Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No.

ISSN 1858-4330

PERBEDAAN WAKTU TANAM KACANG HIJAU DALAM PERTANAMAN JAGUNG


DIFFERENCE OF MUNG BEANS PLANTING TIME IN MAIZE PLANTS Syaifuddin 1, Irwan Mado 2, dan Idris 1 Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Gowa, Jalan Malino km 7 Kec. Bontomarannu Kab. Gowa 2 Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar
1

ABSTRAK Program pengembangan jagung dan kacang hijau harus dibarengi dengan upaya-upaya terobosan baru, antara lain dengan mengatur waktu tanam kacang hijau didalam barisan tanaman jagung. Upaya ini dimaksudkan untuk memanfaatkan lahan yang tersedia dan juga untuk memenuhi permintaan jagung dan kacang hijau yang terus meningkat serta meningkatkan pendapatan bagi petani. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan waktu tanam kacang hijau yang ditanam dalam pertanaman jagung, yang dilaksanakan di Kabupaten Gowa. Hasil analisis menunjukkan bahwa produksi jagung tertinggi pada tumpangsari jagung dengan kacang hijau diperoleh pada perlakuan jagung/kacang hijau (30), sedangkan hasil kacang hijau tertinggi diperoleh pada perlakuan jagung+kacang hijau yaitu penanaman secara bersamaan dengan jagung. Pendapatan tertinggi diperoleh pada penanaman secara bersamaan jagung+kacang hijau, yaitu Rp 905.000. Kata kunci: waktu tanam, kacang hijau, jagung

ABSTRACT Cropping pattern of corn and Mung beans need a new break through technology, especially in managing the planting time of the proceeding crop The purpose of this research was to study the effects of the difference in planting time between mung beans in corn fields. This research was carried out in Gowa regency. The result of the analysis showed that the highest production of corn when intercropped with mung beans was obtained by the planting of mung beans 30 days after planting of corn [J/K(30)]. While the highest production of mung beans was achieved by planting them as the same time as corn [J+K]. The best value was achieved in intercropping corn and mung beans, Net return Rp. 905.000. Keywords: planting time , mung beans, maize

PENDAHULUAN Produktivitas merupakan suatu hal yang sangat vital dalam usaha pertanian, dimana akhir-akhir ini semakin ditantang untuk mengimbangi tuntutan sosial ekonomi masyarakat suatu bangsa. Pening-

katan jumlah penduduk menyebabkan permintaan akan kebutuhan hasil-hasil pertanian baik jenis, jumlah maupun kualitasnya. Disisi lain lahan untuk pertanian semakin terbatas karena alih fungsi lahan menjadi tempat pemukiman, industri, 1

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No. 1

ISSN 1858-4330

sarana jalan serta sarana fisik lainnya, Untuk itu, bagaimana merancang suatu model penanaman, agar lahan yang semakin terbatas itu dapat menghasilkan produksi yang tinggi secara berkelanjutan (Syaifuddin, 2008). Jagung sebagai tanaman pangan, menduduki urutan kedua setelah padi. Disamping itu juga mempunyai peranan yang tidak kalah pentingnya dengan padi, karena jagung merupakan salah satu jenis bahan makanan yang banyak mengandung karbohidrat sehingga dapat dijadikan sebagai pengganti beras. Di Indonesia sangat mendukung dikembangkannya komoditi jagung, Sebab jagung memiliki potensi yang cukup baik untuk dibudidayakan dan mudah diusahakan. Konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat, karena itu peluang pemasaran jagung masih terbuka lebar (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 1988). Selain komoditi jagung sebagai bahan makanan, masih dibutuhkan komoditi lain seperti kacang hijau. Kacang hijau merupakan salah satu jenis komoditi dari jenis tanaman leguminosa yang mempunyai arti penting. Posisinya menduduki urutan ketiga setelah kedelai dan kacang tanah. Manfaat kacang hijau sebagai penghasil bahan makanan merupakan hal yang sangat penting, karena jenis kacang ini banyak mengandung vitamin terutama vitamin B1 yang sangat diperlukan untuk pertumbuhan gizi masyarakat yang relatif kurang vitamin. Selain itu tanaman ini juga dapat dijadikan sebagai tanaman penutup tanah karena pertumbuhannya yang cepat sehingga dapat menghalangi tumbuhnya rumput dan juga karena umurnya yang relatif pendek sehingga dapat menyelesaikan siklus hidupnya sebelum musim kemarau tiba (Efendi, 1976). Suatu hal yang sangat menguntungkan dari tanaman ini, yaitu bahwa kacang hijau akan mengikat unsur nitrogen melalui bintilbintil akarnya, kemudian akan memberi2

kan unsur tersebut pada tanaman yang berada disekitarnya yang memang sangat membutuhkan unsur nitrogen. Oleh sebab itu, tanaman ini sangat baik apabila ditumpangsarikan dengan tanaman lain termasuk tanaman jagung. Jagung dan kacang hijau merupakan komoditi yang penting dan mempunyai prospek yang baik, karena memiliki kapasitas meningkatkan pendapatan petani, bernilai ekonomis tinggi, dapat dijadikan sebagai bahan baku industri dan berpeluang untuk diekspor. Sistem bertanam dengan cara tumpangsari ditujukan untuk mengefisienkan penggunaan lahan agar dapat menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Pola bertanam tumpangsari yang baik akan lebih menguntungkan ditinjau dari segi ekonomi, selain itu ketersediaan bahan pangan akan lebih beraneka ragam sehingga potensi hasil dapat lebih tinggi dibanding pertanaman monokultur (Efendi, 1976). Disamping itu dengan penanaman berbagai jenis tanaman melalui sistem tumpangsari dapat menjadi upaya konservasi dan pemanfaatan sumber daya lahan yang baik. Pengaturan waktu tanam merupakan alternatif untuk meningkatkan produktivitas lahan pertanian, karena waktu tanam berpengaruh terhadap produksi yang dicapai, oleh sebab itu waktu tanam perlu diperhatikan agar supaya dalam mengusahakan suatu jenis tanaman dapat memberikan hasil yang baik. Kesesuaian suatu jenis tanaman dengan tanaman yang lain ditentukan oleh sifat agronomi tanaman itu sendiri yang saling berinteraksi dengan lingkungan, sehingga untuk memperoleh pertumbuhan yang baik dari suatu jenis tanaman diperlukan lingkungan yang optimum. Dalam hal ini waktu tanam suatu jenis tanaman optimum untuk suatu pola tumpangsari, artinya bahwa terdapat waktu tanam tertentu yang memberikan produksi yang baik pada suatu pola tumpangsari (Finlay 1974). Penelitian bertu-

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No. 1

ISSN 1858-4330

juan untuk mendeskripsikan perbedaan waktu tanam kacang hijau yang ditanam dalam pertanaman jagung. Kegunaannya, diharapkan dapat menjadi bahan informasi dan pertimbangan tentang waktu tanam yang sesuai dalam mengoptimalkan produksi dan produktivitas lahan.

BAHAN DAN METODE Waktu penelitian dari Mei sampai September 2009. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Gowa. Bahan yang digunakan adalah benih jagung varietas Arjuna, kacang hijau varietas Parkit; pupuk (Urea, TSP dan KCI), pestisida yang digunakan berupa Decis, Thiodan, Furadan, Dursban, Benlate dan lain-lain. Alat yang digunakan antara lain traktor, tube solarimeter, gipsum, meter, timbangan, cangkul, garu, linggis, sekop, tugal, meteran, ember, tali plastik, alat tulis menulis dan beberapa alat laboratorium. Desain peneltian disusun berdasarkan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dimana setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 3. Kombinasi perlakuannya adalah sebagai berikut: 1. Penanaman jagung dengan simbol ( J) 2. Penanaman kacang hijau, dengan simbol (K). 3. Penanaman jagung dan kacang hijau ditanam bersamaan, dengan simbol (J +K). 4. Penanaman kacang hijau pada saat jagung berumur 10 hari setelah tanam, dengan simbol J/K (10)). 5. Penanaman kacang hijau pada saat jagung berumur 20 hari setelah tanam, dengan simbol J/K (20)). 6. Penanama kacang hijau pada saat jagung berumur 30 hari setelah tanaman, dengan simbol J/K(30)). Lahan yang digunakan terlebih dahulu diolah, kemudian disisir untuk menghan-

curkan bongkahan tanah dan sisa-sisa tanaman dibersihkan. Pembuatan petakpetak percobaan dengan ukuran 3,0 x 3,6 m. Benih jagung ditanam sebanyak tiga biji lubang-1 dengan jarak tanam 75 x 40 cm (monokultur, dua tanaman lubang-1), dan 100 x 40 cm (tumpangsari satu tanaman lubang-1). Untuk kacang hijau ditanam empat biji lubang-1 dengan jarak tanam 30 x 20 cm (monokultur) dan 25 x 40 cm (tumpangsari) dengan meninggalkan dua tanaman lubang-1. Penyulaman dilakukan setelah tanaman berumur 7 hari setelah tanam, sedangkan penjarangan dilakukan 25 hari setelah tanam. Penyiangan dilakukan 4 kali atau tergantung pada keadaaan tanaman. Untuk mengendalikan hama dan penyakit, digunakan pestisida yang sesuai. Pemupukan untuk jagung dalam setiap hektarnya sebanyak 300 kg Urea, 75 kg TSP dan 50 kg KCl. Kemudian untuk kacang hijau dalam setiap hektarnya yaitu sebanyak 75 kg urea, 50 kg TSP dan 50 kg KCl. Pemupukan untuk Urea dilakukan sebanyak 3 kali yaitu 1/3 bagian pada saat tanam, 1/3 bagian pada saat tanaman berumur 30 hari dan 1/3 bagian pada saat berumur 40-45 hari, sedangkan TSP dan KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam. Parameter yang diamati dalam penelitian ini yaitu: (1) Bobot bahan kering jagung dan kacang hijau (ton ha-1), (2) Bobot 100 biji kering jagung dan kacang hijau (g), (3) Hasil jagung pipilan (ton ha-1), (4) Hasil kacang hijau (ton ha-1), tanah setiap 2 hari, Untuk mengetahui perbedaan dari setiap perlakuan apabila Fhit lebih besar dari Ftabel maka dilanjutkan dengan uji Kontras (C). Dimana: C1 = kontras antara perlakuan jagung atau dan kacang hijau dengan jagung+kacang hijau, jagung/kacang hijau(10), jagung/kacang hijau(20). dan jagung/kacang hijau(30).

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No. 1

ISSN 1858-4330

C2 = kontras antara perlakuan jagung +kacang hijau dengan jagung(10), jagung/kacang hijau(20) dan jagung /kacang hijau(30). C3 = kontras antara jagung/kacang hijau(10) dengan jagung/kacang hijau(20) dan jagung/kacang hijau(30). C4 = kontras antara jagung/kacang hijaun(20) dan jagung/kacang hijau(30).

Tabel 2. Hasil uji kontras bobot 100 biji kering jagung dengan berbagai waktu-tanam pada sistem tumpangsari dengan kacang hijau. Uji kontras Cl C2 C3 C4 Fhitung 177,24** 138,53 ** 73,88** 41,53 **

Keterangan: **: sangat nyata HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sidik ragam mengindikasikan bahwa perlakuan, memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot bahan kering jagung. Dari hasil uji kontras (Tabel 1) menunjukkan bahwa C1 memberikan pengaruh yang sangat nyata, sedangkan C2 dan C3 berpengaruh nyata dan C4 berpengaruh tidak nyata terhadap bobot bahan kering jagung yang dihasilkan. Hasil sidik ragam mengindikasikan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil jagung pipilan. Uji kontras (Tabel 3) menunjukkan bahwa C1dan C2 memberikan pengaruh yang sangat nyata, namun C3 berpengaruh tidak nyata.

Tabel 1. Hasil uji kontras bobot bahan kering jagung dengan berbagai waktu tanam pada sistem tumpangsari dengan kacang hijau. Uji kontras Cl C2 C3 C4 Fhitung 156,82** 7,67 * 7,20* 2,55tn

Tabel 3. Hasil uji kontras hasil jagung pipilan dengan berbagai waktu tanam pada sistem tumpangsari dengan kacang hijau Uji kontras Cl C2 C3 C4 Fhitung 31,13** 25,70** l,57tn <1

Keterangan: ** : sangat nyata, * : nyata, tn : tidak nyata

Keterangan: ** : sangat nyata, tn: tidak nyata

Hasil sidik ragam mengindikasikan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot 100 biji kering jagung. Uji kontras (Tabel 2) menunjukkan bahwa C1, C2, C3 dan C4 memberikan pengaruh yang sangat nyata.

Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot bahan kering kacang hijau. Uji kontras (Tabel 4) menunjukkan bahwa C1, C2, C3 dan C4 memberikan pengaruh yang sangat nyata.

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No. 1

ISSN 1858-4330

Tabel 4. Hasil uji kontras bobot bahan kering kacang hijau dengan berbagai waktu tanam pada sistem tumpangsari dengan jagung Uji kontras C1 C2 C3 C4 Fhitung 8332,53** 714,88** 1018,00** 61,14**

ngat mempengaruhi fase pertumbuhan berikutnya setelah memasuki fase generatif tanaman. Bila pertumbuhan vegetatif tanaman baik, maka fase pertumbuhan generatif tanaman juga menjadi lebih baik sampai pada produksi tanaman yang dihasilkan.

Keterangan: ** : sangat nyata

Tabel 5. Hasil uji kontras bobot 100 biji kering kacang hijau dengan berbagai waktu tanam pada sistem tumpangsari dengan jagung Uji kontras Fhitung C1 39,67** C2 19,63** C3 21,53** C4 2,18tn Keterangan : ** : sangat nyata, tn : tidak nyata

Dari hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap bobot 100 biji kering kacang hijau. Uji kontras (Tabel 4) menunjukkan bahwa C1, C2, C3 memberikan pengaruh yang sangat nyata, sedangkan C4 pengaruhnya tidak nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya bobot bahan kering jagung yang ditanam secara monokultur, disebabkan karena persaingan yang terjadi akan lebih kecil dibanding tanaman yang ditanam secara tumpangsari. Hal ini didukung oleh karena pertumbuhan pada fase awal tanaman jagung cukup optimal sehingga bobot bahan kering yang dihasilkan lebih tinggi. Demikian pula tanaman kacang hijau yang ditanam secara monokultur memberikan bobot bahan kering yang lebih tinggi. Tanaman yang ditanam secara monokultur seperti Jagung dan kacang hijau memberikan bobot bahan kering yang lebih baik. Hal ini terjadi oleh karena, energi cahaya yang digunakan untuk proses fotosintesis terutama pada fase vegetatif tanaman akan sesuai dengan kebutuhannya, karena persaingan yang terjadi dari segi pemanfaatan cahaya lebih kecil. Pemanfaatan cahaya yang cukup untuk proses fotosintesis pada pertumbuhan vegetatif tanaman menyebabkan pemecahan karbon dan air untuk diubah menjadi glukosa akan lebih baik. Pertumbuhan vegetatif tanaman akan sa-

Hasil sidik ragam mengindikasikan bahwa perlakuan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap hasil kacang hijau. Uji kontras (Tabel 6) menunjukkan bahwa C1, C2, C3 memberikan pengaruh yang sangat nyata, sedangkan C4 pengaruhnya nyata.

Tabel 6. Hasil uji kontras hasil kacang hijau dengan berbagai waktu tanam pada sistem tumpangsari dengan jagung. Uji kontras Fhitung C1 28,33** C2 322,17** C3 70,00** C4 7,08* Keterangan: ** : sangat nyata, * : nyata

Pertumbuhan tanaman kacang hijau yang ditanam bersamaan dengan jagung, menunjukkan karakter yang tidak tertekan. Hal ini terlihat dari hasil uji kontras, 5

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No. 1

ISSN 1858-4330

bahwa kacang hijau yang ditanam bersamaan dengan jagung memberikan pertumbuhan dan produksi yang lebih baik. Rendahnya hasil kacang hijau yang ditanam 30 hari setelah tanam jagung, disebabkan oleh karena kacang hijau yang ditanam setelah jagung berumur 30 hari tidak dapat bersaing, terutama dalam pemanfaatan atau penyerapan cahaya matahari dan pengambilan unsur hara serta penyerapan air dari dalam tanah. Tanaman yang tidak mendapatkan cahaya yang cukup untuk proses pertumbuhannya, menyebabkan tanaman tidak dapat melangsungkan proses fotosintesa dengan baik. Pada penanaman secara tumpangsari, tidak hanya ketersediaan unsur hara yang menentukan jumlah unsur hara yang dapat diserap, tetapi juga sangat ditentukan oleh daya serap dari masing-masing tanaman. Tanaman yang tidak dapat bersaing akan terhambat pertumbuhannya karena unsur hara yang diserapnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Kekurangan unsur hara bagi tanaman, tidak hanya berpengaruh terhadap pertumbuhan awal atau fase vegetatif tanaman, tetapi juga akan berpengaruh terhadap produksi yang dihasilkan oleh tanaman tersebut (Fisher, 1984). Hasil penelitian membuktikan bahwa kacang hijau yang ditanam lebih lambat, dengan perbedaan waktu tanam yang lebih lama menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat, keadaan ini akan berlanjut terus sehingga menyebabkan bobot bahan kering, bobot 100 biji kering dan produksi yang dihasilkan menjadi lebih rendah. Hal ini sesuai dengan pernyataan Beest (1982) bahwa tumpangsari dengan berbagai jenis tanaman, terutama tanaman yang mempunyai umur yang relatif sama, maka hendaknya diperhatikan selang waktu penanamannya. Karena apabila waktu penanaman tidak diperhatikan, maka pertumbuhan dan perkembangannya akan tertekan yang pada akhirnya akan mempengaruhi produksi yang dihasilkan. 6

KESIMPULAN 1. Produksi jagung tertinggi diperoleh ketika kacang hijau ditanam pada saat jagung berumur 30 hari setelah tanam (J/K [30]), yaitu produksi rata-rata 2,03 ton ha-1. 2. Produksi kacang hijau tertinggi diperoleh pada saat jagung dan kacang hijau ditanam bersamaan. yaitu produksi rata-rata sebanyak 0,61 ton ha-1 (J+ K). 3. Analisis usahatani kacang hijau yang ditanam secara bersamaan dengan jagung (J+K), memberikan pendapatan yang lebih tinggi yaitu Rp 905.000.

DAFTAR PUSTAKA Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 1988. Jagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman pangan, Bogor. Beest, W.C., 1982. Multiple Cropping and Tropical Farming System. West View. Colorado. 156 p. Effendi, S., 1976. Pola Bertanam (cropping system) Usaha Untuk Stabilisasi Produksi Pertanian Indonesia. Departemen Pertanian, LPP Bogor, Bogor Evans, A.C., 1960. Studies of intercropping: I. Maize or Sorghum With Groundnuts, E. Africa Agric of J. 26:1 - 10. Finlay, R.C., 1974. Intercropping Soybeans With Cereals. Ragional Soybean Confrence. Oktober 14 17. Fisher, 1984. Fisiologi Tanaman Tropik. (Terjemahan). Gajah Mada Press, Yogyakarta. Justika, S.B., S, Didi dan Irsal Las., 1985. Hubungan Iklim dengan Pertumbuhan Kedelai. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat

Jurnal Agrisistem, Juni 2010, Vol. 6 No. 1

ISSN 1858-4330

Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor. Syaifuddin. 2008. Kajian potensi lahan untuk pengembangan tanaman ja-

gung di Kabupaten Gowa dan Kabupaten Takalar. Disertasi Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, Makassar.