Anda di halaman 1dari 22

BAB I PENDAHULUAN

Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak yang progresif lambat dan jarang ditemukan di Indonesia. Penyakit ini pertama kali dipaparkan oleh seorang pakar Psikiatri dan Saraf Dr Alois Alzheimer di Jerman pada 19 !. Penyakit Alzheimer ditandai dengan kemerosotan daya pikir" daya ingat" kemampuan berbahasa" dan kemampuan otak pun merosot sedikit demi sedikit. Penyakit Alzheimer bertanggung ja#ab atas lebih dari ! $ dari semua penyebab demensia Di Amerika serikat % &' $ pasien demensia kelompok usia di atas ' tahun disebabkan penyakit Alzheimer. Insidensi demensia 1(! kasus per 1 . penduduk" 1)* kasus per 1 .

penduduk menderita penyakit Alzheimer. Insidensi penyakit meningkat dengan bertambahnya usia harapan hidup masyarakat. Sebuah analisis menunjukkan" saat ini )'"' juta orang di seluruh dunia mengalami penyakit Alzheimer dan angka ini dapat meningkat lebih dari 1 juta orang pada tahun ) % .

Penyakit ini bisa terjadi pada usia + tahun" tetapi yang paling sering pada usia diatas ' tahun. Pada usia muda biasanya ada kaitannya dengan faktor

keturunan. Akan tetapi" pada usia lanjut terjadi karena adanya proses penuaan di otak. Pada orang berusia (% tahunan" angka kejadiannya dapat men,apai * &*%$. -amun pada usia '% tahun" *&%$ disebabkan oleh proses diotak tadi" banyak yang rusak" mati dan mengkerut. .rekuensi penyakit pada laki&laki dan #anita sama. Insidensi di Indonesia tidak diketahui. Pada usia lanjut" penyakit Alzheimer sulit dibedakan dengan gejala&gejala neurologik akibat proses penuaan. /ejala demensia yang 1

disebabkannya mirip dengan yang disebabkan penyakit syaraf lain dan psikiatri. 0esalahan diagnosis men,apai 1 &* $ Se,ara klinis" pasien mula&mula menunjukkan kegelisahan dan agitasi dan kemudian dalam #aktu 1 tahun memperlihatkan gangguan memori yang progresif dan berat" konfusi" disorientasi" dan tanda serta gejala demensia lainnya. 1anda neurologik tidak selalu ada dan kebanyakan ringan saja 2 tanda pyramidal" ekstrapiramidal" anomaly tonus otot" otomatisme oral" dan lain&lain. 1ak seperti di Amerika Serikat" sebagian besar masyarakat Indonesia justru masih menganggap Alzheimer atau penyakit pikun adalah hal yang alamiah. 1idak mengherankan" banyak penderita Alzheimer yang diterlantarkan anaknya. Atau sebaliknya" anak tak mengerti bah#a orang tuanya menderita penyakit itu" sehingga sang anak malah merasa tersisihkan. 0esalahan persepsi itulah yang menyebabkan pentingnya pemahaman yang lebih tentang penyakit Alzheimer. 1injauan pustaka ini diharapkan dapat memberikan sedikit penjelasan dan pemahaman tentang penyakit Alzheimer.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Definisi Alzheimer adalah penyakit degeneratif otak yang progresif lambat akibat kematian sel&sel otak dan umumnya menyebabkan kemunduran fungsi intelektual atau kognitif" yang meliputi kemunduran daya mengingat dan proses berpikir. Perilaku yang sering dialami demensia ini adalah mudah lupa atau pikun. Insidensi Penyakit alzheimer merupakan penyakit neurodegeneratif yang se,ara epidemiologi terbagi ) kelompok yaitu kelompok yang menderita pada usia kurang %( tahun disebut sebagai early onset sedangkan kelompok yang menderita pada usia lebih dari %( tahun disebut sebagai late onset. Penyakit alzheimer dapat timbul pada semua umur" 9'$ kasus dijumpai setelah berusia + tahun keatas. S,hoenburg dan 3oleangus 419(!5 melaporkan . pada usia * &% tahun" 9%"(61 . . pada pada pada populasi sekitar * insidensi berdasarkan umur2 +"+61 kelompok usia ' &'9 tahun" *)

usia 7 ( tahun. Angka pre8alensi penyakit ini per 1 usia ( tahun. Diperkirakan pada tahun )

pada kelompok usia ! &!9 tahun" dan 1 .(

terdapat ) juta penduduk penderita

penyakit alzheimer. Sedangkan di Indonesia diperkirakan jumlah usia lanjut berkisar" 1("% juta orang dengan angka insidensi dan pre8alensi penyakit alzheimer belum diketahui dengan pasti. 9erdasarkan jenis kelamin" pre8alensi #anita lebih banyak tiga kali dibandingkan laki&laki. :al ini mungkin refleksi dari usia harapan hidup #anita lebih lama dibandingkan laki&laki. Dari beberapa penelitian tidak ada perbedaan terhadap jenis kelamin.

Gbr. 3 Penyakit Alzheimer Etiologi Penyebab yang pasti belum diketahui. 9eberapa alternatif penyebab yang telah dihipotesa adalah intoksikasi logam" gangguan fungsi imunitas" infeksi 8irus" polusi udara6industri" trauma" neurotransmiter" defisit formasi sel&sel filament" presdiposisi heriditer. Dasar kelainan patologi penyakit alzheimer terdiri dari degenerasi neuronal" kematian daerah spesifik jaringan otak yang mengakibatkan gangguan fungsi kognitif dengan penurunan daya ingat se,ara progresif. Adanya defisiensi faktor pertumbuhan atau asam amino dapat berperan dalam kematian selektif neuron. 0emungkinan sel&sel tersebut mengalami degenerasi yang

diakibatkan oleh adanya peningkatan kalsium intraseluler" kegagalan metabolisme energi" adanya formasi radikal bebas atau terdapatnya produksi protein abnormal yang non spesifik. Penyakit alzheimer adalah penyakit genetika" tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bah#a peran faktor genetika" tetapi beberapa penelitian telah membuktikan bah#a peran faktor non&genetika 4lingkungan5 juga ikut terlibat" dimana faktor lingkungan hanya sebagai pen,etus faktor genetika. Patogenesa Sejumlah patogenesa pen a!it al"heime# aitu$ %& 'a!to# geneti! 9eberapa peneliti mengungkapkan % $ pre8alensi kasus alzheimer ini diturunkan melalui gen autosomal dominant. Indi8idu keturunan garis pertama pada keluarga penderita alzheimer mempunyai resiko menderita demensia ' kali lebih besar dibandingkan kelompok kontrol normal. Pemeriksaan genetika D-A pada penderita alzheimer dengan familial early onset terdapat kelainan lokus pada kromosom )1 diregio pro;imal log arm" sedangkan pada familial late onset didapatkan kelainan lokus pada kromosom 19. 9egitu pula pada penderita do#n syndrome mempunyai kelainan gen kromosom )1" setelah berumur + tahun terdapat neurofibrillary tangles 4-.15" ssenile pla<ue dan penurunan. =arker kolinergik pada jaringan otaknya yang menggambarkan kelainan histopatologi pada penderita alzheimer. :asil penelitian penyakit alzheimer terhadap anak kembar menunjukkan + & % $ adalah monozygote dan % $ adalah dizygote. 0eadaan ini mendukung bah#a faktor genetik berperan dalam penyakit alzheimer. Pada sporadik non familial 4% & ! $5" beberapa penderitanya ditemukan kelainan lokus kromosom '" keadaan ini menunjukkan bah#a kemungkinan faktor lingkungan menentukan ekspresi genetika pada alzheimer.

(& 'a!to# infe!si Ada hipotesa menunjukkan penyebab infeksi 8irus pada keluarga penderita alzheimer yang dilakukan se,ara immuno blot analisis" ternyata diketemukan adanya antibodi reaktif. Infeksi 8irus tersebut menyebabkan infeksi pada susunan saraf pusat yang bersipat lambat" kronik dan remisi. 9eberapa penyakit infeksi seperti 3reutzfeldt&Ja,ob disease dan kuru" diduga berhubungan dengan penyakit alzheimer. :ipotesa tersebut mempunyai beberapa persamaan antara lain2 a. =anifestasi klinik yang sama b. 1idak adanya respon imun yang spesifik ,. Adanya plak amyloid pada susunan saraf pusat d. 1imbulnya gejala mioklonus e. Adanya gambaran spongioform )& 'a!to# ling!ungan >kmann 419((5" mengatakan bah#a faktor lingkungan juga dapat berperan dalam patogenesa penyakit alzheimer. .aktor lingkungan antara lain" aluminium" sili,on" mer,ury" zin,. Aluminium merupakan neurotoksik potensial pada susunan saraf pusat yang ditemukan neurofibrillary tangles 4-.15 dan senile pla<ue 4SPI-A?IS5. :al tersebut diatas belum dapat dijelaskan se,ara pasti" apakah keberadaan aluminum adalah penyebab degenerasi neurosal primer atau sesuatu hal yang tumpang tindih. Pada penderita alzheimer" juga ditemukan keadan ketidakseimbangan merkuri" nitrogen" fosfor" sodium" dengan patogenesa yang belum jelas. Ada dugaan bah#a asam amino glutamat akan menyebabkan depolarisasi melalui reseptor -&methy D&aspartat sehingga kalsium akan masuk ke intraseluler 43airan&influks5 danmenyebabkan kerusakan metabolisma energi seluler dengan akibat kerusakan dan kematian neuron.

'

*& 'a!to# imunologis 9ehan dan .elman 419! 5 melaporkan ' $ pasien yang menderita alzheimer didapatkan kelainan serum protein seperti penurunan albumin dan peningkatan alpha protein" anti trypsin alphamar,oglobuli dan haptoglobuli. :eyman 419(+5" melaporkan terdapat hubungan bermakna dan meningkat dari penderita alzheimer dengan penderita tiroid. 1iroid :ashimoto merupakan penyakit inflamasi kronik yang sering didapatkan pada #anita muda karena peranan faktor immunitas. +& 'a!to# t#auma 9eberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan penyakit alzheimer dengan trauma kepala. :al ini dihubungkan dengan petinju yang menderita demensia pugilistik" dimana pada otopsinya ditemukan banyak neurofibrillary tangles. ,& 'a!to# neu#ot#ansmite# Perubahan neurotransmitter pada jaringan otak penderita Alzheimer mempunyai peranan yang sangat penting seperti2 a& Asetil!olin 9arties et al 419()5 mengadakan penelitian terhadap akti8itas spesifik neurotransmiter dengan ,ara biopsi sterotaktik dan otopsi jaringan otak pada penderita alzheimer didapatkan penurunan akti8itas kolinasetil transferase" asetikolinesterase dan transport kolin serta penurunan biosintesa asetilkolin. Adanya defisit presinaptik dan postsynapti, kolinergik ini bersifat simetris pada korteks frontalis" temporallis superior" nukleus basalis" hipokampus. 0elainan neurottansmiter asetilkoline merupakan kelainan yang selalu ada dibandingkan jenis neurottansmiter lainnyapd penyakit alzheimer" dimana pada jaringan otak6biopsinya selalu didapatkan kehilangan ,holinergik =arker. Pada penelitian dengan pemberian s,opolamine pada orang normal" akan menyebabkan berkurang atau hilangnya daya ingat. :al ini sangat mendukung hipotesa kolinergik sebagai patogenesa penyakit Alzheimer. !

-& No#ad#enalin 0adar metabolisma norepinefrin dan dopimin didapatkan menurun pada jaringan otak penderita alzheimer. :ilangnya neuron bagian dorsal lokus seruleus yang merupakan tempat yang utama noradrenalin pada korteks serebri" berkorelasi dengan defisit kortikal noradrenergik. 9o#en et al419((5" melaporkan hasil biopsi dan otopsi jaringan otak penderita alzheimer menunjukkan adanya defisit noradrenalin pada presinaptik neokorteks. Palmer et al419(!5" @einikanen 419((5" melaporkan konsentrasi noradrenalin menurun baik pada post dan ante&mortem penderita alzheimer. .& Dopamin Sparks et al 419((5" melakukan pengukuran terhadap akti8itas neurottansmiter region hipothalamus" dimana tidak adanya gangguan perubahan akti8itas dopamin pada penderita alzheimer. :asil ini masih kontro8ersial" kemungkinan disebabkan karena potongan histopatologi regio hipothalamus setiap penelitian berbeda&beda. d& Se#otonin Didapatkan penurunan kadar serotonin dan hasil metabolisme % hidro;i& indola,etil a,id pada biopsi korteks serebri penderita alzheimer. Penurunan juga didapatkan pada nukleus basalis dari meynert. Penurunan serotonin pada subregio hipotalamus sangat ber8ariasi" pengurangan maksimal pada anterior hipotalamus sedangkan pada posterior pera8entrikuler hipotalamus berkurang sangat minimal. Perubahan kortikal serotonergik ini berhubungan dengan hilangnya neuron&neuron dan diisi oleh formasi -.1 pada nukleus rephe dorsalis e& /A0 1/onoamine 0!sidase2 >nzim mitokondria =AA akan mengoksidasi transmitter mono amine. Akti8itas normal =AA terbagi ) kelompok yaitu =AA A untuk deaminasi serotonin" norepineprin dan sebagian ke,il dopamin" sedangkan =AA 9 untuk deaminasi (

terutama dopamin. Pada penderita alzheimer" didapatkan peningkatan =AA A pada hipothalamus dan frontais sedangkan =AA 9 meningkat pada daerah temporal dan menurun pada nukleus basalis dari meynert. 3ejala Klini! A#itan dari perubahan mental penderita alzheimer sangat perlahan & lahan" sehingga pasien dan keluarganya tidak mengetahui se,ara pasti kapan penyakit ini mulai mun,ul. 1erdapat beberapa stadium perkembangan penyakit alzheimer yaitu2 Stadium I 1lama pen a!it %4) tahun2 =emory 2 ne# learning defe,ti8e" remote re,all mildly impaired Bisuospatial skills 2 topographi, disorientation" poor ,omple; ,ontru,tions ?anguage 2 poor #oordlist generation" anomia Personality 2 indifferen,e"o,,asional irritability Psy,hiatry feature 2 sadness" or delution in some =otor system 2 normal >>/ 2 normal 316=@I 2 normal P>16SP>31 2 bilateral posterior hypometabolism6hyperfusion

Stadium II 1lama pen a!it )4%5 tahun2 =emory 2 re,ent and remote re,all more se8erely impaired Bisuospatial skills 2 spatial disorientation" poor ,ontru,tions ?anguage 2 fluent aphasia 3al,ulation 2 a,al,ulation Personality 2 indifferen,e" irritability Psy,hiatry feature 2 delution in some =otor system 2 restlessness" pa,ing

>>/ 2 slo# ba,kground rhythm 316=@I 2 normal or 8entri,ular and sul,al enlargeent P>16SP>31 2 bilateral parietal and frontal hypometabolism6hyperfusion

Stadium III 1lama pen a!it 64%( tahun2 Intele,tual fun,tion 2 se8erely deteriorated =otor system 2 limb rigidity and fle;ion poeture Sphin,ter ,ontrol 2 urinary and fe,al >>/ 2 diffusely slo# 316=@I 2 8entri,ular and sul,al enlargeent P>16SP>31 2 bilateral parietal and frontal hypometabolism6hyperfusion

Gbr. 4 Penyakit Alzheimer 1

K#ite#ia Diagnosis 1erdapat beberapa kriteria untuk diagnosa klinis penyakit alzheimer yaitu2 %& K#ite#ia diagnosis te#sang!a pen a!it al"heime# te#di#i da#i$ Demensia ditegakkan dengan pemeriksaan klinik dan pemeriksaan status mini mental atau beberapa pemeriksaan serupa" serta dikonfirmasikan dengan test neuropsikologik Didapatkan gangguan defisit fungsi kognisi 7) 1idak ada gangguan tingkat kesadaran A#itan antara umur + &9 tahun" atau sering 7'% tahun 1idak ada kelainan sistematik atau penyakit otak lainnya

(& Diagnosis te#sang!a pen a!it al"heime# ditunjang oleh$ Perburukan progresif fungsi kognisi spesifik seperti berbahasa" ketrampilan motorik" dan persepsi AD? terganggu dan perubahan pola tingkah laku Adanya ri#ayat keluarga" khususnya kalau dikonfirmasikan dengan neuropatologi Pada gambaran >>/ memberikan gambaran normal atau perubahan non spesifik seperti peningkatan akti8itas gelombang lambat Pada pemeriksaan 31 S,an didapatkan atropu serebri

)& 3am-a#an lain te#sang!a diagnosa pen a!it al"heime# setelah di!elua#!an pen e-a- demensia lainn a te#di#i da#i$ /ejala yang berhubungan dengan depresi" insomnia" inkontinentia" delusi" halusinasi" emosi" kelainan seksual" berat badan menurun

11

0elainan neurologi lain pada beberapa pasien" khususnya penyakit pada stadium lanjut dan termasuk tanda&tanda motorik seperti peningkatan tonus otot" mioklonus atau gangguan berjalan

1erdapat bangkitan pada stadium lanjut

*& 3am-a#an diagnosa te#sang!a pen a!it al"heime# ang tida! jelas te#di#i da#i$ A#itan mendadak Diketemukan gejala neurologik fokal seperti hemiparese" hipestesia" defisit lapang pandang dan gangguan koordinasi 1erdapat bangkitan atau gangguan berjalan pada saat a#itan

+& Diagnosa !lini! !emung!inan pen a!it al"heime# adalah$ Sindroma demensia" tidak ada gejala neurologik lain" gejala psikiatri atau kelainan sistemik yang menyebabkan demensia Adanya kelainan sistemik sekunder atau kelainan otak yang menyebabkan demensia" defisit kognisi berat se,ara gradual progresif yang diidentifikasi tidak ada penyebab lainnya ,& K#ite#ia diagnosa pasti pen a!it al"heime# adalah ga-ungan da#i !#ite#ia !lini! te#sang!a pen a!it al"heime# dan didapat!an gam-a#an histopatologi da#i -iopsi atau otopsi& Peme#i!saan penunjang %& Neu#opatologi Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya konfirmasi neuropatologi. Se,ara umum didapatkan atropi yang bilateral" simetris" sering kali berat otaknya berkisar 1 gr 4(% &1)% gr5. 9eberapa penelitian mengungkapkan atropi lebih menonjol pada lobus temporoparietal" anterior frontal" sedangkan

1)

korteks oksipital" korteks motorik primer" sistem somatosensorik tetap utuh 4Jerins 19*!5. 0elainan&kelainan neuropatologi pada penyakit alzheimer terdiri dari2 a& Neu#ofi-#illa# tangles 1N'T2 =erupakan sitoplasma neuronal yang terbuat dari filamen&filamen abnormal yang berisi protein neurofilamen" ubi<uine" epito<ue. -.1 ini juga terdapat pada neokorteks" hipokampus" amigdala" substansia alba" lokus seruleus" dorsal raphe dari inti batang otak.

Gbr. 5 Neurofibrillary tangles pada penyakit Alzheimer -.1 selain didapatkan pada penyakit alzheimer" juga ditemukan pada otak manula" do#n syndrome" parkinson" SSP>" sindroma ektrapiramidal" supranuklear palsy. Densitas -.1 berkolerasi dengan beratnya demensia. -& Senile pla7ue 1SP2 =erupakan struktur kompleks yang terjadi akibat degenerasi ner8e ending yang berisi filamen&filamen abnormal" serat amiloid ektraseluler" astrosit" mikroglia. Amloid prekusor protein yang terdapat pada SP sangat berhubungan dengan kromosom )1. Senile pla<ue ini terutama terdapat pada neokorteks" amygdala" hipokampus" korteks piriformis" dan sedikit didapatkan pada korteks motorik primer" korteks somatosensorik" korteks 8isual" dan auditorik. Senile pla<ue ini juga terdapat pada jaringan perifer. Perry 419(!5 mengatakan densitas Senile pla<ue berhubungan dengan penurunan kolinergik. 0edua gambaran

1*

histopatologi 4-.1 dan senile pla<ue5 merupakan gambaran karakteristik untuk penderita penyakit alzheimer.

.& Degene#asi neu#on Pada pemeriksaan mikroskopik perubahan dan kematian neuron pada penyakit alzheimer sangat selektif. 0ematian neuron pada neokorteks terutama didapatkan pada neuron piramidal lobus temporal dan frontalis. Juga ditemukan pada hipokampus" amigdala" nukleus batang otak termasuk lokus serulues" raphe nukleus dan substanasia nigra. 0ematian sel neuron kolinergik terutama pada nukleus basalis dari meynert" dan sel noradrenergik terutama pada lokus seruleus serta sel serotogenik pada nukleus raphe dorsalis" nukleus tegmentum dorsalis. 1elah ditemukan faktor pertumbuhan saraf pada neuron kolinergik yang berdegenerasi pada lesi eksperimental binatang dan ini merupakan harapan dalam pengobatan penyakit alzheimer. d& Pe#u-ahan 8a!uole# =erupakan suatu neuronal sitoplasma yang berbentuk o8al dan dapat menggeser nukleus. Jumlah 8akuoler ini berhubungan se,ara bermakna dengan jumlah -.1 dan SP " perubahan ini sering didapatkan pada korteks temporomedial" amygdala dan insula. 1idak pernah ditemukan pada korteks frontalis" parietal" oksipital" hipokampus" serebelum dan batang otak. e& Le9 -od =erupakan bagian sitoplasma intraneuronal yang banyak terdapat pada enterhinal" gyrus ,ingulate" korteks insula" dan amygdala. Sejumlah ke,il pada korteks frontalis" temporal" parietalis" oksipital. ?e#y body kortikal ini sama dengan immunoreakti8itas yang terjadi pada le#y body batang otak pada 1+

gambaran histopatologi penyakit parkinson. :ansen et al menyatakan le#y body merupakan 8ariant dari penyakit alzheimer.

(& Peme#i!saan neu#opsi!ologi! Penyakit alzheimer selalu menimbulkan gejala demensia. .ungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak adanya gangguan fungsi kognitif umum dan mengetahui se,ara rin,i pola defisit yang terjadi. 1est psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh beberapa bagian otak yang berbeda&beda seperti gangguan memori" kehilangan ekspresi" kalkulasi" perhatian dan pengertian berbahasa. >8aluasi neuropsikologis yang sistematik mempunyai fungsi Alzheimer yang penting karena2 a. Adanya Alzheim kognisi yang berhubungan dgndemensia a#al yang dapat diketahui bila terjadi perubahan ringan yang terjadi akibat penuaan yang normal. b. Pemeriksaan neuropsikologik se,ara komprehensif memungkinkan untuk membedakan kelainan kognitif pada global demensia dengan defi,it selektif yang diakibatkan oleh disfungsi fokal" Alzhei Alzheimer" dangangguan psikiatri ,. =engidentifikasi gambaran kelainan neuropsikologik yang diakibatkan oleh demensia karena berbagai penyebab. 1he 3onsortium to establish a @egistry for Alzheimer Disease 43>@A?D5 menyajikan suatu prosedur penilaian neuropsikologis dengan mempergunakan alat batrey yang bermanifestasi gangguan fungsi kognitif" dimana pemeriksaannya terdiri dari2 1. Berbal fluen,y animal ,ategory ). =odified boston naming test *. mini mental state +. Cord list memory 1%

%. 3onstru,tional pra;is '. Cord list re,all !. Cord list re,ognition 1est ini memakn #aktu * &+ menit dan D) &* menit pada Alzheim )& :T S.an dan /;I =erupakan metode non Alzheimer yang beresolusi tinggi untuk melihat k#antifikasi perubahan 8olume jaringan otak pada penderita Alzheimer antemortem. Pemeriksaan ini berperan dalam menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain Alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh dan pembesaran 8entrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan yang sangat spesifik pada penyakit ini. 1etapi gambaran ini juga didapatkan pada demensia lainnya seperti multiinfark" Alzheimer" bins#anger sehingga kita sukar untuk membedakan dengan penyakit Alzheimer.

Gbr. 6 C ! "rain Normal dan Alzheimer

1'

Penipisan substansia alba serebri dan pembesaran 8entrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik danhasil pemeriksaan status mini mental. Pada =@I ditemukan peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan peri8entrikuler 43apping anterior horn pada 8entrikel lateral5. 3apping ini merupakan predileksi untuk demensia a#al. Selain didapatkan kelainan di kortikal" gambaran atropi juga terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus" amigdala" serta pembesaran sisterna basalis dan fissura syl8ii. Seab et al" menyatakan =@I lebih sensitif untuk membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan penyebab lain" dengan memperhatikan ukuran 4atropi5 dari hipokampus. *& EE3 9erguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis. Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat pada lobus frontalis yang non spesifik. +& PET 1Posit#on Emission Tomog#aph 2 Pada penderita alzheimer" hasil P>1 ditemukan penurunan aliran darah" metabolisma A)" dan glukosa didaerah serebral. Ep take I.1)* sangat menurun pada regional parietal" hasil ini sangat berkorelasi dengan kelainan fungsi kognisi dan selalu dan sesuai dengan hasil obser8asi penelitian neuropatologi. ,& SPE:T 1Single Photon Emission :omputed Tomog#aph 2 Akti8itas I. 1)* terendah pada regio parietal penderita alzheimer. 0elainan ini berkolerasi dengan tingkat kerusakan fungsional dan defisit kogitif. 0edua pemeriksaan ini 4SP>31 dan P>15 tidak digunakan se,ara rutin. <& La-o#ato#ium da#ah 1idak ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik pada penderita alzheimer. Pemeriksaan laboratorium ini hanya untuk menyingkirkan penyebab penyakit demensia lainnya seperti pemeriksaan darah rutin" 91)" 3alsium" Posfor" 9S>" fungsi 1!

renal dan hepar" tiroid" asam folat" serologi sifilis" skreening antibody yang dilakukan se,ara selektif.

Penatala!sanaan Pengobatan penyakit alzheimer masih sangat terbatas oleh karena penyebab dan patofisiologis masih belum jelas. Pengobatan simptomatik dan suportif seakan hanya memberikan rasa puas pada penderita dan keluarga. Pemberian obat stimulan" 8itamin 9" 3" dan > belum mempunyai efek yang menguntungkan.

Gbr.# Pengobatan Alzheimer %& Inhi-ito# !olineste#ase 9eberapa tahun terakhir ini" banyak peneliti menggunakan inhibitor untuk pengobatan simptomatik penyakit alzheimer" dimana penderita Alzheimer didapatkan penurunan kadar asetilkolin. Entuk men,egah penurunan kadar asetilkolin dapat digunakan anti kolinesterase yang bekerja se,ara sentral seperti fisostigmin" 1:A 4tetrahydroaminoa,ridine5.

1(

Pemberian obat ini dikatakan dapat memperbaiki memori dan apraksia selama pemberian berlangsung. 9eberapa peneliti mengatakan bah#a obat&obatan anti kolinergik akan memperburuk penampilan intelektual pada orang normal dan penderita alzheimer.

(& Thiamin Penelitian telah membuktikan bah#a pada penderita alzheimer didapatkan penurunan thiamin pyrophosphatase dependent enzym yaitu ) ketoglutarate 4!%$5 dan transketolase 4+%$5" hal ini disebabkan kerusakan neuronal pada nukleus basalis. Pemberian thiamin hydro,hlorida dengan dosis * gr6hari selama * bulan peroral" menunjukkan perbaikan bermakna terhadap fungsi kognisi dibandingkan pla,ebo selama periode yang sama. )& Noot#opi! -ootropik merupakan obat psikotropik" telah dibuktikan dapat memperbaiki fungsi kognisi dan proses belajar pada per,obaan binatang. 1etapi pemberian + mg pada penderita alzheimer tidak menunjukkan perbaikan klinis yang bermakna. *& Klonidin /angguan fungsi intelektual pada penderita alzheimer dapat disebabkan kerusakan noradrenergik kortikal. Pemberian klonidin 4,atapres5 yang merupakan noradrenergik alfa ) reseptor agonis dengan dosis maksimal 1") mg peroral selama + minggu" didapatkan hasil yang kurang memuaskan untuk memperbaiki fungsi kognitif. +& Halope#iodol Pada penderita alzheimer" sering kali terjadi gangguan psikosis 4delusi" halusinasi5 dan tingkah laku. Pemberian oral :aloperiod 1&% mg6hari selama + 19

minggu akan memperbaiki gejala tersebut. 9ila penderita Alzheimer menderita depresi sebaiknya diberikan tri,y,li, anti depresant 4amitryptiline )%&1 ,& A.et l L4:a#nitine 1AL:2 =erupakan suatu subtrate endogen yang disintesa didalam miktokondria dengan bantuan enzym A?3 transferase. Penelitian ini menunjukkan bah#a A?3 dapat meningkatkan akti8itas asetil kolinesterase" kolin asetiltransferase. Pada pemberian dosis 1&) gr6hari6peroral selama 1 tahun dalam pengobatan" disimpulkan bah#a dapat memperbaiki atau menghambat progresifitas kerusakan fungsi kognitif. P#ognosis Dari pemeriksaan klinis +) penderita probable alzheimer menunjukkan bah#a nilai prognostik tergantung pada * faktor yaitu2 1. Derajat beratnya penyakit ). Bariabilitas gambaran klinis *. Perbedaan indi8idual seperti usia" keluarga demensia dan jenis kelamin 0etiga faktor ini diuji se,ara statistik" ternyata faktor pertama yang paling mempengaruhi prognostik penderita alzheimer. Pasien dengan penyakit alzheimer mempunyai angka harapan hidup rata&rata +&1 tahun sesudah diagnosis dan biasanya meninggal dunia akibat infeksi sekunder. mg6hari5

DA'TA; PUSTAKA

1. /ilroy" John 9asi, -eurology" =, /ra# :ill. ESA" 199! :auser"Stephen"? 4ed5. :arrisonFs" -eurology in 3lini,al =edi,ine . =, /ra# :ill" Philadelphia" ) % . :al 11& 1' ). =ansjoer" Arif. 0apita Selekta 0edokteran. >disi 0etiga. Jakarta 2 =edia Aes,ulapius .akultas 0edokteran EI. ) *. 3husid J/. -euroanatomi 0orelatif dan -eurologi .ungsional 9agian ). /ajah =ada Eni8ersity Press. Gogyakarta. 199 . :al %*! +. Soemargo" Sastrodi#irjo" dr". dkk. 0umpulan 0uliah -eurologi. 9agian -eurologi .0EI. Eni8ersitas Indonesia Press. Jakarta. 19( . :al 1&* %. /ilroy" John. "asi$ Neurology. *rd >d. =,/ra#&:ill 3ompanies" In,. ESA. ) . P.)*1 '. -gorah" I /usti. 199 . Dasar& Dasar Ilmu Penyakit Saraf. Airlangga Eni8ersity Press. Surabaya !. :arsono. 1999. 9uku Ajar -eurologi 0linis >disi Pertama. /ajah =ada Eni8ersity Press. Gogyakarta (. :arsono. ) Gogyakarta 9. ?ombardo" =3. Penyakit Alzheimer. Patofisiologi ed ). >/3. ) 1 *&1 + +. hal . 0apita Selekta -eurologi. /ajah =ada Eni8ersity Press.

)1

))