Anda di halaman 1dari 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. ANESTESI UMUM Anestesi umum adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan bersifat pulih kembali (reversible). Komponen anestesi yang ideal terdiri dari hipnotik, analgesia dan relaksasi otot. Pada kasus ini anestesi yang digunakan adalah anestesi umum.1,4 Tanda-tanda klinis anestesi umum (menggunakan zat anestesi yang mudah menguap, terutama diethyleter) menurut Guedel, dengan teknik open drop ada beberapa stadium :5 1. Stadium I: analgesia dari mulanya induksi anestesi hingga hilangnya kesadaran. Rasa nyeri belum hilang sama sekali sehingga hanya pembedahan kecil yang dapat dilakukan pada stadium ini. Stadium ini berakhir ditandai dengan hilangnya reflek bulu mata. 2. Stadium II : excitement, dari hilangnya kesadaran hingga mulainya

respirasi teratur, mungkin terdapat batuk, kegelisahan atau muntah. 3. Stadium III : stadium pembedahan, dari mulai respirasi teratur hingga berhentinya respirasi. Dibagi 4 plana yaitu : Plane 1 : dari timbulnya pernafasan teratur thoracoabdominal, anak mata terfiksasi kadang kadang eksentrik, pupil miosis, reflek cahaya positif, lakrimasi meningkat, reflek faring dan muntah negative, tonus otot mulai menurun. Plane 2 : ventilasi teratur, abdominothoracal, volume tidal menurun, frekuensi nafas meningkat, anakmata terfiksasi di tengah, pupil mulai midriasis, reflek cahaya mulai menurun dan reflek kornea negative. Plane 3 : ventilasi teratur dan sifatnya abdominal karena terjadi kelumpuhan saraf interkostal, lakrimasi tidak ada, pupil melebar dan sentral, reflek laring dan peritoneum negative, tonus otot makin menurun.

Plane 4 : ventilasi tidak teratur dan tidak adekuat karena otot diafragma lumpuh yang makin nyata pada akhir plana, tonus otot sangat menurun, pupil midriasis dan reflek sfingter ani dan kelenjsar air mata negative. 4. Stadium IV : overdosis, dari timbulnya paralisis diafragma hingga cardiac arrest. (4)

B. PERSIAPAN PRA ANESTESI Kunjungan pra anestesi pada pasien yang akan menjalani operasi dan pembedahan baik elektif dan darurat mutlak harus dilakukan untuk keberhasilan tindakan tersebut. Kunjungan pra anestesi pada bedah elektif dilakukan satu sampai dua hari sebelumnya, sedangkan pada kasus bedah darurat waktu yang tersedia lebih singkat.8 Tujuan pra anestesi adalah:1,5,6,8 a. Mempersiapkan mental dan fisik secara optimal dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, laboratorium dan pemeriksaan lain. Terdiri dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis Anamnesis dapat diperoleh dari pasien sendiri atau dari keluarga pasien. Dengan cara ini kita dapat mengadakan pendekatan psikologis terhadap pasien dan keluarganya. Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang Pemeriksaan fisik dan penunjang dilakukan dengan teliti, bila ada indikasi dapat dilakukan konsultasi dengan bidang lain seperti ahli penyakit jantung, paru, penyakit dalam dan lain-lain. b. Merencanakan dan memilih teknik serta obat-obat anestesi yang sesuai dengan fisik dan kehendak pasien.

Macam-macam teknik anestesi : No 1 2 3 4 Teknik Open Semi Open Semi Closed Closed Resevoir Bag + + + Valve + + + Rebreathing + + Sodalime + +

Keterangan : o Rebreathing (-) = o Rebreathing (+) = CO2 langsung ke udara kamar CO2 langsung ke udara kamar dan sesudah C02 diikat oleh soda lime. o Rebreathing (+) = sebagian udara ekspirasi kembali dalam respirasi / inspirasi sesudah CO2 diikat oleh soda lime. Open drop method: Cara ini dapat digunakan untuk anestesik yang menguap, peralatan sangat sederhana dan tidak mahal. Zat anestetik sebagian udara ekspirasi kembali dalam respirasi/inspirasi

diteteskan pada kapas yang diletakkan di depan hidung penderita sehingga kadar yang dihisap tidak diketahui, dan pemakaiannya boros karena zat anestetik menguap ke udara terbuka. Semi open drop method: Hampir sama dengan open drop, hanya untuk mengurangi terbuangnya zat anestetik digunakan masker. Karbondioksida yang dikeluarkan sering terhisap kembali sehingga dapat terjadi hipoksia. Untuk menghindarinya dialirkan volume fresh gas flow yang tinggi minimal 3x dari minimal volume udara semenit. Semi closed method : Udara yang dihisap diberikan bersama oksigen murni yang dapat ditentukan kadarnya kemudian dilewatkan pada vaporizer sehingga kadar zat anestetik dapat ditentukan. Udara napas yang dikeluarkan akan dibuang ke udara luar. Keuntungannya dalamnya anestesi dapat diatur dengan memberikan kadar tertentu dari zat anestetik, dan hipoksia dapat dihindari dengan memberikan volume fresh gas flow kurang dari 100% kebutuhan.

Closed method: Cara ini hampir sama seperti semi closed hanya udara ekspirasi dialirkan melalui soda lime yang dapat mengikat CO2, sehingga udara yang mengandung anestetik dapat digunakan lagi. Pada kasus ini dipakai semi closed anestesi karena memiliki beberapa keuntungan yaitu : konsentrasi inspirasi relatif konstan konservasi panas dan uap menurunkan polusi kamar menurunkan resiko ledakan dengan obat yang mudah terbakar7 c. Menentukan status fisik dengan klasifikasi ASA (American Society Anesthesiology). ASA I Pasien normal sehat, kelainan bedah terlokalisir, tanpa kelainan faali, biokimiawi, dan psikiatris. Angka mortalitas 2% ASA II Pasien dengan gangguan sistemik ringan sampai dengan sedang sebagai akibat kelainan bedah atau proses patofisiologis. Angka mortalitas 16% ASA III Pasien dengan gangguan sistemik berat sehingga aktivitas harian / live style terbatas. Angka mortalitas 38% ASA IV Pasien dengan gangguan sistemik berat yang mengancam jiwa, tidak selalu sembuh dengan operasi. Misal : insufisiensi fungsi organ, angina menetap. Angka mortalitas 68% ASA V Pasien dengan kemungkinan hidup kecil. Tindakan operasi hampir tak ada harapan. Tidak diharapkan hidup dalam 24 jam tanpa operasi / dengan operasi. Angka mortalitas 98%. Klasifikasi ASA juga dipakai pada pembedahan darurat
8

dengan

mencantumkan tanda huruf E (emergensi ), misal ASA I E, ASA II E.

C. PREMEDIKASI ANESTESI Persiapan prabedah yang kurang memadai merupakan faktor terjadinya kecelakaan dalam anestesia. Sebelum pasien dibedah sebaiknya dilakukan kunjungan pasien terlebih dahulu sehingga pada waktu pasien dibedah pasien dalam keadaan bugar. Tujuan kunjungan praanestesi adalah untuk mengurangi angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan. Sebelum pasien diberi obat anestesi, langkah selanjutnya adalah dilakukan premedikasi yaitu pemberian obat sebelum induksi anestesi. Premedikasi ringan banyak digunakan terutama untuk menenangkan pasien sebagai persiapan anestesia dan masa pulih setelah pembedahan singkat. Adapun tujuan dari premedikasi antara lain :11
1.

Meredakan kecemasan dan ketakutan.

2. Memperlancar induksi anestesi. 3. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus. 4. Meminimalkan jumlah obat anestetik. 5. Mengurangi mual muntah pasca bedah. 6. Menciptakan amnesia. 7. Mengurangi isi cairan lambung. 8. Mengurangi refleks yang membahayakan. Obat premedikasi yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien karena kebutuhan masing-masing pasien berbeda. Pemberian premedikasi secara intramuskular dianjurkan 1 jam sebelum operasi, sedangkan untuk kasus darurat premedikasi adalah :11 Narkotik analgetik, misal morfin, fentanil, pethidin. Transquillizer yaitu dari golongan benzodiazepin, misal diazepam dan midazolam Barbiturat, misal pentobarbital, penobarbital, sekobarbital. Antikolinergik, misal atropin dan hiosin. Antihistamin, misal prometazine. yang perlu tindakan cepat bisa diberikan secara intravena. Adapun obat obat yang sering digunakan sebagai

Antasida, misal gelusil H2 reseptor antagonis, misal cimetidine Obat Obat Premedikasi a. Narkotik Analgetik (Opioid) Fentanil Fentanil adalah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 x morfin. Fentanil merupakan opioid sintetik dari kelompok fenilpiperedin. Lebih larut dalam lemak dan lebih mudah menembus sawar jaringan. Turunan fenilpiperidin ini merupakan agonis opioid poten. Sebagai suatu analgesik, fentanil 75-125 kali lebih potendibandingkan dengan morfin. Awitan yang cepat dan lama aksi yang singkat mencerminkan kelarutan lipid yang lebih besar dari fentanil dibandingkan dengan morfin. Fentanil (dan opioid lain) meningkatkan aksi anestetik lokal pada blok saraf tepi. Keadaan itu sebagian disebabkan oleh sifat anestetsi lokal yamg lemah (dosis yang tinggi menekan hantara saraf) dan efeknya terhadap reseptor opioid pada terminal saraf tepi. Fentanil dikombinasikan dengan droperidol untuk menimbulkan

neureptanalgesia. Efek depresinya lebih lama dibandingkan efek analgesinya. Dosis 1-3 /kg BB analgesianya hanya berlangsung 30 menit, karena itu hanya dipergunakan untuk anastesia pembedahan dan tidak untuk pasca bedah. Dosis besar 50-150 mg/kg BB digunakan untuk induksi anastesia dan pemeliharaan anastesia dengan kombinasi bensodioazepam dan inhalasi dosis rendah, pada bedah jantung. Sediaan yang tersedia adalah suntikan 50 mg/ml. Efek yang tidak disukai ialah kekakuan otot punggung yang sebenarnya dapat dicegah dengan pelumpuh otot. Dosis besar dapat mencegah peningkatan kadar gula, katekolamin plasma, ADH, rennin, aldosteron dan kortisol.3 Petidin Petidin merupakan derivat fenil piperidin yang efek utamanya adalah depresi susunan saraf pusat. Gejala yang timbul antara lain adalah analgesia, sedasi, euforia dan efek sentral lainnya. Sebagai analgesia diperkirakan

potensinya 80 kali morfin. Lamanya efek depresi napas lebih pendek

dibanding meperidin. Dosis tinggi menimbulkan kekakuan pada otot lurik, ini dapat diantagonis oleh nalokson. Setelah pemberian sistemik, petidin akan menghilangkan reflek kornea akan tetapi diameter pupil dan refleknya tidak terpengaruh. Obat ini juga meningkatkan kepekaan alat keseimbangan sehingga dapat menimbulkan muntah muntah, pusing terutama pada penderita yang berobat jalan. Pada penderita rawat baring obat ini tidak mempengaruhi sistem kardiovaskular, tetapi pada penderita berobat jalan dapat timbul sinkop orthostatik karena terjadi hipotensi akibat vasodilatasi perifer karena pelepasan histamin. Petidin dimetabolisme dihati, sehingga pada penderita penyakit hati dosis harus dikurangi. Petidin tidak mengganggu kontraksi atau involusi uterus pasca persalinan dan tidak menambah frekuensi perdarahan pasca persalinan . Preparat oral tersedia dalam tablet 50 mg, untuk parenteral tersedia dalam bentuk ampul 50 mg per cc. Dosis dewasa adalah 50 100 mg, disuntikkan secara SC atau IM. Bila diberikan secara IV efek analgetiknya tercapai dalam waktu 15 menit.3,9 b. Antikolinergik Sulfas Atropin Sulfas atropin termasuk golongan anti kolinergik. Berguna mengurangi sekresi lendir dan mengurangi efek bronkhial dan kardial yang berasal dari perangsangan parasimpatis akibat obat anestesi atau tindakan operasi. Dalam dosis 0,5 mg, atropin merangsang N. vagus dan bradikardi. Pada dosis lebih dari 2 mg, terjadi hambatan N. vagus dan timbul takikardi. Pada dosis yang besar sekali, atropine menyebabkan depresi napas, eksitasi, disorientasi, delirium, halusinasi. Pada orang muda efek samping mulut kering, gangguan miksi, meteorisme. Pada orangtua dapat terjadi sindrom demensia. Keracunan biasanya terjadi pada anak-anak karena salah menghitung dosis, karena itu atropin tidak dianjurkan untuk anak dibawah 4 tahun. Sebagai antidotumnya adalah fisostigmin, fisostigmin salisilat 2-4 mengatasi semua gejala susunan saraf pusat. Sediaan : dalam bentuk sulfat atropin dalam ampul 0,25 mg dan 0,50 mg. mg subkutan dapat berhasil

Dosis

: 0,01 mg/ kgBB dan 0,1 0,4 mg untuk anak anak.

Pemberian : SC, IM, IV.3,6,7 c. Benzodiazepin Midazolam Midazolam adalah obat induksi tidur jangka pendek untuk premedikasi, induksi dan pemeliharaan anestesi. Dibandingkan dengan diazepam, midazolam bekerja cepat karena transformasi metabolitnya cepat dan lama kerjanya singkat. Pada pasien orang tua dengan perubahan organik otak atau gangguan fungsi jantung dan pernafasan, dosis harus ditentukan secara hatihati. Efek obat timbul dalam 2 menit setelah penyuntikan. Dosis premedikasi dewasa 0,07-0,10 mg/kgBB, disesuaikan dengan umur dan keadaan pasien. Dosis lazim adalah 5 mg. pada orang tua dan pasien lemah dosisnya 0,0250,05 mg/kgBB. Efek sampingnya terjadi perubahan tekanan darah arteri, denyut nadi dan pernafasan, umumnya hanya sedikit.9 D. INDUKSI ANESTESI Induksi anestesia adalah tindakan untuk membuat pasien dari sadar menjadi tidak sadar, sehingga memungkinkan dimulainya anestesia dan pembedahan. Induksi anestesia dapat dikerjakan dengan secara intravena, inhalasi, intramuskular, atau rectal. Induksi merupakan saat dimasukkannya zat anestesi sampai tercapainya stadium pembedahan yang selanjutnya diteruskan dengan tahap pemeliharaan anestesi untuk mempertahankan atau memperdalam stadium anestesi setelah induksi. Setelah pasien tidur akibat induksi anestesia langsung dilanjutkan dengan pemeliharaan anestesia sampai tindakan pembedahan selesai.4,5 Induksi intravena merupakan cara imduksi yang paling sering digunakan karena cepat dan mudah. Obat induksi bolus disuntikkan dalam kecepatan 306- detik. Selama induksi anestesia, pernafasan pasien, nadi, dan tekanan darah harus diawasi dan selalu diberikan oksigen.7

10

Obat Induksi Anestesi a. Propofol Propofol adalah campuran 1% obat dalam air dan emulsi yang berisi 10% soya bean oil, 1,2% phosphatide telur dan 2,25% glycerol. Pemberian intravena propofol (2 mg/kg BB) menginduksi anestesi secara cepat seperti tiopental. Setelah injeksi intravena secara cepat disalurkan ke otak, jantung, hati, dan ginjal. Rasa nyeri kadang-kadang terjadi di tempat suntikan, tetapi jarang disertai dengan plebitis atau trombosis. Anestesi dapat dipertahankan dengan infus propofol yang berkesinambungan dengan opiat, N2 dan atau anestesi inhalasi lain. Propofol menurunkan tekanan arteri sistemik kira-kira 80% teapi efek ini lebih disebabkan karena vasodilatsai perifer daripada penurunan curah jantung. Tekanan sismatik kembali normal dengan intubasi trakea. Propofol tidak menimbulkan aritmia atau iskemik otot jantung. Sesudah pemberian propofol IV terjadi depresi pernafasan sampai apnea selama 30 detik. Hal ini diperkuat dengan premediaksi dengan opiat. Propofol tidak merusak fungsi hati dan ginjal. Aliran darah ke otak, metabolisme otak dan tekanan intrakranial akan menurun. Tak jelas adanya interaksi dengan obat pelemas otot. Keuntungan propofol karena bekerja lebih cepat dari tiopental dan konfusi pasca operasi yang minimal. Terjadi mual, muntah dan sakit kepala mirip dengan tiopental.3,9 Obat Muscle Relaxant a. Succynil choline Suksinil kolin merupakan pelumpuh otot depolarisasi dengan mula kerja cepat, sekitar 1 2 menit dan lama kerja singkat sekitar 3 5 menit sehingga obat ini sering digunakan dalam tindakan intubai trakea. Lama kerja dapat memanjang jika kadar enzim kolinesterase berkurang, misalnya pada penyakit hati parenkimal, kakeksia, anemia dan hipoproteinemia. Komplikasi dan efek samping dari obat ini adalah bradikardi, bradiaritma dan asistole, takikardi dan takiaritmia, peningkatan tekanan intra okuler, hiperkalemi dan nyeri otot fasikulasi.

11

Obat ini tersedia dalam flacon berisi bubuk 100mg dan 500 mg. Pengenceran dengan garam fisiologis / aquabidest steril 5 atau 25 ml sehingga membentuk larutan 2% sebagai pelumpuh otot jangka pendek. Dosis untuk intubasi 1 2 mg / kgBB/IV.3,8 b. Atrakurium Besilat (tracrium) Atrakurium besilat merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang mempunyai struktur benzilisoquinolin yang berasal dari tanaman leontice leontopetaltum. Beberapa keunggulan atrakurium dibandingkan dengan obat terdahulu antara lain adalah : Metabolisme terjadi dalam darah (plasma) terutama melalui suatu reaksi kimia unik yang disebut reaksi kimia hoffman. Reaksi ini tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal. Tidak mempunyai efek kumulasi pada pemberian berulang. Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang bermakna Mula dan lama kerja atrakurium bergantung pada dosis yang dipakai. Pada umumnya mulai kerja atrakium pada dosis intubasi adalah 2-3 menit, sedang lama kerja antrakium dengan dosis relaksasi 15-35 menit. Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan (sesudah lama kerja obat berakhir) atau dibantu dengan pemberian antikolinesterase. Antrakurium dapat menjadi obat terpilih untuk pasien geriatrik atau pasien dengan penyakit jantung dan ginjal yang berat. Kemasan 1 ampul berisi 5 ml yang mengandung 50 mg atrakurium besilat. Stabilitas larutan sangat bergantung pada penyimpanan pada suhu dingin dan perlindungan terhadap penyinaran. Dosis intubasi : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv Dosis relaksasi otot : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv Dosis pemeliharaan : 0,1 0,2 mg/kgBB/ iv3 Obat Analgesik a. Ketamin Ketamin hidroklorida adalah golongan fenil sikloheksilamin, merupakan rapid acting non barbiturate general anesthesia. Ketalar sebagai nama

12

dagang yang pertama kali diperkenalkan oleh Domino dan Carson tahun 1965 yang digunakan sebagai anestesi umum. Ketamin untuk induksi anastesia dapat menimbulkan takikardi, hipertensi , hipersalivasi , nyeri kepala, pasca anastesi dapat menimbulkan muntah-muntah, pandangan kabur dan mimpi buruk. Ketamin juga sering menyebabkan terjadinya disorientasi, ilusi sensoris dan persepsi dan mimpi gembira yang mengikuti anesthesia, dan sering disebut dengan emergence phenomena. Obat ini bekerja dengan blok terhadap reseptor opiat dalam otak dan medulla spinalis yang memberikan efek analgesik, sedangkan interaksi terhadap reseptor metilaspartat dapat menyebabkan anastesi umum dan juga efek analgesik. Pemberian ketamin dapat dilakukan secara intravena atau intramuskular. Ketamin bersifat larut air sehingga dapat diberikan secara IV atau IM dosis induksi adalah 1 2 mg/KgBB secara IV atau 5 10 mg/KgBB IM , untuk dosis sedatif lebih rendah yaitu 0,2 mg/KgBB dan harus dititrasi untuk mendapatkan efek yang diinginkan. Untuk pemeliharaan dapat diberikan secara intermitten atau kontinyu. Pemberian secara intermitten diulang setiap 10 15 menit dengan dosis setengah dari dosis awal sampai operasi selesai. Ketamin lebih larut dalam lemak sehingga dengan cepat akan didistribusikan ke seluruh organ. Efek muncul dalam 30 60 detik setelah pemberian secara IV dengan dosis induksi, dan akan kembali sadar setelah 15 20 menit. Jika diberikan secara IM maka efek baru akan muncul setelah 15 menit. Obat ini dapat menyebabkan efek samping berupa takikardi, agitasi dan perasaan lelah, halusinasi dan mimpi buruk juga terjadi pasca operasi, pada otot dapat menimbulkan efek mioklonus serta dapat meningkatkan tekanan intrakranial. Kontraindikasi pada pasien yang alergi dengan ketorolac trometamin, aspirin, atau obat AINS lainnya, tukak lambung aktif, pasien dengan penyakit cerebrovaskuler, pasien dengan riwayat penyakit asma, gangguan ginjal berat, proses persalinan , ibu menyusui, gangguan hemostasis. Ketorolac dapat memperpanjang waktu perdarahan.3,10

13

E. Intubasi Endotrakeal Intubasi endotrakeal adalah suatu tindakan untuk memasukkan pipa khusus ke dalam trakea, sehingga jalan nafas bebas hambatan dan nafas mudah dikendalikan. Intubasi trakea bertujuan untuk :7 1. Mempermudah pemberian anestesi. 2. Mempertahankan jalan nafas agar tetap bebas dan kelancaran pernafasan. 3. Mencegah kemungkinan aspirasi lambung. 4. Mempermudah penghisapan sekret trakheobronkial. 5. Pemakaian ventilasi yang lama. 6. Mengatasi obstruksi laring akut. F. Rumatan Anestesi Rumatan anestesi (maintenance) dapat dikerjakan dengan cara intravena (anestesia intravena total), inhalasi atau dengan campuran intravena inhalasi. Rumatan anestesia biasanya mengacu pada trias anestesia yaitu tidur ringan (hypnosis), analgesia cukup, dan diusahakan agar pasien selama dibedah tidak mengalami nyeri dan relaksasi otot lurik yang cukup.10 Obat Rumatan Anestesi a. Enfluran Enfluran berbentuk cairan, mudah menguap, tidak mudah terbakar dan berbau tidak enak. Merupakan anestesi yang poten, mendepresi SSP

menimbulkan efek hipnotik. Resorpsinya setelah inhalasi cepat dengan waktu induksi 2-3 menit. Sebagian besar (80-90%) diekskresikan melalui paru-paru dalam keadaan utuh dan hanya 2,5-10% diubah menjadi ion fluorida bebas. Pada anestesi yang dalam dapat menimbulkan penurunan tekanan darah disebabkan depresi pada miokardium. Penggunaan pada seksio caesarea cukup aman pada konsentrasi rendah (0,5-0,8%) tanpa menimbulkan depresi pada foetus. Berhati-hati penggunaan konsentrasi tinggi karena dapat menimbulkan relaksasi pada otot uterus yang dapat meningkatkan pendarahan pada persalinan. Efek samping berupa hipotensi, menekan pernapasan, aritmia, merangsang SSP, pasca anestesi dapat timbul hipoermi serta mual muntah.

14

Untuk induksi, enfluran 2-4,5% dikombinasi dengan O 2 atau campuran N 2 O - O 2 . Untuk mempertahankan anestesi diperlukan 0,5-3 % volume.5,7 b. Nitrous Oksida / N2O Nitrous oksida merupakan gas yang tidak berwarna, berbau amis, dan tidak iritasi. Mempunyai sifat analgetik kuat tapi sifat anestesinya lemah,

tetapi dapat melalui stadium induksi dengan cepat, karena gas ini tidak larut dalam darah. Gas ini tidak mempunyai relaksasi otot, oleh karena itu operasi abdomen dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi otot. Gas ini memiliki efek analgesic yang baik, dengan inhalasi 20% N2O dalam oksigen efeknya seperti 15 mg morfin. Kadar optimum untuk mendapatkan efek analgesic maksimum 35%. N2O diekskresi dalam bentuk utuh melalui paruparu dan sebagian kecil melalui kulit. Depresi nafas terjadi pada masa pemulihan, hal ini terjadi karena Nitrous Oksida mendesak oksigen dengan ruangan ruangan tubuh. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum anestesi selesai. Penggunaan biasanya dipakai perbandingan atau kombinasi dengan oksigen. Perbandingan N2O : O2 adalah sebagai berikut 60% : 40 % ; 70% : 30% atau 50% : 50%.3,5,7 G. Terapi Cairan Terapi cairan perioperatif bertujuan untuk mencukupi kebutuhan cairan, elektrolit dan darah yang hilang selama operasi dan replacement dan dapat untuk tindakan emergency pemberian obat. Pemberian cairan operasi dibagi :11 1. Pra operasi Dapat terjadi defisit cairan kaena kurang makan, puasa, muntah, penghisapan isi lambung, penumpukan cairan pada ruang ketiga seperti pada ileus obstruktif, perdarahan, luka bakar dan lain lain. Kebutuhan cairan untuk dewasa dalam 24 jam adalah 2 ml / kgBB / jam. Bila terjadi

15

dehidrasi ringan 2% BB, sedang 5% BB, berat 7% BB. Setiap kenaikan suhu 10 Celcius kebutuhan cairan bertambah 10 15 %. 2. Selama operasi Dapat terjadi kehilangan cairan karena proses operasi. Kebutuhan cairan pada dewasa untuk operasi : a. Ringan b. Sedang c. Berat = 4 ml / kgBB / jam = 6 ml / kgBB / jam = 8 ml / kg BB / jam

Bila terjadi perdarahan selama operasi, dimana perdarahan kurang dari 10% EBV maka cukup digantikan dengan cairan kristaloid sebanyak 3 kali volume darah yang hilang. Apabila perdarahan lebih dari 10 % maka dapat dipertimbangkan pemberian plasma / koloid / dekstran dengan dosis 1 2 kali darah yang hilang. 3. Setelah operasi Pemberian cairan pasca operasi ditentukan berdasarkan defisit cairan selama operasi ditambah kebutuhan sehari hari pasien. H. Pemulihan Pasca anestesi dilakukan pemulihan dan perawatan pasca operasi dan anestesi yang biasanya dilakukan di ruang pulih sadar atau recovery room yaitu ruangan untuk observasi pasien pasca operasi atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian pasien pasca operasi atau anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan karena operasi atau pengaruh anestesinya.7 I. Tumor Pancreas Tumor pankreas adalah tumor jinak yang menggambarkan suatu proses hiperplasia dan proliferasi pada suatu duktus epitelial,

perkembangannya dihubungkan dengan suatu proses aberasi perkembangan normal. Penyebab proliferasi duktus tidak diketahui, diperkirakan adanya mutasi yang mengaktivassi KRAS2 oncogene, serta inactivasi tumor
16

suppressor gene CDKNA2A mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan neoplasma ini. Manifestasi klinis dari tumor pancreas ini bergantung pada lokasi tumor ini berada pada kelenjar pancreas. Kebanyakan tumor berkembang di daerah caput pancreas yang menyebabkan obstruktif cholelithiasis. Tatalaksana kuratif pada tumor pancreas yang masih bisa dibedah adalah pembedahan. Pilihan jenis pembedahannya bergantung pada lokasi dari tumor, meliputi cephalic pancreatectomy, distal pancreatectomy atau total total pancreatectomy. Pada ketiga tindakan ini, dilakukan laparotomy terlebih dahulu. Pada laparotomy, dapat digunakan prosedur anestesi umum maupun anestesi lokal. Namun anestesi umum lebih banyak dijadikan pilihan untuk lumpektomi dengan pertimbangan kenyamanan pasien.

17