Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju, Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan ini memegang 3 prinsip utama, yaitu; mencipatakan satuan permukiman transmigrasi yang layak huni, layak usaha dan layak berkembang. Dengan demikian maka kedepannya nanti transmigran di dalamnya akan mampu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan cepat berkembang. Untuk mencapai hal tersebut, maka syarat dan kriteria teknis penyusunan tata ruang dalam penentuan keayakan permukiman harus terpenuhi melalui analisa kesesuaian lahan dan analisa permukiman. Secara umum Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju ini meliputi beberapa tahapan yang akan dijabarkan secara rinci pada beberapa Bab berikut di bawah ini.

2.1. TAHAP PERSIAPAN


Tahap Persiapan merupakan awal dan seluruh rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan. Pada tahap ini dipersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk kelancaran pekerjaan pada tahaptahap berikutnya, antara lain: 1. Studi literatur, pengumpulan data-data sekunder mengenal lokasi pekerjaan, peta peta penunjang dan dokumentasi yang berhubungan dengan legalitas lokasi 2. Penyiapan peta kerja, penyusunan rencana dan jadwal kerja 3. Pembentukan tim kerja 4. Penyiapan peralatan survey dan studio 5. Persiapan administrasi dan keuangan Mobilisasi tim Survey dilaksanakan apabila seluruh tahap persiapan telah selesai, seluruh bahan-bahan dan peralatan serta seluruh anggota Tim telah siap ke lapangan. Waktu pemberangkatan anggota tim tergantung pada rencana dan jadwal kerja.

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-1

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

2.2. TAHAP SURVEY LAPANGAN


Tahap survey merupakan seluruh rangkaian kegiatan yang dilaksanakan di lapangan untuk memperoleh intormasi selengkap-lengkapnya, mengumpulkan dan menganalisa data primer maupun sekunder yang merupakan data-data terbanyak yang lebih akurat dan relevan. Secara umum kegiatan yang dilakukan pada tahap Survey lapangan adalah: 1. Orientasi lapangan; 2. Pengukuran dan Pemetaan Topografi; 3. Survey tanah dan evaluasi kesesuaian lahan; 4. Survey penggunaan lahan dan sumber daya hutan; 5. Survey iklim dan hidrologi; 6. Survey sosial-budaya dan ekonomi pertanian; 7. Tahap Analisa Data.

2.2.1. Orientasi Lapangan Kegiatan ini untuk melihat kondisi lapangan secara menyeluruh dan menetapkan awal kegiatan survey sesuai dengan rencana kerja yang telah disiapkan. Pada kegiatan ini dicermati hal-hal sbb: Legalitas lahan (status hutan) SK Pencadangan Usulan masyarakat Surat pernyataan penyerahan lahan dari masyarakat/perorangan Hasil musyawarah I, II dan III yang telah disepakati oleh semua pihak

2.2.2. Pengukuran dan Pemetaan Topografi


Pemetaan topografi bertujuan untuk memetakan calon lokasi sekaligus untuk memperoleh informasi mengenai kemiringan lahan, status lahan, dan kondisi land use eksisting. Hasil pemetaan topografi akan menjadi dasar dalam pembuatan peta tematik lainnya. Survey kemiringan lahan akan menjadi masukan dalam pembuatan peta
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-2

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

kesesuaian lahan, informasi status lahan dan kondisi land use eksisting sebagai masukan dalam penentuan kesesuaian pemukiman. 1. Pemasangan Titik Kontrol Tetap (Bench Mark) Bench Mark (BM) dipasang sepanjang jalur pengikat (BM-0 sampai titik awal poligon utama) dan di daerah perimeter (keliling) blok permukiman pada setiap jarak antara 3 sampai dengan 4 Km. BM dipasang ditempat-tempat yang tanahnya stabil. Apabila dipasang di tanah lembek (rawa) maka pondasi BM harus diperkuat dengan kayu cerucuk. 2. Pengukuran Titik Kontrol A. Pengukuran poligon utama Koordinat (X,Y) titik kontrol tetap diukur dengan metoda poligon, dengan persyaratan sebagai berikut: Pengukuran dilakukan sepanjang garis batas luar (perimeter) areal survey dan melalui semua BM yang telah dipasang terlebih dahulu Jalur poligon hams merupakan loop tertutup. Jarak antara titik bantu poligon (patok kayu sementara) harus diusahakan sejauh mungkin. Sudut poligon diukur dengan alat ukur sudut yang memiliki skala terkecil 1 (satu) detik (1 second theodolite) dalam 1 sen (B, B, L, B), selisih sudut biasa dan luar biasa 12 detik. Jarak poligon diukur dan 2 (dua) arah yakni arah pergi dan arah pulang, pembacaan dilakukan minimal 3 (tiga) kali. Sudut vertikal alat dibaca dalam keadaan B dan LB. Koreksi sudut dianlara 2 (dua) titik pengamatan azimuth mataharii 8 (delapan) detik.

B. Pengukuran Sipat Datar Utama Elevasi titik kontrol tetap diukur dengan alat ukur Sipat Datar Otomatis (Automatic Level) dengan persyaratan sebagai berikut: Jalur pengukuran harus dibagi atas seksi-seksi, dimana panjang seksi maksimum 1,5 Km. Beda tinggi seksi diukur dan 2 (dua) arah yang berbeda yakni arah pergi dan pulang. Semua titik poligon harus ditentukan elevasinya (termasuk jalur pengukuran).
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-3

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Jalur Sipat datar harus merupakan loop yang tertutup, termasuk jalur base line. Jarak dan alat ke rarribu 50 meter. Salah penutup beda tinggi 10 mm, dimana D adalah panjang jalur pengukuran dalam Kilometer.

3. Pengukuran Pengikatan Titik awal pengikatan (BM-0) dipasang pada tempat yang mudah diidentifikasi di lapangan. Pemasangan titik-titik kontrol pengukuran di sepanjang jalur pengikatan, BM, dengan jarak antara tiap BM 3-4 Km. Pengukuran dilakukan dengan metode poligon sebagai berikut: A. Pengukuran Poligon Jalur pengikatan harus dirintis bersih dan dipasang patok kayu pada setiap jarak 200 m dan dikedua ujungnya. Jarak antara titik bantu poligon (patok kayu sementara) harus diusahakan sejauh mungkin. Sudut poligon diukur dengan alat ukur sudut yang memiliki skala terkecil 1 detik (1 second theoclolite) dalam 1 sen ganda (B, B, LB, LB) selisih sudut B dengan LB 12 detik. Jarak poligon diukur dengan alat ukur jarak optis dan 2(dua) arah yakni arah pergi dan arah pulang. Pembacaan dilakukan minimal 3 (tiga) kali. Sudut vertikal alat dibaca dalam keadaan B dan LB. Koreksi sudut diantara 2 (dua) titik pengamatan azimuth matahari 8 (delapan) detik.

B. Pengukuran Sipat Datar Pengukuran elevasi (Z) titik poligon jalur pengikatan dilakukan dengan alat ukur Sipat datar otomatis (automatic level) dengan syarat sebagai berikut: Jalur pengukuran harus dibagi atas seksi-seksi, dimana panjang seksi 1,5Km. Beda tinggi seksi diukur dan 2 (dua) arah yang berbeda yakni arah pergi dan pulang. Semua titik poligon harus ditentukan elevasinya (termasuk jalur pengukuran). Jarak dan alat ke rambu 50 meter.

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-4

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Salah penutup beda tinggi 10 mm, dimana D adalah panjang jalur pengukuran dalam kilometer.

4. Pengukuran Situasi/Rintisan di Blok Lahan Usaha Pengukuran situas dilakukan dengan system ray-ray (jalur rintisan) dengan jarak antara 2 rintisan yang berurutan 100 meter. Posisi horizontal (X, Y) titik detail ditentukan dengan metoda pengukuran poligon (poligon cabang), sedangkan efevasinya (Z) diukur dengan alat ukur sitat datar otomatis. Pengukuran dilakukan dengan syarat sebagai berikut: A. Pengukuran Poligon Cabang Pengukuran dilakukan disepanjang jalur rintisan. Pengukuran topografi yang relatif datar, jarak antara 2 (dua) patok yang berurutan pada setiap jalur rintisan 100 m, sedangkan pada topografi yang khusus (tidak datar atau terdapat sungai), jarak patok harus diperpendek sesuai dengan kebutuhan sehingga detail tersebut dapat tergambar dengan jelas. Sudut poligon diukur dengan alat yang memiliki skala horizontal terkecil 20- 30 detik. Jarak poligon diukur dengan pita ukur baja (fiber glass) dan dibaca sampal fraksi milimeter, lalu dicek dengan jarak optis. Pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon utama, jadi jalur pengukuran terikat sempurna dikedua ujungnya. Salah penutup sudut maksimum adalah 5 n, dimana n adalah jumlah titik poligon.

B. Pengukuran Sipat Datar Cabang Pengukuran dilakukan mengikuti jalur rintisan yang telah dilalui oleh pengukuran poligon tertebih dahulu, semua titik detail (titik poligon cabang) harus ditentukan elevasinya (dilalui alat ukur) Beda tinggi setiap slag diukur dan 2 (dua) posisi alat (double stand) Pengukuran dimutai dan diakhiri pada titik poligon utama, jadi jalur pengukuran merupakan jalur yang terikat sempurna di kedua ujungnya Salah penutup beda tinggi maksimum harus lebih kecil atau sama dengan 15 mm, dimana D panjang jalur pengukuran dalam kilometer

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-5

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Titik patok di atas tanah harus diukur dan dicatat untuk mendapatkan tinggi tanah eksisting

C. Pengukuran Situasi/Rintisan di Blok Lahan Permukiman Pengukuran dilakukan dengan sistem ray-ray/jalur rintisan yang dibuat sejajar dengan interval rintisan per 100 m. Pengukuran dilakukan dengan persyaratan sebagai berikut: Pengukuran dilakukan di sepanjang rintisan. Pengukuran topografi pada daerah yang relatif datar, jarak antara 2 (dua) patok yang berurutan dalam rintisan 50 m, sedangkan pada daerah yang bertopografi khususjarak patok <50 m Patok harus tertanam dengan kokoh, sehingga dapat diigunakan pada tahap pengukuran selanjutnya Posisi horizontal (X, Y) titik detail diukur dengan metoda poligon Sudut poligon diukur dengan alat yang memiliki skala horizontal terkecil 20-30 detik Jarak poligon diukur dengan pita ukur dan dibaca sampai fraksi milimeter, lalu dicek dengan jarak opus Pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik poligon base line Elevasi titik detail (Z) diukur dengan metoda tachimetry secara simultan dengan pengukuran poligon Sudut vertikal alat ke target harus diukur dalam keadaan B dan LB Tinggi alat dan patok harus diukur dan dicatat clengan baik Salah penutup sudut poligon 5 (detik) dimana n jumlah titik poligon Salah penutup beda tinggi tidak boleh lebih dan 60 mm, dimana D = panjang jalur pengukuran dalam kilometer

D. Pengolahan Data Ukur Data hasil pengukuran harus langsung dihitung di lapangan agar ketelitian hasil pengukuran segera diketahui Pengukuran harus dicek kembali atau diulang apabila hasil yang diperoleh tidak memenuhi persyaratan Perhitungan harus dilakukan pada formulir yang telah disetujui oleh pemberi pekerjaan
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-6

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Semua formulir yang digunakan (hitungan dan pengukuran) harus diisi lengkap dan rapi Hasil pengukuran harus dilengkapi dengan sketsa jalur pengukuran Poligon dihitung dengan metoda Bowdictch dan Sipat datar dihitung dengan jenis peralatan yang sederhana

2.2.3. Penelitian Tanah


Penelitian tanah bertujuan untuk memperoleh gambaran kualitatif dan kuantitatif mengenai Sipat fisik, kimia dan morfologi tanah maupun kondisi fisiografisnya yang akan digunakan sebagai dasar dalam penilaian kesesuaian lahan dan perencanaan permukiman. Penelitian tanah dilakukan dengan cara-cara berikut: Pemboran dan deskripsi profil pewakil dengan mengikuti rintisan topografi (rintisan per 200 m) dengan interval pengeboran 250 m atau 1 (satu) titik per 5 ha di seluruh areal survey. Pengamatan pengeboran dan deskripsi profil dilakukan dengan mengikuti Pedoman Pengamatan Tanah di Lapangan (DOK, KPT, 1969). Selain itu dilakukan deskripsi lokasi terutama vegetasi, fisiografi, relief, lereng, keadaan drainase, keadaan tanah/genangan, keadaan batuan dipermukaan dan erosi serta tipe penggunaan lahannya. Pengambilan contoh tanah komposit dilakukan dengan kerapatan 1 contoh per 25 ha dengan kedalaman 0 - 30 cm pada lahan pekarangan. Contoh tanah komposit diambil paling sedilkit dan 4 pengeboran masing-masing pada jarak 50 m dan lubang proflu/bor. Setiap SPL dibuat 2 (dua) profil pewakil Di areal dengan kondisi tanah bermasalah diperlukan rintisan tambahan untuk mempertajam deliniasi SPL yang dihasilkan Klasifikasi tanah dilakukan dengan menggunakan sistem Kiasifikasi Pusat Penelitian Tanah (PPT, 1993) dan disebutkan padanannya menurut Sistem Taksonomi Tanah/Soil Taxonomy (USDA, 1991) dan FAO-UNESCO (1985) Hasil akhir penelitian tanah disajikan dalam bentuk Peta Satuan Lahan skala 1 : 10.000 untuk seluruh areal Survey, dan 1 : 5.000 untuk areal calon LP. Setiap titik pengamatan diplot ke dalam peta tanah disertai deskripsinya.

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-7

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

2.2.4. Penelitian Iklim dan Sumberdaya Air


Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui iklim, ketersediaan sumber air untuk kegiatan usaha dan resiko banjir, penyusunan model usaha tani, pola dan jadwal tanam, penentuan sumber air yang akan dikembangkan serta direkomendasikan perlu tidaknya pengembangan drainase khusus pada calon permukiman transmigrasi jika dikembangkan sebagai permukiman transmigrasi. 1. Penelitian lklim Data penunjang yang dibutuhkan antara lain hasil studi yang pernah ada, peta hodrologi, peta tipologi sumberdaya air, peta isohyet, peta DAS dan data iklim setempat. Data iklim diambil dan stasiun penakar hujan setempat selama periode minimal 10 tahun terkahir. Bila berjarak lebih dari 10 km dan lokasi studi, maka akan diambil data iklim dan stasiun penakar terdekat dengan mempertimbangkan Peta lsohyet yang ada. 2. Sumberdaya Air Penyelidikan ini perlu melihat semua sub wilayah aliran sungai yang mempengaruhi daerah studi, berdasarkan hasil studi yang ada, interpretasi foto udara, peta DAS atau data sekunder lainnya Potensi sumberdaya air diamati dengan membuat sumur uji di lahan pekarangan dan pusat satuan permukiman (SP) sekurang - kurangnya 4 titik. Sumur uji dibuat sampai kedalaman 10 m dengan menggunakan alat bor tangan untuk mengetahui kedalaman aquifer. Sedangkan untuk menghitung debit sumur uji digunakan metoda Recovery Test. Hasil analisa laboratorium kualitas air minum yang direkomendasikan dibandingkan dengan SK Menteri Kesehatan No. 416/MenKes/Pen/IX /1990, clan untuk air pertanian dibandingkan dengan standar / kriteria FAO dan US salinity stat. Pengukuran Penampang Melintang Sungai, dilakukan pada sungai-sungai utama yang mengalir di lokasi studi Pengukuran Hidro Topografi.
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-8

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

2.2.5. Penelitian Sumberdaya Hutan dan Status Hutan


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi tegakan kayu, kelas hutan dan status hutan serta enis flora dan fauna. Hasil penelitian potensi tegakan kayu sebagai masukan dalam penentuan kelas hutan yang berguna dalam pengurusan ljin Pemantaatan Kayu. Penelitian mi dilakukan dengan cara sampling, yaltu dengan membuat plot sampel. 0,1 Ha (50 x 20 m), mengikuti jalur rintisan topografil dan dilakukan secara random. Penelitian ini dilakukan hanya meliputi 1 % dan area permukiman (LP dan LU). Garis tengah pohon yang diukur adalah 1,3 m diatas permukaan tanah (DBH)/1 0 cm diatas banhr, untuk semua jenis pohon yang tidak rusak dan dikelompokkan dengan garis tengah : 7 - 30 cm, 31 - 61 cm, 91 - 120 cm, dan diatas 120 cm. Kesalahan penarikan contoh 10 % atau kurang pada taraf nyata 95 %. yang digunakan untuk

2.2.6. Penelitian Sumberdaya Hutan dan Status Hutan


Penelitian ini dimaksudkan untuk mendapatkan ketersediaan lahan di daerah studi yang bebas dan permasalahan. Penelitian lapangan dilakukan dan dicatat pada semua kategoni yang diidentifikasi dengan 1 pengamalan setiap 50 m sepanjang rintisan survey / penelitian tanah. Data penelitian Iangsung di lapangan harus dilengkapi dengan data-data sekunder dan instansi terkait. Wawancara dengan kepala desa/Iurah dan petani/penduduk untuk mengetahui status kepemilikan lahan. Peta penggunaan lahan disajikan pada skala 1: 10.000.

2.2.7. Penelitian Aspek Sosial Budaya Ekonomi

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3-9

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sosial budaya dan ekonomi penduduk setempat dengan menggunakan wawancara serta survey instansional di desa dan kecamatan. Penelitian aspek sosial-budaya, untuk mengetahui jumlah penduduk dan

kepadatannya per km2, komposisi penduduk berdasarkan umur dan tekanan pada kelompok usia kerja, tingkat perkembangan jumlah penduduk, komposisi penduduk berdasarkan agama, rata-rata tIngkat pengeluaran keluarga, komposisi penduduk berdasarkan mata pencaharian, kemungkinan pemanfaatan tenaga kerja penduduk lokal, fasilitas pelayanan sosial (pendidikan, kesehalan, periibadatan, koperasi desa, dli), adat istiadat, hukum adat, pemilikan / penggunaan lahan, kemungkinan pengaruh terhadap program transmigrasi, tanggapan penduduk terhadap program transmigrasi dan perkiraan jumlah penduduk lokal yang terkena proyek. Penelitian aspek ekonomi, untuk mengetahui luas dan jenis kepemilikan lahan usaha dan cara mengusahakannya, jenis tanaman dan tingkat produksinya, kendala yang dihadapi, teknik budidaya pertanian yang sudah diterapkan, ketersediaan sarana produksi pertanian, kegiatan non perlanian, pemasaran hasil pertanian, peranan koperasi desa, penyuluhan pertanian, hasil-hasil uji coba perlanian, keadaan swasembada pangan, dan lain-lain. Data sekunder dapat diperoleh dan desa/kampung dan kecamatan yang bersangkutan atau dan dinas statistik kabupaten. Untuk lokasi transmigrasi yang sudah ada di sekitar daerah studi hendaknya dievaluasi tingkat keberhasilannya dengan mengacu kepada Keputusan Mentri Transmigrasi dan Permukiman Perambah Hutan RI Nomor : Kep 06/ME/1999 tentang Tingkat Perkembangan Permukiman Transmigrasi dan Kesejahteraan Transmigran.

2.2.8. Penelitian Aspek Regional


Bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai aksesibilitas lokasi terhadap sistem perhubungan dan pusat-pusat pelayanan yang ada, serta untuk mengetahui kebijaksanan daerah studi dan sekitamya. Informasi tersebut dapat diperoleh dan RTRWP, RTRWK dan rencana lain yang berkaitan dengan areal studi dan sekitarnya.

2.3. TAHAP ANALISA


Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3 - 10

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Pekerjaan pada tahap ini adalah mengolah dan menganalisa data-data pada tahap Survey sehingga diperoleh gambaran menyeluruh kondisi daerah studi yang merupakan dasar dalam merumuskan pola permukiman transmigrasi.

2.3.1. Analisa Tanah dan Evaluasi Kesesuaian Lahan


Analisa dilakukan untuk menilai status hara dalam tanah sehingga dapat diketahui jenis dan tingkat masukan yang harus diberikan untuk meningkatkan kesuburan tanahnya. Hasil analisa ini digunakan untuk penilaian kesesuaian lahannya. 1. Penilalan Kesuburan Tanah Penilaian Kesuburan Tanah mengacu pada kriteria Pusat Penelitian Tanah (1983) berdasarkan hasil analisa laboratorium dan sejumlah contoh komposit dan profil tanah. Jenis analisa yang perlu ditakukan untuk contoh profil dan kesuburan adalah sebagai berikut:

JENIS ANALISA

CONTOH PROFIL

CONTOH KESUBURAN

KETERANGAN

Tekstur dalam 3 fraksi PH (H2O dan KCL 1:1) Total P Total K Kapasitas Kation/KTK Kejenuhan Basa (KB) Ca, Mg, K, Na dapat ditukar Total N C Organik P Tersedia Al, H dapat ditukar Kadar abu Tukar

Contoh kesuburan secara kualitatif dilakukan di lapangan dengan menggunakan Soil Test Kit

Keterangan : () = Dilakukan, (-) = Tidak Dilakukan

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3 - 11

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

Persentase Kejenuhan Aluminium (ASP) maksimum pada lapisan tanah sebesar 40% dianggap memenuhi syarat tumbuh setiap jenis tanaman, sehingga aplikasi kapur pendahuluan dihitung untuk mencapai angka tersebut.

2. Evaluasi Kesesuaian Lahan Evaluasi kesesuaian lahan dilakukan untuk menilai potensi dan faktor pembatas serta masukan-masukan yang diperlukan guna meningkatkan produktivitas lahan bagi pengembangan berbagai komoditas pertanian. Penilaian dilakukan secara aktual dan potensial terhadap masing-masing SPL untuk penggunaan padi sawah, tanaman pangan lahan kering dan tanaman tahunan serta beberapa komoditi yang direkomendasikan berdasarkan kondisi spesifik lokasi. Kriteria penilaian mengacu pada Kriteria Kesesuaian Lahan Untuk Komoditas Pertanian, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Tahun 2000. Hasil analisa kesesuaian lahan disajikan dalam bentuk Peta Kesesuaian Lahan skala 1: 10.000 pada seluruh areal survai dan 1: 5.000 untuk calon LP.

2.3.2. Analisa Tata Ruang


Analisa ini dimaksudkan untuk mencari bentuk struktur tata ruang permukiman dan pola penggunaan lahan yang paling optimal berdasarkan kondisi lapangan yang diketahui dan berbagai informasi/analisa lainnya. Beberapa sasaran yang ingin dicapai dan proses analisa ini adalah: Delineasi areal studi yang layak untuk dikembangkan sebagai lahan pekarangan, Fasifitas Umum, dan Lahan Plasma Perkiraan daya tampung calon permukiman Pola pengelompokan perumahan dan fasilitas umum Pola jaringan jalan (lay Out)

Hasil analisa tata ruang merupakan masukan dalam proses penyusunan RTSP Pendahuluan yang akan dijadikan arahan untuk melakukan pengukuran yang lebih detail (rintisan 250 m dan 125 m) pada calon Lahan Pekarangan dan Fasilitas Umum. Pola tata ruang yang telah dirumuskan di atas, kemudian disempurnakan berdasarkan hasil pengukuran detail. Hasil evaluasi ini menjadi masukan untuk menetapkan bentuk RTSP definitif.
Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3 - 12

LAPORAN PENDAHULUAN

DINSOSNAKERTRANS KAB. NUNUKAN

2.4. PENYUSUNAN LAPORAN DAN ALBUM PETA


Penyusunan laporan dan Album Peta pada pekerjaan Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) dan Rencana Teknis Jalan (RTJ) Desa Plaju ini mengacu pada ketentuan dalam Kerangka Acuan Kerja yang telah disusun oleh Dinas Sosial, Tenaga Kerja dan Transmigrasi T.A. 2013.

Penyusunan Rencana Teknis Satuan Permukiman (RTSP) Desa Plaju Kecamatan Sembakung, Kabupaten Nunukan T.A. 2013

3 - 13