Anda di halaman 1dari 7

1

Sistem Kontrol PV-Baterai Berbasis Fuzzy Logic


untuk Pembangkit Terdistribusi

Muhammad Rizal Falfi, Mochamad Ashari, Heri Suryoatmojo
Jurusan Teknik Elektro FTI-ITS
Abstrak - Energi terbarukan (renewable energy) dapat
digunakan sebagai Distributed Generation System (DGS).
Sistem pembangkit terdistribusi (DGS) merupakan suatu sistem
dan instalasi yang langsung terhubung ke sistem distribusi.
Salah satu sumber DG adalah photovoltaic (PV). Dalam
pengoperasiannya PV mempunyai efisiensi rendah jika tidak
dilakukan pelacakan titik daya maksimum (Maximum Power
Point Tracking) atau dikenal dengan MPPT.
Dalam Tugas Akhir ini dilakukan studi MPPT untuk sistem
PV dengan metode artificial intelligent yaitu Fuzzy Logic.
Dengan menggunakan Iradiasi matahari dan daya PV sebagai
masukan dan referensi sebagai keluaran akan didapatkan daya
PV maksimum. Disamping itu dibahas mengenai pemodelan
boost converter, dan single phase inverter menggunakan
Matlab/Simulink. Dari salah satu hasil simulasi menunjukkan
pada saat irradiasi 800 W/m
2
, beban rata-rata tanpa MPPT
1392.02 Watt sedangkan daya beban rata-rata menggunakan
MPPT 2719.57 Watt, rasio daya rata-rata tanpa MPPT 44.29 %
dan rasio daya rata-rata menggunakan MPPT 86.53 %.
Kata kunci-MPPT, pembangkit terdistribusi, PV, rasio daya

I. PENDAHULUAN
asalah energi mempunyai kecondongan untuk selalu
meningkat dan berkembang, termasuk antara propinsi di
dalam negara berkembang itu sendiri. Beberapa negara kaya
diberkahi dengan sumber energi yang baru akan habis setelah
beberapa dasawarsa lagi [1]. Disamping itu, perkembangan
teknologi tentang sumber energi terbarukan dikombinasikan
dengan berkembangnya perhatian masyarakat akan isu-isu
lingkungan maka Distributed Generation System (DGS) yang
terhubung dengan grid telah banyak digunakan.
Cadangan energi fosil yang semakin menipis dan
munculnya krisis energi menjadikan manusia berlomba untuk
mencari sumber energi alternatif. Beberapa teknologi telah
diterapkan dalam aplikasi distributed generation (DG) dengan
berbagai sumber energi terbarukan. Diantaranya adalah turbin
angin, tenaga air berskala kecil (mikrohidro), biomassa,
photovoltaic (PV), dan fuel cell [2].
Salah satu sumber energi terbarukan adalah photovoltaic
(PV) atau yang lebih dikenal sebagai sel surya merupakan
suatu alat yang dapat mengubah energi cahaya matahari
menjadi energi listrik. Penggunaan PV juga tidak bisa lepas
dari masalah, masalah yang dihadapi adalah daya keluaran
dari PV yang seringkali tidak mencapai maksimal dari daya
maksimal yang sebenarnya bisa dikeluarkan oleh PV[3].
Besarnya beban yang terhubung pada PV sangat
mempengaruhi daya keluaran PV. Agar PV dapat
mengeluarkan daya yang mendekati daya maximum point
(disebut juga daya maximum nameplate) , maka PV harus
dihubungkan dengan MPPT.
Pada tugas akhir ini akan disimulasikan sistem MPPT
dengan menggunakan artificial intelligent, berupa Fuzzy
Logic Controller. Dalam sistem ini, PV disambungkan ke
boost converter melalaui MPPT dan sebelum terhubung ke
grid PV disambungkan melalui inverter. Sistem PV ini
dilengkapi juga dengan baterai Lead Acid yang berfungsi
untuk membantu sel surya memberikan daya tambahan pada
grid karena kondisi tingkat iradiasi dan suhu yang tidak
menentu.

II. MPPT DALAM SISTEM PV-GRID
A. Karakteristik PV
Sel surya atau PV merupakan suatu devais
semikonduktor yang dapat menghasilkan listrik jika diberikan
sejumlah energi cahaya. Adapun karakteristik besarnya daya
yang dapat dikeluarkan oleh PV bergantung pada besarnya
intensitas cahaya yang mengenai permukaan PV dan suhu
pada permukaan PV[4], Gambar 1 dan Gambar 2
menunjukkan pengaruh besarnya intensitas cahaya matahari
dan suhu pada sel surya.










Gambar 1. Pengaruh Intensitas Cahaya Matahari terhadap Sel Surya Grafik I-
V (kiri) dan Grafik P-V (kanan)











Gambar 2. Pengaruh Suhu terhadap Sel Surya Grafik I-V (kiri) dan Grafik P-
V (kanan)

Pemodelan PV yang kita gunakan pada tugas akhir ini
dapat dilihat pada Gambar 3 [4].






M

2










Gambar 3. Rangkaian Ekivalen PV (Sel Surya)

Persamaan yang didapat dari rangkaian PV pada Gambar
3 adalah :
|
|
.
|

\
| +

(
(

=
|
.
|

\
| +
P
S nkT
IR V
q
O SC
R
R I V
e I I I
S
1 (1)
Dalam persamaan diatas, besarnya hambatan paralel
diasumsikan sangat besar, sehingga persamaan untuk model
arus output sel surya adalah [3]:
( )
( ) 1
/
=
+ nkT IR V q
O L
S
e I I I (2)
( )
( ) ( )
1 0
1
1
T T K I I
T L L
+ = (3)
( ) ( ) ( ) nom nom T SC T L
G I G I /
, 1 1
- = (4)
( ) ( )
( ) ( )
1 2 1 2 0
/ T T I I K
T SC T SC
= (5)
( )
( ) ( )
1
/ 1 / 1 / / 3
1 ) 1 ( 0
/
T T nk qV n
T O
g
e T T I I
-
- - = (6)
) /(
1 ) 1 (
/
) 1 ( ) 1 (
nkT qV
T SC T O
T OC
e I I = (7)
V V S
X dI dV R
OC
/ 1 / = (8)
1 ) 1 (
/
1 ) 1 (
/
nkT qV
T O V
T OC
e nkT q I X - - = (9)

Pada Tugas Akhir ini digunakan panel surya BPSSX60
dengan spesifikasi ditunjukkan pada Tabel I dengan keluaran
daya maksimum 60 Watt dan terdiri dari 36 PVdengan diode
jenis crystalline yang dirangkai secara seri.

Tabel I
Parameter Panel Surya BPSX-60


Untuk mendapatkan besar tegangan dan arus dengan nilai
tertentu pada sel surya, maka harus dilakukan pemasangan PV
secara seri dan paralel. Persamaan arus keluaran PV model
[4]:
(
(

|
|
.
|

\
| +
=
C
t SM
M M
S
M
OC
M
M
SC
M
V N
I R V V
I I exp 1
(10)
Dimana :
C
SC PM
M
SC
I N I =


(11)
C
OC SM
M
OC
V N V =
(12)

C
S
PM
SM M
S
R
N
N
R =
(13)

q nkT V
C
t
/ =
(14)
Pemodelan PV pada Matlab untuk tugas akhir ini
ditunjukkan pada Gambar 4.

B. MPPT Controller
Maximum Power Point Tracker (MPPT) digunakan untuk
mendapatkan nilai tegangan dan arus yang optimal sehingga
didapat daya keluaran yang maksimal dari suatu sel surya.
Daya keluaran yang maksimal ini akan menghasilkan rasio
daya yang tinggi dan mengurangi rugi-rugi suatu sel surya [4].
Fuzzy logic dalam penggunaan MPPT mempunyai
keuntungan dalam menghadapi ketidaktentuan dan
ketidaktelitian. Dalam MPPT controller ini akan didasarkan
pada penerapan logika fuzzy ini dan terdiri dari dua bagian
yaitu fuzzifikasi dan fuzzy rule [5].


Gambar 4. Model Sel Surya pada Matlab

Fuzzifikasi
Seperti ditunjukkan pada Gambar 5, pada bagian
masukan ada dua yaitu Iradiasi (I
r
) dan daya PV (P
PV
). Ir
mempunyai tiga fungsi segitiga yaitu A, B, dan C dengan nilai
antara 0 - 1000 dan untuk P
PV
mempunyai empatbelas fungsi
segitiga yaitu A, B, C, D, E, F, G, H, I, J, K, L, M, dan N
dengan nilai antara 0 4100. Sedangkan untuk nilai kelauaran
tegangan referensi (D) mempunyai tujuh fungsi segitiga yaitu
A, B, C, D, E, F, dan G dengan nilai antara 0 1.


3

1
0.5
Ir
(a)
Ppv
(b)
4000 3800 3600 3400 3200 3000 2800 2600 2400 2200
0
1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100
0 1
0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1
1
0.5
0
1
0.5
0
D
(c)

Gambar 5. Fungsi Keanggotaan (a) input Ir, (b) input PPV, (c) output D.

Fuzzy Rules
Dalam Tugas Akhir, syntax if-then selalu digunakan
untuk mengespresikan fuzzy rules. Untuk MPPT ini
menggunakan total 16 rule base seperti yang ditunjukkan
dibawah.

If Ir = A and P
PV
= A, then D = G
If Ir = A and P
PV
= B, then D = D
If Ir = A and P
PV
= C, then D = E
If Ir = A and P
PV
= D, then D = C
If Ir = B and P
PV
= A, then D = G
If Ir = B and P
PV
= E, then D = G
If Ir = B and P
PV
= F, then D = B
If Ir = B and P
PV
= G, then D = C
If Ir = B and P
PV
= H, then D = A
If Ir = C and P
PV
= A, then D = G
If Ir = C and P
PV
= N, then D = G
If Ir = C and P
PV
= I, then D = F
If Ir = C and P
PV
= J, then D = A
If Ir = C and P
PV
= K, then D = F
If Ir = C and P
PV
= L, then D = D
If Ir = C and P
PV
= M, then D = C

C. Konverter Boost
Boost konverter digunakan untuk menaikkan tegangan
DC [6]. Adapun gambar rangkaian dari buck boost konverter
diperlihatkan pada Gambar 6. Adapun persamaan yang
digunakan untuk mencari besarnya tegangan output :
D
V
V
in
O

=
1
(15)
Boost konverter ini dioperasikan pada mode CCM
(Continous Conduction Mode), oleh karena itu parameter
komponen yang digunakan diperoleh melalui persamaan :
( )
DR
f
D
L

=
2
1
2
min
(16)
Sedangkan untuk besarnya nilai kapasitor kita gunakan
persamaan :
f R V
D V
C
R
O


= (17)

Gambar 6. Gambar Rangkaian Boost





Gambar 7. Pemodelan MPPT secara Keseluruhan

Gambar 8. Konverter Boost pada Matlab

D. Inverter
Dalam tugas akhir, ini inverter digunakan untuk
mentransformasi tegangan dari DC mennjadi AC. Karena
pada sistem ini PV tersambung pada grid. Inverter yang
digunakan adalah full wave inverter satu fasa dengan sistem
closed loop dengan mengambil referensi berupa tegangan
dibandingkan dengan tegangan keluaran. Pemodelan inverter
dalam tugas akhir ini ditunjukkan pada Gambar 9.



Sistem MPPT

4

E. Rasio Daya PV
Rasio daya PV adalah perbandingan antara daya beban
dengan daya max nameplate dengan cara membagi daya
beban dengan daya maksimal yang bisa dikeluarkan oleh PV.
Semakin tinggi nilai rasio daya, maka semakin baik dan
semakin efisien kinerja dari suatu PV [4].
Rasio Daya Rata-Rata diberikan oleh persamaan (18):

=
=
n
i
i
T
P
P
n
1 max
1
q (18)

Gambar 9. Pemodelan inverter

III. KONFIGURASI SISTEM
Sistem PV-grid yang digunakan pada tugas akhir ini
diperlihatkan pada Gambar 10. Sistem PV-grid yang
diperlihatkan oleh Gambar 10 terdiri dari 6 bagian penting,
diantaranya adalah: PV, MPPT, Baterai, konverter boost,
inverter, dan grid.

IV. PENGUJIAN SISTEM DAN ANALISIS DATA
A. Nilai-Nilai Parameter dalam Simulasi
a. Suhu yang digunakan = 25
0
C
b. - Daya Wattpeak PV = 4000 W (Saat intensitas cahaya
matahari = 1000 W/m
2

- Tegangan PV = 222 volt (saat kondisi wattpeak)
c. Konverter Boost
1. Induktor = 5 mH
2. Kapasitor = 10 mFarad
3. Frekuensi switching = 30 kHz
d. Baterai
1. Tegangan = 240 volt
2. Ah Baterai = 352.940 Ah
e. Inverter
- Tegangan referensi = 2202 V
- Induktor = 50 mH
- Kapasitor = 110
-5
F
f. Grid
- Tegangan grid = 2202 V
- Induktor (link) = 510
-5
H

B. Pengujian Model PV Dihubungkan dengan Beban
Bervariasi
Pengujian ini digunakan untuk mengetahui karakteristik
dari model PV. Adapun karakteristik dari PV dapat dilihat
dari kurva hubungan antara arus-tegangan (I-V) dan kurva
hubungan daya-tegangan. Pengujian model PV untuk
mengetahui karakteristik I-V dan P-V ini dapat dilakukan
dengan menghubungkan PV dengan beban yang bervariasi
antara 0.001 1000 . Pengujian dilakukan pada tiga
keadaan intensitas sinar matahari yakni 600 W/m
2
, 800 W/m
2
,
dan 1000 W/m
2
.

Tabel II
Data Daya Max Nameplate, Vmp, Imp, dan Voc
Gambar 12. Grafik Perbandingan Tegangan dan Daya

Gambar 11. Grafik Perbandingan Tegangan dan Arus
0
1000
2000
3000
4000
5000
0 100 200 300
D
a
y
a

(
W
)
Tegangan (V)
Grafik Tegangan vs Daya
1000 W/m2 800 W/m2 600 W/m2
0
5
10
15
20
0 100 200 300
A
r
u
s

(
A
)
Tegangan (V)
Grafik Tegangan vs Arus
1000 W/m2 800 W/m2 600 W/m2
Iradiansi
(kW/m
2
)
Pmax
nameplate
(W)
Vmp
(V)
Imp (A) Voc (V)
Ioc
(A)
0.6 2290 222 10.31 281.56 11.61
0.8 3143 228 13.78 288.97 15.48
1 4011 234 17.14 294.77 19.35

5









Gambar 10. Pemodelan Seluruh Sistem

A. Pengujian Model PV Dihubungkan dengan MPPT
dan Beban Bervariasi
Pengujian ini dilakukan dengan menghubungkan model
PV dengan hambatan yang nilainya berubah. Pengujian ini
dilakukan pada dua kondisi, yakni sebelum menggunakan
MPPT dan setelah menggunakan MPPT. Adapun data yang
akan dianalisis adalah rasio daya PV sebelum dan sesudah
menggunakan MPPT. Pengujian dan analisis dilakukan pada
tiga keadaan intensitas sinar matahari yakni 600 W/m
2
, 800
W/m
2
, dan 1000 W/m
2
.

Tabel III
Daya Rata-Rata tanpa MPPT dan Menggunakan MPPT dengan Beban
Bervariasi

Berdasarkan Tabel III. Terlihat bahwa daya rata-rata PV
adalah
Daya Rata-Rata tanpa MPPT = 1738.19 W
Daya Rata-Rata menggunakan MPPT = 2823.97 W

Tabel IV
Rasio Daya Rata-Rata tanpa MPPT dan Menggunakan MPPT dengan Beban
Bervariasi

Analisis Rasio Daya Rata-Rata PV
Berdasarkan Tabel IV, rasio daya rata-rata PV adalah
Rasio Daya Rata-Rata tanpa MPPT = 47.99%
Rasio Daya Rata-Rata menggunakan MPPT = 90.30 %

Dari hasil simulasi PV yang dihubungkan dengan beban
bervariasi, MPPT terbukti dapat meningkatkan rasio daya
rata-rata PV karena sebelum menggunakan MPPT , PV
memiliki rasio daya rata-rata sebesar 47.99 %, sedangkan
setelah menggunakan MPPT rasio daya rata-rata PV
meningkat menjadi 90.30 %.
Penggunaan MPPT pada PV dapat digunakan untuk
mengatasi perubahan daya yang diakibatkan perubahan dari
beban yang terhubung pada PV.

Gambar 12. Grafik Perbandingan Iradiasi dan Daya Rata-rata


Gambar 13. Grafik Perbandingan Iradiasi dan Rasio Daya Rata-rata

B. Pengujian Model PV Dihubungkan dengan MPPT
dan Grid
Dalam pengujian ini dilakukan dengan menggabungkan
semua komponen dari sel surya sampai grid. Pemodelan
sederhana pengujian dapat ditunjukkan pada Gambar 14.

Ir
PV
Boost Converter
FLC
Duty Cycle
Inverter Satu
fasa
P
grid
Beban
Ir
Gambar 14. Pengujian Sistem dengan Variasi Beban

0
1000
2000
3000
4000
500 600 700 800 900 1000
D
a
y
a

(
W
)
Iradiasi (W/m^2)
Grafik Iradiasi vs Daya Rata-rata
Pmaks tanpa MPPT dengan MPPT
0
20
40
60
80
100
500 600 700 800 900 1000
R
a
s
i
o

D
a
y
a

(
%
)
Iradiasi (W/m^2)
Grafik Iradiasi vs Rasio Daya Rata-rata
tanpa MPPT dengan MPPT
Irad (kW/m^2) Pmax
(W)
P PV tanpa
MPPT (W)
P PV dengan
MPPT (W)
0.6 2290 940.53 2187.33
0.8 3143 1392.03 2719.57
1 4011 2882 3565
Irad
(W/m^2)
Rasio Daya rata-rata
tanpa
MPPT (%)
Rasio Daya rata-rata
dengan
MPPT (%)
600 29.37 95.54
800 44.29 86.53
1000 70.32 88.84

7

Dari hasil pengujian dengan memvariasikan beban
anatara 20 200 dengan tingkat intensitas cahaya matahari
1000 W/m
2
dan suhu ambient 25C didapatkan grafik pada
Gambar 15 dan Gambar 16. Terlihat pada Gambar 15 dengan
menggunakan MPPT daya di bagian konverter relatif konstan
tidak terpengaruh dengan beban yang berubah-ubah. Hal
tersebut berbanding terbalik dengan P
out
pada sistem yang
mengalami penurunan secara linier sesuai dengan perubahan
beban. Hal tersebut karena semakin meningkatnya beban
maka P
loss
akan meningkat, sehingga menyebabkan nilai P
out
semakin menurun.
Sedangkan pada Gambar 16 menunjukkan grafik
yang hampir sama yaitu efek perubahan beban dan pengaruh
terhadap efisiensi. Efisiensi dipengaruhi oleh perubahan dari
nilai dari beban. Berdasarkan persamaan
=

100% (18)


Gambar 15. Grafik Perbandingan antara Pconv dan Pout


Gambar 16. Grafik Hubungan Beban dengan Efisiensi

Maka dengan mengasumsikan bahwan P
in
= P
conv
dan
P
out
adalah daya keluaran sistem, maka karena P
loss
semakin
meningkat sehingga nilai dari P
out
semakin turun,. Dari
Persamaan 18 didapat efisiensi berbanding lurus dengan P
out.

Dari grafik tersebut didapatkan kesimpulan bahwa semakin
besar nilai dari beban maka akan terjadi penurunan terhadap
efisiensi.





V. KESIMPULAN
1. Semakin besar tingkat intensitas cahaya matahari
(W/m
2
) yang diterima oleh kombinasi PV maka semakin
tinggi nilai daya maksimum yang dihasilkan oleh PV.
2. Nilai daya PV ketika dipasang seri sebanyak 14 buah
kemudian di paralel sebanyak 5 kali, didapatkan daya
maksimum pv sebesar 4011 W dengan intensitas cahaya
matahari 1000 W/m
2
dan suhu 25

C.
3. Dari hasil simulasi, daya beban rata-rata tanpa MPPT =
1738.19 W sedangkan daya beban rata-rata
menggunakan MPPT = 2823.97 W.
4. MPPT dapat digunakan untuk meningkatkan rasio daya
PV. Rasio daya rata-rata tanpa MPPT = 47.99 % dan
rasio daya rata-rata menggunakan MPPT = 90.30 %.
5. Untuk pengujian sistem dengan variasi beban didapatkan
bahwa ketika beban semakin meningkat maka daya
konverter hampir konstan. Sedangkan daya output dan
efisiensi menurun.
6. Sel surya dapat digunakan sebagai catu daya yang
terhubung ke grid dengan dilengkapi baterai sebagai
backup sel surya.

DAFTAR PUSTAKA
[1] Hajizadeh, Amin and Golkar, Masoud Aliakbar, Control Of Hybrid
Fuel Cell/Energy Storage Distributed Generation System Against
Voltage Sag, Electrical Power and Energy System, pp. 488-497, Iran,
September, 2009.
[2] Mostavan, Aman, Catatan Kuliah : Konversi Energi, ITB, Bandung,
2005.
[3] Messenger, Roger A. Ventre, Jerry, Photovoltaic Systems
Engineering, second edition, CRC Press, 2003.
[4] T. Tafticht, K. Agbossou, M.L. Doumbia, A. Cheriti, An Improved
Maximum Power Point Tracking Method for Photovoltaic Systems,
Elsevier Renewable Energy 33, 1508-1516, October, 2007.
[5] Chang, Yuen-Haw, dan Chang, Chia-Yu, Maximum Power Point
Tracking of PV System by Scaling Fuzzy Control, Proceeding
IMECS, Hong Kong, March, 2010.
[6] Rashid M.H, Power Electronics Handbook, Academic Press, 2007.


Muhammad Rizal Falfi dilahirkan di Gresik,
3 Mei 1989. Penulis adalah putra dari pasangan M.
Yasin dan Astikah. Penulis memulai jenjang
pendidikan di SDN Karang-Kiring Gresik, SLTPN 1
Gresik, serta SMAN 1 Gresik hingga lulus tahun 2007.
Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan
ke jenjang perguruan tinggi dan diterima di Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya pada Jurusan
Teknik Elektro, dan kemudian mengambil bidang studi
Teknik Sistem Tenaga. Semasa kuliah, penulis juga aktif dalam organisasi
kemahasiswaan Badan Eksekutif Mahasiswa ITS (BEM ITS) dan Himpunan
Mahasiswa Teknik Elektro (HIMATEKTRO) serta sebagai Asisten
Laboratorium Konversi Energi Listrik. Selain itu, semasa kuliah penulis
pernah mendapatkan dana hibah DIKTI untuk PKM dalam bidang
Pengabdian Masyarakat dan beasiswa penuh dari Eka Tjipta Foundation
selama empat tahun.
0
1000
2000
3000
4000
0 50 100 150 200
D
a
y
a

(
W
)
Beban (Ohm)
Grafik Beban vs Daya (W)
Pconv Pout
0.00%
20.00%
40.00%
60.00%
80.00%
100.00%
0 50 100 150 200
E
f
i
s
i
e
n
s
i
Beban (Ohm)
Grafik Beban vs Efisiensi
6

8


7