Anda di halaman 1dari 14

TUGAS

TUGAS FINAL KOMUNIKASI

TUGAS TUGAS FINAL KOMUNIKASI Oleh: MUTMAINNAH DJAMALUDDIN K111 10 024 KESMAS D FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS

Oleh:

MUTMAINNAH DJAMALUDDIN K111 10 024 KESMAS D

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN

MAKASSAR

2011

TUGAS FINAL KOMUNIKASI"

SOAL FINAL TES KELAS D KOMUNIKASI DOSEN: SHANTI RESKIYANI, M.kes

Hasil penelitian tentang kepatuhan pengobatan pada penderita TB paru menunjukkan bahwa faktor yg mendukung antara lain adalah motivasi dan sikap positif dr penderita TB untuk segera sembuh dr penyakitnya. selain itu peran keluarga dlm mendampingi dab memndukung penderita TB dlm berobat jg sngat penting.

Berdasarkan hasil penelitian ini, maka disusunlah program komunikasi yg bertujuan untuk mendukung pasien TB paru pada proses penyembuhannya ..

I. PENDAHULUAN

Penyakit tubercolusis atau yang sering disebut TBC adalah infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tubercolusis. Bakteri ini merupakan bakteri basil yang sangat kuat sehingga memerlukan waktu yang lama untuk mengobatinya, disamping rasa bosan karena harus minum obat dalam waktu yang lama seseorang penderita kadang-kadang juga berhenti minum obat sebelum massa pengobatan belum selesai hal ini dikarenakan penderita belum memahami bahwa obat harus ditelan seluruhnya dalam waktu yang telah ditentukan, serta pengetahuan yang kurang tentang penyakit sehingga akan mempengaruhi kepatuhan untuk berobat secara tuntas.

Tuberculosis merupakan masalah kesehatan, baik dari sisi angka kematian (mortalitas), angka kejadian penyakit (morbiditas), maupun diagnosis dan terapinya. Dengan penduduk lebih dari 200 juta orang, di indonesia menempati urutan ketiga di dunia setelah india dan china dalam hal jumlah penderita TB paru sekitar 583 ribu orang dan diperkirakan sekitar 140 ribu orang meningal dunia tiap tahun akibat TBC.

Berhasil atau tidaknya pengobatan tuberculosis tergantung pada pengetahuan pasien, keadaan sosial ekonomi serta dukungan dari keluarga. Tidak ada upaya dari diri sendiri atau motivasi dari keluarga yang kurang memberikan dukungan untuk berobat secara tuntas akan mempengaruhi kepatuhan pasien untuk mengkonsunsi obat. Apabila ini dibiarkan dampak yang akan muncul jika penderita berhenti minum obat adalah munculnya kuman tubercolusis yang resisten terhadap obat, jika ini terus terjadi dan kuman tersebut terus menyebar pengendalian obat tubercolusis akan

semakin sulit dilaksanakan dan meningkatnya angka kematian terus bertambah akibat penyakit tubercolusis.

Tujuan pengobatan pada penderita tubercolusis bukanlah sekedar memberikan obat saja, akan tetapi pengawasan serta memberikan pengetauan tentang penyakit ini untuk itu hendaknya petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada penderita dan keluarganya agar pengetauan mereka mengetahui resiko-resiko dan meningkatkan kepatuhan untuk berobat secara tuntas. Dalam program DOTS ini diupayakan agar penderita yang telah menerima obat atau resep untuk selanjutnya tetap membeli atau mengambil obat, minum obat secara teratur, kembali control untuk menilai hasil pengobatan.

II.

RUMUSAN MASALAH

1. Program komunikasi apa yang harus diterapkan yg bertujuan untuk mendukung pasien TB paru pada proses penyembuhannya?

2.

Bagaimana analisa khalayak pada penderita tuberculosis paru?

III. TUJUAN Untuk mengetahui

program komunikasi apa yang tepat

pasien TB paru pada proses penyembuhannya.

untuk mendukung

IV.

ANALISA KHALAYAK

  • a. Data umum

    • Agama:

Agama yang dianut sebagian besar beragama islam

  • Tingkat ekonomi:

Penyakit tuberculosis paru BTA positif lebih banyak dialami oleh golongan social ekonomi rendah dibanding social ekonimi cukup atau baik, karena masyarakat social ekonomi rendah pengetahuan dan pemahaman tentang pentingnya kesehatan masih rendah, tidak mampu berobat secara dini, tidak mampu menyediakan makanan bergizi dan lingkungan yang sehat sedangkan golongan sosial ekonomi baik mapu melakukannya. Seorang dengan social ekonomi rendah biasanya takut berobat karena tidak ada biaya atau biaya yang mahal sehingga walau sakit mereka menunda untuk berobat dan hal inilah yang menyebabkan penyakit semakin parah. Seorang dengan social ekonomi rendah, karena penghasilan yang rendah serta kebutuhan hidup yang tinggi, mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi keluarganya. Masyarakat ini juga tidak mampu menciptakan lingkungan rumah yang sehat (kurang ventilasi. Pencahayaan, terlalu padat penghuni). Kondisi ini sangat potensial dalam penyebaran penyakit menular seperti TBC dan biasanya prevalensinya tinggi. Apalagi jika penderita itu adalah seorang penderita BTA positif.

  • Suku :

Suku apa saja dapat terserang penyakit TB paru

  • Gol. Usia:

Karakteristik kasus kematian penderita TB paru hampir tersebar pada semua kelompok umur, paling banyak pada kelompok usia 20-49 tahun yang merupakan usia produktif dan usia angkatan kerja. Di Negara berkembang seperti Indonesia mayoriti individu yang terinfeksi TB adalah golongan usia di bawah 50 tahun. Penderita Tb paru yang paling banyak adalah usia produktif kerja yaitu kelompok usia 20-49 tahun. Pada usia tua paling banyak pada kelompok umur diatas 55 tahun.

  • Jenis kelamin: WHO melaporkan setiap tahunnya penderita TB paru 70% lebih banyak laki-laki dibandingkan perempuan. Penderita tuberculosis paru lebih banyak menyerang pada laki-laki. Hal ini disebabkan karna pada umumnya seorang laki-laki dituntut untuk lebih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup hidup sehari- hari terutama yang berusia produktif, bahkan terkadang masih ada yang harus bekerja meskipun sudah tua hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga bukan tidak mungkin bila seorang laki-laki lebih banyak yang menderita TB paru, dibanding seorang wanita yang pada umumnya terinfeksi tuberculosis paru sesudah bersalin akibat proses persalinan yang kurang bersih atau terinfeksi HIV mengakibatkan kekebalan tubuh menurun. Angka kejadian pada pria selalu cukup tinggi pada semua usia, tetapi angka kejadian pada wanita cenderung menurun tajam sesudah melampaui usia subur.

  • Pekerjaan:

Dari beberapa hasil penelitian, ditemukan bahwa penderita yang meninggal dalam kasus TB paru lebih banyak pada seseorang

yang tidak bekerja. Itu dikarenakan orang tersebut tidak memiliki biaya untuk melakukan pengobatan. Namun, seseorang yang bekerjapun akan mudah terjangkit penyakit tuberculosis paru. Hal ini dikarenakan orang tersebut banyak menghabiskan waktu dan tenaganya untuk bekerja, dimana tenaga banyak terkuras, waktu istirahatnya berkurang sehingga daya tahan tubuh menurun , lingkungan keja yang padat, serta berhubungan dengan banyak orang. Mereka tidak tahu bahwa orang di sekitar mereka ada yang menderita TB paru. Dengan kondisi kerja yang demikian maka memudahkan seseorang lebih mudah dan lebih banyak terinfeksi TB paru.

  • b. Pola komunikasi

    • Media yang dikenali:

Adapun media yang sudah dikenali sudah banyak. Seperti televisi, radio maupun internet. Pada golongan masyarakat social ekonomi rendah media yang dikenali berupa radio, adapula yang sudah mengenal televisi. Pada golongan masyarakat sosial ekonomi cukup sudah menganal radio, televisi maupun internet.

  • Bahasa:

Bahasa yang sering digunakan adalah bahasa Indonesia

  • Toma:

Tokoh masyarakatnya misalnya ketua RT, RW, maupun tenaga kesehatan yang bekerja pada tempat pelayanan kesehatan yang ada pada daerah tersebut.

  • Info yang biasa dicari:

Info yang dicari adalah sebagai berikut:

o

Cara pengobatan tuberculosis paru

o

Dimana dapat mengobati tuberculosis paru

o

Bagaiman mencegah penularan tuberculosis paru

o

Dimana dapat mendapatkan obat bagi penderita tuberculosis paru

o

Gejala penderita Tb pru

  • Kemana mencarinya:

Tempat untuk mencari informasi tersebut adalah di tempat pelayanan kesehatan, seperti puskesmas, rumah sakit, maupun pada tokoh masyarakat yang mengerti akan penyakit tersebut. Selain itu, bsa juga mencarinya melalui internet.

c.

Karakteristik ;

 

i.

Pengetahuan:

 

Keadaan pengetahuan dan tingkat pendidikan yang kurang mempengaruhi terjadinya penyakit TB paru dan kegagalan pada pengobatan TB paru. Semakin tinggi tingkat pengetahuan seseorang semakin besar kemungkinan untuk patuh pada suatu program pengobatan. Makin rendah pengetahuan penderita tentang bahaya penyakit TBC untuk dirinya keluarga dan masyarakat disekitarnya maka besar pulalah bahaya sipenderita sebagai penularan baik dirumah maupun ditempat kerjanya. Untuk keluarga dan orang-orang disekitarnya, sebaiknya pengetahuan yang baik tentang penyakit ini akan menolong masyarakat dalam menghindarinya

 

ii.

Sikap

Kepatuhan penderita TB Paru untuk minum obat secara teratur adalah merupakan tindakan yang nyata dalam bentuk kegiatan yang dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri si penderita (faktor internal) maupun dari luar diri si penderita (faktor eksternal). Faktor internal yaitu umur, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan dan pengetahuan serta factor motivasi dari dalam diri penderita TB Paru seperti rasa tanggung jawab. Adapun faktor eksternalnya yaitu motivasi dari luar diri penderita TB Paru yang meliputi dukungan keluarga, pengawasan PMO dan dorongan petugas.

iii. Perilaku berisiko Adapun perilaku berisiko yang harus dihindari bagi kepatuhan pengobatan TB paru adalah sebagai berikut:

  • 1. Tidak menyukai kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau diperintah.

  • 2. Mempunyai kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah.

  • 3. Hanya membutuhkan motivasi fisiologis dan keamanan saja.

  • 4. Harus diawasi secara ketat dan sering dipaksa untuk mencapai tujuan.

V. KEGIATAN

Bentuk komunikasi yang dapat diterapkan yaitu komunikasi massa. Dimana komunikasi masssa, yaitu komunikasi dengan sasarannya kelompok orang dalam jumlah yang besar, umumnya tidak dikenal.

Pada tingkatan ini kegiatan komunikasi ditujukan kepada masyarakat luas. Sehingga dipilih komunikasi massa. Bentuk kegiatan komunikasinya dapat dilakukan

melalui dua cara : Komunikasi massa, yaitu komunikasi melalui media massa seperti radio, surat kabar, TV, dsbnya. Langsung atau tanpa melalui media massa, misalnya ceramah, atau pidato di lapangan terbuka.

Komunikasi massa yang baik harus:

Pesan disusun dengan jelas, tidak rumit dan tidak bertele-tele, sehingga informasi yang ditangkap oleh penderita TB maupun keluarganya dapat dengan mudah dimengerti. Bahasa yang mudah dimengerti/dipahami Bentuk gambar yang baik sehingga menarik perhatian jika menggunakan media visual. Membentuk kelompok khusus, misalnya kelompok pendengar (radio), agar penyampaian informasi dapat diterima dengan baik.

Sasaran dari komunikasi ini adalah penderita tuberculosis paru yang merupakan masyarakat dari berbagai lapisan, sehingga komunikasi yang tepat bagi penderita tuberculosis paru terutama bagi mendukung dari pengobatannya adalah komunikasi massa.

Selain itu, sasaran yang paling penting adalah keluarga dari penderita TB paru tersebut. Karena untuk mendukung pengobatan dari sipenderita, maka harus ada dukungan dari keluarga dalam hal pengobatannya. Dukungan sosial dalam bentuk dukungan emosional dari anggota keluarga yang lain, teman dan uang merupakan faktor-faktor penting dalam kepatuhan. Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan keyakinan dan skor kesehatan individu serta dapat juga menentukan tentang program pengobatan yang dapat mereka terima.

Dari media televisi dapat dibuat iklan yang menarik perhatian masyarakat luas mengenai pengobatan TB paru. Ataupun dibuat poster serta brosur maupun pamflet

yang menjelaskan mengenai kepatuhan pengobatan penderita TB paru. Selain itu, untuk menjangkau masyarakat sosial ekonomi rendah, dapat disiarkan di radio segala yang pelu dipahami mengenai kepatuhan pengobatan penderita TB paru.

Adapun bagi penyedia pelayanan kesehatan dapat melakukan penyuluhan adar masyarakat lebih mengerti mengenai pentingnya kepatuhan dalam pengobatan penyakit TB paru.

Pendekatan praktis yang dapat dilakukan oleh penyedia pelayanan kesehatan untuk meningkatkan kepatuhan pasien ditemukan dapat dilakukan dengan cara:

  • a. Membuat instruksi yang jelas dan mudah diinterpretasikan.

  • b. Memberikan informasi tentang pengobatan sebelum menjelaskan hal-hal yang harus diingat.

  • c. Jika seseorang diberi suatu daftar tertulis tentang hal-hal yang harus diingat, maka akan ada “efek keunggulan”, yaitu mereka berusaha mengingat hal-hal yang pertama kali ditulis.

  • d. Instruksi-instruksi harus ditulis dengan bahasa umum (non medis) dan hal-hal penting perlu ditekankan.

VI.

PENUTUP Kelebihan media komunikasi massa adalah :

  • 1. Jangkauan sangat luas.

  • 2. Intensitas bervariasi, tergantung isi materi menarik.

  • 3. Untuk media radio, biasanya media ini bisa dinikmati sambil melakukan aktifitas yang lainnya. Jadi pendengar tidak harus memantau di depan radio, tetapi bisa menemani aktifitas pendengarnya di mana pun. Biaya produksi ataupun biaya

yang diperlukan khalayak untuk mendengarkan radio relatif murah, bahkan bisa

  • di dengar tanpa menggunakan listrik tetapi menggunakan baterai. Pendengar yang

buta huruf pun bisa memahami apa yang disampaikan oleh siaran radio. Jadi khalayak yang tidak berpendidikan pun bisa menikmati media ini.

  • 4. Untuk media cetak, karena media ini cetak ini hasilnya adalah berupa tulisan atau teks maka media ini bisa disimpan dan bisa di baca berulang- ulang. Di saat pembaca ingin lebih memahami isi berita, maka pembaca bisa mengulang ulang membacanya. Biasanya informasi di dalamnya lebih jelas dan mampu menjelaskan hal- hal yang bersifat kompleks ataupun investigatif. Terkadang disertai gambar atau foto yang lebih memperjelas isi berita yang ditampilkan

  • 5. Untuk media televisi, tidak hanya disajikan dalam bentuk suara , tapi televisi juga didukung oleh video yang menarik perhatian penonton. Jadi di saat pembaca berita (newscaster) membacakan sebuah berita , penonton bisa lebih jelas karena

    • di dukung dengan adanya video yang ditayangkan.

Sedangakan untuk kelemahan dari komunikasi massa adalah:

  • 1. Karena jangkauannya sangat luas, sehingga khalayak terpapar pada pesan

  • 2. Informasi yang disampaikan hanya sekilas dan tidak bisa diulang, jadi pendengar tidak bisa mengerti secara detail tentang berita yang disampaikan, karena memang bahasanya sederhana dan tidak didukung oleh visualisasi. Pendengar hanya bisa membayangkan saja. Ini terjadi pada media radio.

  • 3. Untuk biaya produksi media cetak tergolong mahal, karena media cetak harus dicetak dan didistribusikan sebelum dapat dinikmati masyarakat. Biaya percetakan dan pendistribusian itulah yang tergolong mahal.

  • 4. Pada media internet, untuk mendapatkan berita harus selalu terhubung dengan internet, jadi hanya orang yang mampu untuk browsing yang bisa menikmati media online.atau dari kalangan tertentu, serta biaya relative mahal, karena harus

memiliki PC atau laptop dan paling tidak wifi, atau hotspot,atau speedy. Selain itu belum meratanya jaringan internet. Apalagi di pedesaan yang jauh dari jaringan internet. Karena biasanya hanya orang perkotaan yang bisa meng akses internet. 5. Interaktif tidak terjadi komunikasi yang baik dan interaktif antara komunikator dengan komunikan.

VII. DAFTAR PUSTAKA

http://www.latifa-assauqi.co.cc/2010/03/kelebihan-dan-kelemahan-media-audio.html

http://cvkaryabersama.blogspot.com/2010/05/kelebihan-dan-kekurangan-media.html

Wilda, Yetti. 2008. Hubungan Sosial Ekonomi dengan Angka Kejadian TB Paru BTA Positif di Puskesmas Sedati (jurnal). Poltekes SurabayaProgram Studi Keperawatan Sidoarjo: Surabaya.

Yuanasari, Ratih. 2009. Evaluasi Penggunaan Obat Anti Tuberkulosis Dan Kepatuhan Pada Pasien Dewasa dengan Diagnosa Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Mantingan Ngawi Periode Februari-April 2009 (Skripsi). Fakultas Farmasi Universitas muhammadiyah Surakarta: Surakarta.