Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kejahatan seksual merupakan kejahatan yang universal. Kejahatan ini dapat ditemukan di seluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat, tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Besarnya insiden yang dilaporkan di setiap negara berbeda-beda. Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2006 National Violence against Women Survey!"#A$S% melaporkan bah&a '(,6) dari responden &anita dan *) dari responden pria pernah mengalami kejahatan seksual, beberapa di antaranya bahkan lebih dari satu kali sepanjang hidup mereka. +ari jumlah tersebut hanya sekitar 2,) yang pernah membuat laporan polisi.' +i -ndonesia, menurut Komisi "asional Anti Kejahatan terhadap .erempuan Komnas .erempuan% sejak tahun '//0 sampai 20'' ter1atat /*./60 kasus kejahatan seksual terhadap perempuan di seluruh -ndonesia. +engan demikian rata-rata ada 20 perempuan yang menjadi korban kejahatan seksual tiap harinya. 2al yang lebih mengejutkan adalah bah&a lebih dari *!3 dari jumlah kasus tersebut (0,'')% dilakukan oleh orang yang masih memiliki hubungan dengan korban. 2 4erdapat dugaan kuat bah&a angka-angka tersebut merupakan 5enomena gunung es, yaitu jumlah kasus yang dilaporkan jauh lebih sedikit daripada jumlah kejadian sebenarnya di masyarakat. Banyak korban enggan melapor, mungkin karena malu, takut disalahkan, mengalami trauma psikis, atau karena tidak tahu harus melapor ke mana. Seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum di -ndonesia, jumlah kasus kejahatan seksual yang dilaporkan pun mengalami peningkatan. Salah satu komponen penting dalam pengungkapan kasus kejahatan seksual adalah visum et repertum yang dapat memperjelas perkara dengan pemaparan dan interpretasi bukti bukti 5isik kejahatan seksual. 6paya kedokteran 5orensik dalam pembuktian kasus kejahatan seksual, yaitu7 ada tidaknya persetubuhan, ada tidaknya tanda kejahatan, perkiraan umur, dan sudah pantas atau sudah mampu untuk dika&in atau tidak.* 8ara untuk membuktikan ada tidaknya persetubuhan adalah dengan ditemukannya sperma atau

ejakulatnya pada vagina, bu11al, atau anal korban yang sampelnya diambil dengan s&ab vaginal, s&ab bu11al, dan s&ab anal. +okter, sebagai pihak yang dianggap ahli mengenai tubuh manusia, tentunya memiliki peran yang besar dalam pembuatan visum et repertum dan membuat terang suatu perkara bagi aparat penegak hukum. Karena itu, hendaknya setiap dokter 9 baik yang berada di kota besar maupun di daerah terpen1il, baik yang berpraktik di rumah sakit maupun di tempat praktik pribadi, memiliki pengetahuan tentang teknik pengambilan sampel s&ab vaginal, s&ab bu11al, dan s&ab anal pada kasus kejahatan seksual.

1.2 Batasan Masalah :e5erat ini membahas tentang teknik pengambilan sampel s&ab vaginal, s&ab bu11al, dan s&ab anal dalam kasus kejahatan seksual dan apek medikolegalnya. 1.3 Tujuan ;enambah pengetahuan mengenai teknik pengambilan sampel s&ab vaginal, s&ab bu11al, dan s&ab anal, dalam kasus kejahatan seksual dan aspek medikolegalnya. 1.4 Manfaat ;emahami teknik pengambilan sampel s&ab vaginal, s&ab bu11al, dan s&ab anal pada kasus kejahatan seksual dan aspek medikolegalnya. 1. Met!"e Penul#san :e5erat ini ditulis dengan metode tinjauan pustaka sumber dari berbagai literatur.

BAB II TIN$AUAN PU%TA&A

2.1 Def#n#s# Kejahatan seksual adalah segala jenis kegiatan atau hubungan seksual yang dipaksakan dan!atau tanpa persetujuan consent% dari korban.3,, +e5inisi yang lebih sempit menyamakan kejahatan seksual dengan perkosaan rape%, dan mengharuskan adanya persetubuhan, yaitu penetrasi penis ke dalam vagina. +alam Kitab 6ndang-undang 2ukum .idana K62.%, khususnya dalam Bab <-# tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan. Salah satu pasal utama adalah pasal 20, tentang .erkosaan yang berbunyi, =Barang siapa dengan kejahatan atau ancaman kejahatan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. Sedangkan .ersetubuhan dengan $anita di Ba&ah 6mur diatur dalam pasal 20( ayat ' yang berbunyi, =Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umumya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.> +alam pasal 20/ sampai 2/3 K62., juga diatur tentang perbuatan 1abul sebagai salah satu kejahatan terhadap kesusilaan? perbuatan 1abul diartikan sebagai semua perbuatan yang dilakukan untuk mendapatkan kenikmatan seksual sekaligus mengganggu kehormatan kesusilaan. Selain dalam K62., pasal tentang kejahatan seksual terdapat pula dalam pasal 0' 66 :- "o. 2* tahun 2002 tentang .erlindungan Anak serta pasal , dan 0 66 :- "o. 2* tahun 2003 tentang .enghapusan Kejahatan dalam :umah 4angga.

2.2 Tekn#k Pe'er#ksaan %(a) Pa"a &!r)an &ejahatan %eksual 4ujuan pengambilan s&ab adalah untuk mengumpulkan sampel dari berbagai 1airan tubuh yang terdapat pada tubuh korban kejahatan seksual, untuk mendapatkan
3

bukti adanya persetubuhan serta menemukan pelaku kejahatan melalui analisis +"A dari sampel yang telah dikumpulkan. 8airan tubuh pelaku seperti semen dan sperma akan tetap menempel pada tubuh korban jika kering dan tidak di1u1i atau diserap oleh pakaian atau alas tempat tidur. @amanya sperma bertahan pada tubuh korban bergantung kepada tempat dimana sperma tersebut menempel pada tubuh korban.

4abel '. @ama sperma bertahan berdasarkan tempat menempelnya6

4eknik pengumpulan spesimen 5orensik( Ketika mengumpulkan spesimen unruk pemeriksaan analisis 5orensik, harus memenuhi beberapa prinsip berikut7 2indari kontaminasi .astikan bah&a spesimen tidak terkontaminasi dengan material lainnya. Selalu gunakan sarung tangan saat pengambilan spesimen. Sistem +"A Assay yang modern sangat sensiti5 dan dapat mendeteksi material lainnya &alaupun dalam jumlah yang sangat sedikit. Kumpulkan spesimen sesegera mungkin .engumpulan spesimen harus dilakukan sesegra mungkin karena kemungkinan hilangnya bukti seiring berjalannya &aktu. -dealnya spesimen pada kejahatan seksual dikumpulkan dalam &aktu 23 jam setelah terjadinya peristi&a, setelah (2 jam, spesimen yang dikumpulkan yang dapat dijadikan sebagai barang bukti dapat berkurang. 4angani dengan benar .astikan bah&a setiap spesimen yang dikumpulkan dibungkus, disimpan, dan ditransportasikan dengan benar. @aboratorium 5orensik menyediakan panduan untuk penyimpanan dan bagaimana 1ara menangani sampel yang sudah dikumpulkan dengan benar. Se1ara umum, spesimen yang ber&ujud 1air harus didinginkan, dan yang lainnya harus dijaga dalam kondisi kering. @abel dengan benar

Semua spesimen harus diberi label dengan jelas dengan nama dan tanggal lahir pasien, nama dokter, jenis spesimen, dan tanggal dan &aktu pengambilan spesimen. .astikan keamanan Spesimen harus disegel dengan aman dan hanya dapat diper1ayakan kepada orang yang memiliki ke&enangan. Berkesinambungan Setelah spesimen dikumpulkan, urutan penanangannya harus di1atat. 4ransportasi dari satu pihak ke pihak yang lainnya juga hrus didokumentasikan. +etail jensi spesimen yang telah dikumpulkan, kapan, dan kepada siapa diberikan dapat ditulis di dalam 1atatan medis pasien. .engumpulan spesimen 5orensik pada tubuh korban kejahatan seksual sebagian besar menggunakan s&ab dengan cotton tipped. .anduan untuk penggunaan s&ab dengan cotton tipped sebagai berikut70 Selalu ambil 2 s&ab pada saat bersamaan Aika ada bagian dari 1otton tipped yang kering atau area yang yang dilakukan s&ab merupakan area yang kering, basahi sedikit cotton tipped dengan 1airan steril atau normal salin Setelah s&ab dikumpulkan, biarkan kering di udara sebelum dimasukkan ke dalam amplop atau kotak tersendiri Bunakan s&ab yang berbeda untuk tiap bagian tubuh yang diambil sampelnya @abel amplop tempat s&ab dengan nama pasien dan lokasi dimana spesimen dikumpulkan

a. Pe'er#ksaan %(a) *ag#nal -nspeksi genitalia eCternal dan kulit disekitarnya apakah terdapat trauma dan bukti yang lain sebelum dilakukan pemeriksaan spe1ulum. -nspeksi genitalia
6

ekternal perineum dan himen% jika terdapat trauma, noda-noda dan debris. Kumpulkan debris, letakan amplop bahan bukti, label dan disegel.0 Korban yang belum pernah melakukan persetubuhan atau pengalaman pemeriksaan spekulum mungkin menolak untuk dilakukan pemeriksaan spekulum. 4ujuan dan prosedur dari pemeriksaan spekulum harus dijelaskan kepada pasien, korban dapat memilih untuk tetap dilakukan atau tidak ke1uali ada indikasi 5aktor medis seperti trauma atau perdarahan masi5.0 Beberapa jenis posisi dapat digunakan untuk pemeriksaan genitalia dan pada semua kasus kejahatan seksual, pemeriksaan korban harus senyaman mungkin. .osisi yang disarankan adalah posisi litotomi.6

Bambar '. .osisi pemeriksaan genitalia korban kejahatan seksual6

Spekulum harus di lubrikasi dengan air hangat dan bukan peli1an karena dapat menggangu evaluasi 5orensik. Saat memasukan spekulum, masukan 2 jari ke dalam vagina dan se1ara gentle ditekan ke ba&ah sampai terjadi relaksasi otot. Kemudian dimasukkan spekulum yang tertutup se1ara obliD dengan sudut 3, derajat terhadap garis vertikal dan se1ara gentle dimasukkan dan diputar dengan pemegang spekulum tegak lurus. Aika sudah di dalam vagina se1ara gentle mulut spekulum dibuka dan dipertahankan.6

Bambar 2. .emeriksaan spekulum vagina6

S&ab vagina diambil apabila diper1ayai adanya penetrasi penis pada vagina. S&ab vagina dilakukan sebelum pemeriksaan bimanual atau pemeriksaan servik. 6ntuk mengambil s&ab vagina, masukkan 2 kapas tip pada 5ornik vagina. Aika terdapat genangan 1airan ,spesimen dapat diperiksa dari genangan 1airan tersebut.
8

Spesimen tambahan dapat diperiksa dari servik dan dinding vagina dibelakang servik. Keringkan s&ab sebelum dimasukan ke dalam amplop. Aika lebih dari satu sampel diambil dari vagina, label spesimen dalam urutan saat dilakukan serta sumber dari spesimen.6 @akukan pembuatan sampel slide ka1a untuk pemeriksaan mikroskopis pada saat yang bersamaan. S&ab servik turut diambil saat dilakukan s&ab vagina dengan menggunakan 2 steril kapas tip, lakukan s&ab kedalam servik. S&ab servik dianginkan dan dimasukan ke dalam kertas pembungkus atau amplop./ Sangat penting untuk tidak mengaspirasi ori5isium vagina atau dilusi 1airan yang ada di vagina dan servik sebelum s&ab diambil. Aika korban sudah mandi dan membersihkan area genitalnya sebelum datang, pemeriksa harus dengan teliti mengambil s&ab di belakang servik dan sepanjang dinding vagina./

). Pe'er#ksaan %(a) Bu++al .engambilan s&ab bu11al ditujukan untuk memastikan identitas korban dan bukti +"A.( .enggunaan bukti +"A adalah teknologi terbaru yang digunakan terutama dalam sistem peradilan pidana untuk mengidenti5ikasi pelaku kejahatan seksual. .rosedur pengumpulan +"A dapat bervariasi. "amun, semua memerlukan sampel perbandingan yang harus diambil dari korban.'0 Sebagian besar jurisdiksi memerlukan darah yang harus diambil dari korban untuk membedakan +"A-nya dari setiap +"A asing yang ditemukan dari tubuhnya atau bukti 4K. lainnya dari pakaian , selimut, dll. Atau, kerokan sel dapat dikumpulkan dari sisi mulut korban menggunakan

s&ab bukal % untuk membedakan +"A-nya dari yang penyerangnya. Aika spesimen oral sudah diperoleh, korban harus berkumur dan menunggu ', menit untuk pengambilan s&ab bukal. Aika serangan oral terjadi, +"A selain pasien juga dapat hadir dalam rongga mulut . +alam hal ini, sampel darah pasien harus diambil untuk mengidenti5ikasi +"A pasien se1ara de5initi5.'0

Bambar *. S&ab bu11al untuk pengambilan sampel sperma(

.rosedur pengambilan s&ab bu11al'' Kumpulan isi kit 3 kapas tip aplikator steril ' amplop manila dengan label in5ormasi putih terpasang ' amplop manila sedikit lebih ke1il ' segel Satu pasang sarung tangan lateks bebas bubuk

.etunjuk pengambilan sampel .akai sepasang sarung tangan lateks bebas bubuk. Buka kertas steril pembungkus salah satu dari empat kapas tip aplikator Bosok ujung kapas tip pada bagian dalam pipi mulut sambil perlahan diputar. @akukan selama sekitar *0 detik. 4empatkan kapas tip aplikator dalam amplop yang lebih ke1il. Kertas pembungkus kapas s&ab dapat dibuang. 6langi proses untuk sisa tiga
10

kapas lalu masukkan dalam amplop yang lebih ke1il. @epaskan sarung tangan karet dan buang 4empatkan amplop yang lebih ke1il berisi empat kapas tip aplikator dalam amplop yang lebih besar dengan label terpasang -si semua in5ormasi pada label putih 4empatkan amplop dengan label putih dalam amplop yang berlabel !e"erensi Swab #ulut $ollection %it. Segel amplop yang berlabel !e"erensi #ulut Swab $ollection %it dengan segel bukti dan tandai segel 4empatkan amplop ke :uang .roperti dan simpan di lemari pendingin

.erhatian Aangan memegang atau men1emari ujung kapas s&ab. 6jung kapas s&ab harus langsung bersentuhan dengan mulut subjek Kapas s&ab tidak untuk mengumpulkan air liur tetapi untuk mendapatkan sel dari lapisan pipi mulut . Eleh karena itu, gosok!seka dengan sdikit penekanan terhadap pipi dalam mulut .astikan untuk memutar kapas s&ab di mulut subjek sehingga seluruh permukaan kapas tip dapat digunakan untuk pengambilan sampel.

+. Pe'er#ksaan %(a) Anal S&ab anal ditujukan untuk pengumpulan sampel jika dari keterangan korban diper1aya bah&a telah terjadi penetrasi penis ke anus atau korban tidak dapat mengingat kejadiannya./ Sangat jarang korban yang melaporkan bah&a saat terjadi kejahatan seksual terhadap dirinya telah terjadi penetrasi penis ke anus, atau pada saat terjadinya korban tidak sadar. +alam hal ini korban tidak dapat menjelaskan se1ara detail kejadian yang dialaminya dan hanya mengeluhkan nyeri di daerah tersebut.

11

Bambar 3. Anoskopi untuk inspeksi anal6

S&ab anal dilakukan sebelum pemeriksaan anal. 0 Bunakan lampu &ood untuk inspeksi anal, korban dalam posisi knee-1hest, bertujuan untuk mengidenti5ikasi kemingkinan adanya 1airan sekresi yang sudah kering di regio anal. Bunakan 2 buah s&ab se1ara simultan pada s&ab anal. Bunakan 2 s&ab tambahan untuk mengulangi prosedur s&ab anal. Biarkan kering, dan kemudian masukkan ke dalam amplop. Segel dan isikan in5ormasi yang dibutuhkan pada amplop kemudian beri tanda pada &nal Swab pada amplop. S&ab yang ber1ampur dengan 5eses meningkatkan kesulitan untuk memastikan keberadaan semen. .ada kondisi seperti ini pemeriksaan medis tambahan atau tes di rumah sakit yang melibatkan rektum harus dilakukan.

2.3 As,ek Et#k "an Me"#k!legal Pe'er#ksaan &!r)an &ejahatan %eksual

12

+i negara-negara yang telah maju dalam perlindungan terhadap &arganya, kelakuan seksual pelaku sudah dapat dikategorikan melakukan tindak pidana apabila tidak ada keinginan dari korban, tidak perlu adanya an1aman atau kekerasan. +alam kelompok tindak pidana ini jenisnya 1ukup banyak yaitu7 .ele1ehan seksual, perFinahan, per1abulan maupun perkosaan yang dapat dilakukan oleh pelaku laki atau perempuan terhadap korban perempuan atau laki-laki. Beberapa 6ndang 96ndang .idana :epublik -ndonesia seperti Kitab

6ndang 6ndang 2ukum .idana K62.% tahun '/02, undang-undang .erlindungan Anak "o. 2* tahun 200*, 6ndang 6ndang 4entang .enghapusan kekerasan dalam :umah 4angga "o 2/ tahun 2003 telah memasukan klausal tentang Kejahatan Seksual ini, namun masih disayangkan pasal pasal dalam 6ndang 6ndang tersebut &alaupun menghukum pelaku 1ukup berat , proses pembuktian masih sulit diterapkan dan masih bersi5at diskriminati5 terhadap korban khususnya perempuan dan anak, misalnya pada kasus perkosaan kasus yang paling berat% harus ada unsur persetubuhan yaitu masuknya alat kelamin pria kedalam alat kelamin prempuan dengan pengertian yang belum jelas sampai seberapa jauh masuknya alat kelamin tersebut. Bila unsur persetubuhan ini tidak dapat dibuktikan maka perbuatan pelaku hanya dimasukan dalam per1abulan dengan hukuman yang lebih ringan. +ikatakan diskriminati5 karena pada pela1uran yang dikenakan hukuman hanya pada perempuannya.

.eran +okter dan 4enaga Kesehatan Seperti telah disebutkan diatas bah&a pembuktian ada tidaknya tindak

kejahatan seksual khususnya perkosaan sangat sulit dibuktikan karena kejahatan seperti ini sangat jarang ada saksi ke1uali tertangkap basah% satu-satunya saksi adalah saksi korban, oleh karena itu untuk membuktikan adanya perkosaan pembuktian ilmiah sangat penting karena tidak terbantahkan. Korban kejahatan seksual pada dasarnya adalah orang yang sedang

menderita, apakah penderitaan diakibat adanya perlukaan 5isik% maupun psikisnya psikologis% sehingga tentunya se1ara otomatis mereka akan datang ke dokter oleh karena itu peran dokter beserta tenaga medis lainnya yang terlibat dalam penanganan
13

korban pada tahap ini sangat penting. Ketidaktahuan dan ke-tidakkonsen-an dari dokter dalam pemeriksaan korban akan menyebabkan hilangnya barang bukti maupun bertambahnya penderitaan korban baik se1ara 5isik maupun psikis. 4ugas dokter dan tenaga medis lain dalam penanganan kasus seksual khususnya perkosaan 7 +eteksi +ini 4idak semua korban akan serta merta mengakui apa yang dialaminya, pada anak-anak karena tidak tahu 1ara menyampaikan sehingga ibu yang mengambil alih 1erita sering kali tidak benar atau salah%, pada anak yang lebih besar sering tidak berani menyampaikan karena an1aman, pada orang de&asa sering sangat depresi sehingga sukar menyampaikan apa yang terjadi. Anamnesis yang baik dan tidak menyalahkan serta empati yang mendalam sangat dipentingkan untuk mengungkap kejadian maupun latar belakangnya sehingga korban merasa memiliki orang yang dapat mengayomi serta tempat dia berlindung. .emeriksaan Gisik dan .sikis .emeriksaan 5isik ditujukan untuk dapat menemukan tanda-tanda yang kejahatan

diakibakan oleh perlakuan dari pelaku terhadap korban, misalnya pada kasus perkosaan adalah adanya tanda-tanda kekerasan dan persetubuhan, pada kasus per1abulan adalah tanda-tanda yang dialami korban seperti sodomi atau oral seksual dll. 4anda-tanda ini harus segera di 1ari oleh karena dengan berjalannya &aktu maka tanda-tanda akan mudah hilang sehingga tengang &aktu saat kejadian dengan &aktu pemerikaan sangat menentukan keberhasilan pemeriksaan. .ada kasus perkosaan hal 9 hal harus di1ari dan di deteksi adalah7 4anda-tanda maturitas 4anda-tanda maturasi saat ini menjadi sangat penting oleh karena adanya undang-undang perlindungan anak, perlakuan kejahatan yang berat.
14

seksual pada anak-anak akan mendapatkan sanksi

.emerikaan sendiri dapat berupa pemerikaan tanda- tanda seks sekunder, pertumbuhan gigi geligi, rontgen 5oto dari jari jari tangan dan kaki.

4anda-tanda kekerasaan 4anda-tanda kekerasan adalah perlukaan yang dialami korban berupa pemukulan, gigitan ataupun pemaksaan pemaksaan lain yang bisanya berupa memar dan le1et. .erlu diingat bah&a tidak ada-nya tanda tanda kekerasan bukan berarti bah&a korban tidak diperkosa, oleh karena penggunaan obat-obatan menyebabkan korban tidak apat mela&an atau adanya an1aman yang luar biasa sehingga korban tidak dapat mela&an.

4anda-tanda pesetubuhan 4anda-tanda persetubuhan ditujukan untuk memeriksa alat kelamin yaitu berupa adanya tanda-tanda kekerasan akibat masuknya kelamin pelaku kedalam alat kelamin korban. alat

.emeriksaan psikologis lebih ditujukan pada apakah terjadi suatu gangguan psikologis akibat perlakuan atau an1aman yang dialami korban, karena tidak selalu mudah maka yang dinilai adalah keadaan emosional ketakutan, kemarahan kesedihan dan rasa bersalah%, kooperati5 atau tidak dan bila

memang ada maka dapat dikonsulkan ke psikolog maupun psikiater untuk pemerikaan dan pengobatan lebih lanjut . .engumpulan barang bukti .enggumpulan barang bukti menjadi sangat penting karena selain dapat membuktikan adanya perkosaan dan membantu memastikan siapa pelakunya, barang bukti yang dikumpulkan ada berupa7 S&ab
15

6rin +arah

Barang bukti lain adalah7 S&ab dan 5oto bekas gigitan .engambilan jaringa ba&ah kuku bila ada ri&ayat korban men1akar% Sisiran rambut kemaluan 8elana dalam korban .akain korban dan lain-lain yan ada pada tubuh dan pakaian korban

.era&atan dan pengobatan 4idak jarang korban memerlukan pera&atan baik oleh karena perlukaan atau gangguan psikisnya, dalam hal ini sebagaimana pera&atan biasanya diperlukan perhatian lebih khusus karena pera&atan ini karus memberikan rasa nyaman, aman, mengayomi. .engobatan ditujukan untuk mengobati dan men1egah gangguan kesehatan akibat perlakuan yang dialami korban seperti perlukaan, penyakit menular seksual, kehamilan dan gangguan psikis.

.embuatan #isum et :epertum .ada Kasus Kejahatan Seksual +i -ndonesia pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli, ilmu kebidanan dan penyakit kandungan ke1uali di tempat yang tidak ada dokter ahli demikian, dokter umumlah yang melakukan pemeriksaan itu. Hang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan7

16

Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang ber&enang.

Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau korban datang sendiri dengan memba&a surat permintaan dari polisi, jangan diperiksa, suruh korban kembali ke polisi.

Setiap visum et repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada &aktu permintaan visum et repertum diterima oleh dokter.

Bila dokter telah memeriksa seorang korban yang datang di rumah sakit, atau di tempat praktek, atas inisiati5 sendiri, bukan atas permintaan polisi, dan beberapa &aktu kemudian polisi mengajukan permintaan visum et repertum, maka ia harus menolak karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada permintaan untuk dibuatkan visum et repertum merupakan rahasia kedokteran yang &ajib disimpannya K62. pasal *22%. +alam keadaan seperti itu dokter dapat meminta kepada polisi supaya korban diba&a kembali kepadanya dan visum et repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada &aktu permintaan diajukan. 2asil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk visum et repertum, tetapi dalam bentuk surat keterangan. 2asil pemeriksaan sebelum diterimanya surat permintaan pemeriksaan dilakukan terhadap pasien dan bukan sebagai 1orpus dili1ti benda bukti%.

-Fin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban adalah seorang anak, diminta dari orang tua atau &alinya.

Seorang pera&at atau bidan harus mendampingi dokter pada &aktu memeriksa korban.

.emeriksaan dilakukan se1epat mungkin, jangan ditunda terlalu lama. 2indarkan korban menunggu terlalu lama dengan perasaan &as-&as dan 1emas di kamar periksa. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus di1atat, jangan bergantung pada ingatan semata.

17

#isum et repertum diselesaikan se1epat mungkin. +engan adanya visum et repertum perkara 1epat dapat diselesaikan. Seorang terdak&a dapat 1epat dibebaskan dari tahanan, bila ternyata dia tidak bersalah.

Kadang-kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang ibu!ayah untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anak perempuannya masih pera&an, atau karena ia merasa 1uriga kalau-kalau atas diri anaknya baru terjadi persetubuhan.

BAB III PENUTUP

3.1 &es#',ulan Kejahatan seksual merupakan kejahatan yang dapat ditemukan di seluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat, tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum di -ndonesia, jumlah kasus kejahatan seksual yang dilaporkan pun mengalami peningkatan.

18

Salah satu komponen penting dalam pengungkapan kasus kejahatan seksual adalah visum et repertum yang dapat memperjelas perkara dengan pemaparan dan interpretasi bukti bukti 5isik kejahatan seksual. .eranan dokter sangat penting dalam penanganan kasus kejahatan seksual karena dokter selain pengobatan dan pera&atan juga berperan sebagai ujung tombak dimulainya proses pembuktian kejadian. .eran ini menjadi sukar dijalankan se1ara baik karena ketidaktahuan dokter, dan ketidaktahuan korban serta kurang mendukungnya perundang-undangan yang masih berlaku di -ndonesia.

3.2 %aran ;eningkatkan pengetahuan dokter tentang penanganan korban kejahatan seksual dan kepentingan pengumpulan bukti pada korban. ;enyediakan sarana dan prasarana pemeriksaan dan penatalaksanaan korban kejahatan seksual di setiap rumah sakit. Idukasi masyarakat tentang kejahatan seksual

19