Anda di halaman 1dari 5

1.1 pendahuluan Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang luar biasa yaitu sekitar 40.

000 jenis tumbuhan, dari jumlah tersebut sekitar 1300 di antaranya digunakan sebagai obat tradisional. Salah satu jenis tumbuhan yang banyak digunakan sebagai obat tradisional adalah kunyit ( Curcuma domestica). Bagian terpenting dalam pemanfaatan kunyit adalah rimpangnya dan daunnya. Menurut Tonnessen 1986, kurkuminoid yang terkandung dalam kunyit sebagai anti oksidan, anti hepatotoksik,anti inflamasi dan anti rematik. Kurkumin juga dilaporkan menimbulkan sifat anti inflamasi pada mencit yang diinduksi karagen. Radang merupakan respon protektif yang ditimbulkan oleh cedera atau kerusakan pada jaringan,yang berfungsi untuk menghancurkan,mengurangi atau mengurangi baik agen pencedera maupun jaringan yang cedera itu. Tanda-tanda oleh pokok peradangan macam akut mencangkup kimia, pembengkakan( lain amina edema),kemerahan, panas, nyeri dan perubahan fungsi. Hal ini di sebabkan pelepasan berbagai mediator antara vasoaktif,protease plasma,metabolit asam arahkhidonat, produk leukosit dan macam lainnya. Beberapa tahun terkhir ini dipusatkan pada metabolit asam

arakhidonat sebagai mediator peradangan. Asam arakhidonat berasal dari banyak fosfolipid membrane sel yang di aktifkan oleh cedera. Asam arakhidonat dapat dimetabolisme dalam 2 jalur yang berbeda, jalur siklooksigenase menghasilkan sejumlah prostaglandin dan tromboksan dan jalur lipooksigenase menghasilkan leukotrin. Mekanisme kurkumin sebagai anti inflamasi adalah dengan menghambat produksi prostaglandin yang dapat diperantarai melalui penghambatan aktivitas enzim siklooksigenase. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk melihat efek anti inflamasi dari ekstrak etanol kunyit pada tikus percobaan. 2.1 metode Pembuatan ekstrak dan perencanaan dosis Ekstrak dibuat dengan metode maserasi rimpang dengan etanol 96%. Maserat di uapkan dengan alat destilasivakum, kemudian dikentalkan dengan rotary evaporator, hingga diperoleh ekstrak kental

dengan bobot tetap. Dosisi ekstrak dipakai 100.250,500 dan 1000 (mg/Kg BB) Penyiapan hewan percobaan Tikus di aklimatisasi dalam ruangan penelitian selama satu minngu dan dipuasakan selama 18 jam ( minum tetap diberikan )sebelum percobaan. Tikus yang digunakan adalah tikus sehat dan berat badan selama aklimatisasi tidak mengalami perubahan 10 % dan secara visual menunjukan perilaku yang normal Evaluasi efek toksik antiinflamasi pada tikus putih Penelitian dilakukan dengan metode evaluasi inhibisi udem pada telapak kaki tikus yang terbentuk akibat induksi karagen. Dalam penelitian digunakan tikus jantan dengan berat badan 250-300 gram. Tikus tersebut di aklimatisasi selama satu minngu pada suhu kamar,diberi makan na berupa pellet dan air minum secukupnya. Tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok yaitu satu kelompak sebagai control dan empat kelompok lagi diberi bahan uji ekstrak dengan dosis ( 100,250,500 dan 1000) mg/Kg BB dan satu kelompok sebagai pembanding. Masing- masing kelompok terdiri dari 5 ekor tikus. Tikus dipuasakan selama 18 jam sebelum percobaan dimulai air tetap diberikan secukupnya. Sebelum hewan dideri bahan uji, volume kaki tikus di ukur menggunakan alat pletiismometer sebagai volume awal (Va). Pada kelompok control diberikan susupensi CMC 0,5%, kelompok pembanding diberikan susupensi asetosal dengan dengan dosisi 100,250,500,dan 1000 (mg/Kg). dosis 200 mg/kg semua perlakuan dalam CMC 0,5 %, kelompok uji masing-masing diberikan ekstrak diberikan melalui oral dengan volume 1 % berat badan. Satu jam kemudian tikus diberikan suntikan karagen 1 % pada telapak kaki tikus , kemudian di ukur selama 6 jam sebagai volume akhir (Vr). Setiap kelompok tikus dihitung persentase inhibisi udem rata-rata untuk setiap dosis .

% inhibisi radang =

(a-b)x 100% a

3.1 diskusi Farmakologi dari obat aspirin Semua AINS bekerja mengikat COX yang berfungsi menkonversi asam arakhidonat menjadi prostaglandin, tromboksan dan protasiklin yang akan merangsang timbulnya tanda-tanda inflamasi . prostaglandin di sentesis dan dikeluarkan ketika dibutuhkan prostaglandin mempunyai waktu paru pendek sehingga efeknya cepat hilang. Oleh karna itu diperlukan enzim untuk mensentesis prostaglandin sama artinya dengan mengontrol prostaglandin itu sendiri. COX ada 2 yaitu COX1 dan COX2 . COX1 terdapat pada jaringan dilambung dan berfungsi melindungi mukosa.COX 2 terdapat di otak, ginjal serta tempat yang mengalami peradangan . kebanyakan AINS menghambat keduanya agar tidak mengiritasi lambung.

OAINS/Aspirin termasuk OAINS yang bekerja spesifik dalam menghambat COX-2, OAINS/Aspirin juga berpengaruh terhadap mediator lain seperti lekotrin, pembentukan superoksida dan pelepasan enzim oleh lisosom. Hambatan terhadap isoenzim COX-1 dan COX-2 oleh OAINS/Aspirin berakibat hambatan produksi prostaglandin. Kondisi ini akan menurunkan ketahanan mukosa lambung Ketahanan mukosa lambung ditentukan oleh faktor defensif yang terdiri dari lapisan pre-epitel, epitel dan sub-epitel. Lapisan preepitel merupakan sawar terdepan dari mukosa lambung dalam mencegah pengaruh isi lumen terhadap lapisan epitel. Peranan mukus dan sekresi bikarbonat merupakan faktor utama dalam pencegahan primer maupun sekunder lesi mukosa akut oleh OAINS/Aspirin. Efek topikal OAINS/Aspirin terjadi akibat dari kerusakan lapisan mukus, sehingga akan terjadi gangguan permeabilitas dinding sel epitel dengan akibat obat akan masuk dan terperangkap di dalam sel. Selanjutnya terjadi pembengkakan disertai proses inflamasi dan akan terjadi kerusakan sel epitel tersebut Efek topikal ini akan diikuti oleh efek sistemik dalam bentuk hambatan produksi prostaglandin melalui jalur COX-1 dan COX-2 Mekanisme hambatan isoenzim cyclooxygenase tergantung dari golongan OAINS. Aspirin merupakan golongan OAINS yang kuat dalam menghambat kedua isoenzim tersebut, akibatnya lesi yang terjadi akan lebih berat . Disamping itu terjadinya dismotilitas lambung akibat OAINS/Aspirin juga akan memperberat lesi mukosa yang terjadi Hambatan selektif

terhadap isoenzim Cox-2, tidak menunjukkan hasil yang baik dalam mencegah terjadinya lesi mukosa akut. Lesi mukosa akibat OAINS/Aspirin dapat terjadi pada usus halus atau kolon. Terjadinya lesi akibat efek sistemik dan sebagai faktor agresif yaitu bakteri dan asam empedu Isoenzim siklooksigenase satu dan dua (COX-1 dan COX-2) merupakan mediator efek samping sistemik dari OAINS/Aspirin. Hambatan terhadap kedua isoenzim ini akan berakibat menurunnya produksi prostaglandin(Pg). Prostaglandin sebagai salah satu komponen utama dalam faktor defensif mempunyai peranan penting dalam terjadinya lesi mukosa lambung akibat OAINS/Aspirin Peran fisiologi Pg terdiri dari proteksi traktus gastrointestinalis, homeostasis renal (PgE2 dan PgI2), homeostasis vaskuler (PgI2 dan tromboksan TXA2), fungsi uterus (PgF2), pengaturan siklus tidur (PgD2) dan suhu tubuh (PgE2). Lokasi COX-1 terdapat pada semua jaringan terutama pada saluran cerna, sedangkan COX-2 didapatkan pada ginjal, testis dan sel epitel trakhea, hanya sebagian kecil pada usus halus Isoenzim COX-1 dan COX-2 mempunyai sifat yang berbeda, disebabkan dikode oleh gen yang berbeda. COX-1 terdapat pada jaringan yang normal, sedangkan COX-2 pada kondisi normal tidak dapat dideteksi dan meningkat dengan nyata pada proses inflamasi Pemeliharaan terhadap integritas mukosa gaster adalah akibat keseimbangan kerja enzim COX-1 dan COX-2. Control positif yang digunakan Pada penelitian ini terlihat bahwa pada semua dosis kelompok zat uji menunjukkan terdapat efek anti inflamasi dimana volume edema yang terbentuk terus meningkat sampai jam ke 6 setelah penyuntikkan larutan karagen 1% sebanyak 0,2 ml pada kelompok control. Sedangkan pada semua kelompok perlakuan zat uji terlihat bahwa volume edema meningkat sampai jam ke 5 dan menurun smapai jam ke 6. Hal ini mungkin disebabkan karena masa kerja zat uji akan berkhir. Pada jam ke 1, ke 3 dan ke 6, volume edema yang terbentuk semakin

kecil dengan penambahan dosis ekstrak etanol kunyit, sedangkan pada jam ke 2 volume edema yang terbentuk pada dosisi 250 mg/KgBB lebih besar dari volume edema yang terbentuk pada dosis 500 mg/KgBB lebih besar dari volume edema yang terbentuk pada dosis 250 mg/KgBB dan hal yang sama terjadi pada jam ke 5. Diduga hal ini merupakan suatu variasi mekanisme respon tubuh. Respon tersebut dapat disebabkan oleh perbedaan genetic dala metabolism obat atau mekanisme imunilogin atau

kurangnya

ketelitian

dalam

pengamatan

volume

edema

pada

alat

plestimometer. Dari persentase inhibisi pembentukan edema terhadap waktu terlihat bahwa pada pemberian dosis ekstrak etanol kunyit secara maksimal terjadi pada jam ke 5 dab ke 6 setelah penyuntikan karagen kecuali pada pemberian ekstrak etanol dosis 1000 mg/KgBB inhibisi pembentukan edema maksimal terjadi pada jam ke 1. Hal ini diduga merupakan efek penggunaan dosisi besar,uji 78,37 %. Hal ini mungkin disebabkan oleh semakin tinngginya dosis ektrak etanol kunyit, jumlah zat aktif yang terkandung di dalalmnya semakin tinggi sehingga kemampuannya dalam menginhibisi edema juga semakin besar. Pada kelompok zat uji 500mg/KgBB efek inhibisi maksimal terjadi pada jam ke 6 yaitu 44 %. Pada kelompok uji 250 mg/KgBB pterjadi inhibisi maksimal pada jam ke 5 sebesar 52,35%. Pada kelompokm zat uji 100mg/KgBB efek inhibisi maksimal pada jam ke 6 sebesar 35,75 %. Secara umum,inhibisi maksimaal pembentukan edema semakin baik dengan peningkatan dosis dari ekstrak etanol kunyit. Dari hasil penelitin ini terlihat bahwa seluruh kelompok dosis ekstrak etanol kunyit memiliki potensi anti inflamasi. Hal ini diduga merupakan efek dari kurkumin sebagai salah satu bahan aktif kunyit yang dapat menghambat pembentukan prostaglandin dan menekan aktifitas enzim siklooksigenase. 4.1 kesimpulan Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : Dari hasil penelitian efek antinflamasi ekstrak etanol kunyit dapat

disimpilkan : 1. Ternyata ekstrak etanol kunyit dengan berbagai dosis memperlihatkan sebagai efek anti inflamasi 2. Pada dosis tinggi 1000mg/KgBB dapat menekan udem sebesar 78,37 % 3. Ekstrak etanol kunyit ini dapat digunakan untuk obat anti inflamasi alternative karna mengandung toksik yang minim, harga terjangkau, dan mudah di dapat.