Anda di halaman 1dari 6

BAB II ANALISIS MENDALAM

Berdasarkan penelitian Ramandita (2013) di lapangan mengenai Peran Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dalam Mendukung ProgramProgram Pemerintah Kota Bontang, yaitu: pertama, fasilitator dalam mendukung program pemerintah Kota Bontang belum optimal disebabkan karena kurangnya partisipasi masyarakat sepenuhnya dalam berorganisasi dan kurangnya

pemahaman masyarakat tentang pentingnya PKK dalam keluarga. Hal tersebut disebabkan karena ada berbagai macam alasan seperti tidak adanya waktu masyarakat untuk ikut melaksanakan kegiatan PKK, tidak adanya imbalan dana dalam setiap kegiatan PKK yang merupakan tidak ada untungnya buat mereka, dan tidak adanya transportasi untuk menuju lokasi pelaksanaan kegiatan PKK. Kurangnya penyuluhan dan sosialisasi tentang pentingnya peran PKK di dalam keluarga juga kurang optimal, inilah sebab mengapa mereka belum paham akan pentingnya kegiatan berorganisasi khususnya untuk pelaksanaan 10 Program Pokok PKK yang merupakan program yang tidak lepas dari program pemerintah Kota Bontang (1). Selain itu, kurangnya perhatian pemerintah dalam memberikan fasilitas untuk pelaksanaan kegiatan PKK untuk mendukung program-program pemerintah Kota Bontang. Ketiadaan tempat sekretariat PKK di Kecamatan dikarenakan tidak adanya ruangan yang tersisa di Kecamatan, karena ruangan di Kecamatan rata-rata digunakan untuk kegiatan Kecamatan itu sendiri. Sedangkan di Kelurahan sejauh ini rata-rata sudah memiliki tempat sekretariat PKK untuk kelangsungan kegiatan PKK walaupun kegiatannya masih bersatu di Kelurahan dan Kecamatan tetapi Pengurus PKK berusaha semaksimal mungkin untuk mengatur kegiatan PKK tersebut. Seluruh Pengurus TP PKK Kota Bontang berusaha semaksimal mungkin Pemerintah Kota Bontang untuk menangani masalah keberadaan status bangunan kelurahan yang masih menyewa dan berpindah-pindah, agar terwujudnya kegiatan PKK dan kegiatan Kelurahan yang kondusif dan berjalan lancar serta mengenai

kelompok masyarakat sebagai sasaran utama dalam peningkatan pembangunan (1). Mendasarkan pada kenyataan tersebut, maka upaya optimalisasi peran TP PKK dalam membangun keluarga sehat berketahanan paling tidak harus menyentuh tiga substansi yang mendasar yaitu: (1) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan TP PKK melalui pendidikan dan pelatihan, orientasi, seminar dan sejenisnya yang dilakukan oleh TP PKK di level yang lebih tinggi dengan memanfaatkan tenaga-tenaga yang ahli di bidangnya; (2) Meningkatkan sumbersumber pendanaan untuk memperlancar kegiatan TP PKK baik melalui APBDes, APBD maupun APBN. Menurut Permen No.1 Tahun 2013, Pendanaan pemberdayaan masyarakat melalui Gerakan PKK bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota, Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa dan lain-lain sumber pendanaan yang sah dan tidak mengikat. Selain itu bila memungkinkan, dukungan dana dari para pengusaha atau donatur lainnya juga sangat diperlukan terutama untuk membiayai berbagai kegiatan yang mengerahkan massa seperti bazar, pasar murah, pameran produk dan sebagainya; (3) Guna mengatasi keterbatasan waktu dan tenaga, TP PKK perlu mendidik secara profesional tenaga penyuluh yang khusus untuk membantu tugas-tugas KIE-konseling yang diemban oleh TP PKK. Tenaga penyuluh yang dimaksud berposisi seperti Juru Penerang (Jupen) sehingga kebijakan dan program maupun kegiatan yang hendak dijalankan oleh TP PKK Desa dapat segera diketahui oleh masyarakat umum maupun anggota PKK di seluruh pelosok wilayah (2,3). Bila ketiga upaya tersebut dapat dilakukan, maka diyakini akan mampu mengoptimalkan fungsi dan peran TP PKK dalam membangun keluarga sehat berketahanan terlepas dari tantangan dan permasalahan lain yang dihadapi. Dengan optimalnya peran TP PKK, maka program-program dan kegiatan yang memiliki daya ungkit tinggi untuk menuju keluarga yang sehat dan berketahanan akan dapat dicapai dengan mudah, termasuk dalam rangka mengatasi berbagai persoalan yang membuat keluarga sulit untuk mencapai kesejahteraannya. Seiring

dengan visi program KB yang baru yakni Seluruh Keluarga Ikut KB dan misi Mewujudkan Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera sudah selayaknya bila upayaupaya memberdayakan TP PKK agar dapat fungsi dan perannya dapat lebih optimal, kita dukung bersama. Terlebih kita telah samasama menyadari bahwa TP PKK memiliki andil yang sangat besar untuk ikut mewujudkan keluarga yang sehat dan berketahanan (2). Dalam terjaminnya peningkatan upaya optimalisasi peran TP PKK terhadap program pemerintah Kota Bontang yang diberikan kepada masyarakat hendaknya untuk meminta atau upaya lain untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.Selain itu juga, selalu menjaga hubungan yang baik dengan warga dan berupaya terus menjaga tingkat kesehatan warga meskipun keadaan fasilitas untuk pelaksanaan kegiatan PKK ini kurang mendukung untuk terciptanya kelancaran kerja. Sebaiknya TP PKK selalu berkordinasi terhadap pihak pemerintah untuk menjaga ketersedian sarana dan prasarana yang diperlukan agar pihak terkait dalam upaya meningkatkan pelaksanaan kegiatan PKK (4). Sesuai dengan landasan operasional kegiatan Pemberdayaan dan

Kesejahteraan Keluarga didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: (1) Partisipatif, bahwa pengambilan keputusan dalam pengelolaan dan pengembangan dalam setiap tahapan dilakukan dengan memeransertakan semua pelaku terutama kelompok masyarakat miskin dan marginal lainnya; (2) Transparant dan akuntable, bahwa pengelolaan kegiatan harus dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh masyarakat serta dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat; (3) Keterpaduan, bahwa pengelolaan kegiatan dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh sesuai dengan potensi, kemampuan dan dukungan yang tersedia serta mengoptimalkan kerjasama antara masyarakat dengan pemerintah, pengusaha, LSM, Perguruan Tinggi, dan pelaku pembangunan lainnya secara sinergis; (4) Peningkatan Peran dan Kapasitas Perempuam, bahwa kelompok perempuan sebagai pengelola dan penerima manfaat kegiatan serta memiliki peran yang sama dalam proses pengambilan keputusan; (5) Pembelajaran, bahwa pengelolaan kegiatan ini merupakan suatu proses pembelajaran pola penanggulangan kemiskinan yang efektif berdasarkan praktek-praktek dilapangan melalui proses

transfer pengetahuan, sumber daya, teknologi dan informasi dari Perguruan Tinggi/LSM; dan (6) Sustainable, pengelolaan kegiatan dapat dilakukan secara berkelanjutan melalui pengembangan kegiatan sesuai dengan potensi, kondisi, dan kinerja yang ada serta mampu menumbuhkan peran serta masyarakat dalam manfaat, memelihara, melestarikan, dan mengembangkan kegiatan berkelanjutan (5). Para pelaksana program (pendamping, supervisor dan koordinator program) adalah ujung tombak lembaga yang bertugas sebagai pelaku pengembangan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan program berarti juga harus dibarengi dengan pengembangan staf program agar memiliki kemampuankemampuan yang dibutuhkan sebagai fasilitator dan pengorganisir. Mereka tidak akan dapat melakukan tugas ini apabila lembaga memperlakukannya sebagai penyuluh atau operator teknis, atau pelaksana kegiatan/program saja. untuk

Pengembangan staf merupakan agenda yang perlu dirancang dalam jangka panjang, baik melalui program belajar dan latihan yang terencana (formal)

maupun melalui pengembangan tradisi/kultur pembelajaran dalam proses kerja sehari-hari (6). Selain itu, pemerintah telah membuat Dasar Hukum mengenai Pelaksanaaan Kegiatan Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, yaitu (5): 1. Undang - undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan lembaran Negara Nomor 4437) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 (Lembaran Negara Tahun 2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4548); 2. Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 158, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4587);

4. Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2005 tentang Kelurahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 159, Tambahan Lembaran Negera Republik Indonesia Nomor 4593); 5. Peraturan Presiden RI Nomor 13 Tahun 2009 tentang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan; 6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahun 2007 tentang Pedoman Penataan Lembaga Kemasyarakatan; 7. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan; 8. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah; 9. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pedoman Penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2010; 10. Keputusan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor: 53 Tahun 2000 tentang Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga; 11. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 38 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Jawa Timur Tahun 2009 -2014; 12. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 10 Tahun 2010 tentang Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011; 13. Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 109 Tahun 2010

tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Provinsi Jawa Timur Tahun Anggaran 2011; 14. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor : 188/410/KPTS/013/2009, tentang Pedoman Kerja dan Pelaksanaan Tugas Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2011; 15. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor: 188/326/KPTS/013/2011 tentang Pemenang Perlombaan Desa dan Kelurahan Provinsi Jawa Timur Tahun 2011.

16. Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor : 188/

/KPTS/

........./2011

tentang Bantuan Dana Hibah Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Kelurahan Kabupaten/Kota Pemenang Perlombaan Desa dan Kelurahan Provinsi Jawa Timur;

17. Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPASKPD) Badan pemberdayaan Masyarakat Provinsi Jawa Timur tanggal 03 Januari 2011 Nomor: 914/62/213/2011.