupah dengan buglur, beras biasa atau dengan uang, itu sangat-

68

sangat menambah untuk nyambung hidup orang-orang di sini. Karena jalannya banyak,
termasuk berapa kilometer itu sudah dari perbatasan Binangun sampai perbatasan
Rawajaya, termasuk daerah Panikel dan daerah ujung Gaggak, itu semua pertama dari
Yayasan. Dari jalan masuk pertama di Sitinggil sampai ke desa Ujung Gagak, sekarang
juga mulai dibangun dari Muara Dua ke Ujung Alang, itu semua dari Yayasan.
Pak Sudir, Lurah Binangun, seorang mantan polisi. Saya pernah ngluruk balbalan ke sana. Sebelum dibangun jalan, dulu di jalan airnya sampai sedada. Ke sana
hanya bisa pakai perahu. Kemudian Yayasan membangun jalan di sana dan sekarang
bisa jadi jalan semacam itu, mungkin karena Sudir itu dianakemaskan sama Romo ya,
saya ndak tahu [tersenyum]. Makanya waku itu pak Sudir diangkat Lurah sampai dua
kali, hampir 3 kali. Karena Pak Sudir menyelamatkan masyarakat di situ.

Pendidikan
Romo Carolus lah yang pertama membuka kesempatan pada anak-anak
Kampung Laut untuk bisa sekolah lebih tinggi. Program Romo Carolus itu mulai tahun
80an. Mereka disekolahkan di luar Kampung Laut, seperti sekolah di Kawunganten dan
Majenang. Kata Romo mereka harus sekolah di luar Kampung Laut, supaya tidak
dipengaruhi oleh orang tuanya atau dipaksa bekerja atau kawin. Pada waktu itu saya
ngalami sendiri, kenang Darto. Anak saya dua. Sekolahnya di Kawunganten di SMP
lantas setelah tamat SMP melanjutkan ke Majenang. Dua anak saya dibantu oleh Romo.
Anak-anak sekolah tidak bayar. Malah dikasih makanan dan tempat tinggal gratis.
Waktu itu kalau tidak salah saya bawa 30 orang anak Kampung Laut yang
sekolah di Majenang. Di sana mereka tinggal di asrama. Lah urusan pangan saya takon
pada Sr. Agahta. Mbak (Suster), ini urusannya anak sekolah ini dananya dari mana?
Oh makanannya saya minta dari toko-toko. Berasnya 10 kg, duite 10 ribu, jawab Sr
Agatha. Itu untuk ngumpani bocah sekolah neng kono.
Jadi mulai ada anak Kampung Laut yang sekolah lebih tinggi sejak Rm. Carolus
membantu pendidikan anak-anak Kampung Laut di luar Kampung Laut. Uang sekolah
mereka dibayari, diberi penginapan, pakaian dan segalanya ditanggung. Anak-anak
yang sudah lulus SMP juga banyak yang sekolah tinggi, ada yang dimasukkan SPG di
Purworejo dan jadi guru. Tanpa perjuangan Romo Carolus, tidak ada seperti sekarang.
Romo Carolus pernah menulis dalam Buletin YSBS tentang kenangannya saat
pertama datang ke Kampung Laut:

69

Pertama kali saya masuk Desa


Karanganyar Ujung Gagak, Kampung
Laut, dan hari itu adalah hari yang
kedua saya berada di Cilacap. Dalam
hati saya merasa perlu ada waktu 50
tahun untuk membawa perkembangan
yang berarti di sini.
Tiap hari Selasa saya
antar beberapa perawat dari Poliklinik
Santa Maria untuk mengobati orang
sakit dan saya menawarkan diri untuk
membantu dan saya diberi tugas untuk
mengobati pasien-pasien yang sakit
mata yang selalu begitu banyak
dengan
memasukkan
salve
tetracycline dalam mata mereka
pelayannya gratis dan dengan
demikian banyak yang minta diobati.
Rm. Carolus memberi saleb obat mata kepada
Saya mengobati dengan jalan-jalan dan
seorang anak di Ujung Gagak
mampir sana sini tanya-tanya
keadaan ekonomi masyarakat dan
bagaimana bisa ada perkembangan.
Kebetulan ada dana A.M.M.I. Australia
yang diperuntukan untuk membantu
orang miskin. Saya membahas
bagaimana dana itu bisa sampai kepada
masyarakat
untuk
menghasilkan
Kesejahteraan
Beberapa orang mengusulkan
memelihara itik, karena rumah mereka
dikelilingi air. Dengan bantuan Pak
Widisoewarno (alm) dan Pak Waris
guru agama waktu itu saya
mengelilingi pasar-pasar di Cilacap dan
membeli 100 bebek betina dan 10 bebek
jantan. Bebek tersebut diberikan kepada
10 keluarga di Karanganyar dan dengan
Suster perawat mengunjungi kampungperjanjian akan mengembalikan 10 telur kampung suku Pejagan setiap hari dan Kamis
tiap minggu untuk dijual dan membeli untuk memberi pelayanan kesehatan

70

bebek lagi untuk keluarga lain yang mau ikut proyek itu. Dalam waktu beberapa bulan kami sudah
membagi 550 bebek untuk 50 keluarga lagi. Sesudah itu ada proyek reclamasi tanah untuk menanam
sayur dan memelihara babi.
Dalam pengamatan saya sudah jelas sangat sedikit anak melanjutkan pendidikan ke
jenjang S.M.P. sesudah tamat S.D. Bahkan sangat sedikit murid yang sampai kelas VI S.D. yang putri
keluar dan menikah yang laki-laki keluar untuk ikut cari ikan. Hal itu disebabkan sikap banyak orang
di sana waktu itu bahwa pendidikan hanya buang uang saja. Bagi saya pendidikan membebaskan.
Maka sambil jalan-jalan saya mampir sana-sini, omong tentang pendidikan dan memberi
pemahaman bagi orang tua agar menyekolahkan anak sampai lulus S.D. dan mengijinkan anak
melanjutkan ke sekolah S.M.P. Saya berjanji bahwa saya akan mengurus semua biayanya, tetapi anakanak harus masuk S.M.P. diluar desa Kampung Laut karena belum ada SMP di sana. Untuk itu Y.S.B.S.
membangun Asrama sangat sederhana di Kawunganten, Sidareja dan Cilacap untuk tempat tinggal
anak-anak dari Kampung Laut. Kebetulan pada bulan Desember 1979 pemerintah membebaskan
semua Tahanan Politik (TAPOL) dari penjara Nusakambangan. Para eks TAPOL itu ingin kembali
menghidupi keluarga mereka. Saya mempekerjakan keluarga-keluarga eks TAPOL itu untuk masak
dan menjaga asrama-asrama.
Berita tentang Pendidiakan Gratis dari YSBS cepat tersebar. Y.S.B.S. membayar
makanan, baju dan pendidikan dan asramanya gratis. Banyak sekali orang tua datang mohon agar
anak-anak mereka boleh ikut. Tiap mau masuk Tahun Ajaran baru S.M.P., sering kali saya kedatangan
bapa-bapa di pastoran. Suatu hari, saat beberapa bapak duduk di ruang tamu Pastoran, saya lihat
mereka banyak sekali merokok. Mungkin karena takut BULE GALAK. Saya membiarkan mereka
merokok sambil omong-omong dan sesudah habis beberapa batang rokok, saya tanya, berapa harga
satu batang rokok. Selama nunggu tadi habis berapa batang rokok dan harganya berapa?
Kelihatan bapak berat merokok dari pada membayar biaya pendidikan anak. Apakah
Bapak tidak malu bagaimana anak jadi dewasa sikapnya terhadap bapak kalau bapak tetap berat
merokok dari pada membayar pendidikan anak Tanya saya. Lalu saya tawar menawar agar mereka
mengurangi merokok dan membayar bagian apa dari ongkos mendidik anak mulai bayar baju
tahun berikutnya bayar makanan, yang berikutnya lagi sebagian biaya sekolah dan sesudah kurang
lebih 10 tahun keluarga yang mampu mau membayar seluruh biaya-biaya pendidikan. Juga sebagian
anak, yayasan sekolahkan di S.P.G. Purworejo, S.P.P. Sidareja., dan sebagian sampai Universitas
Sanata Darma dan Sekolah Perawat/Bidan di Panti Rapih Yogyakarta.
Pelayanan kesehatan ke Kampung Laut berjalan tiap hari Selasa selama kurang lebih 20
tahun, lalu Pemerintah ambil alih dengan menempatkan mantri-mantri kesehatan dan membangun
klinik di tiap desa.
Tahun 1977 proses pendangkalan/sidementasi sudah mulai terasa dan laut dibawah
rumah-rumah semakin tidak dalam lalu ada seorang bapa tua yang punya ide untuk menguruk di
bawah rumah dengan lumpur yang diangkut dengan perahu dari tanah yang sudah mulai muncul di
kiri kanan desa. Dalam waktu beberapa minggu rumahnya yang dulu berdiri di atas tiang kayu-kayu,

71

sekarang berdiri di atas tanah.


Saya hitung-hitung berapa pohon harus ditebang tiap tahun untuk menggantikan tiangtiang yang jadi busuk dan saat itu saya ditawari Proyek Padat Karya Pangan dari C.R.S. Amerika.
Rakyat akan diberi bulgur (sejenis gandum) campur kedelai, asal mereka mau bekerja membangun
desa. Ditawari satu kilogram pangan untuk setiap meter cubic lumpur yang ditaruh dibawah rumah
dan dua kilo untuk taruh untuk bikin jalan umum.
Rakyat sangat antusiasis dengan program ini dan dalam waktu kurang dari 10 tahun
semua desa di Kampung Laut sudah jadi pulau-pulau bikinan manusia dan ini juga memungkinkan
membangun rumah-ruamh yang lebih permanen dari batu-batu yang didapat dipinggiran Pulau
Nusakambangan. Sekarang ada rumah-rumah yang lebih mewah dari Pastoran Cilacap!!!
Dengan proses sedimentasi/pendangkalan rakyat minta bikin tanggul-tanggul supaya
tanah timbul diamankan dari genangan air laut disaat panca roba dan tanggul bisa berfungsi sebagai
badan jalan. Sungai-sungai menuju Kampung Laut, juga memerlukan tanggul dan rakyat minta
bantuan pangan Proyek Padat Karya supaya bisa cepat jadi. Contoh mulai dari desa Bojong
(Kawunganten) sambung desa Bringkeng, sambung Grugu Binangun Baru, Muara Dua, Penikel satu
jalan lagi mulai dari Sitinggil Bantarsari Bugel Karanganyar Pelindukan Cibereum dsb.
Saat ini sedang merintis jalan baru dari Karangsalam ke Bondan dan diharapkan akhirnya
sampai Mutehan Ujung Alang. Diharapkan sebelum 50tahun jalan sudah dimakadam dan diaspal.
(Sekarang baru 40tahun).
Selama berapa tahun ini dengan semangat rakyat meninggikan rawa-rawa jadi sawah
dengan biikin selokan-selokan dengan bantuan insentif dari Y.S.B.S. dan ratusan hektar sudah jadi
sawah yang sangat produktif dan di musim kemarau lombok, kedelai, waluh dsb. Dan program ini mau
diteruskan sampai ribuan hektar. Y.S.B.S. merasa bangga dan bahagia bisa berjalan dengan rakyat
membangun desa-desa dan menyaksikan perkembangan yang sangat menyenangkan berkat rakyat
bekerja dengan semangat gotong royong untuk menghasilkan masa depan yang lebih cerah bagi
anak-anak, cucu-cucu. (Buletin YSBS Vol.4. Hal 5-6)]

Kalau kita lihat perjuangan Romo di sini, Romo harus kita jadikan contoh, tutur
pak Karto Admojo. Kalau tidak ada Romo jalan, jembatan di semua Kampung Laut,
tidak akan ada seperti sekarang. Kalau hanya mengandalkan pemerintah, jalan-jalan itu
tidak mungkin akan ada seperti sekarang. Romo yang membangun badan /permulaan
jalan. Badan jalan itu namanya bagreg. Saya ikut Romo mulai tahun 1984. Waktu
pembuatan jalan dari Klaces sampai Ujung Alang saya terlibat.
Pak Deddy kemudian juga menceritakan sejarah ingatannya. Saya bukan asli
Kampung Laut, tapi kelahiran Cirebon. Saya datang ke Kampung Laut karena ikut
kakak isteri saya dari Gandrungmangu, yang membuka lahan di Pelindukan sekitar
tahun 1987. Saya pindah ke sini tahun 1992. Saya jalan sama isteri sambil
menggendong dua anak saya. Nyamuk penuh, nempel semua. Ndak ada kendaraan ke

72

sini, kenang pak Deddy. Dulukan jalannya pakai perahu. Itupun saya jalan di atas
lumpur sedimen Cimeneng. Waktu itu belum ada jalan dari Bantarsari sampai
Pelindukan. Adanya masih jalan setapak. Setelah saya di sini sekian tahun baru ada
badan jalan. Di Bugel sudah ada badan jalan, tapi yang saya ceritakan dari Bantar sari
ke sini belum ada.
Sejak saya datang ke sini sampai sekarang banyak banget perkembangan yang
saya lihat. Perkembangan kampung pun sangat pesat di sini. Yang tadinya saya kenal di
Kampung Laut itu penduduknya mayoritas nelayan, tapi setelah dibuka lahan pertanian,
penduduk Kampung Laut banyak juga yang beralih pada pertanian. Memang pendatang
yang dari luar Kampung Laut juga banyak. Mereka tahu, oh ini potensi Kampung Laut
sebenarnya bagus. Tanaman padi di sini ndak mengenal pupuk. Subur sekali. Itu juga
yang menjadi pertimbangan orang-orang luar pindah ke sini.
Jika kita bandingkan. di sini pertumbuhan pertanian yang kelihatan banget.
Soalnya apa? Waktu itu yang saya lihat daerah tanaman mangrove tidak bisa ditanami
padi. Tapi setelah orang-orang pendatang dari luar Kampung laut masuk, yang nota
bene masuk ke sini karena pertaniannya, akhirnya pertanian di sini bangkit terus.
Jumlah sawah meningkat. Apalagi sejak tahun 1997 banyak sekali pendatang yang
datang ke sini untuk membuka lahan pertanian di sini. Akhirnya pertambahan penduduk
dari luar Kampung Laut banyak banget.
Waktu terus berlalu. Perkembangan infrastruktur jalan sudah ada, pertanian
sudah berkembang dan ada kolabirasi antara penduduk asli dengan pendatang. Sehingga
sampai sekarang tingakat ekonomi masyarakat sudah macam-macam. Pencaharian
penduduk di sini yang dulu hanya nelayan, sekarang suduh macam-macam. Hampir
sama dengan mata pencaharian penduduk daerah luar. Yang nderes ada, yang pertanian
ada, yang tambak ada. Bahkan yang ternak sekarang juga ada. Akhirnya Kampung Laut
sudah terbuka ke luar. Semua kemajuan jaman sudah ada, sudah sama seperti derah
lain.
Memang di Pelindukan penduduk yang asli Pelindukan sangat sedikit. Hampir
semuanya pendatang. Adaptasi saya yang paling berkesan adalah saat awal datang
kesini. Saya bingung mau kerja apa. Saya lihat orang cari ikan begitu, nyeser. Ya, saya
ikut terjun nyeser cari ikan. Tengah malam jam dua malam ikut nyeser. Memang sekali
nyeser bisa dapat 15 kilo ikan belanak. Itu kenangan pahit, tapi juga indah. Kalau
sekarang duduk bareng, sering ingat kenangan itu. Terus setelah ke sini-ke sini, saya
melihat potensi pertanian bagus. Saya senang pada pertanian. Saya melihat potensi di
sini, oh ini peluang bagus untuk pertanian. Di contoh oleh kakak isteri saya. Akhirnya
ikut saya di situ. Akhirnya saya lari ke pertanian. Dari pertanian itu saya bisa
mendongkrak ekonomi keluarga.

73

Potensi di luar pertanian di sini juga banyak. Peternakan jika dikelola dengan
baik di sini pegang peran. Sekarang saya menggeluti pertanian dan peternakan kambing
domba. Soalnya di sini banyak rumput, itu potensi yang ndak ada di daerah lain. Kalau
musim ketiga (kamarau) bahkan orang dari Kebumen datang ke sini mencari rumput.
Itu potensi yg sangat besar. Tapi belum semua masyarakat sadar akan hal itu. Makanya
saya sudah mencoba, dan hasilnya sudah terasa. Penghasilan saya kalau dihitung-hitung
dari ternak lumayan. Kalau pembesaran saja, lebaran haji itu, kita misalkan beli bibit
500 sampai 600 ribu, kita pelihara 10 bulan, bisa laku 1,5 juta. Jadi dalam waktu paling
lama 10 bulan bisa dapat keuntungan satu juta. Kalau kita nanam saham 100 kambing
saja, kan bisa 100 juta dalam 10 bulan. Ini belum terpikirkan oleh orang sini. Padahal
rumput di sini ndak ada habisnya pak. Soalnya lahan di sini banyak lahan yang tidak
tergarap. Akhirnya ditumbuhi rumput liar. Kalau dilihat potensinya itu luar biasa.
Sayangnya masyarakat di sini belum melihat potensi itu. Saya sudah menikmati. Saya
sudah hitung-hitungan, seperti itu.
Sebagian bantuan lainnya dari Romo Carolus untuk Kampung Laut dapat dilihat
dalam dalam gambar- gambar berikut ini:

Tanggul yang sekaligus difungsikan sebagai badan jalan

74

Tanggul pemisah air asin dan air tawar yang dilengkapi pintu air

75

Pengerasan jalan

76

77

78

Membantu penduduk mengadakan lahan sawa

79

Manfaat bantuan Infrastruktur


Setelah ada jalan tembus ke kota, perekonomian masyarakat naik luar biasa.
Sekarang ndak ada orang yang ndak punya rumah. Juga rumah sekarang sudah berbeda
dengan rumah jaman dulu. Dulu rumah-rumah dari blabak. Kena angin dah kontal.
Sekarang semua rumah rapi-rapi. Memang sekarang masih ada satu dua yang miskin,
tapikan mending. Sekarang ndak ada musim paceklik. Semua rata-rata makan semua.
Kalau dulu kalau ada musim paceklik banyak yang ndak makan. Paling makannya dulu
bubur. Beras hanya kg dibubur buat satu keluarga. Sekarang sudah ndak ada . Ratarata sudah bisa makan dengan normal. Kalau dulu banyak anak nagis minta makan.
Sekarang malah banyak anak nangis kalau disuruh makan, tutur pak Handoko.
Sekarang penghasilannya ada yang tani, ada nelyan, ada yang kerja di bangunan.
Sekarang meskipun jalannya belum begitu bagus, masih ada lobang-lobang, tapi bisa
dilalui pakai kendaraan. Sekarang ke Jakarta lebih singkat waktunya. Dulu mau ke
Kawunganten saja satu hari satu malam. Berkat bantuan Yayasan, masyarakat yang
dulunya di tengah laut sekarang bisa menjadi darat, kemudian ada jalan, sekarang
sangat membantu dan meringankan biaya perjalanan. Dulu kalau ke pasar Kawunganten
harus pakai perahu, pakai dayung. Kalau banjir arus air sangat deras sehingga sering
kali perahu tenggelam kalau banjir.
Secara umum pelayanan kesehatan sekarang juga sudah bagus. Ada poliklinik,
ada bidan Desa dan perawat. Dokter ada di Kawunganten. Tapi pelayanan kesehatan
setiap hari ada di sini.

Tanggapan masyarakat atas bantuan Romo (Yayasan)


Saat Rm. Carolus mulai datang, tahun 1973, masyarakat Pejagan ora mengenal
perbedaan keyakinan atau agama. Mengenal perbedaan itukan setelah ada
modernisasi. Itu (perbedaan) juga hanya berapa persen. Tidak ada masalah. Karena
membaur juga, tutur pak Prayitno.
Awalnya memang ada yang curiga pada bantuan dari Romo Carolus (Yayasan).
Tapi yang curiga itu bukan orang sini. Itu orang dari luar yang hanya mendengar cerita,
bahwa ada gerakan-gerakan seperti itu (kristenisasi), menurut versi dia sebagai
pengamat. Tapi setelah dilakukan sekian tahun akhirnya apa? Oranng kan ngerti dewek.
Masyarakat jadi paham apa yang sesungguhnya dilakukan Yayasan. Orang sudah tahu
sendiri, tidak harus dikasih tahu. Oh ndak ada (kristenisasi). Ya, memang tidak ada
kan? Karya YSBS tidak ada kaitannya dengan penyebaran agama. Ternyata memang

80

tidak membawa misi itu. Akhirnya orang sudah tahu. Sekarang sudah tahu, sudah
paham.
Saya sendiri membuat kelompok pengajian, semacam forum agama. Itu ada
misinya. Ada rahasianya. Karena yang namanya syar itu bukan dari pemahman agama,
tapi dari tindakan. Tindakan harus bisa dijadikan syar. Ini menurut pandangan saya.
Sayakan kerjasama dengan Yayasan berapa tahun? Kenapa saya punya kelompok?
Kenapa saya sering mengadakan pengajian? Ya karena salah satunya saya kepengen
pemahaman. Jangan mencampuradukan antara kegiatan sosial dengan keyakinan. Itu
harus bisa memilah-milah. Tapi kalau saya di tanya, ya itu rahasia saya. Dan juga,
secara umum saya memang orang yang suka mengadakan silahturahmi. Karena
silahturahim itu yang pertama kedekatan yang pasti, yang kedua insyaallah manjangkan
umur, yang ketiga bisa dubilahinata dengan silahturahmi itu. Insyaallah kalau diyakini
silahturohmi itu. Asal aja putus, begitu.... maka saya senang silahturohmi.
Lalu bagaimana pandangan anggota kelompok soal perbedaan agama?
Tidak ada masalah. Karena saya jelaskan di dalam program itu. Di sana juga
pernah diadakan diskui tentang kelompok Islam garis keras. Tapi kelompok lain melihat
kelompok garis keras itu hanya 5% se kecamatan Kampung Laut. Ndak usah dipikirkan.

81

Bagian IV: Harapan dan tantangan


Harapan
Tahun 2003 dibentuk kecamatan pembantu di kecamatan Kawunganten untuk
kawasan Segara Anakan. Kemudian pada tahun 2005 kecamatan pembantu tersebut
definitif menjadi Kecamatan Kampung Laut. Kecamatan Kampung Laut mencakup
desa Ujung Alang, Klaces, Ujung Gagak dan Panikel. Kemudian tahun 2005 PMO
diganti dengan BPKSA (Badan Pengkaji Kawasan Segara Anakan) yang kemudian
mengubah status Segara Anakan menjadi Kawasan Konservasi. Karena menjadi
kawasan konservasi jumlah penduduk Kampung Laut dibatasi maksimal 14.000 jiwa
dengan luas wilayah Kec. Kampung Laut secara keseluruhan sekitar 11.535,5 hektar
mencakup daratan dan sisa laut Segara Anakan. Tetapi semakin tahun pertumbuhan
penduduk semakin pesat.
Sekarang jumlah penduduk Panikel saja sudah melampaui ketentuan. Pada
tahun2012 Panikel memiliki 1.430 KK, dengan 3.575 penduduk dan 4.525 jiwa. Setelah
pulau Muara Dua menyatu dengan Penikel dan ada jalan darat tembus ke desa lain dan
ke luar, Muara Dua berkembang pesat. Rumah penduduk bertambah sampai ke arah
Bugel. Bugel dulunya ndak di situ. Di situ dulu daerah penghasilan (lautan tempat cari
ikan). Dalamnya sampai tujuh depa (10 m). Sekarang di situ malah sudah banyak
rumah. Karangnayar, daerah paling ujung barat, itu dulu juga sangat dalam. Ketika
Romo Carolus datang ke situ, Karanganyar diurug sama Romo, dibikin kandang babi.
Setelah kandang babi tidak ada, sekarang tanah itu ditempati orang-orang. Romo ndak
minta bayaran. Malah pemerintahnya yang njuali. Padahal itu dulu segara dibendung
oleh Romo.
Syukur bahwa pertumbuhan penduduk di Kampung Laut kini sudah dimbangi
dengan pertumbuhan fasilitas pendidikan (sekarang sudah ada PAUD, TK, SD, SMP
dan SMK), perkembangan ekonomi, kerukunan antar umat beragama yang selalu
harmonis dan saling menghargai. Pendidikan sekarang sudah bagus. Sekarang sangat
meringankan semua. Yang dulu paling-paling setelah lulus SD sudah berhenti. Paling
satu dua anak yg melanjutkan ke SMP. Sekarang ada 30, 50 bahkan sampai 100 anak
melanjutkan ke SMP. Yang tidak melanjutkan sekarang paling 1-2 orang.
Darto memimpikan Kampung Laut menjadi daerah pariwisata. Minimal ada
tamu lewat Muara Dua mau ke Nusakambangan. Sekarang sudah mulai banyak yang
lewat sini. Mereka pesan makanan di Muara Dua. Makan andalan di sini adalah totok.
Totok biasa dijual 20 ribu kepada wisatawan bisa laku 30 ribu. Belum udang, kepting
dan ikan. Kemudian bagi yang punya perahu juga mendapat penghasilan dari

82

menyeberangkan tamu ke Nusakambangan. Kalau lagi lebaran, liburan sekolah, banyak


sekali anak-anak sekolah pergi ke pasir putih Nusakambangan.
Di sini potensi kepiting juga sangat besar, tutur Darto. Jika sudah terbuka
menjadi daerah wisata penjualan kepiting juga bisa meningkat. Kepiting yang biasanya
dijual 40 ribu per kilo, bisa menjadi 60 ribu. Harga kepting bervariasi. Kalau tahun baru
bisa mencapai 100 per kilo. Kalau hari biasa standard. Kalau dijual sendiri ke Cilacap
bisa mencapai 70 ribu. Tapi sampai sekarang transportasi di sini masih sulit. Jaraknya
dengan kota dekat tapi karena jalan jelek lalu menjadi jauh. Akibatnya ojek juga masih
mahal seihingga keuntungan ojek menjadi cuma sedikit.
Sedangkan pak Gun melihat dengan adanya sedimentasi sungai Cimeneng, ada
suatu hikmahnya juga bagi masyarakat Kampung Laut. Cuma tetap perlu perhatian
khusus untuk pengembangan Kampung Laut. Tahun 2003 dan 2005 terjadi pembatalan
penyudetan sungai Citandui. Dan itu memang ada dampaknya. Pembatalan itu
dikarenakan ada sebagian warga Kampung Laut yang punya kepentingan, yang tidak
tahu latar belakang dan masa depan Kampung Laut. Jadi pada saat akan dilakukan
penyudetan kali Citandui, karena itu memang sudah diprogramkan menggunakan dana
ADB, kalau ndak salah dua koma sekian juta US Dollar, ada sebagian warga
masyarakat menolak rencana penyudetan itu, sehingga program itu dibatalkan. Ya,
sekarang dampaknya seperti ini. Seandainya penyudetan itu jadi, sekarang mungkin
beda keadaannya. Saya kira untuk Segara Anakan sebagian menjadi wilayah
konservasi, nelayan juga bisa menikmati, petani juga bisa hidup.
Masyarakat telah berkali-kali menyampaikan aspirasinya kepada pemerintah,
minta agar ada pengerukan Plawangan Segara Anakan maupun pengerukan normalisasi
sungai. Kalau Plawangan Segara Anakan tidak dinormalisasi, kedepan akan seperti apa
Penikel, jelas akan kembali lagi ke tahun 1960, yaitu kembali menjadi lautan. Terutama
daerah Cihaur yang lebih dulu tenggelam. Itu jelas! Kerena bagian selatan semakin
tinggi. Itu artinya apa yang sampai sekarang sudah dibangun YSBS, bisa jadi suatu saat
tidak akan ada artinya lagi. Karena akan tenggelam kembali ke dasar lautan. Hal itu
akan berdampak besar pada kehidupan masyarakat di Kampung Laut di masa depan.
Masyaraat tidak akan mampu beradaptasi terhadap perubahan alam itu. Karena
sekarang generasi nelayan sudah hampir habis. Masyarakat sudah beralih menjadi
petani. Jika suatu saat Kampung Laut tenggelam lagi, masyarakat baru saja menjadi
petani itu akan dipaksa lagi oleh alam menjadi nelayan. Sama seperti waktu nelayan
dipaksa menjadi petani tidak mampu bertahan hidup, generasi berikutnya yang
mengalami transisi itu juga tidak akan mampu bertahan hidup, karena mereka sudah
tidak memiliki keterampilan/kultur nelayan.

83

Sesuai dengan ramalan leluhur bahwa Kampung Laut akan menjadi daratan.
Ramalan itu kini sudah terjadi. Lalu sekarang, dengan melihat fenomena sedimentasi di
Segara Anakan kita mampu meramalkan bahwa suatu saat Kampung Laut akan kembali
menjadi lautan. Makanya sekarang penting memikirkan langkah-langkah untuk
mengantisipasi atau mengatasi persoalan itu. Kami sangat mengharapkan para tokoh
dan orang di depan agar mendengarkan keluhan masyarakat seperti apa. Jangan sok
pintar. Karena perkembangan kemajuan desa itu tidak tergantung seseorang. Maka
penting saling menyadari, saling memberi masukan. Situasi Kampung Laut rawan
sekali. Kalau kurang penanganan dapat dipastikan Kampung Laut akan kembali seperti
semula.

Pemikiran untuk masa depan


Orang Kampung Laut memang terlihat kasar, kalau bicara keras. Namun di balik
semua itu orang Kampung Laut sangat menyedhulur, bersahabat, ramah, menyapa.
Maka, menurut Prayitno, salah satu dasar pokok untuk pembangunan kedepan adalah
pengembangan sumber daya manusia (SDM) dengan karakter dan budaya yang baik.
Pak Karto masih prihatin soal kemandirian. Bagaimana masyarakat bisa kreatif,
berjuang sendiri membangun kampung, tanpa bantuan dari luar? Kalau saya pikir,
kuncinya masyarakatnya mesti kompak. Kalau tidak kompak tidak mungkin akan
mandiri. Kalau kita nilai sehari-hari sekarang, semua itu masih mengandalkan bantuan.

Bp. H. Tatto (tengah), Bupati Cilacap, bersama Rm. Carolus mengunjungi proyek di Klaces

84

Oleh karena itu, kebijakan Bangga Mbangun Desa diharapkan menjadi daya
ungkit dalam mendorong semangat masyarakat guna mewujudkan desa untuk menuju
mandiri. Adapaun arah kebijakan Bangga Mbangun Desa mencakup empat pilar, yakni
pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lingkungan sosial budaya, tutur Haji Tatto
Suwarto Pamudji, Bupati Cilacap.

Sejumlah Tantangan
Pendangkalan
Dengan adanya pelurusan
sungai Cimeneng itu jelas ada dampak
positif dan negatif. Dampak positifnya
terutama dinikmati daerah Ujung
Gagak yang semula tanahnya
tergenang, sekarang sekian persennya
sudah mulai kering dan bisa ditanami.
Sebaliknya Panikel mendapat dampak
negatifnya. Penikel yang semula
sebagian besar lahannya produktif
sekarang tinggal hanya sebagian kecil
yang bisa ditanami. Karena pinggiran
sungai Cimeneng setiap tahun
diangkat menjadi semakin tinggi
sungai, sedangkan daerah yang di
tengah semakin tengelam menjadi
danau.

Rencana peyudetan Citanduy dan


pelurusan Cimeneng (merah)

Tahun 1999 di kawasan Segara


Anakan pernah diadakan program
Proyek Management Open (PMO)
yang didanai oleh ADB. Dalam
program itu banyak dilakukan proyekperoyek, seperti proyek pengerukan
Segara Anakan, pembangunan dan
pavingisasi
Balai
Desa,
pengembanagan
ekonomi
dan
penyudetan sungai Cimeneng. Namun
proyek itu gagal total.

Proyek PMO untuk pegerukan dan penyudetan


Segara Anakan yang didanai ADB gagal

85

Itu artinya masalah pendangkalan belum sepenuhnya teratasi. Akibat


sedimentasi yang semakin tinggi, lahan petani yang semula produktif dapat ditanami
padi, sekarang menjadi tergenang air (menjadi rawa-rawa) yang semakin dalam,
sehingga tidak mungkin diolah. Oleh karena itu masyarakat Panikel sangat
mengharapkan pembangunan saluran penyudetan untuk memasukan lumpur ke lahan
yang tenggelam tersebut. Dari pengalaman lumpur itu akan cepat mengendap sehingga
lahan yang tenggelam kembali menjadi tinggi dan dapat ditanami padi dan tanaman
lainnya. Selain itu diharapkan juga ada upaya pengerukan Segara Anakan maupun
Plawangan agar air mudah mengalir dan tidak menggenangi lahan pertanian.
Sekarang lautan di Segara Anakan hanya tinggal sekitar 1.400 hektar atau
bahkan tinggal 600an hektar dari dulu 20.000 hektar. Itupun sudah dangkal. Sehingga
masyarakat Kampung Laut yang semula nelayan dan pencari kayu hutan, sekarang
sebagian besar terpaksa sudah beralih ke pertanian. Sebagian dari mereka mengolah
lahan di sebelah utara pulau Nusakambangan. Sedangkan masyarakat di Ujung Gagak
sekarang ada yang sudah mencari peruntukan menangkap ikan ke laut lepas dan
sebagian menjadi petani. Sekitar 70% masyarakat Panikel sekarang sudah menjadi
petani, karena lahannya sudah menjadi daratan. Sedangkan 30% yang masih nelayan
adalah penduduk dusun Muara Dua.

Figure pemimpin yang menyapa warga


Saya tadi mengatakan, mestinya pemerintah desa mencai factor penyebab
permasalahan, mengapa masyarakat tidak kompak? Mengapa mereka bilang iya, tapi
tidak melaksanakannya. Ketika saya di Bandung, di RS Cicendo, saya ngobrol dengan
orang-orang yang sedang ngrasani pak Jokowi. Jokowi langsung mendatangi orang
yang rumahnya akan digusur, dan setelah didatangi orang itu mau/rela. Ini apa
penyebabnya? Mengapa di Ujung Gagak ini hasil rapat RT/RW/Dusun/Desa tidak
dilaksanakan? Nah, mungkin di sini penyebabnya adalah minimnya pendekatan dari
pemimpin atau pejabat.
Contohnya BPD di sini adalah wakil rakyat. Tidak harus formal mencari aspirasi
rakyat. Sewaktu-waktu ketemu, di mana saja, apa yang kita bicarakan supaya rakyat
tertarik, mestinya harus begitu. Tapi BPD-pun tidak mau jagongan nyante kayak gini.
Pernah dulu waktu bangun jembatan Kalideres. Hanya 6 orang yang kerja. Tanpa ada
yang merintah. Tanpa ada imbalan. Orang yang kerja itu hanya ingin supaya
Karangnanyar bisa nyambung ke Bugel.

86

Pluralisme
Sepanjang ingatan pak Handoko, meskipun orang tahu bahwa YSBS adalah
lembaga dari agama katolik di Muara Dua tidak pernah ada kles (clash) berkaitan
dengan isu agama. Tidak pernah ada koflik antara agama. Juga tidak ada yang protes
karena Yayasan memberi bantuan. Masyarakat di sini mendukung pendirian gereja
Katolik. Jadi selama ini tidak ada suatu keberatan tentang agama tertentu. Ya, istilahnya
kerukunan antar umat beragama, saling menghargai, tidak ada permasalahan. Jaman
Bupati Pujono, mesjid di Muara Dua itu Romo yang bikin. Bantuannya diberikan
melalui pemerintah. Jadi selama ini tidak ada suatu keberatan tentang agama tertentu.
Ya, istilahnya kerukunan antar umat beragama, saling menghargai, tidak ada
permasalahan.
Dengan proses perkembangan, semakin ke sini semakin banyak penduduk,
sekarang Panikel sudah ribuan kepala keluarga, ya jelas banyak fenomena yang
berkembang. Salah satunya adalah bahwa sekarang, menurut pak Gunantoro, sudah ada
tarik ulur masalah kekuasaan. Masyarakat Kampung Laut juga karena itu mulai belajar
dalam proses politik. Proses pembelajaran ini terjadi karena pengalaman dari satu desa
dengan desa yang lain, karena transportasi antar desa sudah semakin lancer. Contohnya
transportasi antara Bantarsari dengan Kampung Laut itu juga mepengaruhi
perkembangan pengetahuan masyarakat Kampung Laut.
Bagi saya masalah agama tidak boleh dicampur adukan, tutur Karto. Itu urusan
masing-masing dengan Tuhan. Persoalan mulai muncul ketika ada kelompok di dalam
masyarakat yang ingin mengatur urusan itu dan bahkan ingin menghilangkan
keberadaan adat dan orang yang berbeda pandangan atau keyakinannya. Ini sangat
berbahaya sebenarnya, karena justru bisa memecahkan agama, ini bisa terjadi juga
nantinya akan memecahkan masyarakat. Yang harus dan punya wewenang meluruskan
masalah seperti ini sebenarnya adalah ketua adat dan pemerintah desa. Supaya
kerukunan tetap terjaga.

Melemahnya adat gotong royong


Sepanjang ingatan pak Karto, kehidupan masyarakat di Kampung Laut jaman
dulu lebih disemangati oleh adat istiadat. Adat gotong-royong jaman dulu masih sangat
kental, sangat kuat. Itu terbukti. Contoh, ada keluarga yang mendirikan rumah. Dulu
jaman ketika rumah masih panggungan, kalau mau buat rumah warga lain bantu sampai
masuk hutan cari kayu. Satu grumbul membantu semua, sampai rumah itu rampung.
Mereka membantu tidak hanya tenaganya, tapi juga makanannya.

87

Sekarang sudah berubah, bahkan sekarang ada fenomena yang agak


mengkhawatirkan. Kalau ada tetangga bangun rumah, kerja harus dibayar. Pernah desa
berembug untuk menggali alur sungai yang sudah menjadi dangkal, kenang pak Karto.
Jika alur itu digali kan tidak perlu mendorong perahu sampai ke laut. Untuk kerja bakti
dananya diambil dari dana jimpitan. Nah, ada sebagian warga yang tidak setuju.
Padahal saluran itu untuk kepentingan bersama. Di sini terlihat kekompakan warga
masih minim. Masih sulit untuk mandiri. Makanya kalau tidak ada bantuan dari pihak
ketiga, ini bagaimana?
Di sini masih sangat perlu orang yang berpikir untuk kesejahteraan umum.
Pemerintahnya juga perlu untuk semakin memperhatikan masyarakat. Tapi pemerintah
nampaknya kurang memperhatikan itu. Pemerintah juga kurang dipercayai oleh
masyarakat. Pemerintah sebenarnya perlu introspeksi, perlu mencari, apa faktor
penyebab masyarakat tidak percaya pada pemerintah? Kalau yang dikomando tidak
mau, komandannya mesti berpikir, kenapa sih orang tidak mau dikomando? Celahnya
harus dicari. Kalau dalam hal sosial masih mau, tapi kalau diatur seolah-olah tidak mau,
ini harus dicari permasalahannya.
Kemudian dalam pembinaan pola pikir, masyarakat juga perlu dapat bimbingan.
Artinya pola pikir masyarakat tentang amal jariyah, kepedulain pada sesama itu masih
kurang dan perlu diperkuat. Tetapi sebetulnya sifat sosial nya masih tinggi. Adatnya
juga kuat. Contohnya kalau ada saudara meninggal jiwa kepedulian masih kental.
Orang rela bantu makanan, dll. Tapi kalau istilahnya gotongroyong untuk umum, masih
sulit sekali karena tidak menguntungkan pribadi. Berarti egonya masih tinggi. Itu pola
pikir. Itu yang perlu dirobah.
Ibarat rumah, sebenarnya sekarang Kampung Laut sudah punya pondasi yang
kuat. Bahkan rumahnya sudah hampir jadi. Tinggal menyelesaikannya. Kampung Laut
sudah ada fasilitas jalan yang menghubungkan desa yang satu dengan lainnya, bahkan
hampir semua sudah bisa terhubung lewat darat ke kota. Ini modal yang sangat penting.
Listik sudah masuk. Kampung sudah bagus. Tinggal menyatukan warga kampung.
Ibaratnya tinggal finishingnya. Jangan sampai rumah yang sudah bagus ini, anggota
rumahnya malah berantem sendiri, malah rumahnya tidak selesai-selesai, bahkan nanti
malah ambruk sebelum jadi. Memang finisihing ini kalau kita hitung sangat berat,
terutama kalau finishing ini bidang finisihng mental. Dalam situasi seperti sekarang,
dan mungkin juga ke depan, bantuan dari pihak ketiga tidak bisa diharapkan. Tapi
kampung kita punya potensi, kekayaan alam, kebun, manusia, dll. Tinggal bagaimana
kita bisa bekerjasama untuk kemajuan kampung dan kesejahteraan kita bersama? Ini
yang harus kita lakukan bersama...

88

Sekilas tentang penulis


Stephanus Mulyadi lahir di Laung, Kapuas Hulu,
Kalbar pada tanggal 16-11-1966. Pendidikan SD,
SMP dan SPG di Kalbar. Pendidikan Filsafat dan
Teologi diselesaikan di Universitas Sanata Dharma
Yogyakarta tahun 1998. Tahun 2008 Meraih gelar
Master in Vocational and adult Education
di
Technische Universitaet Dresden, Jerman.
Memiliki pengalaman bertahun-tahun bekerja di
bidang pendidikan dan sosial kemanusiaan. Aktif di
NGO nasional dan Internasional. Anggota dari berbagai jaringan kerja internasional
seperti TUD-Alumni Network dan Knowlegde and Technology Transfer. Tahun 2012
menerima penghargaan dari KAAD-Peter Hunermann Stiftung di Bonn, Jerman, karena
dedikasinya di bidang humaniora.

89

Daftar Kontributor

Darmono, Motean, Ketua Adat Kampung Laut


Takrun alias Tugimin, Klaces
Sumbardja, Motean, Ujung Alang
Handoko, Muara Dua
Darto, Muara Dua
Prayitno, Pelindukan
Taryono, Panikel
Gunantoro, Panikel
Dedy, Pelindukan
Karto Admojo, Ujung Gagak
Rumbono, Ujung Gagak

90

Beri Nilai