Anda di halaman 1dari 18

SPECIATION ANALYSIS OF MERCURY IN SEAWATER FROM THE LAGOON OF VENICE BY ON LINE PRE-CONCENTRATION HPLCICP-MS

MAKALAH KROMATOGRAFI

Oleh Aniesa Fithria Tia Lestari Umi Fadilah Dewi Rara Wiwik Sofia (091810301029) (101810301012) (101810301023) (101810301034) (101810301046)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2013

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Logam-logam berat seperti Cu, Cd, Pb, Zn, Hg, As, Cr, Mn, Ni, As, cr, Co, Sb, Ge dan Fe dalam merupakan zat pencemar kimiawi yang termasuk dalam kelompok Bahan Beracun Berbahaya (B3) dan mendapat prioritas utama dalam usaha pencegahan dan pengendalian pencemaran air. Limbah logam berat ini secara alami terkandung dalam tanah maupun perairan dalam konsentrasi yang sangat rendah. Untuk peningkatan konsentrasi suatu sampel sebelum dianalisis (pemeketan) dilakukan prekonsentrasi (pemekatan). Prekonsentrasi dilakukan bila konsentrasi analit dalam suatu sampel terdapat dalam konsentrasi yang sangat rendah sehinggakonsentrasi sampel masuk dalam range pembacaan alat. Analisis spesiasi merupakan kegiatan analitis mengidentifikasi dan / atau pengukuran jumlah satu atau lebih spesies kimia individu dalam sampel. Proses ini merupakan proses pemisahan suatu ion dari ion unsur yang sama tetapi mempunyai bilangan oksidasi yang berbeda (suatu unsur yang mempunyai spesies ion lebih dari satu). Merkuri (Hg) merupakan unsur logam yang sangat berbahayabagi semua makhluk hidup. Keracunan merkuri pada tingkat tertentu dapat meyebabkan terjadinya kerusakan organ tubuh seperti hati dan ginjal. Merkuri (Hg) dan senyawanya, khususnya senyawa merkuri organik, memiliki toksisitas biologis yang kuat.Spesies-spesies merkuri yang umum dalam senyawa berada pada bilangan oksidasi Hg (I) dan Hg (II) yang bersifat toksik. Ada beberapa metode spesiasi ion merkuri untuk memisahkan kedua spesies krom dari suatu larutan sampel seperti ekstraksi, kopresipitasi, elektrokimia, kromatografi. Berbagai metode telah dikembangkan untuk keperluan analisis tersebut. Gas Chromatography (GC) atau High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) merupakan metode yang paling umum digunakan untuk analisis spesiasi logam merkuri yang dipasangkan dengan detektor ICP-MS (Inductively Coupled Plasma). Metode GC-ICP-MS pernah dilakukan untuk analisis logam ini denganhasil limit

deteksi yang ditunjukkan sebesar 0,027 pg/g untuk metil merkuri (CH3Hg) dan 0,27 pg/g untuk merkuri anorganik (Hg2+) menggunakan prakonsentrasi SPME (Solid Phase Microextraction). Namun kelemahan dari GC adalah spesies harus stabil dan merupakan zat volatil dan memerlukan langkah derivatisasi dengan reagen Grignard yang terkadang memakan waktu relatif lama dan mengakibatkan transformasi spesies. Metode HPLC-ICP-MS merupakan metode yang sederhana, selektif dan sensitif untuk penentuan logam merkuri (Hg) dalam suatu sampel. Metode ini tidak memerlukan langkah derivatisasi dimana spesies tidak perlu stabil sebelum diinjeksikan.Prekonsentrasi terjadi dalam C-18 mikrokolom untuk analisis merkuri anorganik dan metil dalam fase terlarut dariperairan. Limit deteksi merkuri anorganik sebesar 0,07 ng/L dan metil merkuri dalam air laut disaring dari Laguna Venesia sebesar 0,02 ng/L. Metode ini menunjukkan akurasi dan reproduktivitas yang baik. Sehingga metode ini cocok untuk penentuan logam merkuri dalam suatu sampel air.

1.2 Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah dari makalah ini antara lain : 1. Bagaimana penentuan logam merkuri dalam sampel air laut dari laguna Venesia menggunakan metode HPLC-ICP-MS? 2. Bagaimana teknik prekonsentrasi pada penentuan logam merkuri dalam sampel air dari laguna Venesia menggunakan metode HPLC-ICP-MS?

1.3 Tujuan Adapun tujuan dari makalah ini antara lain : 1. Menentukan logam merkuri dalamsampel air laut dari laguna Venesia menggunakan metode HPLC-ICP-MS 2. Mengetahui teknik prekonsentrasi pada penentuan logam merkuri dalam sampel air dari laguna Venesia menggunakan metode HPLC-ICP-MS

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Logam Merkuri Merkuri (air raksa, Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di alam dan tersebar dalam batu - batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Umumnya kadar dalam tanah, air dan udara relatif rendah. Berbagai jenis aktivitas manusia dapat meningkatkan kadar ini, misalnya aktivitas penambangan yang dapat menghasilkan merkuri sebanyak 10.000 ton / tahun. Logam merkuri yang dihasilkan digunakan dalam sintesa senyawa senyawa anorganik dan organik yang mengandung merkuri. Dalam kehidupan sehari-hari, merkuri berada dalam tiga bentuk dasar, yaitu: 1. Merkuri elemental (Hg): terdapat dalam gelas termometer, tensimeter air raksa, amalgam gigi, alat elektrik, batu batere dan cat. Juga digunakan sebagai katalisator dalam produksi soda kaustik dan desinfektan serta untuk produksi klorin dari sodium klorida. 2. Merkuri inorganik: dalam bentuk Hg2+(Mercuric) dan Hg2+(Mercurous) Misalnya: - Merkuri klorida (HgCl2) termasuk bentuk Hg inorganik yang sangat toksik, kaustik dan digunakan sebagai desinfektan - Mercurous chloride (HgCl) yang digunakan untuk teething powder dan laksansia (calomel) - Mercurous fulminate yang bersifat mudah terbakar. 3. Merkuri organik, terdapat dalam beberapa bentuk : Metil merkuri dan etil merkuri yang keduanya termasuk bentuk alkil rantai pendek dijumpai sebagai kontaminan logam di lingkungan. Misalnya memakan ikan yang tercemar zat tersebut dapat menyebabkan gangguan neurologis dan kongenital. Merkuri organik merupakan bentuk senyawa organologam dimana logam merkuri berikatan langsung dengan unsur karbon, contohnya metal merkuri.

Banyak jenis organomerkuri, tetapi yang paling populer adalah metilmerkuri (dikenal dengan monometilmercuri) CH3HgCOOH. Pada waktu yang lampau, senyawa organomerkuri yang dikenal adalah fenilmerkuri yang digunakan dalam beberapa produk komersial. Organomerkuri lainnya adalah dimetilmerkuri (CH3 Hg CH3). Senyawa merkuri organik adalah merupakan senyawa merkuri yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia karena beberapa alasan, diantaranya : Dapat larut dalam lapisan lemak pada kulit yang menyelimuti korda saraf. Metil merkuri dapat diserap secara langsung melalui pernapasan dengan kadar penyerapan 80%. Uapnya dapat menembus membran paru-paru dan apabila terserap ke tubuh, ia akan terikat dengan protein sulfuhidril seperti sistein dan glutamin. Sekitar 90% dari metil merkuri diserap ke dalam sel darah merah dan metil merkuri juga dijumpai pada jala rambut. Menurut Irvingetal, jumlah merkuri yang terserap ke dalam akar rambut adalah berbanding lurus dengan konsentrasi metil merkuri di dalam darah. Ancaman merkuri terutama dari bentuk organiknya yang sangat beracun yaitu metil merkuri. Zat ini akan bertahan dalam tubuh 10 kali lebih lama dibanding merkuri dalam bentuk logam seperti yang terdapat dalam baterai dan termometer. Logam berat merkuri juga dapat masuk melalui jalur pernapasan, karena sifat merkuri yang mudah menguap pada temepratur kamar. Bagi tubuh manusia, ancaman merkuri dapat meyerang sistem saraf pusat, ginjal, hati, jaringan otak, serta dapat membahayakan kandungan yang berakibat bayi cacat saat lahir. Senyawa merkuri anorganik terjadi ketika merkuri dikombinasikan dengan elemen lain seperti klorin (Cl), sulfur atau oksigen. Senyawa-senyawa ini biasa disebut garam-garam merkuri. Senyawa merkuri anorganik berbentuk bubuk putih atau kristal, kecuali merkuri sulfida (HgS) yang berwarna merah dan akan menjadi hitam setelah terkena sinar matahari. Senyawa Hg anorganik digunakan sebagai fungisida. Merkuri chlorida (HgCl2) adalah sebagai antiseptik atau disinfektan. Merkuri klorida pernah digunakan dalam dunia kedokteran untuk obat penjahar

(urus-urus), obat cacing dan bahan penambal gigi. Merkuri oksida digunakan untuk zat warna pada cat, sedangkan merkuri sulfida digunakan pula sebagai pewarna merah pada tattoo. Merkuri klorida juga digunakan sebagai katalis, industri baterai kering, dan fungisida dalam pengawetan kayu. Merkuri asetat digunakan untuk sintesa senyawa organomerkuri, sebagai katalis dalam reaksi-reaksi polimerisasi organik dan sebagai reagen dalam kimia analisa. Spesies ion merkuri merupakan hasil dua tahapan oksidasi dari logam merkuri. Ion merkuri dapat membentuk garam tersebut sangat mudah larut dalam air dan sangat toksik, sebaliknya garam merkuro yang terbentuk dari ion merkuro tidak larut dalam air dan kurang toksik.

2.2 Teknik Spesiasi Spesiasi merupakan pemisahan suatu ion dari ion unsur yang sama tetapi mempunyai bilangan oksidasi yang berbeda (suatu unsur yang mempunyai spesies ion lebih dari satu). Krom merupakan salah satu unsur kimia dengan lambang Cr yang salah satu spesiesnya bersifat toksik. Spesies-spesies krom yang umum dalam senyawa berada pada bilangan oksidasi Cr (III) dan Cr (VI) yang bersifat toksik. Ada beberapa metode spesiasi ion krom untuk memisahkan kedua spesies krom dari suatu larutan sampel seperti ekstraksi, kopresipitasi, elektrokimia, kromatografi (Anonim, 2013).

2.3 HPLC-ICP-MS Pemisahan dengan HPLC dapat dilakukan dengan fase normal (jika fase diamnya lebih polar dibanding dengan fase geraknya) atau fase terbalik (jika fase diamnya kurang non polar dibanding dengan fase geraknya). Berdasarkan pada kedua pemisahan ini, sering kali HPLC dikelompokkan menjadi HPLC fase normal dan HPLC fase terbalik. Selain klasifikasi di atas, HPLC juga dapat dikelompokkan berdasarkan pada sifat fase diam dan atau berdasarkan pada mekanisme sorpsi solut, dengan jenis-jenis HPLC sebagai berikut: 1. Kromatografi Adsorbsi 2. Kromatografi Fase Terikat

3. Kromatografi Penukar Ion 4. Kromatografi Pasangan Ion 5. Kromatografi Eksklusi Ukuran 6. Kromatografi Afinitas

Komponen instrumentasi HPLC sebagai berikut : 1. Solvent a. Isocratic Elution b. Gradient Elution 2. Injection System

3. Pump

4. Detektor 5. Kolom Kehadiran gas di dalam kolom dapat mengganggu kerja kolom dalam berinteraksi dengan fase diam. Derivatisasi pada HPLC melibatkan suatu reaksi kimia antara suatu analit dengan suatu reagen untuk mengubah sifat fisika-kimia suatu analit. Tujuan utama penggunaan derivatisasi pada HPLC adalah untuk : 1. Meningkatkan deteksi 2. Merubah struktur molekul atau polaritas analit sehingga akan menghasilkan puncak kromatografi yang lebih baik 3. Merubah matriks sehingga diperoleh pemisahan yang lebih baik 4. Menstabilkan analit yang sensitif.
Detektor yang paling banyak digunakan dalam HPLC adalah detektor UV-Vis sehingga banyak metode yang dikembangkan untuk memasang atau menambahkan gugus kromofor yang akan menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Di samping itu, juga dikembangkan suatu metode untuk menghasilkan fluorofor (senyawa yang mamapu berfluoresensi) sehingga dapat dideteksi dengan fluorometri.Suatu reaksi derivatisasi harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut, yakni: produk yang dihasilkan harus mampu menyerap baik sinar ultraviolet atau sinar tampak atau dapat membentuk senyawa berfluoresen sehingga dapat dideteksi dengan spektrofluorometri; proses derivatisasi harus cepat dan menghasilkan produk yang sebesar mungkin (100 %); produk hasil derivatisasi harus stabil selama proses derivatisasi dan deteksi; serta sisa pereaksi untuk derivatisasi

harus tidakmenganggu pemisahan kromatografi. Berbagai macam bahan penderivat

telah tersedia antara lain : Gugus fungsional Reagen untuk dapat dideteksi dengan UV-Vis p-nitrobenzil-N,Ndiisopropilisourea (PNBDI); 3,5dinitrobenzil-N,Ndiisopropilisourea (DNBDI); pbromofenasil bromida (PBPB) 3,5-dinitrobenzil klorida (DNBC); 4-dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsyl-Cl); 1-naftilisosianat (NIC-1). Aldehid; keton p-nitrobenziloksiamin hidroklorida (PNBA); 3,5-dinitrobenziloksiamin hidroklorida (DNBA); Amin primer Fluoresamin o-ftalaldehid (OPA) Amin primer (1o) dan sekunder (2o) 3,5-dinitrobenzil klorida (DNBC); N-suksinimidil-p-nitrofenilasetat (SNPA); N-suksinimidil-3,5dinitrofenilasetat (SDNPA); 4dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsyl-Cl); 1-naftilisosianat (NIC-1). Asam-asam amino (peptida) 4-dimetilaminiazobenzen-4-sulfinil (Dabsil-Cl) Fluoresamin o-ftalaldehid (OPA) 7-kloro-4-nitrobenzo2-oksa-1,3-diazol 7-kloro-4-nitrobenzo2-oksa-1,3-diazol (NBD-Cl); 7-fluoro-4nitrobenzo-2-oksa-1,3diazol (NBD-F); Dansilklorida Dansil hidrazin Reagen untuk dapat dideteksi dengan Fluoresen Asam-asam kaboksilat; asam-asam lemak;asamasam fosfat Alkohol 4-bromometil-7asetoksikumarin; 4-bromometil-7metoksikumarin;

(NBD-Cl); 7-fluoro-4nitrobenzo-2-oksa-1,3diazol (NBD-F); Derivatisasi ini dapat dilakukan sebelum analit memasuki kolom (pre-column derivatization) atau setelah analit keluar dari kolom (post-column derivatization). ICP-MS merupakan detektor yang memiliki sensitivitas tinggi dan limit deteksi dalam range pg ng. Digunakan dalam sebuah teknik analisis menggunakan plasma argon sebagai sumber ionisasi dalam spektroskopi massa. Dalam instrumentasi ICP-MS sampel dibentuk dalam sebuah nebulizer. Gas argon diperkenalkan melalui serangkaian konsentris kuarsa tabung, yang dikenal sebagai tungku ICP. Tungku tersebut terletak di pusat kumparan. Sebuah kumparan tesla akan mengionisasi gas argon. Suhu tinggi gas sampel aerosol seketika akan

didekomposisikan dalam plasma untuk membentuk analit atom.

BAB 3. METODOLOGI

3.1 Alat dan Bahan Standar, reagen, dan material yang digunakan adalah sebagai berikut : HgCl2 [Mercury (II) chloride] Merupakan larutan standar stok 1000 mg/L dilarutkan dalam 1% asam klorida Ch3HgCl [Methylmercury (II) chloride] Dilarutkan dalam 10 mL metanol dan di botol lain dilarutkan dalam 1% asam klorida. Kedua larutan tersebut disimpan dan didinginkan. 2-mercaptorthanol, L-sistein. Sampel disimpan dan dilarutkan dalam asam

3.2 Instrumentasi HPLC pump Injection valve dengan 100 L mikrokolom dengan kolom C-18 silika (sampel loop). Spesies merkuri dipisahkan secara isokratik (mobile phase tetap, tidak berubah, tunggal) dengan laju alir 0,2 mL per menit dengan mobile phase 0,5 % sistein (m/v) dan 0,05 % 2-merchaptoethanol (v/v) terlarut dalam air murni. Massa spesies dimonitor dengan MS pada m/z 202

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Optimasi Pada Pemisahan Secara Kromatografi Detektor (ICP-MS) dalam penggunaanya menghindari penggunaan pelarut organik untuk menghasilkan sensitivitas maksimum. Digunakan L-sistein sebagai ion pairing agent. Optimasi dilakukan dengan penambahan mobile phase 2mercaptoethanol yang menunjukkan perubahan puncak (peak) pada kromatogram. Kromatogram dari campuran merkuri anorganik dan metil merkuri (CH3Hg) yang terbentuk memiliki perbedaan retention timeseperti terlihat pada gambar di bawah ini :
The separation of a 1 g/L (100 L injection) mixed inorganic mercury and CH3Hg standard on a 100x2,1 mm Alltima HP C-18 m HPLC column at a flow rate of 0,2 mL/min with a mobile phase of 0,5% (v/v) L-cysteine

The separation of a 1 g/L (100 L injection) mixed inorganic mercury and CH3Hg standard on a 100x2,1 mm Alltima HP C-18 m HPLC column at a flow rate of 0,2 mL/min with a mobile phase of 0,5% (v/v) L-cysteine and 0,05 % (v/v) 2-mercaptoethanol

Berdasarkan kromatogram di atas diperoleh bahwa pada larutan standar yang sama, kolom yang sama, laju alir sama dan hanya berbeda pada penambahan reagen 2mercaptoethanol 0,05 % (v/v) (lihat gambar 2) memiliki pengaruh yang kecil (perubahan) pada daerah puncak merkuri anorganik dan menyebabkan peningkatan ketinggian puncak puncak CH3Hg, serta penajaman kedua puncak analitis. Terlihat pada gambar 2 berikut :

Hal ini jelas menunjukkan bahwa penambahan 2-mercaptoethanol akan meningkatkan waktu retensi untuk kedua analit.

4.2 Optimasi Pada Teknik Prakonsentrasi Meningkatkan sensitivitas pendeteksian spesies merkuri digunakan teknik prakonsentrasi. Penggunaan kolom C-18 dimodifikasi dengan 2-mercaptoethanol untuk prakonsentrasi spesies merkuri sehingga seluruh volume prakonsentrasi akan disuntikkan ke dalam kolom. Hal ini dicapai dengan mengganti 100 L sampel loop dengan prakonsentrasi di mikrokolom. Mikro kolom dengan volume 100 L,diameter 4,6 mm dan panjang 5,0 mm dikemas dengan kolom C-18 fase diam. Sampel diinjeksikan secara manual ke kolom menggunakan jarum suntik HPLC melalui port injeksi sampel dengan valve pada posisi load. Elusi sampel dicapai dengan switching valve untuk injeksi dan fase gerak HPLC mengelusi analit dari mikrokolom dan mengangkut mereka ke kolom analitis dan di standar yang sama

setelah itu dilakukan penginjeksian 1 mL aliquot ke dalam kolom prakonsentrasi sebelum pemisahan secara kromatografi.

Gambar. 3 di atas menunjukkan kromatogram dari injeksi 100 ng L-1 per spesies (merkuri) dalam campuran standar merkuri anorganik dan CH3Hg dalam 1% (v/v) HCl, dan standar yang sama setelah injeksi 1 mL aliquot ke kolom prakonsentrasi sebelum pemisahan kromatografi. Daerah puncak untuk merkuri anorganik dan CH3Hg setelah prakonsentrasi akan meningkat sebesar 10 dan 6 kali masingmasingkonsentrasi . Hal ini sesuai dengan peningkatan volume yang disuntikkan untuk merkuri anorganik, dan CH3Hg mengalami prakonsentrasi tetapi dengan efisiensi sekitar 50-60%. Pengaruh volume sampel (volume injeksi) dalam tahap prakonsentrasi pada campuran 10 ng/L Hg2+ dan standar CH3Hg dalam air murni menunjukkan linearitas hingga volume metil merkuri 20 mL. Tetapi grafik untuk Hg2+agak melengkung pada volume mendekati 20 mL. Terlihat pada gambar berikut :

Volume pra-konsentrasi yang memungkinkan untuk analisis sampel oleh spiking sampel air laut dilakukan penyaringan (disaring dengan saringan membran 0,2 m) dengan L-1 10 campuran ng Hg2+ dan CH3Hg standar dan menyuntikkan dicairkan ke kolom pra-konsentrasi. Sebuah karakteristik dari emisi natrium diamati di wilayah titik tertentu saat kolom belum dicuci setelah injeksi sampel 1 mL dari air laut, hal ini dilakukan karena terjadielusi matriks air laut. Perbedaan volum aquades yang digunakan untuk mencuci antara 100 dan 500 L, penghapusan matriks air laut diamati dengan mengukur Ca pada 43m/z dan Li pada 7m/z, dan spesies merkuri dengan mengukur luas puncak dari suntikan berulang 1 mL standar dalam air laut.

Hasilnya ditampilkan pada Gambar. 5, grafik ini menunjukkan bahwa Li hilang setelah proses pencucian dari 300 L dan 500 L diperlukan supaya sinyal Ca kembali ke tingkat dasar. Pengamatan plasma kolom menunjukkan bahwa emisi natrium menghilang setelah proses pencucian dengan 200 L, Mempertahankan tetapi tingkat Na muncul pada detektordengan volume mencuci dibawah 300 L, sehingga tidak praktis untuk menggunakan 23 m/z untuk pengamatan proses pencucian. Pemulihan merkuri setelah mencuci tidak berubah sehingga 500 L diadopsi sebagai volume mencuci.tingkat rendah yang diperlukan dan menghindari terbawa antar sampel, jarum suntik sampel dicuci tiga kali, yang pertama adalah dicuci dengan 1% (v /v) HCl dan 2 terakhir dicuci dengan aquades

dalam 2 botols ampel yang berbeda sehingga gradien kebersihan secara efektif dicapai untuk mencuci jarum suntik. Larutan pencuci pertama bukannya dibuang menuju pembuangan namun disuntikkan ke dalam katup injeksi sementara pada proses injeksi, untuk membersihkan portinjeksi dan jalur aliran internal yang tidake fektif dibersihkan oleh fase gerak. Proses pencucian kolom yang akan digunakan sampel air laut, sebuahj arum suntik 500 L secara terpisah dibersihkan untuk digunakan secara eksklusif menyuntikkan larutan kolom mencuci ultra-murni air diambil dari botol larutan pencuci ketiga untuk menghindari menambahkan merkuri itus udah pra-terkonsentrasi pada kolom. Setelah menunjukkan bahwa proses pencucian lebih efektif, maka dicoba untuk menemukan terobosan baru untuk penentuan volume Hg2+ dan CH3Hg dalam air laut murni, hasilnya dapat dilihat pada Gambar. 6, menunjukkan bahwa volume untuk Hg2+ mungkin mendekati 20 mL, tetapi kurva untuk CH3Hg linear sampai dengan 20 mL menunjukkan bahwa volume yang lebih tinggi dapat diperoleh dari proses pra-terkonsentrasi daripada yang dapat disuntikkan menggunakan jarum suntik, yang menunjukkan bahwa kolom mungkin tidak cocok untuk digunakan dalam prosespra-berkonsentrasi spesies merkuri secara off-line.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah : 1. Penentuan logam merkuri dalams ampel air lautdari Laguna Venesia menggunakan metode HPLC-ICP-MS menghasilkan limit deteksi lebih rendah dari GC-ICP-MS yaitu sebesar 0,02 ng/L untuk metil merkuri dan 0,07 ng/L untuk merkuri anorganik. 2. Daerah puncak untuk merkuri anorganik dan metil merkuri setelah prakonsentrasi meningkat sebesar 10 dan 6 kali.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2013. Spesiasi Ion Krom Hayuni Retno Widarti http://journal.um.ac.id diakses tanggal 12 April 2013 jam 13.34. Anonim. 2009. Efek Toksik Merkuri Metalik http://www.forumsains.com diaksestanggal 12 April 2013 jam 14.30. Setiowati, A. 2012. Bahaya Merkuri http://agustinsetiowati.blogspot.comd iaksestanggal 13 April 2013 jam 09.12. Anonim. 2012. Pencemaran Air di Sungai oleh Logam Berat

http://jujubandung.com diaksestanggal 13 April 2013 jam 10.07. Settle, F (Editor). 1997. Handbook of Instrumental Techniques for Analytical Chemistry. Prentice Hall PTR, New Jersey, USA. Meyer, F.R. 2004. Practical High-Performance Liquid Chromatography, 4th Ed., John Wiley & Sons, New York. Kealey, D and Haines, P.J. 2002. Instant Notes: Analytical Chemistry, BIOS Scientific Publishers Limited, New York. Kenkel, J. 2002. Analytical Chemistry for Technicians, 3th. Edition., CRC Press, U.S.A. Snyder, L. R., Kirkland, S.J., and Glajch, J.L. 1997. Practical HPLC Method Development, John Wiley & Son, New York. Munson, J.W. 1981. Phrarmaceutical Analysis: Modern Methods, Part A and B, diterjemahkan oleh Harjana dan Soemadi, Airlangga University Press, Surabaya. Cserhati, T. And Forgacs, E.. 1999. Chromatography in Food science and Technology. Technomic Publishing, Lancaster, Basel.