Anda di halaman 1dari 2

1. Hipertrofi dan hiperplasia merupakan bentuk lain dari adaptasi sel.

Keduanya dapat menyebabkan pembesaran ukuran organ, namun penyebab dan tempat terjadi yang berbeda. Hipertrofi Peningkatan diameter dari serat-serat glikolitik-cepat yang direkrut selama otot berkontraksi kuat. Sebagian besar serat menebal sebagai akibat peningkatan sintesis filamen aktin dan miosin, yang memungkinkan peningkatan kesempatan jembatan silang berinteraksi dan meningkatkan kekuatan kontraktil otot. Hipertrofi otot jantung (ventrikel kiri) Hiperplasia Sel-sel otot tidak mampu membelah secara mitosis, tetapi bukti-bukti eksperimental mengisyaratkan bahwa serat yang sangat membesar dapat terputus menjadi dua di tengahnya, sehingga terjadi peningkatan jumlah serat (splitting).contoh Hiperplasia nodul pada hati Penimbunan dari cairan encer yang berlebihan di dalam sel atau jaringan interseluler. Pada tingkat tinggi, digunakan untuk mendeskripsikan tanda fisik yang umum dari pembengkakan atau pelebaran (ukuran keliling) yang sering disertai penimbunan cairan pada anggota tubuh, yang paling sering adalah lengan dan tungkai. Edema termasuk pada hiperlasia

2.

Diabetes melitus adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh rusaknya sel2 beta langerhans yg terdapat di organ pankreas sehingga menyebabkan ketidakseimbangan hormon insulin dalam tubuh yang berakibat kadar gula dalam darah menjadi tinggi. Insulin dibutuhkan tubuh untuk membantu metabolisme gula darah hingga menjadi energi atau disimpan di hati dan otot sebagai cadangan energi. Jika kadar insulin dalam tubuh sedikit atau tidak ada,maka metabolisme gula darah menjadi energi akan

terhambat,akibatnya kadar gula darah yang seharusnya diubah menjadi energi dalam tubuh menjadi meningkat. Biasanya pada penderita diabetes melitus,akan lebih rentan terserang infeksi dikarenakan kadar gula dalam darahnya yang tinggi sehingga menjadi media yang baik untuk tumbuhnya bakteri. Berdasarkan alasan itulah mengapa penderita diabetes melitus disarankan untuk menunda pencabutan gigi apabila kadar gula darah dalam tubuhnya masih tinggi atau belum terkontrol. Diabetes Mellitus (DM) merupakan faktor predisposisi terhadap timbulnya infeksi. Di dalam mulut DM dapat meningkatkan jumlah bakteri sehingga menyebabkan adanya kelainan pada jaringan periodontal, dan bila berlanjut dapat menyebabkan gigi menjadi goyah. Pasien dengan penyakit diabetes, resiko terinfeksi jaringan periodontal semakin besar bahkan mencapai 2-4 kali daripada pasien non diabetes. Infeksi periodontal kronis menyebabkan inflamasi sistemik yang nantinya meningkatkan resistensi insulin dan hiperglikemia. Resistensi insulin menghambat control glikemia secara optimal dan meningkatkan resiko penyakit jantung. Penyakit diabetes yang dapat menjadi penyebab utama lesi ginggiva, xerostomia, hiperaemi mukosa, palatum dan lidah terasa kering/terbakar, hilangnya papilla lidah dan masalah vaskularisasi dini Ekstraksi gigi pada pasien dengan kelainan penyakit sistemik membutuhkan pertimbangan yang serius dari beberapa aspek tindakan dan reaksi. Pasien dengan penyakit diabetes mellitus memiliki resiko lebih tinggi dalam ekstraksi gigi. Pembekuan darah pada penderita diabetes mellitus sedikit terganggu. Artinya cloating time penderita tidak seperti orang non diabetes. Salah satu komplikasi akut diabetes mellitus adalah koma hiperosmoler non ketotik. Panyakit ini disebabkan tingginya kadar gula darah melebihi 600 mg% yang mengakibatkan pasien mudah shock Setelah parastesi, ektraksi perlu diikuti dengan tampon selama 30 menit. Hal ini dilakukan agar bleeding dapat teratasi. Dilakukan penambahan insulin guna mencegah terjadinya shock

3.