Anda di halaman 1dari 77

LAPORAN HASIL PENINJAUAN MANAJEMEN DAN MUTU PELAYANAN PUSKESMAS DI PUSKESMAS KAJORAN I KECAMATAN KAJORAN KABUPATEN MAGELANG PERIODE

JANUARI OKTOBER 2011

Diajukan Guna Melengkapi Tugas Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Masyarakat ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNISSULA SEMARANG

..

Disusun oleh Co-Ass IKM FK UNISSULA

Abdul Azis Arif Himawan Candra Isdiyana Diyah Herawati

(01.207.5336) (01.207.5356) (01.207.5457) (01.207.5471)

Fitria Kurniasih Ika Fitriana Jasmine Sabilla Novi Fitriani

(01.207.5487) (01.207.5496) (01.207.5505) (01.207.5539)

Edvand Dani E.S. (01.207.5370)

Wahyu Wicaksono (01.204.4908)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BALAI PELATIHAN KESEHATAN SALAMAN MAGELANG 2011

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Hasil Peninjauan Manajemen dan Mutu Pelayanan Puskesmas periode Januari Oktober 2011 di Puskesmas Kajoran I Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang telah diujikan dalam pendalaman materi pada tanggal 30 Desember 2011 di BAPELKES Salaman Magelang guna melengkapi tugas kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang di Puskesmas Kajoran I pada tanggal 17-21 Desember 2011 Salaman, Desember 2011 Pengesahan

Kepala Puskesmas Kajoran I

Ketua PBL IKM UNISSULA

Drg. Doni Azahari

dr. Boedioro, MPH

Master Of Training

Master Of Training

Drg. Marsono, M.Kes

Meita Darmiastuty, SKM, M.Kes

Mengetahui, Kepala Bapelkes Salaman

Subur Djati Prayugi, SKM, M.Kes NIP. 19561028 198201 1 003

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Hasil Peninjauan Manajemen dan Mutu Pelayanan Puskesmas Periode Januari Oktober 2011 di Puskesmas Kajoran I Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang, Jawa Tengah yang telah dilakukan pada tanggal 17-21 Desember 2011 Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas-tugas dalam rangka menjalankan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di BAPELKES Salaman Magelang. Laporan ini memuat data hasil peninjauan manajemen dan mutu pelayanan puskesmas periode Januari Oktober 2011 di Puskesmas Kajoran I Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang. Laporan ini dapat diselesaikan berkat kerjasama tim dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. Bp. Subur Djati Prayugi, S.KM, MPH Kepala BAPELKES Salaman Magelang yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk melaksanakan Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di BAPELKES Salaman Magelang. 2. Drg. Doni Azahari Kepala Puskesmas Kajoran I yang telah memberikan bimbingan dan pelatihan selama kami menempuh Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di BAPELKES Salaman Magelang. 3. Tim Widya Iswara yang telah memberikan bimbingan dan pelatihan selama kami menempuh Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat di BAPELKES Salaman Magelang. 4. Drg. Marsono, M.Kes dan Ibu Meita Darmiastuty, SKM, M.Kes sebagai MOT kepaniteraan klinik IKM Unissula. 5. Drg. Marsono, M.Kes, Ibu Asih Kunwahyuningsih, SPd, M.Kes, Ibu Meita Darmiastuty, SKM, M.Kes., Bp. Edy Sukiarko, SKM, Drs. Agus Winarso, Apt, M.Kes, dan Bp. Murcita, S.Pd, M.Kes, selaku pembimbing

iii

dalam penyelesaian laporan hasil peninjauan manajemen puskesmas dan manajemen mutu pelayanan 6. Dokter, paramedis, beserta staf Puskesmas Kajoran I dan Kecamatan Kajoran atas kerjasama yang telah diberikan. 7. Tim pembimbing kepaniteraan klinik Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung Semarang. Kami menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan hasil laporan ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan waktu dan kemampuan. Oleh karena itu, kami perbaikan laporan ini. Akhir kata kami berharap semoga hasil laporan peninjauan manajemen dan mutu pelayanan puskesmas periode Januari Oktober 2011 di Puskesmas Kajoran I ini bermanfaat bagi semua pihak.

Salaman,

Desember 2011

Penyusun

iv

DAFTAR ISI Halaman Judul .................................................................................................... i Lembar Pengesahan .......................................................................................... ii Kata pengantar ................................................................................................... iii Daftar isi ............................................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ......................................................................... 1 B. Perumusan Masalah ................................................................. 2 C. Tujuan ...................................................................................... 2 D. Metodologi .............................................................................. 3 BAB II ANALISIS SITUASI A. Lingkungan ............................................................................. 4 B. Input ........................................................................................ 12 C. Proses Manajemen .................................................................. 14 D. Keluaran .................................................................................. 17 BAB III IDENTIFIKASI MASALAH A. Analisis Hasil ........................................................................... 18 B. Prioritas Masalah ..................................................................... 20 C. Analisis Penyebab masalah .................................................... 27 D. Kemungkinan Penyebab Masalah ........................................... 28 E. Analisis Masalah Mutu ............................................................ 34 F. Prioritas Penyebab Masalah ................................................... 36 G. Analisis Prioritas Penyebab Masalah......................................... 37 H. Alternatif Pemecahan masalah ................................................. 37 I. Pengambilan Keputusan .......................................................... 40 J. POA ......................................................................................... 54 BAB IV SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ................................................................................. 58 B. Saran ........................................................................................ 66 BAB V PENUTUP .................................................................................... 68 ................................................................................... 69

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Saat ini hasil pembangunan kesehatan telah mengalami peningkatan. Namun, hasil pembangunan tersebut masih belum dapat dinikmati secara merata oleh seluruh penduduk. Pemerintah Republik Indonesia telah menyusun strategi kebijakan pembangunan kesehatan baru. Kebijakan ini didasarkan pada Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan sebagai Strategi Nasional menuju masyarakat sehat, mandiri dan berkeadilan. Dengan strategi ini, perencanaan pembangunan dan pelaksanaannya di semua sektor harus mampu mempertimbangkan dampak negatif dan positifnya terhadap kesehatan baik individu, keluarga dan masyarakat. Selain itu, di sektor kesehatan sendiri upaya kesehatan yang dilakukan akan lebih mengutamakan upaya preventif dan promotif, tanpa meninggalkan upaya kuratif dan rehabilitatif. Dasar pandangan baru dalam pembangunan tersebut dikenal sebagai Paradigma Sehat. Puskesmas sebagai pusat pembangunan kesehatan memiliki beberapa fungsi penting sebagai pusat penggerak pembangunan kesehatan, pusat pemberdayaan masyarakat dan keluarga dalam pembangunan kesehatan serta sebagai pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu. Dalam usaha pencapaian tujuan ini puskesmas memiliki kegiatan pokok manajemen yang harus dilakukan yaitu Perencanaan (P1), Penggerakkan dan Pelaksanaan (P2) dan Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian (P3). Melalui manajemen yang baik, diharapkan akan tercapai cakupan dan mutu pelayanan yang baik dan komprehensif. Peninjauan manajemen dan mutu pelayanan puskesmas ini kami laksanakan di Puskesmas Kajoran I pada tanggal 17-21 Desember 2011. Pelayanan upaya kesehatan di Puskesmas dilaksanakan melalui 6 kegiatan pokok secara terpadu dan menyeluruh. Enam kegiatan pokok itu meliputi : Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, KIA/KB, Upaya Peningkatan Gizi,

Pemberantasan Penyakit Menular (P2M), Pengobatan serta ditambah lagi dengan program pengembangan yaitu : Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Kesehatan

Olah Raga, Perkesmas, Kesehatan Kerja, Kesehatan Gigi dan Mulut, Kesehatan Jiwa, Laboratorium Sederhana, Kesehatan Usia Lanjut. Dari hasil observasi Puskesmas Kajoran I diperoleh 24 masalah. Berdasarkan uraian diatas maka penting untuk dilakukan penelitian tentang manajemen dan mutu pelayanan di Puskesmas Kajoran I.

B. Perumusan Masalah Apakah cakupan manajemen puskesmas dan mutu pelayanan puskesmas mengenai 6 program pokok puskesmas periode Januari Oktober 2011 di Puskesmas Kajoran I Kabupaten Magelang sudah memenuhi target SPM Dinkes Kab.Magelang 2011?

C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mahasiswa mampu mendeskripsikan 6 program pelayanan puskesmas dilihat dari aspek manajemen dan mutu pelayanan di Puskesmas Kajoran I Periode Januari Oktober 2011.

2.

Tujuan Khusus a. Mahasiswa mampu mencari data umum dan data khusus tentang SPM (Standar Pelayanan Minimal) di Puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011. b. Mahasiswa mampu mengidentifikasi dan memprioritaskan masalah dalam manajemen Puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011. c. Mahasiswa mampu mencari dan menganalisa simple problem dan complex problem dalam manajemen puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011. d. Mahasiswa mampu menganalisis dan mengkonfirmasi penyebab masalah dalam manajemen puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011. e. Mahasiswa mampu menentukan urutan penyebab masalah dan

memprioritaskan penyebab masalah dalam manajemen puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011. 2

f. Mahasiswa mampu mencari alternatif pemecahan masalah dari penyebab masalah dalam manajemen puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011. g. Mahasiswa mampu mengambil keputusan sehingga mampu menyusun rencana kegiatan pemecahan masalah (POA) dalam manajemen puskesmas Kajoran I pada bulan Januari Oktober 2011.

D. Metodologi Laporan ini disusun berdasarkan data primer dan data sekunder yang diperoleh selama 4 hari pada tanggal 17 21 Desember 2011 di Puskesmas Kajoran I. Data primer berupa pelaksanaan proses manajemen (P1, P2, P3) di peroleh dari dokter puskesmas beserta staf serta observasi terhadap kondisi lingkungan puskesmas. Data sekunder diperoleh dari data tertulis yang ada di puskesmas. Data yang diperoleh dari SPM, kemudian dilakukan identifikasi masalah dan ditentukan prioritas masalah dengan metode Hanlon kuantitatif dan dikonfirmasikan dengan kepala puskesmas. Penyebab masalah manajemen dicari dengan pendekatan sistem sedangkan mutu manajemen divisualisasikan dengan fish bone. Kemudian dianalisa untuk mengetahui penyebab masalah yang akan dipecahkan. Kemudian diprioritaskan dengan metode paired comparation yang digambar dengan diagram pareto. Dilanjutkan dengan alternatif pemecahan masalah, disaring dengan kriteria mutlak dan kriteria keinginan kemudian ditetapkan pengambilan keputusan pemecahan masalah yang paling mungkin untuk dilaksanakan.

BAB II ANALISIS SITUASI

A. Lingkungan 1. Data Wilayah Puskesmas Kajoran I merupakan salah satu puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang. Wilayah Puskesmas Kajoran I berbatasan dengan beberapa kecamatan di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Purworejo, dengan luas wilayah 45,73 km2.

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Kajoran I

a.

Batas Wilayah Batas wilayah Puskesmas Kajoran I adalah : Utara Selatan : Kabupaten Wonosobo dan Kecamatan Kaliangkrik : Desa Ngendosari Kecamatan Kajoran 4

Barat Timur

: Desa Krumpakan Kecamatan Kajoran : Kecamatan Tempuran

b.

Luas wilayah kerja Luas Wilayah Kerja Puskesmas Kajoran I seluas 4.573 Hektar.

c.

Pembagian wilayah Pembagian wilayah Puskesmas Kajoran I terdiri dari 15 desa dan 74 dusun, meliputi : 1. Kajoran 2. Madugondo 3. Banjaragung 4. Sukomulyo 5. Sukorejo 6. Sutopati 7. Sidowangi 8. Sidorejo 9. Sangen 10. Pucungroto 11. Bangsri 12. Wadas 13. Krinjing 14. Banjaretno 15. Sukomakmur

d.

Keadaan Geografis Wilayah kerja Puskesmas Kajoran I terdiri dari : 1. Daerah dataran 2. Daerah pegunungan 3. Daerah bergelombang : 60% : 30% : 10%

e.

Transportasi Jarak puskesmas RSU Tidar Jarak puskesmas Kantor Dinas Kabupaten Jarak puskesmas RSU Muntilan 5 : 15 km : 20 km : 20 km

Jaraj Puskesmas Desa terjauh

: 10 km

Tidak semua daerah dapat terjangkau dengan dengan mobil (roda 4) Angkutan umum : ojek, andong, angkudes, pick-up, bis umum

f.

Sarana komunikasi Sarana komunikasi dari puskesmas ke luar : telepon, radio medik.

2.

Demografi Penduduk ( tahun 2010 ) Jumlah Penduduk Laki-laki Perempuan Jumlah KK Kepadatan Penduduk Jumlah Pasangan Usia Subur Balita : 33.401 Jiwa : 16.626 Jiwa : 16.775 Jiwa : 365 KK : 731 jiwa/km2 : 5.935 pasangan : 2.629 jiwa ( 7,87 %)

Tabel 1. Komposisi penduduk berdasarkan golongan umur di wilayah kerja Puskesmas Kajoran I tahun 2010 No. Umur (th) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 0-1 th 1-4 th 5-14 th 14-44 th 45-64 th > 65 th Total Jumlah 544 2.934 6.583 15.938 5.750 1.652 33.401 (%) 1,6 8,7 19,7 47,7 17,2 4,9 100

Sumber data : Data Statistik Kecamatan Kajoran tahun 2010

Tabel 2. Komposisi penduduk per desa di wilayah kerja Puskesmas Kajoran Tahun 2010 No. Nama Desa 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. Kajoran Madugondo Banjaragung Sukomulyo Sukorejo Sutopati Sidowangi Sidorejo Sangen Pucungroto Bangsri Wadas Krinjing Banjaretno Sukomakmur Penduduk Laki-laki 1.787 487 749 986 678 3.575 788 878 359 1.117 680 402 746 706 2.688 16.626 Perempuan 1.858 545 772 980 638 3.600 863 880 386 1.046 685 471 733 718 2.600 16.775 Total 3.645 1.032 1.521 1.966 1.316 7.175 1.651 1.758 745 2.163 1.365 873 1.479 1.424 5.288 33.401

Sumber data : Data Statistik Kecamatan Kajoran tahun 2010 Tabel 3. Jumlah Rumah Tangga (KK) Menurut Desa di Wilayah Puskesmas Kajoran I Tahun 2010 No. Nama Desa Jumlah Penduduk 1. 2. 3. Kajoran Madugondo Banjaragung 3.645 1.032 1.521 7 Jumlah Tangga 42 8 23 Rumah

4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

Sukomulyo Sukorejo Sutopati Sidowangi Sidorejo Sangen Pucungroto Bangsri Wadas Krinjing Banjaretno Sukomakmur Penduduk

1.966 1.316 7.175 1.651 1.758 745 2.163 1.365 873 1.482 1.427 5.288 33.401

23 11 62 16 21 10 38 13 6 15 17 60 365

Sumber data : Data Statistik Kecamatan Kajoran tahun 2010

Tabel 4. Kepadatan Penduduk Menurut Desa di Wilayah Puskesmas Kajoran I Tahun 2010 No. Nama Desa Luas Wilayah (Km2) 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kajoran Madugondo Banjaragung Sukomulyo Sukorejo Sutopati Sidowangi Sidorejo Sangen 3,11 0,83 1,49 4,19 2,33 9,80 1,38 2,55 0,79 3.645 1.032 1.521 1.966 1.316 7.175 1.651 1.758 745 1.172 1.243 1.021 469 565 732 1.196 689 943 Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk/Km2

10. 11. 12. 13. 14. 15.

Pucungroto Bangsri Wadas Krinjing Banjaretno Sukomakmur Penduduk

1,98 1,70 1,65 3,48 2,13 8,32 45,73

2.163 1.365 873 1.482 1.427 5.288 33.401

1.092 803 529 426 670 636 731

Sumber data : Data Statistik Kecamatan Kajoran tahun 2010

3.

Sosial Budaya a. Sarana peribadatan (2010) Masjid Gereja Pura Wihara b. : 74 buah : : : -

Tingkat pendidikan Tabel 5. Data Tingkat Pendidikan di wilayah kerja Puskesmas Kajoran Tingkat Pendidikan Tidak/Belum pernah sekolah Tidak/Belum tamat SD Tamat SD/MI Tamat SLTP/MTs Tamat SLTA/MA Tamat AK/Diploma Tamat Universitas Jumlah Jumlah 1.470 2.694 8.482 3.628 1.557 332 249 18.412 % 7,9 14,6 46,1 19,7 8,4 1,8 1,3 100

Sumber data : Data Statistik Kecamatan Kajoran tahun 2010

c.

Sarana pendidikan ( Sumber : BPS Magelang Tahun 2009 ) TK SD / MI : 54 buah : 57 buah

SLTP / Mts : 15 buah SLTA / MA : 7 buah Pesantren : 17 buah

4.

Sosial Ekonomi a. Mata pencaharian Tabel 6. Data Mata Pencaharian Penduduk di wilayah kerja Puskesmas Kajoran I Mata Pencaharian Buruh tani Tani Buruh PNS / ABRI Sopir angkutan Pedagang Pensiunan PNS /ABRI Pengusaha Lain-lain Total Jumlah 7.152 8.415 2.888 930 940 1.565 382 998 17.837 41.107 % 21,7 % 25,58 % 8,78 % 2,82 % 2,86 % 4.76 % 1,16 % 3,03 % 29,25 % 100 %

Sumber data : Data Statistik Kecamatan Kajoran tahun 2009 b. Sarana perekonomian KUD Bank Pasar umum Home Industry Warung makan Terminal Penggilingan padi Penggilingan tepung 10 : 1 buah : 3 buah : 3 buah : 16 buah : 25 buah : 1 buah : 13 buah : 1 buah

Pengelolaan minyak cengkeh Total

: 1 buah : 64 buah

5.

Kesehatan Lingkungan a. Sarana penyediaan air bersih Tabel 7. Jenis dan Jumlah Pemakai Sarana Air Bersih di Wilayah Kerja Puskesmas Kajoran I Tahun 2009 Jenis Sarana Air Bersih Sumur gali Perlindungan mata air Perpipaan PAM Pengguna 13675 2450 6385 3818

Sumber data : Puskesmas Kajoran I tahun 2009 b. Sarana jamban Tabel 8. Sarana dan Cakupan Pelayanan Jamban Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Kajoran I Tahun 2009 Jenis Jamban Cemplung leher angsa Cemplung non- leher angsa Septictank leher angsa Total Jumlah Sarana 1.076 103 1.983 3.162

Sumber data : Puskesmas Kajoran I Tahun 2009

11

B. Input 1. Sarana Fisik Ruang pelayanan : Ruang loket / pendaftaran Ruang UGD / tindakan BP Umun Apotik BP Gigi Ruang KIA, KB, dan imunisasi Ruang gizi dan perkantoran Laboratorium Gudang obat Aula Ruang komputer Gudang barang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang

Sarana kesehatan lain yang ada berupa : - Puskesmas induk - Posyandu Posyandu Purnama Posyandu Mandiri : 1 buah (Desa Sidorejo) : 74 buah, dengan strata : : 17 buah : 19 buah

2.

Dana, Sarana, dan Ketenagaan a. Sumber dana Sumber pendanaan Puskesmas Kajoran I berasal dari : 1) Pendapatan puskesmas : a) Retribusi b) Askes 12

c) Lain-lain 2) Penerimaan a) Dana dari APBD Kabupaten untuk operasional meliputi gaji, sarana dan prasarana aparatur serta sarana dan prasarana publik. b) Dana dari APBD Kabupaten melalui dinas kesehatan untuk pemeliharaan kendaraan roda dua dan roda empat c) Dana dari JPKMM / Jamkesmas 3. Kebijakan Pemerintah Daerah dan Pusat Peraturan yang mengatur Puskesmas : a. UU No. 23 tahun 1992 Tentang Kesehatan b. UU No. 22 tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah c. UU No. 25 tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah d. PERDA No 14 tahun 2006 Tentang Restribusi Pelayanan Kesehatan pada Puskesmas di Kabupaten Magelang e. Keputusan Bupati Kepala Daerah TK II Magelang No

1884/492/Kep/13.2002 Tentang Organisasi Puskesmas.

4.

Peta Jabatan Puskesmas I Peta Jabatan Puskesmas Kajoran I Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang

13

5.

Sumber Daya Manusia, Jumlah, dan Spesifikasinya

Tabel 9. Rincian Jumlah Tenaga Kerja yang Ada di Puskesmas Kajoran I Tempat Puskesmas Induk Tenaga Kerja Dokter umum Dokter gigi Bidan dan Perawat Sanitarian (SPPH) Gizi Pengelola obat Petugas sanitasi Petugas kesmas JUMLAH TOTAL Sumber Data: Puskesmas Kajoran I Tahun 2010 C. Proses Manajemen 1. Perencanaan (P1) Tim perencana terdiri dari Kepala puskesmas dan para pemegang program, dimana sumber data didapat dari laporan bulanan Puskesmas, yang direkapitulasi pada akhir tahun. Laporan memuat hasil kegiatan, dalam melakukan perencanaan kepala puskesmas dibantu oleh para pemegang program, dimana sumber data didapat dari laporan bulanan Puskesmas. Laporan memuat hasil kegiatan dari 6 upaya kesehatan pokok yang dilaksanakan di Puskesmas Kajoran I. Laporan akhir tahun di Puskesmas Kajoran I disajikan dalam bentuk tabel yang didokumentasi secara rapi dan grafik untuk dapat lebih menilai naik turunnya perjalanan kegiatan dalam 12 bulan. Kemudian data dianalisa dibandingkan dengan target. Masalah timbul jika pencapaian kegiatan tidak memenuhi target yang ditetapkan. Jadwal pelaksanaan dilakukan akhir bulan desember, dan cara mendapatkannya dengan lokmin. 14 Jumlah 2 2 24 1 1 1 1 1 33

2.

Penggerakkan dan Pelaksanaan (P2) Dalam manajemen penggerakan dan pelaksanaan terdapat komponenkomponen yang merupakan bagian terpenting dari manajemen tersebut. Komponen tersebut meliputi: a. Pengorganisasian Penentuan para penanggung jawab dan para pelaksana untuk setiap kegiatan dengan pertemuan penggalangan tim pada awal tahun kegiatan (mini lokakarya) yaitu pesertanya meliputi, kepala puskesmas, dan seluruh staf puskesmas. Penggalangan kerjasama lintas sektoral, antara dua sektor maupun antara berbagai sektor yang terkait, antara lain : 1. Pendidikan nasional (UKS) 2. Kantor Urusan Agama 3. Pertanian 4. Kependudukan dan catatan sipil (KB) 5. Perekonomian dan kesra (ASKESKIN) 6. Pembangunan desa b. Penyelenggaraan Penyelenggaraan kegiatan dari upaya 6 kesehatan wajib dilakukan dengan jadwal kegiatan yang disusun oleh masing-masing penanggung jawab dengan koordinasi dengan kepala Puskesmas agar

penyelenggaraan kegiatan di Puskesmas Kajoran I tetap memperhatikan azas penyelenggaraan puskesmas, berbagai standar dan pedoman

pelayanan puskesmas, kendali mutu dan biaya. Penyelenggaraan kegiatan dilaksanakan dengan kerjasama lintas program maupun lintas sektoral. Terbangun baik kerjasama lintas program yaitu dalam bentuk sinkronisasi program. Dan evaluasi hasil lokmin dengan pengambilan program tertentu, diurutkan dan di evaluasi kegiatan apa yang ada masalah. c. Pemantauan 1) Pengkajian internal lintas program dilakukan dalam bentuk pertemuan rutin bulanan yang membahas mengenai kinerja Puskesmas Kajoran I, bagaimana kendali mutu dan kendali biaya. Pengkajian eksternal secara Triwulanan (lokakarya mini triwulanan)

15

bersama lintas sektoral tentang penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang telah dicapai. 2) Menyusun saran peningkatan penyelenggaraan kegiatan sesuai dengan pencapaian kinerja Puskesmas serta masalah dan hambatan yang ditemukan dalam telaah bulanan dan triwulanan.

3.

Pengawasan, Pengendalian dan Penilaian (P3) Adalah proses memperoleh kepastian, kesesuaian penyelenggaraan dan pencapaian tujuan Puskesmas terhadap rencana dan undang-undang yang berlaku. Pengawasan terdiri atas pengawasan internal dari atasan langsung (Kepala Puskesmas) terhadap seluruh staf dan pengawasan eksternal yang dilakukan sebagian masyarakat dan dinas kesehatan terhadap kegiatan yang dilaksanakan puskesmas, dengan ruang lingkup administratif, keuangan, teknis pelayanan yang dilakukan di Puskesmas Kajoran I. Penilaian dilakukan pada akhir tahun menggunakan Standar Pelayanan Minimal (SPM) meliputi penilaian terhadap penyelenggaraan kegiatan dan hasil yang dicapai, dibandingkan dengan rencana tahunan dan standar pelayanan. Untuk program KIA dan Imunisasi, penilaian hasil kegiatan adalah dengan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) yaitu pemantauan adanya kenaikan kasus. Pertanggungjawaban dilakukan melalui laporan pertanggungjawaban tahunan yang berisi tentang pelaksanaan kegiatan, perolehan sumber dana (keuangan) dan penggunaan sumberdaya. Laporan pertanggungjawaban dibuat oleh kepala Puskesmas pada setiap lokakarya mini yang mencakup di dalamnya pelaksanaan kegiatan serta perolehan dan penggunaan berbagai sumber daya termasuk keuangan, disampaikan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten / Kota serta pihakpihak terkait lainnya, termasuk masyarakat.

16

D. Keluaran Cakupan kegiatan yang meliputi 6 upaya program standar pelayanan minimal bulan Januari Oktober 2011. Lembar SPM (Standar Pelayanan Minimal) terlampir. a. 1. Dampak Data kematian Jumlah kematian penduduk dalam 10 bulan (Januari Oktober 2010) : 11 jiwa.

2.

Data kelahiran Jumlah kelahiran hidup dalam 10 bulan (Januari Oktober 2010) : 616 jiwa. Jumlah kelahiran mati dalam 10 bulan (Januari Oktober 2010) : 8 jiwa.

3.

Data kesakitan Jumlah kesakitan dalam 10 bulan (Januari Oktober 2010) : 1063 jiwa.

17

BAB III IDENTIFIKASI MASALAH

A. ANALISIS HASIL 1. Analisa Data Umum Dari data umum dalam wilayah kerja Puskesmas Kajoran I Kabupaten Magelang didapatkan : a. b. Luas wilayah kerja puskesmas Kajoran I : 45,73 km ( 4.473 hektar ) Wilayah kerja meliputi 15 desa dan 74 dusun , jumlah penduduk 32.505 jiwa dengan KK dan kepadatan penduduk 771 jiwa/km2 c. Keadaan geografis : Daerah dataran Daerah pegunungan Daerah bergelombang d. : 60% : 30% : 10% : mobil, sepeda motor,

Sarana transportasi ke desa desa yaitu ojek, bus kecil, angkot

e. f. g.

Mata pencaharian sebagian besar Tingkat pendidikan terbanyak Mayoritas penduduk beragama

: lain-lain ( 29,25 % ) : SD ( 33,54 % ) : Islam

2.

Analisis masukan

Jumlah seluruh tenaga kesehatan puskesmas Kajoran 1 sebanyak 33 orang

Puskesmas mempunyai sarana medis dan non medis yang memadai Dana puskesmas dari APBD kabupaten, DAK dari Dinas Kesehatan, JAMKESMAS

3.

Analisa Keluaran Dari data pencapaian kegiatan 6 program Puskesmas Kajoran I selama bulan Januari Oktober 2011, didapatkan data yang bermasalah berdasarkan hasil skor SPM (Standar Pelayanan Minimal) sebesar kurang dari 100% adalah sebagai berikut :

18

Tabel 10. Daftar Masalah, pencapaian dan besar masalah No 1. 2. 3. Masalah Cakupan Kunjungan Bumil K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi 4. Balita Gizi Buruk mendapat Pencapaian (%) 91,65 13,73 96 Besar Masalah (%) 8,35 86,27 4

perawatan 5. Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa 6. Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi 7. 8. Rumah Sehat Penduduk Jamban 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. Rumah yang mempunyai SPAL Jumlah Bumil yang Mendapat TT1 Jumlah Bumil yang Mendapat TT2 BCG DPT 1 DPT 3 Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan Paripurna) 18. 19. Bayi yang dapat ASI Eksklusif Posyandu 2008) 20. Ketersediaan kebutuhan 21. 22. Pengadaan Obat Essensial Pengadaan Obat Generik 19 Obat Sesuai Purnama (Indikator yang memanfaatkan

91,24

8,76

82,83

17,17

42,04 24,01 22,6 30,9 87 78,38 93,05 90 86,85 90 92,94 34,7 48,65 69,1

57,96 75,99 27,4 69,1 13 21,62 6,95 10 13,15 10 7,06 65,3 51,35 30,9

94,7 85,23 8,4

5,3 14,76 91,6

23. 24.

Penyediaan Narkotika psikotropika UKGS tahap III

90 94,5

10 5,5

B. PRIORITAS MASALAH Berdasarkan metode hanlon kuantitatif dapat ditentukan prioritas masalah sebagai berikut : 1. Besarnya Masalah (Kriteria A) Besarnya masalah dilihat dari besarnya masalah terhadap prosentase pencapaian ( 100% - skor pencapaian ). Menentukan kelas dan interval : Banyak Kelas = 1 + 3,3 log n = 1 + 3,3 log 24 = 5,55 Interval kelas = nilai max nilai min Kelas = 91,6 4 = 15,78 5,55

Tabel 11. Kriteria A : Besarnya Masalah Besarnya Masalah Per 10.000 Penduduk Masalah 4-19 1 Cakupan Kunjungan Bumil X K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi X Vit A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat X perawatan Jumlah Umum Diperiksa Tempat (TTU) Tempat X yang 1 1 X 10 1 20-35 2 36-51 4 52-67 6 68-83 8 >84 10 1 Nilai

20

Tempat (TTU)

Tempat yang

Umum

Memenuhi

Syarat Sanitasi Rumah Sehat Pengadaan Obat Generik Rumah SPAL Jumlah Bumil yang X 1 yang mempunyai X X X 8 10 1

Mendapat TT1 Jumlah Bumil yang X 2

Mendapat TT2 BCG DPT 1 DPT 3 Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan Paripurna) Bayi yang dapat ASI X 6 X X X X X X 1 1 1 1 1 6

Eksklusif Posyandu (Indikator 2008) Ketersediaan Obat Sesuai X kebutuhan Pengadaan Obat Essensial Penduduk memanfaatkan Jamban Penyediaan psikotropika UKGS tahap III X 1 Narkotika X 1 yang X X 1 2 1 Purnama X 2

21

2.

Kegawatan masalah (Kriteria B) dengan bobot 1-4 Keterangan: Keganasan 1. Tidak ganas 2. Kurang ganas 3. Ganas 4. Sangat ganas Urgency 1. Tidak mendesak 2. Kurang mendesak 3. Mendesak 4. Sangat mendesak Biaya dikeluarkan 1. Sangat mahal 2. Mahal 3. Murah 4. Sangat Murah yang

Tabel 12. Kriteria B : kegawatan masalah No Masalah Keganasan Tingkat urgency 1 2 3 Cakupan Kunjungan Bumil K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi 4 5 Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa 6 Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Rumah Sehat Pengadaan Obat Generik Rumah yang mempunyai SPAL Jumlah Bumil yang Mendapat TT1 Jumlah Bumil yang Mendapat TT2 BCG DPT 1 DPT 3 Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan Paripurna) 22 2,8 2,1 3,1 3,7 1,4 3,3 2,8 2,9 4 2,3 3,9 3,3 2,6 1,9 2,9 10 8,2 8,6 9,6 6,6 Biaya Total

1,9 3,4 3 3,3 3,8 3,6 3,6 3,4 3,4 4 3,6 2,7

2,7 3,1 3,1 3,3 3,5 3,1 3,7 3,6 3,3 3,8 3,3 2,9

2,6 3,3 2,9 2,1 2,5 2,1 2,7 2,7 2,5 2,2 2,5 2,6

7,2 9,8 9 8,7 9,8 8,8 10 9,7 9,2 10 9,4 8,2

18 19 20 21 22 23 24

Bayi yang dapat ASI Eksklusif Posyandu Purnama (Indikator 2008) Ketersediaan Obat Sesuai kebutuhan Pengadaan Obat Essensial Penduduk yang memanfaatkan Jamban Penyediaan Narkotika psikotropika UKGS tahap III

3,7 2,9 3,1 3 3,4 2,1 2,6

3,6 2,4 3,8 2,9 3,3 2,2 2,1

3,8 2,1 2,2 2,5 3 1,7 2,6

11,1 7,4 9,1 8,4 9,7 6 7,3

3.

Kemudahan Penanggulangan (Kriteria C) dengan bobot 1-5 Keterangan : 1. Sangat sulit 2. Sulit 4. Mudah 5. Sangat mudah

Tabel 13. Kriteria C : kemudahan dalam penanggulangan No Masalah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Cakupan kunjungan bumil K4 Cakupan kunjungan bayi Cakupan bufas yang diberi vit A dosis tinggi Balita gizi buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi Rumah Sehat Pengadaan Obat Generik Rumah yang mempunyai SPAL Jumlah Bumil yang Mendapat TT1 Jumlah Bumil yang Mendapat TT2 BCG DPT 1 DPT 3 Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 23 Nilai 3,5 2,9 2,2 3 2,1 1,9 1,9 2 1 2,2 2,2 2,5 2,5 2 2,6 2,2

17 18 19 20 21 22 23 24

Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan Paripurna) Bayi yang dapat ASI Eksklusif Posyandu Purnama (Indikator 2008) Ketersediaan Obat Sesuai kebutuhan Pengadaan Obat Essensial Penduduk yang memanfaatkan Jamban Penyediaan Narkotika psikotropika UKGS tahap III

1,1 2 1,1 1,9 1,7 1,7 1,5 1,9

4.

PEARL faktor (Kriteria D) Faktor-faktor tersebut adalah : a. b. c. d. e. kesesuaian dengan program (propriety / P) murah secara ekonomi (economy / E) dapat diterima oleh masyarakat (acceptibility / A) sumber daya yang mendukung kesehatan (resources / R) legalitas terjamin (legality / L)

Skor yang digunakan : 1 : setuju 0 : tidak setuju

Tabel 14. Kriteria D : PEARL faktor Kriteria D Cakupan Kunjungan Bumil K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi Rumah Sehat Pengadaan Obat Generik Rumah yang mempunyai SPAL 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 P 1 1 1 1 1 E 1 1 1 1 1 A 1 1 1 1 1 R 1 1 1 1 1 L 1 1 1 1 1 total 1 1 1 1 1

24

Jumlah Bumil yang Mendapat TT1 Jumlah Bumil yang Mendapat TT2 BCG DPT 1 DPT 3 Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan Paripurna) Bayi yang dapat ASI Eksklusif Posyandu Purnama (Indikator 2008) Ketersediaan Obat Sesuai kebutuhan Pengadaan Obat Essensial Penduduk yang memanfaatkan Jamban Penyediaan Narkotika psikotropika UKGS tahap III

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 0 1

5.

Penilaian Prioritas Masalah Dari kriteria-kriteria yang telah dilakukan diatas, ditentukan prioritas dengan menghitung : Nilai Prioritas Dasar (NPD) = (A+B) x C Nilai Prioritas Total (NPT) = NPD x D = (A+B) x C x D

Tabel 15. Nilai Prioritas Dasar dan Total Masalah Cakupan Kunjungan Bumil K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa A 1 10 1 B 10 8,2 8,6 C 3,5 2,9 2,2 D 1 1 NPD 38,5 52,78 21,12 NPT 38,5 52,78 21,12 Prioritas II I XIV

9,6

31,8

31,8

6,6

2,1

15,96

15,96

XVIII

25

Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi Rumah Sehat Pengadaan Obat Generik

6 8 2

7,2 9,8 9 8,7 9,8

1,9 1,9 2 1 2,2

0 1 1 1

25,08 33,82 22 9,7 23,76

0 33,82 22 9,7 23,76

III XIII XX X

Rumah yang mempunyai SPAL 1 Jumlah Bumil yang Mendapat TT1 Jumlah Bumil yang Mendapat TT2 BCG DPT 1 DPT 3 Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat (RT 1

2 1 1 1 1 1 6 4 2

8,8 10 9,7 9,2 10 9,4 8,2 11,1 7,4

2,2 2,5 2,5 2 2,6 2,2 1,1 2 1,1

1 1 1 1 1 1

23,76 27,5 26,75 20,4 28,6 22,88 15,62 30,2 10,34

23,76 27,5 26,75 20,4 28,6 22,88 0 30,2 0

XI VIII IX XV VII XII VI -

Utama dan Paripurna) Bayi yang dapat ASI Eksklusif Posyandu Purnama (Indikator 2008) Ketersediaan kebutuhan Pengadaan Obat Essensial Penduduk yang memanfaatkan Jamban Penyediaan psikotropika UKGS tahap III Narkotika Obat Sesuai

0 1

1 1 10

9,1 8,4 9,7

1,9 1,7 1,7

1 1

19,19 15,98 33,49

19,19 15,98 33,49

XVI XVII IV

1 1

6 7,3

1,5 1,9

0 1

10,5 15,77

0 15,77

XIX

26

Berdasarkan hasil perhitungan secara Hanlon kuantitatif, didapatkan urutan prioritas masalah sebagai berikut: 1. Cakupan kunjungan bayi masih rendah 2. Cakupan kunjungan bumil K4 masih rendah 3. Rumah sehat masih rendah 4. Penduduk yang memanfaatkan jamban masih rendah 5. Balita gizi buruk mendapat perawatan masih rendah 6. Bayi yang dapat ASI eksklusif masih rendah 7. Hepatitis B1 total masih rendah 8. BCG masih rendah 9. DPT1 masih rendah 10. Jumlah bumil yang mendapat TT1 masih rendah 11. Jumlah Bumil yang mendapat TT2 masih rendah 12. Hepatitis B3 masih rendah 13. Pengadaan obat generik masih rendah 14. Cakupan Bufas yang diberi vit A dosis tinggi masih rendah 15. DPT3 masih rendah 16. Ketersediaan obat sesuai kebutuhan masih rendah 17. Pengadaan obat essensial masih rendah 18. Jumlah tempat-tempat umum (TTU) yang diperiksa masih rendah 19. UKGS tahap III masih rendah 20. Rumah yang mempunyai SPAL masih rendah Setelah mengkonfirmasi ke-20 masalah kepada Kepala Puskesmas Kajoran I, kami mendapatkan masalah cakupan Bayi yang dapat ASI Eksklusif kurang dari target (32,4%), Penduduk yg memanfaatkan jamban kurang dari target (14%), Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan kurang dari tareget (76%)

27

C. ANALISIS PENYEBAB MASALAH Untuk menganalisa penyebab masalah dapat dilihat dari segi manajemen Puskesmas dan mutu pelayanan Puskesmas. Dari segi manajemen Puskesmas digunakan pola pendekatan sistem yang meliputi input (man, material, metode, money, machine), proses (P1 : perencanaan , P2 : penggerakan dan pelaksanaan, P3 : pengendalian,pengamatan,penilaian), dan lingkungan.

Diagram pola pemecahan masalah berdasarkan sistem:


Lingkungan :
- Kebijakan - Situasi

Input (5M)

Proses

Output

Outcome

Impact

P1 P2 P3

Simple Problem

Complex Problem

D. KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH Untuk menganalisa penyebab masalah managemen secara menyeluruh, digunakan pendekatan sistem yang meliputi input, proses, output, outcome, dampak dan lingkungan. Dengan pola pemecahan masalah berdasarkan sistem tersebut dapat ditelusuri kebelakang hal-hal yang menyebabkan munculnya permasalahan. Dari tahap ini didapatkan asumsi penyebab masalah sebagai berikut :

28

Tabel 20. Analisis Pendekatan Sistem ASI EKSLUSIF KOMPONEN INPUT MAN KEMUNGKINAN PENYEBAB MASALAH Kurangnya proaktif tenaga kesehatan / kader dalam hal edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif Petugas kesehatan tidak mendapatkan pembinaan tentang ASI Eksklusif Kurangnya promosi tentang pentingnya ASI Eksklusif Terbatasnya alokasi dana untuk promosi tentang pentingnya ASI Eksklusif MATERI AL METODE Tidak ada SOP Metode yang digunakan dalam promosi kurang variatif / kurang menarik MACHIN E PROSES P1 Kurangnya brosur, pamflet dan poster yang berkaitan dengan promosi pentingnya ASI ekslusif Kurang optimalnya perencanaan kegiatan promosi dan edukasi tentang ASI ekslusif Kurangnya sosialisasi pada kaderyang terlibat dalam kegiatan Perencaan dalam pembagian tugas kurang terkoordinasi P2 P3 Kurang tepatnya waktu maupun tempat pelaksanaan Kurangnya pengawasan dan evaluasi terhadap program promosi pentingnya ASI ekslusif LINGKUNGAN Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif Persepsi yang salah bahwa jika anak masih nangis atau rewel harus diberi tambahan susu formula -

MONEY

29

Jamban KOMPONEN

KEKURANGAN

Man

Hanya terdapat 1 petugas

Input

Money Methode Material Machine

Lingkungan

Sosial budaya, Sosial Ekonomi

Kurangnya brosur, leaflet, dan poster yang berkaitan dengan pemanfaatan jamban Perilaku penduduk yang masih memanfaatkan tinja sebagai pakan ikan Perilaku penduduk yang lebih menyukai BAB di sungai Kurangnya kesadaran penduduk dalam pemanfaatan dan pemeliharaan jamban Persepsi masyarakat tentang mahalnya membangun jamban (biaya pembelian bahan dan tukang)

KELEBIHAN Petugas sudah sesuai dengan pendidikannya Petugas pernah mengikuti pelatihan dan seminar yang sifatnya mendukung kegiatan program -

Tidak adanya lahan milik penduduk yang dapat digunakan untuk membangun jamban

30

Balita Gizi Buruk Mendapat perawatan KOMPONEN INPUT MAN KEMUNGKINAN PENYEBAB Kurangnya personal dalam bidang gizi Petugas kesehatan kurang mengupdate pengetahuan baru melalui pelatihan atau seminar MONEY MATERIAL METODE Tidak adanya SOP dalam program gizi Program dipilah-pilah oleh dinas kesehatan sendiri MACHINE LINGKUNGAN Pemikiran warga yang kurang kooperatif Tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan masyarakat Tingkat sosial ekonomi masyarakat yang kurang Rumah warga yang jaraknya susah dijangkau

PROSES

P1

Perencanaan belum sesuai dengan masalah yang ada sehingga program yang akan dilaksanakan belum menyelesaikan masalah yang terjadi

P2

Tidak pernah diikutsertakan dalam lokmin triwulan Kepala puskesmas kurang bersosialisasi dengan pemegang program

Kurangnya

sosialisasi

petugas

terhadap

warga

tentang

program-program di bidang gizi. P3 Kurangnya pengawasan petugas puskesmas terhadap

pelaksanaan program di luar gedung Sistem pelaporan yang kurang efisien Tidak adanya reward positif bagi petugas yang berprestasi

Sistem pelaporan yang kurang terstruktur tapi sudah mandiri

31

Berikut ini adalah daftar penyebab masalah setelah dilakukan konfirmasi pada kunjungan ke Puskesmas Kajoran I pada tanggal 21 Desember 2011.

ASI EKSLUSIF KOMPONEN INPUT MAN PENYEBAB MASALAH Petugas kesehatan tidak mendapatkan pembinaan tentang ASI Eksklusif MONEY MATERIAL METODE Tidak ada SOP Metode yang digunakan dalam promosi kurang variatif / kurang menarik MACHINE Tidak adanya brosur, pamflet dan poster yang berkaitan dengan promosi pentingnya ASI Ekslusif PROSES P1 Kurang optimalnya perencanaan kegiatan promosi dan edukasi tentang ASI Ekslusif Kurangnya sosialisasi pada kader yang terlibat dalam kegiatan P2 P3 LINGKUNGAN Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif. Persepsi yang salah bahwa jika anak masih nangis atau rewel harus diberi tambahan susu formula.

32

Jamban KOMPONEN

KEKURANGAN

Man

Hanya terdapat 1 petugas

Input

Money Methode Material Machine

Lingkungan

Sosial budaya, Sosial Ekonomi

Kurangnya brosur, leaflet, dan poster yang berkaitan dengan pemanfaatan jamban Perilaku penduduk yang masih memanfaatkan tinja sebagai pakan ikan Perilaku penduduk yang lebih menyukai BAB di sungai Kurangnya kesadaran penduduk dalam pemanfaatan dan pemeliharaan jamban Persepsi masyarakat tentang mahalnya membangun jamban (biaya pembelian bahan dan tukang)

KELEBIHAN Petugas sudah sesuai dengan pendidikannya Petugas pernah mengikuti pelatihan dan seminar yang sifatnya mendukung kegiatan program -

Tidak adanya lahan milik penduduk yang dapat digunakan untuk membangun jamban

Proses

P1 P2 P3

33

Gizi Buruk Mendapat Perawatan KOMPONEN INPUT MAN KEMUNGKINAN PENYEBAB Kurangnya personal dalam bidang gizi Petugas kesehatan kurang mengupdate pengetahuan baru melalui pelatihan atau seminar

MONEY MATERI AL METODE

Tidak adanya SOP dalam program gizi Program dipilah-pilah oleh dinas kesehatan sendiri

MACHIN E LINGKUNGAN

Pemikiran warga yang kurang kooperatif Tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan masyarakat Tingkat sosial ekonomi masyarakat yang kurang Rumah warga yang jaraknya susah dijangkau

PROSES

P1

Perencanaan belum sesuai dengan masalah yang ada sehingga program yang akan dilaksanakan belum menyelesaikan masalah yang terjadi

P2

Tidak pernah diikutsertakan dalam lokmin triwulan Kepala puskesmas kurang bersosialisasi dengan pemegang program

Kurangnya sosialisasi petugas terhadap warga tentang programprogram di bidang gizi. P3 Kurangnya pengawasan petugas puskesmas terhadap pelaksanaan program di luar gedung Sistem pelaporan yang kurang efisien Tidak adanya reward positif bagi petugas yang berprestasi

Sistem pelaporan yang kurang terstruktur tapi sudah mandiri

34

Dalam menilai mutu pelayanan puskesmas dilakukan pendekatan complex problem dengan menggunakan 9 dimensi mutu, kami menggunakan kuesioner dan observasi terhadap 9 dimensi mutu, juga dilakukan pendekatan simple problem yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi berdasarkan standar operating prosedur (SOP). Kemudian untuk menganalisa penyebab masalah digunakan metode fish bone.

E. ANALISIS MASALAH MUTU a. Simple problem Simple problem tidak dapat dinilai karena tidak adanya SOP b. Complex Problem Tabel 21. Daftar tilik dimensi mutu. No Masalah 1. Apakah dokter turun langsung memeriksa pasien ? ( Y/T ) 2. Apakah petugas / dokter melakukan pemeriksaan (anamnesa dan pemeriksaan fisik) dengan lengkap? (Y/T ) 3. Apakah dokter memberikan penjelasan tentang penyakit yang diderita? ( Y/T ) 4. Apakah ada penjelasan penyakit pada anggota keluarga yang lain? (Y/T ) 5. Apakah dokter memberikan penjelasan mengenai efek samping obat? ( Y/T ) 6. Apakah dokter dan petugas bersikap ramah terhadap pasien dan keluarga pasien ? ( Y/T ) 7. Apakah dokter/petugas menggunakan bahasa yang bisa dipahami oleh pasien? ( Y/T ) 8. Apakah petugas mendengarkan keluhan pasien dengan seksama? ( Y/T ) 9. Apakah biaya pelayanan puskesmas terjangkau? ( Y/T ) Y 26 30 21 18 13 9 30 30 30 T 4 0 9 12 17 1 0 0 0 0 4 4 4

10. Apakah biaya yang dibayarkan sesuai dengan pelayanan yang 30 diterima? ( Y/T ) 26 11. Apakah pasien diperlakukan sama/tidak dibeda-bedakan? ( Y/T ) 12. Apakah pelayanan yang dilakukan cepat? ( Y/T ) 26

13. Apakah pasien harus melalui proses yang berbelit-belit untuk 26 mendapatkan pelayanan? ( Y/T ) 35

14. Apakah pasien harus menunggu lama untuk mendapatkan 16 pelayanan? ( Y/T ) 15. Apakah petugas kesehatan menjelaskan cara minum obat? ( Y/T ) 28 16. Apakah selalu ada koordinasi antarpetugas dalam segala hal ? ( Y/T ) 17. Apakah warga setempat merasakan manfaat adanya puskesmas? ( 30 Y/T ) 29 18. Apakah petugas menanyakan riwayat alergi pada pasien? ( Y/T ) 19. Apakah lokasi puskesmas mudah dijangkau? ( Y/T ) 20. Apakah puskesmas memiliki ambulans? ( Y/T ) 21. Apakah sarana dan transportasi tersedia? ( Y/T ) 22. Apakah sarana yang tersedia sudah dimanfaatkan? ( Y/T ) 23. Apakah keamanan di area parkir terjamin? 24. Apakah terdapat kursi di ruang tunggu? 25. Apakah ruang tunggu pasien bersih ? ( Y/T ) 26. Apakah ruang tunggu pasien nyaman? ( Y/T ) 27. Apakah ruang periksa bersih? ( Y/T ) 28. Apakah ruang periksa sudah menjaga privasi pasien? ( Y/T) 29. Apakah kamar mandi bersih? ( Y/T ) 30. Apakah lingkungan puskesmas bersih ? ( Y/T) 31. Apakah ada petunjuk alur berobat di puskesmas? ( Y/T ) 32. Apakah ada petunjuk ruang yang jelas? ( Y/T ) 33. Apakah ada daftar program puskesmas yang jelas? ( Y/T ) 34. Apakah ada poster tentang program dinas kesehatan? ( Y/T ) 35. Apakah di puskesmas tersedia kotak saran? (Y/T ) 29 30 30 24 29 30 30 30 30 29 29 29 29 30 16 30 30

14 2

0 1 1 0 0 6 1 0 0 0 0 1 1 1 1 0 14 0 0

36

F. PRIORITAS PENYEBAB MASALAH ASI EKSKLUSIF DENGAN FISH BONE ASI EKSKLUSIF
Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif. Persepsi yang salah bahwa jika anak masih nangis atau rewel harus diberi tambahan susu formula

Lingkungan

Machine
Tidak adanya Brosur, Pamflet, dan Poster yang berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif.

Metode yang digunakan untuk promosi kurang variatif/ kurang menarik. Tidak adanya SOP.

Kurang optimalnya perencanaan kegiatan promosi dan edukasi tentang ASI Ekslusif. Kurangnya sosialisasi pada kader yang terlibat dalam kegiatan .
P1

Tenaga kesehatan dan kader tidak mendapat pembinaan tentang ASI Eksklusif

Cakupan Bayi dengan ASI Eksklusif rendah

Method

Man

G. ANALISIS PRIORITAS PENYEBAB MASALAH ASI EKSKLUSIF Dari hasil inventarisasi penyebab penyebab permasalahan yang timbul pada manajemen dan dimensi mutu Puskesmas Kajoran I, maka dilanjutkan dengan penentuan prioritas penyebab masalah dengan metode Paired Comparison dan Diagram Pareto.

37

Analisa Dengan Paired Comparison

Total

1 2 3 4 5 6 7 8

1 2

1 2 4

1 2 5 5

1 2 6 6 5

1 2 7 7 5 6

1 2 8 8 8 8 8

7 6 0 1 4 3 2 5

Tabel Pareto NO PENYEBAB N MASALAH Kurangnya 1 7 kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif. 2 Persepsi yang salah 6 bahwa jika anak masih nangis atau rewel harus diberi tambahan susu formula Tidak adanya 0 Brosur, Pamflet, dan Poster yang berkaitan dengan pemberian ASI eksklusif.

% 25

N Kumulatif 7

% Komulatif 25

21,42

13

46,42

13

46,42

38

5 6

Metode yang digunakan untuk promosi kurang variatif/ kurang menarik. Tidak adanya SOP Kurang optimalnya perencanaan kegiatan promosi dan edukasi tentang ASI Ekslusif. Kurangnya sosialisasi pada kader yang terlibat dalam kegiatan Tenaga kesehatan dan kader tidak mendapat pembinaan tentang ASI Eksklusif Total

3,57

14

49,99

4 3

14,28 10,71

18 21

64,27 74,98

7,14

23

82,12

17,85

28

100

28

137

Distribusi Frekuensi Penyebab Masalah Analisis Penyebab 1 2 8 5 6 7 4 3 N 7 6 5 4 3 2 1 0 % 25 21,42 17,85 14,28 10,71 7,14 3,57 0 N Kumulatif 7 13 18 22 25 27 28 28 % kumulatif 25 46,42 64,27 78,55 89,26 96,4 100 100

39

Diagram Pareto
120 100 80 60 40 20 0 1 2 8 5 6 7 4 3 % % Kumulatif

H. ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH ASI EKSLUSIF No. Prioritas Penyebab Masalah 1. 2. Alternatif Pemecahan Penyebab Masalah Kurangnya kesadaran masyarakat Penyuluhan dan pengawasan dari kader tentang pentingnya ASI Eksklusif. kepada masyarakat Persepsi yang salah bahwa jika anak Memberikan pengertian kepada ibu masih nangis atau rewel harus diberi menyusui bahwa pemberian makanan tambahan susu formula dan minuman tambahan selain ASI dapat mengganggu pencernaan pada bayi dan memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif. Tenaga kesehatan dan kader tidak Diadakannya pembinaan kepada tenaga mendapat pembinaan tentang ASI kesehatan dan kader Eksklusif Tidak adanya SOP Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehingga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan.

3.

4.

a. Pengambilan Keputusan

40

Proses pengambilan keputusan menggunakan kriteria mutlak dan kriteria keinginan, sebagai berikut: A. Penyuluhan dan pengawasan dari kader kepada masyarakat B. Memberikan pengertian kepada ibu menyusui bahwa pemberian makanan dan minuman tambahan selain ASI dapat mengganggu pencernaan pada bayi dan memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif. C. Diadakannya pembinaan kepada tenaga kesehatan dan kader D. Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehingga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan. Kriteria Mutlak Alternatif Ktriteria Biaya < 1jt Waktu < 1 bulan Kriteria Keinginan Alternatif Ktriteria Efektif (10) Biaya murah (8) Mudah dilaksanakan (6) TOTAL A 8x10=80 8x8=64 8x6=48 192 B 9x10=90 9x8=72 9x6=54 216 C 7x10=70 7x8=56 7x6=42 168 A V V B V V C V V D V X

b. Keputusan yang diambil 1. Memberikan pengertian kepada ibu menyusui bahwa pemberian makanan dan minuman tambahan selain ASI dapat mengganggu pencernaan pada bayi dan memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif. 2. Penyuluhan dan pengawasan dari kader kepada masyarakat 3. Diadakannya pembinaan kepada tenaga kesehatan dan kader

41

I.

PRIORITAS PENYEBAB MASALAH JAMBAN BONE JAMBAN


Machine

DENGAN FISH

Kurangnya Brosur, Leaflet, dan Poster yang berkaitan dengan pemanfaatan jamban Cakupan Penduduk yang Memanfaatkan Jamban

Lingkungan

Perilaku penduduk yang masih memanfaatkan tinja sebagai pakan ikan Perilaku penduduk yang lebih menyukai BAB di sungai Kurangnya kesadaran penduduk dalam pemanfaatan dan pemeliharaan jamban Persepsi masyarakat tentang mahalnya membangun jamban (biaya pembelian bahan dan tukang) Tidak adanya lahan milik penduduk yang dapat digunakan untuk membangun jamban

J. ANALISIS PRIORITAS PENYEBAB MASALAH JAMABAN Dari hasil penyebab penyebab permasalahan yang timbul pada manajemen dan dimensi mutu Puskesmas Kajoran I, maka dilanjutkan dengan penentuan prioritas penyebab masalah dengan metode Paired Comparison dan Diagram Pareto. Tabel Penentuan Penyebab Masalah Paling Mungkin dengan Paired Comparison No. 1 PENYEBAB MASALAH Kurangnya media promosi I 1 2 2 Penduduk suka memanfaatkan tinja 2 sebagai pakan ikan 3 Penduduk lebih menyukai BAB di 3 sungai 4 Kurangnya kesadaran penduduk 4 5 5 Persepsi masyarakat tentang 5 mahalnya membangun jamban 6 Tidak adanya lahan II 1 3 2 4 3 5 4 6 III 1 4 2 5 3 6 IV 1 5 2 6 V 1 6 VI Tota l 5

3 0

42

Tabel Pareto No Penyebab Masalah 1. 2. 3. Frekuensi Persen Jumlah Persen Frekuensi Kumulatif Kumulatif media 5 33,3% 5 33,3% 4 3 26,7% 20% 9 12 60% 80%

4.

5.

Kurangnya promosi Kurangnya kesadaran penduduk Persepsi masyarakat tentang mahalnya membangun jamban Penduduk lebih menyukai BAB di sungai Penduduk suka memanfaatkan tinja sebagai pakan ikan

13,3%

14

93,3%

6,7%

15

100%

Grafik Analisis Pareto

ANALISIS PARETO
120 100 80 60 40 20 0 1 2 3 4 5 % Kumulatif % Frekuensi

43

C. Alternatif Pemecahan Masalah No Penyebab Tujuan Sasaran Alternatif Pemecahan Masalah Pembuatan spesifik program pemanfaatan jamban Membeli promosi media dengan SOP untuk

1.

Kurangnya promosi

media Untuk mengetahui Tenaga dengan media apa pasti Kesehatan promosi Puskesmas saja yang

dibutuhkan Meningkatkan promosi tentang

pemanfaatan jamban

menggunakan penggalangan dana seefektif mungkin. sehat

Menambah media Tenaga promosi tanpa Kesehatan Puskesmas

Memanfaatkan alat-alat tersedia puskesmas sebagai promosi. media yang di

mengeluarkan biaya tambahan

2.

Kurangnya kesadaran penduduk

Meningkatkan kesadaran penduduk pemanfaatan jamban akan

Penduduk setempat

Memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat

pengunaan jamban dampak dan negatif

pada masyarakat jika tidak

menggunakan 44

jamban Memberikan motivasi kepada

masyarakat untuk pemanfaatan jamban. 3. Persepsi Mengubah Penduduk setempat Pembagian jamban angsatrin kepada penduduk yang belum

masyarakat tentang persepsi mahalnya membangun jamban masyarakat tentang mahalnya membangun jamban

memiliki jamban, serta pengawasan dalam pembuatan jamban rumah. Mengadakan iuran dari desa kepentingan pembangunan jamban penduduk bagi yang sukarela masyarakat untuk disetiap

kurang mampu

a. Pengambilan Keputusan 45

Proses pengambilan keputusan menggunakan kriteria mutlak dan kriteria keinginan, dilakukan 8 langkah yaitu : 1. Menetapkan tujuan dan sasaran keputusan yang telah ditulis diatas. 2. Menentukan kriteria mutlak dan kriteria keinginan a. Kriteria mutlak harus memenuhi kriteria sebagai berikut : Biaya yang dikeluarkan < Rp 400.000,00 Hasil dapat dilihat dalam waktu maksimal 1 bulan

b. Kriteria keinginan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : Biaya operasional murah Pelaksanaan mudah Melibatkan masyarakat

3. Menetapkan bobot kriteria keinginan Kriteria keinginan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Biaya operasional murah b. Pelaksanaan mudah c. Melibatkan masyarakat 4. Inventarisasi alternatif : A. Mengadakan iuran sukarela dari masyarakat desa untuk kepentingan pembangunan jamban bagi penduduk yang kurang mampu. B. Membeli media promosi dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin. C. Memanfaatkan alat-alat yang tersedia di puskesmas sebagai media promosi. D. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat pengunaan jamban dan dampak negatif pada masyarakat jika tidak menggunakan jamban. E. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk pemanfaatan jamban. F. Pembagian jamban angsatrin kepada penduduk yang belum memiliki jamban, serta pengawasan dalam pembuatan jamban disetiap rumah. G. Pembuatan SOP spesifik untuk program pemanfaatan jamban. : bobot 15 : bobot 10 : bobot 5

46

5. Skoring alternatif pemecahan masalah a. Kriteria Mutlak Alternatif Kriteria Biaya yang dikeluarkan < Rp 400.000,00/rumah Hasil dapat dilihat dalam waktu maksimal 1 bulan A B C D E F G

b. Kriteria Keinginan Alternatif Kriteria Biaya operasional murah Pelaksanaan mudah Melibatkan masyarakat JUMLAH 6X10 =60 7X10 =70 6X5 =30 175 8X10 =80 8X10 =80 8X10 =80 9X10=90 8X15=120 5X15=75 8X15=120 7X15=105 7X15=105 9X15=135 A B C D E G

2X5 =10 190

3X5 =15 215

8X5 =40 225

5X5 =25 210

2X5=10 235

b. Keputusan yang diambil 47

Keputusan Sementara Alternatif pemecahan masalah sementara yang terpilih adalah enam alternatif pemecahan masalah, yaitu : 1. Pembuatan SOP spesifik tentang program pemanfaatan jamban 2. Membeli media promosi dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin. 3. Memanfaatkan alat-alat yang tersedia di puskesmas sebagai media promosi. 4. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat pengunaan jamban dan dampak negatif pada masyarakat jika tidak menggunakan jamban. 5. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk pemanfaatan jamban. 6. Pembagian jamban angsatrin kepada penduduk yang belum memiliki jamban, serta pengawasan dalam pembuatan jamban disetiap rumah. 7. Mengadakan iuran sukarela dari masyarakat desa untuk kepentingan pembangunan jamban bagi penduduk yang kurang mampu.

Keputusan Tetap Setelah mempertimbangkan kriteria mutlak dan keinginan, maka keputusan tetap yang diambil adalah : 1. Pembuatan SOP spesifik tentang program pemanfaatan jamban 2. Membeli media promosi dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin. 3. Memanfaatkan alat-alat yang tersedia di puskesmas sebagai media promosi.

48

K. PRIORITAS PENYEBAB MASALAH GIZI BURUK DENGAN FISH BONE GIZI BURUK
Method Tidak adanya SOP dalam program gizi Sistem pelaporan yang kurang terstruktur tapi sudah mandiri Program dipilah-pilah oleh dinas kesehatan sendiri Man Kurangnya personal dalam bidang gizi Kurangnya sosialisasi petugas terhadap warga Petugas kesehatan kurang mengupdate pengetahuan baru melalui pelatihan atau seminar

L.

Pemikiran warga yang kurang kooperatif Tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan masyarakat Tingkat sosial Lingkungan ekonomi masyarakat yang kurang Rumah warga yang jaraknya susah ANALISIS PRIORITAS PENYEBAB dijangkau

Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Penanganan

MASALAH JAMABAN

Tabel 19. Analisa Penyebab Masalah Paired Comparison 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 49 2 1 3 1 3 4 4 4 4 5 1 5 5 4 6 1 6 6 4 6 7 1 2 3 4 5 6 8 8 8 8 4 8 8 8 9 9 9 9 4 9 9 9 8 10 11 12 13 1 1 1 1 13 13 4 13 13 13 8 9 14 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 14 13 Total 10 3 5 13 6 7 2 12 11 4 8 0 9 1

10 11 2 3 4 5 6 11 3 4 4

11 5 11 6

10 11 7 8 9 8 9 8 9

11 10 13 11 13 13

Tabel 20. Tabel Pareto NO 1 MASALAH Tidak adanya SOP dalam program gizi 10 10,98 10 10,98 N % N Kumulatif % Komulatif

Sistem yang terstruktur

pelaporan kurang tapi 3 3,29 13 14,27

sudah mandiri 3 Program pilah oleh dipilahdinas 5 5,49 18 19,76

kesehatan sendiri

Pemikiran yang kooperatif

warga kurang 13 14,28 31 34,04

Tingkat pendidikan dan kurangnya 6 6,59 37 40,63

pengetahuan masyarakat 6 Tingkat ekonomi masyarakat kurang 7 Rumah warga yang jaraknya dijangkau 8 Kurangnya personal dalam bidang gizi 9 Kurangnya sosialisasi petugas yang sosial

7,69

44

48,32

susah 2

2,19

46

50,51

12

13,18

58

63,69

11

12,08

69

75,77

50

terhadap warga 10 Petugas kesehatan

kurang mengupdate pengetahuan melalui baru 4 4,39 73 80,16

pelatihan

atau seminar 11 Tidak pernah 8 8,79 81 88,95

diikutsertakan dalam triwulan 12 Kepala kurang bersosialisasi dengan program 13 Kurangnya pengawasan petugas puskesmas terhadap pelaksanaan program gedung 14 Tidak adanya di luar pemegang puskesmas lokmin

81

88,95

9,89

90

98,84

reward positif bagi petugas berprestasi Total yang

1,09

91

100

91

100

91

100

51

Tabel 21. Distribusi Frekuensi Penyebab Masalah Analisis Penyebab 4 8 9 1 13 11 6 5 3 10 2 7 14 12 13 12 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 0 14,28 13,18 12,08 10,98 9,89 8,79 7,69 6,59 5,49 4,39 3,29 2,19 1,09 0 13 25 36 46 55 63 70 76 81 85 88 90 91 91 14,28 27,46 39,54 50,52 60,41 69,2 76,89 83,48 88,97 93,36 96,65 98,84 100 100 N % N Kumulatif % kumulatif

Diagram Pareto
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
% % kumulatif

Alternatif Pemecahan Masalah 52

Untuk mengatasi penyebab masalah diatas, alternative pemecahan masalah yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu agar dapat mengerti tentang pentingnya gizi pada balita 2. Mengusulkan kepada kepala puskesmas untuk menambahkan personal dalam bidang gizi 3. Melakukan pembinaan kepada kader untuk lebih intensif dalam memberikan penyuluhan dan pemantauan 4. Membuat media promosi misalnya membuat baliho dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin 5. Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehinggga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan. 6. Melakukan pengawasan rutin terhadap kinerja bidan desa serta kader kader posyandu agar dapat memberikan pelaporan dengan cepat di setiap kegiatan mengenai tumbuh kembang balita. 7. Memberikan jadwal keikutsertaan bagian pemegang program gizi 8. Bekerja sama dengan lintas sektor untuk meningkatkan perekonomian masyarakat

a. Pengambilan Keputusan Proses pengambilan keputusan menggunakan kriteria mutlak dan kriteria keinginan, dilakukan 8 langkah yaitu : 1. Menetapkan tujuan dan sasaran keputusan yang telah ditulis diatas. 2. Menentukan kriteria mutlak dan kriteria keinginan 3. Kriteria mutlak harus memenuhi kriteria sebagai berikut : i. Dana ii. Tenaga iii. Waktu iv. Sarana

4. Kriteria keinginan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 53

i. Biaya pelaksanaan murah ii. Mudah pelaksanaan iii. Libatkan masyarakat iv. Pelaksanaan berkesinambungan 5. Menetapkan bobot kriteria keinginan Kriteria keinginan harus memenuhi kriteria sebagai berikut : a. Biaya pelaksanaan murah b. Mudah pelaksanaan c. Libatkan masyarakat d. Pelaksanaan berkesinambungan : bobot 10 : bobot 8 : bobot 6 : bobot 5

6. Inventarisasi alternatif yaitu kemungkinan kemungkinan cara untuk mencapai tujuan : A. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu agar dapat mengerti tentang pentingnya gizi pada balita B. Mengusulkan kepada kepala puskesmas untuk menambahkan personal dalam bidang gizi C. Melakukan pembinaan kepada kader untuk lebih intensif dalam memberikan penyuluhan dan pemantauan D. Membuat media promosi misalnya membuat baliho dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin E. Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehinggga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan. F. Melakukan pengawasan rutin terhadap kinerja bidan desa serta kader kader posyandu agar dapat memberikan pelaporan dengan cepat di setiap kegiatan mengenai tumbuh kembang balita. G. Memberikan jadwal keikutsertaan bagian pemegang program gizi H. Bekerja sama dengan lintas sektor untuk meningkatkan

perekonomian masyarakat

7. Skoring alternatif pemecahan masalah 54

Tabel 22. KRITERIA MUTLAK Kriteria Mutlak Alternatif Tenaga A B C D E F G H v v v v v x v x Dana V V V X V X V X Sarana v v v v v x v x Target v x v v v v v x L TL L TL L TL L TL L/TL

Tabel 23. KRITERIA KEINGINAN Kriteria Biaya A pelaksanaan 4x10 = 40 C 4x10 = 40 E 2x10 = 20 G 3x10 = 30

murah (bobot 10) Mudah Pelaksanaan 3x8 = 24 (bobot 8) Libatkan Masyarakat 6) Berkesinambungan (bobot 5) Total 102 83 52 75 4x5 = 20 3x5 = 15 2x5 = 10 3x5 = 15 (bobot 3x6 =18 2x6 = 12 1x6 = 6 1x6 = 6 2x8 = 16 2x8 = 16 3x8 = 24

b. Keputusan yanag diambil 55

Penentuan Keputusan Sementara Dari kriteria mutlak dan kriteria keinginan didapatkan alternatif pemecahan masalah sementara yang terpilih adalah alternatif pemecahan masalah : A. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu agar dapat mengerti tentang pentingnya gizi pada balita C. Melakukan pembinaan kepada kader untuk lebih intensif dalam memberikan penyuluhan dan pemantauan

8. Konsekuensi A. Tidak ada konsekuensi C. Melakukan pembinaan kepada kader, konsekuensi biaya mahal

9. Keputusan Tetap Setelah mempertimbangkan konsekuensi yang ada, maka keputusan tetap yang diambil adalah memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu agar dapat mengerti tentang pentingnya gizi pada balita

56

POA ASI EKSLUSIF

Kegiatan Memberikan pengertian kepada ibu menyusui bahwa pemberian makanan dan minuman tambahan selain ASI dapat mengganggu pencernaan pada bayi dan memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif. Penyuluhan dan pengawasan dari kader kepada masyarakat

Tujuan Untuk menumbuhkan persepsi yang benar pada ibu yang menyusui

Sasaran Semua kaum wanita usia produktif

Metode Edukasi dan penyuluhan

Biaya Anggaran dana puskesmas

Waktu Fleksibel (saat ANC, kunjungan ibu hamil dll)

Pelaksana Tenaga medis dipuskesmas

Tempat Posyandu, rumah penduduk

Indikator Keberhasilan Berubahnya persepsi masyarakat tentang ASI ekslusif

Untuk menyadarkan masyarakat tentang pentingnya ASI Ekslusif Diadakannya Meningkatkpembinaan kepada an tenaga kesehatan pengetahuan dan kader tenaga kesehatan

Semua kaum wanita usia produktif

Kunjungan Anggaran posyandu dana dan rumah puskesmas ke rumah

Setiap saat Bidan Mulai januari 2011

Rumah warga, Posyandu, dan Puskesmas puskesmas

Masyarakat sadar akan pentingnya ASI ekslusif

Tenaga Pelatihan Anggaran kesehatan dan dana puskesmas pembinaan puskesmas

28 desember 2011

Tenaga medis dipuskesmas

Meningkatnya pengetahuan dan skill tenaga kesehatan

POA JAMBAN

No 1

Kegiatan Memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat pengunaan jamban dan dampak negatif pada masyarakat jika tidak menggunakan jamban. Memanfaatkan alat-alat yang tersedia di puskesmas sebagai media promosi. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk pemanfaatan jamban.

Januari

Februari

Maret

2 3

POA GIZI BURUK

KEGIATAN Persiapan : -Pembentukan panitia untuk pembuatan jadwal (rapat staf)

TUJUAN Pembagian tugas masingmasing staff

SASARAN

METODE

BIAYA WAKTU

PELAKSANA TEMPAT

INDIKATOR KEBERHASILAN Terbentuk panitia dan kesepakatan kegiatan

Pertemuan Pimpinan unit yang dan diskusi terkait dan staf dan Pertemuan dan diskusi

Minggu ke 1 Pimpinan dan Puskesmas bulan 1 tahun Petugas 2012 puskesmas

-Koordinasi Pembagian dengan pihak tugas terkait (kadus, kader) -Pengumpulan Panduan bahan dan dalam materi pembuatan perencanaan

Kadus kader

Minggu ke 1 Petugas bulan 1 tahun puskesmas 2012

Puskesmas

Terkoordinasinya pihak terkait

Pengumpulan Petugas bahan dan puskesmas dan kepala materi puskesmas Pertemuan Petugas dan diskusi puskesmas dan kepala puskesmas

Biaya Minggu ke 1 Petugas operasi- bulan 1 tahun puskesmas onal 2012 puskes mas Minggu ke 1 Petugas bulan 1 tahun puskesmas 2012

Puskesmas

Terkumpulnya bahan dan materi yang diperlukan untuk perencanaan

-Pembuatan jadwal

Program kegiatan berjalan sesuai program

Puskesmas

Terbentuknya Jadwal

dan efektif Pelaksanaan : penyuluhan tentang pemberian makanan yang bergizi pada balita dan pemberian makanan tambahan bagi balita yang gizinya kurang Untuk meningkat kan pengeta huan ibu tentang gizi balita Petugas Puskesmas, Camat, Kades, kader Diskusi dan Biaya Minggu ke 1 Petugas pertemuan operasi- bulan 2 tahun puskesmas onal 2012 khususnya puskespetugas gizi mas Puskesmas dan posyandu Peningkatan pengetahuan ibu tentang gizi balita - Peserta memahami mengenai masalah gizi balita

Pemantauan: pelaksanaann Memantau Petugas dan hasil keberhasil- puskesmas kegiatan an promosi kesehatan

Observasi

Minggu ke 1 Kepala Puskesmas bulan 1- puskesmas dan minggu ke 1 staff bulan 2 tahun 2012

Terpantau pelaksanaan koordinasi dengan baik Adanya hasil pemantuan atau observasi

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. ASI EKSLUSIF Dari hasil peninjauan selama empat hari di Puskesmas Kajoran I teridentifikasi sebanyak 16 masalah, antara lain : PENCAPAIAN MASALAH 1. 2. 3. 4. 5. Cakupan Kunjungan Bumil K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi 91,65 13,73 96 91,24 82,83 BESAR MASALAH 1. 2. 3. 4. 5. Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi Cakupan Bumil K4 Kunjungan 8,35 86,27 4 8,76 17,17

6.

42,04

6.

57,96

7.

Rumah Sehat yang 8. Penduduk memanfaatkan Jamban 9. Rumah yang mempunyai SPAL yang 10. Jumlah Bumil Mendapat TT1 yang 11. Jumlah Bumil Mendapat TT2 12. BCG 13. DPT 1 14. DPT 3 15. Hepatitis B1 Total 16. Hepatitis B3 17. Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan

24,01 22,6 30,9 87 78,38 93,05 90 86,85 90 92,94 34,7

7.

Rumah Sehat yang 8. Penduduk memanfaatkan Jamban 9. Rumah yang mempunyai SPAL Bumil yang 10. Jumlah Mendapat TT1 Bumil yang 11. Jumlah Mendapat TT2 12. BCG 13. DPT 1 14. DPT 3 15. Hepatitis B1 Total 16. Hepatitis B3 17. Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan Paripurna)

75,99 27,4 69,1 13 21,62 6,95 10 13,15 10 7,06 65,3

Paripurna) 18. Bayi yang dapat ASI Eksklusif Purnama 19. Posyandu (Indikator 2008) 20. Ketersediaan Obat Sesuai kebutuhan Obat 21. Pengadaan Essensial 22. Pengadaan Obat Generik Narkotika 23. Penyediaan psikotropika 24. UKGS tahap III

48,65 69,1 94,7 85,23 8,4 90 94,5

18. Bayi yang dapat ASI Eksklusif Purnama 19. Posyandu (Indikator 2008) 20. Ketersediaan Obat Sesuai kebutuhan 21. Pengadaan Obat Essensial 22. Pengadaan Obat Generik Narkotika 23. Penyediaan psikotropika 24. UKGS tahap III

51,35 30,9 5,3 14,76 91,6 10 5,5

Dari 24 masalah di atas berdasarkan metode Hanlon Kuantitatif dapat diprioritaskan sebagai berikut: Masalah Cakupan Kunjungan Bumil K4 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) yang Diperiksa Tempat Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Sanitasi A 1 10 1 1 1 6 B 10 8,2 8,6 9,6 6,6 7,2 9,8 9 8,7 9,8 8,8 10 9,7 9,2 C 4.5 3.9 3.4 4 3.1 2.9 2.6 3 1.9 3.2 3.2 3.5 3.5 3.1 D 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 NPD 49,5 70,98 32,64 42,4 23,56 38,28 46,28 33 18,43 34,56 34,56 38,5 37,45 31,62 NPT 49,5 70,98 32,64 42,4 23,56 0 46,28 33 18,43 34,56 34,56 38,5 37,45 31,62 Prioritas II I XIV V XVIII III XIII XX X XI VIII IX XV

8 Rumah Sehat Penduduk yang memanfaatkan 2 Jamban Rumah yang mempunyai SPAL 1 Jumlah Bumil yang Mendapat 1 TT1 Jumlah Bumil yang Mendapat 2 TT2 BCG DPT 1 DPT 3 1 1 1

Hepatitis B1 Total Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat Utama dan Paripurna) (RT

1 1 6

10 9,4 8,2 11,1 7,4 9,1 8,4 9,7 6 7,3 10 8,2 8,6 9,6

3.6 3.2 2 2.7 1.6 2.9 2.6 2.2 2.3 2.8 4.5 3.9 3.4 4

1 1 0 1 0 1 1 1 0 1 1 1 1 1

39,6 33,28 28,4 40,77 15,04 29,29 24,44 43,34 16,1 23,24 49,5 70,98 32,64 42,4

39,6 33,28 0 40,77 0 29,29 24,44 43,34 0 23,24 49,5 70,98 32,64 42,4

VII XII VI XVI XVII IV XIX II I XIV V

Bayi yang dapat ASI Eksklusif 4 Posyandu Purnama (Indikator 2 2008) Ketersediaan Obat Sesuai 1 kebutuhan Pengadaan Obat Essensial 1 10 Pengadaan Obat Generik Penyediaan Narkotika 1 psikotropika UKGS tahap III Cakupan Kunjungan Bumil K4 1 1

10 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit 1 A Dosis Tinggi Balita Gizi Buruk mendapat 1 perawatan

Dari 24 masalah di atas didapatkan 1 masalah yang menjadi salah satu prioritas utama dan dicari alternatif pemecahannya serta dibuat rencana pelaksanaan kegiatannya yaitu cakupan rendahnya Bayi yang dapat ASI Eksklusif di Puskesmas kajoran I periode Januari Oktober 2011 menjadi masalah yang akan diangkat.

Penyebab masalah tersebut yaitu : 1. Kurangnya proaktif tenaga kesehatan / kader dalam hal edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif 2. Petugas kesehatan tidak mendapatkan pembinaan tentang ASI Eksklusif 3. Kurangnya promosi tentang pentingnya ASI Eksklusif 4. Terbatasnya alokasi dana untuk promosi tentang pentingnya ASI Eksklusif

5. Tidak ada SOP 6. Metode yang digunakan dalam promosi kurang variatif / kurang menarik 7. Kurangnya brosur, pamflet dan poster yang berkaitan dengan promosi pentingnya ASI ekslusif 8. Kurang optimalnya perencanaan kegiatan promosi dan edukasi tentang ASI ekslusif 9. Kurangnya sosialisasi pada kaderyang terlibat dalam kegiatan 10. Perencaan dalam pembagian tugas kurang terkoordinasi 11. Kurang tepatnya waktu maupun tempat pelaksanaan 12. Kurangnya pengawasan dan evaluasi terhadap program promosi pentingnya ASI ekslusif 13. Kurangnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya ASI Eksklusif 14. Persepsi yang salah bahwa jika anak masih nangis atau rewel harus diberi tambahan susu formula

Beberapa alternatif untuk memecahkan masalah yang didapat di Puskesmas Kajoran I sebagai berikut : 1. Penyuluhan dan pengawasan dari kader kepada masyarakat 2. Memberikan pengertian kepada ibu menyusui bahwa pemberian makanan dan minuman tambahan selain ASI dapat mengganggu pencernaan pada bayi dan memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif. 3. Diadakannya pembinaan kepada tenaga kesehatan dan kader 4. Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehingga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan. 2. Penduduk yg memanfaatkan jamban Dari hasil peninjauan selama empat hari di Puskesmas Kajoran I teridentifikasi sebanyak 24 masalah, antara lain :

No Identifikasi masalah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. Cakupan Kunjungan Bumil K4

% pencapaian 91,65

Besar masalah 8,35 86,27 4 8,76 17,17 57,96 75,99 27,4 69,1 13 21,62 6,95 10 13,15 10 7,06 65,3 51,35 30,9 5,3 14,76 91,6 10 5,5

13,73 Cakupan Kunjungan Bayi Cakupan Bufas yang diberi Vit A Dosis 96 Tinggi 91,24 Balita Gizi Buruk mendapat perawatan Jumlah Tempat Tempat Umum (TTU) 82,83 yang Diperiksa Tempat Tempat Umum (TTU) yang 42,04 Memenuhi Syarat Sanitasi 24,01 Rumah Sehat 22,6 Penduduk yang memanfaatkan Jamban 30,9 Rumah yang mempunyai SPAL 87 Jumlah Bumil yang Mendapat TT1 78,38 Jumlah Bumil yang Mendapat TT2 93,05 BCG 90 DPT 1 86,85 DPT 3 90 Hepatitis B1 Total 92,94 Hepatitis B3 Rumah Tangga Sehat (RT Utama dan 34,7 Paripurna) 48,65 Bayi yang dapat ASI Eksklusif 69,1 Posyandu Purnama (Indikator 2008) 94,7 Ketersediaan Obat Sesuai kebutuhan 85,23 Pengadaan Obat Essensial 8,4 Pengadaan Obat Generik 90 Penyediaan Narkotika psikotropika 94,5 UKGS tahap III

Dari 24 masalah di atas didapatkan masalah yang menjadi salah satu prioritas utama dan dicari alternatif pemecahannya serta dibuat rencana pelaksanaan kegiatannya yaitu cakupan penduduk yang memanfaatkan jamban di Puskesmas Kajoran I periode Januari Oktober 2011 menjadi masalah yang akan diangkat.

Penyebab masalah tersebut yaitu : 1. 2. Hanya terdapat 1 petugas Kurangnya Brosur, Leaflet, dan Poster pemanfaatan jamban 3. 4. 5. Perilaku penduduk yang masih memanfaatkan tinja sebagai pakan ikan Perilaku penduduk yang lebih menyukai BAB di sungai Kurangnya kesadaran penduduk dalam pemanfaatan dan pemeliharaan jamban 6. Persepsi masyarakat tentang pembelian bahan dan tukang) 7. Tidak adanya lahan milik penduduk yang dapat digunakan untuk membangun jamban mahalnya membangun jamban (biaya yang berkaitan dengan

Beberapa alternatif untuk memecahkan masalah yang didapat di Puskesmas Kajoran I sebagai berikut : 1. Pembuatan SOP spesifik untuk program pemanfaatan jamban 2. Membeli media promosi dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin 3. Memanfaatkan alat-alat yang tersedia di puskesmas sebagai media promosi 4. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat pengunaan jamban dan dampak negatif pada masyarakat jika tidak menggunakan jamban 5. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk pemanfaatan jamban

6. Pembagian jamban angsatrin kepada penduduk yang belum memiliki jamban, serta pengawasan dalam pembuatan jamban disetiap rumah 7. Mengadakan iuran sukarela dari masyarakat desa untuk kepentingan pembangunan jamban bagi penduduk yang kurang mampu

Keputusan yang diambil dari alternatif pemecahan masalah di Puskesmas Kajoran I adalah memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat pengunaan jamban dan dampak negatif pada masyarakat jika tidak menggunakan jamban. 3. Gizi Buruk Mendapat Perawatan Dari laporan hasil peninjauan manajemen dan mutu pelayanan puskesmas di Puskesmas Kajoran I maka didapatkan : 1. Data umum meliputi data wilayah, demografi penduduk, sosial budaya, sosial ekonomi, kesehatan lingkungan. Data khusus meliputi SPM di Puskesmas Kajoran I periode Januari Oktober 2011 2. Dari analisa SPM didapatkan 20 masalah di Puskesmas Kajoran I Periode Januari Oktober 2011 dengan prioritas masalah yang telah dikonfirmasi dengan kepala puskesmas Kajoran I adalah cakupan Balita gizi buruk mendapat penanganan. 3. Dari analisa simple problem tidak dapat dinilai karena tidak adanya SOP dan complex problem tidak didapatkan masalah. 4. Dari analisis penyebab masalah yang telah dikonfirmasikan oleh Kepala Puskesmas Kajoran I Periode Januari Oktober 2011 didapat 14 penyebab masalah. 5. Prioritaskan penyebab masalah yang akan diintervensi dalam manajemen puskesmas dan mutu pelayanan di Puskesmas Kajoran Periode Januari Oktober 2011 adalah : a. b. c. Pemikiran warga yang kurang kooperatif Kurangnya personal dalam bidang gizi Kurangnya sosialisasi petugas terhadap warga

d. e.

Tidak adanya SOP dalam program gizi Kurangnya pengawasan petugas puskesmas terhadap pelaksanaan program di luar gedung

f. g. h. 6.

Tidak pernah diikutsertakan dalam lokmin triwulan Tingkat sosial ekonomi masyarakat yang kurang Tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan masyarakat

Mahasiswa mampu mencari alternatif pemecahan masalah dari penyebab masalah dalam manajemen puskesmas dan mutu pelayanan di Puskesmas Kajoran I Periode Januari Oktober 2011. a. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu agar dapat mengerti tentang pentingnya gizi pada balita b. Mengusulkan kepada kepala puskesmas untuk menambahkan personal dalam bidang gizi c. Melakukan pembinaan kepada kader untuk lebih intensif dalam memberikan penyuluhan dan pemantauan d. Membuat media promosi misalnya membuat baliho dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin e. Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehinggga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan. f. Melakukan pengawasan rutin terhadap kinerja bidan desa serta kader kader posyandu agar dapat memberikan pelaporan dengan cepat di setiap kegiatan mengenai tumbuh kembang balita. g. Memberikan jadwal keikutsertaan bagian pemegang program gizi h. Bekerja sama dengan lintas sektor untuk meningkatkan

perekonomian masyarakat 7. Keputusan tetap yaitu memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu agar dapat mengerti tentang pentingnya gizi pada balita sehingga dapat disusun rencana kegiatan pemecahan masalah (POA) dalam manajemen puskesmas dan mutu pelayanan di Puskesmas Kajoran Periode Januari Oktober 2011.

B. Saran Untuk meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan di wilayah Puskesmas kajoran I, kami menyarankan hal hal sebagai berikut : 1. Membuat SOP dengan kolaborasi kepada pihak puskesmas dan pihak dinas kesehatan serta pihak pihak terkait sehinggga terjadi kesepakatan antar petugas kesehatan. 2. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan kesehatan kepada ibu ibu hamil, bersalin dan nifas agar dapat mengerti tentang ASI eksklusif sejak dini. 3. Membuat jadwal yang terstruktur mengenai pelaksanaan penyuluhan tentang ASI eksklusif. 4. Membentuk dana sehat dari masyarakat dan tokoh masyarakat serta petugas kesehatan untuk penyuluhan ASI eksklusif. 5. Petugas kesehatan yang bertugas memberikan penyuluhan mengumpulkan secara bersamaan kelompok ibu hamil maupun menyusui dan melakukan peragaan tentang ASI eksklusif supaya lebih menarik. 6. Membeli media promosi dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin. 7. Mengkoordinasikan brosur, leaflet, dan poster kepada puskesmas maupun dinas kesehatan setempat atau membuat dengan variasi sendiri semenarik mungkin. 8. Memberikan pengertian kepada ibu menyusui bahwa pemberian makanan tambahan selain ASI dapat mengganggu pencernaan pada bayi dan memberikan pengetahuan tentang pemberian ASI eksklusif. 9. Melakukan pengawasan dengan bekerjasama kepada pihak puskesmas agar bidan desa serta kader kader posyandu dapat memberikan penyuluhan di setiap kegiatan mengenai ASI eksklusif. 10. Pemerintah Pemerintah hendaknya turut mempromosikan program pemanfaatan jamban, contohnya melalui kurikulum pendidikan atau melalui iklan

kementrian kesehatan agar masyarakat mampu menyadari pentingnya pemanfaatan jamban. 11. Puskesmas Untuk meningkatkan keberhasilan pemanfaatan jamban di wilayah Puskesmas Kajoran I, kami menyarankan hal hal sebagai berikut : a. b. Pembuatan SOP spesifik untuk program pemanfaatan jamban Membeli media promosi dengan menggunakan penggalangan dana sehat seefektif mungkin c. Memanfaatkan alat-alat yang tersedia di puskesmas sebagai media promosi d. Memberikan penyuluhan maupun pendidikan tentang manfaat pengunaan jamban dan dampak negatif pada masyarakat jika tidak menggunakan jamban e. f. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk pemanfaatan jamban Pembagian jamban angsatrin kepada penduduk yang belum memiliki jamban, serta pengawasan dalam pembuatan jamban disetiap rumah g. Mengadakan iuran sukarela dari masyarakat desa untuk kepentingan pembangunan jamban bagi penduduk yang kurang mampu\ 12. Membuat jadwal kegiatan rutin untuk penyuluhan kesehatan pada masyarakat dalam bidang gizi. 13. Kepala puskesmas untuk lebih memantau kegiatan dalam bidang peningkatan gizi masyarakat. 14. Melakukan evaluasi tiap bulan terhadap kondisi gizi balita untuk memperbaiki RUK.

10

BAB V PENUTUP

Demikianlah laporan dan pembahasan mengenai hasil peninjauan manajemen dan mutu pelayanan di Puskesmas Kajoran I. Dengan meninjau puskesmas dari segi perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, pengawasan dan pertanggungjawaban ditemukan penyebab masalah yang ditinjau dari segi manajemen dan mutu pelayanan serta ditemukannya prioritas penyebab masalah dan alternatif pemecahan masalah. Manajemen puskesmas sangat penting karena puskesmas sebagai unit pelaksana teknis dari dinas kesehatan yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan kesehatan mempunyai keterbatasan-keterbatasan dalam hal tenaga kesehatan, dana, sarana-prasarana penunjang, sehingga puskesmas perlu dikelola dengan sebaik-baiknya agar dapat mencapai hasil yang maksimal. Dimensi mutu pelayanan juga penting karena pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan harus memperhatikan kualitas. Kedua kegiatan tersebut saling terkait dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena cakupan atau kuantitas yang tinggi belum tentu disertai dengan mutu atau kualitas yang baik, begitu pula sebaliknya. Kami menyadari bahwa kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat bagi para calon dokter, khususnya yang kelak akan terjun di puskesmas sebagai Health Provider, Manager, Decision Maker, dan Communicator sebagai wujud peran serta dalam pembangunan kesehatan. Akhir kata kami berharap laporan ini bermanfaat sebagai bahan masukan dalam usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Puskesmas Kajoran I.

11

DAFTAR PUSTAKA

Departemen kesehatan RI, 2003, Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/ Kota Sehat, Jakarta. Departemen Kesehatan, 1997, Masyarakat, Jakarta. Departemen Kesehatan, 1998, Paradigma Sehat Menuju Indonesia Sehat 2010, Jakarta. Departemen Kesehatan, 2004, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta : Depkes RI. Departemen Kesehatan, 2004, Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor : 128 /Menkes/SK/V/2004 Tahun 2004 tentang Tujuan Pembangunan Kesehatan Tahun 2004, Jakarta : Depkes RI. Pratiknya AW, 1986, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Penelitian Kedokteran Kesehatan, Rajawali, Jakarta. Reinke A, William, Perencanaan Kesehatan Untuk Meningkatkan Efektifitas Manajemen, Yogyakarta, Gadjah Mada University ,Press 1994Notoatmojo Sockidjo Prof, DR, Ilmu Kesehatan Masyarakat,Jakarta, Rineka Cipta , 1997 Soehardi R, Karnaini, Tedjo Saputro W, et al, Ed : Pedoman Praktis Pelaksanaan Puskesmas, Balai Pelatihan Kesehatan Salaman, Magelang. ARRIF : Pedoman Manajemen Peran Serta

12