Anda di halaman 1dari 3

PARLEMEN DAN KIAMAT DEMOKRASI Wajah demokrasi Indonesia di masa depan sepertinya akan mengalami masa suram.

Ini disebabkan kinerja anggota legislatif sebagai produk pemilu terjebak penyimpangan yang cukup fundamental. Berbagai kasus korupsi, tindakan asusila dan buruknya kinerja legislasi menggerus kepercayaan kepada wakil rakyat. Tidak heran, mereka dinilai tak mampu memperbaiki kondisi Indonesia karena perilaku buruk politiknya yang terus menuai kecaman di mata publik. Penilaian buruk itu tak dapat dipandang remeh mengingat sebelumnya anggota parlemen 2 !"2 #$ sempat digadang mampu bekerja lebih baik. Berdasarkan data Pusat %tudi &ukum dan 'ebijakan Indonesia, rata"rata anggota (P) 2 !"2 #$ berusia $* tahun, lebih muda dari periode sebelumnya yang + tahun. %ebanyak !# persen adalah sarjana dan separuhnya sudah menyelesaikan pendidikan pascasarjana ,Berharap pada +- , .atatan 'inerja (P) 2 !"2 # / 2 ##0. Tapi apa daya kematangan umur, kompetensi dan pengalaman politik tidak menjamin terbentuknya parlemen yang aspiratif. (ata Institut )iset Indonesia ,I1%I%0 menyebutkan, kepercayaan masyarakat kepada para wakilnya di %enayan terus menurun. 2enurut sur3ei, responden yang menjawab citra (P) tidak baik 4*.+ persen, semakin tidak baik 2-.# persen, baik 2!,2 persen, semakin baik #.! persen, dan tidak menjawab $.4 persen. (alam sur3ei I1%I% ditegaskan citra dan kinerja (P) dinilai buruk akibat beragam masalah. Beberapa masalah itu yakni buruknya kapasitas anggota (P) ,++,4 persen0, rendahnya moralitas,5!,+ persen0, miskinnya komitmen memberantas korupsi ,*#,$ persen0 dan buruknya tingkat kehadiran anggota (P) ,5*,4 persen0. 6ajak pendapat ini dilakukan pada #5 7gustus " 2 %eptember di 4$ pro3insi dengan menggunakan metode rambang berjenjang jumlah responden #. 5 orang. 2argin of error tiga persen. Pengumpulan data sendiri dilakukan melalui wawancara tatap muka. )ealitas ini menegaskan kepada kita bagaimana potret politisi %enayan yang koruptif, dan manipulatif dalam merespons kebutuhan rakyat. Para wakil rakyat gagal mempertahankan integritasnya sehingga bermunculan pelanggaran terhadap nilai moral dan etika. (ampaknya bisa ditebak, banyak anggota (P) meja pesakitan dan pengadilan rakyat yang mengutuk segala tindak tanduk buruk mereka dalam menjalankan amanahnya. %ecara lebih jauh, menjaga diri dari berbagai persoalan itu sangat penting agar demokrasi yang sedang tumbuh berkembang di Indonesia tidak menjadi rusak. 1amun, buruknya kinerja parlemen harus secepatnya dicarikan solusi agar tingkat kepercayaan rakyat tidak semakin parah. (atangnya tahun politik 2 #4 dapat dijadikan momentum perubahan untuk bekerja produktif dan profesional. (alam konteks itu, parpol sebagai produksi politisi (P) diharapkan bekerja lebih serius dan selektif dalam menjaring caleg agar serius memperjuangkan kepentingan rakyat. 7palagi saat ini sebanyak sekitar ! ,+8 bakal calon anggota legislatif ,bacaleg0 merupakan orang"orang yang sudah menghuni (P) sejak

periode 2 !"2 #$ sehingga dianggap sudah memiliki kematangan berpolitik dalam kesehariannya di parlemen. Tapi dalam politik Indonesia, kematangan berpolitik bukan sebuah 3ariabel tunggal dalam menentukan integritas kader parpol di parlemen. 9akta menyebutkan anggota parlemen hasil Pemilu 2 !, meminjam istilah 7nas :rbaningrum, menghasilkan parlemen yang buta"tuli ,tidak sensitif dan aspiratif0 dan bisu ,tidak artikulatif0. 7kibatnya masyarakat mengalami kekecewaan mendalam dengan maraknya hipokrisi dan pengkhianatan sehingga tingkat kepercayaan kepada politisi semakin rendah. &emat penulis, persoalan buruknya kualitas parlemen disebabkan tiga persoalan mendasar. Pertama, buruknya kompetensi caleg hasil seleksi partai politik. (ewasa ini, kita melihat tuntutan perbaikan kompetensi caleg sudah menjadi kebutuhan mendesak mengingat kinerja legislasi Indonesia sangat buruk. Indikatornya, dari total 5 ):: Program ;egislasi 1asional ,Prolegnas0 2 # , hanya #* :: yang berhasil disahkan, dimana sebanyak * :: berasal dari daftar prioritas prolegnas, sisanya adalah :: kumulatif terbuka seperti :: 7PB1 dan :: ratifikasi dengan negara lain. %edangkan tahun 2 ## dari target 5 )::, (P) hanya sukses mengesahkan * ::. 'ondisi ini sangat memprihatinkan sebab menandakan kiamat parlemen sudah mendekat sehingga fungsi legislatif sebagai pembentuk :: layak dipertanyakan. 'edua, masih dominannya wajah lama di parlemen maju sebagai caleg yang menandakan masih menguatnya oligarki dalam tubuh parpol. Tidak dapat dipungkiri, selama ini rekrutmen caleg masih mengandalkan popularitas dan politik uang sehingga membuka peluang diskriminasi politik. Pasalnya jika mengacu kepada kedua 3ariabel itu, penikmat utamanya adalah anggota parlemen 2 !"2 #$. Popularitas caleg lama sudah terbentuk selama lima tahun sebelumnya, sedangkan akses finansial berjalan lebih mudah dengan mengandalkan berbagai proyek legislatif dan eksekutif. 'etiga, rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan politisi yang jujur dan memperjuangkan kepentingan rakyat. (iakui atau tidak, rasionalitas berpolitik masyarakat Indonesia masih terjebak simbol abstrak, romantisme masa lalu dan tokoh kharismatik. 9iguritas masih mengental kuat dalam benak sebagian masyarakat Indonesia sebagai ekses pendidikan politik di <aman orde baru. :ntuk itu, diperlukan pendampingan kepada masyarakat agar tidak terus terjebak paradigma politik konser3atif tersebut. 2emperhatikan ketiga 3ariabel itu, sudah waktunya parpol merekonstruksi ulang kualitas dan kompetensi calegnya. 9aktor kompetensi yakni pendidikan dan kepakaran seorang caleg dalam merumuskan solusi atas persoalan bangsa Indonesia harus diprioritaskan. Bentuk keseriusan parpol dapat melalui pembekalan politik secara rutin, pelatihan penyusunan undang" undang dan Tes Potensi 7kademik sebagai ajang meningkatkan pemahaman sehingga terbentuk caleg yang berkualitas.

%elain itu, diperlukan kesadaran komperehensif dari partai politik, penyelenggara pemilu dan kelompok kritis ,;%2, media massa dan mahasiswa"pen0 untuk memberikan pendidikan politik sehingga terbentuk masyarakat rasional, cerdas dan berpengetahuan. Penyelenggara pemilu diharapkan terus mengawal komitmen parpol untuk membuka rekam jejak calegnya dan mempromosikan secara massif kepada masyarakat luas. Terbukanya rekam jejak diharapkan mendorong masyarakat lebih cermat dan teliti dalam memilih caleg sehingga tidak memilih kucing dalam karung. 7palagi perlu diperhatikan, pasca reformasi rakyat memberikan kesempatan besar kepada parlemen untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap kinerja pemerintah. %ebuah fungsi strategis itu seharusnya dimanfaatkan sehingga keinginan menciptakan keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dapat tercapai. Wajah parlemen 2 #$"2 #! harus mampu melahirkan politisi negarawan yang berfikir besar tentang masa depan bangsanya, bukan kepentingan sempit untuk pemilu mendatang dengan menghalalkan berbagai cara. )akyat merindukan politisi negarawan yang memiliki integritas, kapasitas dan kapabilitas sehingga optimisme, keyakinan dan harapan kepada perbaikan Indonesia di masa mendatang dapat diwujudkan dengan baik. Inggar %aputra 2ahasiswa 2agister 'etahanan 1asional :ni3ersitas Indonesia